Bootstrap

Manusia Jatuh dalam Dosa saat Bekerja (Kejadian 3:1-24)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
1531647

Sampai titik ini, kita telah membahas pekerjaan dalam bentuk idealnya, di bawah kondisi yang sempurna di Taman Eden. Namun kemudian kita sampai pada Kejadian 3:1-6.

Ular adalah yang paling cerdik di antara segala binatang liar yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada Perempuan itu, “Tentulah Allah berfirman: Jangan kamu makan buah dari semua pohon di taman ini, bukan?” Sahut Perempuan itu kepada ular, “Buah dari pohon-pohon di taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah dari pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun sentuh, nanti kamu mati!” Namun, ular berkata kepada Perempuan itu, “Sekali-kali kamu tidak akan mati. Sebaliknya, Allah mengetahui bahwa pada saat kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan menarik untuk dipandang. Lagi pula, pohon itu diminati karena memberi pengertian. Lalu ia memetik buahnya dan memakannya. Ia memberikannya juga kepada suaminya yang bersamanya, dan suaminya pun memakannya.

Ular melambangkan anti-Allah, musuhnya Allah. Ahli teologi, Bruce Waltke mencatat bahwa musuh Allah itu licik dan lebih bijak daripada manusia. Dengan cerdik ia membelokkan perintah Allah dan mengarahkan Adam dan Hawa kepada kelemahan mereka. Ia mengecoh Hawa dengan diskusi teologis yang tampaknya tulus, tetapi sebenarnya menggiring Hawa untuk berfokus pada larangan Allah semata dan abai dengan begitu banyak pohon buah-buahan lainnya yang disediakan Allah untuk mereka di taman itu. Pada intinya, ia mau firman Allah terdengar kejam dan penuh larangan.

Rencana si ular berhasil. Pertama-tama Hawa, lalu Adam, makan buah dari pohon terlarang itu. Mereka melanggar batasan yang telah Allah tetapkan untuk mereka. Mereka sudah diciptakan sesuai dengan gambar Allah (Kej. 3:5), tetapi masih melakukan upaya sia-sia untuk menjadi “seperti Allah” dengan cara-cara yang melampaui kodrat mereka. Pengetahuan tentang yang baik sudah mereka miliki dengan mengalami kebaikan dunia ciptaan Allah, tetapi mereka memilih untuk mendapatkan “pengertian” dalam jalan-jalan kejahatan (Kej. 3:4-6). Keputusan Hawa dan Adam untuk makan buah itu adalah pilihan yang mewakili apa yang menurut mereka menyelesaikan masalah, indah, dan menarik hati dibanding firman Allah. “Baik” tidak lagi berakar dalam perkataan Allah yang membawa kehidupan, tetapi dalam pemikiran yang menurut manusia dapat meningkatkan kehidupan. Singkatnya, mereka mengubah apa yang baik menjadi jahat.[1]

Dengan memilih untuk tidak menaati Allah, mereka merusak hubungan yang mendasar dalam keberadaan diri mereka. Pertama, hubungan di antara laki-laki dan perempuan,—"tulang dari tulangku dan daging dari dagingku,” yang sebelumnya begitu erat (Kej. 2:23)—kini terpisah ketika mereka saling menutup diri dengan cawat daun pohon ara (Kej. 3:7). Selanjutnya adalah hubungan mereka dengan Allah, karena bukannya bercakap-cakap dengan-Nya di taman pada waktu hari sejuk, mereka malah menyembunyikan diri dari hadapan Allah di antara pepohonan (Kej. 3:8). Adam memperparah kerusakan hubungan itu dengan menyalahkan Hawa atas keputusannya memakan buah itu dan pada saat yang sama ia menyalahkan Allah, “Perempuan yang Kauberikan di sisiku, dialah yang memberi buah dari pohon itu kepadaku, dan aku makan.” (Kej. 3:12). Hawa juga merusak hubungan manusia dengan ciptaan lainnya ketika ia menyalahkan ular atas keputusan yang ia ambil sendiri (Kej. 3:13).

Keputusan Adam dan Hawa hari itu mendatangkan akibat mengerikan yang dampaknya ada hingga ke dunia kerja modern. Allah menghukum mereka atas dosa mereka dan menyatakan kesulitan yang harus mereka tanggung sebagai konsekuensi dosa. Ular dikutuk untuk berjalan dengan perutnya seumur hidup (Kej. 3:14). Perempuan akan mengalami susah payah saat melahirkan anak serta konflik batin dalam hasratnya kepada laki-laki (Kej. 3:16). Sang laki-laki harus bersusah payah mencari makan dari tanah seumur hidup, dan tanah akan menghasilkan “semak duri dan rumput duri” baginya, bukan tanaman yang bisa ia makan. (Kej. 3:17-18). Kita melihat bahwa di atas semuanya, manusia akan tetap melakukan pekerjaan yang dipersiapkan bagi mereka, dan Allah masih memelihara kebutuhan mereka (Kej. 3:17-19). Namun, pekerjaan akan menjadi makin sulit, tidak menyenangkan, mudah gagal dan mendapatkan hasil yang tidak diharapkan.

Penting untuk mencatat bahwa pekerjaan tidak diciptakan sebagai suatu kesusahan pada awalnya. Sebagian orang berpikir bahwa pekerjaan baru dimulai saat manusia dikutuk Allah, tetapi Adam dan Hawa telah bekerja di taman sebelum mereka jatuh dalam dosa. Pekerjaan bukan akibat sebuah kutukan, tetapi kutukan itu mempengaruhi pekerjaan. Bahkan, pekerjaan menjadi makin penting sebagai akibat kejatuhan manusia dalam dosa, bukan sebaliknya, karena kini dibutuhkan kerja yang lebih banyak untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Lebih jauh lagi, materi yang dipakai Allah membentuk Adam dan Hawa dalam kebebasan dan kesenangan-Nya, kini menjadi sumber yang mengendalikan mereka. Adam, dibentuk dari debu tanah, kini akan bersusah payah mencari makan dari tanah sampai tubuhnya kembali menjadi debu tanah di hari kematiannya (Kej. 3:19); Hawa, diciptakan dari tulang rusuk Adam, kini berada di bawah dominasinya, bukan direngkuh di sisinya (Kej. 3:16). Dominasi dari satu orang atas orang lainnya dalam pernikahan dan pekerjaan bukanlah bagian dari rencana Allah yang semula, tetapi orang berdosa menjadikan dominasi itu sebagai satu cara yang baru dalam berhubungan satu dengan yang lain ketika mereka merusak hubungan yang sudah diberikan Allah (Kej. 3:12-13).

Dua wujud kejahatan menghadang kita setiap hari. Yang pertama adalah kejahatan yang natural, kondisi fisik di bumi yang tidak bersahabat dengan kehidupan yang Allah kehendaki bagi kita. Banjir dan kekeringan, gempa bumi, tsunami, suhu yang ekstrem panas atau ekstrem dingin, sakit-penyakit, serangan hama tanaman, dan banyak lagi penyebab kerusakan yang tadinya tidak ada di taman.Yang kedua adalah kejahatan moral, ketika orang bertindak dengan kehendak hati yang memusuhi rencana Allah. Dengan bertindak dalam jalan kejahatan, kita merusak dunia ciptaan dan membuat jarak dengan Allah. Kita juga menodai hubungan kita dengan orang lain.

Kita tinggal di dalam sebuah dunia yang sudah jatuh dalam dosa, sudah rusak, dan kita tidak bisa mengharapkan hidup yang tanpa susah payah. Kita diciptakan untuk bekerja, tetapi dalam dunia yang berdosa, pekerjaan kita telah dinodai oleh semua yang dirusak hari itu di Taman Eden. Kesusahan juga kerap datang akibat tidak dihormatinya batasan-batasan yang sudah Allah tetapkan untuk hubungan kita, baik itu hubungan pribadi, di tempat kerja, atau di tengah masyarakat. Dosa menciptakan keterasingan antara manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, serta manusia dengan bumi yang menopang kehidupan mereka. Kecurigaan antar manusia menggantikan rasa percaya dan kasih. Dalam generasi berikutnya, keterasingan menyuburkan rasa cemburu, amarah, dan bahkan menyebabkan pembunuhan. Keterasingan antar manusia bisa ditemukan di semua tempat kerja dengan level yang berbeda-beda, dan ini membuat pekerjaan terasa makin sulit dan kurang produktif.