Bootstrap

Peraturan tentang Daging Hewan Tertentu Yang Boleh Dimakan (Imamat 11)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Chewing cow free license cc01 620

Ada beberapa teori yang masuk akal tentang ketetapan yang mengatur daging hewan yang boleh dimakan manusia di Imamat 11. Setiap teori menyertakan bukti pendukung, tetapi tidak satu teori pun yang menerima konsensus umum. Kita tidak dapat menyortir semua teori itu di sini, tetapi Jacob Milgrom memberikan perspektif yang langsung berkaitan dengan tempat kerja.[1] Ia menyebutkan tiga hal yang dominan: Allah dengan tegas membatasi pilihan makan daging bangsa Israel, memberikan aturan-aturan khusus tentang penyembelihan hewan, dan melarang mereka makan darah yang melambangkan kehidupan, yang hanya milik Allah. Dengan perspektif ini Milgrom menyimpulkan bahwa pengaturan tentang makanan bangsa Israel adalah sebuah cara yang mengendalikan naluri manusia untuk membunuh. Intinya, “Meskipun mereka bisa memuaskan nafsu makan mereka, mereka harus mengekang kehausan mereka akan kekuasaan. Karena hidup tak dapat diganggu gugat, hidup juga tak boleh dirusak tanpa pandang bulu.”[2] Jika Allah memilih untuk terlibat mengurusi hewan apa yang boleh disembelih dan bagaimana penyembelihan itu harus dilakukan, bagaimana mungkin kita tidak menangkap maksudnya bahwa membunuh manusia jauh lebih dilarang dan tak luput dari pengawasan Allah? Hal ini menunjukkan penerapan yang lebih luas pada masa kini. Sebagai contoh, jika setiap fasilitas pertanian, peternakan, dan usaha makanan digunakan setiap hari dengan bertanggung jawab pada Allah dengan merawat dan memerhatikan kondisi hewan-hewannya, bukankah keselamatan dan kondisi kerja para pekerjanya akan jauh lebih diperhatikan lagi?

Meskipun ada banyak penjelasan di kitab Imamat yang mendahului pembahasan tentang makanan yang tak ada habisnya di Alkitab, orang Kristen mana pun tidak boleh mencoba mendikte apa yang harus dilakukan atau tidak dilakukan semua orang percaya sehubungan dengan penyimpanan, penyajian, dan konsumsi makanan. Namun, apa pun yang kita makan atau tidak makan, Derek Tidball dengan tepat mengingatkan orang Kristen tentang sentralitas kekudusan. Apa pun pendirian orang tentang hal yang rumit ini, semuanya tak dapat dipisahkan dari komitmen orang Kristen terhadap kekudusan. Kekudusan memanggil kita bahkan untuk makan dan minum “bagi kemuliaan Allah.” [3] Begitu pula dengan pekerjaan yang menghasilkan, menyajikan, dan mengonsumsi makanan dan minuman.