Kitab Imamat dan Kerja
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Introduksi-Apakah Kitab Imamat Memiliki Pesan tentang Kerja?
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKitab Imamat merupakan sumber yang sangat kaya untuk orang yang mencari pimpinan tentang kerja. Kitab ini berisi perintah-perintah langsung dan praktis, meskipun situasinya terjadi di tempat kerja yang berbeda dari yang dialami sebagian besar dari kita saat ini. Kitab Imamat juga merupakan salah satu pusat tempat Allah menyatakan diri-Nya dan tujuan-tujuan-Nya dalam hidup dan pekerjaan kita. Kitab ini terletak di tengah kitab-kitab Taurat, kitab ketiga dari lima kitab Musa yang membentuk narasi dan fondasi teologi Perjanjian Lama. Kitab kedua, kitab Keluaran, menceritakan tentang Allah yang membawa umat-Nya keluar [dari perbudakan]. Kitab Imamat menceritakan tentang Allah yang memimpin umat-Nya ke dalam [1] kehidupan yang penuh dengan kehadiran Allah sendiri. Di dalam kitab Imamat, pekerjaan merupakan salah satu medan terpenting di mana Allah hadir bersama umat Israel, dan Allah tetap hadir bersama umat-Nya dalam pekerjaan kita saat ini.
Kitab Imamat juga merupakan pusat pengajaran Yesus dan Perjanjian Baru lainnya. Hukum Terutama yang diajarkan Yesus (Markus 12:28-31) diambil langsung dari Imamat 19:18: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” “Tahun Yobel” dari Imamat 25 ada di pusat pernyataan misi Yesus: “Roh Tuhan ada pada-Ku, karena Ia telah mengurapi Aku… untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan [tahun Yobel]” (Lukas 4:18-19). Ketika Yesus berkata bahwa “satu huruf terkecil atau satu titik pun” tidak akan lenyap dari Hukum Taurat (Matius 5:18), banyak huruf dan titik itu berada di kitab Imamat. Yesus memberikan cara pandang baru tentang Hukum Taurat—bahwa cara menggenapi Hukum itu bukanlah dengan mematuhi aturan-aturan, tetapi dengan menyetujui tujuan Allah menciptakan Hukum itu. Kita perlu memenuhi Hukum Taurat dengan “jalan yang lebih utama lagi” (1 Korintus 12:31) yang melampaui, bukan mengabaikan, huruf/perkataan Hukum itu. Jika kita ingin memenuhi Roh Hukum Taurat, seperti yang dilakukan Yesus, kita harus mulai dengan mempelajari yang sebenarnya dikatakan Hukum itu. Hal ini banyak ditemukan dalam kitab Imamat, dan banyak yang diterapkan pada hal kerja.
Karena kitab Imamat merupakan pusat pengajaran Yesus tentang kerja, sebagai pengikut Yesus, kita sudah sepatutnya mencari petunjuk dari kitab ini tentang kehendak Allah dalam kerja kita. Tentu saja kita harus ingat bahwa perintah-perintah dalam kitab Imamat harus dipahami dan diterapkan dalam situasi sosial dan ekonomi yang berbeda dari saat ini. Masyarakat saat ini tidak hidup dalam situasi yang sama dengan situasi bangsa Israel dahulu, baik secara struktur kemasyarakatan maupun relasi perjanjian. Banyak pekerja saat ini, misalnya, tak perlu banyak tahu tentang apa yang harus dilakukan dengan lembu jantan atau domba yang mati diterkam binatang buas (Imamat 7:24). Orang-orang Lewi yang banyak dibahas dalam kitab ini—para imam yang melakukan upacara persembahan kurban binatang bagi Allah— sudah tidak ada lagi. Lagipula, di dalam Kristus kita memahami Hukum Taurat sebagai sarana kasih karunia Allah dengan cara yang berbeda daripada yang dipahami bangsa Israel zaman dahulu. Jadi, kita tak dapat sekadar mengutip dari kitab Imamat seakan-akan tak pernah ada perubahan yang terjadi di dunia. Kita tidak dapat membaca satu ayat dan berkata “Demikianlah firman Allah” sebagai penghakiman terhadap orang yang tidak sependapat dengan kita. Sebaliknya, kita harus memahami arti, tujuan, dan pikiran Allah yang dinyatakan dalam kitab Imamat, dan kemudian meminta hikmat Allah untuk menerapkannya pada masa kini. Hanya dengan berlaku demikian, hidup kita akan mencerminkan kekudusan-Nya, menghormati maksud-maksud-Nya, dan menyatakan kuasa pemerintahan kerajaan surga di bumi.
Konsep Dasar Kekudusan di Kitab Imamat
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKitab Imamat didasarkan pada kebenaran bahwa Allah itu kudus. Kata qodesh muncul lebih dari seratus kali dalam teks Ibrani kitab Imamat. Mengatakan bahwa Allah itu kudus berarti Dia sama sekali terpisah dari segala yang jahat atau cemar. Atau dengan kata lain, Allah itu sungguh dan sangat baik. Dia layak menerima kesetiaan mutlak, penyembahan eksklusif dan ketaatan yang penuh kasih.
Israel memiliki identitas kudus karena tindakan Allah yang menjadikan mereka kudus, dan juga karena Allah mau Israel berlaku kudus dalam hal-hal praktis. Israel disebut kudus karena Allah sendiri kudus (Imamat 11:44-45; 19:2; 20:7; 21:8). Peraturan-peraturan dalam kitab Imamat yang tampaknya berbeda sehubungan dengan aspek kehidupan ritual, etika, komersial, dan hukum semuanya dialaskan pada konsep dasar kekudusan ini.
Alexander Hill kemudian mengikuti konsep dasar kitab Imamat ini ketika ia melandaskan pembahasannya tentang etika bisnis Kristen pada kekudusan, keadilan dan kasih Allah. “Perilaku bisnis yang etis itu jika mencerminkan karakter Allah yang kudus-adil-kasih.”[1] Hill berkata bahwa orang Kristen yang berbisnis mencerminkan kekudusan ilahi jika mereka bersemangat bagi Allah yang merupakan prioritas tertinggi mereka, dan kemudian bertindak dengan kekudusan, akuntabilitas dan kerendahan hati. Lebih dari mencoba mereproduksi aturan komersial yang dirancang untuk masyarakat agraris, seperti inilah yang dimaksud menerapkan kitab Imamat pada masa kini. Ini bukan berarti mengabaikan hal-hal spesifik dari Hukum itu, melainkan memahami bagaimana Allah memimpin kita menaatinya dalam konteks masa kini.
Kekudusan dalam kitab Imamat bukanlah pemisahan demi kepentingan pemisahan itu sendiri, tetapi untuk kepentingan pertumbuhan komunitas umat Allah dan rekonsiliasi setiap pribadi dengan Allah. Kekudusan bukan sekadar perilaku individu yang mematuhi peraturan, tetapi bagaimana perilaku setiap orang memengaruhi seluruh umat Allah dalam kehidupan bersama dan pekerjaan mereka sebagai wakil-wakil kerajaan Allah. Dengan pengertian ini, panggilan Yesus agar umat-Nya menjadi “garam” dan “terang” bagi orang luar (Matius 5:13-16) menjadi sangat masuk akal. Menjadi kudus berarti bertindak melampaui hukum Taurat untuk mengasihi sesama, bahkan mengasihi musuh, dan “haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di sorga sempurna” (Matius 5:48, yang menggemakan Imamat 19:2).
Singkatnya, bangsa Israel kuno menaati kitab Imamat bukan sebagai seperangkat aturan yang unik, tetapi sebagai ungkapan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka. Ini sama relevannya bagi umat Allah di masa kini maupun pada masa itu. Di dalam kitab Imamat, Allah memakai sekelompok suku nomaden dan membentuk budaya mereka sebagai bangsa. Dan pada masa kini, ketika umat Allah memasuki tempat-tempat kerja mereka, melalui mereka Allah membentuk budaya unit-unit kerja, organisasi-organisasi, dan komunitas-komunitas mereka. Panggilan Allah untuk menjadi kudus, sebagaimana Dia kudus, adalah panggilan untuk membentuk budaya-budaya kita untuk kebaikan.
Sistem Pengorbanan di Israel (Imamat 1-10)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKitab Imamat dimulai dengan peraturan tentang sistem pengorbanan di Israel, yang disampaikan dari dua perspektif. Perspektif pertama adalah sudut pandang orang awam yang membawa kurban persembahan dan berpartisipasi dalam upacara pengorbanan itu (pasal 1-5). Perspektif kedua adalah sudut pandang para imam yang memimpin upacara pengorbanan itu (pasal 6-7). Setelah itu, kita tahu bahwa para imam ditahbiskan dan memulai pelayanan mereka di Tabernakel/ Kemah Suci atau Kemah Pertemuan (pasal 8-9), lalu ada ketetapan-ketetapan lebih lanjut untuk para imam setelah Allah menghukum mati imam Nadab dan Abihu karena mereka melanggar ketetapan Allah tentang tanggung jawab ritual mereka (pasal 10). Kita tidak boleh menganggap materi ini hanya sebagai liturgi kosong yang tidak relevan dengan dunia kerja masa kini. Sebaliknya, kita harus melihatnya melalui cara bangsa Israel mengatasi masalah-masalah mereka agar kita juga, sebagai umat Allah dalam Kristus, dapat belajar mengatasi masalah-masalah kita—termasuk tantangan yang kita hadapi dalam bisnis dan pekerjaan.
Allah Berdiam di tengah Komunitas (Imamat 1-10)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiTujuan mempersembahkan kurban bukan semata-mata untuk memperbarui kekudusan yang secara berkala tercemar. Kata kerja Ibrani untuk “mempersembahkan” kurban secara harfiah berarti “membawa[nya] mendekat.” Membawa kurban persembahan mendekat ke mezbah membuat orang yang membawanya (penyembah) mendekat kepada Allah. Kadar perilaku buruk individu penyembah bukan hal yang utama. Kecemaran yang disebabkan oleh kenajisan adalah konsekuensi bagi seluruh komunitas, yang terdiri dari relatif sedikit orang yang melakukan dosa yang disengaja maupun yang tidak disengaja, bersama dengan mayoritas umat yang diam, yang membiarkan kejahatan berkembang di tengah-tengah mereka. Umat secara keseluruhan memikul tanggung jawab kolektif atas kecemaran masyarakat, sehingga memberi alasan yang sah untuk Allah meninggalkan tempat suci-Nya, suatu keadaan yang sama saja dengan kehancuran bangsa.[1] Mendekat kepada Allah tetap menjadi tujuan orang-orang yang menyebut Yesus "Imanuel" (“Allah beserta kita”). Allah yang berdiam bersama umat-Nya benar-benar merupakan hal serius.
Orang Kristen di tempat kerja harus lebih dari sekadar mencari kiat-kiat ilahi untuk mencapai apa pun yang disebut dunia sebagai “kesuksesan.” Menyadari bahwa Allah itu kudus dan Dia rindu tinggal di pusat hidup kita, akan mengubah orientasi hidup kita dari kesuksesan menjadi kekudusan, apa pun pekerjaan yang Allah mau kita lakukan. Ini bukan berarti melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan di tempat kerja, tetapi melakukan seluruh pekerjaan kita sebagaimana Allah mau kita melakukannya. Bekerja bukan semata-mata cara untuk menikmati hasil kerja kita, tetapi cara untuk mengalami kehadiran Allah. Sebagaimana persembahan kurban bangsa Israel merupakan “aroma yang menyenangkan” bagi Allah (Imamat 1:9, dan enam belas contoh lainnya), Paulus memanggil orang Kristen untuk “hidup layak di hadapan Allah serta berkenan kepada-Nya” (Kolose 1:10), “sebab bagi Allah kita adalah aroma yang harum dari Kristus” (2 Korintus 2:15).
Apa yang mungkin terjadi jika kita berjalan mengelilingi tempat kerja kita dan mengajukan pertanyaan mendasar ini, “Bagaimana agar tempat ini bisa menjadi tempat kehadiran Allah yang kudus?” Apakah tempat kerja ini mendorong orang untuk memunculkan yang terbaik dari yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka? Apakah tempat ini dicirikan dengan perlakuan yang adil pada semua orang? Apakah tempat ini melindungi para pekerja dari bahaya? Apakah tempat kerja ini menghasilkan barang dan jasa yang membuat masyarakat berkembang lebih baik lagi?
Seluruh Umat Allah Bekerja (Imamat 1-10)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKitab Imamat menggabungkan perspektif dua kelompok yang seringkali saling bertentangan – para imam dan umat. Tujuannya adalah menyatukan seluruh umat Allah tanpa memandang perbedaan status. Di tempat kerja masa kini, bagaimana orang Kristen menangani pertentangan di antara mereka tanpa memandang kekayaan atau kedudukan mereka di perusahaan itu? Apakah kita menoleransi penyalahgunaan kekuasaan jika akibatnya tampaknya menguntungkan bagi karier kita? Apakah kita ikut menghakimi rekan kerja melalui gosip dan sindiran, atau apakah kita berusaha keras menyampaikan keluhan melalui cara-cara yang tidak memihak? Apakah kita memerhatikan akibat buruk dari perundungan dan sikap pilih kasih di tempat kerja? Apakah kita mengedepankan budaya yang positif, mendukung keberagaman, dan membangun organisasi yang sehat? Apakah kita memungkinkan komunikasi yang terbuka dan dapat dipercaya, meminimalkan politik main-belakang, dan berusaha keras mencapai kinerja terbaik? Apakah kita menciptakan suasana yang memungkinkan ide-ide bermunculan dan dijajaki, lalu yang terbaik diwujudkan dalam tindakan? Apakah kita fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan?
Sistem pengorbanan di Israel tidak hanya menyelesaikan kebutuhan rohani umat, tetapi juga kebutuhan psikologis dan emosional mereka, sehingga dengan demikian mencakup semua orang dan seluruh komunitas. Orang Kristen tahu bahwa bisnis biasanya memiliki tujuan-tujuan yang tidak rohani. Namun, kita juga tahu bahwa seseorang itu tidak sama dengan yang dilakukan atau dihasilkannya. Hal ini tidak boleh melemahkan komitmen kita untuk bekerja produktif, hanya kita perlu ingat bahwa karena Allah telah menerima kita dengan pengampunan-Nya, kita punya lebih banyak alasan dibandingkan orang lain untuk bersikap penuh perhatian, adil, dan murah hati kepada semua orang (Lukas 7:47; Efesus 4:32; Kolose 3:13).
Pentingnya Persembahan Kurban Penebus Salah (Imamat 6:1-7)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSetiap persembahan kurban dalam sistem pengorbanan di Israel memiliki fungsi masing-masing, tetapi ada satu hal yang khusus pada persembahan kurban penebus salah (yang juga dikenal sebagai kurban kompensasi/ganti rugi) yang membuatnya sangat relevan dengan dunia kerja. Persembahan kurban penebus salah dalam kitab Imamat adalah benih untuk doktrin alkitabiah tentang pertobatan.[1] (Bilangan 5:5-10 sangat paralel dengan bagian ini). Menurut kitab Imamat, Allah menuntut persembahan kurban setiap kali seseorang menipu sesamanya mengenai barang yang dipercayakan atau dititipkan padanya atau yang dirampasnya, atau apabila ia melakukan pemerasan atau kecurangan, berbohong tentang barang hilang yang sudah ditemukan, atau bersumpah dusta tentang suatu hal (Imamat 6:2-3). Ini bukan seperti denda yang dibebankan keputusan pengadilan, tetapi sebagai ganti rugi yang diberikan pelaku yang telah dibebaskan dari kesalahannya, namun yang kemudian merasa bersalah lagi ketika “menyadari” pelanggarannya (Imamat 6:4-5). Pertobatan orang berdosa, bukan tuntutan pihak berwenang, adalah dasar dari persembahan kurban penebus salah.
Dosa-dosa semacam ini sering dilakukan dalam konteks berdagang atau pekerjaan lain. Persembahan kurban penebus salah memanggil orang berdosa yang menyesali perbuatannya untuk mengembalikan yang sudah diambilnya secara tidak benar dengan ditambah 20 persen (Imamat 6:4-5). Hanya setelah permasalahan itu diselesaikan di level manusia, barulah orang berdosa itu bisa menerima pengampunan Allah dengan membawa persembahan seekor hewan kepada imam untuk dikorbankan (Imamat 6:6-7).
Persembahan kurban penghapus dosa secara unik meneguhkan beberapa prinsip tentang pemulihan relasi pribadi yang rusak akibat pelanggaran finansial.
1. Permintaan maaf saja tidak cukup untuk memperbaiki kesalahan atau memulihkan sepenuhnya kerusakan yang sudah terjadi. Karena itu, hal yang mirip dengan konsep ganti rugi saat ini ditambahkan. Namun, dalam persembahan kurban penebus salah ini —yang tidak seperti pemberian ganti rugi yang diperintahkan pengadilan—pelaku sendiri yang bersedia menanggung akibat kerugian itu, yang dengan demikian ikut merasakan kesusahan yang diakibatkannya pada korban.
2. Melakukan semua yang diharuskan untuk memperbaiki kesalahan terhadap orang lain tidak hanya adil bagi korban, tetapi juga baik bagi pelaku. Mempersembahkan kurban penebus salah berarti merasakan siksaan yang mendera hati nurani orang yang menyadari kejahatannya serta efek buruknya. Hal ini lalu membuka jalan bagi orang yang bersalah itu untuk mengatasi masalah ini secara lebih menyeluruh, yang menghasilkan tindakan penyelesaian dan perdamaian. Persembahan kurban ini mengungkapkan kemurahan Allah dalam penderitaan itu dan luka hati yang dinetralisir agar tidak bertambah parah dan meledak menjadi kekerasan atau pelanggaran yang lebih serius. Tindakan ini juga meredakan keinginan korban (atau keluarga korban) untuk mengambil tindakan sendiri dalam mendapatkan ganti rugi yang setimpal.
3. Dalam karya penebusan Yesus di kayu salib juga tidak ada yang membuat umat Allah saat ini terbebas dari perlunya melakukan ganti rugi. Yesus mengajarkan murid-murid-Nya, “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di mezbah dan engkau teringat bahwa saudaramu sakit hati terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kemali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Matius 5:23-24). Mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah inti dari ketentuan hukum itu (Imamat 19:18 sebagaimana dikutip dalam Roma 13:9), dan melakukan ganti rugi adalah ungkapan dasar dari semua kasih yang tulus. Yesus memberikan keselamatan kepada pemungut pajak yang kaya, Zakheus, yang kemudian menawarkan ganti rugi yang melampaui ketentuan hukum, yang menjadikannya sebagai teladan dari orang yang benar-benar mengerti dan mengalami pengampunan (Lukas 19:1-10).
4. Perkataan Yesus di Matius 5:23-24 juga mengajarkan bahwa berusaha dengan segala daya untuk berdamai dengan orang lain adalah aspek yang penting dalam memperbaiki hubungan dengan Allah dan hidup sedapat-dapatnya dalam perdamaian. Menerima pengampunan dari Allah itu melampaui, namun tidak menggantikan, tindakan ganti rugi kita, jika mungkin dilakukan, kepada orang yang kita rugikan. Sebagai respons atas pengampunan Allah pada kita, hati kita tergerak untuk melakukan segala yang dapat kita lakukan untuk mengembalikan kerugian yang kita timbulkan pada orang lain. Kita jarang dapat memperbaiki sepenuhnya kerusakan yang telah diakibatkan dosa/kesalahan kita, tetapi kasih Kristus mendorong kita untuk melakukan semaksimal yang kita dapat.
Persembahan kurban penebus salah adalah pengingat yang kuat bahwa Allah tidak memakai hak pengampunan-Nya dengan mengorbankan orang yang dirugikan oleh kesalahan kita. Dia tidak memberi kita kelepasan psikologis dari rasa bersalah sebagai pengganti murahan atas perbaikan kerusakan dan luka yang telah kita timbulkan.
Yang Najis dan Yang Tahir (Imamat 11-16)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiImamat 11:45 pada intinya menjelaskan logika tematik dari seluruh bagian ini. “Akulah TUHAN yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu. Jadilah kudus, sebab Aku ini kudus” (Imamat 11:45). Allah memanggil Israel untuk mencerminkan kekudusan-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Imamat 11-16 membahas tentang makanan yang “halal” dan yang “najis” (pasal 11), ritual-ritual pentahiran (pasal 12-15), dan diakhiri dengan tatacara merayakan Hari Pendamaian yang mentahirkan umat dan Tempat Kudus Allah (pasal 16).
Orang Kristen juga menyadari bahwa setiap aspek kehidupan kita dimaksudkan sebagai respons atas kehadiran Allah yang kudus di tengah kita. Namun, subyek dan cakupan peraturan-peraturan di kitab Imamat cenderung membingungkan kita pada saat ini. Apakah prinsip-prinsip etika yang terdapat dalam peraturan-peraturan khusus ini berlaku untuk selamanya? Sebagai contoh, sulit dipahami alasannya mengapa Allah memperbolehkan bangsa Israel memakan daging hewan tertentu dan melarang makan daging hewan lainnya. Mengapa ada semacam kerisauan terhadap penyakit kulit tertentu (yang bahkan sampai saat ini tidak dapat kita identifikasi secara pasti) dan bukan penyakit-penyakit lainnya yang lebih serius? Di antara semua penyakit yang dihadapi masyarakat, apakah masalah jamur benar-benar segawat itu? Dengan mempersempit fokus kita pada masalah kerja, apakah kita harus berharap teks-teks ini menyatakan sesuatu yang dapat kita terapkan pada industri makanan, obat-obatan, atau pencemaran lingkungan di rumah-rumah dan tempat kerja? Seperti sudah disebutkan sebelumnya, kita akan menemukan jawabannya bukan dengan bertanya apakah kita harus mematuhi peraturan yang dibuat untuk situasi yang berbeda itu, tetapi dengan mencari tahu bagaimana ayat-ayat ini memimpin kita untuk melayani kesejahteraan masyarakat.
Peraturan tentang Daging Hewan Tertentu Yang Boleh Dimakan (Imamat 11)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiAda beberapa teori yang masuk akal tentang ketetapan yang mengatur daging hewan yang boleh dimakan manusia di Imamat 11. Setiap teori menyertakan bukti pendukung, tetapi tidak satu teori pun yang menerima konsensus umum. Kita tidak dapat menyortir semua teori itu di sini, tetapi Jacob Milgrom memberikan perspektif yang langsung berkaitan dengan tempat kerja.[1] Ia menyebutkan tiga hal yang dominan: Allah dengan tegas membatasi pilihan makan daging bangsa Israel, memberikan aturan-aturan khusus tentang penyembelihan hewan, dan melarang mereka makan darah yang melambangkan kehidupan, yang hanya milik Allah. Dengan perspektif ini Milgrom menyimpulkan bahwa pengaturan tentang makanan bangsa Israel adalah sebuah cara yang mengendalikan naluri manusia untuk membunuh. Intinya, “Meskipun mereka bisa memuaskan nafsu makan mereka, mereka harus mengekang kehausan mereka akan kekuasaan. Karena hidup tak dapat diganggu gugat, hidup juga tak boleh dirusak tanpa pandang bulu.”[2] Jika Allah memilih untuk terlibat mengurusi hewan apa yang boleh disembelih dan bagaimana penyembelihan itu harus dilakukan, bagaimana mungkin kita tidak menangkap maksudnya bahwa membunuh manusia jauh lebih dilarang dan tak luput dari pengawasan Allah? Hal ini menunjukkan penerapan yang lebih luas pada masa kini. Sebagai contoh, jika setiap fasilitas pertanian, peternakan, dan usaha makanan digunakan setiap hari dengan bertanggung jawab pada Allah dengan merawat dan memerhatikan kondisi hewan-hewannya, bukankah keselamatan dan kondisi kerja para pekerjanya akan jauh lebih diperhatikan lagi?
Meskipun ada banyak penjelasan di kitab Imamat yang mendahului pembahasan tentang makanan yang tak ada habisnya di Alkitab, orang Kristen mana pun tidak boleh mencoba mendikte apa yang harus dilakukan atau tidak dilakukan semua orang percaya sehubungan dengan penyimpanan, penyajian, dan konsumsi makanan. Namun, apa pun yang kita makan atau tidak makan, Derek Tidball dengan tepat mengingatkan orang Kristen tentang sentralitas kekudusan. Apa pun pendirian orang tentang hal yang rumit ini, semuanya tak dapat dipisahkan dari komitmen orang Kristen terhadap kekudusan. Kekudusan memanggil kita bahkan untuk makan dan minum “bagi kemuliaan Allah.” [3] Begitu pula dengan pekerjaan yang menghasilkan, menyajikan, dan mengonsumsi makanan dan minuman.
Penanganan Penyakit Kulit dan Infeksi Jamur (Imamat 13-14)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBerbeda dengan ketetapan tentang makanan, ketetapan tentang penyakit dan pencemaran lingkungan tampaknya semata-mata berkaitan dengan kesehatan. Kesehatan juga merupakan hal yang sangat penting saat ini, dan meskipun seandainya kitab Imamat tidak ada di Alkitab, memerhatikan kesehatan tetap merupakan hal yang mulia dan saleh. Namun tidaklah bijaksana jika kita menganggap kitab Imamat memberi petunjuk-petunjuk tentang mengatasi penyakit-penyakit menular dan pencemaran lingkungan, yang bisa kita terapkan langsung pada saat ini. Dengan jarak kita yang ribuan tahun dari zaman itu, sulit untuk memastikan secara pasti penyakit apa sebenarnya yang dimaksud dalam ayat-ayat itu. Pesan yang tetap berlaku dari kitab Imamat adalah bahwa Allah itu TUHAN atas kehidupan dan Dia memimpin, menghargai, dan memuliakan semua orang yang membawa pemulihan bagi masyarakat dan lingkungan. Jika ketetapan tertentu dalam kitab Imamat saja tidak mendikte atau menentukan secara pasti bagaimana kita harus melakukan karya pemulihan dan pemeliharaan lingkungan, maka dalam hal yang lebih besar ini pun jelas tidak.
Hukum Kekudusan (Imamat 17-27)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBeberapa perintah dalam hukum kekudusan tampaknya hanya relevan di dunia Israel kuno, tetapi beberapa lainnya tampaknya berlaku sepanjang waktu. Di satu sisi, kitab Imamat melarang laki-laki mencukur atau merusak tepi janggutnya (Imamat 19:27), tetapi di sisi lain, para hakim dilarang berlaku tidak adil di pengadilan dan harus mengadili semua orang dengan benar (Imamat 19:15). Bagaimana kita tahu perintah mana yang dapat diterapkan secara langsung pada masa kini? Mary Douglas menjelaskan dengan baik bagaimana memahami kekudusan dengan jelas sebagai tatanan moral, baik dengan mendasarkan perintah-perintah ini pada Allah maupun dengan memahami keragamannya:
“Mengembangkan pemahaman tentang kekudusan sebagai keteraturan, bukan kekacauan, menegakkan kejujuran dan kelurusan sebagai hal yang kudus, dan kontradiksi serta sikap bermuka-dua sebagai hal yang tidak kudus. Mencuri, berbohong, bersaksi dusta, berlaku curang dalam penimbangan dan pengukuran, segala bentuk kepura-puraan seperti menjelek-jelekkan orang tuli (sambil mungkin tersenyum di depannya), membenci saudara dalam hati (sementara mungkin berbicara ramah padanya), semua itu jelas merupakan kontradiksi antara yang kelihatan dengan yang sebenarnya” [1]
Beberapa aspek yang menjaga keteraturan yang baik (seperti mencukur janggut) mungkin penting dalam konteks tertentu, tetapi tidak penting dalam konteks yang lain. Yang lainnya mungkin penting dalam segala situasi. Kita dapat memilahnya dengan bertanya apakah yang berkontribusi pada keteraturan yang baik dalam konteks tertentu kita. Di sini kita akan membahas hal-hal yang berkaitan langsung dengan masalah kerja dan ekonomi.
Memungut Sisa-sisa Panen (Imamat 19:9-10)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiMeskipun cara menuai hasil panen pada zaman dahulu tidak seefisien saat ini, Imamat 19:9-10 memerintahkan bangsa Israel untuk melakukannya dengan makin kurang efisien. Pertama, mereka harus membiarkan yang tertinggal dari hasil penyabitan tidak dipanen. Banyaknya sisa panen yang ditinggalkan ini tampaknya terserah pada keputusan pemilik ladang. Kedua, mereka tidak boleh memungut hasil panen apa pun yang jatuh ke tanah. Ini berlaku ketika penuai menyabit seberkas bulir gandum maupun ketika buah anggur berjatuhan dari ranting yang baru saja dipotong dari pokoknya. Ketiga, mereka hanya boleh memanen kebun anggur sekali saja dengan hanya mengambil buah yang sudah matang, agar buah anggur yang matang kemudian dapat disisakan untuk orang miskin dan pendatang yang tinggal di antara mereka.[1]
Kedua kelompok masyarakat ini—orang miskin dan penduduk asing—disatukan karena mereka sama-sama tidak memiliki tanah, sehingga mereka sangat tergantung pada pekerjaan tangan mereka sendiri untuk mendapatkan makanan. Peraturan yang menguntungkan orang miskin adalah hal yang biasa di Timur Dekat kuno, tetapi hanya peraturan di Israel yang memperluas perlakuan ini kepada orang asing yang tinggal di sana. Dan ini merupakan satu hal lain yang membedakan umat Allah dari bangsa-bangsa di sekitarnya. Ayat-ayat lain menyebutkan bahwa janda-janda dan anak yatim termasuk dalam kategori ini. (Referensi ayat Alkitab lainnya tentang memungut sisa-sisa (gleaning) antara lain Keluaran 22:21-27; Ulangan 24:19-21; Hakim-hakim 8:2; Rut 2:17-23; Ayub 24:6; Yesaya 17:5-6, 24:13; Yeremia 6:9, 49:9; Obaja 1:5; Mikha 7:1).
Kita mungkin menggolongkan “gleaning” (membiarkan orang miskin/asing memungut sisa-sisa panen) sebagai ungkapan belas kasihan atau keadilan, tetapi menurut kita Imamat, membiarkan orang lain memungut sisa-sisa panen kita adalah buah kekudusan. Kita melakukannya karena Allah berkata, “Akulah TUHAN, Allahmu” (Imamat 19:10). Hal ini menegaskan perbedaan antara memberi sedekah dan membiarkan orang lain memungut sisa-sisa panen kita. Dalam memberi sedekah, kita dengan sukarela memberi kepada orang lain yang membutuhkan. Perbuatan ini baik dan mulia, tetapi yang dibicarakan di kitab Imamat bukan hal ini. Memungut sisa-sisa adalah sebuah proses yang di dalamnya pemilik ladang berkewajiban memberi akses kepada orang miskin dan tersisih untuk mendapatkan sarana produksi (di dalam kitab Imamat berarti tanah/ladang) dan mengerjakannya sendiri. Berbeda dengan sedekah, memungut sisa-sisa tidak tergantung pada kemurahan hati pemilik ladang. Dalam hal ini, pemungutan sisa-sisa ini lebih seperti pajak daripada sumbangan amal. Dan tidak seperti sedekah juga, sisa-sisa panen ini tidak diberikan kepada orang miskin sebagai bayaran pengganti. Dengan memungut sisa-sisa, orang miskin itu juga mencari nafkah sendiri seperti halnya pemilik ladang, dengan menggarap ladang dengan tenaga/tangan mereka sendiri. Ini benar-benar sebuah perintah agar setiap orang mendapatkan hak untuk mengakses sarana pemeliharaan yang diciptakan Allah.
Di dalam masyarakat masa kini, mungkin tidak mudah untuk membedakan penerapan prinsip “gleaning” atau pemungutan sisa-sisa panen ini. Di banyak negara, pembaruan ladang tentu saja diperlukan agar para petani bisa mendapatkan tanah dengan aman, dan tidak dikuasai pejabat pemerintah yang nakal atau tuan tanah yang berlaku curang. Di negara-negara industri yang lebih maju, tanah bukanlah faktor utama produksi. Yang dibutuhkan orang miskin untuk produktif kemungkinan adalah akses kepada pendidikan, modal, pemasaran produk dan bursa kerja, sistem transportasi, serta undang-undang dan peraturan yang non-diskriminatif. Karena orang Kristen kemungkinan juga tidak lebih mampu daripada orang-orang lainnya dalam menentukan dengan tepat solusi yang paling efektif, maka solusi-solusi ini harus datang dari seluruh masyarakat. Kitab Imamat tentu saja tidak berisi sistem yang siap-pakai untuk perekonomian saat ini. Namun, sistem memungut sisa-sisa di kitab Imamat jelas mengharuskan para pemilik aset produktif untuk memastikan kaum marjinal mendapat kesempatan untuk bekerja mencari nafkah. Tentu saja tidak ada pemilik perorangan yang dapat memberi kesempatan kepada semua pekerja yang menganggur atau setengah menganggur, seperti halnya tidak ada seorang petani di Israel kuno yang dapat membuka kesempatan pemungutan sisa panen untuk seluruh wilayah. Namun, para pemilik dipanggil untuk menjadi orang yang bertanggung jawab dalam menyediakan kesempatan kerja. Boleh jadi, orang Kristen pada umumnya juga dipanggil untuk menghargai pelayanan yang dilakukan pemilik bisnis dalam perannya sebagai pencipta lapangan kerja di komunitasnya.
(Untuk lebih jelas tentang “gleaning” -memungut sisa-sisa panen- di Alkitab, lihat "Keluaran 22:21-27" dalam Kitab Keluran dan Kerja serta "Rut 2:17-23" dalam Kitab Rut dan Kerja di https://www.teologikerja.org/.)
Berlaku Jujur (Imamat 19:11-12)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiPerintah-perintah dalam kitab Imamat yang melarang mencuri, berbuat curang, berdusta, dan mencemarkan nama Allah dengan bersumpah palsu semuanya menemukan ungkapan yang lebih dikenal dengan Sepuluh Hukum di Keluaran 20. (Untuk penjelasan lebih lanjut tentang kejujuran, lihat “Mengatakan Kebenaran di dalam Alkitab” dan “Mungkin Ada Pengecualian dalam Mengatakan-Kebenaran di Tempat Kerja,” dalam artikel Kebenaran dan Kebohongan di https://www.teologikerja.org/.)
Namun, yang unik dari kitab Imamat adalah kata-kata Ibrani di belakang perintah “janganlah kamu berbohong satu sama lain” (Imamat 19:11; perhatikan kata yang dicetak miring). Secara harfiah peintah ini berarti “seseorang tidak boleh berbohong kepada ‘amit’-nya”, yang berarti ‘rekan’, ‘sahabat’, atau ‘sesama’. Ini tentu saja meliputi sesama anggota masyarakat Israel; tetapi menurut Imamat 24:19 dalam konteks Imamat 24:17-22, ini juga mencakup penduduk asing. Etika dan moralitas bangsa Israel jelas lebih baik dari bangsa-bangsa di sekitarnya, yang bahkan sampai memperlakukan pendatang dari bangsa lain sama seperti mereka memperlakukan warganegara pribumi.
Dalam hal apa pun, intinya di sini adalah aspek relasional dalam mengatakan kebenaran versus kebohongan. Berbohong bukan saja salah-mengungkapkan fakta yang benar, tetapi juga pengkhianatan terhadap rekan, sahabat, atau sesama. Apa yang kita katakan kepada satu sama lain harus benar-benar muncul dari kekudusan Allah di dalam kita, bukan sekadar analisis teknis untuk menghindari kebohongan yang terang-terangan. Ketika Presiden AS Bill Clinton berkata, “Aku tidak memiliki relasi seksual dengan wanita itu,” ia mungkin memiliki logika yang berbelit-belit di pikirannya agar pernyataannya itu secara teknis bukan kebohongan. Namun, orang-orang di negaranya sudah sepantasnya merasa bahwa ia telah menghancurkan kepercayaan mereka, yang kemudian juga ia akui dan menerima penilaian ini. Ia telah melanggar kewajiban untuk tidak berbohong kepada satu sama lain.
Di banyak tempat kerja, mengungkapkan aspek positif maupun negatif suatu produk, layanan, pribadi, organisasi, atau situasi itu diperlukan. Orang Kristen tak perlu ragu untuk berbicara tegas dalam mengutarakan maksudnya. Namun, mereka juga tak boleh berkata-kata sedemikian rupa sampai yang mereka sampaikan kepada orang lain itu tidak benar. Jika secara teknis kata-kata yang benar menambah kesan yang salah di pikiran orang lain, maka kewajiban untuk mengatakan kebenaran telah dilanggar. Praktisnya, setiap kali pembicaraan tentang kebenaran berujung pada perdebatan teknis tentang kata-kata, kita sebaiknya bertanya pada diri sendiri, apakah perdebatan itu sebenarnya tentang berbohong kepada satu sama lain dalam arti ini.
Memperlakukan Pekerja dengan Adil (Imamat 19:13)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi“Janganlah engkau memeras sesamamu dan janganlah engkau merampas. Janganlah kautahan upah seorang buruh upahan sampai esok hari” (Imamat 19:13).
Buruh harian biasanya adalah orang-orang miskin yang tidak memiliki lahan untuk bertani sendiri. Mereka sangat bergantung pada upah kerja hari itu, dan karena itu harus dibayar di penghujung setiap hari (bdk. Ulangan 24:14-15). Di dunia kita, situasi serupa terjadi ketika pemberi kerja memiliki wewenang untuk membuat syarat dan ketentuan kerja yang memanfaatkan kerentanan pekerja. Hal ini terjadi, misalnya, ketika karyawan ditekan untuk mendukung kandidat politik yang disukai atasan, atau diminta terus bekerja setelah jam pulang kerja.Tindakan-tindakan seperti ini dilarang di banyak tempat, tetapi sayangnya masih banyak terjadi.
Situasi yang lebih kontroversial berkaitan dengan pekerja harian yang tidak memiliki dokumen untuk bekerja resmi. Situasi ini terjadi di seluruh dunia, dan terjadi pada pengungsi dari luar maupun dalam negeri, warga desa yang tidak memiliki izin tinggal di kota, imigran ilegal, anak-anak di bawah usia kerja resmi, dan lain-lain. Orang-orang ini seringkali bekerja di pertanian, perkebunan, pabrik, layanan makanan, dan proyek-proyek kecil, selain pekerjaan-pekerjaan ilegal. Karena baik pemberi kerja maupun para pekerja bekerja secara ilegal, para pekerja jenis ini jarang mendapat perlindungan dari perjanjian kerja dan peraturan pemerintah. Pemberi kerja bisa memanfaatkan situasi ini dengan membayar mereka lebih rendah dibandingkan pekerja resmi, tidak memberikan tunjangan-tunjangan, dan menyediakan kondisi kerja yang buruk atau berbahaya. Mereka juga bisa menjadi target pelecehan dan kekerasan seksual. Dalam banyak kasus, mereka sepenuhnya berada di bawah kekuasaan pemberi kerja. Apakah sah bagi para pemberi kerja jika memperlakukan mereka seperti ini? Tentu saja tidak.
Namun bagaimana jika orang-orang dalam situasi itu menyerahkan diri dengan sukarela sendiri ke dalam pekerjaan yang tidak memenuhi syarat itu? Di banyak tempat, pekerja yang tidak memiliki dokumen tersedia di depan toko-toko bahan bangunan dan perlengkapan taman, di pasar-pasar pertanian, dan tempat berkumpul lainnya. Apakah benar jika kita mempekerjakan mereka? Jika ya, apakah pemberi kerja bertanggung jawab untuk memberikan hal-hal yang menjadi hak pekerja resmi, seperti upah minimum, tunjangan kesehatan, dana pensiun, tunjangan sakit, dan pesangon PHK? Haruskah orang Kristen bersikap kaku sehubungan dengan legalitas pekerjaan itu, atau haruskah kita bersikap fleksibel karena peraturan perundang-undangan belum bisa sesuai dengan realitas? Orang Kristen yang bijak pun pasti akan berbeda-beda pendapatnya tentang hal ini, sehingga sulit untuk membenarkan solusi “satu ukuran untuk semua.” Namun, bagaimana pun cara orang Kristen memproses masalah-masalah ini, kitab Imamat mengingatkan bahwa kekudusan (bukan kebijakan praktis) harus menjadi pusat pemikiran kita. Dan kekudusan dalam hal kerja muncul dari kepedulian terhadap kebutuhan pekerja yang paling rentan.
Hak-hak Penyandang Disabilitas (Imamat 19:14)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi“Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta jangan kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu. Akulah TUHAN” (Imamat 19:14).
Perintah-perintah ini memberikan gambaran yang jelas tentang perlakuan kejam terhadap penyandang disabilitas. Orang tuli tidak dapat mendengar kutukan, dan orang buta tidak dapat melihat batu sandungan. Dengan alasan ini, Imamat 19:14 mengingatkan umat Israel supaya “takut akan Allahmu” yang mendengar dan melihat bagaimana setiap orang diperlakukan di tempat kerja. Sebagai contoh, pekerja penyandang disabilitas belum tentu memerlukan perabot dan peralatan kantor yang sama dengan pekerja yang bukan penyandang disabilitas. Namun, mereka perlu diberi kesempatan untuk bekerja produktif semaksimal yang mereka mampu, seperti semua orang lainnya. Dalam banyak kasus, yang paling dibutuhkan penyandang disabilitas bukanlah dijaga/dicegah untuk bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan yang mampu mereka lakukan. Sekali lagi, perintah dalam kitab Imamat bukanlah bahwa umat Allah harus bersedekah kepada orang lain, tetapi bahwa kekudusan Allah memberi hak kepada semua orang yang diciptakan menurut gambar-Nya untuk mendapatkan kesempatan yang layak untuk bekerja.
Menegakkan Keadilan (Imamat 19:15-16)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi“Janganlah kamu berbuat curang di pengadilan: jangan memihak orang miskin atau terpengaruh oleh orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamanu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi ke sana ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu. Janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia. Akulah TUHAN.” (Imamat 19:15-16)
Bagian yang singkat ini menegaskan nilai keadilan alkitabiah yang sudah dikenal yang kemudian dikembangkan secara signifikan. Ayat pertama dimulai dengan penerapan untuk para hakim, tetapi diakhiri dengan penerapan untuk semua orang. Jangan mengadili perkara dengan memihak, dan jangan mengadili sesamamu dengan tidak adil. Perkataan dalam bahasa Ibraninya menyoroti godaan untuk menilai seseorang atau suatu permasalahan dari penampakan luar. Jika diterjemahkan secara harfiah, Imamat 19:15 berbunyi, “Jangan melakukan ketidakadilan dalam menilai. Jangan mengangkat wajah orang miskin dan jangan menghormati wajah orang besar. Dengan kebenaran hendaklah engkau menghakimi sesamamu.” Para hakim harus memandang melampaui prasangka mereka (“wajah” yang mereka lihat) untuk memahami masalah secara tidak memihak. Hal yang sama berlaku dalam relasi-relasi sosial kita di tempat kerja, sekolah, dan kehidupan masyarakat. Di dalam setiap konteks, sebagian orang diistimewakan dan sebagian lainnya ditindas karena berbagai prasangka sosial. Bayangkan perbedaan yang dapat dibuat orang Kristen jika kita menunggu membuat penilaian sampai kita benar-benar mengenal orang-orang dan situasi mereka secara mendalam. Bagaimana jika kita mengambil waktu untuk memahami orang yang menyebalkan di dalam tim kita sebelum mengomel di belakangnya? Bagaimana jika kita berani menghabiskan waktu bersama orang-orang di luar zona nyaman kita di sekolah, kampus, atau kehidupan masyarakat? Bagaimana jika kita mencari berita surat kabar, televisi, dan media yang memberikan perspektif berbeda dari yang menyenangkan kita? Apakah menggali lebih dalam akan memberi kita hikmat yang lebih baik untuk melakukan pekerjaan kita dengan baik dan adil?
Bagian selanjutnya dari Imamat 19:16 mengingatkan kita bahwa prasangka sosial bukan hal sepele. Secara harfiah, perkataan dalam bahasa Ibraninya berbunyi, “Jangan berdiri di dekat darah sesamamu.” Dalam bahasa persidangan di ayat sebelumnya, kesaksian yang menyimpang (“fitnah”) itu membahayakan nyawa/hidup (“darah”) terdakwa. Dalam kasus itu, tindakan yang salah bukan hanya menyebarkan fitnah, tetapi berdiam diri tanpa bersedia memberi kesaksian tentang orang yang dituduh secara salah juga tidak benar.
Para pemimpin di tempat kerja harus sering berfungsi sebagai penengah. Para pekerja bisa menyaksikan ketidakadilan di tempat kerja dan bisa mempertanyakan secara sah apakah tepat untuk terlibat. Kitab Imamat menyatakan bahwa sikap proaktif yang membela kepentingan orang yang diperlakukan dengan buruk merupakan hal penting yang harus dimiliki umat Allah yang kudus.
Pada lingkup yang lebih luas, kitab Imamat membuat visi teologisnya tentang kekudusan berlaku bagi seluruh masyarakat. Kesehatan masyarakat dan perekonomian kita bersama sedang dipertaruhkan. Hans Kung menunjukkan pentingnya saling-keterkaitan antara bisnis, politik, dan agama:
“Jangan dilupakan bahwa pemikiran dan perilaku ekonomi juga bukannya bebas-nilai atau bersifat netral ... Sama seperti tanggung jawab sosial dan ekologis bisnis tidak bisa diserahkan begitu saja kepada para politisi, tanggung jawab moral dan etika juga tidak bisa diserahkan begitu saja kepada agama…Tidak, perilaku etis tidak boleh hanya sebagai tambahan pribadi dalam rencana-rencana pemasaran, strategi-strategi penjualan, pembukuan ekologis dan neraca sosial, tetapi harus menjadi kerangka kerja alami bagi perilaku sosial manusia” [1]
Setiap tempat kerja—rumahtangga, bisnis, pemerintahan, perguruan tinggi, kedokteran, pertanian, dan lain-lainnya—memiliki fungsinya masing-masing. Namun, semuanya dipanggil untuk menjadi kudus. Di dalam Imamat 19:15-16, kekudusan dimulai dengan melihat orang lain dengan kedalaman pengertian yang sampai ke bawah permukaan (di balik penampakan wajah yang terlihat).
Mengasihi Sesama Seperti Diri Sendiri (Imamat 19:17-18)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiAyat yang paling terkenal di kitab Imamat kemungkinan adalah perintah, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Imamat 19:18). Perintah ini begitu melibas semuanya sampai Yesus maupun rabi-rabi menganggapnya sebagai satu dari dua Hukum yang “Terutama”, perintah lainnya dari, “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa” (Markus 12:29-31; bdk.Ulangan 6:4). Dengan mengutip Imamat 19:18, Rasul Paulus menulis bahwa “kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10).
Bekerja untuk Orang Lain Seperti untuk Diri Sendiri
Inti perintah ini terletak pada kata “seperti dirimu sendiri”. Setidaknya sampai tingkat tertentu, kebanyakan kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri. Ada unsur mementingkan diri sendiri yang kuat dalam bekerja. Kita tahu bahwa jika kita tidak bekerja, kita tidak akan makan. Kitab Suci mendukung motivasi ini (2 Tesalonika 3:10), tetapi aspek “seperti dirimu sendiri” di Imamat 19:18 menunjukkan bahwa kita juga harus memiliki motivasi yang sama untuk melayani orang lain melalui pekerjaan kita. Ini adalah panggilan yang sangat penting— bekerja untuk melayani orang lain sebaik kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri. Jika kita harus bekerja dua kali lipat untuk memenuhinya—katakanlah satu kali sehari untuk diri kita sendiri dan satu kali lagi untuk sesama kita—hal ini hampir tidak mungkin.
Untungnya, kita bisa mengasihi diri sendiri dan sesama melalui pekerjaan yang sama, setidaknya sampai pekerjaan kita memberikan suatu nilai kepada pelanggan, warganegara, mahasiswa, anggota keluarga, dan konsumen lainnya. Seorang guru menerima gaji yang dapat dipakainya untuk membayar tagihan-tagihan, dan pada saat yang sama ia membekali para siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang juga akan berharga bagi mereka. Seorang pengurus hotel menerima gaji dengan menyiapkan kamar yang bersih dan sehat bagi para tamu. Dalam banyak pekerjaan, kita tidak akan bertahan lama jika kita tidak memberikan suatu nilai kepada orang lain yang setidaknya setara dengan bayaran yang kita terima. Namun, bagaimana jika kita berada dalam situasi yang membuat kita bisa berbuat curang untuk keuntungan/kepentingan diri sendiri? Sebagian orang mungkin punya cukup kekuasaan untuk menuntut gaji dan bonus yang melebihi nilai yang sebenarnya mereka berikan. Orang yang memiliki koneksi politik atau korup mungkin bisa meminta imbalan besar untuk diri mereka sendiri dalam bentuk kontrak-kontrak, subsidi, bonus, atau proyek tertentu, yang tidak memberi banyak manfaat bagi orang lain. Hampir setiap kita punya saat-saat ketika kita dapat melalaikan kewajiban kita namun tetap menerima bayaran.
Dengan berpikir lebih luas, jika kita punya banyak pilihan dalam pekerjaan kita, seberapa banyak peran melayani orang lain menjadi keputuan yang kita ambil dalam bekerja dibandingkan yang memberi banyak keuntungan bagi diri kita sendiri? Hampir semua pekerjaan dapat melayani orang lain dan menyenangkan Allah. Namun, ini tidak berarti semua pekerjaan atau kesempatan kerja juga bisa melayani orang lain. Kita mengasihi diri sendiri ketika kita membuat pilihan-pilihan kerja yang memberi kita bayaran tinggi, kehormatan, keamanan, kenyamanan, dan kemudahan. Kita mengasihi orang lain ketika kita memilih pekerjaan yang menyediakan barang dan jasa yang diperlukan, kesempatan-kesempatan bagi kaum marjinal, pemeliharaan ciptaan Allah, keadilan dan demokrasi, kebenaran, perdamaian, dan keindahan. Imamat 19:18 menyatakan bahwa hukum yang kedua ini sama pentingnya dengan hukum yang pertama.
Bersikap baik?
Alih-alih berusaha keras memenuhi panggilan mulia ini, lebih mudah kita mereduksi pemahaman kita tentang “mengasihi sesama seperti diri sendiri” menjadi sesuatu yang dangkal seperti “bersikap baik.” Padahal bersikap baik seringkali tidak lebih dari sekadar kedok dan dalih untuk lepas tangan dari orang-orang di sekitar kita. Imamat 19:17 memerintahkan kita untuk melakukan yang sebaliknya. “Engkau harus berterus terang menegur sesamamu dan tidak mendatangkan dosa atas dirimu karena dia” (Imamat 19:17). Kedua perintah ini—baik untuk mengasihi maupun menegur sesama - tampaknya seperti tidak mungkin, tetapi keduanya disatukan dalam pepatah, “Lebih baik teguran terang-terangan daripada kasih yang tersembunyi” (Amsal 27:5).
Sayangnya, pelajaran yang terlalu sering kita terima dari gereja adalah supaya selalu bersikap baik. Jika ini menjadi aturan kita di tempat kerja, akibatnya bisa menimbulkan efek buruk pada pribadi dan pekerjaan. Sikap baik bisa membuat orang Kristen membiarkan para perundung dan predator melecehkan dan memanipulasi mereka dan melakukan hal yang sama pada orang lain. Sikap baik bisa membuat para manajer Kristen mengabaikan berbagai kekurangan karyawannya dalam penilaian kinerja, menghilangkan kewajiban mereka untuk mengasah keterampilan dan mempertahankan pekerjaan untuk jangka panjang. Sikap baik bisa membuat orang menumpuk kebencian, menyimpan dendam, atau menuntut balas. Kitab Imamat menyatakan bahwa mengasihi orang lain kadang juga berarti memberikan teguran yang terang-terangan. Ini bukan izin untuk berlaku kasar. Ketika kita menegur, kita perlu melakukannya dengan rendah hati—kita sendiri mungkin perlu ditegur dalam situasi itu—dan dengan berbelas kasih.
Untuk pembahasan lebih mendalam tentang arti mengasihi sesama seperti diri sendiri di tempat kerja, lihat "The Command Approach in Practice" dan "The Character Approach" dalam Ethics at Work Overview at https://www.teologikerja.org/.
Siapakah Sesamaku Manusia? (Imamat 19:33-34)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKitab Imamat mengajarkan bahwa orang Israel tidak boleh “menindas” para pendatang/ penduduk asing (Imamat 19:33). (Kata kerja Ibrani yang sama dipakai di Imamat 25:17, “Janganlah kamu merugikan satu sama lain”). Perintah ini dilanjutkan dengan, “Pendatang yang tinggal padamu harus kauperlakukan sama seperti orang Israel asli di antaramu. Kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu dahulu juga pendatang di tanah Mesir: Akulah TUHAN, Allahmu” (Imamat 19:34). Ayat ini adalah contoh yang sangat jelas tentang hubungan tak terpisahkan dalam kitab Imamat antara kekuatan moral perintah itu (“kasihilah orang asing seperti dirimu sendiri”) dengan jati diri Allah, “Akulah TUHAN, Allahmu.” Anda tidak boleh menindas orang asing karena Anda milik Allah yang kudus.
Penduduk asing, bersama para janda dan orang miskin (lihat Imamat 19:9-10 di atas), menggambarkan orang luar yang tak punya kekuasaan. Di tempat kerja masa kini, perbedaan kekuasaan muncul bukan hanya karena perbedaan kebangsaan dan gender, tetapi juga karena berbagai faktor lain. Apa pun penyebabnya, banyak tempat kerja memiliki hierarki kekuasaan yang diketahui semua orang, terlepas apakah hal itu diakui secara terbuka atau tidak. Dari Imamat 19:33-34 kita bisa menyimpulkan bahwa orang Kristen harus memperlakukan orang lain dalam bisnis dengan adil sebagai ungkapan penyembahan yang tulus kepada Allah.
Berdagang dengan Benar (Imamat 19:35-36)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBagian ini melarang kecurangan dalam berdagang dengan mengukur panjang, berat, atau kualitas secara salah, dan dibuat lebih spesifik dengan mengacu pada neraca dan batu timbangan, perlengkapan standar dalam berdagang. Berbagai macamnya pengukuran yang disebutkan menunjukkan bahwa aturan ini berlaku di seluruh spektrum yang luas, dari mengukur sebidang tanah sampai menimbang benda-benda kecil yang kering dan basah. Kata Ibrani tsedeq (“jujur/ benar”) yang disebut berkali-kali di Imamat 19:36 menunjukkan karakter yang benar dalam arti berintegritas dan tak bercacat. Semua berat dan ukuran harus akurat. Singkatnya, pembeli harus mendapatkan sesuai dengan yang mereka bayar.
Para penjual memiliki berbagai cara untuk memberi kurang dari yang seharusnya diterima pembeli. Ini tidak hanya berlaku pada pengukuran berat, luas, dan isi yang dipalsukan. Perkataan yang dibesar-besarkan, statistik yang menyesatkan, pembandingan yang tak relevan, janji yang tak dapat ditepati, “vaporware” (iklan yang tak ada barangnya), serta syarat dan ketentuan yang terselubung hanyalah puncak dari gunung es. (Untuk penerapan di berbagai tempat kerja, lihat “Mengatakan Kebenaran di Tempat Kerja” di https://www.teologikerja.org/.)
Seorang wanita yang bekerja di perusahaan yang menerbitkan kartu kredit menceritakan kisah yang meresahkan dalam tulisan di bawah ini:
Perusahaan kami menyediakan kartu kredit untuk orang-orang miskin yang memiliki riwayat kredit yang buruk. Meskipun kami menetapkan suku bunga yang tinggi, tingkat gagal bayar nasabah kami sedemikian tinggi sampai kami tak dapat memperoleh laba hanya dari bunga yang ditetapkan. Kami harus mencari cara untuk menghasilkan uang.
Satu tantangannya adalah sebagian besar nasabah kami takut berutang, sehingga mereka akan membayar saldo bulanan mereka tepat waktu. Tidak ada dana untuk kami dengan cara mereka yang seperti itu. Jadi, kami punya trik untuk membuat mereka lengah. Selama enam bulan pertama, kami akan mengirimkan tagihan kepada mereka pada tanggal 15 bulan itu, dengan jatuh tempo pada tanggal 15 bulan berikutnya. Mereka mempelajari pola itu dan dengan rajin mengirimkan pembayaran pada kami pada tanggal 14 setiap bulan. Pada bulan ketujuh, kami mengirimkan tagihan pada tanggal 12, dan jatuh tempo pada tanggal 12 bulan berikutnya. Mereka tidak menyadari perubahan itu, dan mereka mengirimkan pembayaran pada tanggal 14 seperti biasanya. Nah, trik kami berhasil. Kami mengenakan biaya layanan sebesar $30 kepada mereka atas keterlambatan pembayaran. Selain itu, karena mereka menunggak, kami dapat menaikkan suku bunganya. Bulan berikutnya mereka sudah menunggak dan berada dalam siklus yang mendatangkan uang bagi kami dari bulan ke bulan. [1]
Sulit untuk melihat bagaimana perdagangan atau bisnis apa pun yang bergantung pada cara menipu atau menyesatkan orang untuk mendapatkan keuntungan dapat menjadi pekerjaan yang cocok untuk orang-orang yang dipanggil mengikuti Allah yang kudus.
Tahun Sabat dan Tahun Yobel (Imamat 25)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiImamat 25 menetapkan tahun Sabat, setiap tujuh tahun sekali (Imamat 25:1-7), dan tahun Yobel, setiap lima puluh sekali (Imamat 25:8-17), untuk menguduskan perekonomian internal Israel. Pada tahun Sabat, semua ladang harus dibiarkan kosong, yang tampaknya merupakan cara bertani yang sehat. Tahun Yobel jauh lebih radikal. Setiap tahun kelima puluh, semua tanah yang disewakan atau digadaikan harus dikembalikan kepada pemilik aslinya, dan semua budak dan buruh upahan harus dibebaskan (Imamat 25:10). Hal ini tentu saja menimbulkan kesulitan dalam transaksi perbankan dan penjualan tanah, sehingga ketentuan-ketentuan khusus pun dirancang untuk mengatasinya (Imamat 25:15-16), yang akan kita bahas sebentar lagi. Tujuan yang mendasarinya sama dengan yang ada pada peraturan memungut sisa-sisa panen (Imamat 19:9-10), yaitu, untuk memastikan setiap orang memiliki akses kepada sarana-sarana produksi, entah itu berupa ladang keluarga atau pun sekadar hasil dari pekerjaan tangan mereka sendiri.
Tidak diketahui secara pasti apakah bangsa Israel benar-benar melaksanakan tahun Yobel atau mematuhi ketetapan anti-perbudakan yang terkait dengan hal itu (seperti di Imamat 25:25-28, 39-41) secara luas. Namun, bagaimanapun, penjelasan yang gamblang di Imamat 25 sangat menyarankan kita untuk melihat ketetapan ini sebagai hal yang harus diperhatikan dan dilakukan orang Israel. Alih-alih menganggap tahun Yobel sebagai sebuah fiksi sastra utopis, tampaknya lebih baik kita percaya bahwa pengabaian pelaksanaan tahun Yobel secara luas terjadi bukan karena tahun Yobel tidak dapat dilaksanakan, tetapi karena orang-orang kaya tidak mau menerima dampak sosial dan ekonomi yang akan merugikan dan mengusik hidup mereka.
Protection for the Destitute
Setelah bangsa Israel menaklukkan tanah Kanaan, tanah itu diberikan kepada klan-klan dan kaum keluarga Israel sebagaimana yang dijelaskan dalam Bilangan 26 dan Yosua 15-22. Tanah ini tidak boleh dijual untuk selamanya karena tanah itu milik Allah, bukan bangsa Israel (Imamat 25:23-24).[1] Dampak tahun Yobel adalah mencegah agar jangan sampai ada keluarga yang menjadi tidak memiliki tanah secara permanen karena tanah yang diberikan kepada mereka dijual, digadaikan atau disewakan selamanya. Intinya, penjualan tanah apa pun sebenarnya merupakan sewa jangka panjang yang masa berakhirnya tidak boleh melampaui tahun Yobel berikutnya (Imamat 25:15). Cara ini memberikan sarana kepada orang miskin untuk mencari nafkah (dengan menyewa ladang) tanpa merampas sarana produksi generasi mendatang keluarga itu. Ketetapan di Imamat 25 ini tidak mudah dipahami, tetapi Milgrom telah membuatnya dapat dimengerti ketika ia mendefinisikan tiga tahap kemiskinan yang progresif.[2]
- Tahap pertama digambarkan di Imamat 25:25-28. Seseorang bisa dengan mudah menjadi miskin. Skenario yang diperkirakan adalah seorang petani yang meminjam uang untuk membeli benih tetapi tidak menghasilkan panen yang cukup baik untuk mengembalikan pinjaman itu. Oleh karena itu, ia harus menjual sebagian tanahnya kepada seorang pembeli agar ia dapat menutup utangnya dan membeli benih lagi untuk bercocok tanam berikutnya. Jika ada orang dari kaum keluarga petani itu yang mau bertindak sebagai “penebus”, ia dapat membayar kepada si pembeli itu sejumlah tahun-tahun panen yang tersisa sampai tahun Yobel, saat tanah itu dikembalikan kepada si petani. Sebelum saat itu, tanah itu menjadi milik si penebus, yang mengizinkan si petani untuk menggarapnya.
Tahap kedua lebih parah (Imamat 25:35-38). Dengan asumsi tanah itu tidak ditebus dan si petani kembali terjerumus dalam utang yang tak dapat ia kembalikan, maka ia akan menyerahkan seluruh tanahnya kepada kreditor. Dalam hal ini, si kreditor harus meminjamkan dana yang diperlukan si petani untuk bisa melanjutkan kerja sebagai petani penyewa di tanahnya sendiri, tanpa dikenakan bunga. Si petani akan melunasi pinjaman ini dari keuntungan yang diperolehnya dari hasil panen, yang kemungkinan akan menghapus utangnya. Jika demikian, si petani akan mendapatkan kembali tanahnya. Jika pinjaman itu tidak bisa dilunasi seluruhnya sampai tahun Yobel, maka pada saat itu tanah itu juga akan dikembalikan kepada si petani atau ahli warisnya.
Tahap ketiga lebih parah lagi (Imamat 25:39-43). Dengan asumsi petani di tahap sebelumnya tidak dapat membayar utang atau bahkan menghidupi diri dan keluarganya, maka ia akan menjadi buruh terikat (pekerja ijon) di rumahtangga kreditor. Sebagai buruh ijon ia akan bekerja untuk mendapat upah, yang seluruhnya untuk mengurangi utang. Pada tahun Yobel, ia akan mendapatkan kembali tanah dan kebebasannya (Imamat 25:41). Selama tahun-tahun sebelum itu, kreditor tidak boleh mempekerjakannya sebagai budak, menjualnya sebagai budak, atau memerintahnya dengan kasar (Imamat 25:42-43). Kreditor harus “takut akan Allah” dengan menerima kenyataan bahwa seluruh umat Allah juga budak/hamba Allah, yang sudah dengan murah hati membawanya keluar dari Mesir. Tidak ada orang lain yang dapat memilikinya karena Allah sudah memilikinya.
Inti dari peraturan ini adalah bahwa orang Israel tidak boleh menjadi budak orang Israel lainnya. Namun, ada kemungkinan orang-orang Israel yang miskin akan menjual diri mereka sebagai budak kepada penduduk asing yang kaya yang tinggal di negeri itu (Imamat 25:47-55). Namun, sekalipun hal ini terjadi, penjualan itu tidak boleh bersifat permanen. Orang-orang yang menjual dirinya harus menyimpan hak untuk membeli diri mereka kembali dari perbudakan jika mereka sudah mampu. Jika tidak, kerabat dekat mereka dapat bertindak sebagai “penebus” yang akan membayar penduduk asing itu sesuai dengan jumlah tahun yang tersisa sampai tahun Yobel, saat orang-orang Israel yang miskin dibebaskan. Selama waktu itu, mereka tidak boleh diperlakukan dengan kasar, tetapi harus dianggap sebagai pekerja upahan.
Apa Arti Tahun Yobel bagi Kita Saat Ini?
Tahun Yobel dilaksanakan dalam konteks sistem kekerabatan Israel untuk melindungi hak kaum keluarga yang tak dapat dicabut untuk menggarap tanah leluhur mereka, yang mereka pahami sebagai milik Allah dan mereka nikmati sebagai berkat atas relasi mereka dengan Dia. Kondisi-kondisi sosial dan ekonomi seperti ini sudah tidak ada lagi, dan dari sudut pandang alkitabiah, Allah tidak lagi melakukan penebusan melalui satu negara politik. Oleh karena itu, kita harus memandang tahun Yobel dari sudut pandang kita saat ini.
Ada berbagai perspektif tentang penerapan tahun Yobel yang tepat, jika ada, dalam masyarakat masa kini. Sebagai satu contoh yang sangat terkait dengan realitas masa kini, Christopher Wright telah menulis secara ekstensif tentang penggunaan hukum Perjanjian Lama bagi umat Kristen. [3] Ia mengidentifikasi prinsip-prinsip yang tersirat dalam hukum-hukum kuno ini agar dapat memahami implikasi etisnya untuk masa kini. Penjelasannya tentang tahun Yobel dipandang dari tiga segi dasar: teologi, sosial, dan ekonomi.[4]
Dari segi teologi, tahun Yobel menegaskan bahwa Allah itu bukan saja Allah yang memiliki tanah Israel; tetapi juga Allah yang berdaulat atas segala waktu dan tempat. Tindakan-Nya yang menebus umat-Nya dari Mesir membuat Dia berkomitmen untuk memelihara mereka dalam segala hal karena mereka adalah milik-Nya. Oleh karena itu, ketaatan Israel dalam memelihara hari Sabat, tahun Sabat, dan tahun Yobel merupakan bentuk kepatuhan dan kepercayaan. Secara praktis, tahun Yobel mewujudkan kepercayaan yang dapat dimiliki seluruh bangsa Israel bahwa Allah akan menyediakan kebutuhan-kebutuhan mereka saat ini maupun kebutuhan keluarga-keluarga mereka di masa depan. Pada saat yang sama, tahun Yobel memanggil orang-orang kaya untuk percaya bahwa memperlakukan kreditor dengan berbelas kasih akan tetap menghasilkan keuntungan yang memadai.
Dilihat dari segi sosial, unit terkecil struktur kekerabatan di Israel adalah rumahtangga yang meliputi tiga sampai empat generasi. Tahun Yobel memberikan solusi sosio-ekonomi untuk menjaga keluarga tetap utuh sekalipun pada saat menghadapi bencana ekonomi. Utang keluarga adalah sebuah realitas yang bisa terjadi pada zaman dahulu maupun saat ini, dan dampaknya bisa mencakup penyakit-penyakit masyarakat yang mengerikan. Tahun Yobel berusaha mengurangi konsekuensi-konsekuensi sosial negatif ini dengan membatasi durasi waktunya agar generasi-generasi mendatang tidak harus menanggung beban nenek moyang mereka yang dulu-dulu.[5]
Segi ekonomi menyingkapkan dua prinsip yang dapat kita terapkan saat ini. Pertama, Allah menghendaki pendistribusian sumber daya bumi yang adil. Sesuai rencana Allah, tanah Kanaan dibagi rata di antara suku-suku bangsa itu. Tahun Yobel bukan tentang redistribusi tetapi restorasi. Menurut Wright, “Tahun Yobel merupakan sebuah kritik yang bukan saja terhadap penumpukan kekayaan dan tanah pribadi secara besar-besaran, tetapi juga terhadap bentuk-bentuk kolektivisme atau nasionalisasi berskala besar yang menghancurkan segala rasa kepemilikan pribadi atau keluarga yang berharga.”[6] Kedua, unit-unit keluarga harus memiliki kesempatan dan sumber daya untuk mencukupi kebutuhannya sendiri.
Di sebagian besar masyarakat modern, orang tidak bisa dijual sebagai budak untuk membayar utang. Undang-undang kebangkrutan memberi kelonggaran kepada orang-orang yang dibebani utang yang tak dapat dibayar, dan keturunannya tidak harus menanggung utang nenek moyang. Properti dasar yang dibutuhkan untuk bertahan hidup bisa jadi adalah dilindungi dari perampasan. Meskipun begitu, Imamat 25 tampaknya memberikan fondasi yang lebih luas daripada undang-undang kebangkrutan masa kini. Fondasi ini tidak hanya melindungi kebebasan pribadi dan sedikit properti untuk orang miskin, tetapi juga memastikan setiap orang memiliki akses kepada sarana-sarana untuk mencari nafkah dan terlepas dari kemiskinan multi-generasi. Sebagaimana ditunjukkan peraturan memungut sisa panen di kitab Imamat, solusinya bukanlah pemberian atau perampasan properti secara masal, tetapi nilai-nilai dan struktur-struktur sosial yang memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk bekerja produktif. Sudahkah masyarakat modern benar-benar melampaui bangsa Israel kuno dalam hal ini? Bagaimana dengan jutaan orang yang diperbudak atau menjadi buruh ijon hari ini di dalam situasi-situasi di mana undang-undang anti perbudakan tidak cukup ditegakkan? Apa yang diperlukan agar orang Kristen dapat memberikan solusi nyata?[7]
Konklusi Kitab Imamat
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSatu konklusi terpenting yang bisa kita ambil dari kitab Imamat adalah bahwa panggilan kita sebagai umat Allah adalah mencerminkan kekudusan Allah dalam pekerjaan kita. Ini memanggil kita untuk memisahkan diri dari tindakan-tindakan di sekitar kita yang tidak sesuai dengan jalan-jalan Allah. Ketika kita mencerminkan kekudusan Allah, kita berada di hadapan Allah, entah di tempat kerja, di rumah, di gereja, atau di tengah masyarakat. Kita mencerminkan kekudusan Allah bukan dengan menggantungkan ayat-ayat Alkitab, berdoa, memakai salib, atau bahkan bersikap baik. Kita melakukannya dengan mengasihi rekan kerja, pelanggan, mahasiswa, investor, kompetitor, dan semua orang yang kita jumpai seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Secara praktisnya, ini berarti melakukan kebaikan untuk orang lain melalui pekerjaan kita seperti yang kita lakukan untuk diri kita sendiri. Hal ini menggairahkan motivasi kita, ketekunan kita, penggunaan kekuasaan kita, pengembangan keterampilan kita, dan bahkan juga pilihan pekerjaan kita. Ini juga berarti bekerja untuk kepentingan seluruh masyarakat dan bekerja secara harmonis dengan seluruh masyarakat, sejauh hal itu tergantung pada kita. Dan itu berarti bekerja mengubah struktur-struktur dan sistem-sistem masyarakat untuk mencerminkan kekudusan Allah sebagai Pribadi yang sudah membebaskan Israel dari perbudakan dan penindasan. Ketika kita melakukan hal ini, kita mendapati melalui kasih karunia Allah bahwa firman-Nya ini digenapi: “Aku akan menempatkan Kemah Suci-Ku di tengah-tengahmu, dan hati-Ku tidak akan muak terhadapmu. Aku akan hadir di tengah-tengahmu; Akn akan menjadi Allahmu dan kamu menjadi umat-Ku” (Imamat 26:11-12).