Bootstrap

Abraham dan Lot Berpisah: Kemurahan Hati Abraham (Kejadian 13:3-18)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Human 43351 620

Saat Abraham dan keluarganya kembali memasuki Kanaan dan sampai dekat Betel, terjadi gesekan antara para gembala Abraham dan para gembala Lot. Abraham harus membuat pilihan karena daerah itu tidak cukup untuk mereka tinggali bersama. Perpisahan tidak dapat dihindari, dan Abraham mengambil risiko memberikan Lot kesempatan memilih lebih dulu daerah untuk ia tinggali. Wilayah perbukitan Kanaan adalah daerah berbatu yang tidak banyak memiliki area hijau untuk hewan-hewan bisa merumput. Pandangan Lot tertuju ke timur, ke wilayah Lembah Yordan yang menurutnya “seperti taman TUHAN”, dan ia pun memilih wilayah yang lebih baik ini (Kej. 13:10). Iman Abraham kepada Allah membebaskannya dari kekhawatiran untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Terlepas dari bagaimana keduanya kemudian sama-sama menjadi kaya-raya, fakta bahwa Abraham memberi Lot kesempatan memilih lebih dulu menunjukkan kemurahan hati dan adanya hubungan saling percaya antara Abraham dan Lot.

Kemurahan hati adalah karakteristik yang positif, baik dalam hubungan pribadi maupun bisnis. Mungkin tidak ada hal lain yang dapat membangun relasi yang baik dan saling percaya sekuat kemurahan hati. Rekan kerja, pelanggan, penyuplai, bahkan pihak lawan pun menanggapi kemurahan hati dengan sangat baik dan mengingat hal itu untuk waktu yang lama. Saat Zakheus, pemungut cukai, menyambut Yesus ke rumahnya dan berjanji untuk memberikan setengah dari miliknya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat jika ada orang yang telah diperasnya, Yesus menyebutnya sebagai “anak Abraham” melihat kemurahan hati dan buah pertobatannya (Lukas 19:9). Tindakan Zakheus sendiri adalah sebuah tanggapan atas kemurahan hati Yesus, yang tanpa disangka dan di luar kebiasaan orang zaman itu, membuka hati-Nya kepada seorang pemungut cukai yang dibenci masyarakat.