Bootstrap

Ketika Allah Berbicara melalui Sumber-sumber Tak Terduga (Bilangan 22-24)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Donkey 105719 620

Di dalam Bilangan 22 dan 23, aktor utamanya bukanlah Musa tetapi Bileam, seorang yang tinggal di dekat jalan yang dilalui orang Israel secara perlahan-lahan saat menuju Tanah Perjanjian. Meskipun ia bukan orang Israel, ia seorang imam atau nabi Allah. Raja Moab, yang mengakui kuasa Allah dalam perkataan Bileam, berkata, “Aku tahu, siapa yang kauberkati akan beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk akan terkutuk.” Karena merasa gentar dengan kekuatan Israel, raja Moab mengirim utusan untuk meminta Bileam datang ke Moab dan mengutuki bangsa Israel, agar ia bisa terbebas dari ancaman yang dirasakannya (Bilangan 22:1-6).

Allah memberitahu Bileam bahwa Dia sudah memilih Israel sebagai bangsa yang diberkati, dan memerintahkan Bileam untuk tidak pergi Moab dan tidak mengutuki bangsa Israel (Bilangan 22:12). Namun, setelah didatangi lebih banyak utusan dari raja Moab, Bileam setuju untuk pergi ke Moab. Rombongan pegawai-pegawai Balak, raja Moab itu, berusaha menyogoknya untuk mengutuki Israel, tetapi Bileam mengingatkan mereka bahwa ia hanya akan melakukan yang diperintahkan Allah (Bilangan 22:18). Allah tampaknya menyetujui rencana ini, tetapi ketika Bileam menunggangi keledainya menuju Moab, malaikat Allah menghalangi jalannya sampai tiga kali. Malaikat itu tidak terlihat oleh Bileam, tetapi keledainya melihatnya dan berbelok menyingkir setiap kali dihadang malaikat itu. Bileam menjadi marah sekali pada keledai itu dan mulai memukul binatang itu dengan tongkatnya. Lalu “TUHAN membuka mulut keledai itu sehingga ia berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?’" (Bilangan 22:28). Bileam berbicara dengan keledai itu dan mulai menyadari bahwa binatang itu sudah melihat pimpinan Allah jauh lebih jelas daripada dirinya. Mata Bileam pun terbuka; ia melihat malaikat itu dan menerima petunjuk Allah selanjutnya untuk menghadapi raja Moab. “Pergilah bersama orang-orang itu. Namun, hanya apa yang akan Kufirmankan kepadamu harus kaukatakan,” Allah mengingatkannya (Bilangan 22:35). Di sepanjang pasal 23 dan 24, raja Moab terus-menerus meminta Bileam mengutuki bangsa Israel, tetapi jawaban Bileam setiap kali adalah Allah berkata bahwa bangsa Israel itu diberkati. Pada akhirnya ia berhasil meminta agar raja itu tidak menyerang Israel (Bilangan 24:12-25), yang menyelamatkan Moab dari kehancuran oleh tangan Allah sendiri.

Bileam sama seperti Musa karena ia berusaha menaati pimpinan Allah meskipun kadang gagal secara pribadi. Seperti Musa, ia berperan penting dalam penggenapan rencana Allah membawa Israel ke Tanah Perjanjian. Namun, Bileam juga sangat berbeda dengan Musa dan banyak tokoh Alkitab Ibrani lainnya. Bileam bukan orang Israel, dan tujuan utamanya adalah menyelamatkan Moab, bukan Israel, dari kehancuran. Dengan kedua alasan ini, bangsa Israel akan sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Allah berbicara kepada Bileam selangsung dan sejelas Dia berbicara kepada nabi-nabi dan imam-imam Israel sendiri. Bahkan yang lebih mengejutkan—bagi Israel maupun Bileam sendiri—pimpinan Allah pada saat krusial datang padanya melalui mulut seekor keledai, binatang sederhana. Dari dua hal yang mengejutkan itu kita melihat bahwa pimpinan Allah datang bukan dari sumber yang paling disukai orang, tetapi dari sumber yang dipilih Allah sendiri. Jika Allah memilih berbicara melalui perkataan musuh potensial atau bahkan binatang buas di padang, kita seharusnya memerhatikan.

Bagian ini tidak berkata bahwa sumber pimpinan Allah yang terbaik adalah keledai atau nabi-nabi asing, tetapi cerita ini memberikan kita pemahaman tentang mendengar suara Allah. Mudah bagi kita untuk mendengar suara Allah hanya dari sumber-sumber yang kita kenal. Ini seringkali berarti kita hanya mendengarkan orang-orang yang berpikir seperti kita, berasal dari lingkungan sosial kita, atau berbicara dan bertindak seperti kita. Ini bisa berarti kita tidak pernah memberi perhatian kepada orang-orang yang memiliki pendapat berbeda dengan kita. Menjadi mudah untuk percaya bahwa Allah berbicara pada kita persis seperti yang sudah kita pikirkan. Para pemimpin sering meneguhkan hal ini dengan membuat diri mereka dikelilingi sekelompok kecil utusan dan penasihat yang berpikiran-sama. Bisa jadi, kita ini seperti Bileam, tanpa kita mau mengakuinya. Namun, atas kasih karunia Allah, maukah kita belajar mendengarkan yang Allah mau katakan pada kita, sekalipun melalui orang-orang yang tidak kita percayai, atau sumber-sumber yang tidak kita akui?