Bootstrap

Allah Membatasi Pekerjaan-Nya, Beristirahat pada Hari Ketujuh (Kejadian 2:1-3)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
2301604 620

Pada akhir dari hari keenam, selesailah pekerjaan Allah menciptakan semesta. Ini tidak berarti bahwa Allah berhenti bekerja, karena Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, dan Aku pun bekerja.” (Yoh.5:17). Tidak juga berarti bahwa semesta ini sudah lengkap, karena sebagaimana yang kemudian kita lihat, Allah meninggalkan banyak pekerjaan untuk manusia memelihara dan mengembangkan semesta ciptaan-Nya. Namun, bumi yang tadinya tidak berbentuk telah diubah menjadi lingkungan yang bisa ditinggali, yang mendukung keberadaan tanaman, ikan, burung, binatang, dan manusia.

Allah melihat segala sesuatu yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik. Lalu jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. Demikianlah diselesaikan langit dan bumi serta segala isinya. Pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya. Pada hari ketujuh itu Dia berhenti dari segala pekerjaan yang dibuat-Nya (Kej. 1:31-2:2; penekanan ditandai huruf miring)

Allah memahkotai enam hari pekerjaannya dengan satu hari istirahat. Penciptaan manusia adalah puncak dari pekerjaan kreatif Allah, istirahat pada hari ketujuh adalah puncak dari minggu kreatif Allah. Mengapa Allah beristirahat? Pasal satu menunjukkan keagungan Allah yang menciptakan semesta hanya dengan berfirman. Jelas bahwa Allah tidak sedang kelelahan. Dia tidak membutuhkan istirahat. Namun, Dia memilih untuk membatasi ciptaan-Nya dalam waktu dan juga ruang. Semesta ini ada batasnya. Semesta ini ada awalnya, sebagaimana dicatat kitab Kejadian, yang diteliti oleh ilmu pengetahuan dan dipahami sebagai teori ledakan besar (Big Bang Theory). Semesta ini juga akan berakhir, menurut Alkitab maupun ilmu pengetahuan, tetapi kita tahu bersama bahwa Allah memberikan batasan waktu di dalam dunia ini. Selama waktu itu masih ada, Allah memberkati enam hari untuk bekerja dan satu hari untuk beristirahat. Inilah batasan yang juga diterapkan oleh Allah sendiri, dan kemudian diperintahkan kepada umat-Nya (Kel. 20:8-11).