Sahabat-sahabat Ayub Menyalahkan Ayub atas Malapetaka Itu (Ayub 4-23)
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Ayub Membela Perkaranya di Hadapan Allah (Ayub 5-13)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSebaliknya, Ayub memiliki hikmat yang tidak dimiliki banyak orang Kristen. Ia tahu bahwa mencurahkan perasaannya kepada Allah lebih baik daripada kepada dirinya sendiri atau orang-orang di sekitarnya. Ia percaya bahwa sumber berkat—dan bahkan kemalangan—adalah Allah, sehingga ia mengarahkan keluh kesahnya kepada Sang Sumber itu. “Namun, aku, aku hendak berbicara dengan Yang Maha Kuasa, aku ingin membela perkaraku di hadapan Allah.… Berapa banyak kesalahan dan dosaku? Beritahukanlah kepadaku pelanggaran dan dosaku itu. Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu?” (Ayub 13:3, 23-24). Ayub mengakui bahwa ia tidak memahami jalan-jalan Allah. “Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan tak terselami, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang jumlahnya” (Ayub 5:9). Ia tahu ia tak pernah bisa menang berdebat dengan Allah. “Jika ia ingin beperkara dengan Allah satu dari seribu kali ia tidak dapat menjawab-Nya. Allah itu bijak dan sangat kuat, siapakah dapat bersikeras melawan Dia, dan tetap selamat?” (Ayub 9:3-4). Namun, ia tahu bahwa kesedihannya harus dikeluarkan ke suatu tempat. “Oleh sebab itu aku pun tidak akan menahan mulutku, aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku” (Ayub 7:11). Lebih baik mengarahkannya kepada Allah, yang dapat mengatasinya dengan mudah, daripada kepada dirinya sendiri atau orang-orang yang ia kasihi, yang tidak dapat menyelesaikannya.
Sahabat-sahabat Ayub Berusaha Membela Allah (Ayub 22-23)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKita semua tahu setan-setan yang mengganggu kita setelah kegagalan. Kita mempertanyakan diri sendiri sepanjang malam-malam penyiksaan diri tanpa bisa tidur. Bahkan rasanya seperti hal yang suci untuk dilakukan—untuk melindungi Allah dengan menyalahkan diri sendiri. Jika kita saja terus mempertanyakan diri sendiri seperti ini, bayangkan bagaimana kita juga terus mempertanyakan sahabat kita, meskipun kita jarang menyadarinya. Sahabat-sahabat Ayub menunjukkan pada kita cara melakukan hal itu. Karena mereka ingin sekali membela Allah dari protes-protes Ayub, mereka meningkatkan serangan mereka kepada Ayub. Namun dari abad ke abad, orang-orang Kristen yang membaca kitab Ayub menganggap para sahabat itu sebagai alat Iblis, bukan Allah. Allah tidak perlu perlindungan. Dia dapat menjaga diri-Nya sendiri. Iblis hanya ingin membuktikan pada Allah bahwa Ayub melayani Allah semata-mata karena Allah memberkatinya dengan sangat melimpah. Pengakuan Ayub bahwa ia telah melakukan kesalahan, meski sebenarnya tidak, akan menjadi tahap pertama untuk memvalidasi serangan si pendakwa.
Contohnya, perkataan terakhir Elifas berfokus menempatkan Allah yang sempurna, yang tak dapat dicela. "Apakah manusia berguna bagi Allah? Tidak, orang yang berakal budi hanya berguna bagi dirinya sendiri” (Ayub 22:2). “Bukankah Allah di langit yang tinggi?” (Ayub 22:12). “Berdamailah dengan Dia supaya engkau tenteram” (Ayub 22:21). “Lalu Yang Maha Kuasa menjadi emasmu dan timbunan perakmu, maka sesungguhnya engkau akan bersenang-senang karena Yang Maha Kuasa, dan akan menengadah kepada Allah. Bila engkau berdoa kepada-Nya, Ia akan mengabulkan doamu” (Ayub 22:25-27).
Namun, Ayub tidak sedang berusaha menyalahkan Allah. Ia sedang berusaha belajar dari Allah. Meskipun Allah mengizinkan penderitaan yang mengerikan itu menimpa Ayub, Ayub percaya bahwa Allah dapat memakai pengalaman itu untuk membentuk jiwanya menjadi lebih baik. “Seandainya Ia menguji aku, aku akan keluar seperti emas,” kata Ayub (Ayub 23:10). “Karena Ia akan menyelesaikan apa yang ditetapkan atasku, dan banyak lagi hal seperti itu ada pada-Nya” (Ayub 23:14). Paul Stevens dan Alvin Ung menunjukkan betapa banyak peristiwa yang membentuk-jiwa yang terjadi di tempat kerja.[1] Kuasa-kuasa kegelapan di dunia yang berdosa ini mengancam melemahkan jiwa kita, tetapi Allah mau jiwa kita muncul seperti emas, yang dimurnikan dan dibentuk menjadi keserupaan tertentu dengan Allah sebagaimana rancangan-Nya untuk setiap kita. Bayangkan seperti apa hidup kita jika kita dapat mengalami pertumbuhan rohani tidak hanya ketika kita berada di gereja, tetapi di sepanjang waktu yang kita jalani di tempat kerja. Untuk ini, kita memerlukan konselor rohani yang bijak dan peka ketika kita menghadapi permasalahan di tempat kerja. Sahabat-sahabat Ayub, yang tanpa pikir panjang hanya mengulangi slogan-slogan rohani konvensional, tidak membantu Ayub dalam hal ini.
Keluhan Ayub Memiliki Arti Khusus bagi Pekerjaan Kita (Ayub 24)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSeperti Ayub, penderitaan kita sering diawali dengan masalah-masalah di tempat kerja. Namun, umat Allah jarang diperlengkapi—atau bahkan bersedia—untuk saling menolong dalam mengatasi kegagalan dan kehilangan di tempat kerja. Kita mungkin datang pada pendeta atau teman Kristen untuk menolong kita mengatasi masalah keluarga atau kesehatan, dan mereka mungkin sangat membantu. Namun, apakah kita akan meminta bantuan mereka untuk mengatasi masalah di tempat kerja? Jika ya, seberapa besar bantuan yang kemungkinan kita peroleh?
Sebagai contoh, bayangkan Anda diperlakukan tidak adil oleh atasan Anda; mungkin Anda dijadikan kambing hitam atas kesalahannya atau dipermalukan dalam suatu perselisihan pendapat yang sah. Tentu tidak tepat jika Anda mengungkapkan perasaan-perasaan Anda kepada pelanggan, pemasok, mahasiswa, pasien, atau orang lain yang Anda layani di tempat kerja. Dan tidak baik juga jika Anda mengeluh kepada rekan-rekan kerja, atau bahkan teman-teman Anda di antara mereka. Jika komunitas Kristen diperlengkapi untuk menolong Anda mengatasi situasi ini, hal itu bisa menjadi berkat yang unik. Namun tidak semua gereja betul-betul diperlengkapi untuk menolong orang mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan pekerjaan. Apakah ini merupakan area yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan gereja-gereja?
Kita sudah melihat bahwa Ayub tidak takut mengungkapkan keluhannya—termasuk keluhan yang berkaitan dengan pekerjaan—kepada Allah. Rangkaian keluhan di Ayub 24:1-12, 22-25 sangat terkait dengan pekerjaan. Ayub mengeluh karena Allah membiarkan orang jahat lolos dengan ketidakadilan dalam pekerjaan dan aktivitas ekonomi. Mereka mengambil sumber daya publik untuk keuntungan pribadi, dan mereka mencuri milik pribadi orang lain (Ayub 24:2). Mereka mengeksploitasi orang lemah dan tak berdaya untuk mendapatkan keuntungan besar-besaran bagi diri mereka sendiri (Ayub 24:3). Orang sombong berhasil dalam pekerjaannya, sedangkan orang jujur dan rendah hati hancur dan terpuruk (Ayub 24:4). Kelompok termiskin tak punya kesempatan untuk mencari nafkah dan terpaksa mengais makanan di padang dan bahkan mencuri dari orang kaya untuk memberi makan keluarganya (Ayub 24:5-8). Orang-orang lainnya bekerja keras, namun tidak memperoleh cukup untuk menikmati hasil kerjanya. “Dengan kelaparan mereka memikul berkas-berkas gandum. Mereka membuat minyak di antara dua petak kebun, mereka menginjak-injak tempat pengirikan sementara mereka kehausan” (Ayub 24:10–11).
Ayub tahu bahwa semua berkat berasal dari Allah, dan semua kemalangan diizinkan—jika bukan disebabkan—oleh Allah. Karena itu, kita dapat merasakan kepedihan yang menyakitkan dalam keluhan Ayub, “Dari dalam kota terdengar rintihan orang-orang yang sekarat dan jeritan orang-orang yang menderita luka, tetapi Allah tidak mengindahkan doa mereka” (Ayub 24:12). Sahabat-sahabatnya menuduh Ayub meninggalkan Allah, padahal faktanya orang benar malah ditinggalkan Allah. Sementara orang jahat tampaknya menikmati hidup yang menyenangkan. “Allah memberinya keamanan yang menjadi sandarannya, dan mengawasi jalan-jalannya” (Ayub 24:23). Ayub percaya bahwa orang jahat pada akhirnya akan binasa. “Hanya sebentar mereka meninggikan diri lalu tidak ada lagi; mereka luruh lalu kisut seperti segala sesuatu, mereka dikerat seperti hulu tangkai gandum” (Ayub 24:24). Namun mengapa Allah membiarkan orang jahat itu hidup makmur?
Tidak ada jawaban dalam kitab Ayub, dan tidak ada jawaban yang diketahui manusia. Kesesakan ekonomi adalah kesengsaraan yang sangat nyata yang dialami banyak orang Kristen selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup. Kita mungkin harus meninggalkan bangku sekolah ketika masih kecil akibat kesulitan keuangan, dan hal itu bisa menghalangi kita mencapai potensi di tempat kerja. Kita mungkin dieksploitasi orang lain atau dijadikan kambing hitam sampai karier kita hancur. Kita mungkin lahir, berjuang untuk tetap hidup, dan mati di bawah kekuasaan pemerintah yang korup yang membuat rakyatnya selalu hidup dalam kemiskinan dan penindasan. Ini baru beberapa contoh yang berkaitan dengan pekerjaan. Dalam sejuta hal lainnya, kita mungkin mengalami persoalan serius, menyedihkan, dan tidak adil, yang bahkan tak dapat kita mengerti—apalagi solusinya—dalam hidup ini. Dengan rahmat Allah, kita berharap tak pernah berpuas diri saat menghadapi ketidakadilan dan penderitaan. Namun ada kalanya kita tidak bisa memperbaiki keadaan, setidaknya dalam waktu dekat. Dalam situasi seperti itu, kita hanya punya tiga pilihan: mencari penjelasan yang masuk akal namun salah tentang bagaimana Allah membiarkan hal itu terjadi seperti yang dilakukan sahabat-sahabat Ayub; meninggalkan Allah; atau tetap setia kepada Allah tanpa menerima jawaban.