Kejadian 12-50 dan Pekerjaan
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Pengantar untuk Kejadian 12-50 dan Pekerjaan
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKejadian pasal 12 sampai 50 menceritakan tentang kehidupan dan pekerjaan dari Abraham, Sara, dan keturunan mereka. Allah memanggil Abraham, Sara, dan keluarga mereka keluar dari kampung halaman menuju negeri baru yang akan ditunjukkan Allah kepada mereka. Dalam perjalanan itu, Allah berjanji untuk membuat mereka menjadi bangsa yang besar: “…olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Sebagai keturunan rohani Abraham yang menerima berkat melalui keluarga ini dan yang dibawa kepada iman melalui keturunan mereka, Yesus Kristus, kita dipanggil untuk mengikuti jejak iman dari leluhur semua orang percaya ini (Rom. 4:11; Gal. 3:7, 29).
Kisah keluarga Abraham dan Sara bercerita banyak tentang pekerjaan. Apa yang mereka kerjakan mewakili hampir semua pekerjaan orang-orang seminomadik di Timur Dekat kuno. Dalam tiap aspek pekerjaan itu mereka menghadapi pertanyaan krusial tentang bagaimana hidup dan bekerja dengan menaati kovenan atau perjanjian Allah. Mereka bergumul untuk mencukupi kebutuhan hidup, untuk menghadapi setiap dinamika dalam masyarakat, untuk membesarkan anak dengan aman, dan untuk tetap setia kepada Allah di tengah dunia yang sudah rusak, sama seperti pergumulan kita di hari-hari ini. Mereka menemukan bahwa Allah itu setia kepada janji-Nya untuk memberkati mereka dalam segala situasi, meskipun berulang kali mereka menunjukkan sikap yang tidak beriman.
Namun, kovenan yang dibuat Allah tidak hanya bertujuan memberkati keluarga Abraham di tengah dunia yang kejam. Allah hendak memberkati seluruh dunia melalui orang-orang yang dipilih-Nya. Sebuah tugas yang melampaui kemampuan keluarga Abraham, yang berulang kali jatuh ke dalam dosa kesombongan, keegoisan, kenekatan bodoh, amarah, dan segala macam kebiasaan buruk yang kerap menjerat manusia. Sama seperti kita. Namun, oleh anugerah Allah, mereka masih memiliki setitik kesetiaan pada kovenan, dan Allah bekerja melalui pekerjaan orang-orang ini, yang penuh dengan cela, untuk membawa berkat yang tak terbayangkan kepada dunia. Demikian pula pekerjaan kita membawa berkat bagi orang-orang di sekitar kita, karena melaluinya, kita berpartisipasi dalam pekerjaan Allah di dunia.
Saat dibaca dari awal hingga akhir, jelas bahwa kitab Kejadian adalah satu narasi utuh, tetapi dapat dibagi menjadi dua bagian yang punya keunikan masing-masing. Bagian pertama (Kej. 1-11) bertutur tentang penciptaan dunia oleh Allah, lalu menggambarkan perkembangan umat manusia yang diawali oleh sepasang manusia pertama di Taman Eden hingga ketiga putra Nuh dan keluarga mereka yang kemudian tersebar ke seluruh dunia. Bagian ini ditutup dengan catatan yang agak suram tentang bagaimana manusia dari seluruh dunia berkumpul membangun sebuah kota untuk memasyhurkan nama mereka sendiri, hingga Allah menghukum mereka dengan kegagalan, kekacauan, dan perpecahan. Bagian yang kedua (Kej. 12-50) dibuka dengan panggilan Allah kepada satu manusia pilihan, yaitu Abraham.[1] Allah memanggil Abraham untuk meninggalkan kampung halaman dan keluarganya, memulai suatu kehidupan baru di negeri yang baru, dan Abraham menaati panggilan tersebut. Selanjutnya, kitab ini menceritakan kehidupan Abraham dan tiga generasi keturunannya yang mulai mengalami pemenuhan dari janji Ilahi yang dinyatakan kepada ayah mereka, Abraham.
Kesetiaan Abraham dan ketidaksetiaan Babel (Kejadian 12:1-3)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKejadian 12 diawali dengan sebuah kovenan, perjanjian khusus Allah yang memanggil Abraham untuk melayani-Nya dengan setia. Dengan meninggalkan wilayah tempat tinggal keluarga besarnya yang tidak beriman kepada Allah dan mengikuti panggilan Allah, Abraham membedakan dirinya secara tegas dari kaum kerabatnya yang tinggal di Mesopotamia dan pernah berupaya membangun Menara Babel, sebagaimana diceritakan di akhir Kejadian 11. Perbandingan antara keluarga Abraham di pasal 12 dengan keturunan Nuh lainnya di pasal 11 menyoroti lima perbedaan.
Pertama, Abraham menaruh imannya di dalam tuntunan Allah, bukan pada sarana yang dibangun manusia. Sebaliknya, para pembangun menara Babel percaya bahwa dengan keterampilan dan kecerdasan mereka sendiri, mereka dapat membangun sebuah menara yang “puncaknya sampai ke langit.” (Kej. 11:4). Mereka hendak mencari pengakuan dan rasa aman dengan cara yang mengambil alih otoritas Allah. [1]
Kedua, para pembangun menara berusaha memashyurkan nama mereka sendiri (Kej. 11:4), tetapi Abraham mempercayai janji Allah bahwa Allah sendiri yang akan membuat nama Abraham masyhur (Kej. 12:2). Perbedaannya bukan pada keinginan untuk meraih kemashyuran itu sendiri, melainkan pada keinginan mencari kemashyuran menurut standar manusia. Allah benar-benar membuat nama Abraham masyhur, bukan untuk kepentingan Abraham, tetapi supaya “semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Para pembangun menara berusaha memashyurkan nama mereka sendiri, tetapi sampai hari ini nama mereka tidak pernah dikenal.
Ketiga, Abraham bersedia pergi ke mana pun Allah memimpinnya, sementara para pembangun menara berupaya berkumpul di tempat yang mereka anggap nyaman. Mereka membuat proyek pembangunan menara itu karena mereka takut terserak ke seluruh bumi (Kej. 11:4). Dengan bersikap demikian, mereka menolak tujuan Allah yang menghendaki umat manusia “memenuhi bumi” (Kej. 1:28). Mereka sepertinya takut menghadapi kesulitan jika mereka sampai terserak di dunia yang jelas tidak bersahabat. Mereka kreatif dan teknologi mereka berkembang (Kej. 11:3), tetapi mereka tidak bersedia menerima tujuan Allah sepenuhnya untuk mereka “beranak cucu dan bertambah banyak” (Kej. 1:28). Ketakutan mereka untuk mengelola ciptaan sepenuhnya bertemu dengan keputusan mereka mengandalkan kecerdasan manusia menggantikan tuntunan dan anugerah Allah. Saat kita berhenti mengejar tujuan yang melampaui kemampuan kita, maka aspirasi kita menjadi tidak berarti.
Sebagai kontras, Allah membuat Abraham menjadi seorang pengusaha sejati, selalu bergerak memulai usaha yang baru di lokasi yang baru. Allah memanggilnya keluar dari kota Haran menuju tanah Kanaan, dan Abraham tidak pernah diam lama di satu tempat. Ia dikenal sebagai seorang “pengembara Aram” (Ul. 26:5). Secara alami, Abraham dibentuk untuk hidup berpusat kepada Allah, karena ia harus bergantung pada perkataan dan pimpinan Allah untuk dapat menemukan makna, merasa aman, dan berhasil. Ibrani 11:8, menulis tentang bagaimana Abraham harus “berangkat tanpa mengetahui tempat yang ditujunya.” Dalam dunia kerja, orang percaya harus memahami perbedaan antara kedua orientasi dasar ini. Semua pekerjaan meliputi proses perencanaan dan pembangunan. Pekerjaan yang tidak berorientasi kepada Allah berangkat dari keinginan untuk mandiri, tidak bergantung pada pihak lain dan membatasi diri untuk sekadar menguntungkan diri sendiri serta orang-orang dekat kita. Pekerjaan yang berorientasi kepada Allah berangkat dari kesediaan untuk bergantung pada pimpinan dan otoritas Allah, serta memiliki hasrat untuk tumbuh besar menjadi berkat untuk dunia.
Keempat, Abraham bersedia mengikuti tuntunan Allah ke dalam hubungan-hubungan yang baru. Sementara para pembangun menara berusaha memagari diri mereka di dalam benteng yang dijaga, Abraham mempercayai janji Allah bahwa keluarganya akan menjadi sebuah bangsa yang besar (Kej. 12:2; 15:5). Meski mereka tinggal di antara orang-orang asing di tanah Kanaan (Kej. 17:8), mereka memiliki hubungan yang baik dengan semua orang yang berinteraksi dengan mereka (Kej. 21:22-34; 23:1-12). Inilah anugerah komunitas. Satu tema kunci muncul dalam teologi kerja di sini: Allah merancang agar manusia bekerja dalam jejaring relasi yang sehat.
Pada akhirnya, Abraham diberkati dengan kesabaran untuk melihat jauh ke depan. Janji Allah akan digenapi pada zaman keturunan Abraham, bukan pada zaman Abraham sendiri. Rasul Paulus menafsirkan “keturunan” di sini adalah Yesus (Gal. 3:19), berarti bahwa penggenapan janji itu adalah lebih dari seribu tahun di masa depan. Bahkan, janji kepada Abraham baru benar-benar akan dipenuhi secara sempurna saat kedatangan Yesus Kristus kembali (Mat. 24:30-31). Pemenuhan janji ini tidak bisa hanya diukur dengan laporan per kuartal! Para pembangun menara, sebagai perbandingan, tidak memikirkan bagaimana proyek mereka akan berdampak kepada generasi berikutnya, dan Allah mengkritik mereka secara terbuka untuk sikap mereka yang keliru (Kej. 11:6).
Ringkasnya, Allah menjanjikan kemasyhuran, keberhasilan, dan relasi yang baik, semua yang dibutuhkan untuk Abraham dan keluarganya bisa memberkati seluruh dunia, juga berkat-berkat tak terbayangkan bagi mereka sendiri pada waktu yang tepat (Kej. 22:17). Abraham menyadari bahwa upaya untuk meraih semua itu dengan kekuatannya sendiri akan sia-sia. Sebaliknya, ia mempercayai Allah dan bergantung setiap hari pada tuntunan dan pemeliharaan-Nya (Kej. 22:8-14). Meski tidak semuanya digenapi di akhir kitab Kejadian, perjanjian antara Allah dan umat-Nya telah dimulai, dan melaluinya penebusan dunia akan digenapi pada hari Kristus (Flp. 1:10).
Allah menjanjikan tanah yang baru kepada keluarga Abraham. Mendayagunakan tanah itu membutuhkan berbagai jenis pekerjaan, jadi hadiah berupa sebuah tanah menegaskan bahwa pekerjaan merupakan sesuatu yang penting dan diperhatikan Allah secara khusus. Mengerjakan tanah itu membutuhkan berbagai ketrampilan kerja seperti kemampuan menggembalakan, membuat tenda, menggunakan senjata untuk melindungi diri, dan memproduksi berbagai macam barang dan jasa. Selain itu, keturunan Abraham akan menjadi sebuah bangsa yang besar, yang jumlahnya tidak terhitung seperti banyaknya bintang di langit. Peningkatan populasi ini membutuhkan pekerjaan membangun relasi antar individu, mengasuh anak, politik, diplomasi dan administrasi, pendidikan, seni menyembuhkan, dan berbagai pekerjaan sosial lainnya. Untuk membawa berkat yang demikian besar kepada seluruh bumi, Allah memanggil Abraham dan keturunannya “hidup di hadapan-Ku dengan tidak bercela.” (Kej. 17:1). Ini membutuhkan pekerjaan menyelenggarakan ibadah, mempersembahkan korban pendamaian, pembinaan, dan berbagai pekerjaan rohani lainnya. Pekerjaan Yusuf adalah untuk menciptakan solusi atas dampak kelaparan, dan adakalanya pekerjaan kita adalah untuk menyembuhkan apa yang rusak di dunia ini. Semua jenis pekerjaan tersebut, dan semua pekerja yang terlibat di dalamnya, melakukannya di bawah otoritas, tuntunan, dan pemeliharaan Allah.
Gaya Hidup Abraham dan Keluarganya sebagai Penggembala (Kejadian 12:4-7)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSaat Abraham meninggalkan rumahnya di Haran dan berangkat ke tanah Kanaan, keluarganya mungkin sudah cukup besar untuk ukuran dunia modern. Kita tahu bahwa istrinya Sara dan keponakannya Lot ikut bersamanya, demikian juga sejumlah besar orang dan harta miliknya (Kej. 12:5). Kekayaannya terus bertambah dalam perjalanan, baik jumlah pelayannya, ternak, maupun perak dan emas (Kej. 12:16; 13:2). Para pelayan dan ternak diterimanya dari Firaun saat tinggal di Mesir, sedangkan logam-logam mulia mungkin adalah hasil transaksi perdagangannya─semua menunjukkan bahwa Allah memberkati Abraham.[1] Bukti kesuksesan Abraham dan Lot dapat dilihat saat terjadi pertengkaran antara para gembala mereka terkait lahan yang sudah tidak cukup lagi sebagai tempat merumput dari sedemikian banyak hewan ternak milik mereka. Kedua keluarga itu akhirnya harus berpisah agar bisnis mereka masing-masing bisa berlanjut (Kej. 13:11).
Studi antropologi tentang zaman dan daerah ini mengindikasikan bahwa kedua keluarga dalam narasi ini menjalankan usaha penggembalaan semi nomaden sekaligus bisnis peternakan (Kej. 13:5-12; 21:25-34; 26:17-33; 29:1-10; 37:12-17).[2] Keluarga-keluarga ini akan berpindah pada musim-musim tertentu, sehingga mereka tinggal di dalam tenda dari kulit, serat tenun, dan wol. Mereka memiliki harta benda yang bisa dibawa dengan keledai-keledai, atau jika mereka cukup kaya, dibawa juga oleh unta-unta. Menemukan keseimbangan antara ketersediaan optimal ladang rumput untuk penggembalaan dan air, membutuhkan kecermatan penilaian dan pengetahuan yang dalam tentang cuaca dan geografi. Pada bulan-bulan dengan curah hujan lebih banyak, dari Oktober sampai Maret, mereka membawa ternaknya merumput di dataran yang lebih rendah. Sedangkan pada bulan-bulan yang lebih hangat dan kering, April sampai September, para gembala akan membawa kawanan ternak mereka ke tempat yang lebih tinggi untuk mendapatkan lahan yang lebih hijau dan mata air yang mengalir.[3] Karena satu keluarga tidak bisa sepenuhnya disokong dengan penggembalaan, diperlukan praktik pertanian lokal dan perdagangan dengan masyarakat sekitar yang tinggalnya lebih menetap.[4]
Penggembalaan nomad memelihara kambing domba untuk mendapatkan susu dan daging, (Kej. 18:7-8; 27:9; 31:38), wol, dan barang lain yang dibuat dari hewan, seperti kulit. Keledai pembawa beban (Kej. 42:26), dan unta-unta, adalah kendaraan yang sesuai untuk perjalanan jauh (Kej. 24:10, 64; 31:17). Untuk memelihara kawanan ternak tentunya dibutuhkan keterampilan memberi makan dan minum hewan, membantu hewan ternak yang akan melahirkan, merawat hewan yang sakit dan terluka, melindungi hewan dari pemangsa dan pencuri, serta menemukan hewan yang terhilang.
Cuaca yang berubah-ubah dan pertumbuhan populasi ternak tentunya akan berdampak bagi perekonomian daerah tersebut. Kelompok-kelompok gembala yang lebih lemah bisa dengan mudah digantikan atau berasimilasi demi kepentingan mereka yang membutuhkan tambahan wilayah untuk memperluas usaha mereka. [5] Keuntungan dari menggembalakan tidak disimpan sebagai akumulasi tabungan atau investasi dari pemilik dan pengelola, tetapi dibagikan di antara semua anggota keluarga. Dengan prinsip yang sama, dampak dari kesusahan akibat kondisi kelaparan tentunya dirasakan oleh semua orang. Meski setiap orang punya tanggung jawab masing-masing dan harus siap dengan konsekuensi dari tindakan mereka, natur komunal dari bisnis keluarga secara umum berbeda dengan budaya kontemporer kita yang mementingkan pencapaian pribadi dan ekspektasi untuk keuntungan yang terus meningkat. Tanggung jawab sosial menjadi urusan sehari-hari yang wajib dilakukan, bukan sebuah pilihan.
Dalam cara hidup yang demikian, memiliki nilai-nilai yang dipegang bersama sangat penting untuk bertahan hidup. Saling ketergantungan antara anggota-anggota keluarga atau suku, serta kesadaran tentang nenek moyang mereka yang sama, tentunya menghasilkan solidaritas yang besar, sekaligus dendam dan permusuhan terhadap siapa pun yang hendak merusaknya (Kej. 34:25-31).[6] Para pemimpin harus tahu bagaimana caranya mendapatkan masukan bijak dari anggota kelompok untuk bisa membuat keputusan yang baik terkait ke mana mereka harus pergi, tinggal, dan bagaimana membagi ternak yang ada.[7] Mereka harus tahu cara berkomunikasi dengan para gembala yang membawa kawanan ternak mereka pergi merumput agak jauh (Kej. 37:12-14). Keterampilan mengatasi konflik juga wajib dimiliki untuk membereskan perselisihan yang pasti ada terkait tanah penggembalaan dan sumber air yang ada (Kej. 26:19-22). Kehidupan yang berpindah-pindah dan kerentanan menghadapi perampok membuat keramahtamahan pada zaman itu lebih dari sekadar basa-basi. Sudah menjadi norma umum untuk orang yang berada menawarkan makanan, minuman, dan penginapan.[8]
Narasi patriarki berulangkali menyebutkan kekayaan besar yang dimiliki Abraham, Ishak, dan Yakub (Kej. 13:2; 26:13; 31:1). Menggembalakan dan beternak hewan merupakan pekerjaan yang terhormat dan bisa sangat menguntungkan pada masa itu, sehingga keluarga Abraham menjadi kaya raya. Sebagai contoh, untuk melembutkan hati kakaknya Esau, sebelum bertemu, Yakub mengirimkan hadiah dari milik kepunyaannya setidaknya 550 ekor hewan: 200 kambing betina dan 20 kambing jantan, 200 domba betina dan 20 domba jantan, 30 unta yang sedang menyusui beserta anak-anaknya, 40 lembu betina dan 10 lembu jantan, 20 keledai betina dan 10 keledai jantan (Kej. 32:13-15). Sebab itu sangatlah relevan jika pada akhir hidupnya, saat Yakub akan memberkati anak-anak lelakinya, ia memberi kesaksian bahwa Allah dari ayahnya telah menjadi “gembalaku selama hidupku sampai sekarang” (Kej. 48:15). Meskipun banyak bagian Alkitab mengingatkan bahwa kekayaan kerap dapat membuat kesetiaan orang berubah (misalnya: Yer. 17:11, Hab. 2:5, Mat. 6:24), pengalaman Abraham menunjukkan bahwa kesetiaan Allah juga dapat diekspresikan dalam kemakmuran. Tentunya ini tidak berarti bahwa Allah menjanjikan umat-Nya pasti akan kaya raya terus-menerus.
Perjalanan Abraham dimulai dengan Bencana di Mesir (Kejadian 12:8-13:2)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiAwalnya, perjalanan Abraham tidak menunjukkan hasil-hasil yang baik. Ada kompetisi yang sengit untuk memperebutkan tanah (Kej. 12:6), dan Abraham menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk berusaha menemukan sebuah lokasi yang bisa dikuasainya (Kej. 12:8-9). Kondisi ekonomi yang menurun akhirnya memaksa Abraham dan keluarganya untuk pindah ke Mesir, ratusan kilometer jauhnya dari tanah yang dijanjikan Allah (Kej. 12:10).
Sebagai seorang migran yang ingin meningkatkan taraf hidupnya ke Mesir, posisi Abraham yang rentan membuatnya serba takut. Ia takut bahwa orang Mesir bisa membunuhnya untuk merebut Sara, istrinya yang cantik. Sebagai langkah antisipasi, Abraham meminta Sara mengaku sebagai adiknya, bukan istrinya. Sesuai prediksi Abraham, benar ada orang Mesir—dan itu adalah Firaun sendiri—yang menginginkan Sara, dan Sara pun “dibawa ke istana Firaun” (Kej. 12:15). Akibatnya, “TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun dan seisi istananya” (Kej. 12:17). Saat Firaun menemukan penyebab tulah yang hebat itu—bahwa ia telah merebut istri orang lain—ia mengembalikan Sara kepada Abraham dan minta mereka segera meninggalkan negerinya (Kej. 12:18-19). Meski demikian, Firaun membekali mereka dengan kambing domba, lembu, keledai jantan dan betina, budak laki-laki dan perempuan, juga unta-unta (Kej 12:16), perak dan emas (Kej. 13:2), menunjukkan bagaimana Abraham menjadi sangat kaya (Kej. 13:2) karena adanya hadiah dari istana.[1]
Insiden ini secara dramatis menunjukkan dilema moral dan bahaya lunturnya iman ketika terjadi kesenjangan sosial antara kaya dan miskin yang demikian besar. Abraham dan Sara saat itu sedang berusaha menghindari kelaparan. Mungkin sulit membayangkan menjadi orang yang sangat miskin atau hidup dalam keluarga yang menyerahkan istri atau anak perempuannya berhubungan seksual dengan orang lain demi bertahan secara ekonomi, tetapi sampai hari ini pun ada jutaan orang menghadapi pilihan berat ini. Firaun menegur sikap Abraham dengan keras, tetapi kita melihat Allah menanggapi insiden serupa (Kej. 20:7, 17) dengan belas kasihan dan bukan penghakiman.
Di sisi lain, Abraham telah menerima janji Allah secara langsung, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar” (Kej. 12:2). Apakah iman Abraham kepada Allah dan janji-janji-Nya telah luntur dengan cepat? Apakah desakan untuk bertahan hidup memang mengharuskan ia berbohong dan membiarkan istrinya menjadi istri orang lain, atau sebenarnya ada jalan keluar lain yang disediakan Allah? Ketakutan Abraham sepertinya telah membuat ia lupa akan kesetiaan Allah. Demikian pula, orang-orang dalam situasi sulit kerap yakin bahwa mereka tidak punya pilihan selain melakukan sesuatu yang mereka tahu salah. Namun, terlepas dari apa yang kita rasakan, menghadapi pilihan-pilihan yang tidak menyenangkan itu berbeda dengan tidak punya pilihan sama sekali.
Abraham dan Lot Berpisah: Kemurahan Hati Abraham (Kejadian 13:3-18)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSaat Abraham dan keluarganya kembali memasuki Kanaan dan sampai dekat Betel, terjadi gesekan antara para gembala Abraham dan para gembala Lot. Abraham harus membuat pilihan karena daerah itu tidak cukup untuk mereka tinggali bersama. Perpisahan tidak dapat dihindari, dan Abraham mengambil risiko memberikan Lot kesempatan memilih lebih dulu daerah untuk ia tinggali. Wilayah perbukitan Kanaan adalah daerah berbatu yang tidak banyak memiliki area hijau untuk hewan-hewan bisa merumput. Pandangan Lot tertuju ke timur, ke wilayah Lembah Yordan yang menurutnya “seperti taman TUHAN”, dan ia pun memilih wilayah yang lebih baik ini (Kej. 13:10). Iman Abraham kepada Allah membebaskannya dari kekhawatiran untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Terlepas dari bagaimana keduanya kemudian sama-sama menjadi kaya-raya, fakta bahwa Abraham memberi Lot kesempatan memilih lebih dulu menunjukkan kemurahan hati dan adanya hubungan saling percaya antara Abraham dan Lot.
Kemurahan hati adalah karakteristik yang positif, baik dalam hubungan pribadi maupun bisnis. Mungkin tidak ada hal lain yang dapat membangun relasi yang baik dan saling percaya sekuat kemurahan hati. Rekan kerja, pelanggan, penyuplai, bahkan pihak lawan pun menanggapi kemurahan hati dengan sangat baik dan mengingat hal itu untuk waktu yang lama. Saat Zakheus, pemungut cukai, menyambut Yesus ke rumahnya dan berjanji untuk memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat jika ada orang yang telah diperasnya, Yesus menyebutnya sebagai “anak Abraham” melihat kemurahan hati dan buah pertobatannya (Lukas 19:9). Tindakan Zakheus sendiri adalah sebuah tanggapan atas kemurahan hati Yesus, yang tanpa disangka dan di luar kebiasaan orang zaman itu, membuka hati-Nya kepada seorang pemungut cukai yang dibenci masyarakat.
Keramahan Abraham dan Sara (Kejadian 18:1-15)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKisah keramahtamahan dan kemurahan hati Abraham dan Sara menyambut tiga tamu yang datang kepada mereka di dekat pohon tarbantin milik Mamre dikisahkan dalam Kejadian 18. Kehidupan yang semi nomaden di negeri itu kerap membawa orang dari berbagai latar belakang keluarga untuk saling mengenal satu sama lain, dan sebagai sebuah kawasan yang menjembatani wilayah Asia dan Afrika, tanah Kanaan menjadi rute perdagangan yang populer. Belum adanya industri perhotelan yang formal pada saat itu membuat penduduk setempat, baik yang tinggal di kota maupun di tenda-tenda, memiliki kewajiban sosial untuk menyambut orang asing. Dari deskripsi Perjanjian Lama dan berbagai teks kuno lainnya di Timur Dekat, Matius menuliskan tujuh etika perilaku yang mendefinisikan bagaimana seharusnya keramahtamahan ditunjukkan untuk menjaga kehormatan pribadi, keluarga, dan masyarakat, dengan menerima dan memberikan perlindungan kepada orang asing.[1] Di sekitar satu wilayah tempat tinggal ada zona tertentu yang menjadi zona wajib untuk pemilik tempat tinggal dan masyarakat sekitarnya menunjukkan keramahtamahan.
1. Dalam zona ini, penduduk desa bertanggung jawab menawarkan tumpangan kepada orang asing.
2. Orang asing tersebut harus tidak lagi dianggap sebagai ancaman tetapi sebagai sekutu dengan diberi tumpangan dan perlindungan.
3. Hanya laki-laki yang menjadi kepala rumah tangga atau warga laki-laki setempat yang bisa menawarkan tumpangan bagi seorang asing.
4. Tawaran itu dapat meliputi undangan menginap untuk periode waktu tertentu, dan bisa diperpanjang sesuai kesepakatan kedua belah pihak dengan undangan yang diperbarui.
5. Orang asing itu berhak untuk menolak, tetapi penolakannya dapat dianggap sebagai penghinaan terhadap tuan rumah dan dapat menyebabkan permusuhan atau konflik.
6. Begitu tawaran diterima, peran tuan rumah dan tamunya diatur sesuai adat setempat. Tamu tidak boleh meminta apa pun. Tuan rumah akan menyediakan miliknya yang terbaik, meski awalnya ia mungkin menyatakan bahwa ia hanya bisa melayani seadanya. Tamu diharapkan segera menangggapi dengan harapan yang baik atau ungkapan terima kasih atas apa yang diberikan tuan rumah, memberikan pujian dan hormat atas kemurahan hati tuan rumah. Tuan rumah tidak boleh mengajukan pertanyaan yang bersifat personal kepada tamu, kecuali tamu tersebut secara sukarela membuka diri tentang hal-hal yang bersifat pribadi.
7. Para tamu tetap ada dalam perlindungan tuan rumah sampai mereka telah meninggalkan zona yang menjadi kewajiban tuan rumah.
Episode ini memberikan latar belakang bagi perintah dalam Perjanjian Baru, “Jangan kamu lalai memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” (Ibr. 13:2).
Keramahtamahan, kesediaan memberi tumpangan dan kemurahan hati kerap kurang diapresiasi atau dianggap biasa saja dalam komunitas Kristen. Namun, Alkitab menggambarkan Kerajaan surga seumpama perjamuan besar yang disediakan dengan murah hati untuk semua orang (Yes. 25:6-9; Mat. 22:2-4). Kesediaan memberi tumpangan dapat menumbuhkan kedekatan relasi. Keramahtamahan Abraham dan Sara dalam Alkitab menunjukkan bagaimana hubungan-hubungan pada masa itu terbangun seiring adanya sikap mau saling berbagi berkat jasmani. Orang yang tadinya asing satu sama lain dapat belajar saling mengenal ketika mereka makan bersama dan berinteraksi lebih lama. Prinsip yang sama juga berlaku hari ini. Ketika orang-orang makan bersama, menikmati rekreasi atau hiburan bersama, seringkali mereka jadi lebih mudah untuk saling memahami dan menghargai. Relasi kerja yang lebih baik dan komunikasi yang lebih efektif, kerap merupakan buah dari keramahtamahan yang ditunjukkan.
Pada zaman Abraham dan Sara, keramahtamahan hampir selalu ditunjukkan dengan menawarkan tumpangan di rumah warga sendiri. Hari ini, tidak semua orang bisa dan mau memberikan tumpangan di rumah. Industri perhotelan juga sudah berkembang sehingga kita memiliki pilihan fasilitas yang lebih banyak untuk melayani tamu. Jika rumah kita terlalu kecil atau keahlian masak kita terbatas, kita tinggal membawa tamu kita ke restoran atau hotel, menikmati layanan yang diberikan sembari menikmati hubungan persahabatan yang lebih dalam di sana. Para pelayan akan membantu Anda dalam melayani tamu dengan ramah. Mereka yang bekerja di industri ini berkesempatan membantu orang beristirahat guna memulihkan kekuatannya, menciptakan hubungan baik, menyediakan tumpangan, dan melayani orang banyak sebagaimana yang Yesus lakukan saat Dia membuat anggur (Yoh 2:1-11) dan mencuci kaki para murid (Yoh 13:3-11). Industri perhotelan dan rumah makan berkontribusi sekitar 9% dari PDB dunia dan memberi lapangan kerja bagi 98 juta orang,[2] termasuk para pekerja berpendidikan rendah dan kaum imigran yang semakin banyak ditemukan di gereja. Kita bahkan bisa menawarkan keramahtamahan tanpa dibayar, sebagai tindakan kasih, persahabatan, belas kasihan, dan kontribusi sosial. Contoh yang diberikan Abraham dan Sara menunjukkan bahwa pekerjaan ini dapat menjadi sangat penting sebagai sebuah pelayanan kepada Allah dan sesama manusia. Bagaimana kita dapat saling mendorong satu sama lain untuk bersikap murah hati dan menunjukkan keramahtamahan, apa pun profesi kita?
Perselisihan Abraham dengan Abimelekh (Kejadian 20:1-16; 21:22-34)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSaat Abraham dan Sara memasuki negeri yang diperintah oleh Raja Abimelekh, Sang Raja tanpa sengaja melanggar aturan keramahtamahan, dan sebagai gantinya memberikan Abraham kebebasan untuk menggembalakan ternak di wilayah mana pun yang ia kehendaki di negerinya (Kej. 20:1-16). Setelah itu, perselisihan muncul atas sebuah sumur yang digali Abraham, tapi kemudian dirampas hamba-hamba Abimelekh (Kej. 21:25). Abimelekh sepertinya tidak mengetahui masalah tersebut. Ketika ia diberitahu, ia pun bersedia mengikat perjanjian dengan Abraham. Perjanjian itu menyatakan bahwa Abraham yang menggali sumur tersebut dan dapat terus bekerja daerah itu. (Kej. 21:27-31).
Di bagian lain, kita melihat bagaimana Abraham menyerahkan harta benda yang sebenarnya berhak ia ambil (Kej. 14:22-24). Namun, kali ini Abraham dengan gigih memperjuangkan apa yang menjadi miliknya. Tidak ada indikasi bahwa Abraham goyah imannya sehingga melakukan hal tersebut, karena penulis kitab Kejadian mengakhiri bagian ini dengan catatan ibadah Abraham (Kej. 21:33). Abraham justru digambarkan sebagai sosok yang dapat diteladani sebagai seorang pengusaha yang bijak, dan bekerja keras, yang transparan dalam usahanya dan memakai perlindungan hukum secara adil. Dalam bisnis penggembalaan, akses terhadap air sangat penting. Tanpa akses itu, Abraham tidak bisa memelihara ternak, para pekerja, dan keluarganya. Karenanya, upaya Abraham memperjuangkan haknya atas sumur yang ia gali adalah fakta yang penting, demikian pula cara yang diambilnya untuk mendapatkan hak-hak tersebut.
Seperti Abraham, manusia di segala bidang pekerjaan harus berhikmat membedakan kapan harus bermurah hati memberi kepada orang lain, kapan harus melindungi sumber daya dan hak untuk kepentingan mereka, kepentingan perusahaan atau organisasi mereka. Tidak ada aturan yang baku kapan kita harus melakukannya. Dalam semua situasi, kita adalah para pengelola atau manajer dari sumber daya milik Allah, meski tidak selalu jelas apakah tujuan-tujuan Allah akan lebih baik tercapai dengan menyerahkan atau dengan melindungi sumber-sumber daya kita. Namun, contoh yang diberikan Abraham menyoroti aspek yang kerap mudah untuk dilupakan. Keputusannya bukan semata tentang siapa yang memiliki hak, tetapi juga bagaimana keputusan itu akan mempengaruhi hubungan-hubungan kita dengan orang-orang di sekeliling kita. Dalam peristiwa berbagi wilayah dengan Lot, kesediaan Abraham memberikan Lot kesempatan untuk memilih lebih dulu meletakkan dasar untuk hubungan baik jangka panjang. Dalam peristiwa berikutnya, saat menuntut akses terhadap sumur yang menjadi haknya, Abraham memastikan tersedianya sumber daya untuk mengikat perjanjian agar bisnisnya bisa tetap berjalan. Sebagai tambahan, tampaknya ketegasan Abraham kemudian membuat hubungannya dengan Abimelekh menjadi lebih baik. Ingat bahwa awalnya hubungan mereka bermasalah karena Abraham tidak tegas tentang posisinya saat pertama kali bertemu dengan Abimelekh (Kej. 20).
Pembelian Kubur untuk Sara (Kejadian 23:1-20)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSaat Sara meninggal, Abraham terlibat dalam sebuah negosiasi yang patut dicontoh dalam membeli tanah pekuburan untuk istrinya. Ia melakukan negosiasi secara terbuka dan jujur di hadapan para saksi, memastikan kewajiban dipenuhi baik dari pihaknya maupun pihak penjual. (Kej. 23:10-13, 16, 18). Objek propertinya didefinisikan dengan jelas (Kej. 23:9), rencana Abraham memakai properti itu sebagai tanah pekuburan juga disampaikan berulang kali (Kej. 23:4, 6, 9, 11, 13, 15, 20). Negosiasi yang berlangsung dua arah itu sangat jelas, sesuai kepatutan dalam masyarakat zaman itu, serta transparan. Negosiasi berlangsung di pintu gerbang kota, tempat bisnis berlangsung di depan publik. Abraham menginisiasi permintaan membeli sebuah gua untuk kuburan. Penduduk setempat, yaitu orang-orang Het menawarkan kuburan terbaik mereka. Abraham tidak mengiyakan, tetapi meminta mereka menjembatani komunikasi dengan seorang pemilik lahan dengan gua yang sesuai untuk pekuburan, agar ia bisa membelinya dengan harga penuh. Efron, sang pemilik lahan mendengar permintaan itu dan menawarkan lahan itu sebagai hadiah. Karena tawaran itu tidak akan memberi Abraham klaim permanen atas properti tersebut, dengan sopan ia minta untuk membayar harga penuh. Berlawanan dengan kebiasaan tawar-menawar dalam transaksi bisnis (Ams. 20:14), Abraham langsung menyetujui harga yang disebutkan Efron dan membayarnya “seperti yang berlaku di antara para saudagar” (Kej. 23:16). Sikapnya menunjukkan bahwa transaksi tersebut sesuai dengan standar yang berlaku dalam jual-beli properti.[1] Abraham mungkin sangat kaya-raya sehingga ia tidak perlu menawar, atau bisa jadi ia juga memperhitungkan sejumlah aset tidak berwujud dalam pembelian properti tersebut. Mungkin ia juga hendak mengantisipasi pertanyaan orang terkait transaksi penjualan dan haknya atas tanah tersebut. Pada akhirnya, ia menerima peralihan hak atas tanah berikut gua dan semua pohon di lahan tersebut (Kej. 23:17-20). Lahan tersebut menjadi tempat pekuburan untuk Sara, dan kemudian Abraham, demikian juga untuk Ishak, Ribka, Yakub, dan Lea.
Dalam hal ini, tindakan Abraham memberi teladan nilai-nilai inti integritas, transparansi, dan kecerdasan dalam bisnis. Ia menghormati istrinya dengan meratapi dan menguburkan jenazahnya dengan layak. Ia memahami statusnya sebagai pendatang dan memperlakukan penduduk lokal dengan penuh hormat. Ia melakukan transaksi bisnis secara terbuka dan jujur, di depan banyak saksi. Ia berkomunikasi secara jelas. Ia peka terhadap proses negosiasi dan dengan sopan menolak menerima tanah itu sebagai hadiah. Ia dengan cepat membayar harga yang disepakati. Ia memakai tanah itu hanya untuk tujuan yang ia sampaikan dalam negosiasi. Dengan demikian ia menjaga hubungan baik dengan semua pihak yang terkait.
Ishak (Kejadian 21:1-35:29)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiIshak adalah putra dari seorang ayah yang hebat dan seorang ayah dari putra yang hebat, tetapi catatan hidupnya sendiri tidak demikian. Berlawanan dengan catatan kehidupan Abraham yang dominan dalam kitab Kejadian, kehidupan Ishak tidak dicatat secara lengkap dan menjadi tambahan saja yang melengkapi kisah Abraham dan Yakub. Kehidupan Ishak digambarkan dalam dua sisi, satu positif dan satu negatif. Banyak yang bisa kita pelajari dari kedua sisi kehidupan Ishak.
Pada sisi yang positif, kehidupan Ishak adalah suatu karunia Allah. Abraham dan Sara sangat menyayanginya, mewariskan iman dan nilai-nilai mereka kepadanya. Allah mengulangi janji-Nya kepada Abraham untuk Ishak juga. Iman dan ketaatan Ishak saat Abraham hendak mempersembahkannya kepada Allah adalah teladan yang luar biasa, karena ia percaya penuh akan apa yang dikatakan sang ayah kepadanya: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran bagi-Nya, Anakku (Kej. 22:8). Hampir di sepanjang hidupnya, Ishak mengikuti jejak ayahnya, Abraham. Dengan penuh iman seperti ayahnya, Ishak mendoakan istrinya yang mandul (Kej. 25:21). Sama seperti Abraham menguburkan Sara dengan penuh hormat, Ishak dan Ismael juga bersama-sama menguburkan ayah mereka dengan penuh hormat (Kej. 25:9). Ishak menjadi seorang petani dan gembala yang berhasil hingga penduduk setempat merasa iri kepadanya dan meminta ia pindah dari wilayah mereka (Kej. 26:12-16). Ia membuka kembali sumur-sumur yang pernah digali di zaman ayahnya, yang kembali menjadi subjek perselisihan dengan penduduk Gerar terkait hak atas sumber air (Kej. 26:17-21). Seperti Abraham, Ishak mengadakan perjanjian yang diikat sumpah dengan Abimelekh untuk saling berlaku adil (Kej. 26:26-31). Penulis kitab Ibrani mencatat bahwa dengan iman Ishak tinggal di perkemahan dan memberkati baik Yakub maupun Esau (Ibr. 11:8-10, 20). Singkatnya, Ishak mewarisi sebuah bisnis keluarga dan kekayaan yang besar. Sama seperti ayahnya, ia tidak menimbunnya, tetapi memakainya untuk memenuhi peran yang diberikan oleh Allah yang telah memilihnya, yaitu untuk meneruskan berkat Allah itu kepada segala bangsa.
Dalam semua kejadian yang positif ini, Ishak digambarkan sebagai seorang putra yang penuh tanggung jawab, yang belajar bagaimana memimpin keluarga dan mengelola bisnis sesuai teladan ayahnya, seorang pengusaha yang cerdas dan cinta Tuhan. Ketekunan Abraham dalam mempersiapkan seorang penerus dan menanamkan nilai-nilai yang terus bertahan, membawa berkat bagi kelangsungan usaha keluarga ini. Saat Ishak berusia 100 tahun, kini gilirannya untuk menentukan pewarisnya dengan cara meneruskan berkat keluarga bagi anak sulungnya. Meski ia masih hidup selama 80 tahun kemudian, berkat yang diberikannya dengan penumpangan tangan ini adalah hal penting terakhir yang dicatat tentang Ishak dalam kitab Kejadian. Sayangnya, ia hampir saja gagal dalam tugas tersebut. Ia tetap tidak peduli dengan pewahyuan Allah kepada istrinya, yang berlawanan dengan kebiasaan saat itu, bahwa anak bungsu mereka, Yakub, yang akan menjadi kepala keluarga berikutnya, bukan kakaknya (Kej. 25:23). Ribka dan Yakub harus bersiasat untuk membuat Ishak sadar dan kembali memenuhi tujuan Allah.
Menjaga bisnis keluarga berarti struktur fundamental keluarga harus tetap utuh. Ayah sebagai kepala keluarga memiliki tanggung jawab untuk memastikan hal ini. Ada dua tradisi yang menonjol dalam keluarga Ishak, tradisi yang asing bagi kebanyakan kita, yaitu: tradisi hak kesulungan (Kej. 25:31) dan tradisi berkat (Kej. 27:4). Hak kesulungan memberikan hak untuk mewarisi bagian yang lebih besar dari tanah dan harta benda sang ayah. Meski adakalanya hak kesulungan itu dipindahtangankan, biasanya hak tersebut otomatis dimiliki oleh putra pertama dalam keluarga. Hukum yang spesifik terkait tradisi ini bervariasi, tetapi tampaknya tradisi ini terus dipertahankan dalam masyarakat di Timur Dekat kuno. Tradisi berkat merupakan tradisi yang berkaitan erat untuk memanggil berkat dari Allah dan menurunkan posisi kepemimpinan dalam rumah tangga. Esau keliru mempercayai bahwa ia bisa menyerahkan hak kesulungan dan tetap mendapatkan berkat (Ibr. 12:16-17). Yakub memahami bahwa kedua tradisi ini tidak bisa dipisahkan. Dengan memiliki keduanya, Yakub juga menerima hak untuk meneruskan tradisi keluarga secara ekonomi, sosial, dan juga iman. Tradisi berkat ini sentral dalam narasi kitab Kejadian, tidak hanya berkaitan dengan menerima perjanjian yang telah dibuat Abraham, tetapi juga meneruskan berkat itu kepada generasi selanjutnya.
Kegagalan Ishak untuk menyadari bahwa Yakub seharusnya menerima hak kesulungan dan hak berkat muncul dari sikap Ishak yang mementingkan kenyamanan pribadinya di atas kebutuhan mengelola keluarganya. Ia lebih memilih Esau karena ia suka makan daging buruan yang dibawa Esau baginya. Meski Esau tidak menghargai hak kesulungannya lebih dari semangkok sup—menunjukkan bahwa ia tidak pantas atau tidak terlalu berminat menempati posisi sebagai pemimpin usaha keluarga—Ishak mau Esau memegang posisi ini. Ia menumpangkan tangan dan memberi berkat secara tertutup, menunjukkan bahwa ia tahu betul bahwa tindakannya akan mengundang kritik. Satu-satunya aspek positif dari episode ini adalah bahwa iman Ishak menuntunnya mengakui bahwa berkat Allah yang tanpa sengaja ia berikan kepada Yakub tidak bisa dibatalkan. Secara murah hati, penulis kitab Ibrani mengingatnya, “Karena iman, sambil memandang jauh ke depan, Ishak memberikan berkatnya kepada Yakub dan Esau.” (Ibr. 11:20). Allah telah memilih Ishak untuk meneruskan berkat ini dan memilih untuk mengerjakan kehendak-Nya melalui Ishak, terlepas dari sikap Ishak yang tidak begitu peduli dengan peran tersebut.
Sikap yang dicontohkan Ishak mengingatkan kita bahwa membenamkan diri dalam perspektif pribadi kita terlalu dalam dapat membuat kita memiliki penilaian yang sangat keliru. Setiap kita digoda oleh kenyamanan pribadi, prasangka-prasangka, dan kepentingan pribadi sehingga tidak bisa melihat kepentingan yang lebih luas. Mungkin kelemahan kita adalah suka mengejar pengakuan orang atau keamanan finansial, selalu menghindari konflik, terlibat dalam relasi yang tidak sehat, suka mencari jalan pintas dalam mendapatkan hasil, atau suka mencari keuntungan pribadi lain yang tidak sejalan dengan pekerjaan yang Allah mau kita lakukan untuk memenuhi tujuan-Nya. Ada faktor individual dan sistemik yang mempengaruhinya. Di level individual, bias yang dimiliki Ishak terhadap Esau juga dapat kita lihat saat ini ketika para pemegang kekuasaan memilih untuk mempromosikan orang berdasarkan bias, entah itu diakui atau tidak. Pada level sistemik, masih ada banyak organisasi yang memberi ruang bagi para pemimpin untuk menggaji, memecat, dan mempromosikan orang menurut keinginan mereka, bukan mempersiapkan penerus dan tim mereka melalui proses jangka panjang yang terencana dan dapat dipertanggungjawabkan. Baik penyalahgunaan itu terjadi secara individu atau sistemik, sekadar berkomitmen untuk menjadi lebih baik atau mengubah proses dalam organisasi bukanlah solusi yang efektif. Baik individu maupun organisasi butuh ditransformasi oleh anugerah Allah untuk meletakkan apa yang benar-benar penting di atas keuntungan pribadi.
Yakub (Kejadian 25:19-49:33)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiNama Abraham, Ishak, dan Yakub, kerap muncul bersamaan, karena mereka semua menerima perjanjian dari Allah dan memiliki iman yang sama. Namun, Yakub jauh berbeda dari eyangnya, Abraham. Cerdik dan banyak akal, Yakub kerap mengejar apa yang ia inginkan dalam hidupnya dengan tipu daya. Kecenderungan diri ini adalah pergumulan yang tidak mudah diatasi dan pada akhirnya membawanya berjumpa Allah secara langsung dalam pergulatan dengan seorang pria misterius (Kej. 32:24, 30). Di tengah kelemahannya, Yakub memohon dengan iman untuk mendapatkan berkat Allah dan diubahkan oleh anugerah-Nya.
Pekerjaan Yakub sebagai seorang gembala menarik untuk dibahas dalam teologi kerja. Pekerjaan itu memiliki arti yang penting dalam perjalanan hidup Yakub, yang jika kita lihat dari konteks yang lebih besar, bergerak dari pengasingan kepada rekonsiliasi. Kita telah melihat bahwa pekerjaan merupakan bagian tak terpisahkan dari tujuan hidup Abraham yang berasal dari hubungannya dengan Allah. Hal yang sama juga bisa kita lihat dari kehidupan Yakub, dan seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kita semua.
Yakub mengambil alih Hak Kesulungan dan Berkat Esau dengan Cara yang Tidak Etis. (Kejadian 25:19-34; 26:34-28:9)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiMeski Allah sendiri yang berkehendak menjadikan Yakub sebagai penerus Ishak (Kej. 25:23), tipu daya dari Ribka dan Yakub untuk mewujudkan rencana itu membuat keluarga mereka harus menghadapi masalah serius. Memilih menggunakan cara yang tidak etis terhadap suami dan saudara laki-laki mereka demi mengamankan masa depan mereka daripada memercayai cara Allah, mengakibatkan keluarga itu tercerai berai dan harus hidup terasing satu dengan yang lain sepanjang sisa hidup mereka.
Berkat yang dijanjikan Allah adalah hadiah untuk kita terima, bukan untuk direbut. Hadiah itu sepaket dengan tanggung jawab untuk menggunakan hadiah itu bagi orang lain, bukan untuk ditimbun sendiri. Hal ini yang hilang dari Yakub. Meski Yakub memiliki iman (tidak seperti saudaranya, Esau), ia bergantung pada kemampuannya sendiri untuk mengamankan hak-hak yang penting baginya. Yakub mengeksploitasi rasa lapar Esau untuk menjual hak kesulungannya (Kej. 25:29-34). Yakub menghargai hak kesulungan, itu adalah sikap yang baik, tetapi ia tidak menunjukkan imannya dengan apa yang ia lakukan demi mengamankan hak itu untuk dirinya sendiri. Mengikuti nasihat ibunya, Ribka (yang juga mengejar hak tersebut dengan cara yang keliru), Yakub menipu ayahnya. Kehidupannya sebagai seorang pelarian dari keluarganya sendiri menunjukkan betapa tindakannya itu tidak bisa diterima.
Yakub memulai dengan iman yang tulus terhadap janji kovenan Allah, tetapi ia gagal untuk memercayai sepenuhnya apa yang akan dilakukan Allah untuknya. Orang-orang dewasa rohani yang telah belajar untuk membiarkan iman mereka mentransformasi pilihan-pilihan mereka (dan bukan sebaliknya) ada dalam posisi untuk melayani dari kekuatan mereka. Keputusan berani dan cerdik yang membawa keberhasilan mungkin dipuji, tetapi jika keuntungan didapatkan dengan cara mengekploitasi dan menipu orang lain, ada sesuatu yang salah. Melampaui fakta bahwa metode atau cara yang tidak etis itu salah, hal itu mungkin menyingkapkan ketakutan yang mendasar dari orang yang melakukannya. Hasrat Yakub yang tak henti mengupayakan keuntungan untuk dirinya sendiri menyingkapkan bagaimana ketakutannya itu membuatnya resisten untuk menerima anugerah Allah yang mengubahkan. Ketika kita sungguh mempercayai janji Allah, kita akan lebih dapat mengendalikan diri untuk tidak memanipulasi situasi demi menguntungkan diri sendiri; kita harus selalu menyadari betapa kita dapat membodohi diri sendiri tentang kemurnian motif kita.
Yakub Mendapatkan Kekayaannya (Kejadian 30-31)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiMelarikan diri dari Esau, Yakub akhirnya tinggal di peternakan keluarga milik Laban, saudara laki-laki ibunya. Yakub bekerja untuk Laban selama dua puluh satu tahun yang penuh frustrasi, karena selama itu Laban berulang kali tidak menepati janjinya. Meski demikian, Yakub berhasil menikahi kedua putri Laban dan memulai rumah tangganya sendiri. Yakub ingin pulang ke rumahnya, tetapi Laban meyakinkan ia untuk tetap tinggal dan bekerja dengan janji bahwa Yakub dapat menentukan upahnya sendiri (Kej. 30:28). Jelas bahwa Yakub telah menjadi seorang pekerja yang baik, dan Laban diberkati melalui hubungannya dengan Yakub.
Selama ia bekerja, Yakub mempelajari cara membuat ternak berkembang biak, dan ia memakai ilmunya itu untuk membalas Laban. Melalui teknik mengembangbiakkan ternaknya, ia berhasil mengambil alih sejumlah besar kekayaan dari Laban, sampai-sampai para putra Laban mengeluh bahwa “Yakub telah mengambil semua harta milik ayah kita dan dari harta milik ayah kitalah ia mengumpulkan seluruh kekayaannya.” (Kej. 31:1-2). Yakub memperhatikan bahwa sikap Laban kepadanya tidak lagi seperti yang sudah-sudah. Namun, Yakub mengklaim bahwa kekayaannya itu adalah anugerah Allah, dengan berkata, “Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah sekarang engkau membiarkan aku pergi dengan tangan hampa.” (Kej. 31:42).
Yakub merasa bahwa ia telah diperlakukan tidak adil oleh Laban. Memakai caranya sendiri untuk merespons perbuatan Laban, membuatnya memiliki musuh baru, mirip dengan cara ia mengeksploitasi Esau. Ini adalah pola yang berulang dalam kehidupan Yakub. Sekalipun tampaknya adil dan sepertinya ia mengembalikan pujian kepada Allah, jelas bahwa ini adalah akal liciknya sendiri. Kita tidak melihat integrasi iman Yakub dengan pekerjaannya pada titik ini, dan menarik bahwa ketika penulis kitab Ibrani mencatat Yakub sebagai seorang saksi iman, penulis hanya menyebutkan apa yang ia lakukan pada akhir hidupnya (Ibr. 11:21).
Transformasi Yakub dan Rekonsiliasinya dengan Esau (Kejadian 32-33)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSetelah ketegangan yang meninggi dengan ayah mertuanya dan perpecahan bisnis akibat tindakan kurang terpuji dari kedua belah pihak, Yakub pun meninggalkan Laban. Mendapatkan posisinya akibat tipu daya Laban bertahun-tahun sebelumnya, kini Yakub melihat sebuah kesempatan untuk melegitimasi posisinya dengan mengadakan perjanjian dengan saudara laki-lakinya yang sudah lama terpisah, Esau. Namun, ia menduga negosiasinya akan berlangsung alot. Penuh ketakutan bahwa Esau akan datang bertemu dengannya membawa 400 pria bersenjata, Yakub membagi keluarga dan ternaknya menjadi dua kelompok untuk memastikan mereka bisa bertahan hidup. Ia berdoa mohon perlindungan dan mengirimkan banyak ternak sebagai hadiah untuk mendapatkan kemurahan hati Esau sebelum bertemu dengannya. Namun, malam sebelum ia tiba di titik pertemuan, si licik Yakub, dikejutkan oleh kunjungan sosok seperti manusia. Allah sendiri menyerangnya dalam wujud seorang pria yang kuat, dan Yakub dipaksa untuk bergulat dengannya sepanjang malam. Allah, ternyata, bukan hanya Allah atas ibadah dan agama, melainkan juga Allah atas pekerjaan dan usaha keluarga. Dia tidak diam saja untuk memutarbalikkan skenario pekerja yang licik seperti Yakub. Dia memanfaatkan keunggulannya sampai pada titik membuat sendi pangkal paha Yakub terkilir. Tetapi dalam kelemahannya, Yakub menolak untuk menyerah sampai penyerangnya memberkati dia.
Peristiwa itu menjadi titik balik kehidupan Yakub. Sekian tahun lamanya, ia bergumul dalam hubungannya dengan orang lain, dan sepanjang tahun-tahun itu ia juga bergumul dalam hubungannya dengan Allah. Kini akhirnya, ia bertemu dengan Allah dan menerima berkat-Nya di tengah pergumulan. Yakub menerima nama yang baru, Israel, dan bahkan mengganti nama lokasi itu untuk menghormati fakta bahwa ia telah bertemu muka dengan Allah (Kej. 32:30). Pertemuan mencekam dengan Esau terjadi pada esok paginya dan sangat jauh berlawanan dengan perkiraan Yakub yang penuh ketakutan, pertemuan itu berlangsung dengan sangat baik dan menyenangkan, jauh melampaui apa yang bisa dibayangkan. Esau berlari mendapatkan Yakub dan memeluknya. Esau dengan sopan menolak pemberian Yakub, meski Yakub memaksanya untuk menerimanya. Yakub yang sudah ditransformasi berkata kepada Esau, “…melihat wajahmu saja bagiku serasa melihat wajah Allah.” (Kej. 33:10).
Identitas lawan pergulatan Yakub yang ambigu merupakan fitur yang disengaja dalam kisah ini. Hal tersebut menekankan bagaimana pergumulan Yakub dengan Allah dan sesama tidak terpisahkan. Yakub mencontohkan satu kebenaran pada inti iman kita: hubungan kita dengan Allah dan manusia saling berhubungan. Rekonsiliasi kita dengan Allah memungkinkan rekonsiliasi kita dengan sesama. Demikian pula, dalam rekonsiliasi dengan sesama manusia, kita jadi bisa melihat dan mengenal Allah lebih baik. Pekerjaan rekonsiliasi berlaku dalam keluarga, persahabatan, gereja, perusahaan, bahkan dalam kehidupan suku-suku dan bangsa-bangsa. Hanya Kristus yang dapat menjadi pendamaian kita, dan kita adalah para duta atau wakil-Nya untuk memberitakan pendamaian itu. Memancar keluar dari janji Allah kepada Abraham, inilah berkat yang sepatutnya menyentuh seluruh dunia.
Yusuf (Kejadian 37:2-50:26)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiMari mengingat bagaimana Allah memberikan janji-janji inti yang menyertai panggilan-Nya kepada Abraham (Kej. 12:2-3). Pertama, Allah akan melipatgandakan keturunan-Nya menjadi bangsa yang besar. Kedua, Allah akan memberkati mereka. Ketiga, Allah akan membuat nama Abraham masyhur. Keempat, Abraham akan menjadi berkat. Yang terakhir ini berkaitan dengan generasi penerus dari keluarga Abraham dan selanjutnya, bagi seluruh keluarga di bumi. Allah akan memberkati mereka yang memberkati Abraham dan mengutuk mereka yang mengutuknya. Kitab Kejadian menelusuri penggenapan parsial dari janji-janji ini melalui garis terpilih dari keturunan Abraham, Ishak, Yakub, dan anak-anak Yakub. Di antara mereka semua, di dalam hidup Yusuf, Allah menggenapi langsung janji-Nya untuk memberkati bangsa-bangsa melalui umat keturunan Abraham. Betapa orang-orang dari “seluruh dunia” dipelihara hidupnya melalui sistem pengelolaan bahan makanan yang dikelola oleh Yusuf (Kej. 41:57). Yusuf memahami misi ini dan mengartikulasikan tujuan dari kehidupannya selaras dengan intensi Allah untuk “memelihara hidup banyak orang” (Kej.50:20).
Yusuf Ditolak dan Dijual sebagai Budak oleh Saudara-Saudaranya (Kejadian 37:2-36)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSejak muda, Yusuf percaya bahwa Allah telah menetapkan dirinya untuk sesuatu yang besar. Melalui beberapa mimpi, Allah meyakinkan Yusuf bahwa ia akan meraih suatu posisi kepemimpinan yang melampui ayah dan kakak-kakaknya (Kej. 37:5-11). Dari sudut pandang Yusuf, mimpi-mimpi ini adalah bukti dari berkat Ilahi, bukan ambisinya pribadi. Meski demikian, dari sudut pandang kakak-kakaknya, mimpi-mimpi itu merupakan wujud lain dari hak istimewa yang secara tidak adil dinikmati Yusuf sebagai putera kesayangan dari ayah mereka, Yakub (Kej. 37:3-4). Meyakini bahwa kita ada pada posisi yang benar tidak meluputkan kita dari kebutuhan untuk berempati dengan orang lain yang mungkin tidak memiliki pandangan yang sama. Para pemimpin yang baik berjuang untuk mendorong terjadinya kerjasama dan bukan saling iri. Kegagalan Yusuf untuk mengenali hal ini membuatnya tidak memiliki hubungan yang baik dengan kakak-kakaknya. Mereka berencana untuk membunuhnya, tetapi akhirnya mereka memutuskan untuk menjualnya kepada para pedagang yang melintasi daerah Kanaan menuju Mesir. Para pedagang ini kemudian menjual Yusuf kepada Potifar, seorang pembesar Firaun, kepala pengawal raja (Kej. 37:36; 39:1).
Rencana Kotor Istri Potifar dan Pemenjaraan Yusuf (Kejadian 39:1-20)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiTugas Yusuf di rumah Potifar memberinya sejumlah tanggung jawab untuk melayani tuannya. Awalnya Yusuf hanya disebut “tinggal” di rumah tuannya. Kita tidak tahu dalam kapasitas apa ia melayani saat itu, tetapi begitu Potifar mengenali kemampuan Yusuf, ia kemudian menaikkan posisi Yusuf menjadi pelayan pribadinya dan memberinya “kuasa atas rumahnya dan segala miliknya” (Kej. 39:4).
Setelah beberapa waktu, istri Potifar mulai terpikat pada Yusuf dan ingin tidur dengannya (Kej. 39:7). Penolakan Yusuf disampaikan secara jelas dan dengan alasan yang masuk akal. Ia mengingatkan sang Nyonya bahwa Potifar telah memberikan kepercayaan besar kepadanya dan menyebut hubungan yang diinginkan sang Nyonya sebagai “kejahatan yang besar” dan perbuatan “dosa” (Kej. 39:9). Yusuf memiliki kepekaan sosial dan teologis. Lebih dari itu, ia menyampaikan penolakannya secara lisan berulang kali dan bahkan menghindari untuk menemani sang Nyonya. Saat dipaksa secara fisik, Yusuf memilih untuk lari setengah telanjang daripada mengikuti keinginan sang Nyonya.
Intimidasi seksual dari sang Nyonya dilakukan dalam hubungan atasan-bawahan, menempatkan Yusuf pada posisi yang lemah. Yusuf. Sang Nyonya merasa punya hak dan kekuasaan untuk memperlakukan Yusuf demikian. Namun, perkataan dan perlakuan fisiknya jelas tidak diterima Yusuf. Pekerjaan Yusuf mengharuskan ia berada di rumah tempat sang Nyonya tinggal, tetapi Yusuf tidak bisa melaporkan hal ini kepada Potifar tanpa mengganggu hubungan rumah tangga mereka. Bahkan setelah ia melarikan diri dan kemudian ditangkap dengan tuduhan yang salah, tampaknya Yusuf tidak punya ruang untuk mendapatkan keadilan.
Aspek-aspek dari episode kehidupan Yusuf ini sangat dekat menyentuh isu-isu intimidasi atau pelecehan seksual di tempat kerja yang terjadi pada masa sekarang. Orang bisa memiliki standar yang berbeda-beda tentang apa yang dianggap sebagai perkataan dan hubungan fisik yang tidak patut, tetapi pada praktiknya, keinginan mereka yang memegang kekuasaanlah yang menentukan. Para pekerja kerap diharapkan untuk melaporkan potensi intimidasi kepada atasannya, tetapi kebanyakan tidak mau melakukannya karena mereka tahu ada risiko ketidakjelasan dan pembalasan. Tambahan lagi, meski intimidasi itu bisa didokumentasikan, pekerja bisa menderita karena melaporkannya. Kesalehan Yusuf tidak membebaskannya dari tuduhan yang salah dan pemenjaraan. Jika kita ada pada situasi yang serupa, kesalehan kita juga tidak menjadi jaminan bahwa kita bisa menghindari penderitaan atau perlakuan yang mencelakai kita. Namun, Yusuf mewariskan kesaksian yang tegas kepada istri Potifar dan mungkin banyak orang lain di dalam rumah itu. Tahu bahwa kita adalah milik Tuhan dan Dia akan melindungi yang lemah, pastinya akan menolong kita untuk menghadapi situasi sulit tanpa menyerah. Kisah ini menunjukkan realita bahwa bersikap tegas melawan intimidasi seksual di tempat kerja bisa mengakibatkan konsekuensi yang mengenaskan. Namun, ini juga adalah kisah pengharapan bahwa oleh anugerah Allah, kebaikan pada akhirnya akan menang. Yusuf juga menjadi teladan bagi kita, untuk tetap setia melakukan pekerjaan yang diberikan Allah bagi kita, meski kita dituduh dan diperlakukan secara tidak adil, percaya bahwa pada Allah bekerja untuk meluruskan semua pada akhirnya.
Interpretasi Yusuf atas Mimpi-Mimpi di Penjara (Kejadian 39:20-40:23)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiPelayanan Yusuf di penjara ditandai dengan penyertaan Allah, kemurahan kepala penjara, dan kepercayaan yang diberikan kepada Yusuf untuk menjadi pemimpin yang mengurus semua tahanan dalam penjara itu (Kej. 39:21-23). Dalam penjara, Yusuf bertemu dengan dua pembesar Firaun yang dijebloskan ke penjara, juru minum dan juru roti. Banyak literatur Mesir menyebutkan peran juru minum, yang tidak hanya mencicipi anggur untuk memastikan kualitas dan mendeteksi racun, tetapi juga menikmati kedekatan dengan para pemegang kekuasaan politik. Mereka seringkali menjadi orang dekat penguasa yang dihargai nasihatnya (baca Neh. 2:1-4).[1] Sama seperti juru minum, juru roti juga adalah pembesar yang dipercaya dan memiliki akses kepada penguasa tertinggi di pemerintahan yang mungkin melakukan tugas-tugas lebih dari sekadar menyiapkan makanan. [2] Di penjara, Yusuf menafsirkan mimpi dari orang-orang yang memiliki posisi penting secara politis.
Menafsirkan mimpi di dunia kuno merupakan pekerjaan yang cukup rumit, praktiknya melibatkan “buku-buku mimpi” yang mendaftarkan berbagai elemen mimpi beserta artinya. Catatan tentang kebenaran mimpi-mimpi di masa lalu dan penafsirannya menyediakan bukti empiris untuk mendukung prediksi seorang penafsir mimpi. [3] Meski demikian, Yusuf tidak pernah belajar secara khusus untuk menjadi seorang penafsir mimpi. Ia memuji Allah, yang membukakan arti mimpi kepadanya, dan penafsirannya terbukti benar (Kej. 40:8). Sesuai penafsirannya, juru minum dikembalikan pada jabatannya, tetapi ia segera lupa tentang Yusuf.
Dinamika serupa dalam kisah Yusuf masih bisa kita jumpai hari ini. Kita bisa berinvestasi pada kesuksesan orang lain yang jauh di atas kita, tetapi kita dilupakan setelah ia sudah selesai memetik manfaat dari kita. Apakah ini artinya sumbangsih kita sia-sia dan seharusnya kita lebih berfokus pada posisi dan promosi kita sendiri? Apalagi, Yusuf tidak punya cara memastikan kebenaran kisah yang disampaikan kedua pejabat itu saat di penjara. “Yang pertama bicara dalam suatu perbantahan tampaknya benar, sampai orang lain datang dan menyelidiki perkaranya.” (Ams. 18:17). Setelah dijatuhi hukuman, tiap tahanan masih dapat mengajukan banding untuk membuktikan mereka tidak bersalah,
Kita mungkin punya keraguan apakah investasi kita dalam hidup orang lain pada akhirnya akan menguntungkan kita atau organisasi kita. Kita mungkin mempertanyakan karakter dan motif dari orang-orang yang kita bantu. Kita mungkin tidak setuju dengan apa yang kemudian mereka lakukan, apalagi jika sampai berdampak kepada kita. Hal-hal yang harus dipertimbangkan bisa sangat banyak dan kompleks. Dibutuhkan doa dan hikmat untuk memutuskan. Namun, haruskah semua itu melumpuhkan kita untuk melakukan kebaikan? Rasul Paulus menulis, “…selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang…” (Gal. 6:10). Jika kita memulai dengan sebuah komitmen untuk bekerja bagi Allah di atas semuanya, akan lebih mudah bagi kita untuk melangkah maju, percaya bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan orang-orang yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya” (Rom. 8:28).
Yusuf diangkat Firaun pada posisi terhormat (Kejadian 41:1-45)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiYusuf masih harus melewati dua tahun lagi sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bebas dari penderitaannya di penjara. Firaun mulai mendapat mimpi-mimpi yang menggelisahkannya dan kepala juru minum teringat akan kemampuan menafsir mimpi dari seorang pemuda Ibrani di penjara. Mimpi Firaun tentang lembu-lembu dan bulir-bulir gandum membingungkan para penasihatnya yang paling hebat. Yusuf mewartakan kehebatan Allah yang menyediakan penafsiran mimpi itu dan menegaskan bahwa ia hanyalah perantara yang menyampaikan wahyu Allah (Kej. 41:16). Di hadapan Firaun, Yusuf tidak memakai nama Allah dalam perjanjian yang eksklusif untuk umat-Nya saja. Sebaliknya, ia secara konsisten menyebut nama Allah dengan istilah yang lebih umum, yaitu elohim. Dengan begitu, Yusuf menghindari terjadinya masalah yang tidak perlu. Yang disampaikannya bisa diterima semua pihak, ini didukung dengan fakta bahwa Firaun ikut memuji Allah yang menyingkapkan kepada Yusuf arti dari mimpinya (Kej. 41:39). Di tempat kerja, adakalanya orang percaya dapat memuji Allah atas keberhasilan mereka dengan cara yang membuat orang lain tidak nyaman. Cara Yusuf mengesankan Firaun, menunjukkan bahwa memuji Allah secara publik dapat dilakukan dengan cara yang meyakinkan.
Kehadiran Allah bersama Yusuf sangat nyata hingga Firaun mengangkat Yusuf menjadi penguasa kedua setelah dirinya di Mesir, secara khusus untuk mengelola persiapan menghadapi tahun kelaparan (Kej. 41:37-45). Firman Allah kepada Abraham menjadi kenyataan: “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau … dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Seperti Yusuf, ketika kita mengakui ketidakmampuan kita untuk menghadapi tantangan yang datang dan mengakui campur tangan Allah dalam keberhasilan kita dengan cara yang tepat, kita sedang membangun pertahanan yang kuat melawan keangkuhan yang kerap muncul saat kita dipuji banyak orang.
Pengangkatan Yusuf ditandai dengan diberikannya beberapa tanda kekuasaan: sebuah cincin meterai kerajaan dan kalung emas, pakaian dari linen halus yang sepadan dengan jabatannya yang tinggi, kereta khusus, sebuah nama Mesir, dan seorang istri dari keluarga kelas atas di Mesir (Kej. 41:41-45). Sebuah situasi yang bisa sangat menggoda Yusuf untuk meninggalkan identitasnya sebagai seorang Ibrani. Allah menolong kita saat mengalami kesalahan dan kegagalan, tetapi kita mungkin perlu lebih banyak ditolong saat mengalami kesuksesan. Teks yang kita baca ini menunjukkan beberapa indikasi bagaimana Yusuf menerima promosinya dengan cara yang sesuai kehendak Allah. Ini terkait erat dengan semua yang mempersiapkan Yusuf sebelum promosi itu terjadi.
Dulu di rumah ayahnya, mimpi menjadi pemimpin yang diberikan Allah membuat Yusuf yakin bahwa Allah memilihnya dan mempunyai tujuan untuk hidupnya, Sifat alaminya adalah mempercayai orang lain. Ia tampaknya tidak menyimpan dendam kepada kakak-kakaknya yang cemburu atau kepada juru minum yang melupakannya. Sebelum dipromosikan oleh Firaun, Yusuf sudah tahu bahwa Allah menyertainya dan ia punya bukti yang jelas tentang hal itu. Berulang kali memberikan pengakuan dan pujian kepada Allah bukan saja hal yang benar untuk dilakukan, tetapi juga mengingatkan Yusuf bahwa ketrampilannya bersumber dari Allah. Yusuf adalah pribadi yang sopan dan rendah hati, ia menunjukkan kesediaan mengerjakan apa saja yang mampu ia lakukan untuk menolong Firaun dan rakyat Mesir. Bahkan ketika orang-orang Mesir kehabisan uang dan ternak, Yusuf mendapatkan kepercayaan dari orang Mesir dan Firaun (Kej. 41:55; 47:13-20). Di sepanjang sisa hidupnya sebagai seorang penguasa, Yusuf secara konsisten mendedikasikan dirinya untuk mengelola sumber daya secara efektif bagi kebaikan banyak orang.
Kisah Yusuf sampai titik ini mengingatkan kita bahwa di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa, jawaban doa dari Tuhan tidak selalu datang dengan cepat. Yusuf berusia tujuh belas tahun saat ia dijual kakak-kakaknya sebagai budak (Kej. 37:2). Ia baru dibebaskan dari penjara saat berusia tiga puluh tahun (Kej. 41:46), tiga belas tahun kemudian.
Keberhasilan Yusuf mengelola Krisis Pangan (Kejadian 41:46-57; 47:13-26)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiYusuf Menciptakan Kebijakan Jangka Panjang dan Infrastruktur di Bidang Pertanian (Kejadian 41:46-57)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSetelah pelantikannya, Yusuf segera mengerjakan tugas yang dipercayakan Firaun kepadanya. Fokusnya adalah menyelesaikan pekerjaan untuk kepentingan banyak orang, bukan mengambil keuntungan dari jabatan barunya sebagai kepala pemerintahan. Imannya kepada Allah tetap teguh. Ia memberikan anak-anaknya nama yang menyiratkan pujian kepada Allah yang telah memulihkannya dari kesukarannya dan membuatnya mendapat keturunan (Kej. 41:51-52). Ia sadar betul bahwa hikmat bijaksana yang ia miliki adalah pemberian Allah, tetapi ada banyak hal yang tetap harus ia pelajari tentang tentang tanah Mesir, terutama terkait industri pertaniannya. Sebagai penguasa tertinggi setelah Firaun, pekerjaan Yusuf menyentuh hampir semua aspek dalam kehidupan bangsa itu sehari-hari. Jabatannya mengharuskan Yusuf belajar banyak tentang hukum, komunikasi, negosiasi, transportasi, metode penyimpanan makanan yang aman dan efisien, bangunan, strategi ekonomi, perencanaan, pencatatan, pembayaran upah pekerja, perdagangan dengan sistem pembayaran uang atau barang, personalia, serta pengalihan properti. Ia tidak memisahkan karunia Allah dengan tanggung jawabnya sebagai manusia. Ia mengintegrasikan karunia yang Allah berikan dengan keahlian yang ia pelajari, dan hal tersebut membuatnya berhasil. Bagi Yusuf, belajar dan mengaplikasikan semua yang ia pelajari juga merupakan wujud pelayanannya kepada Allah.
Firaun telah menganggap Yusuf sebagai seorang yang “berakal budi dan bijaksana” (Kej. 41:39), dan karakteristik ini memampukan Yusuf untuk melakukan perencanaan strategis serta tugas-tugas kepemimpinan. “Berakal budi dan bijaksana” diterjemahkan dari bahasa Ibrani, hakham dan hokhmah, yang menunjukkan kapasitas intelegensi yang tinggi. Kedua kata ini juga dipakai untuk menunjukkan berbagai keahlian, termasuk mengukir kayu, mengasah batu permata, dan mengolah logam mulia (Kel. 31:3-5; 35:31-33), membuat pakaian (Kel. 28:3; 35:26, 35), menjadi pemimpin (Ul. 34:9; 2 Taw. 1:10), serta memutus perkara dengan adil (1 Raj. 3:28). Semua kemampuan ini juga bisa ditemukan di antara orang yang tidak percaya Tuhan, tetapi umat Tuhan yang bijaksana dalam Alkitab mendapatkan berkat khusus dari Allah yang menghendaki Israel untuk menyatakan cara hidup yang dikehendaki Tuhan kepada bangsa-bangsa lain (Ul. 4:6).
Sebagai langkah pertamanya, “Yusuf … mengelilingi seluruh tanah Mesir” (Kej. 41:46) untuk melakukan pengawasan. Ia harus mengenal dengan baik orang-orang yang mengatur pertanian di negeri itu, lokasi dan kondisi dari tanah, hasil panen, jalur dan alat transportasi yang ada. Tidak mungkin Yusuf bisa melakukan semuanya seorang diri. Ia tentunya harus membangun tim dan melatih orang-orang yang mungkin menjadi Kementrian Pertanian dan Pendapatan Negara di masa itu. Selama tujuh tahun kelimpahan, Yusuf berhasil menimbun bahan makanan di setiap kota (Kej. 41:48-49). Selama tujuh tahun kelaparan yang mengikutinya, Yusuf menjual bahan makanan kepada rakyat Mesir dan orang-orang lain yang mengalami dampak dari kelaparan dahsyat yang melanda seluruh bumi. Untuk mengelola semua hal ini di dalam Kerajaan yang diwarnai berbagai kepentingan politik, jelas dibutuhkan kemampuan yang luar biasa.
Yusuf Mengatasi Kemiskinan Bangsa Mesir (Kejadian 47:13-26)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSetelah rakyat kehabisan uang, Yusuf mengizinkan mereka menukarkan ternak mereka untuk membeli bahan makanan. Dengan sistem pembelian yang bertahan selama satu tahun ini, Yusuf mengumpulkan kuda, kawanan kambing domba, kawanan lembu, dan keledai (Kej. 47:15-17). Ia harus menentukan nilai setiap ternak dan menetapkan sistem pertukaran. Saat bahan makanan menjadi langka, orang akan berupaya mempertahankan dirinya sendiri dan orang-orang yang mereka sayangi. Menyediakan akses untuk rakyat bisa mendapatkan bahan makanan dan perlakuan yang adil adalah tugas kepemimpinan yang sangat penting pada situasi tersebut.
Saat semua ternak sudah ditukarkan, rakyat dengan sukarela menjual diri untuk menjadi hamba Firaun sekaligus menjual hak kepemilikan tanah mereka (Kej. 47:18-21). Dari sisi kepemimpinan, situasi ini tentunya membuat hati miris. Yusuf, membeli seluruh tanah orang Mesir dan menjadikan mereka hamba Firaun, tetapi ia tidak memanfaatkan ketidakberdayaan rakyat untuk kepentingannya. Ia memastikan tanah mereka dihargai dengan layak untuk ditukarkan dengan benih supaya mereka dapat menabur di tanah itu (Kej. 47:23). Ia menetapkan aturan agar rakyat mengembalikan dua puluh persen dari hasil panen kepada Firaun. Tentunya Yusuf juga harus membuat sebuah sistem pengawasan untuk memastikan rakyat menaati aturan tersebut dan menyiapkan kementrian khusus untuk mengelola hasil panen yang disetorkan rakyat. Hanya tanah dari para imam yang tidak dibeli Yusuf, karena Firaun memberikan tunjangan tetap untuk mereka. (Kej. 47:22, 26). Untuk melayani kelompok imam ini tentunya Yusuf juga harus menyiapkan sistem pembagian makanan yang dirancang khusus guna memenuhi kebutuhan mereka.
Kemiskinan dan konsekuensinya adalah realita ekonomi. Prioritas kita adalah untuk membantu meniadakan kemiskinan, tetapi kita tidak bisa meniadakan kemiskinan sama sekali sampai Kerajaan Allah digenapi. Umat percaya tidak berkuasa menyingkirkan berbagai situasi yang mengharuskan orang mengambil keputusan sulit, tetapi kita dapat menemukan cara-cara menolong mereka—atau diri kita sendiri—untuk bertahan, Memilih satu di antara dua pilihan yang tidak baik mungkin adalah hal yang perlu dikerjakan dan bisa sangat menguras emosi. Dalam pekerjaan, ada masanya kita mungkin menghadapi dilema antara empati terhadap orang miskin dan tanggung jawab untuk melakukan apa yang baik untuk organisasi dan orang-orang di tempat kita bekerja. Yusuf mengalami tuntunan Allah dalam menjalankan tugas-tugas yang sulit ini. Kita juga menerima janji Allah bahwa “Aku sekali-kali tidak akan mengabaikan engkau, dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibr. 13:5).
Berita baiknya, dengan mengaplikasikan keterampilan dan hikmat yang diberikan Allah, Yusuf berhasil membawa Mesir melewati bencana pertanian yang terjadi pada masa itu. Saat tujuh tahun kelimpahan datang, Yusuf membangun sistem logistik agar hasil panen dapat disimpan untuk cadangan makanan di musim kekeringan. Saat tujuh tahun kekeringan tiba, “Yusuf membuka gudang-gudang penyimpanan dan menyediakan cukup bahan makanan untuk memelihara bangsa Mesir melewati musim kelaparan. Strateginya yang bijak dan implementasi rencananya yang efektif bahkan memungkinkan Mesir mensuplai bahan makanan untuk negara-negara lain selama musim kelaparan itu (Kej. 41:57). Dalam kasus ini, pemenuhan janji Allah bahwa keturunan Abraham akan menjadi berkat bagi dunia, terjadi, bukan hanya untuk kebaikan bangsa asing, tetapi juga melalui aktivitas perekonomian sebuah bangsa asing, yaitu Mesir.
Bahkan, berkat Allah bagi umat Israel datang hanya setelah dan melalui berkat-Nya untuk orang-orang asing. Allah tidak membangkitkan seorang Israel di tanah Israel untuk menyediakan kebutuhan mereka di masa kelaparan. Allah justru memampukan Yusuf, bekerja di dalam dan melalui pemerintah Mesir, untuk mencukupi kebutuhan orang Israel (Kej. 47:11-12). Meski demikian, Yusuf bukanlah sosok tanpa cela. Sebagai seorang pejabat di negara yang terkadang represif, ia menjadi bagian dari struktur kekuasaan dan ia sendiri menjadikan sangat banyak orang menjadi budak Firaun (Kej. 47:21).
Pelajaran dari Pengalaman Manajemen Yusuf (Kejadian 41:46-57; 47:13-26)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKitab Kejadian menuliskan tentang bagaimana Yusuf mengatasi krisis pangan lebih untuk menunjukkan dampaknya terhadap keluarga Yakub atau Israel, bukan untuk mengajarkan prinsip-prinsip manajemen yang efektif. Meski demikian, ada pelajaran-pelajaran praktis yang dapat ditarik dari kepemimpinan Yusuf yang luar biasa untuk menjadi contoh yang bisa diikuti oleh para pemimpin di zaman ini, di antaranya:
1. Kita perlu berusaha sebaik mungkin mengenali situasi dan kondisi yang ada, berikut konteks orang-orang yang dilayani, pada saat memulai pelayanan kita.
2. Kita perlu berdoa minta hikmat untuk memahami hari esok, agar dapat membuat rencana-rencana yang bijaksana.
3. Dengar dan taati Allah lebih dahulu, maka Dia akan mengarahkan dan membuat rencana kita berhasil.
4. Terima dengan syukur dan gunakan dengan baik talenta yang telah diberikan Allah kepada kita.
5. Kehadiran Allah dan talenta khusus yang nyata terlihat dalam hidup kita, janganlah dipamer-pamerkan untuk mencari pengakuan dan penghargaan orang.
6. Latihlah diri kita sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan kita sebaik mungkin.
7. Berusahalah selalu membawa manfaat untuk orang lain, karena Allah menempatkan kita di mana kita berada sekarang untuk menjadi berkat.
8. Kita harus menjaga integritas dalam interaksi kita dengan semua orang, terutama saat situasi sulit dan penuh masalah.
9. Meski pelayanan yang luar biasa dapat membawa kita menjadi orang yang berkuasa, kita perlu mengingat misi awal kita sebagai pelayan Allah. Hidup tidak jadi bermakna dengan mencari kepentingan diri sendiri.
10. Hargai nilai-nilai yang selaras firman Allah dari beragam pekerjaan terhormat yang melayani kebutuhan masyarakat.
11. Hendaklah kita dengan murah hati membagikan manfaat dari pekerjaan kita seluas-luasnya kepada mereka yang benar-benar membutuhkannya, tanpa pandang bulu.
12. Allah dapat membawa kita ke dalam satu bidang pekerjaan tertentu yang tantangannya luar biasa sulit; ini kenyataan yang perlu diterima. Tidak berarti ada sesuatu yang salah atau orang yang mengalaminya sedang di luar kehendak Allah.
13. Beranilah mengambil tanggung jawab. Allah akan memampukan kita untuk melakukan tugas yang harus kita kerjakan.
14. Terkadang kita harus memilih mana yang lebih baik dari dua situasi yang sama-sama tidak menyenangkan tetapi tidak bisa dihindari.
15. Percayalah bahwa pekerjaan kita tidak hanya akan membawa manfaat bagi orang yang kita lihat dan jumpai, tetapi berpotensi menyentuh banyak kehidupan di generasi yang akan datang. Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan (Ef. 3:20).
Yusuf Bertemu dengan Saudara-saudaranya (Kej 42-43)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDi tengah krisis di Mesir, kakak-kakak Yusuf tiba dari Kanaan, hendak membeli makanan, karena bencana kelaparan juga menimpa negeri mereka. Mereka tidak mengenali Yusuf, dan Yusuf juga tidak memberitahukan identitasnya kepada mereka. Ia berkomunikasi dengan mereka hanya dengan bahasa bisnis. Kata “perak” (kesef) muncul duapuluh kali dalam pasal 42 sampai 45 dan kata “biji-bijian” (shever) muncul sembilan belas kali. Dalam konteks perdagangan komoditi inilah kita melihat interaksi personal yang dinamis.
Perilaku Yusuf dalam situasi ini menjadi agak licik. Pertama-tama, ia menutupi identitasnya dari saudara-saudaranya, yang—meski tidak sampai pada level penipuan terang-terangan (kata Ibrani yang dipakai adalah mirmah, sama seperti yang dipakai dalam kisah Yakub di Kej. 27:35)—jelas ia tidak sepenuhnya jujur. Kedua, ia berbicara kasar kepada saudara-saudaranya dengan tuduhan yang ia sendiri tahu tidak berdasar (Kej. 42:7, 9, 14, 16; 44:3-5). Singkatnya, Yusuf memanfaatkan kekuasaannya untuk menekan sekelompok orang yang menurutnya mungkin tidak bisa dipercaya karena apa yang dulu pernah mereka lakukan kepadanya.[18] Motifnya adalah untuk mengenali seperti apa karakter orang-orang itu sekarang. Ia telah mengalami banyak derita karena mereka selama duapuluh tahun sebelumnya dan memiliki semua alasan untuk tidak mempercayai perkataan, tindakan, dan komitmen mereka kepada keluarga.
Cara Yusuf hampir mendekati kebohongan. Ia menahan informasi penting dan memanipulasi situasi dengan berbagai cara. Yusuf berlagak seperti seorang penyidik yang melakukan interogasi intensif. Ia tidak bisa berterus terang kepada mereka untuk mendapatkan informasi yang akurat dari mereka. Konsep Alkitab untuk taktik ini adalah kecerdikan. Kecerdikan bisa dilakukan untuk hal yang baik dan yang buruk. Di satu sisi, ular adalah “binatang paling cerdik dari semua binatang liar” (Kej. 3:1), dan memakai cara-cara licik untuk maksud jahat yang menghancurkan. Kata yang digunakan dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris antara lain adalah shrewd (NLT) dan crafty (NRSV). Kata dalam bahasa Ibrani untuk kecerdikan adalah ormah dan kata turunannya yang juga bisa diterjemahkan sebagai “penilaian yang baik”, “kecerdikan”, dan “kepintaran” (Ams. 12:23; 13:16; 14:8; 22:3; 27:12), menunjukkan bahwa butuh kemampuan untuk melihat ke depan dan keterampilan untuk membuat pekerjaan Ilahi bisa dilakukan di tengah konteks yang sulit. Yesus sendiri menasihati para murid-Nya untuk “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat. 10:16). Alkitab sering memuji kecerdikan dalam upaya mewujudkan maksud yang baik (Ams. 1:4; 8:5, 12).
Kecerdikan Yusuf memiliki dampak yang diharapkan dalam menguji integritas saudara-saudaranya. Mereka mengembalikan piala perak yang diam-diam dimasukkan Yusuf ke dalam bawaan mereka (Kej. 43:20-21). Saat ia menguji mereka lebih jauh dengan menjamu saudara bungsunya, Benyamin, dengan lebih murah hati daripada yang lain, mereka menunjukkan bahwa mereka telah belajar untuk tidak saling iri hati dan memusuhi saudara sendiri seperti yang dulu mereka lakukan saat menjual Yusuf sebagai budak.
Sangatlah dangkal jika tindakan Yusuf ini membuat kita mengambil kesimpulan bahwa berada di pihak Allah berarti boleh bohong. Namun, perjalanan panjang yang telah dilalui Yusuf dalam pekerjaan dan melewati kesulitan dalam pelayanan yang Tuhan percayakan memberinya pengertian yang lebih dalam dari situasi itu lebih dari para saudaranya. Tampaknya janji bahwa Allah akan membuat mereka menjadi bangsa yang besar tidak bisa mereka lihat. Yusuf tahu bahwa bukan kekuasaannya sebagai manusia yang bisa menyelamatkan bangsanya, tetapi ia memakai otoritas dan hikmat yang diberikan Allah untuk melayani dan membantu. Ada dua faktor penting yang membedakan cara Yusuf dalam membuat keputusan dengan cara-cara yang kurang terpuji. Pertama, ia tidak mendapat keuntungan pribadi dari semua skenario itu. Ia telah menerima berkat dari Allah, dan tindakannya semata-mata hendak menjadi berkat bagi sesama. Ia bisa saja mengekploitasi situasi sulit saudara-saudaranya dan dengan kejam menetapkan harga jual tinggi, tahu bahwa mereka akan memberikan apa saja untuk bertahan hidup. Namun, ia memakai pengetahuannya untuk menyelamatkan mereka. Kedua, tindakannya diperlukan sebelum ia memberikan berkat. Jika ia langsung berterus terang dengan para saudaranya, ia tidak bisa menguji integritas mereka.
Transformasi Yehuda menjadi seorang pelayan Allah (Kejadian 44:1-45:15)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDalam episode akhir dari ujian Yusuf terhadap saudara-saudaranya, Yusuf menangkap Benyamin dalam kejahatan yang sebenarnya tidak ia lakukan dan menahan Benyamin sebagai budak untuk ganti rugi. Saat ia menyuruh saudara-saudaranya pulang kepada Yakub tanpa Benyamin (Kej. 44:17), Yehuda bangkit sebagai juru bicara. Apa yang membuatnya bangkit mengambil peran itu? Ia telah mengecewakan keluarganya dengan menikahi seorang perempuan Kanan (Kej. 38:2), membesarkan putra-putra yang begitu jahat hingga Tuhan mencabut nyawa dua anaknya (Kej. 38:7, 10), memperlakukan menantunya sebagai seorang pelacur (Kej. 38:24), dan menyusun rencana untuk menjual saudara kandungnya sendiri sebagai seorang budak (Kej. 37:27). Namun, apa yang disampaikan Yehuda kepada Yusuf menunjukkan seorang pria yang telah berubah. Ia menunjukkan kepedulian yang besar dengan menceritakan kondisi memprihatinkan keluarganya yang mengalami kelaparan, kecintaan ayahnya kepada Benyamin, dan janji Yehuda sendiri kepada ayahnya untuk membawa pulang Benyamin, agar Yakub tidak mati merana. Puncaknya, Yehuda memberi diri untuk menggantikan posisi Benyamin. Ia meminta agar ia yang ditahan di Mesir sepanjang sisa hidupnya sebagai budak sang gubernur jika sang gubernur bersedia mengizinkan Benyamin pulang ke rumah ayahnya (Kej. 44:33-34).
Melihat perubahan dalam diri Yehuda, Yusuf dapat memberkati mereka sebagaimana yang dikehendaki Allah. Ia pun berterus terang kepada mereka: “Akulah Yusuf” (Kej.45:3). Tampaknya Yusuf melihat bahwa saudara-saudaranya kini bisa dipercaya. Dalam interaksi dengan orang yang hendak mengekploitasi dan menipu kita, kita harus bertindak hati-hati, cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, seperti perintah Yesus kepada para murid (Mat. 10:16). Dalam kalimat seorang penulis, “Kepercayaan diberikan kepada orang yang bisa dipercaya.” Semua yang Yusuf rencanakan dalam interaksinya dengan saudara-saudaranya mencapai puncak, memungkinkan ia memulai hubungan yang sehat dengan mereka. Ia menenangkan saudara-saudaranya yang ketakutan dengan menunjukkan bahwa semua yang terjadi adalah pekerjaan Allah sehingga Yusuf bisa menjadi penguasa atas seluruh tanah Mesir (Kej. 45:8). Waltke menuliskan pentingnya interaksi Yusuf dengan saudara-saudaranya ini sebagai berikut:
Bagian ini menunjukkan anatomi rekonsiliasi. Ada kesetiaan terhadap sesama anggota keluarga yang membutuhkan, sekalipun orangnya tampak bersalah; memberikan kemuliaan kepada Allah dengan mengakui dosa dan menerima konsekuensinya, mengabaikan perlakuan tidak adil yang pernah diterima, rela berkorban untuk menyelamatkan orang lain, menyatakan kasih sejati dengan tindakan pengorbanan nyata yang menciptakan hubungan saling percaya, melepas kendali dan kekuatan pengetahuan demi kedekatan hubungan, melibatkan belas kasih yang dalam, perasaan yang lembut, kepekaan, pengampunan; dan komunikasi satu sama lain. Keluarga bermasalah yang mau menerapkan semua ini, akan menjadi terang bagi dunia. [19]
Allah berkuasa untuk membawa berkat-Nya kepada dunia melalui manusia yang berdosa. Namun, kita harus mau bertobat dari jalan kita yang jahat dan berbalik kepada Allah untuk diubahkan, meski tidak berarti kita bebas sama sekali dari kesalahan dan kelemahan dalam hidup di dunia ini.
Bertolak belakang dengan nilai-nilai dari masyarakat di sekitar Israel, kerelaan para pemimpin untuk berkorban demi kesalahan orang lain dimaksudkan untuk menjadi ciri khas kepemimpinan di antara umat Allah. Musa menunjukkan karakter ini saat Israel berdosa dengan anak lembu emas. Ia berdoa, “Kumohon, Tuhan! Bangsa ini telah berbuat dosa besar dengan membuat ilah dari emas bagi dirinya. Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka. Jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari kitab yang telah Kautulis.” (Kel. 32:31-32). Daud menunjukkan karakter ini saat ia melihat malaikat Tuhan menulahi bangsanya. Ia berdoa, “… domba-domba ini, apakah yang telah dilakukan mereka? Biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku” (2 Sam. 24:17). Yesus, Sang Singa dari Yehuda, menunjukkan karakter ini saat Dia berkata, “Bapa mengasihi Aku, karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku mengambilnya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri” (Yoh. 10:17-18).
Keluarga Yakub Pindah ke Mesir (Kejadian 45:16-47:12)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiYusuf dan Firaun bermurah hati memberikan saudara-saudara Yusuf apa yang terbaik di seluruh tanah Mesir” (Kej. 45:20), menyediakan transportasi dan perbekalan untuk perjalanan mereka kembali ke Kanaan. Akhir kisah yang tampaknya bahagia ini sayangnya memiliki sisi gelap. Allah menjanjikan Abraham dan keturunannya tanah Kanaan, bukan tanah Mesir. Lama setelah Yusuf meninggal, relasi Mesir dengan Israel berubah dari persahabatan menjadi perseteruan. Dari perspektif ini, bagaimana kebajikan Yusuf kepada keluarganya dapat dikaitkan dengan perannya sebagai perantara berkat Allah bagi semua kaum di muka bumi (Kej. 12:3)? Yusuf adalah seorang bijaksana yang membuat rencana untuk masa depan, mewujudkan amanah Allah untuk memberkati bangsa-bangsa pada masanya. Namun, Allah tidak membukakan kepadanya bahwa kelak akan bangkit seorang “raja baru… yang tidak mengenal Yusuf” (Kel. 1:8). Setiap generasi harus tetap setia kepada Allah dan menerima berkat Allah dalam zaman mereka. Sayangnya, keturunan Yusuf melupakan janji Allah dan meninggalkan iman mereka. Meski demikian, Allah tidak melupakan janji-Nya kepada Abraham, Ishak, Yakub, dan keturunan mereka. Di antara keturunan mereka, Allah akan membangkitkan orang-orang pilihan untuk menyalurkan berkat yang dijanjikan-Nya.
Allah Memaksudkan Semuanya untuk Kebaikan (Kejadian 50:15-21)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKata-kata penyesalan dari kakak-kakaknya telah membawa Yusuf kepada satu titik pemahaman teologis terbaik dalam hidupnya dan dalam kitab Kejadian. Yusuf minta mereka untuk tidak takut, karena ia tidak akan menuntut pembalasan atas perlakuan mereka kepadanya. “Memang kamu telah merencanakan yang jahat terhadap aku,” katanya, “tetapi Allah telah merencanakannya demi kebaikan, untuk mewujudkan apa yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup banyak orang. Jadi, janganlah takut, aku akan memelihara kamu dan anak-anakmu juga” (Kej. 50:20-21). Frasa “banyak orang” yang disebutkan Yusuf menggemakan janji Allah untuk memberkati “semua kaum di muka bumi” (Kej. 12:3). Kita yang telah menerima Perjanjian Baru hari ini dapat melihat bagaimana berkat yang Allah berikan itu jauh lebih besar dari pada yang bisa didoakan atau dibayangkan Yusuf (baca Ef. 3:20).
Pekerjaan Allah di dalam dan melalui Yusuf memiliki nilai yang nyata, praktikal, dan tidak main-main—untuk memelihara hidup banyak orang. Jika kita mendapat impresi bahwa Allah menempatkan kita di tempat kerja sekarang hanya semata-mata agar kita bisa memberitakan-Nya kepada orang lain, atau bahwa satu-satunya bagian dari pekerjaan kita yang penting bagi Allah hanyalah membangun hubungan dengan sesama, pekerjaan Yusuf menunjukkan sebaliknya. Semua bagian pekerjaan kita penting bagi Allah dan bagi sesama kita. Terkadang sulit bagi kita melihat hal ini, karena pekerjaan kita seperti kepingan kecil dari tujuan Allah yang jauh lebih besar. Yusuf melihat pekerjaannya dengan perspektif yang lebih besar, sehingga ketika harus berhadapan dengan situasi yang naik turun, ia tidak menjadi tawar hati.
Tidak berarti relasi di tempat kerja lantas menjadi kurang penting. Mungkin orang-orang Kristen punya karunia istimewa untuk melepas pengampunan bagi orang lain di tempat kerja. Jaminan Yusuf untuk memelihara kehidupan saudara-saudaranya adalah sebuah contoh tindakan nyata pengampunan. Sesuai instruksi ayahnya, Yusuf mengampuni kakak-kakaknya dan secara verbal membebaskan mereka dari rasa bersalah. Namun, pengampunannya—sama seperti semua pengampunan sejati—tidak hanya sebatas perkataan. Yusuf memakai sumber daya Mesir yang berlimpah, yang Allah tempatkan di bawah kekuasaannya, untuk memenuhi kebutuhan saudara-saudaranya, agar mereka dapat hidup berkelimpahan. Ia mengakui bahwa penghakiman bukanlah bagiannya. “Apakah Aku ini Allah?” (Kej. 50:19). Ia tidak merebut peran Allah sebagai hakim, tetapi membantu saudara-saudaranya untuk berelasi dengan Allah yang telah menyelamatkan mereka.
Yusuf memiliki hubungan keluarga dengan saudara-saudaranya, sekaligus hubungan secara ekonomi. Tidak ada batas yang jelas di antara keduanya, pengampunan dapat diterapkan dalam dua konteks hubungan ini. Kita mungkin pernah berpikir bahwa nilai-nilai religius yang paling kita hargai utamanya hanya untuk diterapkan dalam lingkungan rohani seperti gereja. Padahal, sebagian besar dari kita bekerja di luar gereja dan kita harus menerima kenyataan bahwa tidak semua orang memiliki iman Kristen seperti kita. Membuat pemisahan antara yang “rohani” dan “sekuler” bukanlah cara hidup yang selaras dengan perspektif Alkitab. Sebab itu, pengampunan adalah praktik yang sudah sewajarnya diterapkan juga di tempat kerja.
Selalu akan ada banyak luka dan kesulitan dalam hidup. Tidak ada perusahaan atau organisasi yang kebal dari hal-hal itu. Adalah naif untuk menganggap tidak ada orang yang secara sengaja menyakiti orang lain lewat perkataan atau perbuatan mereka. Sama seperti Yusuf, kita bisa mengakui kenyataan bahwa ada orang yang memang merencanakan hal jahat kepada kita. Namun, dalam kenyataan tersebut, Yusuf mengingat kebenaran yang lebih besar tentang kehendak Allah untuk kebaikan. Mengingat kebenaran yang sama saat kita merasa tersakiti menolong kita untuk mampu menanggung rasa sakit dan untuk lebih memahami penderitaan Kristus.
Yusuf memandang dirinya sebagai wakil Allah yang memiliki peran penting untuk menyatakan pekerjaan Allah kepada umat-Nya. Ia menyadari kejahatan yang bisa dilakukan manusia dan menerima bahwa terkadang musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Ia tahu kisah-kisah dalam keluarganya: ada iman, ada juga keraguan; ada kesetiaan melayani, ada pula hasrat mementingkan diri sendiri; ada kebenaran dan ada juga kebohongan. Ia pun tahu janji-janji Allah kepada Abraham, komitmen Allah untuk memberkati keluarga keturunan Abraham, dan kebijaksanaan Allah yang bekerja bersama umat-Nya sembari memurnikan mereka melalui api ujian hidup. Yusuf tidak menutupi dosa-dosa mereka, semua itu ia serap ke dalam kesadarannya tentang pekerjaan besar Allah. Kesadaran kita tentang janji Allah yang pasti digenapi, pasti memelihara, dan pasti terjadi, membuat semua jerih lelah kita, sebesar apa pun, terbayar.
Dari begitu banyak pelajaran tentang pekerjaan di dalam kitab Kejadian, satu pelajaran ini terus relevan dan bahkan menjelaskan tentang penebusan—penyaliban Allah yang mulia (1 Kor. 2:8-10). Di tempat kita bekerja, nilai-nilai dan karakter kita terlihat jelas ketika kita membuat keputusan-keputusan yang mempengaruhi diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Dalam kuasa dan hikmat-Nya, Allah dapat bekerja dengan kesetiaan kita, memperbaiki kelemahan kita dan memakai kesalahan kita untuk mencapai apa yang telah Dia sediakan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya.
Kesimpulan dari Kejadian 12-50
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKejadian 12-50 menceritakan tentang tiga generasi pertama dari keluarga yang dipilih Allah untuk memberkati seluruh dunia. Tidak memiliki kuasa, jabatan, kekayaan, ketenaran, kemampuan, atau moral yang superior, mereka menerima panggilan untuk percaya pada pemeliharaan Allah, percaya bahwa Dia akan menggenapi visi besar yang Dia berikan bagi mereka. Sayangnya, meski Allah terbukti setia dalam segala hal, kesetiaan mereka masih kerap goyah. Mereka terbukti disfungsional seperti kebanyakan keluarga, tetapi mereka tidak dibuang, atau setidaknya tetap kembali kepada benih iman yang telah ditanamkan Allah dalam mereka. Bekerja di tengah dunia yang sudah jatuh dalam dosa, dikelilingi oleh orang-orang dan kekuasaan yang memusuhi mereka, dengan iman mereka “sambil memandang jauh ke depan, … memberikan berkatnya” (Ibr. 11:20) dan hidup menurut janji Allah. “Sebab itu, Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka” (Ibr. 11:16), kota tempat kita juga kelak akan bekerja sebagai para pengikut “Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham” (Mat. 1:1).
Ayat dan Tema Kunci dalam Kejadian 12-50
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiAyat | Tema |
Kejadian12:1-4a Berfirmanlah TUHAN kepada Abram, “Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu, dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, memberkati engkau, serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. | Berkat Allah tidak dibatasi untuk menguntungkan satu orang. Tujuannya adalah memampukan umat -Nya untuk menjadi berkat bagi orang lain. Iman yang sehat menurut Alkitab itu bukan sekadar perasaan; tetapi respons aktif terhadap firman Tuhan. |
Kejadian 13:2 Abram sangat kaya, memiliki banyak ternak, perak, dan emas. | Kekayaan tidak selalu merupakan tanda perkenan Allah atau upah atas kebaikan moral kita. Saat Allah memberikan kekayaan, kita patut memikirkan bagaimana menggunakan pemberian itu untuk memberkati sesama. |
Kejadian 13:8-9 Berkatalah Abram kepada Lot, “Janganlah kiranya ada pertengkaran antara aku dan engkau, dan antara gembalaku dan gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini ada di hadapanmu? Baiklah engkau memisahkan diri dariku. Jika engkau ke kiri, aku ke kanan; jika engkau ke kanan, aku ke kiri.” | Kemurahan hati dapat melampaui memberikan milik kita secara cuma-cuma. Memberikan orang lain peran aktif dalam mengambil keputusan menunjukkan sikap hormat kita kepada mereka sekaligus keyakinan kita pada pemeliharaan Allah atas kita. |
Kejadian 14:22-23 Tetapi kata Abram kepada raja Sodom itu, “Aku bersumpah demi TUHAN, Allah Yang Maha Tinggi, Pencipta langit dan bumi: Aku tidak akan mengambil apa pun dari semua milikmu itu, seutas benang atau tali kasut pun tidak, supaya engkau tidak dapat berkata: Aku telah membuat Abram menjadi kaya.’” | Untuk menghindari kemungkinan orang menuduh kita berutang budi kepada mereka, orang percaya mungkin harus rela menolak apa yang menjadi hak mereka, demi tercapainya tujuan-tujuan Allah melalui mereka. |
Kejadian 15:1 Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan, “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” | Percaya kepada komitmen Allah terhadap perjanjian-Nya bagi kita adalah penawar ampuh untuk menghilangkan rasa takut dan ketidakpastian kita. |
Kejadian 18:3-5 Abraham berkata, “Tuanku, jika aku mendapat kemurahan hati Tuanku, janganlah kiranya berlalu dari hambamu ini. Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan beristirahatlah di bawah pohon ini. Aku akan mengambil sepotong roti supaya Tuan-tuan segar kembali, kemudian Tuan-tuan boleh meneruskan perjalanan. Sebab, untuk itulah Tuan-tuan telah datang di tempat hambamu ini.” | Ada harga yang harus dibayar untuk menunjukkan keramahtamahan, tetapi hal itu memberikan kita konteks untuk membangun hubungan dan mengundang kehadiran Allah. |
Kejadian 18:19 Sebab, Aku [TUHAN] telah memilih dia [Abraham], supaya ia memerintahkan anak-anaknya dan keturunannya untuk tetap mengikuti jalan TUHAN dengan melakukan kebenaran dan keadilan; juga supaya TUHAN memberi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” | Mengikuti cara Allah menuntut iman yang dinyatakan di depan sesama manusia. Sebagai orang percaya, kita secara aktif bekerja menyatakan yang benar dan adil, untuk saat ini dan untuk generasi selanjutnya. |
Kejadian 23:16 Abraham mendengarkan usul Efron. Ia menimbang perak untuk Efron, sebanyak yang dimintanya di hadapan bani Het, empat ratus syikal perak, seperti yang berlaku di antara para saudagar. | Orang percaya dapat memilih untuk menghormati Allah dengan bekerja sebaik mungkin, tidak mengikuti kebiasaan atau tradisi yang keliru. |
Kejadian 24:12 Berkatalah ia, “TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya aku berhasil hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham.” | Orang percaya yang diberi tanggung jawab melayani orang-orang yang mengutus mereka dengan bergantung pada kuasa Allah dan bekerja untuk kemuliaan Allah. |
Kejadian 32:26 Sahut Yakub, “aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” | Banyak orang menghalalkan segala cara untuk meraih keinginan mereka. Berlawanan dengan itu, orang percaya menyadari bahwa berkat Allah merupakan hadiah, karunia, anugerah, yang akan diterima pada waktu-Nya. |
Kejadian 33:10 Sahut Yakub, “Janganlah kiranya demikian. Jika aku mendapat kemurahan hatimu, terimalah pemberianku ini dari tanganku, karena melihat wajahmu saja bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkau berkenan kepadaku …” | Pekerjaan rekonsiliasi mungkin paling sulit dilakukan dengan orang-orang terdekat kita, tetapi karena kita memiliki Sang Sumber Damai, yaitu Kristus, kita dapat mempromosikan rekonsiliasi ke seluruh dunia. |
Kejadian 37:5 Suatu kali Yusuf bermimpi, lalu ia menceritakan mimpinya itu kepada saudara-saudaranya. Itulah sebabnya mereka semakin membencinya. | Kecemburuan, iri hati, dan fitnah adalah musuh yang menakutkan. Tetapi Allah memanggil umat-Nya untuk bersabar dan memiliki iman yang aktif menantikan apa yang sudah dijanjikan Tuhan dalam firman-Nya. |
Kejadian 39:3-4 Tuannyamelihat bahwa TUHAN menyertai dia dan bahwa apa pun yang dikerjakannya, TUHAN membuatnya berhasil. Yusuf mendapat kemurahan tuannya dan menjadi pelayannya. Yusuf pun diberinya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkan ke dalam tangan Yusuf. Kejadian 41:39-40 Kata Firaun kepada Yusuf, “Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidak ada seorang pun yang begitu berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Engkaulah yang menjadi pemegang kuasa atas istanaku, dan seluruh rakyatku akan diatur oleh perintahmu. Hanya takhta inilah kelebihanku daripadamu.” | Mengetahui bahwa Allah telah menempatkan orang-orang percaya di mana Dia mau mereka berada, memampukan orang percaya melayani dengan setia, terlepas ada tidaknya pengaruh dan ketenaran yang mungkin diperolehnya dengan pekerjaan itu. |
Kejadian 39:8-9 Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada istri tuannya itu, “Dengan kehadiranku tuanku tidak perlu lagi memusingkan apa pun yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya ke tanganku. Bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar daripadaku, dan tidak ada yang tidak diserahkannya kepadaku kecuali engkau, sebab engkau istrinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” | Umat Allah memiliki tanggung jawab ganda: bekerja langsung kepada atasan manusia dan utamanya bertanggung jawab kepada Allah. Kehidupan yang saleh tidak menjamin umat Allah akan selalu terluput dari perlakuan yang tidak adil. |
Kejadian 41:16 Sahut Yusuf kepada Firaun, “Bukan aku, melainkan Allah yang akan memberitakan kesejahteraan kepada Tuanku Firaun.” | Umat Allah sepatutnya memuji Allah atas keterampilan yang mereka miliki, tetapi juga harus bijak melakukannya di tempat kerja, mengingat tidak semua orang di sana memiliki iman yang sama. |
Kejadian 44:32 Tetapi, hambamu ini telah menjadi jaminan bagi anak itu di hadapan ayahku dengan mengatakan: Jika aku tidak membawadia kembali kepadamu, aku berdosa kepadamu, Ayahku, seumur hidupku. | Dalam situasi yang ekstrem, seorang pemimpin yang saleh mungkin harus membuat pengorbanan pribadi yang mahal untuk menepati janjinya dan untuk melindungi yang lemah. |
Kejadian 50:20 [Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya) Memang kamu telah merencanakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merencanakannya demi kebaikan, untuk mewujudkan apa yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup banyak orang. | Saat pengampunan menjadi cara hidup, jauh lebih mudah untuk memaafkan orang yang bersalah kepada kita dan melihat kebaikan rencana Allah dalam jangka panjang. |