Bootstrap

Perjanjian Allah dengan Nuh (Kejadian 9:1-19)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
City 115741 640

Saat akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki di tanah yang kering dengan awal yang baru, tindakan pertama Nuh adalah membangun altar bagi TUHAN (Kej. 8:20). Di sini ia mempersembahkan korban yang menyenangkan Allah, yang berjanji untuk tidak akan pernah lagi memusnahkan manusia “selama bumi masih ada, tidak akan berhenti musim menabur dan menuai, musim dingin dan panas, musim kemarau dan hujan, siang dan malam” (Kej. 8:22). Allah mengikatkan dirinya dalam sebuah kovenan atau perjanjian dengan Nuh dan keturunannya, berjanji tidak akan pernah lagi menghancurkan bumi dengan banjir (Kej. 9:8-17). Allah memberikan pelangi sebagai tanda perjanjiannya. Meskipun bumi mengalami perubahan yang sangat besar, tujuan Allah untuk pekerjaan manusia tetaplah sama. Dia mengulangi berkat-Nya dan berjanji bahwa Nuh dan anak-anak-Nya akan “beranak cucu, bertambah banyak, dan memenuhi bumi” (Kej. 9:1). Dia mengafirmasi janji-Nya untuk menyediakan makanan melalui pekerjaan mereka (Kej. 9:3). Allah juga menetapkan apa saja yang wajib dipenuhi untuk menghadirkan keadilan di antara manusia dan untuk melindungi segenap makhluk yang ada. (Kej. 9:4-6).

Kata dalam Bahasa Ibrani yang diterjemahkan “pelangi” sebenarnya tidak memiliki makna sesuatu yang muncul sehabis “hujan”. Kata tersebut mengacu hanya kepada sebuah busur—alat untuk berperang dan berburu. Waltke mencatat bahwa di dalam mitologi Timur Dekat, rasi bintang yang berbentuk busur diasosiasikan dengan kemarahan atau murka para dewa, tetapi di sini “busur pahlawan itu digantung dengan arah menjauhi bumi.”[1] Meredith Kline mencermati bahwa “lambang peperangan dan permusuhan telah diubah menjadi sebuah tanda rekonsiliasi antara Allah dan manusia”. [2] Busur itu direntangkan dari bumi ke langit, dari satu ujung ke ujung lainnya. Sebuah alat perang telah menjadi simbol perdamaian melalui kovenan Allah dengan Nuh.