Allah Berdiam di tengah Komunitas (Imamat 1-10)
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Tujuan mempersembahkan kurban bukan semata-mata untuk memperbarui kekudusan yang secara berkala tercemar. Kata kerja Ibrani untuk “mempersembahkan” kurban secara harfiah berarti “membawa[nya] mendekat.” Membawa kurban persembahan mendekat ke mezbah membuat orang yang membawanya (penyembah) mendekat kepada Allah. Kadar perilaku buruk individu penyembah bukan hal yang utama. Kecemaran yang disebabkan oleh kenajisan adalah konsekuensi bagi seluruh komunitas, yang terdiri dari relatif sedikit orang yang melakukan dosa yang disengaja maupun yang tidak disengaja, bersama dengan mayoritas umat yang diam, yang membiarkan kejahatan berkembang di tengah-tengah mereka. Umat secara keseluruhan memikul tanggung jawab kolektif atas kecemaran masyarakat, sehingga memberi alasan yang sah untuk Allah meninggalkan tempat suci-Nya, suatu keadaan yang sama saja dengan kehancuran bangsa.[1] Mendekat kepada Allah tetap menjadi tujuan orang-orang yang menyebut Yesus "Imanuel" (“Allah beserta kita”). Allah yang berdiam bersama umat-Nya benar-benar merupakan hal serius.
Orang Kristen di tempat kerja harus lebih dari sekadar mencari kiat-kiat ilahi untuk mencapai apa pun yang disebut dunia sebagai “kesuksesan.” Menyadari bahwa Allah itu kudus dan Dia rindu tinggal di pusat hidup kita, akan mengubah orientasi hidup kita dari kesuksesan menjadi kekudusan, apa pun pekerjaan yang Allah mau kita lakukan. Ini bukan berarti melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan di tempat kerja, tetapi melakukan seluruh pekerjaan kita sebagaimana Allah mau kita melakukannya. Bekerja bukan semata-mata cara untuk menikmati hasil kerja kita, tetapi cara untuk mengalami kehadiran Allah. Sebagaimana persembahan kurban bangsa Israel merupakan “aroma yang menyenangkan” bagi Allah (Imamat 1:9, dan enam belas contoh lainnya), Paulus memanggil orang Kristen untuk “hidup layak di hadapan Allah serta berkenan kepada-Nya” (Kolose 1:10), “sebab bagi Allah kita adalah aroma yang harum dari Kristus” (2 Korintus 2:15).
Apa yang mungkin terjadi jika kita berjalan mengelilingi tempat kerja kita dan mengajukan pertanyaan mendasar ini, “Bagaimana agar tempat ini bisa menjadi tempat kehadiran Allah yang kudus?” Apakah tempat kerja ini mendorong orang untuk memunculkan yang terbaik dari yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka? Apakah tempat ini dicirikan dengan perlakuan yang adil pada semua orang? Apakah tempat ini melindungi para pekerja dari bahaya? Apakah tempat kerja ini menghasilkan barang dan jasa yang membuat masyarakat berkembang lebih baik lagi?