Bootstrap

Allah Memaksudkan Semuanya untuk Kebaikan (Kejadian 50:15-21)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
1750408

Kata-kata penyesalan dari kakak-kakaknya telah membawa Yusuf kepada satu titik pemahaman teologis terbaik dalam hidupnya dan dalam kitab Kejadian. Yusuf minta mereka untuk tidak takut, karena ia tidak akan menuntut pembalasan atas perlakuan mereka kepadanya. “Memang kamu telah merencanakan yang jahat terhadap aku,” katanya, “tetapi Allah telah merencanakannya demi kebaikan, untuk mewujudkan apa yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup banyak orang. Jadi, janganlah takut, aku akan memelihara kamu dan anak-anakmu juga” (Kej. 50:20-21). Frasa “banyak orang” yang disebutkan Yusuf menggemakan janji Allah untuk memberkati “semua kaum di muka bumi” (Kej. 12:3). Kita yang telah menerima Perjanjian Baru hari ini dapat melihat bagaimana berkat yang Allah berikan itu jauh lebih besar dari pada yang bisa didoakan atau dibayangkan Yusuf (baca Ef. 3:20).

Pekerjaan Allah di dalam dan melalui Yusuf memiliki nilai yang nyata, praktikal, dan tidak main-main—untuk memelihara hidup banyak orang. Jika kita mendapat impresi bahwa Allah menempatkan kita di tempat kerja sekarang hanya semata-mata agar kita bisa memberitakan-Nya kepada orang lain, atau bahwa satu-satunya bagian dari pekerjaan kita yang penting bagi Allah hanyalah membangun hubungan dengan sesama, pekerjaan Yusuf menunjukkan sebaliknya. Semua bagian pekerjaan kita penting bagi Allah dan bagi sesama kita. Terkadang sulit bagi kita melihat hal ini, karena pekerjaan kita seperti kepingan kecil dari tujuan Allah yang jauh lebih besar. Yusuf melihat pekerjaannya dengan perspektif yang lebih besar, sehingga ketika harus berhadapan dengan situasi yang naik turun, ia tidak menjadi tawar hati.

Tidak berarti relasi di tempat kerja lantas menjadi kurang penting. Mungkin orang-orang Kristen punya karunia istimewa untuk melepas pengampunan bagi orang lain di tempat kerja. Jaminan Yusuf untuk memelihara kehidupan saudara-saudaranya adalah sebuah contoh tindakan nyata pengampunan. Sesuai instruksi ayahnya, Yusuf mengampuni kakak-kakaknya dan secara verbal membebaskan mereka dari rasa bersalah. Namun, pengampunannya—sama seperti semua pengampunan sejati—tidak hanya sebatas perkataan. Yusuf memakai sumber daya Mesir yang berlimpah, yang Allah tempatkan di bawah kekuasaannya, untuk memenuhi kebutuhan saudara-saudaranya, agar mereka dapat hidup berkelimpahan. Ia mengakui bahwa penghakiman bukanlah bagiannya. “Apakah Aku ini Allah?” (Kej. 50:19). Ia tidak merebut peran Allah sebagai hakim, tetapi membantu saudara-saudaranya untuk berelasi dengan Allah yang telah menyelamatkan mereka.

Yusuf memiliki hubungan keluarga dengan saudara-saudaranya, sekaligus hubungan secara ekonomi. Tidak ada batas yang jelas di antara keduanya, pengampunan dapat diterapkan dalam dua konteks hubungan ini. Kita mungkin pernah berpikir bahwa nilai-nilai religius yang paling kita hargai utamanya hanya untuk diterapkan dalam lingkungan rohani seperti gereja. Padahal, sebagian besar dari kita bekerja di luar gereja dan kita harus menerima kenyataan bahwa tidak semua orang memiliki iman Kristen seperti kita. Membuat pemisahan antara yang “rohani” dan “sekuler” bukanlah cara hidup yang selaras dengan perspektif Alkitab. Sebab itu, pengampunan adalah praktik yang sudah sewajarnya diterapkan juga di tempat kerja.

Selalu akan ada banyak luka dan kesulitan dalam hidup. Tidak ada perusahaan atau organisasi yang kebal dari hal-hal itu. Adalah naif untuk menganggap tidak ada orang yang secara sengaja menyakiti orang lain lewat perkataan atau perbuatan mereka. Sama seperti Yusuf, kita bisa mengakui kenyataan bahwa ada orang yang memang merencanakan hal jahat kepada kita. Namun, dalam kenyataan tersebut, Yusuf mengingat kebenaran yang lebih besar tentang kehendak Allah untuk kebaikan. Mengingat kebenaran yang sama saat kita merasa tersakiti menolong kita untuk mampu menanggung rasa sakit dan untuk lebih memahami penderitaan Kristus.

Yusuf memandang dirinya sebagai wakil Allah yang memiliki peran penting untuk menyatakan pekerjaan Allah kepada umat-Nya. Ia menyadari kejahatan yang bisa dilakukan manusia dan menerima bahwa terkadang musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Ia tahu kisah-kisah dalam keluarganya: ada iman, ada juga keraguan; ada kesetiaan melayani, ada pula hasrat mementingkan diri sendiri; ada kebenaran dan ada juga kebohongan. Ia pun tahu janji-janji Allah kepada Abraham, komitmen Allah untuk memberkati keluarga keturunan Abraham, dan kebijaksanaan Allah yang bekerja bersama umat-Nya sembari memurnikan mereka melalui api ujian hidup. Yusuf tidak menutupi dosa-dosa mereka, semua itu ia serap ke dalam kesadarannya tentang pekerjaan besar Allah. Kesadaran kita tentang janji Allah yang pasti digenapi, pasti memelihara, dan pasti terjadi, membuat semua jerih lelah kita, sebesar apa pun, terbayar.

Dari begitu banyak pelajaran tentang pekerjaan di dalam kitab Kejadian, satu pelajaran ini terus relevan dan bahkan menjelaskan tentang penebusan—penyaliban Allah yang mulia (1 Kor. 2:8-10). Di tempat kita bekerja, nilai-nilai dan karakter kita terlihat jelas ketika kita membuat keputusan-keputusan yang mempengaruhi diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Dalam kuasa dan hikmat-Nya, Allah dapat bekerja dengan kesetiaan kita, memperbaiki kelemahan kita dan memakai kesalahan kita untuk mencapai apa yang telah Dia sediakan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya.