Bootstrap

Menghubungkan Tindakan Memberi Pinjaman dengan Takut akan Tuhan (Nehemia 5:1-19)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Man 76196 640

CEO of Ziba Design Sohrab Vossoughi quit his job, tightened his belt and, with just $400, started what has become an award-winning, international, industrial-design firm.

Proyek pembangunan-tembok Nehemia tidak hanya mendapat ancaman dari luar, tetapi juga dari dalam. Para bangsawan Yahudi dan pejabat tertentu memanfaatkan masa-masa kesulitan ekonomi untuk memperkaya diri sendiri (Nehemia 5). Mereka meminjamkan uang kepada sesama orang Yahudi dengan mengenakan bunga, meskipun hal ini dilarang dalam Hukum Yahudi (misalnya, Keluaran 22:25).[1] Ketika orang yang berutang tidak bisa membayar utangnya, mereka kehilangan tanah mereka dan bahkan dipaksa menjual anak-anak mereka sebagai budak (Nehemia 5:5). Nehemia menangani dengan menuntut orang-orang kaya tersebut berhenti makan riba dan mengembalikan apa pun yang sudah mereka ambil dari pengutang mereka.

Berkebalikan dengan keegosian orang-orang yang mencari keuntungan dari rekan sesama Yahudi, Nehemia tidak memanfaatkan jabatan kepemimpinannya untuk memperkaya diri. “Karena takut akan Allah,” ia bahkan tidak mau menarik pajak dari masyarakat untuk membiayai pengeluaran pribadinya seperti yang dilakukan para pendahulunya (Nehemia 5:14-16). Sebaliknya, Ia dengan murah hati mengundang banyak orang untuk makan dari meja makannya, yang biayanya diambil dari tabungan pribadinya tanpa menarik pajak dari masyarakat (Nehemia 5:17-18).

Dapat dikatakan, para bangsawan dan pejabat itu bersalah atas dualisme yang baru saja kita sebutkan. Pada kasus mereka, mereka tidak pasif menanti Allah menyelesaikan masalah mereka. Sebaliknya, mereka aktif mengejar keuntungan sendiri seakan-akan kehidupan ekonomi tak ada hubungannya dengan Allah. Nehemia mengatakan bahwa kehidupan ekonomi mereka sangatlah penting bagi Allah, karena Allah memerhatikan seluruh kehidupan masyarakat, bukan hanya aspek religinya saja: “Bukankah kamu harus hidup dalam takut akan Allah kita supaya terhindar dari cercaan bangsa-bangsa lain, musuh-musuh kita [yang kepadanya para bangsawan menjual paksa orang Yahudi yang berutang sebagai budak]?” (Nehemia 5:9). Nehemia menghubungkan masalah ekonomi (riba) dengan takut akan Allah.

Masalah-masalah di Nehemia 5, meskipun muncul dari konteks hukum dan budaya yang jauh dari kita, menantang kita untuk memikirkan seberapa banyak seharusnya kita mengambil keuntungan pribadi dari jabatan dan hak-hak istimewa kita, bahkan dari pekerjaan kita. Haruskah kita menaruh uang di bank yang memberikan pinjaman dengan bunga? Haruskah kita memanfaatkan fasilitas tertentu yang ada di tempat kerja, meskipun hal itu akan sangat merugikan orang lain? Perintah-perintah spesifik Nehemia (jangan makan riba, jangan menyita jaminan, jangan menjual paksa orang lain sebagai budak) mungkin berbeda penerapannya pada zaman kita, tetapi doa yang mendasari perintah-perintah itu masih bisa terus diterapkan: “Ingatlah akan aku, ya Allahku, demi kebaikanku, karena segala yang kubuat untuk rakyat ini” (Nehemia 5:19). Seperti pada Nehemia, Allah memanggil pekerja-pekerja masa kini untuk melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk bangsa kita. Secara praktis, ini berarti setiap kita berutang kewajiban pada Allah untuk memelihara banyak orang yang bergantung pada pekerjaan kita: pemberi kerja, rekan kerja, pelanggan, keluarga, masyarakat dan banyak orang lainnya. Nehemia mungkin tidak memberi tahu kita bagaimana tepatnya menghadapi situasi-situasi di tempat kerja masa kini, tetapi ia memberi tahu kita bagaimana mengarahkan pikiran kita saat membuat keputusan. Dahulukan kepentingan orang lain.