Bootstrap

Kitab Bilangan dan Kerja

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Numbers bible commentary free

Introduksi Kitab Bilangan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kitab Bilangan berkontribusi penting pada pemahaman dan penerapan kita tentang kerja. Kitab ini menunjukkan tentang umat Allah, Israel, yang berjuang untuk bekerja menurut tujuan-tujuan Allah di masa-masa sulit. Di dalam perjuangan itu, mereka mengalami konflik-konflik tentang identitas, otoritas, dan kepemimpinan saat mereka mengarungi padang gurun menuju Tanah yang dijanjikan Allah. Kebanyakan pelajaran yang bisa kita dapatkan untuk pekerjaan kita diambil dari contoh, ketika kita memahami apa yang berkenan pada Allah dan yang tidak, bukan dari serangkaian perintah-perintah.

Kitab ini disebut “Bilangan” (dalam bahasa Inggris: “Numbers”) karena kitab ini menuliskan serangkaian sensus yang diadakan Musa atas suku-suku bangsa Israel. Sensus itu diadakan untuk mengetahui kuantitas sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada untuk urusan-urusan ekonomi dan pemerintahan, seperti tugas militer (Bilangan 1:2-3; 26:2-4), tugas keagamaan (Bilangan 4:2-3, 22-23), perpajakan (Bilangan 3:40-48), dan pertanian (Bilangan 26:53-54). Alokasi sumber daya yang efektif tergantung pada data yang baik. Namun, lebih dari sekadar melaporkan angka-angka atau data, sensus-sensus ini juga berfungsi sebagai kerangka cerita. Di dalam cerita itu, statistik sering disalahgunakan dan menimbulkan perselisihan, pemberontakan dan kerusuhan sosial. Ide tentang penghitungan kuantitatif itu sendiri tidak bermasalah – Allah sendiri memerintahkan diadakannya sensus-sensus (Bilangan 1:1-2). Namun, ketika analisis angka-angka digunakan sebagai dalih untuk menyimpang dari perkataan Allah, bahaya timbul (Bilangan 14:20-25). Pantulan tidak langsung dari manipulasi angka-angka sebagai pengganti penalaran moral yang asli ini tampak pada skandal-skandal akuntansi dan krisis-krisis finansial masa kini.

Peristiwa-peristiwa dalam kitab Bilangan terjadi di padang gurun yang bukan di wilayah Mesir atau Tanah Perjanjian. Nama kitab itu dalam bahasa Ibrani, bemidbar, adalah singkatan dari frasa “di padang gurun Sinai” (Bilangan 1:1), yang merupakan tempat kejadian utama kitab itu – perjalanan bangsa Israel melalui padang gurun. Perjalanan bangsa itu dari Sinai menuju Tanah Perjanjian berakhir saat mereka tiba di wilayah sebelah timur Sungai Yordan. Mereka bisa sampai ke tempat itu karena “tangan keperkasaan” Allah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir, kisah yang diceritakan dalam kitab Keluaran. Mengeluarkan bangsa itu dari perbudakan adalah satu hal; tetapi mengeluarkan perbudakan dari bangsa itu ternyata merupakan hal lain. Singkatnya, kitab Bilangan adalah kitab tentang hidup bersama Allah dalam perjalanan menuju penggenapan janji-janji-Nya, perjalanan yang juga sedang kita arungi sebagai umat Allah. Dari pengalaman bangsa Israel di padang gurun, kita menemukan sumber-sumber untuk menghadapi tantangan-tantangan dalam hidup dan pekerjaan kita saat ini, dan kita bisa mendapatkan kekuatan dan pertolongan dari Allah yang selalu hadir dan menyertai.

Allah Menghitung dan Mengatur Bangsa Israel (Bilangan 1:1-2:34)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sebelum Keluaran (pembebasan dari perbudakan di Mesir), Israel belum menjadi sebuah bangsa. Israel berawal dari keluarga Abraham dan Sarah serta keturunannya, yang berkembang menjadi kaum/keluarga besar (klan atau marga) di bawah kepemimpinan Yusuf, tetapi lalu jatuh ke dalam perbudakan sebagai etnis minoritas di Mesir. Populasi orang Israel di Mesir berkembang menjadi sebesar-bangsa (Keluaran 12:37), tetapi sebagai kelompok budak, mereka tidak diperbolehkan memiliki institusi atau organisasi kebangsaan. Mereka keluar dari Mesir sebagai rombongan pengungsi yang hampir tidak teratur (Keluaran 12:34-39), yang sekarang harus diatur menjadi bangsa yang berfungsi.

Allah memerintahkan Musa untuk menghitung jumlah penduduk (sensus pertama, Bilangan 1:1-3) dan membentuk pemerintahan sementara yang dikepalai para pemimpin suku (Bilangan 1:4-16). Atas perintah Allah selanjutnya, Musa menunjuk kelompok pemuka agama, orang-orang Lewi, dan memperlengkapi mereka dengan sumber-sumber untuk membangun tabernakel atau Kemah Suci (Bilangan 1:48-54). Musa mengatur tempat perkemahan untuk seluruh orang Israel, lalu menempatkan laki-laki yang sudah cukup umur untuk berperang dalam pasukan-pasukan militer, serta mengangkat para komandan dan perwira (Bilangan 2:1-9). Ia membentuk birokrasi, mendelegasikan wewenang kepada para pemimpin yang memenuhi syarat, dan mengadakan sistem pengadilan sipil dan pengadilan banding (yang ini dituliskan di Keluaran 18:1-27, bukan di kitab Bilangan). Sebelum Israel bisa memiliki Tanah Perjanjian (Kejadian 28:15) dan memenuhi panggilannya untuk menjadi berkat bagi segala bangsa (Kejadian 18:18), bangsa itu harus diatur dengan baik.

Hal-hal yang dilakukan Musa dalam organisasi, kepemimpinan, pengaturan dan pengembangan sumber daya sangat mirip dengan yang dilakukan di hampir semua sektor masyarakat masa kini – di sektor bisnis, pemerintahan, militer, pendidikan, keagamaan, lembaga nirlaba, asosiasi masyarakat, dan bahkan rumahtangga/keluarga. Dalam hal ini, Musa menjadi godfather bagi semua manajer, akuntan, ahli statistik, pakar ekonomi, pejabat militer, gubernur, hakim, polisi, kepala sekolah, pengurus komunitas/masyarakat, dan banyak lagi yang lainnya. Perhatian detail yang diberikan kitab Bilangan dalam mengatur para pekerja, melatih pemimpin, membentuk institusi-institusi masyarakat, mengembangkan kemampuan logistik, membangun pertahanan, dan mengembangkan sistem akuntansi menunjukkan bahwa Allah masih tetap memimpin dan memberdayakan struktur-struktur masyarakat masa kini dalam mengatur, memerintah, memberdayakan dan melakukan pemeliharaan/pertahanan.

Orang Lewi dan Pekerjaan Allah (Bilangan 3-8)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Bilangan 3-8 berfokus pada pekerjaan para imam dan orang Lewi. (Orang Lewi adalah suku yang orang-orangnya melayani sebagai imam – istilah-istilah yang sering dipakai secara bergantian atau dapat dipertukarkan di dalam kitab Bilangan). Mereka memiliki peran yang sangat penting sebagai perantara penebusan Allah kepada seluruh umat (Bilangan 3:40-51). Seperti halnya para pekerja lainnya, mereka juga dihitung dan diatur dalam unit-unit kerja, meskipun mereka dibebaskan dari tugas militer (Bilangan 4:2-3; 22-23). Mungkin tampaknya pekerjaan mereka ditentukan lebih tinggi daripada pekerjaan suku-suku lainnya karena mereka “mengurusi barang-barang yang mahakudus” (Bilangan 4:4). Perhatian sangat detail yang diberikan pada kemah pertemuan dan segala perkakasnya memang tampaknya meninggikan peran para imam di atas peran-peran orang lainnya dalam bangsa itu. Namun, teks itu sebenarnya menunjukkan betapa sangat eratnya keterkaitan antara pekerjaan mereka dengan pekerjaan seluruh orang Israel. Orang Lewi membantu semua orang Israel menyelaraskan hidup dan pekerjaan mereka dengan perintah dan tujuan-tujuan Allah. Selain itu, pekerjaan yang dilakukan orang Lewi di Kemah Pertemuan juga sama dengan pekerjaan yang dilakukan kebanyakan orang Israel—membongkar, memindahkan dan mendirikan kemah, menyalakan api, mencuci kain lenan, menyembelih binatang dan mengolah gandum. Jadi, penekanannya adalah pada integrasi pekerjaan orang Lewi dengan pekerjaan semua orang lain. Kitab Bilangan memberi perhatian detail pada pekerjaan para imam sebagai perantara kehadiran Allah bukan karena pekerjaan keagamaan merupakan pekerjaan yang paling penting, tetapi karena Allah ada di pusat setiap pekerjaan.

Mempersembahkan Hasil Kerja Kita kepada Allah (Bilangan 4, 7)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat detail untuk mendirikan Kemah Pertemuan, tempat kehadiran-Nya di tengah orang Israel. Kemah Pertemuan memerlukan bahan-bahan yang dihasilkan oleh berbagai macam pekerja —kulit halus, kain ungu, kain merah tua, tirai-tirai, tiang-tiang dan kerangka, pinggan, cawan, piala, kendi, kandil beserta lampu-lampunya, sepit-sepit, nampan-nampan, minyak dan tempat minyaknya, mezbah emas, perbaraan, garpu, penyodok, bokor penyiraman, dan dupa wangi (Bilangan 4:5-15). (Untuk penjelasan serupa, lihat “Tabernakel” dalam Keluaran 31:1-12). Di dalam upacara persembahan itu, umat juga membawa lagi hasil-hasil kerja manusia seperti cawan minuman (Bilangan 4:7, dll.), kurban sajian (4:16, dll.), minyak (7:13, dll.), domba (6:12, dll.), kambing (7:16, dll.), dan logam mulia (emas dan perak) (7:25, dll.). Hampir semua pekerjaan— dari hampir semua orang—di Israel dibutuhkan untuk bisa menyembah Allah di Kemah Pertemuan.

Orang Lewi menafkahi keluarganya sebagian besar dari porsi/sebagian persembahan itu. Porsi persembahan ini diberikan kepada orang Lewi karena, tidak seperti suku-suku lainnya, mereka tidak memiliki tanah untuk bercocok tanam (Bilangan 18:18-32). Orang Lewi menerima porsi persembahan itu bukan karena mereka orang yang suci kudus, tetapi karena dengan memimpin upacara-upacara persembahan kurban itu, mereka membawa semua orang ke dalam relasi yang kudus dengan Allah. Justru umat itulah, bukan orang Lewi, yang mendapat manfaat terbesar dari upacara-upacara pengorbanan itu. Sesungguhnya, upacara pengorbanan itu sendiri adalah bagian dari cara menyediakan makanan di Israel. Selain beberapa bagian kurban persembahan yang dibakar di atas mezbah dan diberikan kepada orang Lewi sebagaimana disebutkan di atas, bagian-bagian utama dari persembahan kurban sajian dan kurban binatang itu ditandai untuk dimakan oleh orang-orang yang membawanya.[1] Dengan cara ini, semua orang di Israel juga diberi makan. Secara keseluruhan, upacara pengorbanan diadakan bukan untuk memisahkan beberapa yang kudus dari hasil kerja manusia yang lainnya, tetapi untuk menjadi perantara kehadiran Allah dalam seluruh kehidupan dan pekerjaan bangsa itu.

Begitu pula saat ini, segala produk dan jasa seluruh umat Allah adalah ungkapan-ungkapan kuasa Allah yang bekerja di dalam manusia, atau setidaknya demikianlah seharusnya. Perjanjian Baru mengembangkan tema Perjanjian Lama ini dengan sangat jelas. “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9). Semua pekerjaan yang kita lakukan adalah pekerjaan para imam jika menyatakan tentang kebaikan Allah. Barang-barang yang kita hasilkan—kulit dan kain, cawan dan pinggan, bahan-bahan bangunan, materi pelajaran, rancangan keuangan, dan seterusnya—adalah barang-barang para imam. Pekerjaan yang kita lakukan —mencuci pakaian, merawat tanaman, membesarkan anak, dan segala macam pekerjaan lainnya yang halal – adalah pelayanan para imam kepada Allah. Kita semua harus bertanya, “Bagaimana pekerjaanku menyatakan tentang kebaikan Allah, membuat-Nya nyata bagi orang-orang yang tidak mengenal Dia dan melayani tujuan-tujuan-Nya di dunia?” Semua orang percaya, bukan hanya para rohaniwan, adalah keturunan para imam dan orang Lewi dalam kitab Bilangan, yang melakukan pekerjaan Allah setiap hari.

Pertobatan, Restitusi dan Rekonsiliasi (Bilangan 5:5-10)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Peran esensial umat Allah adalah membawa perdamaian dan keadilan dalam situasi-situasi konflik dan menyimpang. Meskipun orang Israel bertekad untuk menaati perintah-perintah Allah, mereka selalu saja gagal, seperti juga kita saat ini. Kegagalan ini sering berupa memperlakukan orang lain dengan buruk. "Apabila seseorang, laki-laki atau perempuan, berbuat dosa terhadap sesamanya manusia, dan karena itu berlaku tidak setia terhadap TUHAN, maka orang itu bersalah" (Bilangan 5:6). Melalui pekerjaan orang Lewi, Allah menyediakan cara untuk bertobat, melakukan restitusi dan rekonsiliasi setelah terjadinya perbuatan salah itu. Satu hal yang penting adalah: pihak yang bersalah tidak hanya mengganti kerugian yang disebabkan olehnya, tetapi juga menambahnya sebesar 20 persen (Bilangan 5:7), yang agaknya sebagai cara bersimpati atau ikut merasakan penderitaan/kerugian yang dialami korban. (Bagian ini paralel dengan kurban penebus salah yang dijelaskan dalam kitab Imamat; lihat “Pentingnya Persembahan Kurban Penebus Salah di Tempat kerja” dalam Kitab Imamat dan Kerja).

Perjanjian Baru memberikan contoh yang sangat jelas tentang prinsip kerja ini. Ketika pemungut cukai yang bernama Zakheus mengenal keselamatan dalam Kristus, ia menawarkan untuk mengembalikan empat kali lipat dari jumlah pajak yang telah diambilnya dari warga sesamanya. Contoh yang lebih moderen – meskipun tidak secara eksplisit didasarkan pada Alkitab – semakin banyak rumah sakit yang bersedia mengakui kesalahan, meminta maaf dan menawarkan ganti rugi dan bantuan finansial langsung kepada para pasien dan keluarga yang merasa dirugikan.[1] Namun, Anda tak harus menjadi pemungut cukai atau pekerja medis untuk melakukan kesalahan. Kita semua memiliki cukup banyak kesempatan untuk mengakui kesalahan dan menawarkan diri untuk memperbaikinya, dan seterusnya. Banyak tantangan semacam ini justru terjadi di tempat kerja. Namun apakah kita benar-benar melakukannya, atau apakah kita berusaha menutupi kesalahan kita dan mengecilkan tanggung jawab kita?

Ucapan Berkat (Imam) Harun atas Umat-Nya (Bilangan 6:22-27)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Salah satu tugas utama orang Lewi adalah memohonkan berkat Allah. Allah menetapkan kata-kata berikut ini sebagai berkat para imam:

TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;
TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya
dan memberi engkau kasih karunia;
TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu
dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bilangan 6:24-26)

Berkat Allah pada manusia tak terhitung banyaknya—secara rohani, mental, emosional, dan materi. Namun, yang menjadi fokus di sini adalah memberkati orang lain dengan perkataan. Perkataan kita yang baik dapat menjadi momen kasih karunia Allah dalam hidup orang lain. “Demikianlah harus mereka letakkan nama-Ku atas orang Israel, dan Aku akan memberkati mereka,” Allah berjanji (Bilangan 6:27).

Kata-kata yang kita gunakan di tempat kerja bisa memberkati, bisa juga mengutuki, dapat membangun orang lain, dapat pula menghancurkan mereka. Pilihan kata-kata kita seringkali lebih dahsyat dari yang kita sadari. Berkat di Bilangan 6:24-26 menyatakan bahwa Allah “akan ‘melindungi’ engkau, memberi engkau ‘kasih karunia’ dan ‘damai sejahtera’.” Di tempat kerja, perkataan kita dapat “melindungi” orang lain – yang artinya, menenteramkan hati, menjaga, dan memberi dukungan. “Jika perlu bantuan, bilang saja padaku. Aku tidak akan menolakmu.” Perkataan kita bisa penuh kasih karunia, membuat situasi menjadi lebih baik dari sebaliknya. Sebagai contoh, kita dapat menerima tanggung jawab atas kesalahan bersama, dan bukan melemparkan kesalahan dengan mengecilkan peran kita. Perkataan kita dapat membawa damai sejahtera dengan memperbaiki relasi-relasi yang hancur. Sebagai contoh, “Aku sadar ada yang tidak beres di antara kita, tetapi aku ingin mencari cara agar kita dapat kembali memiliki relasi yang baik.” Tentu saja, ada saatnya kita juga harus menyatakan keberatan, mengeritik, mengoreksi, dan mungkin menghukum orang lain di tempat kerja. Meskipun demikian, kita dapat memilih apakah kita akan mengeritik tindakannya yang salah ataukah langsung menganggap keseluruhan orang itu tidak bermutu. Sebaliknya, ketika orang lain bekerja dengan baik, kita dapat memilih untuk memuji dan bukan diam saja, meskipun ada risikonya juga pada reputasi kita atau pun dari sikap diam kita.

Pensiun dari Dinas Rutin (Bilangan 8:23-26)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kitab Bilangan berisi satu-satunya ayat Alkitab yang menetapkan batas usia kerja. Orang Lewi memulai pelayanan ketika mereka masih berusia muda, yang akan cukup kuat untuk memasang dan mengangkut Kemah Suci dengan segala perkakas sucinya. Sensus-sensus di Bilangan 4 tidak mencantumkan nama-nama orang Lewi yang berusia 50 tahun ke atas, dan Bilangan 8:25 menetapkan bahwa pada waktu berusia 50 tahun, orang Lewi harus dibebaskan dari pekerjaannya. Selain mengangkat kemah suci yang berat, tugas orang Lewi juga termasuk memeriksa penyakit kulit dengan cermat (Imamat 13). Pada zaman sebelum ada kacamata baca, hampir tidak ada orang yang berusia 50 tahun ke atas yang dapat melihat sesuatu dengan jelas dari jarak dekat. Jadi intinya di sini bukanlah bahwa usia 50 tahun merupakan usia pensiun yang universal, tetapi bahwa sudah tiba saatnya ketika fisik yang menua menunjukkan penurunan efektivitas kerja. Prosesnya sangat beragam pada masing-masing individu dan jenis pekerjaan. Musa berusia 80 tahun ketika ia memulai tugasnya sebagai pemimpin bangsa Israel (Keluaran 7:7).

Namun, pensiun bukanlah akhir dari bekerjanya orang Lewi. Tujuan pembebasan tugas ini bukan untuk menyingkirkan pekerja produktif dari pelayanan, tetapi mengalihkan pelayanan mereka kepada hal-hal yang lebih sesuai, mengingat kondisi pekerjaan mereka. Setelah pensiun mereka masih dapat “membantu saudara-saudaranya di Kemah Pertemuan dalam menjalankan tugas mereka” (Bilangan 8:26). Terkadang kemampuan-kemampuan tertentu — kecakapan dalam menilai/memberi pertimbangan, kebijaksanaan, dan keluasan wawasan—justru makin meningkat dengan bertambahnya usia. Dengan “membantu saudara-saudaranya,” orang Lewi yang berusia lanjut beralih ke cara-cara yang berbeda dalam melayani komunitasnya. Pandangan moderen tentang pensiun yang berarti berhenti bekerja dan hanya menghabiskan waktu untuk bersantai tidak ditemukan dalam Alkitab.

Seperti orang Lewi, kita tak boleh ingin berhenti total dari melakukan pekerjaan yang berarti di usia senja. Kita mungkin ingin atau perlu melepaskan jabatan kita, tetapi kemampuan dan kebijaksanaan kita masih berharga. Kita bisa terus melayani orang lain dengan keterlibatan kita dalam kepemimpinan/kepengurusan asosiasi perdagangan, organisasi kemasyarakatan, dewan direksi, atau lembaga perizinan. Kita bisa mengonseling, melatih, mengajar, atau mendampingi. Mungkin pada akhirnya kita bisa punya waktu untuk melayani sepenuhnya di gereja, klub, kantor publik, atau lembaga pelayanan. Kita bisa mengivestasikan lebih banyak waktu untuk bersama keluarga, atau jika hal itu sudah terlambat, kita dapat melakukannya bersama anak-anak atau kaum muda yang lain. Seringkali pelayanan baru kita yang sangat berharga adalah mendampingi dan menyemangati (memberkati) para pekerja muda (lihat Bilangan 6:24-27).

Mengingat kemungkinan-kemungkinan ini, masa lansia bisa menjadi salah satu masa yang paling memuaskan dalam hidup seseorang. Sayangnya, masa pensiun menyingkirkan banyak orang tepat pada waktu talenta, sumber daya, waktu, pengalaman, jaringan, pengaruh dan hikmat mereka bisa paling bermanfaat. Sebagian pensiunan lalu memilih untuk hanya mencari dan menikmati kesenggangan dan kesenangan, atau menyerah saja pada kehidupan. Yang lain mendapati bahwa regulasi-regulasi yang terkait dengan usia dan marjinalisasi sosial menghalangi mereka untuk bekerja semaksimal yang mereka inginkan. Artikel yang ditulis Ian Rose untuk BBC, "Why we lie about being retired," (Mengapa kita berbohong tentang masa pensiun-Pen) mengupas tantangan-tantangan yang dihadapi orang pada masa pensiun, terutama jika mereka memasukinya dengan harapan untuk berhenti kerja sepanjang sisa hidup mereka.

Terlalu sedikit materi yang ada di Akitab yang bisa dijadikan dasar teologi pensiun yang komprehensif. Namun, ketika kita bertambah usia, setiap kita bisa mempersiapkan masa pensiun sebaik, atau lebih baik dari, ketika kita mempersiapkan diri untuk bekerja. Ketika masih muda, kita bisa menghargai dan belajar dari rekan-rekan kerja yang lebih berpengalaman. Di segala usia, kita bisa mengupayakan kebijakan-kebijakan dan penerapan-penerapan pensiun yang lebih adil dan lebih produktif baik bagi pekerja yang masih muda maupun yang sudah lansia.

Tantangan terhadap Otoritas Musa (Bilangan 12)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Di Bilangan 12, saudara-saudara Musa, Harun dan Miryam, mencoba melakukan pemberontakan terhadap otoritas Musa. Mereka tampaknya memiliki keberatan yang sah. Musa mengajarkan bahwa orang Israel tidak boleh menikah dengan orang asing (Ulangan 7:3), tetapi ia sendiri memiliki istri orang asing (Bilangan 12:1). Jika keberatan ini memang menjadi keprihatinan mereka, mereka sebenarnya dapat mengutarakannya kepada Musa atau kepada dewan tua-tua yang baru dibentuk (Bilangan 11:16-17) untuk mencari penyelesaian. Namun, mereka malah menggerakkan orang untuk melengserkan Musa dan menjadikan mereka sebagai pengganti pemimpin bangsa Israel. Ternyata, keberatan mereka hanya dalih untuk memicu pemberontakan umum dengan tujuan mengangkat diri mereka sendiri ke posisi kekuasaan tertinggi.

Allah menghukum mereka dengan keras atas nama Musa. Allah mengingatkan mereka bahwa Dialah yang telah memilih Musa sebagai utusan-Nya kepada bangsa Israel, yang berbicara dengan Musa secara “berhadapan muka” dan memercayakan “segenap rumah-Ku” kepadanya (Bilangan 12:7-8). “Mengapa kamu tidak takut mencela hamba-Ku Musa?” Allah bertanya (Bilangan 12:8). Ketika Allah tidak mendengar jawaban, kitab Bilangan menyatakan bahwa “murka TUHAN menyala-nyala terhadap mereka” (Bilangan 12:9). Hukuman-Nya pertama-tama dijatuhkan kepada Miryam, yang menderita sakit kusta yang mengerikan, dan Harun lalu meminta Musa untuk mengampuni mereka (Bilangan 12:10-12). Otoritas pemimpin yang dipilih Allah harus dihormati, karena memberontak terhadap pemimpin pilihan Allah berarti memberontak terhadap Allah sendiri.

Ketika Kita Memiliki Keberatan terhadap Orang yang Berotoritas

Allah hadir secara unik dalam kepemimpinan Musa. “Tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka” (Ulangan 34:10). Para pemimpin masa kini tidak ada yang memiliki otoritas dapat berhadapan muka dengan Allah seperti Musa. Namun Allah memerintahkan kita untuk menghormati otoritas semua pemimpin, “sebab tidak ada penguasa yang tidak berasal dari Allah” (Roma 13:1-3). Ini bukan berarti para pemimpin tidak boleh dipertanyakan, dimintai pertanggungjawaban, atau bahkan diganti. Namun, ini berarti, setiap kali kita memiliki keluhan atau keberatan terhadap orang yang memiliki otoritas yang sah – seperti Musa – kita harus melihat hal-hal dalam kepemimpinannya sebagai manifestasi dari otoritas Allah. Kita harus menghormatinya atas bagian mana pun dari otoritas Allah yang benar-benar diembannya, bahkan ketika kita ingin mengoreksi, membatasi atau bahkan menyingkirkannya dari kekuasaan.

Detail yang jelas dalam kisah Musa ini adalah bahwa Harun dan Miryam ingin menerobos ke posisi kekuasaan. Kehausan akan kekuasaan tak pernah menjadi motivasi yang sah untuk memberontak terhadap otoritas. Jika kita memiliki keberatan terhadap atasan kita, yang harus kita harapkan pertama-tama adalah menyelesaikan keluhan/keberatan itu dengannya. Jika penyalahgunaan kekuasaan atau ketidakcakapan atasan itu menghalangi terjadinya hal ini, tujuan kita selanjutnya adalah membuatnya digantikan oleh orang yang berintegritas dan cakap. Namun, jika kita hanya ingin membesarkan kekuasaan kita sendiri, tujuan kita ini tidak benar, dan bahkan kita sudah tak punya alasan untuk mengetahui apakah atasan itu bertindak benar atau tidak. Hasrat dan keinginan kita sendiri telah membuat kita tidak mampu untuk mengenali otoritas Allah dalam situasi itu.

Ketika Orang Lain Menentang Otoritas Kita

Meskipun Musa memiliki otoritas dan dalam posisi yang benar, ia menyikapi tantangan terhadap kepemimpinannya itu dengan lemah lembut dan rendah hati. "Musa itu seorang yang sangat rendah hati, lebih dari setiap manusia di muka bumi” (Bilangan 12:3). Ia tetap bersama Harun dan Miryam di sepanjang episode itu, bahkan ketika mereka mulai menerima hukuman yang sudah sepantasnya mereka terima. Ia ikut memohon agar Allah memulihkan keadaan Miryam, dan berhasil meringankan hukumannya dari mati menjadi tujuh hari dikucilkan di luar perkemahan (Bilangan 12:13-15). Ia tetap mempertahankan mereka sebagai pemimpin senior bangsa itu.

Jika kita berada dalam posisi kekuasaan, kita mungkin juga akan menghadapi tantangan seperti yang dialami Musa. Dengan asumsi bahwa kita, seperti Musa, memiliki otoritas yang sah, kita mungkin akan tersinggung oleh perlawanan itu dan bahkan menganggapnya sebagai menentang tujuan Allah untuk kita. Kita mungkin berada di pihak yang benar jika kita berusaha mempertahankan kedudukan kita dan mengalahkan orang-orang yang menentangnya. Namun, seperti Musa, kita pertama-tama harus memerhatikan orang-orang yang Allah tempatkan di bawah kekuasaan kita, termasuk orang-orang yang menentang kita. Mereka mungkin memiliki keberatan yang sah terhadap kita, atau mungkin mereka memang ingin melakukan kezaliman. Kita mungkin bisa berhasil melawannya atau mungkin juga kita bisa kalah. Kita bisa terus berada di organisasi itu dan bisa juga tidak, dan mereka juga bisa terus bekerja di situ dan bisa juga tidak. Kita bisa mencari titik temu, atau kita juga bisa merasa tidak mungkin bisa memiliki relasi kerja yang baik lagi dengan orang yang pernah menentang kita. Namun bagaimanapun, dalam setiap situasi kita punya kewajiban untuk bersikap rendah hati, yang artinya kita harus bertindak untuk kebaikan orang-orang yang dipercayakan Allah pada kita, meskipun dengan mengorbankan kenyamanan, kekuasaan, martabat dan citra-diri kita. Kita akan tahu bahwa kita sedang memenuhi kewajiban ini jika kita mendapati diri kita membela orang yang menentang kita, seperti yang dilakukan Musa pada Miryam.

Ketika Kepemimpinan Membuat Tidak Populer (Bilangan 13, 14)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Tantangan lain terhadap otoritas Musa terjadi di Bilangan 13 dan 14. TUHAN memerintahkan Musa mengirim pengintai ke tanah Kanaan untuk menyiapkan penaklukan. Para intelijen militer maupun pakar ekonomi dikumpulkan, dan nama-nama pengintai dari setiap suku disebutkan (Bilangan 13:4-20). Ini berarti laporan para pengintai itu kelak bisa digunakan bukan saja untuk merancang penaklukan, tetapi juga untuk memulai pembahasan tentang pembagian wilayah di antara suku-suku Israel. Laporan para pengintai menyatakan bahwa negeri itu sangat baik, dan negeri itu “memang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Bilangan 13:27). Namun, para pengintai itu juga melaporkan bahwa “bangsa yang tinggal di negeri itu kuat-kuat, kota-kotanya berkubu dan sangat besar” (Bilangan 13:28). Musa dan Kaleb memakai laporan intelijen itu untuk merencanakan serangan, tetapi para pengintai malah menjadi takut dan mengatakan bahwa negeri itu tidak mungkin dapat ditaklukkan (Bilangan 13:30-32). Karena mendengarkan perkataan para pengintai, orang Israel lalu memberontak terhadap rencana TUHAN dan memutuskan untuk mencari pemimpin baru yang akan membawa mereka kembali ke dalam perbudakan di Mesir. Hanya Harun, Kaleb dan seorang pemuda bernama Yosua yang tetap setia bersama Musa.

Namun, Musa tidak goyah, meskipun rencana itu tidak populer, tidak disukai orang banyak. Bangsa itu hampir saja melengserkannya sebagai pemimpin, tetapi ia tetap berpegang teguh pada yang dinyatakan Allah padanya sebagai hal yang benar. Musa dan Harun memohon agar mereka menghentikan pemberontakan itu, tetapi sia-sia saja. Akhirnya, Allah menghukum bangsa Israel atas ketidakpercayaan mereka dan menyatakan akan memukul mereka dengan penyakit sampar yang mematikan (Bilangan 14:5-12). Dengan menolak rencana itu, mereka telah memasukkan diri mereka ke dalam situasi yang jauh lebih buruk— kehancuran total, yang akan segera terjadi. Hanya Musa, yang tetap berpegang teguh pada tujuan semula, yang mengetahui cara mencegah bencana itu. Ia memohon kepada Allah untuk mengampuni bangsa itu, seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya. (Kita sudah melihat di Bilangan 12 bagaimana Musa selalu siap mengutamakan kesejahteraan bangsanya, meskipun dengan mengorbankan dirinya sendiri). Allah melunak, tetapi tetap menyatakan ada konsekuensi tak terelakkan yang harus ditanggung bangsa itu. Tak seorang pun dari orang-orang yang ikut dalam pemberontakan itu yang diperkenankan masuk ke Tanah Perjanjian (Bilangan 14:20-23).

Tindakan Musa menunjukkan bahwa para pemimpin dipilih untuk berpegang teguh pada komitmen, bukan untuk “ditiup angin popularitas” (mengikuti yang disukai orang banyak-Pen). Kepemimpinan dapat menjadi tugas yang sepi dukungan, dan jika kita berada dalam posisi kepemimpinan, kita bisa sangat tergoda untuk menyetujui pendapat orang banyak. Memang benar bahwa pemimpin yang baik harus mendengarkan pendapat orang lain. Namun, jika seorang pemimpin mengetahui cara bertindak yang terbaik, dan sudah menguji pengetahuan itu dengan kemampuannya yang terbaik, pemimpin itu bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik, bukan yang paling populer.

Dalam situasi Musa, tak ada keraguan tentang tindakan yang tepat. Allah sudah memerintahkan Musa untuk menduduki Tanah Perjanjian itu. Seperti sudah kita ketahui, Musa sendiri tetap bersikap rendah hati dan tak tergoyahkan dengan tujuannya. Namun, pada kenyataannya, ia tidak berhasil melaksanakan perintah Allah itu. Jika orang-orangnya tidak mau mengikuti, pemimpin tidak dapat menjalankan misi itu sendirian. Dalam hal ini, konsekuensi yang harus ditanggung bangsa itu adalah bencana satu generasi kehilangan negeri yang telah dipilih Allah bagi mereka. Setidaknya, Musa sendiri tidak ikut berperan dalam bencana itu dengan mengubah rencananya karena mengikuti pendapat mereka.

Era masa kini penuh dengan contoh-contoh para pemimpin yang menyerah pada pendapat orang banyak. Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain yang menyerah pada tuntutan-tuntutan Hitler di Munich tahun 1938 langsung terlintas di pikiran. Sebaliknya, Abraham Lincoln menjadi salah satu presiden terbesar Amerika karena menolak tegas untuk menyerah pada opini populer agar mengakhiri Perang Saudara di Amerika dengan menerima pembagian negara. Meskipun ia memiliki kerendahan hati untuk mengakui kemungkinan ia bisa salah (“ketika Allah membuat kita melihat yang benar”), ia juga memiliki keteguhan hati untuk melakukan yang ia tahu benar, meskipun ada tekanan yang sangat besar untuk menyerah. Buku Leadership on the Line yang ditulis Ronald Heifetz dan Martin Linsky, membahas tantangan tentang sikap yang tetap terbuka pada pendapat orang lain sambil tetap teguh menjalankan kepemimpinan pada masa sulit.[1] (Untuk penjelasan lebih lanjut tentang hal ini lihat, "Israel Menolak Masuk ke Tanah Perjanjian" di dalam Ulangan 1:19-45).

Mempersembahkan Buah Sulung kepada Allah (Bilangan 15:20-21; 18:12-18)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dengan didasarkan pada peraturan persembahan kurban yang dijelaskan dalam Bilangan 4 dan 7, dua bagian dalam Bilangan 15 dan 18 menjelaskan tentang persembahan buah sulung dari yang dihasilkan pekerja dan tanah ladang kepada Allah. Selain persembahan-persembahan yang sudah dijelaskan sebelumnya, bangsa Israel harus mempersembahkan kepada Allah “hulu hasil dari segala yang tumbuh di tanahnya” (Bilangan 18:13). Karena Allah berdaulat atas kepemilikan segala sesuatu, semua yang dihasilkan tanah dan manusia sebenarnya sudah menjadi milik Allah. Ketika bangsa itu membawa hasil pertamanya ke mezbah, mereka mengakui kepemilikan Allah atas segala sesuatu, bukan hanya yang tersisa setelah mereka memenuhi segala kebutuhan mereka sendiri. Dengan mempersembahkan buah sulung sebelum mereka memanfaatkan sisanya yang lebih banyak untuk diri mereka sendiri, mereka mengungkapkan penghormatan atas kedaulatan Allah dan juga pengharapan mendesak agar Allah memberkati kelangsungan produktivitas kerja dan sumber daya mereka.[1]

Persembahan dan kurban dalam sistem pengorbanan di Israel berbeda dengan pemberian dan persembahan yang kita lakukan bagi pekerjaan Allah saat ini, tetapi konsep tentang memberikan buah sulung kita kepada Allah masih berlaku. Dengan memberi pertama-tama kepada Allah, kita mengakui Allah sebagai Pemilik segala sesuatu yang ada pada kita. Karena itu, kita memberikan pada-Nya yang pertama dan terbaik dari yang ada pada kita. Dengan cara ini, mempersembahkan buah sulung menjadi berkat bagi kita sebagaimana bagi bangsa Israel dahulu.

Pengingat Perjanjian (Bilangan 15:37-41)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Satu perikop pendek di Bilangan 15 memerintahkan orang Israel untuk membuat jumbai-jumbai atau kuncir di ujung baju mereka, yang diberi benang ungu kebiru-biruan di setiap ujungnya, agar “ketika kamu melihatnya akan mengingatkan kamu pada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya.” Dalam hal kerja, sebagaimana juga dalam hal lainnya, selalu ada godaan untuk “menuruti keinginan hati dan matamu sendiri” (Bilangan 15:39). Sesungguhnya, semakin rajin Anda memerhatikan pekerjaan Anda (“mata” Anda), semakin besar kemungkinan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Allah di tempat kerja Anda memengaruhi Anda (“hati” Anda). Solusinya bukan berhenti memerhatikan pekerjaan atau kurang serius dalam bekerja. Namun, akan lebih baik jika Anda membuat pengingat-pengingat yang akan mengingatkan Anda pada Allah dan kehendak-Nya. Mungkin tidak berupa jumbai, tetapi bisa berupa Alkitab yang mudah terlihat, bunyi alarm yang mengingatkan Anda untuk berdoa sejenak dari waktu ke waktu, atau simbol yang dikenakan atau diletakkan di tempat yang akan menarik perhatian Anda. Tujuannya bukan untuk pamer kepada orang lain, tetapi untuk menarik kembali “hati Anda sendiri” kepada Allah. Meskipun hal ini hanya hal kecil/sederhana, tetapi dampaknya bisa signifikan. Dengan melakukannya, “kamu akan mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu” (Bilangan 15:40).

Ketidaksetiaan Musa di Meriba (Bilangan 20:2-13)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Momen kegagalan terbesar Musa terjadi ketika bangsa Israel mulai bersungut-sungut lagi, kali ini tentang makanan dan air minum (Bilangan 20:1-5). Musa dan Harun memutuskan membawa masalah ini kepada Allah, yang kemudian memerintahkan mereka untuk membawa tongkat dan memberi perintah di hadapan bangsa itu agar bukit batu di depan mereka mengeluarkan air yang cukup untuk diminum semua orang dan segala ternak mereka (Bilangan 20:6-8). Musa melakukan yang diperintahkan Allah tetapi dengan menambahkan dua tindakannya sendiri. Pertama, ia memarahi bangsa itu dengan berkata, “Dengarlah, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit-bukit batu ini?” Dan kemudian, ia memukul bukit batu itu dua kali dengan tongkatnya. Air mengalir keluar dengan limpahnya (Bilangan 20:9-11), tetapi Allah sangat tidak berkenan kepada Musa dan Harun.

Hukuman Allah keras sekali. “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, sebab itu kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang Kuberikan kepada mereka” (Bilangan 20:12). Musa dan Harun, seperti juga semua orang yang memberontak terhadap rencana Allah sebelumnya (Bilangan 14:22-23), tidak diperkenankan masuk ke Tanah Perjanjian.

Berbagai pendapat para ahli tentang apa tepatnya yang dilakukan Musa sampai ia harus dihukum mungkin bisa ditemukan di dalam tafsiran-tafsiran umum, tetapi teks di Bilangan 20:12 menyebutkan langsung pelanggaran yang mendasari hal itu, “Kamu tidak percaya kepada-Ku.” Kepemimpinan Musa goyah pada saat kritis ketika ia berhenti memercayai Allah dan mulai bertindak mengikuti dorongan hatinya sendiri.

Menghormati Allah dalam kepemimpinan—sebagaimana yang harus dilakukan semua pemimpin Kristen di segala bidang —adalah tanggung jawab yang mengerikan. Entah kita memimpin di perusahaan/bisnis, kelas, badan penanggulangan bencana, rumahtangga, atau organisasi lainnya, kita harus berhati-hati agar tidak salah mengartikan otoritas Allah sebagai otoritas kita. Apa yang dapat kita lakukan agar kita tetap taat kepada Allah? Bersekutu secara teratur dalam kelompok akuntabilitas (“tumbuh bersama”), berdoa setiap hari tentang tugas-tugas kepemimpinan, memelihara Sabat mingguan untuk beristirahat di hadirat Allah, dan meminta pendapat orang lain tentang pimpinan Allah merupakan metode-metode yang dilakukan sebagian pemimpin. Meskipun demikian, tugas memimpin dengan teguh sambil tetap bergantung sepenuhnya pada Allah adalah hal yang di luar kemampuan manusia. Jika orang yang paling rendah hati di muka bumi saja (Bilangan 12:3) bisa gagal dalam hal ini, apalagi kita. Namun oleh karena kasih karunia Allah, kegagalan sebesar kesalahan Musa di Meriba yang menimbulkan konsekuensi mengerikan dalam kehidupan ini pun, tidak dapat memisahkan kita dari penggenapan tertinggi dari janji-janji Allah. Musa memang tidak diperkenankan masuk ke Tanah Perjanjian, tetapi Perjanjian Baru menyebutnya sebagai orang yang “setia dalam segenap rumah-Nya” yang mengingatkan kita pada keyakinan yang dimiliki semua orang dalam rumah Allah tentang kepenuhan penebusan kita dalam Kristus (Ibrani 3:2-6).

Ketika Allah Berbicara melalui Sumber-sumber Tak Terduga (Bilangan 22-24)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Di dalam Bilangan 22 dan 23, aktor utamanya bukanlah Musa tetapi Bileam, seorang yang tinggal di dekat jalan yang dilalui orang Israel secara perlahan-lahan saat menuju Tanah Perjanjian. Meskipun ia bukan orang Israel, ia seorang imam atau nabi Allah. Raja Moab, yang mengakui kuasa Allah dalam perkataan Bileam, berkata, “Aku tahu, siapa yang kauberkati akan beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk akan terkutuk.” Karena merasa gentar dengan kekuatan Israel, raja Moab mengirim utusan untuk meminta Bileam datang ke Moab dan mengutuki bangsa Israel, agar ia bisa terbebas dari ancaman yang dirasakannya (Bilangan 22:1-6).

Allah memberitahu Bileam bahwa Dia sudah memilih Israel sebagai bangsa yang diberkati, dan memerintahkan Bileam untuk tidak pergi Moab dan tidak mengutuki bangsa Israel (Bilangan 22:12). Namun, setelah didatangi lebih banyak utusan dari raja Moab, Bileam setuju untuk pergi ke Moab. Rombongan pegawai-pegawai Balak, raja Moab itu, berusaha menyogoknya untuk mengutuki Israel, tetapi Bileam mengingatkan mereka bahwa ia hanya akan melakukan yang diperintahkan Allah (Bilangan 22:18). Allah tampaknya menyetujui rencana ini, tetapi ketika Bileam menunggangi keledainya menuju Moab, malaikat Allah menghalangi jalannya sampai tiga kali. Malaikat itu tidak terlihat oleh Bileam, tetapi keledainya melihatnya dan berbelok menyingkir setiap kali dihadang malaikat itu. Bileam menjadi marah sekali pada keledai itu dan mulai memukul binatang itu dengan tongkatnya. Lalu “TUHAN membuka mulut keledai itu sehingga ia berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?’" (Bilangan 22:28). Bileam berbicara dengan keledai itu dan mulai menyadari bahwa binatang itu sudah melihat pimpinan Allah jauh lebih jelas daripada dirinya. Mata Bileam pun terbuka; ia melihat malaikat itu dan menerima petunjuk Allah selanjutnya untuk menghadapi raja Moab. “Pergilah bersama orang-orang itu. Namun, hanya apa yang akan Kufirmankan kepadamu harus kaukatakan,” Allah mengingatkannya (Bilangan 22:35). Di sepanjang pasal 23 dan 24, raja Moab terus-menerus meminta Bileam mengutuki bangsa Israel, tetapi jawaban Bileam setiap kali adalah Allah berkata bahwa bangsa Israel itu diberkati. Pada akhirnya ia berhasil meminta agar raja itu tidak menyerang Israel (Bilangan 24:12-25), yang menyelamatkan Moab dari kehancuran oleh tangan Allah sendiri.

Bileam sama seperti Musa karena ia berusaha menaati pimpinan Allah meskipun kadang gagal secara pribadi. Seperti Musa, ia berperan penting dalam penggenapan rencana Allah membawa Israel ke Tanah Perjanjian. Namun, Bileam juga sangat berbeda dengan Musa dan banyak tokoh Alkitab Ibrani lainnya. Bileam bukan orang Israel, dan tujuan utamanya adalah menyelamatkan Moab, bukan Israel, dari kehancuran. Dengan kedua alasan ini, bangsa Israel akan sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Allah berbicara kepada Bileam selangsung dan sejelas Dia berbicara kepada nabi-nabi dan imam-imam Israel sendiri. Bahkan yang lebih mengejutkan—bagi Israel maupun Bileam sendiri—pimpinan Allah pada saat krusial datang padanya melalui mulut seekor keledai, binatang sederhana. Dari dua hal yang mengejutkan itu kita melihat bahwa pimpinan Allah datang bukan dari sumber yang paling disukai orang, tetapi dari sumber yang dipilih Allah sendiri. Jika Allah memilih berbicara melalui perkataan musuh potensial atau bahkan binatang buas di padang, kita seharusnya memerhatikan.

Bagian ini tidak berkata bahwa sumber pimpinan Allah yang terbaik adalah keledai atau nabi-nabi asing, tetapi cerita ini memberikan kita pemahaman tentang mendengar suara Allah. Mudah bagi kita untuk mendengar suara Allah hanya dari sumber-sumber yang kita kenal. Ini seringkali berarti kita hanya mendengarkan orang-orang yang berpikir seperti kita, berasal dari lingkungan sosial kita, atau berbicara dan bertindak seperti kita. Ini bisa berarti kita tidak pernah memberi perhatian kepada orang-orang yang memiliki pendapat berbeda dengan kita. Menjadi mudah untuk percaya bahwa Allah berbicara pada kita persis seperti yang sudah kita pikirkan. Para pemimpin sering meneguhkan hal ini dengan membuat diri mereka dikelilingi sekelompok kecil utusan dan penasihat yang berpikiran-sama. Bisa jadi, kita ini seperti Bileam, tanpa kita mau mengakuinya. Namun, atas kasih karunia Allah, maukah kita belajar mendengarkan yang Allah mau katakan pada kita, sekalipun melalui orang-orang yang tidak kita percayai, atau sumber-sumber yang tidak kita akui?

Kepemilikan Tanah dan Hak Waris (Bilangan 26-27; 36:1-12)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Seiring berjalannya waktu dan perubahan demografi, sensus baru perlu diadakan lagi (Bilangan 26:1-4). Tujuan krusial sensus ini adalah agar bangsa yang baru itu mulai dapat mengembangkan struktur-struktur sosial-ekonomi masyarakat. Produksi ekonomi dan organisasi pemerintahan harus diatur di sekitar suku-suku, dengan subunit-subunit klan dan kaum keluarga mereka. Tanah dibagi-bagi di antara kaum-kaum keluarga sesuai dengan jumlah populasinya (Bilangan 26:52-56), dan pembagian tanah itu dilakukan dengan membuang undi. Hasilnya, setiap rumahtangga (keluarga besar) menerima sebidang tanah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri. Tidak seperti di Mesir—dan kemudian di Kerajaan Romawi dan Eropa abad pertengahan —tanah tidak dikuasai oleh kalangan bangsawan dan dikerjakan oleh golongan rakyat jelata atau para budak yang tidak punya hak apa-apa. Namun, setiap keluarga memiliki sarana produksi pertanian sendiri. Dan yang terpenting, tanah itu tidak akan bisa hilang selamanya dari keluarga itu, entah akibat utang, pajak atau bahkan dijual sukarela. (Lihat Imamat 25 tentang perlindungan hukum agar keluarga-keluarga tidak kehilangan tanah mereka). Bahkan jika satu generasi dari suatu keluarga gagal dalam usaha pertaniannya atau terlilit utang, generasi berikutnya tetap memiliki akses untuk mendapatkan tanah yang dibutuhkan untuk mencari nafkah.

Sensus dihitung berdasarkan kepala-kepala suku dan klan laki-laki, yang setiap kepala keluarganya menerima bagian kepemilikan tanah (milik pusaka). Namun, dalam kasus-kasus yang kepala keluarganya perempuan (misalnya jika ayah mereka meninggal sebelum menerima bagian tanah milik pusaka mereka), perempuan itu diperbolehkan memiliki tanah dan mewariskannya kepada keturunannya (Bilangan 27:8). Namun, hal ini bisa memperumit pengaturan di Israel, karena seorang wanita bisa menikah dengan pria dari suku lain. Dan ini akan mengalihkan tanah pusaka wanita itu dari suku ayahnya ke suku suaminya, yang memperlemah struktur masyarakat. Untuk menghindari hal ini, Allah menetapkan bahwa meskipun orang perempuan bisa “menikah dengan siapa saja yang ia anggap terbaik” (Bilangan 36:6), “milik pusaka tidak boleh beralih dari suku ke suku” (Bilangan 36:9). Ketetapan ini melindungi hak semua orang – termasuk kaum perempuan—untuk memiliki tanah dan menikah dengan orang pilihan mereka, tetapi juga mengimbangi kebutuhan untuk mempertahankan struktur-struktur masyarakat. Suku-suku harus menghormati hak-hak warganya. Kepala-kepala keluarga harus menghormati kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

Di dalam banyak perekonomian masa kini, memiliki tanah bukanlah sarana utama mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan struktur-struktur masyarakat tidak diatur di sekitar suku-suku dan kaum keluarga. Oleh karena itu, peraturan-peraturan spesifik dalam kitab Bilangan dan Imamat tidak dapat diterapkan langsung dalam kehidupan masa kini. Kondisi-kondisi saat ini memerlukan solusi-solusi spesifik yang berbeda. Hukum yang bijaksana, tepat dan ditegakkan dengan adil yang menghargai struktur-struktur properti dan ekonomi, hak-hak individu dan kepentingan umum, sangat diperlukan di setiap masyarakat. Menurut Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa, “Keberhasilan penegakan hukum di tingkat nasional dan internasional sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus dan inklusif, pembangunan yang berkelanjutan, pemberantasan kemiskinan dan kelaparan, serta realisasi sepenuhnya seluruh hak asasi manusia dan kebebasan fundamental.”[1] Orang Kristen bisa banyak berkontribusi dalam pengaturan masyarakat yang baik, bukan saja melalui hukum tetapi juga melalui doa dan perubahan hidup. Dan makin lama makin banyak orang Kristen yang menyadari bahwa dengan bekerja bersama-sama, kita dapat memberikan peluang-peluang yang efektif bagi kaum marjinal untuk mendapatkan akses permanen kepada sumber-sumber yang dibutuhkan untuk berkembang secara ekonomi. Salah satu contohnya adalah Agros International, yang dipimpin “kompas moral” Kristen untuk menolong keluarga-keluarga miskin di pedesaan Amerika Latin memiliki tanah dan mengerjakannya dengan berhasil.[2]

Perencanaan Suksesi (Bilangan 27:12-23)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Membangun organisasi yang berkelanjutan—dalam hal ini bangsa Israel—memerlukan transisi-transisi kekuasaan secara teratur. Tanpa kesinambungan, orang menjadi bingung dan takut, struktur kerja berantakan, dan pekerja menjadi tidak efektif, “seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Bilangan 27:17). Menyiapkan penerus perlu waktu. Para pemimpin yang buruk mungkin takut memperlengkapi orang yang mampu menggantikan mereka, tetapi para pemimpin yang baik seperti Musa mulai mengembangkan pengganti jauh sebelum mereka diharapkan meninggalkan jabatan. Alkitab tidak menunjukkan pada kita proses-proses yang dilakukan Musa dalam mengidentifikasi dan menyiapkan Yosua, selain bahwa ia berdoa meminta pimpinan Allah (Bilangan 27:16). Namun, kitab Bilangan menyatakan pada kita bahwa Musa secara terbuka menjamin akan mengakui dan mendukung Yosua serta mengikuti prosedur yang berlaku untuk meneguhkan otoritasnya (Bilangan 27:17-21).

Perencanaan suksesi adalah tanggung jawab eksekutif yang sedang menjabat (seperti Musa) dan orang-orang yang menjalankan kekuasaan komplementer (seperti Eliezer dan para pemimpin umat), sebagaimana yang kita lihat di Bilangan 27:21. Institusi-institusi, baik yang sebesar negara maupun sekecil tim kerja, memerlukan proses-proses pelatihan dan suksesi yang efektif.

Persembahan Kurban Sehari-hari: Mendoakan Orang Lain (Bilangan 28, 29)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Selain persembahan-persembahan kurban pada waktu-waktu tertentu yang dilakukan untuk individu dan keluarga, ada juga persembahan untuk kepentingan seluruh bangsa yang dilakukan setiap hari (Bilangan 28:1-8). Demikian juga ada persembahan-persembahan kurban lainnya pada hari Sabat (Bilangan 28:9-10), bulan baru (Bilangan 28:11-15), Paskah (Bilangan 28:16-25), Hari Raya 7 Minggu setelah Paskah (Bilangan 28:26-31), Hari Raya Bulan Baru/Terompet (Bilangan 29:1-6), Hari Penebusan (Bilangan 29:7-10), dan Hari Raya Pondok Daun (Bilangan 29:12-40). Melalui persembahan-persembahan kurban komunal ini, umat menerima berkat kehadiran dan kasih karunia Allah meskipun mereka tidak mempersembahkan kurban secara pribadi.[1]

Sistem pengorbanan di Israel ini sudah tidak berlaku dan tidak mungkin diterapkan langsung pada kehidupan dan pekerjaan saat ini. Namun, pentingnya pengorbanan, persembahan dan penyembahan untuk kebaikan orang lain tetap berlaku (Roma 12:1-6). Orang percaya tertentu—khususnya para biarawan dan biarawati ordo tertentu—menghabiskan sebagian besar hidup mereka dengan mendoakan orang-orang yang tidak dapat atau tidak beribadah atau berdoa sendiri. Dalam kita bekerja, tentu tidak tepat jika kita melalaikan kewajiban-kewajiban kita untuk berdoa. Namun, pada waktu kita berdoa, kita dapat mendoakan orang-orang yang bekerja di sekitar kita, apalagi jika kita tahu tidak ada orang lain yang mendoakan mereka. Bagaimanapun, kita dipanggil untuk membawa berkat kepada dunia sekitar kita (Bilangan 6:22-27). Kita tentu saja dapat meniru Bilangan 28:1-8 dengan berdoa secara teratur setiap hari. Berdoa setiap hari, atau berkali-kali sepanjang hari, membuat kita tetap dekat dengan hadirat Allah. Iman bukan hanya untuk hari Sabat.

Menghormati Komitmen (Bilangan 30)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Bilangan 30 memberikan aturan yang rumit dalam menetapkan validitas janji, sumpah dan nazar. Namun, dasar pemikirannya sederhana: lakukanlah yang Anda katakan akan Anda lakukan.

Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu; haruslah ia berbuat tepat seperti yang diucapkannya. (Bilangan 30:2)

Penjelasan yang rumit diberikan untuk menangani pengecualian aturan saat orang membuat janji yang melampaui wewenangnya. (Peraturan dalam teks ini berkaitan dengan situasi-situasi ketika perempuan tertentu tunduk pada wewenang laki-laki tertentu). Meskipun pengecualian-pengecualian itu sah – Anda tidak dapat melaksanakan janji dari orang yang tidak memiliki wewenang untuk membuat janji — ketika Yesus berbicara tentang ayat ini, Dia memberikan aturan praktis yang jauh lebih sederhana: jangan membuat janji yang tidak dapat atau tidak akan ditepati (Matius 5:33-37).

Komitmen-komitmen yang berkaitan dengan kerja menggoda kita untuk menghimpun berbagai penjelasan rumit, kualifikasi, pengecualian dan pembenaran agar tidak melaksanakan yang kita janjikan. Memang banyak dari hal itu yang masuk akal, seperti klausa-klausa force majeure (keadaan memaksa) dalam berbagai surat kontrak/perjanjian, yang membebaskan suatu pihak untuk tidak memenuhi kewajibannya jika ada keputusan pengadilan, bencana alam, dan lain-lain hal semacam itu. Ini tidak berhenti hanya pada masalah menghormati isi perjanjian. Banyak perjanjian dibuat dengan jabat tangan. Kadang ada celah-celah untuk lolos. Dapatkah kita belajar menghormati maksud perjanjian dan bukan hanya yang tertulis dalam perjanjian? Kepercayaan adalah unsur yang membuat tempat kerja berlangsung, dan kepercayaan tak mungkin ada jika kita menjanjikan lebih dari yang dapat kita tepati, atau menepati kurang dari yang kita janjikan. Ini bukan hanya fakta kehidupan, ini perintah Allah.

Perancangan-Kota untuk Kota-kota Orang Lewi (Bilangan 35:1-5)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Tidak seperti suku-suku lainnya, suku Lewi tinggal di kota-kota yang tersebar di seluruh Tanah Perjanjian, tempat mereka dapat mengajarkan Hukum kepada bangsa itu dan memberlakukannya di pengadilan setempat. Bilangan 35:2-5 menjelaskan luas padang rumput yang harus dimiliki setiap kota. Diukur dari tembok-tembok perbatasan kota, area tanah penggembalaan itu harus meluas ke luar seribu hasta (sekitar 450 meter) ke semua arah (timur, selatan, barat dan utara).

Jacob Milgrom mengatakan bahwa tata letak geografis ini merupakan aplikasi yang realistis dalam perancangan kota. [1] Diagram itu menunjukkan sebuah kota dengan padang rumput yang meluas keluar dari diameter kota ke semua arah. Ketika diameter kota itu mengembang dan mengambil area padang rumput di dekatnya, tanah penggembalaan itu ditambahkan lagi (digeser meluas ke luar lagi) sampai padang rumput itu tetap berukuran seluas 1000 hasta dari semua arah perbatasan kota. (Pada diagram, area yang diarsir tetap sama ukurannya ketika berkembang/ meluas ke luar, tetapi area yang berpotongan (yang di tengah) menjadi lebih luas ketika pusat kota berkembang menjadi lebih luas).

“Di luar kota itu kamu harus mengukur dua ribu hasta di sisi timur dan dua ribu hasta di sisi selatan, serta dua ribu hasta di sisi barat dan dua ribu hasta di sisi utara. Itulah bagi mereka tanah penggembalaan kota-kota” (Bilangan 35:5).

Secara matematis, ketika kota berkembang, area tanah penggembalaannya juga berkembang, tetapi dengan kecepatan lebih rendah dari perkembangan area pusat kota yang berpenghuni. Ini berarti penduduk berkembang lebih cepat dari area pertanian. Agar perkembangan bisa terus berlanjut, produktivitas pertanian per meter persegi harus ditingkatkan. Setiap kepala daerah harus menyediakan makanan untuk lebih banyak orang, dan menyediakan lapangan kerja di bidang industri dan jasa untuk lebih banyak penduduk. Seperti inilah tepatnya yang dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi dan budaya. Yang jelas, perancangan kota tidak menimbulkan peningkatan produktivitas, tetapi menciptakan struktur sosial-ekonomi yang disesuaikan untuk peningkatan produktivitas. Inilah contoh yang sangat canggih tentang kebijakan kota yang menciptakan kondisi-kondisi untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ayat di Bilangan 35:5 ini menunjukkan kembali perhatian detail yang diberikan Allah yang memungkinkan pekerjaan manusia dapat menopang kehidupan manusia dan menciptakan kesejahteraan ekonomi. Jika Allah mau bersusah-susah memerintahkan Musa untuk melakukan perancangan kota dengan pengembangan padang rumput yang semi-geometris, bukankah itu menunjukkan bahwa umat Allah saat ini juga harus dengan bersemangat mengupayakan berbagai profesi, kerajinan, seni, akademik, dan disiplin-disiplin ilmu lainnya yang menopang dan mensejahterakan masyarakat dan bangsa? Mungkin gereja-gereja dan orang-orang Kristen dapat berbuat lebih dengan mendorong dan merayakan keunggulan para anggotanya di berbagai bidang. Mungkin para pekerja Kristen dapat berbuat lebih dengan menjadi unggul dalam bekerja sebagai cara melayani Allah. Adakah alasan untuk percaya bahwa perancangan kota, perekonomian, pengasuhan anak, atau pelayanan kepada pelanggan yang terbaik kurang memuliakan Allah dibandingkan penyembahan, doa, atau studi Alkitab yang sepenuh hati?

Konklusi Kitab Bilangan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kitab Bilangan menunjukkan Allah yang bekerja melalui Musa untuk mengatur dan memerintah bangsa Israel yang masih baru itu. Bagian pertama kitab ini berfokus pada ibadah/penyembahan, yang bergantung pada pekerjaan para imam bersama para pekerja dari setiap bidang pekerjaan. Pekerjaan mendasar dari orang-orang yang mewakili umat Allah bukanlah melakukan ritual-ritual, tetapi memberkati semua orang dengan kehadiran Allah dan kasih yang memperdamaikan. Kita semua punya kesempatan untuk membawa berkat dan perdamaian melalui pekerjaan kita, entah kita memandang diri kita sebagai imam atau tidak.

Bagian kedua kitab Bilangan menjelaskan tentang pengaturan masyarakat ketika bangsa itu bergerak menuju Tanah Perjanjian. Pasal-pasal dalam kitab Bilangan dapat membantu kita memperoleh perspektif yang benar tentang pokok-pokok permasalahan kerja pada masa kini seperti mempersembahkan hasil kerja kita kepada Allah, penyelesaian konflik, masa pensiun, kepemimpinan, hak-hak kepemilikan, produktivitas ekonomi, perencanaan suksesi, relasi-relasi sosial, menghormati komitmen kita, dan perancangan kota.

Para pemimpin dalam kitab Bilangan—khususnya Musa—memberikan contoh-contoh tentang apa artinya mengikuti pimpinan Allah atau gagal melaksanakannya. Para pemimpin harus terbuka pada nasihat bijak orang lain dan sumber-sumber tak terduga. Namun mereka harus tetap teguh mengikuti pimpinan Allah sebanyak yang dapat mereka pahami. Mereka harus cukup berani untuk menghadapi raja-raja, namun cukup rendah hati untuk belajar dari binatang di padang. Tidak ada satu orang pun dalam kitab Bilangan yang berhasil sepenuhnya dalam tugas ini, tetapi Allah tetap setia pada umat-Nya dalam keberhasilan maupun kegagalan mereka. Kesalahan kita membawa konsekuensi negatif yang nyata—tetapi tidak kekal—dan kita mencari pengharapan dari luar diri kita sendiri untuk pemenuhan kasih Allah pada kita. Kita melihat Roh Allah membimbing Musa dan mendengar Allah berjanji memberikan sebagian Roh-Nya juga kepada para pemimpin setelah Musa. Dengan demikian, kita sendiri dapat terdorong untuk mencari pimpinan Allah dalam berbagai kesempatan dan tantangan kerja kita. Apa pun yang kita lakukan, kita dapat yakin Allah menyertai kita dalam bekerja, karena Dia berkata, “Aku, TUHAN, diam di tengah-tengah orang Israel” (Bilangan 35:34), yang langkahnya kita ikuti.