Bootstrap

Abraham (Kejadian 12:1-25:11)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
2740898

Kesetiaan Abraham dan ketidaksetiaan Babel (Kejadian 12:1-3)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kejadian 12 diawali dengan sebuah kovenan, perjanjian khusus Allah yang memanggil Abraham untuk melayani-Nya dengan setia. Dengan meninggalkan wilayah tempat tinggal keluarga besarnya yang tidak beriman kepada Allah dan mengikuti panggilan Allah, Abraham membedakan dirinya secara tegas dari kaum kerabatnya yang tinggal di Mesopotamia dan pernah berupaya membangun Menara Babel, sebagaimana diceritakan di akhir Kejadian 11. Perbandingan antara keluarga Abraham di pasal 12 dengan keturunan Nuh lainnya di pasal 11 menyoroti lima perbedaan.

Pertama, Abraham menaruh imannya di dalam tuntunan Allah, bukan pada sarana yang dibangun manusia. Sebaliknya, para pembangun menara Babel percaya bahwa dengan keterampilan dan kecerdasan mereka sendiri, mereka dapat membangun sebuah menara yang “puncaknya sampai ke langit.” (Kej. 11:4). Mereka hendak mencari pengakuan dan rasa aman dengan cara yang mengambil alih otoritas Allah. [1]

Kedua, para pembangun menara berusaha memashyurkan nama mereka sendiri (Kej. 11:4), tetapi Abraham mempercayai janji Allah bahwa Allah sendiri yang akan membuat nama Abraham masyhur (Kej. 12:2). Perbedaannya bukan pada keinginan untuk meraih kemashyuran itu sendiri, melainkan pada keinginan mencari kemashyuran menurut standar manusia. Allah benar-benar membuat nama Abraham masyhur, bukan untuk kepentingan Abraham, tetapi supaya “semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Para pembangun menara berusaha memashyurkan nama mereka sendiri, tetapi sampai hari ini nama mereka tidak pernah dikenal.

Ketiga, Abraham bersedia pergi ke mana pun Allah memimpinnya, sementara para pembangun menara berupaya berkumpul di tempat yang mereka anggap nyaman. Mereka membuat proyek pembangunan menara itu karena mereka takut terserak ke seluruh bumi (Kej. 11:4). Dengan bersikap demikian, mereka menolak tujuan Allah yang menghendaki umat manusia “memenuhi bumi” (Kej. 1:28). Mereka sepertinya takut menghadapi kesulitan jika mereka sampai terserak di dunia yang jelas tidak bersahabat. Mereka kreatif dan teknologi mereka berkembang (Kej. 11:3), tetapi mereka tidak bersedia menerima tujuan Allah sepenuhnya untuk mereka “beranak cucu dan bertambah banyak” (Kej. 1:28). Ketakutan mereka untuk mengelola ciptaan sepenuhnya bertemu dengan keputusan mereka mengandalkan kecerdasan manusia menggantikan tuntunan dan anugerah Allah. Saat kita berhenti mengejar tujuan yang melampaui kemampuan kita, maka aspirasi kita menjadi tidak berarti.

Sebagai kontras, Allah membuat Abraham menjadi seorang pengusaha sejati, selalu bergerak memulai usaha yang baru di lokasi yang baru. Allah memanggilnya keluar dari kota Haran menuju tanah Kanaan, dan Abraham tidak pernah diam lama di satu tempat. Ia dikenal sebagai seorang “pengembara Aram” (Ul. 26:5). Secara alami, Abraham dibentuk untuk hidup berpusat kepada Allah, karena ia harus bergantung pada perkataan dan pimpinan Allah untuk dapat menemukan makna, merasa aman, dan berhasil. Ibrani 11:8, menulis tentang bagaimana Abraham harus “berangkat tanpa mengetahui tempat yang ditujunya.” Dalam dunia kerja, orang percaya harus memahami perbedaan antara kedua orientasi dasar ini. Semua pekerjaan meliputi proses perencanaan dan pembangunan. Pekerjaan yang tidak berorientasi kepada Allah berangkat dari keinginan untuk mandiri, tidak bergantung pada pihak lain dan membatasi diri untuk sekadar menguntungkan diri sendiri serta orang-orang dekat kita. Pekerjaan yang berorientasi kepada Allah berangkat dari kesediaan untuk bergantung pada pimpinan dan otoritas Allah, serta memiliki hasrat untuk tumbuh besar menjadi berkat untuk dunia.

Keempat, Abraham bersedia mengikuti tuntunan Allah ke dalam hubungan-hubungan yang baru. Sementara para pembangun menara berusaha memagari diri mereka di dalam benteng yang dijaga, Abraham mempercayai janji Allah bahwa keluarganya akan menjadi sebuah bangsa yang besar (Kej. 12:2; 15:5). Meski mereka tinggal di antara orang-orang asing di tanah Kanaan (Kej. 17:8), mereka memiliki hubungan yang baik dengan semua orang yang berinteraksi dengan mereka (Kej. 21:22-34; 23:1-12). Inilah anugerah komunitas. Satu tema kunci muncul dalam teologi kerja di sini: Allah merancang agar manusia bekerja dalam jejaring relasi yang sehat.

Pada akhirnya, Abraham diberkati dengan kesabaran untuk melihat jauh ke depan. Janji Allah akan digenapi pada zaman keturunan Abraham, bukan pada zaman Abraham sendiri. Rasul Paulus menafsirkan “keturunan” di sini adalah Yesus (Gal. 3:19), berarti bahwa penggenapan janji itu adalah lebih dari seribu tahun di masa depan. Bahkan, janji kepada Abraham baru benar-benar akan dipenuhi secara sempurna saat kedatangan Yesus Kristus kembali (Mat. 24:30-31). Pemenuhan janji ini tidak bisa hanya diukur dengan laporan per kuartal! Para pembangun menara, sebagai perbandingan, tidak memikirkan bagaimana proyek mereka akan berdampak kepada generasi berikutnya, dan Allah mengkritik mereka secara terbuka untuk sikap mereka yang keliru (Kej. 11:6).

Ringkasnya, Allah menjanjikan kemasyhuran, keberhasilan, dan relasi yang baik, semua yang dibutuhkan untuk Abraham dan keluarganya bisa memberkati seluruh dunia, juga berkat-berkat tak terbayangkan bagi mereka sendiri pada waktu yang tepat (Kej. 22:17). Abraham menyadari bahwa upaya untuk meraih semua itu dengan kekuatannya sendiri akan sia-sia. Sebaliknya, ia mempercayai Allah dan bergantung setiap hari pada tuntunan dan pemeliharaan-Nya (Kej. 22:8-14). Meski tidak semuanya digenapi di akhir kitab Kejadian, perjanjian antara Allah dan umat-Nya telah dimulai, dan melaluinya penebusan dunia akan digenapi pada hari Kristus (Flp. 1:10).

Allah menjanjikan tanah yang baru kepada keluarga Abraham. Mendayagunakan tanah itu membutuhkan berbagai jenis pekerjaan, jadi hadiah berupa sebuah tanah menegaskan bahwa pekerjaan merupakan sesuatu yang penting dan diperhatikan Allah secara khusus. Mengerjakan tanah itu membutuhkan berbagai ketrampilan kerja seperti kemampuan menggembalakan, membuat tenda, menggunakan senjata untuk melindungi diri, dan memproduksi berbagai macam barang dan jasa. Selain itu, keturunan Abraham akan menjadi sebuah bangsa yang besar, yang jumlahnya tidak terhitung seperti banyaknya bintang di langit. Peningkatan populasi ini membutuhkan pekerjaan membangun relasi antar individu, mengasuh anak, politik, diplomasi dan administrasi, pendidikan, seni menyembuhkan, dan berbagai pekerjaan sosial lainnya. Untuk membawa berkat yang demikian besar kepada seluruh bumi, Allah memanggil Abraham dan keturunannya “hidup di hadapan-Ku dengan tidak bercela.” (Kej. 17:1). Ini membutuhkan pekerjaan menyelenggarakan ibadah, mempersembahkan korban pendamaian, pembinaan, dan berbagai pekerjaan rohani lainnya. Pekerjaan Yusuf adalah untuk menciptakan solusi atas dampak kelaparan, dan adakalanya pekerjaan kita adalah untuk menyembuhkan apa yang rusak di dunia ini. Semua jenis pekerjaan tersebut, dan semua pekerja yang terlibat di dalamnya, melakukannya di bawah otoritas, tuntunan, dan pemeliharaan Allah.

Gaya Hidup Abraham dan Keluarganya sebagai Penggembala (Kejadian 12:4-7)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Saat Abraham meninggalkan rumahnya di Haran dan berangkat ke tanah Kanaan, keluarganya mungkin sudah cukup besar untuk ukuran dunia modern. Kita tahu bahwa istrinya Sara dan keponakannya Lot ikut bersamanya, demikian juga sejumlah besar orang dan harta miliknya (Kej. 12:5). Kekayaannya terus bertambah dalam perjalanan, baik jumlah pelayannya, ternak, maupun perak dan emas (Kej. 12:16; 13:2). Para pelayan dan ternak diterimanya dari Firaun saat tinggal di Mesir, sedangkan logam-logam mulia mungkin adalah hasil transaksi perdagangannya─semua menunjukkan bahwa Allah memberkati Abraham.[1] Bukti kesuksesan Abraham dan Lot dapat dilihat saat terjadi pertengkaran antara para gembala mereka terkait lahan yang sudah tidak cukup lagi sebagai tempat merumput dari sedemikian banyak hewan ternak milik mereka. Kedua keluarga itu akhirnya harus berpisah agar bisnis mereka masing-masing bisa berlanjut (Kej. 13:11).

Studi antropologi tentang zaman dan daerah ini mengindikasikan bahwa kedua keluarga dalam narasi ini menjalankan usaha penggembalaan semi nomaden sekaligus bisnis peternakan (Kej. 13:5-12; 21:25-34; 26:17-33; 29:1-10; 37:12-17).[2] Keluarga-keluarga ini akan berpindah pada musim-musim tertentu, sehingga mereka tinggal di dalam tenda dari kulit, serat tenun, dan wol. Mereka memiliki harta benda yang bisa dibawa dengan keledai-keledai, atau jika mereka cukup kaya, dibawa juga oleh unta-unta. Menemukan keseimbangan antara ketersediaan optimal ladang rumput untuk penggembalaan dan air, membutuhkan kecermatan penilaian dan pengetahuan yang dalam tentang cuaca dan geografi. Pada bulan-bulan dengan curah hujan lebih banyak, dari Oktober sampai Maret, mereka membawa ternaknya merumput di dataran yang lebih rendah. Sedangkan pada bulan-bulan yang lebih hangat dan kering, April sampai September, para gembala akan membawa kawanan ternak mereka ke tempat yang lebih tinggi untuk mendapatkan lahan yang lebih hijau dan mata air yang mengalir.[3] Karena satu keluarga tidak bisa sepenuhnya disokong dengan penggembalaan, diperlukan praktik pertanian lokal dan perdagangan dengan masyarakat sekitar yang tinggalnya lebih menetap.[4]

Penggembalaan nomad memelihara kambing domba untuk mendapatkan susu dan daging, (Kej. 18:7-8; 27:9; 31:38), wol, dan barang lain yang dibuat dari hewan, seperti kulit. Keledai pembawa beban (Kej. 42:26), dan unta-unta, adalah kendaraan yang sesuai untuk perjalanan jauh (Kej. 24:10, 64; 31:17). Untuk memelihara kawanan ternak tentunya dibutuhkan keterampilan memberi makan dan minum hewan, membantu hewan ternak yang akan melahirkan, merawat hewan yang sakit dan terluka, melindungi hewan dari pemangsa dan pencuri, serta menemukan hewan yang terhilang.

Cuaca yang berubah-ubah dan pertumbuhan populasi ternak tentunya akan berdampak bagi perekonomian daerah tersebut. Kelompok-kelompok gembala yang lebih lemah bisa dengan mudah digantikan atau berasimilasi demi kepentingan mereka yang membutuhkan tambahan wilayah untuk memperluas usaha mereka. [5] Keuntungan dari menggembalakan tidak disimpan sebagai akumulasi tabungan atau investasi dari pemilik dan pengelola, tetapi dibagikan di antara semua anggota keluarga. Dengan prinsip yang sama, dampak dari kesusahan akibat kondisi kelaparan tentunya dirasakan oleh semua orang. Meski setiap orang punya tanggung jawab masing-masing dan harus siap dengan konsekuensi dari tindakan mereka, natur komunal dari bisnis keluarga secara umum berbeda dengan budaya kontemporer kita yang mementingkan pencapaian pribadi dan ekspektasi untuk keuntungan yang terus meningkat. Tanggung jawab sosial menjadi urusan sehari-hari yang wajib dilakukan, bukan sebuah pilihan.

Dalam cara hidup yang demikian, memiliki nilai-nilai yang dipegang bersama sangat penting untuk bertahan hidup. Saling ketergantungan antara anggota-anggota keluarga atau suku, serta kesadaran tentang nenek moyang mereka yang sama, tentunya menghasilkan solidaritas yang besar, sekaligus dendam dan permusuhan terhadap siapa pun yang hendak merusaknya (Kej. 34:25-31).[6] Para pemimpin harus tahu bagaimana caranya mendapatkan masukan bijak dari anggota kelompok untuk bisa membuat keputusan yang baik terkait ke mana mereka harus pergi, tinggal, dan bagaimana membagi ternak yang ada.[7] Mereka harus tahu cara berkomunikasi dengan para gembala yang membawa kawanan ternak mereka pergi merumput agak jauh (Kej. 37:12-14). Keterampilan mengatasi konflik juga wajib dimiliki untuk membereskan perselisihan yang pasti ada terkait tanah penggembalaan dan sumber air yang ada (Kej. 26:19-22). Kehidupan yang berpindah-pindah dan kerentanan menghadapi perampok membuat keramahtamahan pada zaman itu lebih dari sekadar basa-basi. Sudah menjadi norma umum untuk orang yang berada menawarkan makanan, minuman, dan penginapan.[8]

Narasi patriarki berulangkali menyebutkan kekayaan besar yang dimiliki Abraham, Ishak, dan Yakub (Kej. 13:2; 26:13; 31:1). Menggembalakan dan beternak hewan merupakan pekerjaan yang terhormat dan bisa sangat menguntungkan pada masa itu, sehingga keluarga Abraham menjadi kaya raya. Sebagai contoh, untuk melembutkan hati kakaknya Esau, sebelum bertemu, Yakub mengirimkan hadiah dari milik kepunyaannya setidaknya 550 ekor hewan: 200 kambing betina dan 20 kambing jantan, 200 domba betina dan 20 domba jantan, 30 unta yang sedang menyusui beserta anak-anaknya, 40 lembu betina dan 10 lembu jantan, 20 keledai betina dan 10 keledai jantan (Kej. 32:13-15). Sebab itu sangatlah relevan jika pada akhir hidupnya, saat Yakub akan memberkati anak-anak lelakinya, ia memberi kesaksian bahwa Allah dari ayahnya telah menjadi “gembalaku selama hidupku sampai sekarang” (Kej. 48:15). Meskipun banyak bagian Alkitab mengingatkan bahwa kekayaan kerap dapat membuat kesetiaan orang berubah (misalnya: Yer. 17:11, Hab. 2:5, Mat. 6:24), pengalaman Abraham menunjukkan bahwa kesetiaan Allah juga dapat diekspresikan dalam kemakmuran. Tentunya ini tidak berarti bahwa Allah menjanjikan umat-Nya pasti akan kaya raya terus-menerus.

Perjalanan Abraham dimulai dengan Bencana di Mesir (Kejadian 12:8-13:2)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Awalnya, perjalanan Abraham tidak menunjukkan hasil-hasil yang baik. Ada kompetisi yang sengit untuk memperebutkan tanah (Kej. 12:6), dan Abraham menghabiskan waktu yang cukup panjang untuk berusaha menemukan sebuah lokasi yang bisa dikuasainya (Kej. 12:8-9). Kondisi ekonomi yang menurun akhirnya memaksa Abraham dan keluarganya untuk pindah ke Mesir, ratusan kilometer jauhnya dari tanah yang dijanjikan Allah (Kej. 12:10).

Sebagai seorang migran yang ingin meningkatkan taraf hidupnya ke Mesir, posisi Abraham yang rentan membuatnya serba takut. Ia takut bahwa orang Mesir bisa membunuhnya untuk merebut Sara, istrinya yang cantik. Sebagai langkah antisipasi, Abraham meminta Sara mengaku sebagai adiknya, bukan istrinya. Sesuai prediksi Abraham, benar ada orang Mesir—dan itu adalah Firaun sendiri—yang menginginkan Sara, dan Sara pun “dibawa ke istana Firaun” (Kej. 12:15). Akibatnya, “TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun dan seisi istananya” (Kej. 12:17). Saat Firaun menemukan penyebab tulah yang hebat itu—bahwa ia telah merebut istri orang lain—ia mengembalikan Sara kepada Abraham dan minta mereka segera meninggalkan negerinya (Kej. 12:18-19). Meski demikian, Firaun membekali mereka dengan kambing domba, lembu, keledai jantan dan betina, budak laki-laki dan perempuan, juga unta-unta (Kej 12:16), perak dan emas (Kej. 13:2), menunjukkan bagaimana Abraham menjadi sangat kaya (Kej. 13:2) karena adanya hadiah dari istana.[1]

Insiden ini secara dramatis menunjukkan dilema moral dan bahaya lunturnya iman ketika terjadi kesenjangan sosial antara kaya dan miskin yang demikian besar. Abraham dan Sara saat itu sedang berusaha menghindari kelaparan. Mungkin sulit membayangkan menjadi orang yang sangat miskin atau hidup dalam keluarga yang menyerahkan istri atau anak perempuannya berhubungan seksual dengan orang lain demi bertahan secara ekonomi, tetapi sampai hari ini pun ada jutaan orang menghadapi pilihan berat ini. Firaun menegur sikap Abraham dengan keras, tetapi kita melihat Allah menanggapi insiden serupa (Kej. 20:7, 17) dengan belas kasihan dan bukan penghakiman.

Di sisi lain, Abraham telah menerima janji Allah secara langsung, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar” (Kej. 12:2). Apakah iman Abraham kepada Allah dan janji-janji-Nya telah luntur dengan cepat? Apakah desakan untuk bertahan hidup memang mengharuskan ia berbohong dan membiarkan istrinya menjadi istri orang lain, atau sebenarnya ada jalan keluar lain yang disediakan Allah? Ketakutan Abraham sepertinya telah membuat ia lupa akan kesetiaan Allah. Demikian pula, orang-orang dalam situasi sulit kerap yakin bahwa mereka tidak punya pilihan selain melakukan sesuatu yang mereka tahu salah. Namun, terlepas dari apa yang kita rasakan, menghadapi pilihan-pilihan yang tidak menyenangkan itu berbeda dengan tidak punya pilihan sama sekali.

Abraham dan Lot Berpisah: Kemurahan Hati Abraham (Kejadian 13:3-18)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Saat Abraham dan keluarganya kembali memasuki Kanaan dan sampai dekat Betel, terjadi gesekan antara para gembala Abraham dan para gembala Lot. Abraham harus membuat pilihan karena daerah itu tidak cukup untuk mereka tinggali bersama. Perpisahan tidak dapat dihindari, dan Abraham mengambil risiko memberikan Lot kesempatan memilih lebih dulu daerah untuk ia tinggali. Wilayah perbukitan Kanaan adalah daerah berbatu yang tidak banyak memiliki area hijau untuk hewan-hewan bisa merumput. Pandangan Lot tertuju ke timur, ke wilayah Lembah Yordan yang menurutnya “seperti taman TUHAN”, dan ia pun memilih wilayah yang lebih baik ini (Kej. 13:10). Iman Abraham kepada Allah membebaskannya dari kekhawatiran untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Terlepas dari bagaimana keduanya kemudian sama-sama menjadi kaya-raya, fakta bahwa Abraham memberi Lot kesempatan memilih lebih dulu menunjukkan kemurahan hati dan adanya hubungan saling percaya antara Abraham dan Lot.

Kemurahan hati adalah karakteristik yang positif, baik dalam hubungan pribadi maupun bisnis. Mungkin tidak ada hal lain yang dapat membangun relasi yang baik dan saling percaya sekuat kemurahan hati. Rekan kerja, pelanggan, penyuplai, bahkan pihak lawan pun menanggapi kemurahan hati dengan sangat baik dan mengingat hal itu untuk waktu yang lama. Saat Zakheus, pemungut cukai, menyambut Yesus ke rumahnya dan berjanji untuk memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat jika ada orang yang telah diperasnya, Yesus menyebutnya sebagai “anak Abraham” melihat kemurahan hati dan buah pertobatannya (Lukas 19:9). Tindakan Zakheus sendiri adalah sebuah tanggapan atas kemurahan hati Yesus, yang tanpa disangka dan di luar kebiasaan orang zaman itu, membuka hati-Nya kepada seorang pemungut cukai yang dibenci masyarakat.

Keramahan Abraham dan Sara (Kejadian 18:1-15)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kisah keramahtamahan dan kemurahan hati Abraham dan Sara menyambut tiga tamu yang datang kepada mereka di dekat pohon tarbantin milik Mamre dikisahkan dalam Kejadian 18. Kehidupan yang semi nomaden di negeri itu kerap membawa orang dari berbagai latar belakang keluarga untuk saling mengenal satu sama lain, dan sebagai sebuah kawasan yang menjembatani wilayah Asia dan Afrika, tanah Kanaan menjadi rute perdagangan yang populer. Belum adanya industri perhotelan yang formal pada saat itu membuat penduduk setempat, baik yang tinggal di kota maupun di tenda-tenda, memiliki kewajiban sosial untuk menyambut orang asing. Dari deskripsi Perjanjian Lama dan berbagai teks kuno lainnya di Timur Dekat, Matius menuliskan tujuh etika perilaku yang mendefinisikan bagaimana seharusnya keramahtamahan ditunjukkan untuk menjaga kehormatan pribadi, keluarga, dan masyarakat, dengan menerima dan memberikan perlindungan kepada orang asing.[1] Di sekitar satu wilayah tempat tinggal ada zona tertentu yang menjadi zona wajib untuk pemilik tempat tinggal dan masyarakat sekitarnya menunjukkan keramahtamahan.

1. Dalam zona ini, penduduk desa bertanggung jawab menawarkan tumpangan kepada orang asing.

2. Orang asing tersebut harus tidak lagi dianggap sebagai ancaman tetapi sebagai sekutu dengan diberi tumpangan dan perlindungan.

3. Hanya laki-laki yang menjadi kepala rumah tangga atau warga laki-laki setempat yang bisa menawarkan tumpangan bagi seorang asing.

4. Tawaran itu dapat meliputi undangan menginap untuk periode waktu tertentu, dan bisa diperpanjang sesuai kesepakatan kedua belah pihak dengan undangan yang diperbarui.

5. Orang asing itu berhak untuk menolak, tetapi penolakannya dapat dianggap sebagai penghinaan terhadap tuan rumah dan dapat menyebabkan permusuhan atau konflik.

6. Begitu tawaran diterima, peran tuan rumah dan tamunya diatur sesuai adat setempat. Tamu tidak boleh meminta apa pun. Tuan rumah akan menyediakan miliknya yang terbaik, meski awalnya ia mungkin menyatakan bahwa ia hanya bisa melayani seadanya. Tamu diharapkan segera menangggapi dengan harapan yang baik atau ungkapan terima kasih atas apa yang diberikan tuan rumah, memberikan pujian dan hormat atas kemurahan hati tuan rumah. Tuan rumah tidak boleh mengajukan pertanyaan yang bersifat personal kepada tamu, kecuali tamu tersebut secara sukarela membuka diri tentang hal-hal yang bersifat pribadi.

7. Para tamu tetap ada dalam perlindungan tuan rumah sampai mereka telah meninggalkan zona yang menjadi kewajiban tuan rumah.

Episode ini memberikan latar belakang bagi perintah dalam Perjanjian Baru, “Jangan kamu lalai memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang tanpa diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” (Ibr. 13:2).

Keramahtamahan, kesediaan memberi tumpangan dan kemurahan hati kerap kurang diapresiasi atau dianggap biasa saja dalam komunitas Kristen. Namun, Alkitab menggambarkan Kerajaan surga seumpama perjamuan besar yang disediakan dengan murah hati untuk semua orang (Yes. 25:6-9; Mat. 22:2-4). Kesediaan memberi tumpangan dapat menumbuhkan kedekatan relasi. Keramahtamahan Abraham dan Sara dalam Alkitab menunjukkan bagaimana hubungan-hubungan pada masa itu terbangun seiring adanya sikap mau saling berbagi berkat jasmani. Orang yang tadinya asing satu sama lain dapat belajar saling mengenal ketika mereka makan bersama dan berinteraksi lebih lama. Prinsip yang sama juga berlaku hari ini. Ketika orang-orang makan bersama, menikmati rekreasi atau hiburan bersama, seringkali mereka jadi lebih mudah untuk saling memahami dan menghargai. Relasi kerja yang lebih baik dan komunikasi yang lebih efektif, kerap merupakan buah dari keramahtamahan yang ditunjukkan.

Pada zaman Abraham dan Sara, keramahtamahan hampir selalu ditunjukkan dengan menawarkan tumpangan di rumah warga sendiri. Hari ini, tidak semua orang bisa dan mau memberikan tumpangan di rumah. Industri perhotelan juga sudah berkembang sehingga kita memiliki pilihan fasilitas yang lebih banyak untuk melayani tamu. Jika rumah kita terlalu kecil atau keahlian masak kita terbatas, kita tinggal membawa tamu kita ke restoran atau hotel, menikmati layanan yang diberikan sembari menikmati hubungan persahabatan yang lebih dalam di sana. Para pelayan akan membantu Anda dalam melayani tamu dengan ramah. Mereka yang bekerja di industri ini berkesempatan membantu orang beristirahat guna memulihkan kekuatannya, menciptakan hubungan baik, menyediakan tumpangan, dan melayani orang banyak sebagaimana yang Yesus lakukan saat Dia membuat anggur (Yoh 2:1-11) dan mencuci kaki para murid (Yoh 13:3-11). Industri perhotelan dan rumah makan berkontribusi sekitar 9% dari PDB dunia dan memberi lapangan kerja bagi 98 juta orang,[2] termasuk para pekerja berpendidikan rendah dan kaum imigran yang semakin banyak ditemukan di gereja. Kita bahkan bisa menawarkan keramahtamahan tanpa dibayar, sebagai tindakan kasih, persahabatan, belas kasihan, dan kontribusi sosial. Contoh yang diberikan Abraham dan Sara menunjukkan bahwa pekerjaan ini dapat menjadi sangat penting sebagai sebuah pelayanan kepada Allah dan sesama manusia. Bagaimana kita dapat saling mendorong satu sama lain untuk bersikap murah hati dan menunjukkan keramahtamahan, apa pun profesi kita?

Perselisihan Abraham dengan Abimelekh (Kejadian 20:1-16; 21:22-34)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Saat Abraham dan Sara memasuki negeri yang diperintah oleh Raja Abimelekh, Sang Raja tanpa sengaja melanggar aturan keramahtamahan, dan sebagai gantinya memberikan Abraham kebebasan untuk menggembalakan ternak di wilayah mana pun yang ia kehendaki di negerinya (Kej. 20:1-16). Setelah itu, perselisihan muncul atas sebuah sumur yang digali Abraham, tapi kemudian dirampas hamba-hamba Abimelekh (Kej. 21:25). Abimelekh sepertinya tidak mengetahui masalah tersebut. Ketika ia diberitahu, ia pun bersedia mengikat perjanjian dengan Abraham. Perjanjian itu menyatakan bahwa Abraham yang menggali sumur tersebut dan dapat terus bekerja daerah itu. (Kej. 21:27-31).

Di bagian lain, kita melihat bagaimana Abraham menyerahkan harta benda yang sebenarnya berhak ia ambil (Kej. 14:22-24). Namun, kali ini Abraham dengan gigih memperjuangkan apa yang menjadi miliknya. Tidak ada indikasi bahwa Abraham goyah imannya sehingga melakukan hal tersebut, karena penulis kitab Kejadian mengakhiri bagian ini dengan catatan ibadah Abraham (Kej. 21:33). Abraham justru digambarkan sebagai sosok yang dapat diteladani sebagai seorang pengusaha yang bijak, dan bekerja keras, yang transparan dalam usahanya dan memakai perlindungan hukum secara adil. Dalam bisnis penggembalaan, akses terhadap air sangat penting. Tanpa akses itu, Abraham tidak bisa memelihara ternak, para pekerja, dan keluarganya. Karenanya, upaya Abraham memperjuangkan haknya atas sumur yang ia gali adalah fakta yang penting, demikian pula cara yang diambilnya untuk mendapatkan hak-hak tersebut.

Seperti Abraham, manusia di segala bidang pekerjaan harus berhikmat membedakan kapan harus bermurah hati memberi kepada orang lain, kapan harus melindungi sumber daya dan hak untuk kepentingan mereka, kepentingan perusahaan atau organisasi mereka. Tidak ada aturan yang baku kapan kita harus melakukannya. Dalam semua situasi, kita adalah para pengelola atau manajer dari sumber daya milik Allah, meski tidak selalu jelas apakah tujuan-tujuan Allah akan lebih baik tercapai dengan menyerahkan atau dengan melindungi sumber-sumber daya kita. Namun, contoh yang diberikan Abraham menyoroti aspek yang kerap mudah untuk dilupakan. Keputusannya bukan semata tentang siapa yang memiliki hak, tetapi juga bagaimana keputusan itu akan mempengaruhi hubungan-hubungan kita dengan orang-orang di sekeliling kita. Dalam peristiwa berbagi wilayah dengan Lot, kesediaan Abraham memberikan Lot kesempatan untuk memilih lebih dulu meletakkan dasar untuk hubungan baik jangka panjang. Dalam peristiwa berikutnya, saat menuntut akses terhadap sumur yang menjadi haknya, Abraham memastikan tersedianya sumber daya untuk mengikat perjanjian agar bisnisnya bisa tetap berjalan. Sebagai tambahan, tampaknya ketegasan Abraham kemudian membuat hubungannya dengan Abimelekh menjadi lebih baik. Ingat bahwa awalnya hubungan mereka bermasalah karena Abraham tidak tegas tentang posisinya saat pertama kali bertemu dengan Abimelekh (Kej. 20).

Pembelian Kubur untuk Sara (Kejadian 23:1-20)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Saat Sara meninggal, Abraham terlibat dalam sebuah negosiasi yang patut dicontoh dalam membeli tanah pekuburan untuk istrinya. Ia melakukan negosiasi secara terbuka dan jujur di hadapan para saksi, memastikan kewajiban dipenuhi baik dari pihaknya maupun pihak penjual. (Kej. 23:10-13, 16, 18). Objek propertinya didefinisikan dengan jelas (Kej. 23:9), rencana Abraham memakai properti itu sebagai tanah pekuburan juga disampaikan berulang kali (Kej. 23:4, 6, 9, 11, 13, 15, 20). Negosiasi yang berlangsung dua arah itu sangat jelas, sesuai kepatutan dalam masyarakat zaman itu, serta transparan. Negosiasi berlangsung di pintu gerbang kota, tempat bisnis berlangsung di depan publik. Abraham menginisiasi permintaan membeli sebuah gua untuk kuburan. Penduduk setempat, yaitu orang-orang Het menawarkan kuburan terbaik mereka. Abraham tidak mengiyakan, tetapi meminta mereka menjembatani komunikasi dengan seorang pemilik lahan dengan gua yang sesuai untuk pekuburan, agar ia bisa membelinya dengan harga penuh. Efron, sang pemilik lahan mendengar permintaan itu dan menawarkan lahan itu sebagai hadiah. Karena tawaran itu tidak akan memberi Abraham klaim permanen atas properti tersebut, dengan sopan ia minta untuk membayar harga penuh. Berlawanan dengan kebiasaan tawar-menawar dalam transaksi bisnis (Ams. 20:14), Abraham langsung menyetujui harga yang disebutkan Efron dan membayarnya “seperti yang berlaku di antara para saudagar” (Kej. 23:16). Sikapnya menunjukkan bahwa transaksi tersebut sesuai dengan standar yang berlaku dalam jual-beli properti.[1] Abraham mungkin sangat kaya-raya sehingga ia tidak perlu menawar, atau bisa jadi ia juga memperhitungkan sejumlah aset tidak berwujud dalam pembelian properti tersebut. Mungkin ia juga hendak mengantisipasi pertanyaan orang terkait transaksi penjualan dan haknya atas tanah tersebut. Pada akhirnya, ia menerima peralihan hak atas tanah berikut gua dan semua pohon di lahan tersebut (Kej. 23:17-20). Lahan tersebut menjadi tempat pekuburan untuk Sara, dan kemudian Abraham, demikian juga untuk Ishak, Ribka, Yakub, dan Lea.

Dalam hal ini, tindakan Abraham memberi teladan nilai-nilai inti integritas, transparansi, dan kecerdasan dalam bisnis. Ia menghormati istrinya dengan meratapi dan menguburkan jenazahnya dengan layak. Ia memahami statusnya sebagai pendatang dan memperlakukan penduduk lokal dengan penuh hormat. Ia melakukan transaksi bisnis secara terbuka dan jujur, di depan banyak saksi. Ia berkomunikasi secara jelas. Ia peka terhadap proses negosiasi dan dengan sopan menolak menerima tanah itu sebagai hadiah. Ia dengan cepat membayar harga yang disepakati. Ia memakai tanah itu hanya untuk tujuan yang ia sampaikan dalam negosiasi. Dengan demikian ia menjaga hubungan baik dengan semua pihak yang terkait.