Bootstrap

Allah Menetapkan Batasan-Batasan (Kejadian 2:3; 2:17)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
2565158

Bekerja menurut gambar Allah berarti diberkati dengan batasan-batasan yang Allah tetapkan (Kejadian 2:3)

Karena kita diciptakan menurut gambar Allah, kita harus menaati batasan dalam pekerjaan kita. "Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang dibuat-Nya. (Kej. 2:3). Apakah Allah beristirahat karena Dia kelelahan, atau Dia sedang memberikan kita model siklus kerja dan istirahat sebagai gambar-Nya? Hukum keempat dari Sepuluh Hukum memberitahu kita bahwa Allah mengambil waktu istirahat sebagai contoh untuk kita ikuti.

Ingat dan kuduskanlah hari Sabat. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu. Namun, hari ketujuh adalah hari Sabat bagi TUHAN, Allahmu. Jangan melakukan pekerjaan apa pun, engkau, anakmu laki-laki atau perempuan, hambamu laki-laki atau perempuan, hewanmu, ataupun pendatang di dalam kotamu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut, dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh. Itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. (Kel. 20:8-11)

Sementara umat beragama dari abad ke abad cenderung menumpuk peraturan demi peraturan untuk mendefinisikan apa artinya menguduskan hari Sabat, Yesus dengan jelas menegaskan bahwa Allah mengadakan hari Sabat untuk kebaikan kita manusia (Mrk 2:27). Apa yang dapat kita pelajari dari ini?

Saat kita mengikuti contoh yang Allah berikan, berhenti dari pekerjaan kita pada hari ketujuh, hari apa pun itu, kita mengakui bahwa kehidupan kita tidak didefinisikan hanya oleh pekerjaan atau produktivitas kita. Walter Brueggemann, seorang teolog, mengalimatkannya demikian, “Hari Sabat memperlihatkan kesaksian yang jelas bahwa Allah adalah pusat kehidupan—bahwa apa yang dihasilkan dan dikonsumsi manusia itu ada di dalam sebuah dunia yang teratur, diberkati, dan diberi batasan oleh Allah, Pencipta segalanya."[1] Kita tidak berupaya mengatur segala sesuatu dalam hidup kita, tetapi mernyatakan kebergantungan kita kepada Allah, Pencipta kita. Jika tidak, kita hidup dengan ilusi bahwa kehidupan itu sepenuhnya berada di bawah kendali manusia. Mempraktikkan Sabat atau hari perhentian sebagai bagian yang teratur dalam kehidupan pekerjaan kita menyatakan bahwa Allah utamanya adalah pusat kehidupan kita. (Pembahasan lebih jauh tentang Sabat, istirahat dan kerja dapat ditemukan dalam buku ini di bagian "Mrk 1:21-45," "Mrk 2:23-3:6," "Luk 6:1-11," dan "Luk 13:10-17".)

Allah Memperlengkapi Umat-Nya untuk Bekerja di dalam Batasan-Batasan (Genesis 2:17)

Setelah memberkati manusia dengan memberikan teladan-Nya sendiri untuk memperhatikan ritme bekerja dan beristirahat, Allah memperlengkapi Adam dan Hawa dengan instruksi spesifik tentang batasan pekerjaan mereka. Di tengah taman Eden, Allah menanam dua pohon, pohon kehidupan dan pohon pengetahuan yang baik dan jahat (Kej. 2:9). Ada larangan terkait pohon yang kedua. Allah berfirman kepada Adam, "Buah dari semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas, tetapi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan kaumakan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati.” (Kej. 2:16-17).

Para ahli teologi telah berspekulasi panjang lebar tentang mengapa Allah meletakkan sebuah pohon di Taman Eden yang tidak boleh dimanfaatkan oleh penghuni taman itu. Ada berbagai hipotesis yang bisa ditemukan dalam buku-buku tafsiran, dan kita tidak perlu menentukan jawabannya di sini. Untuk tujuan kita, cukuplah kita mengamati bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Imajinasi dan keterampilan manusia dapat mengelola sumber daya ciptaan Allah dengan cara yang berlawanan dengan kehendak, tujuan, dan perintah Allah. Jika kita ingin bekerja bersama Allah, bukan melawan Allah, kita harus memilih untuk memperhatikan batasan-batasan yang ditetapkan Allah, bukan melakukan semua yang bisa kita lakukan.

Francis Schaeffer menunjukkan bahwa Allah tidak memberikan Adam dan Hawa sebuah pilihan antara pohon yang baik dan pohon yang jahat, tetapi sebuah pilihan untuk mengetahui yang jahat (pengetahuan tentang yang baik sudah jelas mereka miliki). Dalam membuat pohon itu, Allah membuka peluang untuk kejahatan, tetapi itu juga berarti Allah benar-benar memberikan pilihan. Semua hubungan kasih diikat dalam sebuah pilihan, tanpa ruang untuk bisa memilih, kasih menjadi tidak ada artinya.[2] Apakah Adam dan Hawa cukup mengasihi dan mempercayai Allah untuk dapat mengasihi perintah-Nya tentang pohon itu? Allah mengharapkan bahwa orang-orang yang memiliki relasi dengan-Nya memiliki kemampuan untuk menghormati batasan-batasan yang membawa kebaikan dalam dunia ciptaan-Nya.

Dalam dunia kerja sekarang, sebagian batasan terus memberkati kita jika kita memperhatikannya. Kreativitas manusia, misalnya, kebanyakan muncul dari keterbatasan, bukan kesempatan. Para arsitek menemukan inspirasi dari keterbatasan waktu, uang, ruang, materi, dan tujuan yang dikehendaki kliennya. Para pelukis menemukan ekspresi kreatif mereka dengan menerima keterbatasan media yang mereka pilih untuk bekerja, dimulai dari keterbatasan menggambarkan ruang tiga dimensi di atas kanvas dua dimensi. Para penulis mengeluarkan karya-karya hebat ketika mereka harus berhadapan dengan batasan halaman dan jumlah kata yang diperbolehkan.

Semua pekerjaan baik menghormati batasan-batasan Allah. Kapasitas bumi memiliki batas untuk bisa digali sumber dayanya, untuk bisa mengatasi polusi, untuk bisa dirombak demi membangun perumahan. Penggunaan tanaman dan satwa di bumi untuk pangan, sandang, dan tujuan lainnya juga ada batasnya. Tubuh manusia memiliki kekuatan, ketahanan, dan kapasitas bekerja yang besar, tetapi ada batasnya. Mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga pun ada batasnya. Ada batasan yang membuat kita bisa membedakan mana yang indah dan mana yang vulgar, mana sikap yang kritis dan mana yang menyalahgunakan, mana keuntungan yang wajar dan mana ketamakan, mana persahabatan dan mana hubungan yang mengeksploitasi, mana pelayanan dan mana perbudakan, mana kebebasan dan mana sikap tidak bertanggung jawab, mana otoritas dan mana otoriter. Dalam praktiknya, batas-batas ini tidak selalu mudah dikenali, dan harus diakui umat Kristen kerap bersikap tidak tepat dengan berkompromi, mendewakan aturan manusia, berprasangka, atau bersikap dingin dan kaku, untuk menyatakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain. Meski begitu, seni hidup menurut gambar Allah mengharuskan kita untuk belajar mengenali di mana berkat bisa ditemukan, dengan memperhatikan batasan-batasan yang ditetapkan Allah dan nyata terlihat dalam dunia ciptaan-Nya.