Yusuf (Kejadian 37:2-50:26)
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Mari mengingat bagaimana Allah memberikan janji-janji inti yang menyertai panggilan-Nya kepada Abraham (Kej. 12:2-3). Pertama, Allah akan melipatgandakan keturunan-Nya menjadi bangsa yang besar. Kedua, Allah akan memberkati mereka. Ketiga, Allah akan membuat nama Abraham masyhur. Keempat, Abraham akan menjadi berkat. Yang terakhir ini berkaitan dengan generasi penerus dari keluarga Abraham dan selanjutnya, bagi seluruh keluarga di bumi. Allah akan memberkati mereka yang memberkati Abraham dan mengutuk mereka yang mengutuknya. Kitab Kejadian menelusuri penggenapan parsial dari janji-janji ini melalui garis terpilih dari keturunan Abraham, Ishak, Yakub, dan anak-anak Yakub. Di antara mereka semua, di dalam hidup Yusuf, Allah menggenapi langsung janji-Nya untuk memberkati bangsa-bangsa melalui umat keturunan Abraham. Betapa orang-orang dari “seluruh dunia” dipelihara hidupnya melalui sistem pengelolaan bahan makanan yang dikelola oleh Yusuf (Kej. 41:57). Yusuf memahami misi ini dan mengartikulasikan tujuan dari kehidupannya selaras dengan intensi Allah untuk “memelihara hidup banyak orang” (Kej.50:20).
Yusuf Ditolak dan Dijual sebagai Budak oleh Saudara-Saudaranya (Kejadian 37:2-36)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSejak muda, Yusuf percaya bahwa Allah telah menetapkan dirinya untuk sesuatu yang besar. Melalui beberapa mimpi, Allah meyakinkan Yusuf bahwa ia akan meraih suatu posisi kepemimpinan yang melampui ayah dan kakak-kakaknya (Kej. 37:5-11). Dari sudut pandang Yusuf, mimpi-mimpi ini adalah bukti dari berkat Ilahi, bukan ambisinya pribadi. Meski demikian, dari sudut pandang kakak-kakaknya, mimpi-mimpi itu merupakan wujud lain dari hak istimewa yang secara tidak adil dinikmati Yusuf sebagai putera kesayangan dari ayah mereka, Yakub (Kej. 37:3-4). Meyakini bahwa kita ada pada posisi yang benar tidak meluputkan kita dari kebutuhan untuk berempati dengan orang lain yang mungkin tidak memiliki pandangan yang sama. Para pemimpin yang baik berjuang untuk mendorong terjadinya kerjasama dan bukan saling iri. Kegagalan Yusuf untuk mengenali hal ini membuatnya tidak memiliki hubungan yang baik dengan kakak-kakaknya. Mereka berencana untuk membunuhnya, tetapi akhirnya mereka memutuskan untuk menjualnya kepada para pedagang yang melintasi daerah Kanaan menuju Mesir. Para pedagang ini kemudian menjual Yusuf kepada Potifar, seorang pembesar Firaun, kepala pengawal raja (Kej. 37:36; 39:1).
Rencana Kotor Istri Potifar dan Pemenjaraan Yusuf (Kejadian 39:1-20)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiTugas Yusuf di rumah Potifar memberinya sejumlah tanggung jawab untuk melayani tuannya. Awalnya Yusuf hanya disebut “tinggal” di rumah tuannya. Kita tidak tahu dalam kapasitas apa ia melayani saat itu, tetapi begitu Potifar mengenali kemampuan Yusuf, ia kemudian menaikkan posisi Yusuf menjadi pelayan pribadinya dan memberinya “kuasa atas rumahnya dan segala miliknya” (Kej. 39:4).
Setelah beberapa waktu, istri Potifar mulai terpikat pada Yusuf dan ingin tidur dengannya (Kej. 39:7). Penolakan Yusuf disampaikan secara jelas dan dengan alasan yang masuk akal. Ia mengingatkan sang Nyonya bahwa Potifar telah memberikan kepercayaan besar kepadanya dan menyebut hubungan yang diinginkan sang Nyonya sebagai “kejahatan yang besar” dan perbuatan “dosa” (Kej. 39:9). Yusuf memiliki kepekaan sosial dan teologis. Lebih dari itu, ia menyampaikan penolakannya secara lisan berulang kali dan bahkan menghindari untuk menemani sang Nyonya. Saat dipaksa secara fisik, Yusuf memilih untuk lari setengah telanjang daripada mengikuti keinginan sang Nyonya.
Intimidasi seksual dari sang Nyonya dilakukan dalam hubungan atasan-bawahan, menempatkan Yusuf pada posisi yang lemah. Yusuf. Sang Nyonya merasa punya hak dan kekuasaan untuk memperlakukan Yusuf demikian. Namun, perkataan dan perlakuan fisiknya jelas tidak diterima Yusuf. Pekerjaan Yusuf mengharuskan ia berada di rumah tempat sang Nyonya tinggal, tetapi Yusuf tidak bisa melaporkan hal ini kepada Potifar tanpa mengganggu hubungan rumah tangga mereka. Bahkan setelah ia melarikan diri dan kemudian ditangkap dengan tuduhan yang salah, tampaknya Yusuf tidak punya ruang untuk mendapatkan keadilan.
Aspek-aspek dari episode kehidupan Yusuf ini sangat dekat menyentuh isu-isu intimidasi atau pelecehan seksual di tempat kerja yang terjadi pada masa sekarang. Orang bisa memiliki standar yang berbeda-beda tentang apa yang dianggap sebagai perkataan dan hubungan fisik yang tidak patut, tetapi pada praktiknya, keinginan mereka yang memegang kekuasaanlah yang menentukan. Para pekerja kerap diharapkan untuk melaporkan potensi intimidasi kepada atasannya, tetapi kebanyakan tidak mau melakukannya karena mereka tahu ada risiko ketidakjelasan dan pembalasan. Tambahan lagi, meski intimidasi itu bisa didokumentasikan, pekerja bisa menderita karena melaporkannya. Kesalehan Yusuf tidak membebaskannya dari tuduhan yang salah dan pemenjaraan. Jika kita ada pada situasi yang serupa, kesalehan kita juga tidak menjadi jaminan bahwa kita bisa menghindari penderitaan atau perlakuan yang mencelakai kita. Namun, Yusuf mewariskan kesaksian yang tegas kepada istri Potifar dan mungkin banyak orang lain di dalam rumah itu. Tahu bahwa kita adalah milik Tuhan dan Dia akan melindungi yang lemah, pastinya akan menolong kita untuk menghadapi situasi sulit tanpa menyerah. Kisah ini menunjukkan realita bahwa bersikap tegas melawan intimidasi seksual di tempat kerja bisa mengakibatkan konsekuensi yang mengenaskan. Namun, ini juga adalah kisah pengharapan bahwa oleh anugerah Allah, kebaikan pada akhirnya akan menang. Yusuf juga menjadi teladan bagi kita, untuk tetap setia melakukan pekerjaan yang diberikan Allah bagi kita, meski kita dituduh dan diperlakukan secara tidak adil, percaya bahwa pada Allah bekerja untuk meluruskan semua pada akhirnya.
Interpretasi Yusuf atas Mimpi-Mimpi di Penjara (Kejadian 39:20-40:23)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiPelayanan Yusuf di penjara ditandai dengan penyertaan Allah, kemurahan kepala penjara, dan kepercayaan yang diberikan kepada Yusuf untuk menjadi pemimpin yang mengurus semua tahanan dalam penjara itu (Kej. 39:21-23). Dalam penjara, Yusuf bertemu dengan dua pembesar Firaun yang dijebloskan ke penjara, juru minum dan juru roti. Banyak literatur Mesir menyebutkan peran juru minum, yang tidak hanya mencicipi anggur untuk memastikan kualitas dan mendeteksi racun, tetapi juga menikmati kedekatan dengan para pemegang kekuasaan politik. Mereka seringkali menjadi orang dekat penguasa yang dihargai nasihatnya (baca Neh. 2:1-4).[1] Sama seperti juru minum, juru roti juga adalah pembesar yang dipercaya dan memiliki akses kepada penguasa tertinggi di pemerintahan yang mungkin melakukan tugas-tugas lebih dari sekadar menyiapkan makanan. [2] Di penjara, Yusuf menafsirkan mimpi dari orang-orang yang memiliki posisi penting secara politis.
Menafsirkan mimpi di dunia kuno merupakan pekerjaan yang cukup rumit, praktiknya melibatkan “buku-buku mimpi” yang mendaftarkan berbagai elemen mimpi beserta artinya. Catatan tentang kebenaran mimpi-mimpi di masa lalu dan penafsirannya menyediakan bukti empiris untuk mendukung prediksi seorang penafsir mimpi. [3] Meski demikian, Yusuf tidak pernah belajar secara khusus untuk menjadi seorang penafsir mimpi. Ia memuji Allah, yang membukakan arti mimpi kepadanya, dan penafsirannya terbukti benar (Kej. 40:8). Sesuai penafsirannya, juru minum dikembalikan pada jabatannya, tetapi ia segera lupa tentang Yusuf.
Dinamika serupa dalam kisah Yusuf masih bisa kita jumpai hari ini. Kita bisa berinvestasi pada kesuksesan orang lain yang jauh di atas kita, tetapi kita dilupakan setelah ia sudah selesai memetik manfaat dari kita. Apakah ini artinya sumbangsih kita sia-sia dan seharusnya kita lebih berfokus pada posisi dan promosi kita sendiri? Apalagi, Yusuf tidak punya cara memastikan kebenaran kisah yang disampaikan kedua pejabat itu saat di penjara. “Yang pertama bicara dalam suatu perbantahan tampaknya benar, sampai orang lain datang dan menyelidiki perkaranya.” (Ams. 18:17). Setelah dijatuhi hukuman, tiap tahanan masih dapat mengajukan banding untuk membuktikan mereka tidak bersalah,
Kita mungkin punya keraguan apakah investasi kita dalam hidup orang lain pada akhirnya akan menguntungkan kita atau organisasi kita. Kita mungkin mempertanyakan karakter dan motif dari orang-orang yang kita bantu. Kita mungkin tidak setuju dengan apa yang kemudian mereka lakukan, apalagi jika sampai berdampak kepada kita. Hal-hal yang harus dipertimbangkan bisa sangat banyak dan kompleks. Dibutuhkan doa dan hikmat untuk memutuskan. Namun, haruskah semua itu melumpuhkan kita untuk melakukan kebaikan? Rasul Paulus menulis, “…selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang…” (Gal. 6:10). Jika kita memulai dengan sebuah komitmen untuk bekerja bagi Allah di atas semuanya, akan lebih mudah bagi kita untuk melangkah maju, percaya bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan orang-orang yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya” (Rom. 8:28).
Yusuf diangkat Firaun pada posisi terhormat (Kejadian 41:1-45)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiYusuf masih harus melewati dua tahun lagi sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bebas dari penderitaannya di penjara. Firaun mulai mendapat mimpi-mimpi yang menggelisahkannya dan kepala juru minum teringat akan kemampuan menafsir mimpi dari seorang pemuda Ibrani di penjara. Mimpi Firaun tentang lembu-lembu dan bulir-bulir gandum membingungkan para penasihatnya yang paling hebat. Yusuf mewartakan kehebatan Allah yang menyediakan penafsiran mimpi itu dan menegaskan bahwa ia hanyalah perantara yang menyampaikan wahyu Allah (Kej. 41:16). Di hadapan Firaun, Yusuf tidak memakai nama Allah dalam perjanjian yang eksklusif untuk umat-Nya saja. Sebaliknya, ia secara konsisten menyebut nama Allah dengan istilah yang lebih umum, yaitu elohim. Dengan begitu, Yusuf menghindari terjadinya masalah yang tidak perlu. Yang disampaikannya bisa diterima semua pihak, ini didukung dengan fakta bahwa Firaun ikut memuji Allah yang menyingkapkan kepada Yusuf arti dari mimpinya (Kej. 41:39). Di tempat kerja, adakalanya orang percaya dapat memuji Allah atas keberhasilan mereka dengan cara yang membuat orang lain tidak nyaman. Cara Yusuf mengesankan Firaun, menunjukkan bahwa memuji Allah secara publik dapat dilakukan dengan cara yang meyakinkan.
Kehadiran Allah bersama Yusuf sangat nyata hingga Firaun mengangkat Yusuf menjadi penguasa kedua setelah dirinya di Mesir, secara khusus untuk mengelola persiapan menghadapi tahun kelaparan (Kej. 41:37-45). Firman Allah kepada Abraham menjadi kenyataan: “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau … dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Seperti Yusuf, ketika kita mengakui ketidakmampuan kita untuk menghadapi tantangan yang datang dan mengakui campur tangan Allah dalam keberhasilan kita dengan cara yang tepat, kita sedang membangun pertahanan yang kuat melawan keangkuhan yang kerap muncul saat kita dipuji banyak orang.
Pengangkatan Yusuf ditandai dengan diberikannya beberapa tanda kekuasaan: sebuah cincin meterai kerajaan dan kalung emas, pakaian dari linen halus yang sepadan dengan jabatannya yang tinggi, kereta khusus, sebuah nama Mesir, dan seorang istri dari keluarga kelas atas di Mesir (Kej. 41:41-45). Sebuah situasi yang bisa sangat menggoda Yusuf untuk meninggalkan identitasnya sebagai seorang Ibrani. Allah menolong kita saat mengalami kesalahan dan kegagalan, tetapi kita mungkin perlu lebih banyak ditolong saat mengalami kesuksesan. Teks yang kita baca ini menunjukkan beberapa indikasi bagaimana Yusuf menerima promosinya dengan cara yang sesuai kehendak Allah. Ini terkait erat dengan semua yang mempersiapkan Yusuf sebelum promosi itu terjadi.
Dulu di rumah ayahnya, mimpi menjadi pemimpin yang diberikan Allah membuat Yusuf yakin bahwa Allah memilihnya dan mempunyai tujuan untuk hidupnya, Sifat alaminya adalah mempercayai orang lain. Ia tampaknya tidak menyimpan dendam kepada kakak-kakaknya yang cemburu atau kepada juru minum yang melupakannya. Sebelum dipromosikan oleh Firaun, Yusuf sudah tahu bahwa Allah menyertainya dan ia punya bukti yang jelas tentang hal itu. Berulang kali memberikan pengakuan dan pujian kepada Allah bukan saja hal yang benar untuk dilakukan, tetapi juga mengingatkan Yusuf bahwa ketrampilannya bersumber dari Allah. Yusuf adalah pribadi yang sopan dan rendah hati, ia menunjukkan kesediaan mengerjakan apa saja yang mampu ia lakukan untuk menolong Firaun dan rakyat Mesir. Bahkan ketika orang-orang Mesir kehabisan uang dan ternak, Yusuf mendapatkan kepercayaan dari orang Mesir dan Firaun (Kej. 41:55; 47:13-20). Di sepanjang sisa hidupnya sebagai seorang penguasa, Yusuf secara konsisten mendedikasikan dirinya untuk mengelola sumber daya secara efektif bagi kebaikan banyak orang.
Kisah Yusuf sampai titik ini mengingatkan kita bahwa di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa, jawaban doa dari Tuhan tidak selalu datang dengan cepat. Yusuf berusia tujuh belas tahun saat ia dijual kakak-kakaknya sebagai budak (Kej. 37:2). Ia baru dibebaskan dari penjara saat berusia tiga puluh tahun (Kej. 41:46), tiga belas tahun kemudian.
Keberhasilan Yusuf mengelola Krisis Pangan (Kejadian 41:46-57; 47:13-26)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiYusuf Menciptakan Kebijakan Jangka Panjang dan Infrastruktur di Bidang Pertanian (Kejadian 41:46-57)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSetelah pelantikannya, Yusuf segera mengerjakan tugas yang dipercayakan Firaun kepadanya. Fokusnya adalah menyelesaikan pekerjaan untuk kepentingan banyak orang, bukan mengambil keuntungan dari jabatan barunya sebagai kepala pemerintahan. Imannya kepada Allah tetap teguh. Ia memberikan anak-anaknya nama yang menyiratkan pujian kepada Allah yang telah memulihkannya dari kesukarannya dan membuatnya mendapat keturunan (Kej. 41:51-52). Ia sadar betul bahwa hikmat bijaksana yang ia miliki adalah pemberian Allah, tetapi ada banyak hal yang tetap harus ia pelajari tentang tentang tanah Mesir, terutama terkait industri pertaniannya. Sebagai penguasa tertinggi setelah Firaun, pekerjaan Yusuf menyentuh hampir semua aspek dalam kehidupan bangsa itu sehari-hari. Jabatannya mengharuskan Yusuf belajar banyak tentang hukum, komunikasi, negosiasi, transportasi, metode penyimpanan makanan yang aman dan efisien, bangunan, strategi ekonomi, perencanaan, pencatatan, pembayaran upah pekerja, perdagangan dengan sistem pembayaran uang atau barang, personalia, serta pengalihan properti. Ia tidak memisahkan karunia Allah dengan tanggung jawabnya sebagai manusia. Ia mengintegrasikan karunia yang Allah berikan dengan keahlian yang ia pelajari, dan hal tersebut membuatnya berhasil. Bagi Yusuf, belajar dan mengaplikasikan semua yang ia pelajari juga merupakan wujud pelayanannya kepada Allah.
Firaun telah menganggap Yusuf sebagai seorang yang “berakal budi dan bijaksana” (Kej. 41:39), dan karakteristik ini memampukan Yusuf untuk melakukan perencanaan strategis serta tugas-tugas kepemimpinan. “Berakal budi dan bijaksana” diterjemahkan dari bahasa Ibrani, hakham dan hokhmah, yang menunjukkan kapasitas intelegensi yang tinggi. Kedua kata ini juga dipakai untuk menunjukkan berbagai keahlian, termasuk mengukir kayu, mengasah batu permata, dan mengolah logam mulia (Kel. 31:3-5; 35:31-33), membuat pakaian (Kel. 28:3; 35:26, 35), menjadi pemimpin (Ul. 34:9; 2 Taw. 1:10), serta memutus perkara dengan adil (1 Raj. 3:28). Semua kemampuan ini juga bisa ditemukan di antara orang yang tidak percaya Tuhan, tetapi umat Tuhan yang bijaksana dalam Alkitab mendapatkan berkat khusus dari Allah yang menghendaki Israel untuk menyatakan cara hidup yang dikehendaki Tuhan kepada bangsa-bangsa lain (Ul. 4:6).
Sebagai langkah pertamanya, “Yusuf … mengelilingi seluruh tanah Mesir” (Kej. 41:46) untuk melakukan pengawasan. Ia harus mengenal dengan baik orang-orang yang mengatur pertanian di negeri itu, lokasi dan kondisi dari tanah, hasil panen, jalur dan alat transportasi yang ada. Tidak mungkin Yusuf bisa melakukan semuanya seorang diri. Ia tentunya harus membangun tim dan melatih orang-orang yang mungkin menjadi Kementrian Pertanian dan Pendapatan Negara di masa itu. Selama tujuh tahun kelimpahan, Yusuf berhasil menimbun bahan makanan di setiap kota (Kej. 41:48-49). Selama tujuh tahun kelaparan yang mengikutinya, Yusuf menjual bahan makanan kepada rakyat Mesir dan orang-orang lain yang mengalami dampak dari kelaparan dahsyat yang melanda seluruh bumi. Untuk mengelola semua hal ini di dalam Kerajaan yang diwarnai berbagai kepentingan politik, jelas dibutuhkan kemampuan yang luar biasa.
Yusuf Mengatasi Kemiskinan Bangsa Mesir (Kejadian 47:13-26)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSetelah rakyat kehabisan uang, Yusuf mengizinkan mereka menukarkan ternak mereka untuk membeli bahan makanan. Dengan sistem pembelian yang bertahan selama satu tahun ini, Yusuf mengumpulkan kuda, kawanan kambing domba, kawanan lembu, dan keledai (Kej. 47:15-17). Ia harus menentukan nilai setiap ternak dan menetapkan sistem pertukaran. Saat bahan makanan menjadi langka, orang akan berupaya mempertahankan dirinya sendiri dan orang-orang yang mereka sayangi. Menyediakan akses untuk rakyat bisa mendapatkan bahan makanan dan perlakuan yang adil adalah tugas kepemimpinan yang sangat penting pada situasi tersebut.
Saat semua ternak sudah ditukarkan, rakyat dengan sukarela menjual diri untuk menjadi hamba Firaun sekaligus menjual hak kepemilikan tanah mereka (Kej. 47:18-21). Dari sisi kepemimpinan, situasi ini tentunya membuat hati miris. Yusuf, membeli seluruh tanah orang Mesir dan menjadikan mereka hamba Firaun, tetapi ia tidak memanfaatkan ketidakberdayaan rakyat untuk kepentingannya. Ia memastikan tanah mereka dihargai dengan layak untuk ditukarkan dengan benih supaya mereka dapat menabur di tanah itu (Kej. 47:23). Ia menetapkan aturan agar rakyat mengembalikan dua puluh persen dari hasil panen kepada Firaun. Tentunya Yusuf juga harus membuat sebuah sistem pengawasan untuk memastikan rakyat menaati aturan tersebut dan menyiapkan kementrian khusus untuk mengelola hasil panen yang disetorkan rakyat. Hanya tanah dari para imam yang tidak dibeli Yusuf, karena Firaun memberikan tunjangan tetap untuk mereka. (Kej. 47:22, 26). Untuk melayani kelompok imam ini tentunya Yusuf juga harus menyiapkan sistem pembagian makanan yang dirancang khusus guna memenuhi kebutuhan mereka.
Kemiskinan dan konsekuensinya adalah realita ekonomi. Prioritas kita adalah untuk membantu meniadakan kemiskinan, tetapi kita tidak bisa meniadakan kemiskinan sama sekali sampai Kerajaan Allah digenapi. Umat percaya tidak berkuasa menyingkirkan berbagai situasi yang mengharuskan orang mengambil keputusan sulit, tetapi kita dapat menemukan cara-cara menolong mereka—atau diri kita sendiri—untuk bertahan, Memilih satu di antara dua pilihan yang tidak baik mungkin adalah hal yang perlu dikerjakan dan bisa sangat menguras emosi. Dalam pekerjaan, ada masanya kita mungkin menghadapi dilema antara empati terhadap orang miskin dan tanggung jawab untuk melakukan apa yang baik untuk organisasi dan orang-orang di tempat kita bekerja. Yusuf mengalami tuntunan Allah dalam menjalankan tugas-tugas yang sulit ini. Kita juga menerima janji Allah bahwa “Aku sekali-kali tidak akan mengabaikan engkau, dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibr. 13:5).
Berita baiknya, dengan mengaplikasikan keterampilan dan hikmat yang diberikan Allah, Yusuf berhasil membawa Mesir melewati bencana pertanian yang terjadi pada masa itu. Saat tujuh tahun kelimpahan datang, Yusuf membangun sistem logistik agar hasil panen dapat disimpan untuk cadangan makanan di musim kekeringan. Saat tujuh tahun kekeringan tiba, “Yusuf membuka gudang-gudang penyimpanan dan menyediakan cukup bahan makanan untuk memelihara bangsa Mesir melewati musim kelaparan. Strateginya yang bijak dan implementasi rencananya yang efektif bahkan memungkinkan Mesir mensuplai bahan makanan untuk negara-negara lain selama musim kelaparan itu (Kej. 41:57). Dalam kasus ini, pemenuhan janji Allah bahwa keturunan Abraham akan menjadi berkat bagi dunia, terjadi, bukan hanya untuk kebaikan bangsa asing, tetapi juga melalui aktivitas perekonomian sebuah bangsa asing, yaitu Mesir.
Bahkan, berkat Allah bagi umat Israel datang hanya setelah dan melalui berkat-Nya untuk orang-orang asing. Allah tidak membangkitkan seorang Israel di tanah Israel untuk menyediakan kebutuhan mereka di masa kelaparan. Allah justru memampukan Yusuf, bekerja di dalam dan melalui pemerintah Mesir, untuk mencukupi kebutuhan orang Israel (Kej. 47:11-12). Meski demikian, Yusuf bukanlah sosok tanpa cela. Sebagai seorang pejabat di negara yang terkadang represif, ia menjadi bagian dari struktur kekuasaan dan ia sendiri menjadikan sangat banyak orang menjadi budak Firaun (Kej. 47:21).
Pelajaran dari Pengalaman Manajemen Yusuf (Kejadian 41:46-57; 47:13-26)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKitab Kejadian menuliskan tentang bagaimana Yusuf mengatasi krisis pangan lebih untuk menunjukkan dampaknya terhadap keluarga Yakub atau Israel, bukan untuk mengajarkan prinsip-prinsip manajemen yang efektif. Meski demikian, ada pelajaran-pelajaran praktis yang dapat ditarik dari kepemimpinan Yusuf yang luar biasa untuk menjadi contoh yang bisa diikuti oleh para pemimpin di zaman ini, di antaranya:
1. Kita perlu berusaha sebaik mungkin mengenali situasi dan kondisi yang ada, berikut konteks orang-orang yang dilayani, pada saat memulai pelayanan kita.
2. Kita perlu berdoa minta hikmat untuk memahami hari esok, agar dapat membuat rencana-rencana yang bijaksana.
3. Dengar dan taati Allah lebih dahulu, maka Dia akan mengarahkan dan membuat rencana kita berhasil.
4. Terima dengan syukur dan gunakan dengan baik talenta yang telah diberikan Allah kepada kita.
5. Kehadiran Allah dan talenta khusus yang nyata terlihat dalam hidup kita, janganlah dipamer-pamerkan untuk mencari pengakuan dan penghargaan orang.
6. Latihlah diri kita sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan kita sebaik mungkin.
7. Berusahalah selalu membawa manfaat untuk orang lain, karena Allah menempatkan kita di mana kita berada sekarang untuk menjadi berkat.
8. Kita harus menjaga integritas dalam interaksi kita dengan semua orang, terutama saat situasi sulit dan penuh masalah.
9. Meski pelayanan yang luar biasa dapat membawa kita menjadi orang yang berkuasa, kita perlu mengingat misi awal kita sebagai pelayan Allah. Hidup tidak jadi bermakna dengan mencari kepentingan diri sendiri.
10. Hargai nilai-nilai yang selaras firman Allah dari beragam pekerjaan terhormat yang melayani kebutuhan masyarakat.
11. Hendaklah kita dengan murah hati membagikan manfaat dari pekerjaan kita seluas-luasnya kepada mereka yang benar-benar membutuhkannya, tanpa pandang bulu.
12. Allah dapat membawa kita ke dalam satu bidang pekerjaan tertentu yang tantangannya luar biasa sulit; ini kenyataan yang perlu diterima. Tidak berarti ada sesuatu yang salah atau orang yang mengalaminya sedang di luar kehendak Allah.
13. Beranilah mengambil tanggung jawab. Allah akan memampukan kita untuk melakukan tugas yang harus kita kerjakan.
14. Terkadang kita harus memilih mana yang lebih baik dari dua situasi yang sama-sama tidak menyenangkan tetapi tidak bisa dihindari.
15. Percayalah bahwa pekerjaan kita tidak hanya akan membawa manfaat bagi orang yang kita lihat dan jumpai, tetapi berpotensi menyentuh banyak kehidupan di generasi yang akan datang. Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan (Ef. 3:20).
Yusuf Bertemu dengan Saudara-saudaranya (Kej 42-43)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDi tengah krisis di Mesir, kakak-kakak Yusuf tiba dari Kanaan, hendak membeli makanan, karena bencana kelaparan juga menimpa negeri mereka. Mereka tidak mengenali Yusuf, dan Yusuf juga tidak memberitahukan identitasnya kepada mereka. Ia berkomunikasi dengan mereka hanya dengan bahasa bisnis. Kata “perak” (kesef) muncul duapuluh kali dalam pasal 42 sampai 45 dan kata “biji-bijian” (shever) muncul sembilan belas kali. Dalam konteks perdagangan komoditi inilah kita melihat interaksi personal yang dinamis.
Perilaku Yusuf dalam situasi ini menjadi agak licik. Pertama-tama, ia menutupi identitasnya dari saudara-saudaranya, yang—meski tidak sampai pada level penipuan terang-terangan (kata Ibrani yang dipakai adalah mirmah, sama seperti yang dipakai dalam kisah Yakub di Kej. 27:35)—jelas ia tidak sepenuhnya jujur. Kedua, ia berbicara kasar kepada saudara-saudaranya dengan tuduhan yang ia sendiri tahu tidak berdasar (Kej. 42:7, 9, 14, 16; 44:3-5). Singkatnya, Yusuf memanfaatkan kekuasaannya untuk menekan sekelompok orang yang menurutnya mungkin tidak bisa dipercaya karena apa yang dulu pernah mereka lakukan kepadanya.[18] Motifnya adalah untuk mengenali seperti apa karakter orang-orang itu sekarang. Ia telah mengalami banyak derita karena mereka selama duapuluh tahun sebelumnya dan memiliki semua alasan untuk tidak mempercayai perkataan, tindakan, dan komitmen mereka kepada keluarga.
Cara Yusuf hampir mendekati kebohongan. Ia menahan informasi penting dan memanipulasi situasi dengan berbagai cara. Yusuf berlagak seperti seorang penyidik yang melakukan interogasi intensif. Ia tidak bisa berterus terang kepada mereka untuk mendapatkan informasi yang akurat dari mereka. Konsep Alkitab untuk taktik ini adalah kecerdikan. Kecerdikan bisa dilakukan untuk hal yang baik dan yang buruk. Di satu sisi, ular adalah “binatang paling cerdik dari semua binatang liar” (Kej. 3:1), dan memakai cara-cara licik untuk maksud jahat yang menghancurkan. Kata yang digunakan dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris antara lain adalah shrewd (NLT) dan crafty (NRSV). Kata dalam bahasa Ibrani untuk kecerdikan adalah ormah dan kata turunannya yang juga bisa diterjemahkan sebagai “penilaian yang baik”, “kecerdikan”, dan “kepintaran” (Ams. 12:23; 13:16; 14:8; 22:3; 27:12), menunjukkan bahwa butuh kemampuan untuk melihat ke depan dan keterampilan untuk membuat pekerjaan Ilahi bisa dilakukan di tengah konteks yang sulit. Yesus sendiri menasihati para murid-Nya untuk “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat. 10:16). Alkitab sering memuji kecerdikan dalam upaya mewujudkan maksud yang baik (Ams. 1:4; 8:5, 12).
Kecerdikan Yusuf memiliki dampak yang diharapkan dalam menguji integritas saudara-saudaranya. Mereka mengembalikan piala perak yang diam-diam dimasukkan Yusuf ke dalam bawaan mereka (Kej. 43:20-21). Saat ia menguji mereka lebih jauh dengan menjamu saudara bungsunya, Benyamin, dengan lebih murah hati daripada yang lain, mereka menunjukkan bahwa mereka telah belajar untuk tidak saling iri hati dan memusuhi saudara sendiri seperti yang dulu mereka lakukan saat menjual Yusuf sebagai budak.
Sangatlah dangkal jika tindakan Yusuf ini membuat kita mengambil kesimpulan bahwa berada di pihak Allah berarti boleh bohong. Namun, perjalanan panjang yang telah dilalui Yusuf dalam pekerjaan dan melewati kesulitan dalam pelayanan yang Tuhan percayakan memberinya pengertian yang lebih dalam dari situasi itu lebih dari para saudaranya. Tampaknya janji bahwa Allah akan membuat mereka menjadi bangsa yang besar tidak bisa mereka lihat. Yusuf tahu bahwa bukan kekuasaannya sebagai manusia yang bisa menyelamatkan bangsanya, tetapi ia memakai otoritas dan hikmat yang diberikan Allah untuk melayani dan membantu. Ada dua faktor penting yang membedakan cara Yusuf dalam membuat keputusan dengan cara-cara yang kurang terpuji. Pertama, ia tidak mendapat keuntungan pribadi dari semua skenario itu. Ia telah menerima berkat dari Allah, dan tindakannya semata-mata hendak menjadi berkat bagi sesama. Ia bisa saja mengekploitasi situasi sulit saudara-saudaranya dan dengan kejam menetapkan harga jual tinggi, tahu bahwa mereka akan memberikan apa saja untuk bertahan hidup. Namun, ia memakai pengetahuannya untuk menyelamatkan mereka. Kedua, tindakannya diperlukan sebelum ia memberikan berkat. Jika ia langsung berterus terang dengan para saudaranya, ia tidak bisa menguji integritas mereka.
Transformasi Yehuda menjadi seorang pelayan Allah (Kejadian 44:1-45:15)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDalam episode akhir dari ujian Yusuf terhadap saudara-saudaranya, Yusuf menangkap Benyamin dalam kejahatan yang sebenarnya tidak ia lakukan dan menahan Benyamin sebagai budak untuk ganti rugi. Saat ia menyuruh saudara-saudaranya pulang kepada Yakub tanpa Benyamin (Kej. 44:17), Yehuda bangkit sebagai juru bicara. Apa yang membuatnya bangkit mengambil peran itu? Ia telah mengecewakan keluarganya dengan menikahi seorang perempuan Kanan (Kej. 38:2), membesarkan putra-putra yang begitu jahat hingga Tuhan mencabut nyawa dua anaknya (Kej. 38:7, 10), memperlakukan menantunya sebagai seorang pelacur (Kej. 38:24), dan menyusun rencana untuk menjual saudara kandungnya sendiri sebagai seorang budak (Kej. 37:27). Namun, apa yang disampaikan Yehuda kepada Yusuf menunjukkan seorang pria yang telah berubah. Ia menunjukkan kepedulian yang besar dengan menceritakan kondisi memprihatinkan keluarganya yang mengalami kelaparan, kecintaan ayahnya kepada Benyamin, dan janji Yehuda sendiri kepada ayahnya untuk membawa pulang Benyamin, agar Yakub tidak mati merana. Puncaknya, Yehuda memberi diri untuk menggantikan posisi Benyamin. Ia meminta agar ia yang ditahan di Mesir sepanjang sisa hidupnya sebagai budak sang gubernur jika sang gubernur bersedia mengizinkan Benyamin pulang ke rumah ayahnya (Kej. 44:33-34).
Melihat perubahan dalam diri Yehuda, Yusuf dapat memberkati mereka sebagaimana yang dikehendaki Allah. Ia pun berterus terang kepada mereka: “Akulah Yusuf” (Kej.45:3). Tampaknya Yusuf melihat bahwa saudara-saudaranya kini bisa dipercaya. Dalam interaksi dengan orang yang hendak mengekploitasi dan menipu kita, kita harus bertindak hati-hati, cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, seperti perintah Yesus kepada para murid (Mat. 10:16). Dalam kalimat seorang penulis, “Kepercayaan diberikan kepada orang yang bisa dipercaya.” Semua yang Yusuf rencanakan dalam interaksinya dengan saudara-saudaranya mencapai puncak, memungkinkan ia memulai hubungan yang sehat dengan mereka. Ia menenangkan saudara-saudaranya yang ketakutan dengan menunjukkan bahwa semua yang terjadi adalah pekerjaan Allah sehingga Yusuf bisa menjadi penguasa atas seluruh tanah Mesir (Kej. 45:8). Waltke menuliskan pentingnya interaksi Yusuf dengan saudara-saudaranya ini sebagai berikut:
Bagian ini menunjukkan anatomi rekonsiliasi. Ada kesetiaan terhadap sesama anggota keluarga yang membutuhkan, sekalipun orangnya tampak bersalah; memberikan kemuliaan kepada Allah dengan mengakui dosa dan menerima konsekuensinya, mengabaikan perlakuan tidak adil yang pernah diterima, rela berkorban untuk menyelamatkan orang lain, menyatakan kasih sejati dengan tindakan pengorbanan nyata yang menciptakan hubungan saling percaya, melepas kendali dan kekuatan pengetahuan demi kedekatan hubungan, melibatkan belas kasih yang dalam, perasaan yang lembut, kepekaan, pengampunan; dan komunikasi satu sama lain. Keluarga bermasalah yang mau menerapkan semua ini, akan menjadi terang bagi dunia. [19]
Allah berkuasa untuk membawa berkat-Nya kepada dunia melalui manusia yang berdosa. Namun, kita harus mau bertobat dari jalan kita yang jahat dan berbalik kepada Allah untuk diubahkan, meski tidak berarti kita bebas sama sekali dari kesalahan dan kelemahan dalam hidup di dunia ini.
Bertolak belakang dengan nilai-nilai dari masyarakat di sekitar Israel, kerelaan para pemimpin untuk berkorban demi kesalahan orang lain dimaksudkan untuk menjadi ciri khas kepemimpinan di antara umat Allah. Musa menunjukkan karakter ini saat Israel berdosa dengan anak lembu emas. Ia berdoa, “Kumohon, Tuhan! Bangsa ini telah berbuat dosa besar dengan membuat ilah dari emas bagi dirinya. Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka. Jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari kitab yang telah Kautulis.” (Kel. 32:31-32). Daud menunjukkan karakter ini saat ia melihat malaikat Tuhan menulahi bangsanya. Ia berdoa, “… domba-domba ini, apakah yang telah dilakukan mereka? Biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku” (2 Sam. 24:17). Yesus, Sang Singa dari Yehuda, menunjukkan karakter ini saat Dia berkata, “Bapa mengasihi Aku, karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku mengambilnya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri” (Yoh. 10:17-18).
Keluarga Yakub Pindah ke Mesir (Kejadian 45:16-47:12)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiYusuf dan Firaun bermurah hati memberikan saudara-saudara Yusuf apa yang terbaik di seluruh tanah Mesir” (Kej. 45:20), menyediakan transportasi dan perbekalan untuk perjalanan mereka kembali ke Kanaan. Akhir kisah yang tampaknya bahagia ini sayangnya memiliki sisi gelap. Allah menjanjikan Abraham dan keturunannya tanah Kanaan, bukan tanah Mesir. Lama setelah Yusuf meninggal, relasi Mesir dengan Israel berubah dari persahabatan menjadi perseteruan. Dari perspektif ini, bagaimana kebajikan Yusuf kepada keluarganya dapat dikaitkan dengan perannya sebagai perantara berkat Allah bagi semua kaum di muka bumi (Kej. 12:3)? Yusuf adalah seorang bijaksana yang membuat rencana untuk masa depan, mewujudkan amanah Allah untuk memberkati bangsa-bangsa pada masanya. Namun, Allah tidak membukakan kepadanya bahwa kelak akan bangkit seorang “raja baru… yang tidak mengenal Yusuf” (Kel. 1:8). Setiap generasi harus tetap setia kepada Allah dan menerima berkat Allah dalam zaman mereka. Sayangnya, keturunan Yusuf melupakan janji Allah dan meninggalkan iman mereka. Meski demikian, Allah tidak melupakan janji-Nya kepada Abraham, Ishak, Yakub, dan keturunan mereka. Di antara keturunan mereka, Allah akan membangkitkan orang-orang pilihan untuk menyalurkan berkat yang dijanjikan-Nya.
Allah Memaksudkan Semuanya untuk Kebaikan (Kejadian 50:15-21)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKata-kata penyesalan dari kakak-kakaknya telah membawa Yusuf kepada satu titik pemahaman teologis terbaik dalam hidupnya dan dalam kitab Kejadian. Yusuf minta mereka untuk tidak takut, karena ia tidak akan menuntut pembalasan atas perlakuan mereka kepadanya. “Memang kamu telah merencanakan yang jahat terhadap aku,” katanya, “tetapi Allah telah merencanakannya demi kebaikan, untuk mewujudkan apa yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup banyak orang. Jadi, janganlah takut, aku akan memelihara kamu dan anak-anakmu juga” (Kej. 50:20-21). Frasa “banyak orang” yang disebutkan Yusuf menggemakan janji Allah untuk memberkati “semua kaum di muka bumi” (Kej. 12:3). Kita yang telah menerima Perjanjian Baru hari ini dapat melihat bagaimana berkat yang Allah berikan itu jauh lebih besar dari pada yang bisa didoakan atau dibayangkan Yusuf (baca Ef. 3:20).
Pekerjaan Allah di dalam dan melalui Yusuf memiliki nilai yang nyata, praktikal, dan tidak main-main—untuk memelihara hidup banyak orang. Jika kita mendapat impresi bahwa Allah menempatkan kita di tempat kerja sekarang hanya semata-mata agar kita bisa memberitakan-Nya kepada orang lain, atau bahwa satu-satunya bagian dari pekerjaan kita yang penting bagi Allah hanyalah membangun hubungan dengan sesama, pekerjaan Yusuf menunjukkan sebaliknya. Semua bagian pekerjaan kita penting bagi Allah dan bagi sesama kita. Terkadang sulit bagi kita melihat hal ini, karena pekerjaan kita seperti kepingan kecil dari tujuan Allah yang jauh lebih besar. Yusuf melihat pekerjaannya dengan perspektif yang lebih besar, sehingga ketika harus berhadapan dengan situasi yang naik turun, ia tidak menjadi tawar hati.
Tidak berarti relasi di tempat kerja lantas menjadi kurang penting. Mungkin orang-orang Kristen punya karunia istimewa untuk melepas pengampunan bagi orang lain di tempat kerja. Jaminan Yusuf untuk memelihara kehidupan saudara-saudaranya adalah sebuah contoh tindakan nyata pengampunan. Sesuai instruksi ayahnya, Yusuf mengampuni kakak-kakaknya dan secara verbal membebaskan mereka dari rasa bersalah. Namun, pengampunannya—sama seperti semua pengampunan sejati—tidak hanya sebatas perkataan. Yusuf memakai sumber daya Mesir yang berlimpah, yang Allah tempatkan di bawah kekuasaannya, untuk memenuhi kebutuhan saudara-saudaranya, agar mereka dapat hidup berkelimpahan. Ia mengakui bahwa penghakiman bukanlah bagiannya. “Apakah Aku ini Allah?” (Kej. 50:19). Ia tidak merebut peran Allah sebagai hakim, tetapi membantu saudara-saudaranya untuk berelasi dengan Allah yang telah menyelamatkan mereka.
Yusuf memiliki hubungan keluarga dengan saudara-saudaranya, sekaligus hubungan secara ekonomi. Tidak ada batas yang jelas di antara keduanya, pengampunan dapat diterapkan dalam dua konteks hubungan ini. Kita mungkin pernah berpikir bahwa nilai-nilai religius yang paling kita hargai utamanya hanya untuk diterapkan dalam lingkungan rohani seperti gereja. Padahal, sebagian besar dari kita bekerja di luar gereja dan kita harus menerima kenyataan bahwa tidak semua orang memiliki iman Kristen seperti kita. Membuat pemisahan antara yang “rohani” dan “sekuler” bukanlah cara hidup yang selaras dengan perspektif Alkitab. Sebab itu, pengampunan adalah praktik yang sudah sewajarnya diterapkan juga di tempat kerja.
Selalu akan ada banyak luka dan kesulitan dalam hidup. Tidak ada perusahaan atau organisasi yang kebal dari hal-hal itu. Adalah naif untuk menganggap tidak ada orang yang secara sengaja menyakiti orang lain lewat perkataan atau perbuatan mereka. Sama seperti Yusuf, kita bisa mengakui kenyataan bahwa ada orang yang memang merencanakan hal jahat kepada kita. Namun, dalam kenyataan tersebut, Yusuf mengingat kebenaran yang lebih besar tentang kehendak Allah untuk kebaikan. Mengingat kebenaran yang sama saat kita merasa tersakiti menolong kita untuk mampu menanggung rasa sakit dan untuk lebih memahami penderitaan Kristus.
Yusuf memandang dirinya sebagai wakil Allah yang memiliki peran penting untuk menyatakan pekerjaan Allah kepada umat-Nya. Ia menyadari kejahatan yang bisa dilakukan manusia dan menerima bahwa terkadang musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Ia tahu kisah-kisah dalam keluarganya: ada iman, ada juga keraguan; ada kesetiaan melayani, ada pula hasrat mementingkan diri sendiri; ada kebenaran dan ada juga kebohongan. Ia pun tahu janji-janji Allah kepada Abraham, komitmen Allah untuk memberkati keluarga keturunan Abraham, dan kebijaksanaan Allah yang bekerja bersama umat-Nya sembari memurnikan mereka melalui api ujian hidup. Yusuf tidak menutupi dosa-dosa mereka, semua itu ia serap ke dalam kesadarannya tentang pekerjaan besar Allah. Kesadaran kita tentang janji Allah yang pasti digenapi, pasti memelihara, dan pasti terjadi, membuat semua jerih lelah kita, sebesar apa pun, terbayar.
Dari begitu banyak pelajaran tentang pekerjaan di dalam kitab Kejadian, satu pelajaran ini terus relevan dan bahkan menjelaskan tentang penebusan—penyaliban Allah yang mulia (1 Kor. 2:8-10). Di tempat kita bekerja, nilai-nilai dan karakter kita terlihat jelas ketika kita membuat keputusan-keputusan yang mempengaruhi diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Dalam kuasa dan hikmat-Nya, Allah dapat bekerja dengan kesetiaan kita, memperbaiki kelemahan kita dan memakai kesalahan kita untuk mencapai apa yang telah Dia sediakan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya.