Bootstrap

Ayub dan Kerja

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Job bible commentary

Introduksi Kitab Ayub

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kitab Ayub mengupas hubungan antara kemakmuran, kemalangan dan iman pada Allah. Apakah kita percaya bahwa Allah adalah sumber segala yang baik? Lalu apa artinya jika hal-hal baik lenyap dari hidup kita? Apakah kita lalu meninggalkan iman kita pada Allah atau kebaikan-Nya? Atau apakah kita menganggapnya sebagai tanda Allah sedang menghukum kita? Bagaimana kita bisa tetap setia pada Allah di masa-masa sukar? Pengharapan apa yang bisa kita miliki untuk masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul di semua lingkup kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan ini memiliki kaitan khusus dengan pekerjaan karena salah satu alasan utama kita bekerja adalah mencapai level kemakmuran tertentu. Kita bekerja—di antara banyak alasan lainnya—agar dapat memiliki atap di atas kepala kita, makanan di meja makan kita, dan menyediakan hal-hal yang baik untuk diri kita sendiri dan orang-orang yang kita kasihi. Kemalangan bisa mengancam kemakmuran apa pun yang sudah kita miliki, dan iman kepercayaan sulit dipertahankan pada masa-masa ekonomi sulit. Tokoh utama dalam kitab Ayub memulai dengan kemakmuran dan mengalami kemalangan yang hampir tak terbayangkan, termasuk kehilangan mata pencaharian dan kekayaannya. Di dalam kitab ini, imannya diuji secara ekstrem, baik ketika ia mengalami keberhasilan yang luar biasa maupun kegagalan yang menghancurkan dalam pekerjaan dan hidupnya.

Kita akan menyelidiki berbagai aplikasi dalam bekerja dari kitab ini. Apakah kesuksesan ekonomi merupakan tanda kehebatan kita ataukah berkat Allah? Apakah kegagalan atau kehilangan pekerjaan merupakan evaluasi Allah atas pekerjaan kita? Bagaimana iman kepada Allah dapat menolong kita menghadapi kegagalan dan kehilangan? Bagaimana tekanan-tekanan di tempat kerja memengaruhi kehidupan keluarga dan kesehatan kita? Apa yang dapat dilakukan orang percaya untuk saling mendukung dalam kesulitan-kesulitan di tempat kerja? Bagaimana kita dapat mengatasi rasa marah pada Allah jika Dia membiarkan kita mengalami perlakuan tidak adil di tempat kerja? Kita akan mendalami risalah praktis Ayub tentang relasi antara atasan dan bawahan, yang didasarkan saling menghargai karena semua orang diciptakan oleh Allah yang satu dan satu-satunya. Akhirnya, kita akan memikirkan kontribusi Ayub yang luar biasa pada hak-hak ekonomi perempuan.

Latar Belakang dan Garis Besar (Kitab Ayub)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Penulis kitab Ayub tidak diketahui. Ayub tampaknya bukan orang Israel, karena ia dikatakan berasal dari tanah Us (Ayub 1:1), yang oleh banyak ahli dikatakan terletak di tenggara Israel kuno. Karena Ayub disebutkan dalam kitab Yehezkiel (Yehezkiel 14:14, 20), maka penanggalan waktu terjadinya kisah Ayub yang paling tepat tampaknya sebelum masa hidup Yehezkiel (abad ke-6 SM). Namun, kisahnya, tentu saja, tanpa batas waktu.

Kitab Ayub terdiri dari berbagai genre sastra (narasi, puisi, penglihatan, dialog dan lain-lainnya) yang dijalin menjadi satu dalam sebuah mahakarya sastra. Garis besar yang paling umum diterima menunjukkan dua siklus keluh kesah, dialog, dan penyingkapan, yang diapit di antara prolog dan epilog:

Ayub 1:1-2:11

Prolog – Kemakmuran Ayub Lenyap

Ayub 3:1-26

Keluh Kesah Ayub Yang Pertama

Ayub 4:1-27:23

Dialog dengan Tiga Sahabat

Ayub 28:1-28

Hikmat Disingkapkan

Ayub 29:1-31:40

Keluh Kesah Ayub Yang Kedua

Ayub 32:1-37:24

Dialog dengan Elihu

Ayub 38:1-42:6

Allah Disingkapkan

Ayub 42:7-17

Epilog – Kemakmuran Ayub Dipulihkan

Teologi dan Tema-tema (Kitab Ayub)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Ayub, yang paling dikenal pembaca Alkitab sebagai orang benar yang menderita secara tidak adil, merupakan contoh orang yang mempertanyakan mengapa orang baik menderita. Iman Ayub pada Allah diuji secara ekstrem, dan kisah ini menunjukkan bahwa komitmen Ayub pada Allah mulai melemah. Sebagaimana akan kita lihat, kesengsaraan Ayub dimulai di tempat kerja, dan kitab ini memberi kita wawasan yang berharga tentang bagaimana pengikut Allah bisa tetap berfungsi dengan setia dalam naik turunnya kehidupan kerja.

Kemakmuran Ayub Diakui sebagai Berkat Allah (Ayub 1:1-12)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Di awal kitab, kita diperkenalkan dengan seorang petani/peternak yang sangat kaya bernama Ayub. Ia digambarkan sebagai “yang terkaya di antara semua orang di sebelah timur” (Ayub 1:3). Seperti bapa-bapa leluhur Abraham, Ishak dan Yakub, kekayaannya diukur dengan ribuan ternak, sejumlah budak dan keluarga besar yang dimilikinya. Tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuannya (Ayub 1:2) menjadi sukacita pribadi dan fondasi kekayaannya yang penting. Di dalam masyarakat agraris, anak-anak menyediakan sebagian besar tenaga kerja yang dibutuhkan dalam rumahtangga. Mereka merupakan harapan terbaik untuk masa pensiun yang nyaman, satu-satunya rencana pensiun yang ada di Timur Dekat Kuno, sebagaimana di banyak bagian dunia saat ini.

Ayub memandang kesuksesannya sebagai berkat Allah. Kita diberitahu bahwa Allah “memberkati yang dikerjakan Ayub dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu” (Ayub 1:10). Pengakuan Ayub bahwa ia memiliki segala sesuatu sebagai berkat Allah ditonjolkan dengan detail yang tidak lazim. Ia khawatir anak-anaknya tanpa sengaja berbuat dosa pada Allah. Meskipun Ayub berhati-hati agar tetap “saleh dan jujur” (Ayub 1:1), ia khawatir anak-anaknya tidak begitu peduli dalam hal ini. Bagaimana jika salah satu dari mereka, karena terlalu banyak minum anggur selama pesta-pesta yang seringkali berlangsung berhari-hari, berbuat dosa dengan mengutuki Allah (Ayub 1:4)? Oleh karena itu, setiap kali anak-anaknya habis mengadakan pesta, untuk mengantisipasi segala kemungkinan pelanggaran kepada Allah, “Ayub memanggil dan menguduskan mereka. Keesokan harinya, pagi-pagi, Ayub bangun dan mempersembahkan kurban bakaran sesuai dengan jumlah mereka semua” (Ayub 1:5).

Allah menghargai kesetiaan Ayub. Dia berkata kepada Iblis (kata Ibrani yang sebenarnya berarti “pendakwa”[1]),

"Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sesungguhnya, tak ada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan" (Ayub 1:8). Si pendakwa melihat suatu celah untuk berbuat jahat dan menjawab, "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?” (Ayub 1:9). Artinya, apakah Ayub mengasihi Allah hanya karena Allah sudah memberkatinya dengan begitu melimpah? Apakah pujian dan persembahan kurban bakaran Ayub “sesuai dengan jumlah mereka semua” hanya suatu siasat yang diperhitungkan untuk membuat kekayaannya tetap melimpah? Atau, jika memakai gambaran masa kini, apakah kesetiaan Ayub tidak lebih dari sekadar koin yang dimasukkan ke dalam mesin penjual berkat Allah?

Kita bisa menerapkan pertanyaan ini pada diri kita sendiri. Apakah kita berelasi dengan Allah terutama agar Dia memberkati kita dengan hal-hal yang kita inginkan? Atau yang lebih buruk, agar Dia tidak mengacaukan kesuksesan yang tampaknya bisa kita capai dengan kekuatan kita sendiri? Pada saat-saat baik, hal ini mungkin bukan hal sulit. Kita percaya pada Allah. Kita mengakui Dia—minimal secara teori—sebagai sumber segala yang baik. Kita juga bekerja dengan rajin, sehingga kebaikan Allah dan pekerjaan kita berjalan seiring. Ketika keadaan baik, dan hidup kita benar-benar makmur, wajar jika kita bersyukur dan memuji Allah atas hal itu.

Allah Mengizinkan Iblis Menghancurkan Kemakmuran Ayub (Ayub 1:13-22)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Masalah kesengsaraan muncul ketika masa-masa sulit. Ketika kita tidak mendapat kesempatan promosi atau kehilangan pekerjaan, ketika kita sakit berkepanjangan, ketika kita kehilangan orang yang kita kasihi, lalu bagaimana? Kita menghadapi pertanyaan, “Jika Allah memberkatiku pada saat-saat baik, apakah sekarang Dia sedang menghukumku?” Pertanyaan ini sangat penting. Jika Allah sedang menghukum kita, kita perlu mengubah cara kita agar Dia berhenti menghukum. Namun, jika kesusahan kita bukan hukuman dari Tuhan, mengubah cara kita akan menjadi hal bodoh, bahkan mungkin akan merintangi yang Allah mau kita lakukan.

Bayangkan kasus seorang guru yang diberhentikan saat ada pemotongan anggaran sekolah dan berpikir, “Ini hukuman Allah karena aku tidak menjadi misionaris.” Karena menganggap pemberhentiannya sebagai tanda, ia lalu mendaftar untuk masuk seminari dan meminjam uang untuk pembiayaannya. Tiga tahun kemudian, ia lulus dan mulai berusaha menggalang dukungan untuk misinya. Jika benar Allah yang menyebabkan pemberhentian itu untuk menghukumnya karena ia tidak menjadi misionaris, ia sudah menghentikan kesalahan itu. Ia mestinya berada dalam keadaan baik.

Namun, bagaimana jika pemberhentiannya bukan hukuman dari Allah? Bagaimana jika Allah benar-benar tidak bermaksud agar ia menjadi misionaris? Selama di seminari, ia bisa kehilangan kesempatan untuk melayani Allah sebagai guru. Dan yang lebih buruk, apa yang terjadi jika ia gagal menggalang dukungan sebagai misionaris? Ia akan tak punya pekerjaan dan malah punya banyak utang. Apakah ia lalu akan merasa ditinggalkan Allah jika rencana misinya tidak berhasil? Mungkinkah ia bahkan akan kehilangan imannya atau menjadi pahit pada Allah? Jika ya, ia bukan orang pertama dan satu-satunya. Namun, semua itu terjadi karena ia keliru menganggap pemberhentiannya sebagai tanda hukuman Allah. Pertanyaan apakah kemalangan merupakan tanda tidak diperkenan Allah bukan hal yang ringan.

Si pendakwa—Iblis—berharap dapat memasang perangkap semacam itu pada Ayub. Iblis berkata pada Allah bahwa jika Dia melenyapkan segala berkat yang Dia berikan pada Ayub dengan sangat berkelimpahan, “Ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu” (Ayub 1:11; 2:4). Jika Iblis dapat membuat Ayub percaya bahwa ia sedang dihukum Allah, Ayub bisa masuk ke dalam salah satu dari dua perangkap. Ia bisa meninggalkan kebiasaan-kebiasaannya yang benar karena keliru menganggap bahwa hal-hal itu tidak berkenan pada Allah. Atau, yang lebih baik menurut pandangan si pendakwa, ia akan kepahitan pada Allah atas hukuman yang tak sepantasnya ia terima, dan meninggalkan Allah juga. Yang manapun akan menjadi kutuk di hadapan Allah.

Tuhan mengizinkan Iblis untuk bertindak. Kita tidak diberitahu alasannya. Pada suatu hari yang mengerikan, hampir seluruh harta Ayub lenyap dan orang-orang yang ia kasihi—termasuk semua anak-anaknya—terbunuh atau mati dalam badai ganas (Ayub 1:13-19). Namun, Ayub tidak menganggap Allah sedang menghukumnya atau pun menjadi pahit atas perlakuan Allah. Ia bahkan tetap menyembah Allah (Ayub 1:20). Pada saat yang paling mengerikan dalam hidupnya, Ayub memuji otoritas Allah atas segala situasi kehidupan, yang baik atau pun buruk. “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN” (Ayub 1:21).

Sikap Ayub yang sangat seimbang ini sungguh luar biasa. Ia paham benar kemakmurannya yang sebelumnya itu sebagai berkat dari Allah. Ia tak berpikir bahwa ia pantas menerima berkat Allah, sekalipun ia tahu ia orang benar (tersirat di Ayub 1:1,5 dan terungkap secara eksplisit di Ayub 6:24-30, dll.). Karena ia tahu berkat-berkat sebelumnya bukan berdasarkan kelayakan dirinya, ia tahu penderitaannya saat ini juga belum tentu tergantung kelayakan dirinya. Ia tidak menganggap kondisinya sebagai tanda perkenan Allah. Akibatnya, ia tidak berpura-pura tahu mengapa Allah memberkatinya dengan kemakmuran pada suatu saat, dan tidak memberkatinya pada saat lain.

Kisah Ayub merupakan kritik terhadap yang disebut “injil kemakmuran,” yang mengeklaim bahwa orang yang memiliki relasi yang benar dengan Allah selalu diberkati dengan kemakmuran. Ini sama sekali tidak benar, dan Ayub merupakan Barang Bukti Nomor Satu. Namun, kisah Ayub juga menjadi teguran bagi “injil kemiskinan” yang mengeklaim hal yang sebaliknya, bahwa relasi yang benar dengan Allah menyiratkan hidup miskin. Pemikiran bahwa orang percaya harus dengan sengaja meniru kehilangan Ayub terlalu tidak masuk akal untuk dimunculkan sekalipun di sela-sela pembicaraan tentang Ayub. Allah mungkin saja memanggil kita untuk melepaskan segala sesuatu jika hal itu diperlukan dalam situasi-situasi melayani atau mengikut Dia. Namun, kitab Ayub tidak mengatakan bahwa Allah pada dasarnya ingin semua orang hidup dalam kemiskinan. Kemakmuran Ayub yang semula adalah murni berkat Allah, dan kemiskinannya yang ekstrem juga murni musibah.

Ayub bisa tetap setia dalam kemalangan karena ia memahami kemakmuran dengan akurat. Karena ia sudah mengalami kemakmuran sebagai berkat Allah, ia siap menderita kemalangan tanpa langsung membuat kesimpulan macam-macam. Ia tahu yang tidak diketahuinya, yaitu mengapa Allah memberkati kita dengan kemakmuran dan mengizinkan kita menderita kemalangan. Dan ia tahu yang ia ketahui, yaitu bahwa Allah itu setia, sekalipun Dia mengizinkan kita mengalami penderitaan dan kesengsaraan besar. Sebagai akibatnya, “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah melakukan yang kurang patut” (Ayub 1:22).

Allah Mengizinkan Iblis Menghancurkan Kesehatan Ayub (Ayub 2:1-11)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Ayub dapat menanggung kehilangan yang sangat menyakitkan tanpa mengompromikan “integritas” atau kesalehan dirinya [1] (Ayub 2:3). Namun, Iblis tidak menyerah. Barangkali Ayub baru menghadapi cukup penderitaan dan kesengsaraan saja. Iblis lalu menuduh bahwa Ayub hanya melayani Allah karena masih punya kesehatan (Ayub 2:4). Jadi Tuhan mengizinkan si pendakwa untuk membuat Ayub terkena bisul yang busuk “dari telapak kakinya sampai ke puncak kepalanya” (Ayub 2:7). Hal ini sangat menyakitkan hati istri Ayub, sehingga ia bertanya pada Ayub, "Masihkah engkau bertekun dalam kesalehanmu? Kutukilah Allah dan matilah!" (Ayub 2:9). Ia menerima jika Ayub tidak bercacat (saleh) di mata Allah, tetapi tidak seperti Ayub, ia tidak bisa melihat apa gunanya menjadi saleh jika hal itu tidak mendatangkan berkat Allah. Ayub menjawab dengan salah satu ayat klasik dalam Alkitab, “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" (Ayub 2:10).

Lagi-lagi kita mendapati bahwa Ayub menganggap segala situasi kehidupan berasal dari Allah. Dalam pada itu, Ayub tidak mengetahui adanya aktivitas di langit yang melatarbelakangi situasinya ini. Ia tidak dapat melihat cara kerja di kayangan, dan hanya integritas imannyalah yang membuatnya tidak mengutuki Allah. Bagaimana dengan kita? Apakah kita mengakui seperti Ayub bahwa kita tidak memahami segala misteri di langit yang memengaruhi kemakmuran dan kemalangan kita? Apakah kita siap menghadapi kemalangan dengan mempraktikkan kesetiaan dan mengucap syukur pada masa-masa baik? Kebiasaan tetap Ayub untuk berdoa dan mempersembahkan kurban mungkin tampak aneh atau bahkan obsesif ketika kita menjumpainya di Ayub 1:5. Namun, sekarang kita dapat melihat bahwa praktik-praktik ketaatan seumur hidup itu menempa kapasitasnya untuk tetap setia dalam situasi-situasi ekstrem. Iman kepada Allah bisa timbul secara instan. Namun, integritas dibentuk seumur hidup.

Kemalangan Ayub terjadi di tempat kerja, dengan kehilangan sarana-sarana pendapatannya. Kemudian menjalar ke dalam keluarganya dan akhirnya menyerang kesehatannya. Pola ini tidak asing bagi kita. Kita bisa dengan mudah terlalu mengidentifikasi diri dengan pekerjaan kita sampai kemunduran di tempat kerja menjalar ke dalam keluarga dan kehidupan pribadi kita. Kegagalan di tempat kerja mengancam identitas diri dan bahkan integritas kita. Hal ini, ditambah ketegangan praktis akibat kehilangan pemasukan dan rasa aman, bisa sangat mengganggu relasi-relasi keluarga. Meskipun jarang sampai menimbulkan kematian yang mengerikan, stres yang berkaitan dengan pekerjaan dapat menimbulkan kehancuran keluarga secara permanen. Pada akhirnya kita bisa mengalami masalah-masalah kesehatan fisik dan mental yang sangat melemahkan. Kita bisa tidak mengalami damai sejahtera, istirahat atau bahkan tidur malam yang nyenyak (Ayub 3:26). Di tengah semua keadaan ini, Ayub tetap menjaga integritasnya. Mungkin menggoda untuk menarik pelajaran moral seperti, “Jangan terlalu tenggelam dalam pekerjaan sampai masalah-masalahnya memengaruhi keluarga atau kesehatanmu.” Namun, itu sangat tidak relevan dengan kedalaman cerita Ayub. Permasalahan Ayub benar-benar memengaruhi keluarga dan kesehatannya, selain pekerjaannya. Hikmat kisah Ayub bukan tentang bagaimana meminimalkan kemalangan dengan menjaga batasan-batasan yang bijak, tetapi bagaimana mempertahankan kesetiaan dalam situasi-situasi hidup terburuk.

Sahabat-sahabat Ayub Datang Menghibur Ayub (Ayub 2:11-13)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Setelah Iblis melancarkan serangannya yang terdahsyat, Ayub benar-benar membutuhkan dukungan. Tiga sahabat Ayub memasuki adegan dan digambarkan sebagai orang-orang yang peka, saleh, dan simpatik. Mereka bahkan duduk bersama Ayub selama tujuh hari tujuh malam (Ayub 2:13). Mereka cukup bijak—pada saat itu—untuk tidak berkata apa-apa. Penghiburan datang dari kehadiran para sahabat di tengah kemalangan, bukan dari yang mungkin mereka katakan untuk membuat situasi menjadi lebih baik. Tidak ada yang dapat mereka ucapkan yang dapat membuat keadaan menjadi lebih baik.

Keluh Kesah Ayub Yang Pertama (Ayub 3)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Tak ada lagi yang dapat dilakukan Ayub selain berkeluh kesah. Ia tak mau menyalahkan dirinya secara tidak benar, dan ia tak mau menyalahkan atau meninggalkan Allah. Namun, ia tak ragu mengungkapkan kesedihannya dengan kata-kata paling keras. “Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan” (Ayub 3:3). “Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?” (Ayub 3:11). “Atau mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan, seperti bayi yang tidak melihat terang?” (Ayub 3:16). “Mengapa hidup diberikan kepada laki-laki yang jalannya tersembunyi, yang dikepung Allah?” (Ayub 3:23). Perhatikan bahwa keluh kesah Ayub hampir semuanya dalam bentuk pertanyaan. Penyebab penderitaannya adalah suatu misteri. Bahkan mungkin misteri iman terbesar. Mengapa Allah membiarkan orang yang dikasihi-Nya menderita? Ayub tidak tahu jawabannya, jadi, hal paling jujur yang bisa ia lakukan adalah bertanya.

Sahabat-sahabat Ayub Menuduhnya Melakukan Kejahatan (Ayub 4-23)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sayangnya, sahabat-sahabat Ayub tidak tahan menghadapi misteri penderitaannya, sehingga mereka langsung membuat kesimpulan tentang sebab-musababnya. Yang pertama dari ketiga sahabat Ayub, Elifas, mengakui bahwa Ayub sudah menjadi sumber kekuatan bagi orang lain (Ayub 4:3-4). Namun, kemudian ia berbalik dan dengan terus terang menyalahkan Ayub atas penderitaannya sendiri. “Camkanlah ini,” katanya, “Siapakah yang binasa tanpa bersalah dan di manakah orang yang jujur dibinasakan? Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga” (Ayub 4:7-8). Sahabat Ayub yang kedua, Bildad, mengatakan hal yang sama. “Ketahuilah, Allah tidak menolak orang saleh, dan tidak menguatkan tangan orang yang berbuat jahat” (Ayub 8:20). Sahabat ketiga, Zofar, mengulangi nada yang sama. “Jika engkau menjauhkan kejahatan dalam tanganmu, dan tidak membiarkan kecurangan tinggal dalam kemahmu, maka engkau pasti dapat mengangkat mukamu tanpa cela, engkau akan berdiri teguh dan tidak akan takut.… Kehidupanmu akan menjadi lebih cemerlang daripada siang” (Ayub 11:14-15, 17).

Cara berpikir mereka adalah sebuah silogisme (proses menarik kesimpulan secara deduktif –Pen). Allah hanya mengirim malapetaka kepada orang jahat. Anda menderita malapetaka, maka Anda pasti orang jahat. Ayub sendiri menghindari silogisme yang salah ini. Namun, orang Kristen pada umumnya banyak menerimanya. Paham yang disebut teologi pembalasan ilahi ini menganggap Allah memberkati orang-orang yang setia pada-Nya dan menghukum orang-orang yang berbuat dosa. Paham ini bukan tanpa dukungan Alkitab sama sekali. Ada banyak kasus di mana Allah mengirim malapetaka sebagai hukuman, seperti yang Dia lakukan di Sodom (Kejadian 19:1-29). Seringkali, pengalaman-pengalaman kita benar-benar mendukung paham teologi ini. Dalam banyak situasi, banyak hal menjadi lebih baik ketika kita mengikuti jalan Allah daripada meninggalkannya. Namun, Allah tidak selalu bekerja seperti itu. Yesus sendiri menyatakan bahwa malapetaka belum tentu merupakan tanda hukuman Allah (Lukas 13:4). Dalam kasus Ayub, kita tahu teologi pembalasan ilahi ini tidak benar, karena Allah berkata Ayub adalah seorang yang benar (Ayub 1:8, 2:3). Kesalahan fatal para sahabat Ayub adalah melakukan generalisasi pada situasi Ayub, tanpa memahami apa yang mereka katakan.

Siapa pun yang pernah menemani sahabat yang menderita tentu tahu betapa sulitnya tetap hadir tanpa mencoba memberi jawaban. Sungguh tersiksa menderita diam-diam bersama sahabat yang harus membangun kembali hidupnya sedikit demi sedikit, tanpa kepastian akan hasilnya. Naluri kita biasanya adalah menyelidiki apa yang salah dan mengenali solusinya. Dengan demikian kita berpikir kita dapat menolong sahabat kita menyingkirkan penyebabnya dan kembali ke situasi normal sesegera mungkin. Dengan mengetahui penyebabnya, kita setidaknya juga akan tahu bagaimana menghindari terjadinya hal itu pada diri kita sendiri. Kita lebih memilih memberi alasan atas penderitaan—entah itu benar atau salah—daripada menerima misteri dalam penderitaan.

Sahabat-sahabat Ayub terperosok ke dalam godaan ini. Dan tidaklah benar jika menganggap kita tak pernah melakukan hal yang sama. Berapa banyak kekacauan yang ditimbulkan orang-orang Kristen yang bermaksud baik dengan memberikan jawaban yang terdengar saleh tentang penderitaan, meskipun kita tidak tahu apa yang kita bicarakan? “Ini semua untuk yang terbaik.” “Ini bagian dari rencana Allah.” “Allah tak pernah memberikan kesusahan yang melebihi dari yang dapat mereka tanggung.” Betapa sombongnya membayangkan kita tahu rencana Allah. Betapa bodohnya berpikir kita tahu alasan penderitaan orang lain. Kita bahkan tidak tahu alasan penderitaan kita sendiri. Akan lebih jujur—dan jauh lebih bermanfaat—jika kita mengakui, “Aku tidak tahu mengapa hal ini terjadi padamu. Tak seorang pun harus mengalami hal ini.” Jika kita bisa melakukan hal ini, dan tetap hadir, kita bisa menjadi agen belas kasihan Allah.

Sahabat-sahabat Ayub tidak bisa berkeluh kesah bersama Ayub atau bahkan mengakui bahwa mereka tak punya alasan untuk menghakimi Ayub. Mereka bersikeras (“hell-bent” yang secara harfiah berarti “diberi peran Iblis”) membela Allah dengan menyalahkan Ayub. Ketika “ceramah” para sahabat itu berlanjut, retorika mereka menjadi makin agresif. Dihadapkan pada pilihan yang mereka buat sendiri, untuk menyalahkan Ayub atau menyalahkan Allah, mereka mengeraskan hati untuk menentang sahabatnya. “Kesalahanmu tidak berkesudahan,” kata Elifas (Ayub 22:5), dan ia lalu mengarang-ngarang beberapa kesalahan untuk dituduhkan pada Ayub. “Orang yang kehausan tidak kauberi minum air, dan orang yang kelaparan tidak kauberi makan” (Ayub 22:7), “Janda-janda kausuruh pergi dengan tangan hampa, dan lengan yatim piatu kauremukkan” (Ayub 22:9).

Perkataan terakhir Zofar menyebutkan bahwa orang jahat tidak akan menikmati kekayaannya karena Allah akan membuat perut mereka “memuntahkannya lagi” (Ayub 20:15) dan mereka “harus mengembalikan apa yang diperolehnya tanpa mengecapnya; dan tidak menikmati kekayaan hasil dagangnya” (Ayub 20:18). Ini merupakan pembalasan yang pantas atas kejahatan orang fasik, “karena ia telah menghancurkan orang miskin, dan meninggalkan mereka terlantar; ia merampas rumah yang tidak dibangunnya” (Ayub 20:19). Pembaca tahu hal ini tidak berlaku pada Ayub. Mengapa Zofar begitu getol menyalahkan Ayub? Apakah kita juga kadang begitu bersemangat mengikuti jejak Zofar ketika sahabat kita menghadapi kegagalan dalam pekerjaan dan kehidupan?

Kitab Ayub mengajak kita untuk melihat diri kita sendiri di wajah para sahabat Ayub. Kita juga—mungkin—mengetahui hal yang benar dan yang salah, dan memahami beberapa jalan Allah. Namun, kita tidak memahami seluruh jalan Allah yang berlaku di segala waktu dan tempat. “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya” (Mazmur 139:6). Jalan Allah sering menjadi misteri yang di luar pemahaman kita. Mungkinkah kita juga bersalah atas penilaian-penilaian bodoh terhadap sahabat dan rekan kerja kita?

Namun, yang menuduh kita tidak selalu para sahabat. Tidak seperti Ayub, banyak dari kita yang cukup siap untuk menuduh diri sendiri. Siapa pun yang pernah mengalami kegagalan kemungkinan pernah berpikir, “Apa yang telah kuperbuat sampai aku pantas mengalami hal ini?” Hal itu wajar dan tidak sepenuhnya salah. Terkadang karena kemalasan, data yang salah, atau ketidakcakapan, kita membuat keputusan-keputusan buruk yang menyebabkan kita gagal dalam pekerjaan. Namun, tidak semua kegagalan merupakan akibat langsung dari kelemahan kita sendiri. Banyak juga yang merupakan akibat dari situasi-situasi yang di luar kendali kita. Tempat-tempat kerja itu kompleks, dengan berbagai faktor yang berebut menarik perhatian kita, berbagai situasi yang ambigu, dan berbagai keputusan yang hasilnya tak dapat diprediksi. Bagaimana kita tahu bahwa kita selalu sedang mengikuti jalan Allah? Bagaimana kita atau siapa pun bisa betul-betul tahu bahwa keberhasilan dan kegagalan kita disebabkan oleh tindakan kita sendiri ataukah faktor-faktor yang di luar kendali kita? Bagaimana bisa orang luar menilai kebenaran tindakan kita tanpa mengetahui detail-detail situasi kita secara mendalam? Bahkan, bagaimana mungkin kita juga bisa menilai diri kita sendiri, mengingat keterbatasan pengetahuan kita sendiri?

Sahabat-sahabat Ayub Menuduhnya Meninggalkan Allah (Ayub 8-22)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Akhirnya, sahabat-sahabat Ayub berubah haluan dari mempertanyakan kesalahan apa yang telah dilakukan Ayub menjadi mempertanyakan apakah Ayub telah meninggalkan Allah (Ayub 15:4, 20:5). Sepanjang percakapan itu para sahabatnya mendorong Ayub untuk kembali pada Allah. Bildad mengarahkan Ayub untuk “memohon belas kasihan dari Yang Maha Kuasa” (Ayub 8:5) agar masa depan Ayub “menjadi sangat mulia” (Ayub 8:7) dan dipenuhi “tawa” dan “sorak-sorai” (Ayub 8:21). Elifas menasihati, “Jika engkau bertobat kepada Yang Maha Kuasa, engkau akan dipulihkan” (Ayub 22:23). Sekali lagi, secara umum, ini adalah nasihat yang baik. Kita memang sering berpaling dari Allah dan perlu diingatkan untuk kembali pada-Nya. Namun, kita para pembaca tahu bahwa Ayub tidak melakukan sesuatu yang membuatnya pantas mengalami penderitaan, dan akibat serangan sahabat-sahabatnya membuat Ayub mulai meragukan dirinya sendiri. Pada saat ia membutuhkan sahabat-sahabat yang memercayainya, mereka malah membuatnya tidak percaya pada dirinya sendiri. Bagaimana mereka dapat mendukungnya jika mereka sudah mengambil kesimpulan sendiri tentang dirinya?

Ayub Membela Perkaranya di Hadapan Allah (Ayub 5-13)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sebaliknya, Ayub memiliki hikmat yang tidak dimiliki banyak orang Kristen. Ia tahu bahwa mencurahkan perasaannya kepada Allah lebih baik daripada kepada dirinya sendiri atau orang-orang di sekitarnya. Ia percaya bahwa sumber berkat—dan bahkan kemalangan—adalah Allah, sehingga ia mengarahkan keluh kesahnya kepada Sang Sumber itu. “Namun, aku, aku hendak berbicara dengan Yang Maha Kuasa, aku ingin membela perkaraku di hadapan Allah.… Berapa banyak kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu. Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu?” (Ayub 13:3, 23-24). Ayub mengakui bahwa ia tidak memahami jalan-jalan Allah. “Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan tak terselami, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang jumlahnya” (Ayub 5:9). Ia tahu ia tak pernah bisa menang berdebat dengan Allah. “Jika ia ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali ia tidak dapat menjawab-Nya. Allah itu bijak dan sangat kuat, siapakah dapat bersikeras melawan Dia, dan tetap selamat?” (Ayub 9:3-4). Namun, ia tahu bahwa kesedihannya harus dikeluarkan ke suatu tempat. “Oleh sebab itu aku pun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku” (Ayub 7:11). Lebih baik mengarahkannya kepada Allah, yang dapat mengatasinya dengan mudah, daripada kepada dirinya sendiri atau orang-orang yang ia kasihi, yang tidak dapat menyelesaikannya.

Sahabat-sahabat Ayub Berusaha Membela Allah (Ayub 22-23)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kita semua tahu setan-setan yang mengganggu kita setelah kegagalan. Kita mempertanyakan diri sendiri sepanjang malam-malam penyiksaan diri tanpa bisa tidur. Bahkan rasanya seperti hal yang suci untuk dilakukan—untuk melindungi Allah dengan menyalahkan diri sendiri. Jika kita saja terus mempertanyakan diri sendiri seperti ini, bayangkan bagaimana kita juga terus mempertanyakan sahabat kita, meskipun kita jarang menyadarinya. Sahabat-sahabat Ayub menunjukkan pada kita cara melakukan hal itu. Karena mereka ingin sekali membela Allah dari protes-protes Ayub, mereka meningkatkan serangan mereka kepada Ayub. Namun dari abad ke abad, orang-orang Kristen yang membaca kitab Ayub menganggap para sahabat itu sebagai alat Iblis, bukan Allah. Allah tidak perlu perlindungan. Dia dapat menjaga diri-Nya sendiri. Iblis hanya ingin membuktikan pada Allah bahwa Ayub melayani Allah semata-mata karena Allah memberkatinya dengan sangat melimpah. Pengakuan Ayub bahwa ia telah melakukan kesalahan, meski sebenarnya tidak, akan menjadi tahap pertama untuk memvalidasi serangan si pendakwa.

Contohnya, perkataan terakhir Elifas berfokus menempatkan Allah yang sempurna, yang tak dapat dicela. "Apakah manusia berguna bagi Allah? Tidak, orang yang berakal budi hanya berguna bagi dirinya sendiri” (Ayub 22:2). “Bukankah Allah di langit yang tinggi?” (Ayub 22:12). “Berdamailah dengan Dia supaya engkau tenteram” (Ayub 22:21). “Lalu Yang Maha Kuasa menjadi emasmu dan timbunan perakmu, maka sesungguhnya engkau akan bersenang-senang karena Yang Maha Kuasa, dan akan menengadah kepada Allah. Bila engkau berdoa kepada-Nya, Ia akan mengabulkan doamu” (Ayub 22:25-27).

Namun, Ayub tidak sedang berusaha menyalahkan Allah. Ia sedang berusaha belajar dari Allah. Meskipun Allah mengizinkan penderitaan yang mengerikan itu menimpa Ayub, Ayub percaya bahwa Allah dapat memakai pengalaman itu untuk membentuk jiwanya menjadi lebih baik. “Seandainya Ia menguji aku, aku akan keluar seperti emas,” kata Ayub (Ayub 23:10). “Karena Ia akan menyelesaikan apa yang ditetapkan atasku, dan banyak lagi hal seperti itu ada pada-Nya” (Ayub 23:14). Paul Stevens dan Alvin Ung menunjukkan betapa banyak peristiwa yang membentuk-jiwa yang terjadi di tempat kerja.[1] Kuasa-kuasa kegelapan di dunia yang berdosa ini mengancam melemahkan jiwa kita, tetapi Allah mau jiwa kita muncul seperti emas, yang dimurnikan dan dibentuk menjadi keserupaan tertentu dengan Allah sebagaimana rancangan-Nya untuk setiap kita. Bayangkan seperti apa hidup kita jika kita dapat mengalami pertumbuhan rohani tidak hanya ketika kita berada di gereja, tetapi di sepanjang waktu yang kita jalani di tempat kerja. Untuk ini, kita memerlukan konselor rohani yang bijak dan peka ketika kita menghadapi permasalahan di tempat kerja. Sahabat-sahabat Ayub, yang tanpa pikir panjang hanya mengulangi slogan-slogan rohani konvensional, tidak membantu Ayub dalam hal ini.

Keluhan Ayub Memiliki Arti Khusus bagi Pekerjaan Kita (Ayub 24)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Seperti Ayub, penderitaan kita sering diawali dengan masalah-masalah di tempat kerja. Namun, umat Allah jarang diperlengkapi—atau bahkan bersedia—untuk saling menolong dalam mengatasi kegagalan dan kehilangan di tempat kerja. Kita mungkin datang pada pendeta atau teman Kristen untuk menolong kita mengatasi masalah keluarga atau kesehatan, dan mereka mungkin sangat membantu. Namun, apakah kita akan meminta bantuan mereka untuk mengatasi masalah di tempat kerja? Jika ya, seberapa besar bantuan yang kemungkinan kita peroleh?

Sebagai contoh, bayangkan Anda diperlakukan tidak adil oleh atasan Anda; mungkin Anda dijadikan kambing hitam atas kesalahannya atau dipermalukan dalam suatu perselisihan pendapat yang sah. Tentu tidak tepat jika Anda mengungkapkan perasaan-perasaan Anda kepada pelanggan, pemasok, mahasiswa, pasien, atau orang lain yang Anda layani di tempat kerja. Dan tidak baik juga jika Anda mengeluh kepada rekan-rekan kerja, atau bahkan teman-teman Anda di antara mereka. Jika komunitas Kristen diperlengkapi untuk menolong Anda mengatasi situasi ini, hal itu bisa menjadi berkat yang unik. Namun tidak semua gereja betul-betul diperlengkapi untuk menolong orang mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan pekerjaan. Apakah ini merupakan area yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan gereja-gereja?

Kita sudah melihat bahwa Ayub tidak takut mengungkapkan keluhannya—termasuk keluhan yang berkaitan dengan pekerjaan—kepada Allah. Rangkaian keluhan di Ayub 24:1-12, 22-25 sangat terkait dengan pekerjaan. Ayub mengeluh karena Allah membiarkan orang jahat lolos dengan ketidakadilan dalam pekerjaan dan aktivitas ekonomi. Mereka mengambil sumber daya publik untuk keuntungan pribadi, dan mereka mencuri milik pribadi orang lain (Ayub 24:2). Mereka mengeksploitasi orang lemah dan tak berdaya untuk mendapatkan keuntungan besar-besaran bagi diri mereka sendiri (Ayub 24:3). Orang sombong berhasil dalam pekerjaannya, sedangkan orang jujur dan rendah hati hancur dan terpuruk (Ayub 24:4). Kelompok termiskin tak punya kesempatan untuk mencari nafkah dan terpaksa mengais makanan di padang dan bahkan mencuri dari orang kaya untuk memberi makan keluarganya (Ayub 24:5-8). Orang-orang lainnya bekerja keras, namun tidak memperoleh cukup untuk menikmati hasil kerjanya. “Dengan kelaparan mereka memikul berkas-berkas gandum. Mereka membuat minyak di antara dua petak kebun, mereka menginjak-injak tempat pengirikan sementara mereka kehausan” (Ayub 24:10–11).

Ayub tahu bahwa semua berkat berasal dari Allah, dan semua kemalangan diizinkan—jika bukan disebabkan—oleh Allah. Karena itu, kita dapat merasakan kepedihan yang menyakitkan dalam keluhan Ayub, “Dari dalam kota terdengar rintihan orang-orang yang sekarat dan jeritan orang-orang yang menderita luka, tetapi Allah tidak mengindahkan doa mereka” (Ayub 24:12). Sahabat-sahabatnya menuduh Ayub meninggalkan Allah, padahal faktanya orang benar malah ditinggalkan Allah. Sementara orang jahat tampaknya menikmati hidup yang menyenangkan. “Allah memberinya keamanan yang menjadi sandarannya, dan mengawasi jalan-jalannya” (Ayub 24:23). Ayub percaya bahwa orang jahat pada akhirnya akan binasa. “Hanya sebentar mereka meninggikan diri lalu tidak ada lagi; mereka luruh lalu kisut seperti segala sesuatu, mereka dikerat seperti hulu tangkai gandum” (Ayub 24:24). Namun mengapa Allah membiarkan orang jahat itu hidup makmur?

Tidak ada jawaban dalam kitab Ayub, dan tidak ada jawaban yang diketahui manusia. Kesesakan ekonomi adalah kesengsaraan yang sangat nyata yang dialami banyak orang Kristen selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup. Kita mungkin harus meninggalkan bangku sekolah ketika masih kecil akibat kesulitan keuangan, dan hal itu bisa menghalangi kita mencapai potensi di tempat kerja. Kita mungkin dieksploitasi orang lain atau dijadikan kambing hitam sampai karier kita hancur. Kita mungkin lahir, berjuang untuk tetap hidup, dan mati di bawah kekuasaan pemerintah yang korup yang membuat rakyatnya selalu hidup dalam kemiskinan dan penindasan. Ini baru beberapa contoh yang berkaitan dengan pekerjaan. Dalam sejuta hal lainnya, kita mungkin mengalami persoalan serius, menyedihkan, dan tidak adil, yang bahkan tak dapat kita mengerti—apalagi solusinya—dalam hidup ini. Dengan rahmat Allah, kita berharap tak pernah berpuas diri saat menghadapi ketidakadilan dan penderitaan. Namun ada kalanya kita tidak bisa memperbaiki keadaan, setidaknya dalam waktu dekat. Dalam situasi seperti itu, kita hanya punya tiga pilihan: mencari penjelasan yang masuk akal namun salah tentang bagaimana Allah membiarkan hal itu terjadi seperti yang dilakukan sahabat-sahabat Ayub; meninggalkan Allah; atau tetap setia kepada Allah tanpa menerima jawaban.

Hikmat Disingkapkan (Ayub 28)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Ayub memilih tetap setia pada Allah. Ia tahu bahwa hikmat Allah melampaui pemahamannya. Ayub 28 memakai pertambangan sebagai analogi mencari hikmat. Dikatakan bahwa hikmat “tidak didapati di negeri orang hidup” (Ayub 28:13), tetapi di dalam pikiran Allah. “Allah mengetahui jalan ke sana, Ia juga mengenal tempat kediamannya” (Ayub 28:23). Ayat ini mengingatkan bahwa pengetahuan teknis dan keterampilan praktis kita tidak cukup untuk benar-benar melakukan pekerjaan yang berarti. Kita juga membutuhkan Roh Allah saat mengerjakan tugas-tugas kita. Kita membutuhkan tuntunan Allah jauh melebihi bidang yang biasa kita anggap “rohani.” Ketika seorang guru berusaha memahami cara belajar seorang murid, ketika seorang pemimpin berusaha berkomunikasi dengan jelas, ketika seorang juri berusaha mengetahui maksud terdakwa, ketika seorang analis berusaha menaksir risiko suatu proyek, semuanya memerlukan hikmat Allah. Apapun tujuan pekerjaan kita, “Allah mengetahui jalan ke sana, Ia juga mengenal tempat kediamannya” (Ayub 28:23).

Namun kita tidak selalu bisa terhubung dengan hikmat Allah. “Ia terselubung dari mata segala yang hidup, bahkan tersembunyi bagi burung di udara” (Ayub 28:21). Meskipun kita sudah berusaha sebaik-baiknya—atau kadang karena usaha kita kurang kuat—kita tidak mendapatkan tuntunan Allah dalam setiap tindakan dan keputusan. Jika demikian, lebih baik kita mengakui ketidaktahuan kita daripada menaruh harapan pada spekulasi atau hikmat yang salah. Terkadang kerendahan hati merupakan cara terbaik untuk menghormati Allah. “Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan adalah akal budi." (Ayub 28:28).

Keluh Kesah Ayub Yang Kedua (Ayub 29-42)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sebagaimana disebutkan dalam introduksi, Ayub 29-42 menandakan siklus kedua dari keluh kesah-percakapan-penyingkapan yang merekap siklus pertama. Sebagai contoh, di Ayub 29, kenangan Ayub akan masa lalunya yang baik membawa kita kembali ke adegan bahagia di pasal satu. Di Ayub 30, kesedihan Ayub bahwa ia sekarang banyak menerima penolakan mengingatkan kita pada sikap istrinya yang menjauhkan diri di pasal 2. Keluh kesah Ayub di pasal 30 dan 31 merupakan versi panjang dari keluh kesahnya di pasal 3. Namun, setiap fase di siklus kedua membawa penekanan baru.

Ayub Jatuh ke dalam Nostalgia dan Pembenaran-Diri (Ayub 29-30)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Penekanan baru dalam keluh kesah Ayub yang kedua (Ayub 29-42) adalah nostalgia dan pembenaran diri. Ayub merindukan “hari-hari ketika Allah melindungi aku” (Ayub 29:2) dan “ketika Allah bergaul akrab dengan aku dalam kemahku” (Ayub 29:4). Ia mengenang saat “langkah-langkahku bermandikan dadih, dan gunung batu mengalirkan sungai minyak di dekatku” (Ayub 29:6). Ia ingat betapa dirinya dulu sangat dihormati dalam masyarakat, yang dalam bahasa Perjanjian Lama digambarkan secara dramatis dengan “tempat dudukku di tengah-tengah lapangan” dekat “pintu gerbang kota” (Ayub 29:7). Ayub diterima baik oleh orang tua maupun orang muda (Ayub 29:8), dan diperlakukan dengan sikap hormat yang luar biasa oleh para pemimpin dan pembesar (Ayub 29:10). Ia dihormati karena ia mengurus kebutuhan orang sengsara, anak piatu, janda-janda, orang buta, orang lumpuh, orang miskin, orang asing dan orang yang nyaris binasa (Ayub 29:12-16). Ia adalah pahlawan mereka dalam menghadapi orang fasik (Ayub 29:17).

Nostalgia Ayub memperdalam rasa kehilangannya ketika ia menyadari bahwa kebanyakan dari sikap hormat yang ia terima dalam pekerjaan dan kehidupan bermasyarakat itu ternyata superfisial. “Karena tali busurku telah dilepaskan dan aku direndahkan-Nya, mereka pun tidak mengekang diri di hadapanku” (Ayub 30:11). Dan “sekarang aku menjadi sajak sindiran dan ejekan mereka” (Ayub 30:9). Sebagian orang mengalami rasa kehilangan yang sama akibat memasuki masa pensiun, kemunduran karier, kerugian finansial, atau berbagai jenis kegagalan lain yang dirasakan. Kita bisa mempertanyakan identitas kita dan meragukan keberhargaan diri kita. Orang-orang memperlakukan kita berbeda ketika kita gagal, atau yang lebih buruk lagi, mereka menjauhi kita. (Setidaknya sahabat-sahabat Ayub mau datang menjenguk Ayub). Teman-teman lama berbicara hati-hati jika mereka berada di dekat kita, mengecilkan suara mereka seakan berharap tak ada yang melihat mereka berada di dekat kita. Meraka mungkin berpikir kegagalan itu penyakit yang bisa menular, atau mungkin terlihat berada di dekat orang gagal akan membuat mereka dianggap sebagai orang gagal juga. “Mereka jijik terhadap aku dan menjauhkan diri dariku,” keluh Ayub (Ayub 30:10).

Ini tidak berarti semua persahabatan di masyarakat dan tempat kerja itu dangkal. Memang benar ada orang-orang tertentu yang berteman dengan kita hanya karena kita bermanfaat bagi mereka, dan mereka akan meninggalkan kita ketika kita tidak ada gunanya lagi bagi mereka. Yang sangat menyakitkan adalah kehilangan persahabatan yang tampaknya tulus.

Berbeda dengan keluh kesahnya di bagian pertama (Ayub 3), di bagian kedua ini Ayub banyak melakukan pembenaran diri. “Aku berpakaian kebenaran dan keadilan kukenakan seperti jubah dan serban” (Ayub 29:14). “Aku menjadi bapa bagi orang miskin” (Ayub 29:16). Ayub juga memuji kesucian kehidupan seksualnya yang sempurna (Ayub 31:1, 9-10). Selama ini kita sudah tahu bahwa Ayub tidak dihukum karena suatu kesalahan. Penilaian dirinya sendiri mungkin tepat, tetapi pembenaran dirinya tidak diperlukan dan tak ada gunanya. Kemalangan mungkin tidak selalu menghasilkan sisi terbaik dari diri kita. Namun, Allah tetap setia, meskipun Ayub tidak dapat memahaminya pada saat itu, “karena,” seperti yang kemudian ia katakan, “kebinasaan dari Allah menakutkan aku” (Ayub 31:23).

Praktik-praktik Etis Ayub Berlaku di Tempat Kerja (Ayub 31)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Di tengah keluh kesah Ayub yang kedua (Ayub 29-42), ia menyingkapkan risalah penting tentang perilaku etis, yang dalam beberapa hal mengantisipasi “Khotbah di Bukit” Yesus (Matius 5-7). Meskipun dalam bentuk membenarkan tindakan-tindakannya sendiri, Ayub memberikan beberapa prinsip yang berlaku di berbagai area kehidupan kerja kita:

1. Menjauhi kecurangan dan tipu daya (Ayub 31:5)

2. Tidak membiarkan tujuan menghalalkan segala cara, yang diungkapkan dengan tidak

membiarkan hati (prinsip) menuruti pandangan mata (keuntungan) (Ayub 31:7)

3. Mengamalkan kemurahan hati (Ayub 31:16-23)

4. Tidak menjadi puas diri pada masa kemakmuran (Ayub 31:24-28)

5. Tidak mengupayakan keberhasilan di atas kegagalan orang lain (Ayub 31:29)

6. Mengakui kesalahan (Ayub 31:33)

7. Tidak berusaha mendapatkan sesuatu dengan cuma-cuma, tetapi membayar dengan pantas sumber daya yang diambil/dikonsumsi (Ayub 31:38-40)

Yang sangat menarik adalah bagian tentang bagaimana ia memperlakukan karyawannya:

Jikalau aku mengabaikan hak budakku laki-laki atau perempuan, ketika mereka beperkara dengan aku, apa yang akan kuperbuat, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya? Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim? (Ayub 31:13-15).

Majikan yang saleh akan memperlakukan pekerjanya dengan penuh hormat dan martabat. Hal ini terlihat jelas dari cara Ayub mendengarkan keluhan para pelayannya dengan sungguh-sungguh, terutama yang berkaitan dengan perlakuannya sendiri terhadap mereka. Ayub dengan tepat berkata bahwa orang-orang yang berkuasa akan berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggung jawabkan perlakuan mereka terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaan mereka. “Apa yang akan kuperbuat, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya?” (Ayub 31:14). Allah akan bertanya kepada para bawahan bagaimana perlakuan para atasan mereka kepada mereka. Para atasan sebaiknya mengajukan pertanyaan yang sama kepada para bawahan selagi masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Tanda pengikut Allah yang sejati dan rendah hati adalah terbuka pada kemungkinan berbuat salah, yang paling jelas terlihat dari kesediaan menerima keluhan apa pun yang sah. Hikmat diperlukan untuk membedakan keluhan mana yang benar-benar perlu diperhatikan. Namun, tujuan utamanya adalah menciptakan suasana yang membuat para bawahan tahu bahwa atasan mereka akan mempertimbangkan permohonan yang baik dan rasional. Meskipun Ayub berbicara tentang dirinya sendiri dan para pelayannya, prinsip-prinsipnya berlaku di segala situasi otoritas: perwira dan prajurit, majikan dan pekerja, orangtua dan anak (membesarkan anak juga merupakan pekerjaan), pemimpin dan pengikut.

Zaman kita telah menyaksikan perjuangan-perjuangan besar untuk mencapai kesetaraan di tempat kerja dalam hal ras, agama, suku, jenis kelamin, golongan dan faktor-faktor lainnya. Kitab Ayub sudah mengantisipasi perjuangan-perjuangan ini selama ribuan tahun. Namun, Ayub tidak sekadar memperjuangkan kesetaraan formal dalam hal-hal demografis saja. Ia memandang semua orang di dalam rumahtangganya memiliki kesetaraan martabat. Kita akan seperti Ayub jika kita memperlakukan setiap orang dengan segala hormat dan martabat sebagai anak Allah, terlepas dari perasaan pribadi kita atau pengorbanan yang harus kita lakukan.

Tentu saja, kebenaran ini tidak menghalangi para atasan Kristen untuk menetapkan dan memberlakukan standar-standar yang tinggi di tempat kerja. Namun, yang wajib diperhatikan adalah etika relasi di tempat kerja harus dicirikan dengan rasa hormat dan martabat, terutama di pihak yang berkuasa.

Dialog dengan Elihu (Ayub 32-37)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Di bagian ini, seorang pemuda bernama Elihu memasuki percakapan. Dialognya dengan Ayub sejajar dengan percakapan antara Ayub dan sahabat-sahabatnya di Ayub 4-27. Menurut Elihu, hal yang baru adalah ia terinspirasi untuk berbicara hikmat yang tidak dimiliki sahabat-sahabat Ayub yang lainnya. “Seorang yang pengetahuannya sempurna menghadapi engkau,” katanya (Ayub 36:4). Elihu juga mencela sahabat-sahabat Ayub itu karena mereka tidak dapat mengalahkan Ayub (Ayub 32:5,15). Mengingat kesombongannya, dan mengingat bahwa semakin mantap sahabat-sahabat Ayub berbicara menentang Ayub, semakin tidak akurat tuduhan-tuduhan mereka, kita tidak bisa mengharapkan banyak hikmat dari Elihu. Ia kebanyakan hanya mengulangi argumen-argumen yang sudah dikemukakan sebelumnya. Agendanya sama dengan rekan-rekannya, yaitu pertama-tama meyakinkan Ayub bahwa ia telah melakukan sesuatu yang pantas menerima hukuman ini, dan kemudian mendorong Ayub untuk bertobat agar menerima pemulihan berkat-berkat dari Allah (Ayub 36:10-11). Ia memang memperkenalkan satu prinsip baru terkait pekerjaan, yaitu bahwa menerima suap itu salah (Ayub 36:18). Pernyataan ini benar, yang dibahas lebih dalam di bagian lain Kitab Suci, tetapi diterapkan secara salah sebagai tuduhan yang tidak benar terhadap Ayub.

Allah Muncul (Ayub 38-42:9)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pada siklus pertama kitab ini, perkataan sahabat-sahabat Ayub dihentikan oleh penyingkapan hikmat Allah. Hal yang baru dalam siklus kedua adalah perkataan Elihu diinterupsi oleh kemunculan dramatis Allah sendiri (Ayub 38:1). Akhirnya, Allah memenuhi keinginan Ayub untuk bertemu langsung. Pembaca sudah menunggu untuk melihat apakah Ayub pada akhirnya akan menyerah dan mengutuki Allah. Ternyata Ayub tetap teguh, bahkan ia mendapat pelajaran lebih lanjut tentang betapa tingginya hikmat Allah melampaui pengetahuan manusia.

Siapa yang Dapat Memahami Hikmat Allah? (Ayub 38:4-42:6)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pertanyaan pertama Allah kepada Ayub mendasari sebagian besar percakapan satu-arah mereka, “Di manakah engkau ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian” (Ayub 38:4). Dengan memakai bahasa penciptaan paling spektakuler dalam Alkitab, Allah menyatakan diri-Nya sebagai satu-satunya Pencipta keajaiban dunia. Hal ini sangat beresonansi dengan pekerjaan. Pekerjaan kita mencerminkan penciptaan kita yang segambar dengan Allah, Sang Pencipta Agung (Kejadian 1-2). Namun, di sini Allah berbicara tentang pekerjaan yang hanya Dia yang mampu mengerjakannya. “Siapakah yang memasang batu penjurunya pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai? (Ayub 38:6-7). “Siapa telah membendung laut dengan pintu ketika ia menyembur ke luar dari dalam rahim? (Ayub 38:8). “Oleh pengertianmukah burung elang terbang, mengembangkan sayapnya menuju ke selatan? Atas perintahmukah rajawali terbang membubung, dan membuat sarangnya di tempat yang tinggi?” (Ayub 39:29-30).

Menariknya, di tengah-tengah kedaulatan kuasa Allah atas semesta alam terselip pemahaman mendalam tentang keadaan manusia. Allah bertanya kepada Ayub, “Siapa menaruh hikmat dalam awan-awan atau siapa memberikan pengertian kepada gumpalan mendung?” (Ayub 38:36). Jawabannya, tentu saja, Allah. Hal ini menegaskan pencarian kita akan pengertian dan sekaligus menunjukkan keterbatasannya. Hikmat yang Allah taruh dalam batin kita memungkinkan kita untuk merindukan jawaban tentang misteri penderitaan. Namun, hikmat kita hanya datang dari Allah, sehingga tidaklah mungkin kita “mengatasi” Allah dengan hikmat kita sendiri. Sesungguhnya, Dia hanya menaruh sebagian kecil saja dari hikmat-Nya pada diri kita, sehingga kita tak pernah dapat memiliki kemampuan untuk memahami semua jalan-Nya. Seperti sudah kita bahas, hal yang baik bagi jiwa kita untuk menyampaikan keluh kesah kita terhadap Allah. Namun, hal yang bodoh jika kita mengharapkan Dia berkata, “Ya, sekarang Aku bisa melihat bahwa Aku salah.”

Melanjutkan lebih jauh perjumpaan yang tak setara ini, Allah memberikan tantangan yang mustahil kepada Ayub: “Apakah pengecam hendak berbantah dengan Yang Maha Kuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!” (Ayub 39:35). Mengingat pengakuan Ayub sebelumnya, bahwa “Aku tidak tahu” seringkali merupakan jawaban paling bijak, responsnya yang rendah hati tidak mengejutkan: "Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Kututup mulutku dengan tangan” (Ayub 39:37).

Banyak penafsir berpendapat bahwa Allah sedang memberi Ayub gambaran yang lebih besar tentang keadaannya. Seperti orang yang berdiri terlalu dekat pada lukisan dan tidak dapat mengapresiasi sudut pandang pelukisnya, Ayub perlu mundur beberapa langkah agar ia dapat melihat sekilas—jika tidak dapat memahami sepenuhnya—tujuan Allah yang lebih besar dengan lebih jelas.

Allah melanjutkan dengan serangan frontal atas orang-orang yang menuduh-Nya melakukan kesalahan dalam mengatur ciptaan-Nya. Allah juga tidak mau menerima upaya pembenaran diri Ayub. “Apakah engkau hendak meniadakan pengadilan-Ku, mempersalahkan Aku supaya engkau dapat membenarkan dirimu?” (Ayub 40:3). Upaya Ayub melempar kesalahan mengumandangkan kembali jawaban Adam ketika Allah bertanya apakah ia makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. "Perempuan yang Kauberikan di sisiku, dialah yang memberi buah dari pohon itu kepadaku, dan aku makan” (Kejadian 3:12).

Menyampaikan keluh kesah kita kepada Allah adalah hal yang baik ketika kita memakai kitab Ayub, Mazmur dan Habakuk sebagai model inspiratif tentang datang kepada Allah pada masa sulit. Namun, menuduh Allah demi menutupi kesalahan sendiri adalah puncak kecongkakan (Ayub 40:6-7). Allah menolak tuduhan Ayub karena hal itu. Meskipun demikian, Allah tidak menghukum Ayub karena mengungkapkan keluh-kesahnya kepada Allah. Tuduhan Ayub terhadap Allah salah di luar batas akal, tetapi tidak di luar batas pengampunan.

Ayub dapat berjumpa dengan Allah yang selama ini ia minta. Perjumpaan itu tidak menjawab pertanyaan apakah ia pantas menerima penderitaan yang dialaminya. Ayub sadar bahwa kesalahan ada pada dirinya karena berharap mengetahui jawabannya, bukan pada Allah karena tidak memberikan jawabannya. “Tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang terlalu ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui” (Ayub 42:3). Bisa jadi ia begitu terpesona dengan kehadiran Allah sampai ia tidak memerlukan jawaban lagi.

Jika kita mencari penyebab penderitaan Ayub, kita juga tidak akan menemukannya. Di satu sisi, penderitaan Ayub justru membuatnya semakin dapat menghargai kebaikan Allah. "Aku tahu bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2). Relasi Ayub dengan Allah menjadi semakin dalam, dan karenanya ia juga semakin bijak. Ia semakin menghargai lagi dari sebelumnya bahwa kemakmurannya yang dulu bukanlah karena kekuatan dan kemampuannya sendiri. Namun, perbedaan kesadarannya ini hanya pada kadarnya saja. Apakah peningkatan kadar ini sebanding dengan kehilangannya yang tak terkatakan? Kita tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini dari Ayub maupun dari Allah.

Allah Mencela Sahabat-sahabat Ayub (Ayub 42:7-9)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah mencela ketiga sahabat Ayub yang pernyataan arogannya tentang hikmat yang salah telah sangat menyiksa Ayub. Dengan satu pembalikan yang ironis dan memuaskan, Allah berkata bahwa hanya jika Ayub mendoakan mereka, Dia tidak akan menghukum mereka atas ucapan-ucapan bodoh mereka yang bermaksud membela Allah (Ayub 42:7-8). Mereka, yang secara keliru telah mendesak Ayub untuk bertobat, kini harus bergantung pada Ayub untuk menerima pertobatan mereka, dan bergantung pada Allah untuk memenuhi doa permohonan Ayub bagi mereka. Tindakan Ayub yang mendoakan mereka mengingatkan kita pada pasal pertama ketika Ayub berdoa memohon perlindungan untuk anak-anaknya. Ayub adalah orang yang berdoa, baik atau tidak baik waktunya.

Sebagai bagian dari pemulihan kita dari kegagalan, kita juga sebaiknya mendoakan orang-orang yang telah menyakiti atau meragukan kita pada masa kesesakan. Yesus di kemudian hari juga memanggil kita untuk berdoa bagi musuh-musuh kita (Matius 5:44, Lukas 6:27-36), dan pengajaran ini dalam kedua konteks dianggap lebih dari sekadar terapi. Jika kita bisa berdoa bagi orang yang menganiaya kita, kita bisa melampaui situasi-situasi hidup yang hanya berlangsung singkat, dan mulai menghargai gambaran dari perspektif Allah.

Epilog — Kemakmuran Ayub Dipulihkan (Ayub 42:7-17)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Bagian terakhir kitab Ayub berisi akhir cerita yang memulihkan banyak kekayaan Ayub. Banyak, tetapi tidak semuanya. Ia diberikan dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu (Ayub 42:10), ditambah tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan yang baru (Ayub 42:13). Namun, anak-anaknya yang dahulu sudah tiada untuk selamanya, suatu pertukaran yang buruk menurut perhitungan apa pun. Jadi, meskipun kita membaca bahwa kehidupan Ayub selanjutnya diberkati “lebih dari hidupnya yang dahulu” (Ayub 42:12), kita tahu pasti tetap ada rasa pahit-manis di mulutnya. Kita tahu, setelah kebangkitan Anak Allah, yang tidak diketahui Ayub, Bahwa penebusan final Allah hanya terjadi ketika Kristus datang kembali menggenapi kerajaan-Nya.

Ayub Meninggalkan Warisan untuk Putri-putrinya (Ayub 42:13-15)

Ayub melakukan hal yang menakjubkan setelah penderitaan berat yang dialaminya. Ia meninggalkan warisan untuk anak-anak perempuannya, bersama dengan anak-anak lelakinya (Ayub 42:15). Meninggalkan warisan untuk anak perempuan adalah hal yang belum dikenal di Timur Dekat Kuno, dan ilegal di banyak negara Eropa sampai zaman modern. Apa yang membuat Ayub mengambil tindakan yang belum pernah ada sebelumnya ini? Apakah kesedihannya karena ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk putri-putrinya yang sudah meninggal membuatnya bertekad untuk melakukan apa pun yang ia bisa untuk putri-putrinya yang masih hidup? Apakah kesedihannya menjadi kekuatan yang menggerakkannya untuk menerobos hambatan-hambatan sosial terhadap kesetaraan perempuan dalam hal ini? Apakah penderitaannya membuka hatinya terhadap penderitaan orang lain? Atau apakah kerinduannya yang besar untuk mengenal keadilan allah dijawab dengan pemahaman yang lebih tinggi tentang kasih Allah bagi laki-laki maupun perempuan? Kita tidak bisa mengetahui sebabnya, tetapi kita bisa melihat akibatnya. Jika tidak ada yang lain dalam hidup ini, akibat penderitaan kita bisa menjadi kelepasan bagi orang lain.

Kitab Berakhir (Ayub 42:7-17)

Dengan demikian kita akan meninggalkan kitab Ayub dengan observasi dan pertanyaan, bukan kesimpulan yang rapi. Ayub terbukti setia pada Allah dalam kemakmuran maupun kemalangan. Ini jelas merupakan teladan bagi kita. Namun, penilaian-penilaian menjijikkan yang dikemukakan sahabat-sahabatnya memperingatkan kita agar tidak menerapkan model apapun secara terlalu-yakin pada hidup kita sendiri.

Tuhan terbukti setia pada Ayub. Inilah pengharapan dan penghiburan tertinggi kita. Namun, kita tidak bisa menduga-duga bagaimana kesetiaan-Nya dimanifestasikan dalam hidup kita sebelum janji-janji-Nya digenapi di langit baru dan bumi baru. Sungguh bodoh jika kita menilai orang lain, atau bahkan diri kita sendiri, berdasarkan sedikit bukti yang ada pada kita, hikmat remeh yang dapat kita pahami, dan sudut pandang sempit yang kita miliki. Untuk pertanyaan-pertanyaan tersulit tentang situasi-situasi hidup kita, jawaban yang paling bijak seringkali adalah, “Aku tidak tahu.”

Ayat-ayat dan Tema-tema Pokok Kitab Ayub

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Ayat

Tema

Ayub 1:9-10 - Jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan keluarganya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.”

Jika kesetiaan pada Allah tergantung pada kemakmuran yang Dia berikan pada kita, iman kita pada dasarnya akan dangkal, dan pada tingkat terburuk bisa dipertanyakan.

Ayub 1:20-21 - Ayub pun berdiri, mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, lalu sujud dan menyembah. Ia berkata, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke sana. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Respons paling tepat terhadap kegagalan dalam kehidupan pekerjaan kita adalah mengakui otoritas Allah atas segala masalah kehidupan, entah yang tampaknya baik atau buruk.

Ayub 28:28 - Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan adalah akal budi.

Semua kesuksesan yang berarti dalam ekonomi Allah harus dimulai dengan rasa takut yang sehat akan Tuhan.

Ayub 31:13-15 - “Jikalau aku mengabaikan hak budakku laki-laki atau perempuan, ketika mereka beperkara dengan aku, apa yang akan kuperbuat, kalau Allah bangkit berdiri; kalau Ia mengadakan pengusutan, apakah jawabku kepada-Nya? Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim?”

Memperlakukan karyawan dengan setara karena mereka juga diciptakan segambar dengan Allah akan menciptakan rasa hormat dan martabat dalam relasi itu.

Ayub 38:36 - Siapa menaruh hikmat dalam awan-awan atau siapa memberikan pengertian kepada gumpalan mendung?

Allah adalah Pencipta dan Penopang segala kemampuan kita. Gagal mengakui peran Allah dalam kesuksesan karier kita akan mempersempit perspektif kita dan membawa kita menghadapi pergumulan rohani.