Bootstrap

Yusuf diangkat Firaun pada posisi terhormat (Kejadian 41:1-45)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
1592834

Yusuf masih harus melewati dua tahun lagi sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bebas dari penderitaannya di penjara. Firaun mulai mendapat mimpi-mimpi yang menggelisahkannya dan kepala juru minum teringat akan kemampuan menafsir mimpi dari seorang pemuda Ibrani di penjara. Mimpi Firaun tentang lembu-lembu dan bulir-bulir gandum membingungkan para penasihatnya yang paling hebat. Yusuf mewartakan kehebatan Allah yang menyediakan penafsiran mimpi itu dan menegaskan bahwa ia hanyalah perantara yang menyampaikan wahyu Allah (Kej. 41:16). Di hadapan Firaun, Yusuf tidak memakai nama Allah dalam perjanjian yang eksklusif untuk umat-Nya saja. Sebaliknya, ia secara konsisten menyebut nama Allah dengan istilah yang lebih umum, yaitu elohim. Dengan begitu, Yusuf menghindari terjadinya masalah yang tidak perlu. Yang disampaikannya bisa diterima semua pihak, ini didukung dengan fakta bahwa Firaun ikut memuji Allah yang menyingkapkan kepada Yusuf arti dari mimpinya (Kej. 41:39). Di tempat kerja, adakalanya orang percaya dapat memuji Allah atas keberhasilan mereka dengan cara yang membuat orang lain tidak nyaman. Cara Yusuf mengesankan Firaun, menunjukkan bahwa memuji Allah secara publik dapat dilakukan dengan cara yang meyakinkan.

Kehadiran Allah bersama Yusuf sangat nyata hingga Firaun mengangkat Yusuf menjadi penguasa kedua setelah dirinya di Mesir, secara khusus untuk mengelola persiapan menghadapi tahun kelaparan (Kej. 41:37-45). Firman Allah kepada Abraham menjadi kenyataan: “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau … dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej. 12:3). Seperti Yusuf, ketika kita mengakui ketidakmampuan kita untuk menghadapi tantangan yang datang dan mengakui campur tangan Allah dalam keberhasilan kita dengan cara yang tepat, kita sedang membangun pertahanan yang kuat melawan keangkuhan yang kerap muncul saat kita dipuji banyak orang.

Pengangkatan Yusuf ditandai dengan diberikannya beberapa tanda kekuasaan: sebuah cincin meterai kerajaan dan kalung emas, pakaian dari linen halus yang sepadan dengan jabatannya yang tinggi, kereta khusus, sebuah nama Mesir, dan seorang istri dari keluarga kelas atas di Mesir (Kej. 41:41-45). Sebuah situasi yang bisa sangat menggoda Yusuf untuk meninggalkan identitasnya sebagai seorang Ibrani. Allah menolong kita saat mengalami kesalahan dan kegagalan, tetapi kita mungkin perlu lebih banyak ditolong saat mengalami kesuksesan. Teks yang kita baca ini menunjukkan beberapa indikasi bagaimana Yusuf menerima promosinya dengan cara yang sesuai kehendak Allah. Ini terkait erat dengan semua yang mempersiapkan Yusuf sebelum promosi itu terjadi.

Dulu di rumah ayahnya, mimpi menjadi pemimpin yang diberikan Allah membuat Yusuf yakin bahwa Allah memilihnya dan mempunyai tujuan untuk hidupnya, Sifat alaminya adalah mempercayai orang lain. Ia tampaknya tidak menyimpan dendam kepada kakak-kakaknya yang cemburu atau kepada juru minum yang melupakannya. Sebelum dipromosikan oleh Firaun, Yusuf sudah tahu bahwa Allah menyertainya dan ia punya bukti yang jelas tentang hal itu. Berulang kali memberikan pengakuan dan pujian kepada Allah bukan saja hal yang benar untuk dilakukan, tetapi juga mengingatkan Yusuf bahwa ketrampilannya bersumber dari Allah. Yusuf adalah pribadi yang sopan dan rendah hati, ia menunjukkan kesediaan mengerjakan apa saja yang mampu ia lakukan untuk menolong Firaun dan rakyat Mesir. Bahkan ketika orang-orang Mesir kehabisan uang dan ternak, Yusuf mendapatkan kepercayaan dari orang Mesir dan Firaun (Kej. 41:55; 47:13-20). Di sepanjang sisa hidupnya sebagai seorang penguasa, Yusuf secara konsisten mendedikasikan dirinya untuk mengelola sumber daya secara efektif bagi kebaikan banyak orang.

Kisah Yusuf sampai titik ini mengingatkan kita bahwa di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa, jawaban doa dari Tuhan tidak selalu datang dengan cepat. Yusuf berusia tujuh belas tahun saat ia dijual kakak-kakaknya sebagai budak (Kej. 37:2). Ia baru dibebaskan dari penjara saat berusia tiga puluh tahun (Kej. 41:46), tiga belas tahun kemudian.