Allah Menciptakan dan Memperlengkapi Manusia untuk Bekerja (Kejadian 1:26-2:25)
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Kekuasaan (Kejadian 1:26; 2:5)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBekerja dalam gambar Allah adalah menguasai sesuatu (Kejadian 1:26)
Salah satu konsekuensi manusia diciptakan menurut gambar Allah yang kita lihat dalam kitab Kejadian adalah manusia itu “berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, atas ternak dan seluruh bumi, serta atas segala binatang yang melata di bumi.”(Kej. 1:26). Ian Hart, seorang penulis, menjelaskan ini. “Menyatakan kuasa Kerajaan atas bumi sebagai perwakilan Allah adalah tujuan dasar Allah menciptakan manusia … Manusia adalah raja yang ditunjuk untuk memerintah ciptaan dan bertanggung jawab kepada Allah, Raja atas segala raja. Sebab itu, manusia diharapkan dapat mengelola, mengembangkan, dan memelihara semesta ciptaan Allah, tugas ini meliputi pekerjaan yang dilakukan secara fisik.[1] Pekerjaan kita dalam gambar Allah dimulai dengan setia menjadi perwakilan Allah di dunia.
Kita menguasai dunia ciptaan Allah dengan menyadari bahwa kita mencerminkan Allah. Kita bukan Allah, melainkan gambar-Nya; kita wajib memakai standarnya Allah, bukan standar kita sendiri. Pekerjaan kita dimaksudkan untuk memenuhi tujuan-tujuan Allah, bukan tujuan kita sendiri, Ini mencegah kita bertindak semena-mena terhadap semua yang telah diletakkan Allah di bawah kendali kita.
Pikirkan tentang implikasi hal ini di tempat kerja kita. Bagaimana Allah akan melakukan pekerjaan kita? Nilai-nilai apa yang akan dibawa Allah dalam pekerjaan ini? Produk apa yang akan dibuat Allah? Orang-orang seperti apa yang akan dilayani-Nya? Organisasi apa yang akan dibangun Allah? Standar-standar apa yang akan dipakai Allah? Sebagai pembawa gambar Allah, bagaimana pekerjaan kita seharusnya menyatakan Allah yang kita wakili? Saat kita menyelesaikan sebuah pekerjaan, apakah hasilnya membuat kita bisa mengatakan,”Terima kasih Tuhan sudah memakai saya untuk mewujudkan semua ini.”?
Allah memperlengkapi manusia untuk menguasai sesuatu (Kejadian 2:5)
Siklus kedua kembali dimulai dengan sesuatu yang butuh dikuasai, meski tidak secara langsung. “…belum ada semak apa pun dibumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebah TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada manusia untuk mengerjakan tanah.” (Kej. 2:5; penekanan ditandai cetak miring). Frasa kunci di sini adalah “Belum ada manusia untuk mengerjakan tanah.” Allah memilih untuk tidak mengakhiri penciptaan semesta sampai Dia menciptakan manusia untuk bekerja bersama (atau di bawah) Dia. Penulis Meredith Kline menggambarkannya demikian: “Pekerjaan Allah menciptakan dunia ini sama seperti seorang raja membuat sebuah peternakan, taman, atau kebun; manusia ditempatkan Allah di dalamnya untuk mengerjakan tanah itu, untuk melayani dan memelihara propertinya tersebut.[1]
Pekerjaan menguasai sesuatu dimulai dengan mengerjakan tanah. Di sini kita melihat bahwa kata “menguasai”[2] dan “berkuasa atas” di pasal pertama, tidak memberi kita izin untuk meyalahgunakan semesta ciptaan-Nya. Sebaliknya. Kita harus bertindak penuh kasih, sama seperti Allah mengasihi ciptaan-Nya. Berkuasa atas bumi termasuk mengembangkan dan melindunginya. Menguasai semua makhluk hidup bukan sebuah lisensi untuk menyalahgunakan, tetapi sebuah kontrak dari Allah untuk memeliharanya. Kita harus memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang bersentuhan hidup dengan kita, para atasan kita, para pelanggan kita, sesama rekan kerja, juga mereka yang bekerja untuk kita, atau mereka yang sesekali kita temui. Ini tidak berarti kita mengizinkan orang memanfaatkan kita, tetapi berarti kita tidak membiarkan kepentingan pribadi, harga diri kita, atau kesombongan pribadi membuat kita memanfaatkan/menginjak-injak sesama manusia. Kisah yang selanjutnya dibukakan kitab Kejadian berbicara secara khusus terkait godaan ini dan konsekuensinya.
Hari ini kita secara khusus menyadari bagaimana pengejaran kepentingan pribadi manusia mengancam alam sekitarnya. Kita diharapkan untuk mengurus dan memelihara taman (Kej.2:15). Semesta diciptakan untuk kita gunakan, tetapi tidak hanya untuk kita. Ingat bahwa udara, air, tanah, flora dan fauna, semuanya diciptakan dengan baik (Kej. 1:4-31). Kita diingatkan untuk mempertahankan dan memelihara lingkungan tersebut. Pekerjaan kita dapat memelihara atau merusak kualitas udara, air, tanah, keragaman hayati, ekosistem, bioma, dan bahkan iklim yang diatur Allah untuk kebaikan semesta ciptaan-Nya. Kekuasaan bukanlah otoritas untuk merusak semesta ciptaan Allah, melainkan kemampuan bekerja untuk kebaikan semesta ciptaan Allah.
Relasi dan Pekerjaan (Kejadian 1:27; 2:18, 21-25)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBekerja menurut gambar Allah berarti bekerja dalam relasi dengan sesama (Kejadian 1:27)
Kitab Kejadian menunjukkan bahwa sebagai konsekuensi diciptakan menurut gambar Allah, pekerjaan kita tidak bisa dipisahkan dari relasi kita dengan Allah dan dengan sesama manusia. Allah adalah pribadi yang relasional (Kej. 1:26). Karenanya, sebagai gambar Allah, sifat tersebut juga melekat dalam diri kita. Bagian kedua dari Kejadian 1:27 menegaskan kembali hal yang sama: manusia diciptakan tidak sendirian, “Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kita ada dalam relasi dengan Sang Pencipta dan dengan sesama ciptaan. Kitab Kejadian menggambarkan hubungan-hubungan ini bukan sebagai konsep yang abstrak semata. Allah dicatat berbicara dan bekerja bersama Adam dalam memberi nama satwa (Kej. 2:19). Allah juga mengunjungi Adam dan Hawa “dalam taman itu pada waktu hari sejuk.” (Kej. 3:8).
Bagaimana realitas ini mempengaruhi kita di tempat kerja? Di atas semuanya, kita dipanggil untuk mengasihi rekan kerja kita, orang-orang di lingkungan kerja kita, serta atasan kita. Allah yang berelasi adalah Allah yang penuh kasih (1 Yoh. 4:7). Mudah saja orang berkata,“Allah mengasihi (-mu)”, tetapi Alkitab lebih dalam menyatakan bahwa “Allah adalah Kasih”. Ada kasih yang mengalir di antara Bapa, Anak (Yoh 17:24), dan Roh Kudus. Kasih yang sama mengalir keluar dari pribadi Allah kepada kita, melakukan hanya yang terbaik untuk kita (inilah kasih agape, kontras dengan kasih manusia yang bisa berubah mengikuti emosi).
Francis Schaeffer mengembangkan pemikiran ini lebih jauh: karena kita diciptakan menurut gambar Allah, dan Allah itu pribadi, kita dapat memiliki hubungan pribadi dengan Allah. Manusia juga bisa mengasihi ciptaan lainnya secara pribadi, berbeda dengan mesin yang tidak bisa demikian. Sebab itulah, kita bertanggung jawab untuk memperhatikan dan memelihara ciptaan lainnya yang Tuhan tempatkan di sekitar kita. Sebagai makhluk yang relasional, manusia memiliki tanggung jawab moral. [1]
Allah Memperlengkapi Manusia untuk Bekerja dalam Relasi dengan Sesama (Kejadian 2:18, 21-25)
Karena kita diciptakan seturut gambar Allah yang relasional, kita pada dasarnya merupakan makhluk yang relasional juga. Kita diciptakan untuk memiliki relasi dengan Allah sendiri dan dengan orang lain. Allah berfirman, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan baginya penolong yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18). Sebelumnya, Allah menyebut semua yang Dia kerjakan itu “baik” atau “sangat baik”. Inilah kali pertama Allah menyatakan sesuatu itu “tidak baik”. Allah lalu menciptakan seorang perempuan dari daging dan tulang Adam sendiri. Saat bertemu dengan Hawa, Adam dipenuhi dengan sukacita. “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej. 2:23). (Setelah peristiwa ini, semua manusia yang baru akan keluar dari “daging” atau tubuh manusia lainnya. Bedanya, sekarang manusia keluar dari tubuh perempuan, bukan laki-laki.) Adam dan Hawa memulai sebuah hubungan yang begitu dekat sehingga “keduanya menjadi satu daging” (Kej. 2:24). Meski terdengar seperti sebuah adegan seksual atau urusan rumah tangga, relasi suami-istri pun adalah sebuah relasi pekerjaan. Hawa diciptakan sebagai “penolong” dan “partner” yang akan bekerja sama dengan Adam di Taman Eden. Kata penolong mengindikasikan bahwa, seperti Adam, Hawa juga akan ikut memelihara taman itu. Menjadi seorang penolong berarti bekerja. Seseorang yang tidak bekerja tidak sedang menolong. Menjadi seorang partner berarti memiliki hubungan kerja dengan orang lain.
Saat Allah menyebut Hawa sebagai seorang “penolong,” Dia tidak mengatakan bahwa Hawa akan menjadi bawahan Adam atau bahwa pekerjaannya akan lebih kurang penting, kurang kreatif, kurang sesuatu dibanding Adam. Kata yang diterjemahkan sebagai “penolong” di sini (ezer dalam Bahasa Ibrani) adalah sebuah kata yang dipakai untuk menyebut pribadi Allah dalam bagian lain Perjanjian Lama. “Allah adalah penolongku [ezer]” (Mzm. 54:6). “TUHAN, jadilah penolongku [ezer]!” (Mzm. 30:11). Jelas bahwa seorang ezer bukan seorang yang lebih rendah. Apalagi, Kejadian 2:18 menggambarkan Hawa tidak hanya sebagai seorang “penolong” tetapi seorang “penolong yang sepadan” alias “partner”. Kata bahasa Inggris yang paling sering dipakai sekarang untuk orang dengan peran “penolong” sekaligus “partner” adalah co-worker, yang berarti rekan sekerja. Makna yang sama sudah ada dalam Kejadian 1:27, “laki-laki dan perempuan, diciptakan-Nya mereka,” keduanya setara, tidak ada yang lebih penting atau dominan. Dominasi perempuan oleh kaum lelaki—atau sebaliknya—tidak selaras dengan rancangan Allah untuk ciptaan-Nya, tetapi merupakan konsekuensi tragis dari kejatuhan manusia dalam dosa (Kej. 3:16).
Relasi adalah sesuatu yang esensial, bukan insidental dalam pekerjaan. Relasi yang dalam dan bermakna dapat terjadi dalam pekerjaan, ketika situasi pekerjaan itu cukup ideal. Yesus menggambarkan relasi kita dengan-Nya sebagai sebuah “pekerjaan”, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kelegaan” (Mat. 11:29). Kuk atau beban adalah sesuatu yang membuat dua ekor kerbau bekerja bersama-sama. Di dalam Kristus, manusia dapat benar-benar bekerja sama sebagaimana yang Tuhan kehendaki saat Dia menciptakan Hawa dan Adam sebagai rekan sekerja. Ketika pikiran dan tubuh kita bekerja selaras dengan sesama dan dengan Allah, jiwa kita pun “mendapat kelegaan”. Saat kita tidak bekerja dengan sesama untuk mencapai tujuan yang sama, jiwa kita menjadi gelisah. Untuk mempelajari tema kuk ini lebih lanjut, lihat pembahasan 2 Korintus 6:14-18 dalam Tafsiran Teologi Kerja.
Salah satu aspek krusial dalam relasi yang dicontohkan oleh Allah sendiri adalah delegasi otoritas. Allah mendelegasikan tugas menamai hewan kepada Adam, dan Adam benar-benar diberi otoritas untuk melakukan tugas itu, “Sama seperti nama yang diberikan manusia itu kepada setiap makhluk hidup, begitulah namanya.” (Kej. 2:19). Delegasi, dalam konteks apa pun, berarti memberikan sebagian dari kuasa dan kewenangan kita, serta mengambil risiko untuk dipengaruhi oleh pekerjaan orang lain. Selama lima puluh tahun terakhir, bidang kepemimpinan dan manajemen paling banyak berkembang dalam hal mendelegasikan otoritas, memperlengkapi pekerja, dan mendorong kerjasama tim. Fondasi dari semua hal ini sebenarnya sudah ada dalam kitab Kejadian, meski orang Kristen jarang memperhatikannya.
Banyak relasi yang erat dan dalam terbangun saat orang bekerja bersama untuk mencapai satu tujuan, entah pekerjaan itu dibayar atau tidak. Hubungan-hubungan yang terjalin dalam pekerjaan memungkinkan terciptanya banyak sekali produk dan layanan yang tidak akan bisa dihasilkan oleh satu individu saja. Tanpa relasi yang intim antara seorang laki-laki dan perempuan, tidak akan ada generasi penerus yang dilahirkan untuk melakukan pekerjaan yang Allah berikan. Pekerjaan kita dan komunitas kita adalah dua karunia Allah yang saling berkaitan erat. Melalui keduanya, kita dapat mewujudkan amanat Allah untuk “beranakcucu dan bertambah banyak” dalam arti yang sesungguhnya.
Produktivitas/Pertumbuhan (Kejadian 1:28; 2:15, 19-20)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBekerja menurut gambar Allah dalam Kejadian 1:28 berarti membuahkan hasil dan membuat hasil itu bertambah banyak (Kejadian 1:28)
Karena kita diciptakan menurut gambar Allah, kita diminta untuk berkreasi, ikut menciptakan atau menghasilkan sesuatu. Ini sering disebut sebagai “mandat penciptaan” atau “mandat budaya”. Allah menciptakan dunia yang sempurna, sebuah platform yang ideal, dan kemudian menciptakan manusia untuk meneruskan proyek penciptaan itu. “Allah memberkati mereka dan berkata kepada mereka, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah. Penuhilah … bumi.” (Kej.1:28a). Allah bisa saja menciptakan segala sesuatu untuk memenuhi bumi tanpa melibatkan siapa pun. Namun, Dia memilih menciptakan manusia untuk bekerja bersama-Nya dalam mengeluarkankan potensi alam semesta. Manusia diajak untuk berpartisipasi dalam pekerjaan Allah sendiri. Sungguh menakjubkan bahwa Allah mempercayai kita untuk mengerjakan tugas luar biasa dalam membangun bumi baik yang telah Dia berikan. Melalui pekerjaan kita, Allah memproduksi makanan dan minuman, produk dan layanan, pengetahuan dan keindahan, organisasi dan komunitas, pertumbuhan dan kesehatan, pujian dan kemuliaan bagi-Nya.
Satu kata tentang keindahan adalah dalam keteraturan. Pekerjaan Allah tidak hanya produktif, tetapi juga “menarik untuk dipandang” (Kej. 3:6). Ini tidak mengherankan, karena manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, pada dasarnya indah dan menyukai keindahan. Sama seperti semua hal baik lainnya, keindahan dapat menjadi berhala, tetapi banyak orang Kristen seringkali terlalu khawatir tentang bahaya keindahan sehingga lupa bahwa keindahan itu penting di mata Allah. Membuat sesuatu yang indah bukanlah sebuah pemborosan atau pekerjaan yang kurang penting, apalagi sia-sia. Keindahan dihasilkan oleh pekerjaan menurut gambar Allah, dan Kerajaan Allah dipenuhi dengan keindahan “sama seperti permata yang paling indah” (Why. 21:11). Banyak komunitas Kristen telah menggubah musik yang indah untuk menceritakan tentang Yesus. Mungkin kita bisa menghargai keindahan sejati dalam berbagai bidang kehidupan dengan cara-cara yang lebih baik lagi.
Satu pertanyaan yang baik untuk kita tanyakan kepada diri sendiri adalah: Apakah kita sedang bekerja dengan lebih produktif dan lebih indah? Sejarah dipenuhi dengan contoh orang-orang yang iman Kristennya membuahkan pencapaian-pencapaian yang mengagumkan. Jika pekerjaan kita saat ini terasa kurang berbuah dibandingkan pekerjaan mereka, kita tidak perlu menghakimi diri sendiri, tetapi terus berharap, berdoa, dan bertumbuh bersama dengan sesama umat Allah. Apa pun penghalang yang tengah kita hadapi—dari dalam atau luar diri kita—dengan pertolongan kuasa Allah, kita dapat melakukan pekerjaan baik jauh lebih banyak daripada yang bisa kita bayangkan.
Allah memperlengkapi manusia untuk membuahkan dan memperbanyak hasil (Kejadian 2:15, 19-20)
"TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di Taman Eden untuk mengerjakan dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15). Kata “mengerjakan” (avad dalam bahasa Ibrani) dan “memelihara” (shamar dalam bahasa Ibrani) juga dipakai untuk menggambarkan ibadah kepada Allah dan kehidupan yang menaati perintah-Nya.[1] Pekerjaan yang dilakukan selaras dengan tujuan Allah sudah pasti ditujukan untuk maksud yang indah dan mulia.
Adam dan Hawa diberikan dua pekerjaan khusus dalam Kejadian 2:15-20, yaitu mengelola taman (pekerjaan fisik) dan memberi nama satwa (pekerjaan intelektual). Dua proyek kreatif yang harus dikerjakan melalui aktivitas yang spesifik, oleh manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Menumbuhkan berbagai hal dan mengembangkan peradaban adalah pekerjaan yang produktif. Kita menciptakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan masyarakat dan meningkatkan hasil bumi. Kita membangun sarana-prasarana untuk memenuhi bumi, dengan tidak melampaui kapasitasnya. Tentunya pekerjaan yang sesuai untuk manusia tidak terbatas hanya mengelola taman dan menamai satwa. Tugas kita sebagai manusia adalah meneruskan pekerjaan kreatif Allah dalam berbagai cara yang hanya dibatasi oleh imajinasi dan ketrampilan yang dikaruniakan-Nya, serta batas-batas yang digariskan Allah. Sampai kapan pun, pekerjaan selalu berakar dalam rancangan Allah untuk kehidupan manusia. Pekerjaan merupakan jalan untuk kita bisa berkontribusi bagi kepentingan banyak orang dan sarana untuk menyediakan kebutuhan kita, keluarga kita, serta orang-orang yang dapat kita berkati dengan kemurahan hati kita.
Salah satu aspek penting (tetapi kadang terabaikan) dari pekerjaan Allah dalam ciptaan-Nya adalah imajinasi yang dapat menciptakan begitu banyak hal, mulai dari kehidupan bawah laut yang eksotis, hingga aneka satwa unik seperti gajah dan badak. Sementara para ahli teologi telah mendaftarkan berbagai sifat Allah yang dikaruniakan kepada kita sebagai ciptaan yang segambar dengan-Nya, salah satu karunia Allah yang bisa kita lihat dengan jelas di sekitar kita, baik di tempat kerja maupun di rumah, adalah imajinasi.
Banyak pekerjaan yang kita lakukan membutuhkan imajinasi. Produksi baut-baut sebuah truk dimulai dengan imajinasi bagaimana truk itu nanti meluncur di jalan raya. Kita membuka dokumen di laptop dan membayangkan cerita yang hendak kita tulis. Mozart membayangkan sebuah sonata dan Beethoven membayangkan sebuah simfoni. Picasso membayangkan situasi kota Guernica sebelum mengambil kuas dan membuat lukisan yang mengagumkan banyak orang. Tesla dan Edison membayangkan bagaimana memanfaatkan listrik, dan kini kita memiliki penerangan di saat gelap serta berbagai jenis peralatan rumah tangga, gadget, dan mesin. Segala sesuatu yang ada di sekitar kita awalnya merupakan imajinasi seseorang di suatu tempat. Kebanyakan pekerjaan yang tersedia saat ini ada karena seseorang membayangkan sebuah produk atau proses yang kemudian menciptakan lapangan kerja,
Namun, imajinasi tidak terwujud begitu saja. Setelah berimajinasi, kita perlu bekerja untuk mewujudnyatakan imajinasi tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, proses berimajinasi dan mewujudnyatakan imajinasi itu saling berkaitan erat. Picasso mengomentari lukisannya Guernica, “Sebuah lukisan tidak selesai saat ide dituangkan di atas kanvas, Dalam proses pembuatannya, lukisan itu bisa berubah saat pemikiran pelukisnya berubah. Saat lukisan itu selesai dibuat, lukisan itu masih bisa terus berubah sesuai pemikiran orang-orang yang melihatnya.”[2] Mewujudnyatakan imajinasi adalah pekerjaan yang jelas membutuhkan kreativitas.
Pemeliharaan (Kejadian 1:29-30; 2:8-14)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBekerja sebagai gambar Allah berarti menerima pemeliharaan Allah (Kejadian 1:29-30)
Karena kita diciptakan menurut gambar Allah, Dia menyediakan kebutuhan-kebutuhan kita. Ini salah satu hal yang menunjukkan bahwa manusia yang diciptakan menurut gambar Allah itu bukanlah Allah. Allah tidak memiliki kebutuhan. Seandainya pun Dia membutuhkan sesuatu, Dia berkuasa memenuhi semua kebutuhan itu. Kita tidak memiliki kuasa yang sama. Sebab itu,
Berfirmanlah Allah, “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuhan yang menghasilkan biji di seluruh muka bumi dan segala pohon yang buahnya berbiji. Semua itu menjadi makananmu. Namun, kepada segala binatang liar, segala burung di udara, dan segala binatang yang melata di bumi, segala binatang yang bernyawa itu, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” (Kej. 1:29-30)
Di satu sisi, mengakui pemeliharaan Allah mengingatkan kita untuk tidak jatuh dalam kesombongan. Tanpa Allah, pekerjaan kita sia-sia. Kita tidak bisa menciptakan kehidupan. Kita bahkan tidak bisa menjamin kelangsungan hidup kita sendiri. Kita membutuhkan Allah untuk selalu menyediakan udara, air, tanah, sinar matahari, dan segala tumbuhan untuk makanan kita. Di sisi lain, mengakui pemeliharaan Allah membuat kita bisa bekerja dengan tenang dan percaya diri. Kita tidak perlu bergantung pada kemampuan kita sendiri atau situasi yang serba tidak pasti untuk memenuhi kebutuhan kita. Allah berkuasa untuk membuat pekerjaan kita membuahkan hasil.
Allah memperlengkapi manusia dengan pemeliharaan kebutuhan mereka (Kejadian 2:8-14)
Siklus kedua dari catatan penciptaan menunjukkan cara Allah menyediakan kebutuhan kita. Dia menyiapkan tanah untuk bisa membuahkan hasil saat manusia menggarapnya. “TUHAN Allah membuat taman di Eden, di timur. Di sanalah Ia menempatkan manusia yang dibentuk-Nya.” (Kej. 2:8).
Meski manusia yang menggarap tanah, yang pertama kali menanam adalah Allah sendiri. Selain memberikan tumbuhan untuk dimakan, Allah juga menciptakan dunia dengan berbagai sumber daya yang dibutuhkan manusia untuk bisa membuahkan dan memperbanyak hasil. Allah memberikan sungai-sungai yang menyediakan air, bijih (pasir, tanah, atau batuan dengan kandungan mineral) yang bisa diolah menjadi barang bernilai ekonomi (Kej. 2:10-14). “Sungai ini mengelilingi seluruh tanah Hawila di mana ada emas. Emas dari negeri itu bagus.” (Kej. 2:11-12). Bahkan ketika kita mensintesa elemen dan molekul baru, saat kita merekayasa DNA organisme atau menciptakan sel buatan, kita bekerja dengan materi dan energi yang Tuhan ciptakan untuk kita.
Allah Menetapkan Batasan-Batasan (Kejadian 2:3; 2:17)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBekerja menurut gambar Allah berarti diberkati dengan batasan-batasan yang Allah tetapkan (Kejadian 2:3)
Karena kita diciptakan menurut gambar Allah, kita harus menaati batasan dalam pekerjaan kita. "Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang dibuat-Nya. (Kej. 2:3). Apakah Allah beristirahat karena Dia kelelahan, atau Dia sedang memberikan kita model siklus kerja dan istirahat sebagai gambar-Nya? Hukum keempat dari Sepuluh Hukum memberitahu kita bahwa Allah mengambil waktu istirahat sebagai contoh untuk kita ikuti.
Ingat dan kuduskanlah hari Sabat. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu. Namun, hari ketujuh adalah hari Sabat bagi TUHAN, Allahmu. Jangan melakukan pekerjaan apa pun, engkau, anakmu laki-laki atau perempuan, hambamu laki-laki atau perempuan, hewanmu, ataupun pendatang di dalam kotamu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut, dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh. Itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. (Kel. 20:8-11)
Sementara umat beragama dari abad ke abad cenderung menumpuk peraturan demi peraturan untuk mendefinisikan apa artinya menguduskan hari Sabat, Yesus dengan jelas menegaskan bahwa Allah mengadakan hari Sabat untuk kebaikan kita manusia (Mrk 2:27). Apa yang dapat kita pelajari dari ini?
Saat kita mengikuti contoh yang Allah berikan, berhenti dari pekerjaan kita pada hari ketujuh, hari apa pun itu, kita mengakui bahwa kehidupan kita tidak didefinisikan hanya oleh pekerjaan atau produktivitas kita. Walter Brueggemann, seorang teolog, mengalimatkannya demikian, “Hari Sabat memperlihatkan kesaksian yang jelas bahwa Allah adalah pusat kehidupan—bahwa apa yang dihasilkan dan dikonsumsi manusia itu ada di dalam sebuah dunia yang teratur, diberkati, dan diberi batasan oleh Allah, Pencipta segalanya."[1] Kita tidak berupaya mengatur segala sesuatu dalam hidup kita, tetapi mernyatakan kebergantungan kita kepada Allah, Pencipta kita. Jika tidak, kita hidup dengan ilusi bahwa kehidupan itu sepenuhnya berada di bawah kendali manusia. Mempraktikkan Sabat atau hari perhentian sebagai bagian yang teratur dalam kehidupan pekerjaan kita menyatakan bahwa Allah utamanya adalah pusat kehidupan kita. (Pembahasan lebih jauh tentang Sabat, istirahat dan kerja dapat ditemukan dalam buku ini di bagian "Mrk 1:21-45," "Mrk 2:23-3:6," "Luk 6:1-11," dan "Luk 13:10-17".)
Allah Memperlengkapi Umat-Nya untuk Bekerja di dalam Batasan-Batasan (Genesis 2:17)
Setelah memberkati manusia dengan memberikan teladan-Nya sendiri untuk memperhatikan ritme bekerja dan beristirahat, Allah memperlengkapi Adam dan Hawa dengan instruksi spesifik tentang batasan pekerjaan mereka. Di tengah taman Eden, Allah menanam dua pohon, pohon kehidupan dan pohon pengetahuan yang baik dan jahat (Kej. 2:9). Ada larangan terkait pohon yang kedua. Allah berfirman kepada Adam, "Buah dari semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas, tetapi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan kaumakan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati.” (Kej. 2:16-17).
Para ahli teologi telah berspekulasi panjang lebar tentang mengapa Allah meletakkan sebuah pohon di Taman Eden yang tidak boleh dimanfaatkan oleh penghuni taman itu. Ada berbagai hipotesis yang bisa ditemukan dalam buku-buku tafsiran, dan kita tidak perlu menentukan jawabannya di sini. Untuk tujuan kita, cukuplah kita mengamati bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Imajinasi dan keterampilan manusia dapat mengelola sumber daya ciptaan Allah dengan cara yang berlawanan dengan kehendak, tujuan, dan perintah Allah. Jika kita ingin bekerja bersama Allah, bukan melawan Allah, kita harus memilih untuk memperhatikan batasan-batasan yang ditetapkan Allah, bukan melakukan semua yang bisa kita lakukan.
Francis Schaeffer menunjukkan bahwa Allah tidak memberikan Adam dan Hawa sebuah pilihan antara pohon yang baik dan pohon yang jahat, tetapi sebuah pilihan untuk mengetahui yang jahat (pengetahuan tentang yang baik sudah jelas mereka miliki). Dalam membuat pohon itu, Allah membuka peluang untuk kejahatan, tetapi itu juga berarti Allah benar-benar memberikan pilihan. Semua hubungan kasih diikat dalam sebuah pilihan, tanpa ruang untuk bisa memilih, kasih menjadi tidak ada artinya.[2] Apakah Adam dan Hawa cukup mengasihi dan mempercayai Allah untuk dapat mengasihi perintah-Nya tentang pohon itu? Allah mengharapkan bahwa orang-orang yang memiliki relasi dengan-Nya memiliki kemampuan untuk menghormati batasan-batasan yang membawa kebaikan dalam dunia ciptaan-Nya.
Dalam dunia kerja sekarang, sebagian batasan terus memberkati kita jika kita memperhatikannya. Kreativitas manusia, misalnya, kebanyakan muncul dari keterbatasan, bukan kesempatan. Para arsitek menemukan inspirasi dari keterbatasan waktu, uang, ruang, materi, dan tujuan yang dikehendaki kliennya. Para pelukis menemukan ekspresi kreatif mereka dengan menerima keterbatasan media yang mereka pilih untuk bekerja, dimulai dari keterbatasan menggambarkan ruang tiga dimensi di atas kanvas dua dimensi. Para penulis mengeluarkan karya-karya hebat ketika mereka harus berhadapan dengan batasan halaman dan jumlah kata yang diperbolehkan.
Semua pekerjaan baik menghormati batasan-batasan Allah. Kapasitas bumi memiliki batas untuk bisa digali sumber dayanya, untuk bisa mengatasi polusi, untuk bisa dirombak demi membangun perumahan. Penggunaan tanaman dan satwa di bumi untuk pangan, sandang, dan tujuan lainnya juga ada batasnya. Tubuh manusia memiliki kekuatan, ketahanan, dan kapasitas bekerja yang besar, tetapi ada batasnya. Mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga pun ada batasnya. Ada batasan yang membuat kita bisa membedakan mana yang indah dan mana yang vulgar, mana sikap yang kritis dan mana yang menyalahgunakan, mana keuntungan yang wajar dan mana ketamakan, mana persahabatan dan mana hubungan yang mengeksploitasi, mana pelayanan dan mana perbudakan, mana kebebasan dan mana sikap tidak bertanggung jawab, mana otoritas dan mana otoriter. Dalam praktiknya, batas-batas ini tidak selalu mudah dikenali, dan harus diakui umat Kristen kerap bersikap tidak tepat dengan berkompromi, mendewakan aturan manusia, berprasangka, atau bersikap dingin dan kaku, untuk menyatakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain. Meski begitu, seni hidup menurut gambar Allah mengharuskan kita untuk belajar mengenali di mana berkat bisa ditemukan, dengan memperhatikan batasan-batasan yang ditetapkan Allah dan nyata terlihat dalam dunia ciptaan-Nya.
Pekerjaan dari “Mandat Budaya” (Kejadian 1:28, 2:15)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKita telah membahas bagaimana Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kej. 1:1-2:3) dan memperlengkapi manusia untuk hidup sesuai dengan gambar-Nya itu (Kej. 2:4-25). Kita telah melihat bagaimana manusia diciptakan Allah untuk menguasai ciptaan lainnya, untuk membuahkan dan memperbanyak hasil, untuk menerima pemeliharaan Allah, untuk bekerja dalam relasi dengan ciptaan lainnya, dan untuk menghormati batasan-batasan yang ditentukan Allah. Kita sering mendengar istilah “mandat ciptaan” atau “mandat budaya”, dikaitkan terutama dengan dua ayat berikut, Kejadian 1:28 dan 2:15,
Allah memberkati mereka dan berfirman kepada mereka, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah. Penuhilah dan taklukkanlah bumi. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan atas segala binatang melata di bumi!” (Kej. 1:28)
TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di Taman Eden untuk mengerjakan dan memelihara taman itu. (Kej. 2:15)
Istilah mana yang hendak dipakai tidak jadi masalah, tetapi gagasan tentang mandat ini jelas ada dalam Kejadian pasal 1 dan 2. Sejak awal, Allah menghendaki manusia menjadi partner junior-Nya untuk menggenapi apa yang sedang Dia kerjakan di dunia ini. Manusia tidak diciptakan untuk berpuas diri dengan apa yang ada, untuk menerima pemenuhan kebutuhan tanpa bekerja, untuk menganggur lama, untuk bekerja keras dalam sistem yang kaku dan tidak kreatif, atau bekerja sendirian terisolasi dari orang lain. Kita diciptakan untuk menjadi rekan kerja Sang Pencipta, bekerja sama dengan orang lain dan dengan Allah, bergantung pada pemeliharaan Allah untuk membuat pekerjaan kita berhasil, serta menghormati batasan-batasan yang Allah berikan dalam firman-Nya dan tunjukkan dalam ciptaan-Nya.