Bootstrap

Pembunuhan Pertama (Kejadian 4:1-25)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
1543496

Kejadian 4 mendetailkan pembunuhan pertama saat Kain membunuh saudaranya, Habel, karena marah dan cemburu. Kedua kakak beradik itu membawa hasil pekerjaan mereka sebagai persembahan kepada Allah. Kain adalah seorang petani, jadi ia membawa sebagian hasil bumi, tanpa keterangan apakah hasil itu adalah hasil pertama atau hasil terbaiknya (Kej. 4:3). Habel adalah seorang gembala dan ia membawa “anak sulung kambing dombanya”, hewan yang terbaik, “dengan lemaknya” (Kej. 4:4). Meskipun keduanya menghasilkan bahan makanan, keduanya tidak bekerja bersama atau beribadah bersama. Pekerjaan tidak lagi menjadi tempat terjadinya relasi yang baik.

Allah mengindahkan persembahan Habel, tetapi tidak mengindahkan persembahan Kain. Alkitab pertama kali menyebutkan tentang kemarahan pada bagian ini. Allah mengingatkan Kain untuk tidak menyerahkan diri pada dosa, tetapi menguasai kemarahannya dan bekerja untuk hasil yang lebih baik ke depan. “Bukankah wajahmu akan berseri-seri jika engkau berbuat baik?” (Kej. 4:7). Atau dalam terjemahan lain, “Bukankah persembahanmu akan diterima kalau engkau memberikan yang terbaik?” Namun, Kain tidak bisa menguasai kemarahannya dan akhirnya membunuh saudara laki-lakinya (Kej. 4:8; bandingkan dengan 1 Yoh. 3:12; Yud 11). Allah meresponi perbuatannya dengan perkataan berikut:

“Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu berteriak kepada-Ku dari tanah. Sekarang, terkutuklah engkau, terasing dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengerjakan tanah itu, tanah itu tidak akan lagi memberikan hasilnya kepadamu. Engkau akan menjadipelarian dan pengembara di bumi.” (Kej. 4:10-12)

Dosa Adam tidak membuat Allah mengutuk manusia; yang dikutuk adalah tanah tempat mereka bekerja (Kej. 3:17). Dosa Kain mendatangkan kutuk bagi dirinya sendiri (Kej. 4:11). Ia tidak bisa lagi mengerjakan tanah, dan Kain yang tadinya adalah petani, kini menjadi pengembara, sampai akhirnya ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden, tempat ia membangun kota pertama yang disebutkan dalam Alkitab (Kej. 4:16-17). (Lihat Kej. 10-11 untuk pembahasan lebih lanjut tentang kota-kota).

Sisa pasal empat menyebutkan tentang keturunan Kain hingga generasi ketujuh, Lamekh, yang kejahatannya jauh lebih mengerikan daripada kejahatan Kain. Kehidupan Lamekh menunjukkan kepada kita bagaimana dari waktu ke waktu, hati manusia bisa makin keras karena dosa. Awalnya ia melakukan poligami (Kej. 4:19), merusak tujuan Allah dalam pernikahan sebagaimana disebutkan dalam Kejadian 2:24 (bandingkan Mat. 19:5-6). Lalu, dendam membuatnya membunuh orang yang melukainya (Kej. 4:23-24). Namun, pada masa hidup Lamekh juga kita melihat dimulainya pertumbuhan kota. Muncul pekerjaan-pekerjaan yang berfokus pada keahlian tertentu, spesialisasi yang memungkinkan terjadinya sejumlah kemajuan dalam masyarakat. Sebagian anak Lamekh menciptakan alat-alat musik dan membuat perkakas dari tembaga dan besi (Kej. 4:21-22). Kemampuan untuk menciptakan musik, membuat instrumen untuk memainkan musik, dan untuk mengembangkan teknologi pengolahan logam, semua merupakan pekerjaan penciptaan yang memang diberikan Allah saat menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Seni dan pengetahuan adalah penerapan yang seharusnya dari mandat budaya, tetapi apa yang diumbar Lamekh tentang perbuatannya yang jahat menunjukkan bahaya yang menyertai kemajuan teknologi dalam masyarakat yang telah rusak oleh dosa dan penuh kekerasan. Sajak manusia pertama yang dicatat setelah kejatuhan manusia dalam dosa, mengagungkan kesombongan manusia dan penyalahgunaan kekuasaan. Namun, kecapi dan suling dapat ditebus dan dipakai untuk memuji Allah (1 Sam. 16:23), demikian pula perkakas logam dapat dipakai untuk membangun Kemah Suci umat Ibrani (Kel. 35:4-19, 30-35).

Seiring bertambahnya jumlah manusia, mereka pun membentuk kelompok masing-masing. Melalui Set, Adam memiliki harapan untuk benih keturunan yang takut akan Allah, antara lain Henokh dan Nuh. Namun, pada waktu-waktu itu muncul pula sekelompok orang yang menyimpang dari jalan Allah.

Ketika manusia mulai bertambah banyak di muka bumi, dan anak-anak perempuan dilahirkan bagi mereka, anak-anak Allah melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik. Lalu dari antara perempuan-perempuan itu mereka ambil sebagai istri, siapa saja yang mereka sukai … Pada waktu itu dan juga kemudian, ada orang-orang raksasa di bumi ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka. Mereka itulah orang-orang yang gagah perkasa di aman purbakala, orang-orang ternama. TUHAN melihat betapa besarnya kejahatan manusia di bumi, dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata. (Kej. 6:1-5)

Bagaimana keturunan Set yang takut akan Allah—secara khusus Nuh dan keluarganya—bisa hidup di tengah masyarakat yang begitu rusak, hingga Allah sendiri memutuskan untuk memusnahkannya?

Satu isu besar dalam dunia kerja bagi banyak orang Kristen hari ini adalah bagaimana menerapkan prinsip-prinsip yang kita yakini mencerminkan kehendak dan tujuan Allah bagi manusia sebagai pembawa gambar-Nya atau sebagai wakil-Nya. Bagaimana kita dapat berlaku benar ketika berada dalam tekanan situasi yang membuat kita bersikap tidak jujur, tidak setia, dan memberikan pekerjaan berkualitas rendah? Bagaimana kita bisa tetap memberikan yang terbaik ketika mendapatkan gaji yang rendah, mengalami suasana kerja yang tidak menyenangkan, menghadapi eksploitasi terhadap pihak yang rentan, baik itu rekan kerja, pelanggan, pemasok barang, atau komunitas? Kita tahu dari contoh yang diberikan Set—dan banyak tokoh Alkitab lainnya—bahwa ada ruang di dunia ini untuk orang-orang yang mau bekerja menurut rancangan dan mandat Allah.

Saat orang lain mungkin jatuh dalam ketakutan, ketidakpastian, dan keraguan; tidak mampu mengendalikan hasratnya untuk meraih kekuasaan, kekayaan, dan pengakuan manusia, umat Allah dapat tetap setia bekerja secara etis, bertujuan, dan penuh belas kasih, karena kita percaya Allah akan memelihara kita melewati kesulitan besar yang tidak bisa kita lewati tanpa anugerah Allah. Saat orang diperlakukan salah atau dirugikan karena ketamakan, ketidakadilan, kebencian, atau kealpaan, kita dapat berdiri membela mereka, menegakkan keadilan, memulihkan luka-luka dan perpecahan, karena kita memiliki akses kepada kuasa Kristus yang membebaskan. Orang Kristen, dapat melawan dosa yang kita temui di tempat kita bekerja, baik yang muncul dari tindakan orang lain atau di dalam hati kita sendiri. Allah menghentikan proyek Menara Babel karena “Mulai sekarang apa pun yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka” (Kej. 11:6). Ini bukan menggambarkan kemampuan aktual, melainkan kesombongan manusia. Namun, oleh anugerah Allah, kita sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mencapai semua yang telah disediakan Allah bagi kita di dalam Kristus, yang menegaskan bahwa “tidak akan ada yang mustahil bagimu” (Mat. 17:20) dan “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37).

Apakah kita bekerja dengan keyakinan akan kuasa Allah? Ataukah kita mengecilkan janji-janji Allah dengan selalu mengambil jalan pintas untuk mencapai tujuan kita?