Amsal dan Pekerjaan
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Introduksi Kitab Amsal
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiApa perbedaan antara cerdas dan bijak/bijaksana? Hikmat/kebijaksanan itu melebihi pengetahuan. Hikmat lebih dari sekadar katalog fakta-fakta. Hikmat adalah pengertian yang mumpuni tentang kehidupan, seni kehidupan praktis, dan kecakapan dalam membuat keputusan. Kitab Amsal menantang kita untuk memperoleh pengetahuan, menerapkannya dalam hidup kita, dan membagikan hikmat yang kita peroleh kepada orang lain.
Dari mana kita bisa memperoleh hikmat? Kitab ini menegaskan bahwa hikmat melampaui pengetahuan tapi harus dimulai dengan pengetahuan tentang amsal.[1] “Amsal-amsal Salomo putra Daud, raja Israel, untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna” (Amsal 1:1-2). (Terjemahan Alkitab bahasa Inggris versi NRSV “learning about wisdom and instruction” - mempelajari hikmat dan didikan - mengabaikan sifat pengalaman yang sangat penting pada kata Ibrani da'at dan akar katanya, yada, yang diungkapkan dengan tepat dalam Alkitab versi NIV dengan “gaining wisdom and instruction” – memperoleh hikmat dan didikan). Untuk memperoleh hikmat, pengetahuan harus dicampur atau disertai dengan “takut akan TUHAN.”[2] "Takut" (Ibrani: yare) akan TUHAN sering digunakan dalam Perjanjian Lama sebagai sinonim "menjalani hidup sebagai respons terhadap Allah." Kitab Amsal menyatakan bahwa "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian” (Amsal 9:10). Pengetahuan/pengertian tanpa komitmen kepada Tuhan akan menjadi sia-sia saja bagaikan semen tanpa air yang tak bisa menjadi mortar. Secara paradoks, menerima perkataan amsal dengan iman ke dalam hati akan menghasilkan takut akan TUHAN. “Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku dalam hatimu … , maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah” (Amsal 2:1, 5).
Hikmat yang sejati bagi orang Kristen mencakup seluruh pewahyuan tentang Allah, terutama yang dikenal dalam diri AnakNya, Tuhan Yesus Kristus. Dimulai dengan pemahaman tentang siapa Tuhan itu, apa yang telah Dia perbuat, dan apa yang Dia inginkan untuk kita dan dunia yang kita diami. Ketika kita bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, kita belajar bagaimana bekerja sama dengan Dia ketika Dia menopang dan menebus dunia. Hal ini sering membuat kita makin berbuah, dalam hal-hal yang memberkati diri kita sendiri maupun menolong orang lain. Kita makin memuliakan Tuhan di tengah kehidupan dan pekerjaan kita sehari-hari. “Takut akan TUHAN mendatangkan hidup, maka orang bermalam dengan puas, tanpa ditimpa malapetaka” (Amsal 19:23).
Menurut kitab Amsal, memperoleh hikmat juga menjadikan kita lebih baik, dan sebaliknya. Kita belum betul-betul memperoleh hikmat jika kita belum menerapkannya dalam hidup kita. “Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan” (Amsal 14:16). “Mulut orang benar mengeluarkan hikmat” (Amsal 10:31). Amsal mengantisipasi nasihat Yesus yang berbunyi, “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16). Hikmat berasal dari Tuhan. “Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, Aku memimpin engkau di jalan yang lurus,” kata TUHAN (Amsal 4:11). Di dalam Amsal, mental dan moral menyatu, dan hikmat mencerminkan kebenaran bahwa Allah yang baik masih berkuasa.
Kitab Amsal juga memperingatkan orang-orang yang abai bertumbuh dalam hikmat. Hikmat, yang di dalam kitab ini dipersonifikasikan sebagai seorang perempuan,[3] berkata. “Siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan TUHAN berkenan kepadanya. Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya; semua orang yang membenci aku, mencintai maut" (Amsal 8:35-36). Hikmat membawa kehidupan yang lebih baik, lebih penuh. Kekurangan hikmat mengurangi (kualitas) hidup dan pada akhirnya membawa kepada kematian.
Kitab Amsal lebih lanjut mengatakan bahwa hikmat yang kita peroleh bukan untuk diri kita sendiri saja, tetapi untuk dibagikan kepada orang lain juga, “untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda” (Amsal 1:4). Amsal 9:9 merekomendasikan kita untuk “memberi nasihat kepada orang bijak” dan “mengajar orang benar.” Amsal 26:4-5 menasehatkan pembaca bagaimana berbagi hikmat dengan orang bodoh. Kita berbagi hikmat bukan cuma dengan mengajar, tetapi juga melalui cara hidup yang bijak, yang membagikan hikmat kepada orang-orang yang melihat kita dan mengikuti teladan kita. Hal sebaliknya juga terjadi. Jika kita hidup dengan bodoh, orang lain bisa tergoda untuk melakukan kebodohan yang sama, dan kita tidak hanya merugikan diri kita sendiri, tetapi orang lain juga. Seringkali, kemajuan dalam kehidupan pekerjaan kita membuat kita makin terlihat, dan dampak hikmat atau kebodohan kita akan makin memengaruhi banyak orang. Dengan berjalannya waktu, ini bisa membawa konsekuensi yang sangat besar, karena “ajaran orang bijak adalah sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat-jerat maut” (Amsal 13:14).
Tentang Kitab Amsal
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDi wilayah Timur Dekat kuno, para penguasa sering menugaskan orang-orang bijak untuk mengumpulkan hikmat yang disetujui bangsa mereka untuk diajarkan kepada orang-orang muda yang memasuki pekerjaan atau pelayanan publik di istana kerajaan.[1] Kata-kata bijak ini, yang disaring dari pengamatan tentang kehidupan dan realitas pengalaman manusia, menjadi “bahan pelajaran” bagi generasi-generasi mendatang yang sedang mencapai kedewasaan. Tetapi kitab Amsal menyatakan bahwa Raja Salomo sendiri yang menjadi penulis utamanya (Amsal 1:1) dan bahwa pengilhamannya berasal dari Tuhan. “TUHANlah yang memberi hikmat; dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian” (Amsal 2:6). Kitab ini menuntut iman kepada Tuhan, bukan pada pengalaman manusia.
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5). “Janganlah engkau menganggap dirimu bijak; takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan” (Amsal 3:7). Buku-buku pegangan lain dari wilayah Timur Dekat kuno menyiratkan atau menganggap hikmat yang mereka ajarkan berasal dari Allah, tetapi kitab Amsal dengan sangat tegas menyebutkan bahwa hikmat itu semata-mata dan secara langsung datang dari Allah.[2] Inti pesan kitab ini adalah bahwa hikmat yang sejati didasarkan pada relasi kita dengan Allah: kita tidak dapat memperoleh hikmat yang sejati tanpa memiliki relasi yang hidup dengan Tuhan.
Maka, amsal-amsal dalam kitab ini bukan sekedar perihal akal sehat atau nasihat yang baik; yang diajarkan pada kita juga bukan cuma hubungan antara perbuatan kita dengan tujuan akhir kita, tetapi juga bagaimana menciptakan masyarakat yang damai dan makmur di dalam Tuhan, Sumber hikmat sejati itu.
Bersamaan dengan itu, pepatah-pepatah singkat nan bernas yang kita sebut amsal ini adalah generalisasi atau proses penalaran yang membentuk kesimpulan umum tentang kehidupan, bukan janji-janji yang diatomisasi (diurai). Allah bekerja melalui amsal-amsal itu memimpin jalan pikiran kita, tetapi kita harus hati-hati agar tidak “melempar dadu” dan menganggap amsal-amsal itu sebagai kantong-undian berisi kue keberuntungan. Tidak ada amsal tersendiri yang dapat dianggap mengungkapkan seluruh kebenaran; amsal itu harus diberi nuansa (dilengkapi dan disesuaikan dengan) konteks seluruh kitab yang lebih luas.[3] Hanya orang bodoh yang membaca amsal “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu” (Amsal 22:6), lalu menyimpulkan bahwa seorang anak adalah robot yang diprogram. Amsal itu mengajarkan bahwa didikan orangtua itu berpengaruh, tetapi amsal itu juga harus dilengkapi dan disesuaikan dengan amsal-amsal lain yang mengakui bahwa setiap orang bertanggung jawab atas kelakuannya sendiri, seperti, “Mata yang mengolok-olok ayah, dan enggan mendengarkan ibu, akan dipatuk gagak lembah dan dimakan anak rajawali” (Amsal 30:17). Untuk memahami amsal-amsal, kita perlu merajut pakaian hikmat dari seluruh kumpulan amsal. Untuk memperoleh hikmat dari kitab Amsal, kita perlu belajar seumur hidup.
Ini bukan hal yang mudah. Beberapa amsal saling bertentangan satu sama lain, meskipun tidak secara frontal. Amsal-amsal lainnya disampaikan secara ambigu yang membuat pembaca perlu memikirkan sejumlah interpretasi yang mungkin. Perhatian yang cermat juga harus diberikan kepada siapa yang dituju dari penyampaian amsal itu. “Janganlah menyukai tidur” (Amsal 20:13) adalah amsal yang ditujukan kepada semua anak-anak Allah (lihat Amsal 1:4-5), tetapi jaminan bahwa, “Engkau akan berbaring dan tidur nyenyak” (Amsal 3:24) ditujukan kepada orang yang tidak membiarkan pertimbangan dan kebijaksanaan menjauh dari pandangannya (Amsal 3:21). Kitab Amsal tidak terbatas pada waktu, tetapi penerapan amsal-amsalnya harus tepat pada waktunya, sebagaimana digambarkan dalam Kitab Ayub (lihat Ayub dan Kerja di https://www.teologikerja.org/). Amsal adalah batu-batu uji dalam pengembangan kebajikan yang lambat dan memerlukan waktu lama untuk memahaminya. “Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan -- untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan orang bijak dan teka-teki mereka” (Amsal 1:5-6).
Kitab Amsal berisi tujuh pengelompokan atau kompilasi amsal. Kompilasi 1 (Amsal 1:1-9:18) berisi pengajaran-pengajaran yang dikembangkan untuk menyiapkan hati para murid menerima pepatah-pepatah bernas di kompilasi-kompilasi berikutnya. Kompilasi 2 (Amsal 10:1-22:16) adalah “amsal-amsal Salomo.” Kompilasi 3 (Amsal 22:17-24:22) berisi “perkataan orang bijak,” yang kemungkinan diadopsi dan diadaptasi oleh Salomo[4] dan Kompilasi 4 (Amsal 24:23-34) mengembangkannya dengan tambahan “amsal-amsal orang bijak” lainnya. Kompilasi 5 (Amsal 25:1-29:27) berisi “amsal-amsal Salomo yang dikumpulkan pegawai-pegawai Hizkia, dari Yehuda”, dengan menelusuri dokumen-dokumen kuno dari zaman Salomo. (Hizkia memerintah sekitar 300 tahun setelah Salomo). Kompilasi 6 (Amsal 30:1-33) dan Kompilasi 7 (Amsal 31:1-31) dikaitkan, secara berurutan, dengan Agur dan Lemuel, yang tidak terlalu dikenal orangn.[5]Hasil akhirnya adalah sebuah karya yang berisi peribahasa, nasihat, pengajaran dan peringatan, yang disusun sebagai buku pegangan bagi kaum muda yang memulai kehidupan pekerjaan mereka, dan bagi orang-orang dari segala usia untuk menantang mereka mencari hikmat Tuhan (Amsal 1:2-7).
Amsal paling sering dipasangkan secara kontras: kerajinan vs. kemalasan, kejujuran vs. ketidakjujuran, perencanaan vs. keputusan yang dibuat tergesa-gesa, berlaku adil vs. mengambil keuntungan dari yang lemah, mencari nasihat yang baik vs. kecongkakan, dst. Kitab Amsal paling banyak berbicara tentang perkataan yang bijak daripada topik-topik lainnya, dengan jumlah terbanyak kedua berupa amsal-amsal yang berbicara tentang pekerjaan dan korelasinya, yaitu uang. Meskipun kitab ini dibagi menjadi tujuh kompilasi amsal sebagaimana disebutkan di atas, amsal-amsal dalam kompilasi-kompilasi ini sering berputar kembali membahas topik yang sama berulang kali. Karena alasan itu, tulisan ini akan membahas pengajaran yang terkait-pekerjaan berdasarkan topik dan bukan menelusuri setiap kompilasi secara berurutan. Daftar ayat-ayat, dengan tautan ke bagian pembahasan topiknya, dapat ditemukan di akhir tulisan ini. Daftar ini dimaksudkan untuk membantu pembaca menemukan lokasi ayat atau perikop tertentu yang dibahas, bukan untuk mendorong pembaca membaca ayat-ayat itu secara tersendiri.
Satu tindakan penerapan yang didapati bermanfaat bagi banyak orang Kristen di tempat kerja adalah dengan membaca satu pasal setiap hari, sesuai urutan tanggal/hari bulan itu. (Kitab Amsal terdiri dari 31 pasal). Banyak topik dalam kitab Amsal dibahas oleh beberapa amsal yang tersebar di seluruh kitab, yang artinya setiap topik akan dijumpai beberapa kali pada hari-hari yang berbeda setiap bulannya. Perjumpaan yang berulang-ulang ini membantu proses belajar. Selain itu, penerimaan kita terhadap topik-topik juga bisa berubah sesuai yang sedang terjadi dalam hidup kita. Karena situasi kita terus berubah sepanjang bulan, topik yang tidak menarik perhatian kita pada hari tertentu bisa menjadi bermakna pada hari yang lain. Dengan berjalannya waktu, kita bisa memperoleh lebih banyak hikmat daripada jika kita hanya menjumpai setiap topik satu kali saja. Sebagai contoh, pada tanggal 14 bulan tertentu Anda membaca Amsal pasal 14, tetapi Anda mungkin tidak memerhatikan topik tentang penindasan terhadap orang miskin di ayat 31 (“Siapa menindas orang yang lemah menghina Penciptanya”). Tetapi dalam bulan itu Anda mungkin lalu melihat orang jalanan, atau membaca berita tentang kemiskinan, atau mengalami kekurangan uang sendiri. Anda mungkin jadi tertarik untuk memerhatikan topik itu ketika hal itu muncul lagi pada tanggal 17 (“Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya,” Amsal 17:5), atau tanggal 21 (“Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban kalau ia sendiri berseru-seru,” Amsal 21:13), atau tanggal 22 (“Janganlah merampasi orang lemah karena ia lemah,” Amsal 22:22), atau tanggal 28 (“Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan laba, mengumpulkan itu untuk orang yang berbelas kasihan kepada orang lemah,” Amsal 28:8). Lagipula, topik yang dibingkai secara agak berbeda setiap kali memberi kesempatan pengulangan itu memberi perspektif yang lebih mendalam.
Apa Hubungan Kitab Amsal dengan Pekerjaan?
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiPerhatian utama kitab ini adalah panggilan untuk hidup dengan takut akan Allah. Panggilan ini mengawali (Amsal 1:7), mewarnai (Amsal 9:10), dan mengakhiri kitab Amsal (Amsal 31:30). Amsal-amsal ini mengatakan pada kita bahwa kebiasaan kerja yang baik memuliakan Allah, mengembangkan karakter yang dibentuk oleh takut akan Allah, dan biasanya akan mengantar kepada kemakmuran. Bahkan, takut akan TUHAN secara langsung disamakan sebagai hikmat. “Engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena TUHANlah yang memberi hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian” (Amsal 2:5-6).
Dengan kata lain, amsal-amsal dimaksudkan untuk membentuk karakter Allah (saleh) dalam diri orang yang membacanya. Inilah sebabnya banyak amsal secara eksplisit mendasarkan dirinya pada karakter Allah, yang ditunjukkan dengan apa yang dibenci Allah maupun yang berkenan kepada-Nya:
Enam perkara ini yang dibenci TUHAN… (Amsal 6:16).
Neraca yang curang menjijikan bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat. (Amsal 11:1)
Mata TUHAN ada di segala tempat. (Amsal 15:3)
Karakter saleh—yaitu hikmat—sangat penting dalam seluruh kehidupan, termasuk pekerjaan. Pandangan sekilas terhadap kitab Amsal menunjukkan bahwa kitab ini memiliki banyak hal yang bisa dikontribusikan pada pekerjaan. Banyak amsal berbicara langsung tentang aktivitas-aktivitas dunia kerja di wilayah Timur Dekat kuno, seperti pertanian, peternakan, pembuatan tekstil dan pakaian, perdagangan, transportasi, militer, pemerintahan, pengadilan, membangun rumah tangga, membesarkan anak, pendidikan, pembangunan, dan lain-lain. Uang—yang berkaitan erat dengan pekerjaan—juga menjadi topik yang menonjol. Banyak amsal lain berbicara tentang topik-topik yang secara signifikan diterapkan pada pekerjaan, seperti kehati-hatian, kejujuran, keadilan, wawasan dan relasi yang baik.
Perempuan Pemberani (Amsal 31:10-31)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiHubungan yang menakjubkan antara kitab Amsal dengan dunia kerja terlihat di bagian akhir. (Perempuan) Hikmat/Bijak, yang kita jumpai di awal kitab (Amsal 1:20-33, 8:1-9:12), muncul lagi dalam pakaian sehari-hari di dalam 22 ayat terakhir kitab ini (Amsal 31:10-31) sebagai seorang perempuan yang hidup dan bernapas, yang disebut “the virtuous woman” - perempuan berbudi luhur (dalam Alkitab bahasa Inggris versi KJV). Beberapa penerjemah memakai kata “istri” dan bukan “perempuan” kemungkinan karena suami dan anak-anak perempuan itu disebutkan juga dalam ayat-ayat itu. (Baik “istri” maupun “perempuan” sama-sama merupakan terjemahan yang mungkin dari kata Ibrani ishshah). Ia jelas menemukan kepenuhan dalam keluarganya dan memastikan “suaminya dikenal di pintu gerbang, ketika duduk bersama para tua-tua negeri” (Amsal 31:23). Tetapi teks ini berfokus pada pekerjaan perempuan itu sebagai seorang wirausaha dengan industri rumahan dan para pembantu/pekerja yang dikelolanya (Amsal 31:15).[1] Amsal 31:10-31 tidak hanya untuk diterapkan di tempat kerja; tetapi memang terjadi di tempat kerja.
Jadi, kitab Amsal dirangkum dalam sebuah puisi yang memuji-muji seorang perempuan yang adalah manajer bijak dari berbagai bidang usaha, mulai dari menenun, membuat anggur minuman, sampai berdagang di pasar. Para penerjemah memakai kata yang berbeda-beda untuk menggambarkan karakter perempuan di Amsal 31:10 ini, seperti “virtuous” - berbudi luhur (KJV), “capable” – cakap (NRSV, LAI), “excellent” – sempurna (NASB), atau “of noble character” -berkarakter mulia (NIV). Tetapi kata-kata ini tidak mencakup unsur kekuatan atau keperkasaan yang ada pada akar kata Ibraninya (chayil). Jika diterapkan pada laki-laki, kata chayil ini diterjemahkan menjadi “kekuatan,” seperti di Amsal 31:3. Dari 246 kali kemunculannya di Perjanjian Lama, kata ini sebagian besar diterapkan pada laki-laki yang berperang (seperti, “pejuang-pejuang yang gagah perkasa” pada zaman Daud, 1 Tawarikh 7:2). Para penerjemah cenderung melemahkan unsur kekuatan ini jika kata chayil diterapkan pada perempuan, seperti pada Rut, yang dalam terjemahan Alkitab bahasa Inggris menjadi “noble” (NIV, TNIV), “virtuous” (NRSV, KJV) atau “excellent” (NASB). Padahal kata yang digunakan itu sama, entah diterapkan pada laki-laki maupun perempuan. Saat menggambarkan perempuan di Amsal 31:10-31 ini, arti yang dianggap paling tepat adalah kuat atau berani, seperti yang ditunjukkan lebih lanjut di Amsal 31:17, “Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.” Al Wolters berpendapat, mengingat kata itu sangat berkaitan dengan perang/perjuangan, maka terjemahan yang paling tepat adalah “Valiant Woman” - Perempuan Pemberani.[2] Karena itu, kita akan menyebut wanita di Amsal 31:10-31 ini sebagai “Perempuan Pemberani” yang mencakup makna kekuatan maupun kebajikan yang terkandung dalam kata Ibrani chayil.
Bagian penutup kitab Amsal mencirikan perempuan perkasa ini sebagai pekerja yang bijak dalam lima rangkaian tindakan di dunia kerjanya. Bagian yang sangat penting ini ditonjolkan dengan dua cara. Pertama, ditulis dalam bentuk puisi akrostik, yang artinya baris-baris puisi itu dimulai dengan 22 huruf abjad Ibrani, secara urut, yang membuatnya mudah diingat. Kedua, ditempatkan sebagai klimaks dan rangkuman seluruh kitab. Oleh karena itu, kelima rangkaian tindakan yang kita amati pada Perempuan Pemberani ini akan menjadi kerangka kerja kita dalam mempelajari seluruh kitab Amsal.
Bagi sebagian orang di Timur Dekat kuno, dan juga bagi sebagian orang masa kini, menggambarkan seorang perempuan sebagai model wiraswasta yang bijak sungguh mengherankan. Meskipun faktanya Allah sama-sama memberikan karunia bekerja kepada laki-laki maupun perempuan secara setara (Kejadian 1 dan 2), pekerjaan perempuan seringkali dianggap lebih rendah dan diperlakukan kurang bermartabat dibandingkan pekerjaan laki-laki. Dari contoh kitab ini, kita akan menyebut pekerja yang bijak ini sebagai ia (perempuan), dengan memahami bahwa hikmat Allah disediakan sama bagi laki-laki maupun perempuan. Ia (she) dalam kitab ini menjadi semacam peneguhan tentang martabat dari setiap orang yang bekerja.
Sebagaimana yang selalu disampaikan kitab Amsal, jalan hikmat berasal dari takut akan Tuhan. Setelah semua kecakapan dan kebajikan Perempuan Pemberani dijelaskan dan dihargai, sumber hikmatnya pun diungkapkan. “Isteri (perempuan) yang takut akan TUHAN dipuji-puji” (Amsal 31:30).
Pekerja Yang Bijak Dapat Dipercaya (Amsal)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiCiri pertama jalan hikmat yang dipersonifikasikan dalam diri Perempuan Pemberani adalah dapat dipercaya. “Hati suaminya percaya padanya” (Amsal 31:11). Sifat dapat dipercaya adalah dasar hikmat dan kebajikan. Allah menciptakan manusia untuk bekerja sama dengan satu sama lain (Kejadian 2:15), tetapi tanpa kepercayaan, hal ini tak mungkin terjadi. Kepercayaan memerlukan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip etika, yang dimulai dengan kesetiaan dalam relasi-relasi kita. Apa saja implikasi sifat dapat dipercaya yang digambarkan dalam kitab Amsal ini di dunia kerja?
Pekerja Yang Dapat Dipercaya Setia pada Tanggung Jawab Yang Dipercayakan padanya (Amsal)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiPeryaratan pertama dari dapat dipercaya adalah pekerjaan kita membawa kebaikan bagi orang-orang yang memercayai kita. Perempuan Pemberani bekerja bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang-orang di sekitarnya. Pekerjaannya membawa manfaat bagi pelanggannya (Amsal 31:14), komunitasnya (Amsal 31:20), keluarga intinya (Amsal 31:12,28) dan rekan-rekan kerjanya (Amsal 31:15). Dalam perekonomian Timur Dekat Kuno, bidang-bidang tanggung jawab ini semuanya menyatu dalam entitas ekonomi yang disebut “rumah tangga.” Seperti yang terjadi di banyak bagian dunia saat ini, banyak orang juga bekerja di tempat yang sama dengan tempat tinggal mereka. Sebagian anggota rumah tangga bekerja sebagai juru masak, tukang bersih-bersih, perawat/pengasuh, atau pengrajin kain, pandai besi, tukang kayu atau batu di ruangan-ruangan dalam rumah keluarga itu sendiri. Sebagian lainnya bekerja di ladang-ladang di dekat/luar rumah sebagai petani, penggembala atau buruh. “Rumah tangga” itu merujuk pada seluruh usaha produktif yang kompleks, juga merujuk pada keluarga besar, para pekerja yang dibayar, dan mungkin juga para budak yang bekerja dan tinggal di sana. Sebagai pengelola/ manajer rumah tangga, Perempuan Pemberani itu sangat mirip dengan seorang wirausaha atau eksekutif senior masa kini. Ketika ia “mengawasi segala urusan rumah tangganya” (Amsal 31:27), ia sedang memenuhi kewajiban yang dipercayakan padanya terhadap orang-orang yang bergantung pada usaha/pekerjaannya.
Ini tidak berarti kita tidak boleh bekerja untuk kepentingan diri sendiri juga. Kewajiban Perempuan Pemberani pada keluarganya dibalas dengan kewajiban keluarganya kepadanya. Ia patut mendapat bagian dari keuntungan usahanya untuk dipakainya bagi kepentingan diri sendiri. Perikop ini mengajarkan anak-anak dan suaminya serta seluruh masyarakat untuk menghargai dan memujinya. “Anak-anaknya bangun dan menyebutnya berbahagia; suaminya pun memuji dia…. Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang” (Amsal 31:28, 31).
Kewajiban yang dipercayakan pada kita tidak boleh membuat kita merugikan pemberi kerja atau majikan kita dalam usaha kita memenuhi kebutuhan sendiri. Kita mungkin berselisih dengan mereka atau mencoba menentang perlakuan mereka terhadap kita, tetapi kita tak boleh merugikan mereka. Sebagai contoh, kita tidak boleh mencuri (Amsal 29:24), merusak (Amsal 18:9) atau memfitnah (Amsal 10:18) agar dapat menyampaikan keluhan kita. Beberapa penerapan ini sangat jelas. Kita tidak boleh membebankan pada klien untuk jam-jam yang sebenarnya kita tidak bekerja. Kita tidak boleh merusak properti perusahaan atau menuduh majikan kita secara tidak benar. Merefleksikan prinsip ini akan membawa kita kepada implikasi dan pertanyaan yang lebih dalam. Apakah boleh mengacaukan produktivitas atau keharmonisan organisasi dengan tidak membantu saingan-saingan internal kita? Apakah akses untuk mendapat keuntungan pribadi—perjalanan, hadiah, barang dagangan gratis dan semacamnya— membuat kita mengarahkan bisnis ke pemasok tertentu dengan mengorbankan kepentingan terbaik perusahaan kita? Saling memenuhi yang menjadi kewajiban pekerja dan pemberi kerja merupakan persoalan yang serius.
Kewajiban yang sama berlaku pada organisasi yang memiliki kewajiban terhadap organisasi lain. Suatu perusahaan boleh saja bernegosiasi dengan pelanggannya untuk mendapatkan harga yang lebih baik. Tetapi perusahaan tidak boleh mengambil keuntungan itu secara diam-diam, seperti yang dilakukan beberapa bank investasi ketika mereka menginstruksikan perwakilannya untuk merekomendasikan obligasi hipotek yang dijaminkan (CMO) sebagai investasi yang solid kepada nasabah, sementara pada saat yang sama menjual CMO itu dengan harapan nilainya akan turun.[1]
Takut akan Tuhan adalah standar yang diterapkan terhadap tanggung jawab yang dipercayakan. “Janganlah engkau menganggap dirimu bijak; takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan” (Amsal 3:7). Semua orang tergoda untuk melayani diri sendiri dengan mengorbankan orang lain. Itu adalah akibat dari Kejatuhan. Tetapi amsal ini berkata bahwa takut akan Tuhan—mengingat kebaikan-Nya pada kita, pemeliharaan-Nya atas segala sesuatu, dan keadilan-Nya ketika kita merugikan orang lain—akan menolong kita memenuhi kewajiban kita pada orang lain.
Pekerja Yang Dapat Dipercaya Itu Jujur (Amsal)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKejujuran adalah aspek lain dari sifat dapat dipercaya yang penting. Sedemikian pentingnya sampai sebuah amsal menyamakan kebenaran dengan hikmat itu sendiri. “Belilah kebenaran, dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan dan pengertian” (Amsal 23:23). Kejujuran itu terdiri dari mengatakan kebenaran maupun melakukan kebenaran.
Perkataan Yang Jujur
Amsal pasal 6 berisi daftar yang terkenal tentang tujuh hal yang dibenci Allah. Dua dari tujuh hal tersebut adalah bentuk ketidakjujuran: “lidah dusta” dan “seorang saksi dusta yang meniupkan kebohongan” (Amsal 6:16-19). Di sepanjang kitab Amsal, pentingnya mengatakan kebenaran selalu dikumandangkan.
Dengarlah, karena aku akan mengatakan hal-hal yang mulia dan akan membuka bibirku tentang hal-hal yang benar. Karena lidahku mengatakan kebenaran, dan kefasikan itu menjijikkan bagi bibirku. (Amsal 8:6-7)
Saksi yang setia menyelamatkan hidup, tetapi siapa meniupkan kebohongan adalah pengkhianat. (Amsal 14:25).
Memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah uap yang lenyap dari orang yang mencari maut. (Amsal 21:6)
Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang meniupkan kebohongan tidak akan terlepas. (Amsal 19:5)
Jangan menjadi saksi terhadap sesamamu tanpa sebab, dan menipu dengan bibirmu. (Amsal 24:28)
Siapa menyembunyikan kebencian, dusta bibirnya; siapa memfitnah, dialah orang bebal. Dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, ia berakal budi. (Amsal 10:18-19)
Siapa mengatakan kebenaran, menyatakan apa yang adil, tetapi saksi dusta menyatakan tipu daya. Ada orang yang mulutnya lancang seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan. Bibir kebenaran tetap untuk selama-lamanya, tetapi lidah dusta hanya untuk sekejap mata. Tipu daya ada dalam hati orang yang merencanakan kejahatan, tetapi orang yang menyarankan damai mendapat sukacita. (Amsal 12:17-20)
Orang yang dusta bibirnya menjijikkan bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia disenangi-Nya. (Amsal 12:22)
Bagaikan gada, atau pedang, atau anak panah yang tajam, demikianlah orang yang bersaksi dusta terhadap sesamanya. (Amsal 25:18).
Pembenci berpura-pura dengan bibirnya, tetapi dalam hatinya terkandung tipu daya. Apabila ramah perkataannya, janganlah percaya padanya, karena tujuh hal yang menjijikkan ada dalam hatinya. (Amsal 26:24-25)
Meskipun Alkitab memaklumi kebohongan dan penipuan dalam situasi-situasi tertentu (seperti kebohongan pelacur Rahab di Yosua 2:1, kebohongan para bidan Ibrani kepada Firaun di Keluaran 1:15-20, kebohongan Daud kepada imam di 1 Samuel 21:1-3), kitab Amsal tidak memperbolehkan ada dusta atau penipuan dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Intinya bukan sekadar berdusta itu salah, namun mengatakan kebenaran itu juga sangat penting. Kita tidak berdusta bukan terutama karena ada aturan yang melarang hal itu, tetapi karena takut akan Allah membuat kita mencintai kebenaran.
Dusta itu merusak dan pada akhirnya akan mendatangkan hukuman dan kematian.[1] Kita diperingatkan bukan saja untuk menjauhi dusta, tetapi juga untuk berhati-hati terhadap pendusta di sekitar kita. Jangan sampai kita terjerat oleh dusta mereka. Kita bahkan juga perlu menyadari bahwa kita sendiri mungkin cenderung percaya pada dusta yang kita dengar. Seperti gosip (yang seringkali merupakan kebohongan yang dibungkus tisu kebenaran), kita mendapati dusta itu menarik kita ke dalam lingkaran orang-orang yang tahu sesuatu dan kita menyukainya; atau karena kesesatan kita sendiri, kita ingin memercayai dusta itu. Tetapi amsal-amsal memperingatkan kita dengan keras agar menjauhi orang-orang yang berdusta. Tempat kerja yang hanya mengatakan kebenaran (dengan kasih, baca Efesus 4:15) adalah impian, tetapi Allah memanggil kita untuk berada di antara orang-orang yang menjauhi lidah dusta.
Sekitar separuh kitab Amsal melarang secara khusus tentang bersaksi dusta, yang menggemakan Hukum Kesembilan (Keluaran 20:16). Jika menyesatkan orang lain merupakan hal yang tidak benar, bersaksi dusta tentang orang lain merupakan kejahatan yang “tidak akan luput dari hukuman” (Amsal 19:5). Kesaksian palsu adalah sebuah penyerangan langsung terhadap orang yang tidak bersalah. Namun bisa jadi merupakan bentuk kebohongan yang paling lazim di dunia kerja, barangkali hanya nomor dua setelah iklan palsu. Jika iklan palsu setidaknya diarahkan ke luar (para pelanggan) yang mengetahui bahwa mereka harus waspada terhadap berbagai teknik penjualan dan biasanya memiliki sumber-sumber informasi lain, kesaksian palsu biasanya merupakan serangan terhadap rekan kerja, yang kemungkinan akan diterima begitu saja di dalam organisasi itu. Ini terjadi ketika kita mencoba mengubah kesalahan atau kredit dengan memberitakan secara tidak benar peran dan tindakan orang lain. Tindakan ini tidak hanya merugikan orang yang kita beritakan secara tidak benar, tetapi juga seluruh organisasi, karena organisasi yang tidak mengetahui secara akurat alasan-alasan keberhasilan dan kegagalannya saat itu tidak akan dapat membuat perubahan-perubahan yang diperlukan untuk peningkatan dan penyesuaian. Ibarat menembak seseorang di kapal selam, bukan hanya si korban saja yang akan celaka, tetapi kapal dan seluruh awaknya pun akan tenggelam. Untuk pembahasan lebih lanjut tentang kejujuran dalam Alkitab, lihat artikel Truth & Deception di https://www.teologikerja.org/.
Perbuatan Yang Jujur
Bukan hanya perkataan, tetapi perbuatan juga bisa benar atau palsu. “Orang benar benci kepada dusta, tetapi tindakan orang fasik busuk dan memalukan.” (Amsal 13:5, penekanan ditambahkan). Bentuk perbuatan tidak jujur yang paling menonjol di dalam kitab Amsal adalah penggunaan timbangan dan neraca yang salah. “Timbangan dan neraca yang betul adalah kepunyaan Tuhan, segala batu timbangan di dalam pundi-pundi adalah buatan-Nya” (Amsal 16:11). Sebaliknya, “Neraca yang curang menjijikkan bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat” (Amsal 11:1). “Dua macam batu timbangan menjijikkan bagi TUHAN, dan neraca curang itu tidak baik” (Amsal 20:23). Timbangan dan neraca yang salah merujuk pada tindakan menipu pelanggan tentang produk yang dijual. Memberi label produk dengan tidak sesuai, mengurangi kualitas yang dijanjikan, dan memberi keterangan yang tidak benar tentang sumber atau asalnya—selain jelas-jelas memalsukan jumlahnya—adalah contoh-contoh jenis ketidakjujuran ini. Praktik-praktik seperti ini menjijikkan bagi Allah.
Ada beberapa alasan praktis untuk bertindak jujur. Dalam jangka pendek, perbuatan tidak jujur bisa menghasilkan pendapatan yang lebih besar, tetapi dalam jangka panjang, klien atau pelanggan akan mengetahuinya dan mengalihkan bisnisnya ke tempat lain. Namun yang terutama, rasa takut akan Allahlah yang akan melingkupi kita, bahkan ketika kita berpikir kita bisa lolos saat berlaku tidak jujur pada tataran manusia. “Dua macam batu timbangan, dua macam takaran, keduanya menjijikkan bagi TUHAN” (Amsal 20:10).
Selain timbangan dan neraca yang salah, ketidakjujuran di tempat kerja juga bisa dilakukan dengan cara lain. Salah satu contohnya dari Perjanjian Lama berkaitan dengan kepemilikan tanah, yang disahkan dengan penanda batas. Orang yang tidak jujur bisa secara diam-diam menggeser penanda batas itu untuk memperluas tanahnya sendiri dan merugikan tetangganya. Kitab Amsal mengutuk tindakan tidak jujur seperti itu. “Jangan engkau memindahkan batas tanah yang lama, dan memasuki ladang anak-anak yatim. Karena penebus mereka kuat, Dialah yang membela perkara mereka melawan engkau” (Amsal 23:10-11). Kitab Amsal tidak menyebutkan semua jenis tindakan tidak jujur yang mungkin dilakukan di Israel kuno, apalagi dalam kehidupan kita saat ini. Tetapi prinsip bahwa di mata Allah perbuatan tidak jujur sama menjijikkannya dengan perkataan tidak jujur sudah ditegaskan.
Seperti apakah kejujuran—dalam perkataan maupun perbuatan—di tempat kerja masa kini? Jika kita ingat bahwa kejujuran adalah salah satu aspek dari sifat dapat dipercaya, maka kriteria kejujuran itu menjadi, “Dapatkah orang memercayai yang saya katakan dan lakukan?” bukannya “Apakah secara teknis hal itu benar?” Ada beberapa cara yang dapat menghancurkan kepercayaan tanpa melakukan yang jelas jelas kecurangan. Kontrak dapat diubah atau dikaburkan untuk memberi keuntungan secara tidak adil kepada pihak yang memiliki pengacara paling hebat. Produk-produk dapat dijelaskan dengan istilah-istilah yang menyesatkan, seperti “menambah energi” pada label makanan yang hanya berarti “mengandung kalori.” Pada akhirnya, menurut Amsal, Allah akan membela orang-orang yang dicurangi dan tidak akan mentolerir tindakan-tindakan semacam ini (Amsal 23:11). Sementara itu, pekerja yang bijak— yang saleh—akan menghindari tindakan-tindakan semacam itu.
Kitab Amsal membahas tema kejujuran secara berulang-ulang. “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya” (Amsal 11:3). “Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil” (Amsal 20:17). Sebuah amsal yang menggelikan menunjukkan bentuk kecurangan yang lain: “‘Jelek! Jelek!’ kata si pembeli, tetapi begitu ia pergi, ia memuji dirinya” (Amsal 20:14). Dengan sengaja menjatuhkan produk yang kita inginkan agar harganya bisa turun, lalu menyombongkan diri atas “harga sangat murah” yang kita dapatkan juga merupakan bentuk ketidakjujuran. Di dunia tawar-menawar antara penjual dan pembeli yang berpengetahuan luas, tindakan ini mungkin lebih merupakan hiburan daripada pelecehan. Tetapi dalam pemutarbalikan fakta secara tersamar yang modern —seperti ketika seorang kandidat politik berusaha meyakinkan para pemilih berbahasa Inggris bahwa ia keras mengenai imigrasi, sembari juga berusaha meyakinkan para pemilih dari kelompok Hispanik tentang hal yang sebaliknya— tindakan itu menyingkapkan kecurangan di balik kesengajaan menyampaikan realitas yang tidak benar.