Bootstrap

Sistem Pengorbanan di Israel (Imamat 1-10)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
2172544 620

Kitab Imamat dimulai dengan peraturan tentang sistem pengorbanan di Israel, yang disampaikan dari dua perspektif. Perspektif pertama adalah sudut pandang orang awam yang membawa kurban persembahan dan berpartisipasi dalam upacara pengorbanan itu (pasal 1-5). Perspektif kedua adalah sudut pandang para imam yang memimpin upacara pengorbanan itu (pasal 6-7). Setelah itu, kita tahu bahwa para imam ditahbiskan dan memulai pelayanan mereka di Tabernakel/ Kemah Suci atau Kemah Pertemuan (pasal 8-9), lalu ada ketetapan-ketetapan lebih lanjut untuk para imam setelah Allah menghukum mati imam Nadab dan Abihu karena mereka melanggar ketetapan Allah tentang tanggung jawab ritual mereka (pasal 10). Kita tidak boleh menganggap materi ini hanya sebagai liturgi kosong yang tidak relevan dengan dunia kerja masa kini. Sebaliknya, kita harus melihatnya melalui cara bangsa Israel mengatasi masalah-masalah mereka agar kita juga, sebagai umat Allah dalam Kristus, dapat belajar mengatasi masalah-masalah kita—termasuk tantangan yang kita hadapi dalam bisnis dan pekerjaan.

Allah Berdiam di tengah Komunitas (Imamat 1-10)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Tujuan mempersembahkan kurban bukan semata-mata untuk memperbarui kekudusan yang secara berkala tercemar. Kata kerja Ibrani untuk “mempersembahkan” kurban secara harfiah berarti “membawa[nya] mendekat.” Membawa kurban persembahan mendekat ke mezbah membuat orang yang membawanya (penyembah) mendekat kepada Allah. Kadar perilaku buruk individu penyembah bukan hal yang utama. Kecemaran yang disebabkan oleh kenajisan adalah konsekuensi bagi seluruh komunitas, yang terdiri dari relatif sedikit orang yang melakukan dosa yang disengaja maupun yang tidak disengaja, bersama dengan mayoritas umat yang diam, yang membiarkan kejahatan berkembang di tengah-tengah mereka. Umat secara keseluruhan memikul tanggung jawab kolektif atas kecemaran masyarakat, sehingga memberi alasan yang sah untuk Allah meninggalkan tempat suci-Nya, suatu keadaan yang sama saja dengan kehancuran bangsa.[1] Mendekat kepada Allah tetap menjadi tujuan orang-orang yang menyebut Yesus "Imanuel" (“Allah beserta kita”). Allah yang berdiam bersama umat-Nya benar-benar merupakan hal serius.

Orang Kristen di tempat kerja harus lebih dari sekadar mencari kiat-kiat ilahi untuk mencapai apa pun yang disebut dunia sebagai “kesuksesan.” Menyadari bahwa Allah itu kudus dan Dia rindu tinggal di pusat hidup kita, akan mengubah orientasi hidup kita dari kesuksesan menjadi kekudusan, apa pun pekerjaan yang Allah mau kita lakukan. Ini bukan berarti melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan di tempat kerja, tetapi melakukan seluruh pekerjaan kita sebagaimana Allah mau kita melakukannya. Bekerja bukan semata-mata cara untuk menikmati hasil kerja kita, tetapi cara untuk mengalami kehadiran Allah. Sebagaimana persembahan kurban bangsa Israel merupakan “aroma yang menyenangkan” bagi Allah (Imamat 1:9, dan enam belas contoh lainnya), Paulus memanggil orang Kristen untuk “hidup layak di hadapan Allah serta berkenan kepada-Nya” (Kolose 1:10), “sebab bagi Allah kita adalah aroma yang harum dari Kristus” (2 Korintus 2:15).

Apa yang mungkin terjadi jika kita berjalan mengelilingi tempat kerja kita dan mengajukan pertanyaan mendasar ini, “Bagaimana agar tempat ini bisa menjadi tempat kehadiran Allah yang kudus?” Apakah tempat kerja ini mendorong orang untuk memunculkan yang terbaik dari yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka? Apakah tempat ini dicirikan dengan perlakuan yang adil pada semua orang? Apakah tempat ini melindungi para pekerja dari bahaya? Apakah tempat kerja ini menghasilkan barang dan jasa yang membuat masyarakat berkembang lebih baik lagi?

Seluruh Umat Allah Bekerja (Imamat 1-10)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kitab Imamat menggabungkan perspektif dua kelompok yang seringkali saling bertentangan – para imam dan umat. Tujuannya adalah menyatukan seluruh umat Allah tanpa memandang perbedaan status. Di tempat kerja masa kini, bagaimana orang Kristen menangani pertentangan di antara mereka tanpa memandang kekayaan atau kedudukan mereka di perusahaan itu? Apakah kita menoleransi penyalahgunaan kekuasaan jika akibatnya tampaknya menguntungkan bagi karier kita? Apakah kita ikut menghakimi rekan kerja melalui gosip dan sindiran, atau apakah kita berusaha keras menyampaikan keluhan melalui cara-cara yang tidak memihak? Apakah kita memerhatikan akibat buruk dari perundungan dan sikap pilih kasih di tempat kerja? Apakah kita mengedepankan budaya yang positif, mendukung keberagaman, dan membangun organisasi yang sehat? Apakah kita memungkinkan komunikasi yang terbuka dan dapat dipercaya, meminimalkan politik main-belakang, dan berusaha keras mencapai kinerja terbaik? Apakah kita menciptakan suasana yang memungkinkan ide-ide bermunculan dan dijajaki, lalu yang terbaik diwujudkan dalam tindakan? Apakah kita fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan?

Sistem pengorbanan di Israel tidak hanya menyelesaikan kebutuhan rohani umat, tetapi juga kebutuhan psikologis dan emosional mereka, sehingga dengan demikian mencakup semua orang dan seluruh komunitas. Orang ​​Kristen tahu bahwa bisnis biasanya memiliki tujuan-tujuan yang tidak rohani. Namun, kita juga tahu bahwa seseorang itu tidak sama dengan yang dilakukan atau dihasilkannya. Hal ini tidak boleh melemahkan komitmen kita untuk bekerja produktif, hanya kita perlu ingat bahwa karena Allah telah menerima kita dengan pengampunan-Nya, kita punya lebih banyak alasan dibandingkan orang lain untuk bersikap penuh perhatian, adil, dan murah hati kepada semua orang (Lukas 7:47; Efesus 4:32; Kolose 3:13).

Pentingnya Persembahan Kurban Penebus Salah (Imamat 6:1-7)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Setiap persembahan kurban dalam sistem pengorbanan di Israel memiliki fungsi masing-masing, tetapi ada satu hal yang khusus pada persembahan kurban penebus salah (yang juga dikenal sebagai kurban kompensasi/ganti rugi) yang membuatnya sangat relevan dengan dunia kerja. Persembahan kurban penebus salah dalam kitab Imamat adalah benih untuk doktrin alkitabiah tentang pertobatan.[1] (Bilangan 5:5-10 sangat paralel dengan bagian ini). Menurut kitab Imamat, Allah menuntut persembahan kurban setiap kali seseorang menipu sesamanya mengenai barang yang dipercayakan atau dititipkan padanya atau yang dirampasnya, atau apabila ia melakukan pemerasan atau kecurangan, berbohong tentang barang hilang yang sudah ditemukan, atau bersumpah dusta tentang suatu hal (Imamat 6:2-3). Ini bukan seperti denda yang dibebankan keputusan pengadilan, tetapi sebagai ganti rugi yang diberikan pelaku yang telah dibebaskan dari kesalahannya, namun yang kemudian merasa bersalah lagi ketika “menyadari” pelanggarannya (Imamat 6:4-5). Pertobatan orang berdosa, bukan tuntutan pihak berwenang, adalah dasar dari persembahan kurban penebus salah.

Dosa-dosa semacam ini sering dilakukan dalam konteks berdagang atau pekerjaan lain. Persembahan kurban penebus salah memanggil orang berdosa yang menyesali perbuatannya untuk mengembalikan yang sudah diambilnya secara tidak benar dengan ditambah 20 persen (Imamat 6:4-5). Hanya setelah permasalahan itu diselesaikan di level manusia, barulah orang berdosa itu bisa menerima pengampunan Allah dengan membawa persembahan seekor hewan kepada imam untuk dikorbankan (Imamat 6:6-7).

Persembahan kurban penghapus dosa secara unik meneguhkan beberapa prinsip tentang pemulihan relasi pribadi yang rusak akibat pelanggaran finansial.

1. Permintaan maaf saja tidak cukup untuk memperbaiki kesalahan atau memulihkan sepenuhnya kerusakan yang sudah terjadi. Karena itu, hal yang mirip dengan konsep ganti rugi saat ini ditambahkan. Namun, dalam persembahan kurban penebus salah ini —yang tidak seperti pemberian ganti rugi yang diperintahkan pengadilan—pelaku sendiri yang bersedia menanggung akibat kerugian itu, yang dengan demikian ikut merasakan kesusahan yang diakibatkannya pada korban.

2. Melakukan semua yang diharuskan untuk memperbaiki kesalahan terhadap orang lain tidak hanya adil bagi korban, tetapi juga baik bagi pelaku. Mempersembahkan kurban penebus salah berarti merasakan siksaan yang mendera hati nurani orang yang menyadari kejahatannya serta efek buruknya. Hal ini lalu membuka jalan bagi orang yang bersalah itu untuk mengatasi masalah ini secara lebih menyeluruh, yang menghasilkan tindakan penyelesaian dan perdamaian. Persembahan kurban ini mengungkapkan kemurahan Allah dalam penderitaan itu dan luka hati yang dinetralisir agar tidak bertambah parah dan meledak menjadi kekerasan atau pelanggaran yang lebih serius. Tindakan ini juga meredakan keinginan korban (atau keluarga korban) untuk mengambil tindakan sendiri dalam mendapatkan ganti rugi yang setimpal.

3. Dalam karya penebusan Yesus di kayu salib juga tidak ada yang membuat umat Allah saat ini terbebas dari perlunya melakukan ganti rugi. Yesus mengajarkan murid-murid-Nya, “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di mezbah dan engkau teringat bahwa saudaramu sakit hati terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kemali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Matius 5:23-24). Mengasihi sesama seperti diri sendiri adalah inti dari ketentuan hukum itu (Imamat 19:18 sebagaimana dikutip dalam Roma 13:9), dan melakukan ganti rugi adalah ungkapan dasar dari semua kasih yang tulus. Yesus memberikan keselamatan kepada pemungut pajak yang kaya, Zakheus, yang kemudian menawarkan ganti rugi yang melampaui ketentuan hukum, yang menjadikannya sebagai teladan dari orang yang benar-benar mengerti dan mengalami pengampunan (Lukas 19:1-10).

4. Perkataan Yesus di Matius 5:23-24 juga mengajarkan bahwa berusaha dengan segala daya untuk berdamai dengan orang lain adalah aspek yang penting dalam memperbaiki hubungan dengan Allah dan hidup sedapat-dapatnya dalam perdamaian. Menerima pengampunan dari Allah itu melampaui, namun tidak menggantikan, tindakan ganti rugi kita, jika mungkin dilakukan, kepada orang yang kita rugikan. Sebagai respons atas pengampunan Allah pada kita, hati kita tergerak untuk melakukan segala yang dapat kita lakukan untuk mengembalikan kerugian yang kita timbulkan pada orang lain. Kita jarang dapat memperbaiki sepenuhnya kerusakan yang telah diakibatkan dosa/kesalahan kita, tetapi kasih Kristus mendorong kita untuk melakukan semaksimal yang kita dapat.

Persembahan kurban penebus salah adalah pengingat yang kuat bahwa Allah tidak memakai hak pengampunan-Nya dengan mengorbankan orang yang dirugikan oleh kesalahan kita. Dia tidak memberi kita kelepasan psikologis dari rasa bersalah sebagai pengganti murahan atas perbaikan kerusakan dan luka yang telah kita timbulkan.