Bootstrap

Konsep Dasar Kekudusan di Kitab Imamat

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
2820769 620

Kitab Imamat didasarkan pada kebenaran bahwa Allah itu kudus. Kata qodesh muncul lebih dari seratus kali dalam teks Ibrani kitab Imamat. Mengatakan bahwa Allah itu kudus berarti Dia sama sekali terpisah dari segala yang jahat atau cemar. Atau dengan kata lain, Allah itu sungguh dan sangat baik. Dia layak menerima kesetiaan mutlak, penyembahan eksklusif dan ketaatan yang penuh kasih.

Israel memiliki identitas kudus karena tindakan Allah yang menjadikan mereka kudus, dan juga karena Allah mau Israel berlaku kudus dalam hal-hal praktis. Israel disebut kudus karena Allah sendiri kudus (Imamat 11:44-45; 19:2; 20:7; 21:8). Peraturan-peraturan dalam kitab Imamat yang tampaknya berbeda sehubungan dengan aspek kehidupan ritual, etika, komersial, dan hukum semuanya dialaskan pada konsep dasar kekudusan ini.

Alexander Hill kemudian mengikuti konsep dasar kitab Imamat ini ketika ia melandaskan pembahasannya tentang etika bisnis Kristen pada kekudusan, keadilan dan kasih Allah. “Perilaku bisnis yang etis itu jika mencerminkan karakter Allah yang kudus-adil-kasih.”[1] Hill berkata bahwa orang Kristen yang berbisnis mencerminkan kekudusan ilahi jika mereka bersemangat bagi Allah yang merupakan prioritas tertinggi mereka, dan kemudian bertindak dengan kekudusan, akuntabilitas dan kerendahan hati. Lebih dari mencoba mereproduksi aturan komersial yang dirancang untuk masyarakat agraris, seperti inilah yang dimaksud menerapkan kitab Imamat pada masa kini. Ini bukan berarti mengabaikan hal-hal spesifik dari Hukum itu, melainkan memahami bagaimana Allah memimpin kita menaatinya dalam konteks masa kini.

Kekudusan dalam kitab Imamat bukanlah pemisahan demi kepentingan pemisahan itu sendiri, tetapi untuk kepentingan pertumbuhan komunitas umat Allah dan rekonsiliasi setiap pribadi dengan Allah. Kekudusan bukan sekadar perilaku individu yang mematuhi peraturan, tetapi bagaimana perilaku setiap orang memengaruhi seluruh umat Allah dalam kehidupan bersama dan pekerjaan mereka sebagai wakil-wakil kerajaan Allah. Dengan pengertian ini, panggilan Yesus agar umat-Nya menjadi “garam” dan “terang” bagi orang luar (Matius 5:13-16) menjadi sangat masuk akal. Menjadi kudus berarti bertindak melampaui hukum Taurat untuk mengasihi sesama, bahkan mengasihi musuh, dan “haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di sorga sempurna” (Matius 5:48, yang menggemakan Imamat 19:2).

Singkatnya, bangsa Israel kuno menaati kitab Imamat bukan sebagai seperangkat aturan yang unik, tetapi sebagai ungkapan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka. Ini sama relevannya bagi umat Allah di masa kini maupun pada masa itu. Di dalam kitab Imamat, Allah memakai sekelompok suku nomaden dan membentuk budaya mereka sebagai bangsa. Dan pada masa kini, ketika umat Allah memasuki tempat-tempat kerja mereka, melalui mereka Allah membentuk budaya unit-unit kerja, organisasi-organisasi, dan komunitas-komunitas mereka. Panggilan Allah untuk menjadi kudus, sebagaimana Dia kudus, adalah panggilan untuk membentuk budaya-budaya kita untuk kebaikan.