Perintah-perintah tentang Kerja (Keluaran 20:1-17 dan 21:1-23:9)
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
“Kitab Perjanjian” Israel (Keluaran 24:7) mencakup Sepuluh Hukum, yang juga dikenal sebagai Dasa Titah (yang secara harfiah berarti “Perkataan/Firman,” Keluaran 20:1-17), serta peraturan-peraturan di Keluaran 21:1-23:19. Sepuluh Hukum diungkapkan sebagai perintah-perintah umum untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Peraturan-peraturan adalah sekumpulan hukum kasus, yang menerapkan nilai-nilai Dasa Titah dalam situasi-situasi tertentu dengan menggunakan format “jika…, maka.” Peraturan-peraturan ini sesuai dengan kehidupan sosial dan ekonomi Israel kuno. Peraturan-peraturan ini bukan pedoman hukum yang lengkap, tetapi berfungsi sebagai contoh-contoh yang berguna untuk mencegah perilaku ilegal terburuk dan menjadi preseden hukum dalam menangani perkara-perkara yang sulit.[1]
Sepuluh Hukum (Keluaran 20:1-17)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSepuluh Hukum adalah ungkapan tertinggi kehendak Allah di Perjanjian Lama dan patut mendapat perhatian kita. Dasa Titah ini tidak boleh dianggap sebagai sepuluh perintah terpenting di antara ratusan perintah lainnya, tetapi sebagai intisari seluruh kitab Taurat. Dasar seluruh kitab Taurat terletak pada Sepuluh Hukum, yang di dalamnya kita seharusnya dapat menemukan seluruh hukum Taurat. Yesus mengungkapkan kesatuan esensial Sepuluh Hukum dengan perintah-perintah lainnya ketika Dia merangkum hukum itu dengan perkataan yang terkenal, “’Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.’ Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua yang sama dengan itu ialah: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’.” Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Matius 22:37-40). Seluruh hukum Taurat, dan kitab para nabi, ditunjukkan setiap kali Sepuluh Hukum diungkapkan.
Kesatuan esensial Sepuluh Hukum dengan perintah-perintah lainnya, dan kesinambungannya dengan Perjanjian Baru, mengundang kita untuk menerapkannya secara luas dalam pekerjaan kita saat ini dalam terang seluruh Kitab Suci. Artinya, ketika menerapkan Sepuluh Hukum, kita akan memikirkan ayat-ayat Kitab Suci yang terkait baik di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru.
“Jangan Ada padamu Ilah Lain di hadapan-Ku” (Keluaran 20:3)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiHukum/Perintah pertama mengingatkan kita bahwa semua yang ada dalam kitab Taurat muncul dari kasih kita kepada Allah, yang merupakan tanggapan terhadap kasih-Nya pada kita. Kasih ini ditunjukkan Allah dengan membebaskan Israel “dari tempat perbudakan” di Mesir (Keluaran 20:2). Tak ada hal lain dalam hidup ini yang boleh menjadi perhatian utama kita melebihi kerinduan kita untuk mengasihi dan dikasihi Allah. Jika kita memiliki kerinduan lain yang lebih kuat dari kasih kita kepada Allah, hal itu memang tidak separah jika kita melanggar perintah Allah, tetapi kita tidak akan bisa benar-benar berelasi baik dengan Dia. Perhatian/ketertarikan yang lain itu – entah pada uang, kekuasaan, keamanan, pengakuan, seks atau apa pun yang lain—telah menjadi berhala kita. Ilah palsu ini memiliki perintah-perintah sendiri yang bertentangan dengan perintah Allah, dan kita pasti akan melanggar Hukum Taurat jika kita mengikuti ketentuan ilah ini. Mematuhi Sepuluh Hukum Allah hanya dapat dilakukan oleh orang yang tidak menyembah ilah lain selain TUHAN.
Di dunia kerja, ini berarti kita tidak boleh membiarkan pekerjaan atau kewajiban dan hasil kerja menggantikan Allah sebagai pusat perhatian utama hidup kita. “Jangan sekali-kali membiarkan siapa pun atau apa pun mengancam posisi sentral Allah dalam hidup Anda,” demikian dikatakan David Gill. [1] Karena banyak orang bekerja terutama untuk menghasilkan uang, kehausan tak terkendali akan uang barangkali merupakan bahaya terkait-pekerjaan yang paling umum dalam Hukum Pertama. Yesus memperingatkan bahaya ini dengan tepat sekali: “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24). Namun, hampir semua yang berkaitan dengan pekerjaan dapat membelokkan kerinduan kita dan menghalangi kasih kita kepada Allah. Berapa banyak karier yang berakhir tragis karena hal yang seharusnya merupakan sarana melakukan sesuatu karena kasih kepada Allah—seperti kekuasaan politik, ketahanan ekonomi, komitmen pada pekerjaan, ketenaran, atau kinerja yang prima— menjadi tujuan itu sendiri? Ketika, misalnya, penghargaan pada pekerjaan menjadi lebih penting daripada karakter dalam bekerja, bukankah ini tandanya reputasi sedang menggantikan kasih kepada Allah sebagai pusat perhatian tertinggi?
Batu uji praktisnya adalah bertanya apakah kasih kita kepada Allah ditunjukkan dengan cara kita memperlakukan orang lain di tempat kerja. “Jikalau seseorang berkata, ‘Aku mengasihi Allah’, tetapi ia membenci saudaranya, ia adalah pendusta, karena siapa yang tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya. Inilah perintah yang kita terima dari Dia: Siapa yang mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (1 Yohanes 4:20-21). Jika kita lebih mengutamakan kepentingan pribadi kita daripada memerhatikan orang-orang yang bekerja dengan, untuk, dan di antara kita, maka kita telah menjadikan kepentingan pribadi sebagai berhala kita. Apalagi jika kita memperlakukan orang lain sebagai hal yang bisa dimanipulasi, penghalang yang harus disingkirkan, alat untuk mendapatkan yang kita inginkan, atau sekadar obyek netral dalam pandangan kita, maka kita sedang menunjukkan bahwa kita tidak mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi kita.
Dalam konteks ini, kita bisa mulai mendaftarkan tindakan-tindakan terkait-kerja yang berpotensi besar mengganggu kasih kita kepada Allah. Melakukan pekerjaan yang melanggar hati nurani. Bekerja dalam organisasi yang membuat kita harus merugikan orang lain agar bisa berhasil. Bekerja dengan jam kerja yang panjang sampai kita tak punya cukup waktu untuk berdoa, beribadah, beristirahat, dan memperdalam relasi kita dengan Tuhan. Bekerja di antara orang-orang yang mengacaukan atau menjauhkan kita dari kasih kita kepada Allah. Bekerja di tempat yang alkohol, penyalahgunaan obat-obatan, kekerasan, pelecehan seksual, korupsi, sikap tidak hormat, rasisme, atau perlakuan tidak manusiawi lainnya merusak gambar Allah dalam diri kita dan orang-orang yang kita jumpai dalam pekerjaan kita. Jika kita dapat menemukan cara-cara untuk menghindari bahaya-bahaya ini di tempat kerja—sekalipun itu berarti mencari pekerjaan baru—akan bijak jika kita melakukannya. Jika hal itu tidak memungkinkan, setidaknya kita bisa menyadari bahwa kita memerlukan bantuan dan dukungan untuk menjaga kasih kita kepada Allah dalam menjalani pekerjaan kita.
“Jangan Membuat Bagimu Berhala” (Keluaran 20:4)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiHukum Kedua mengangkat isu tentang penyembahan berhala. Berhala adalah ilah-ilah sesembahan ciptaan kita sendiri, ilah-ilah yang kita pikir akan memberikan yang kita inginkan. Pada zaman dahulu, penyembahan berhala sering berupa menyembah benda-benda fisik, sesuatu yang berujud. Padahal inti permasalahan sebenarnya adalah kepercayaan dan ketaatan. Pada apa/siapa kita akhirnya menggantungkan harapan kita untuk kesejahteraan dan kesuksesan? Apa pun yang tidak dapat memenuhi harapan kita—artinya, apa pun selain Allah – adalah berhala, entah itu berupa benda fisik atau bukan. Kisah tentang keluarga yang membuat berhala dengan tujuan memanipulasi Allah, serta akibat-akibat mengerikan yang ditimbulkannya pada kehidupan pribadi, sosial dan ekonomi, diceritakan dengan mengesankan di kitab Hakim-hakim 17-21.
Di dunia kerja, berbicara bahwa uang, ketenaran dan kekuasaan bisa menjadi berhala adalah hal yang lazim, dan memang benar. Hal-hal itu sendiri pada dasarnya bukan berhala, dan bahkan bisa diperlukan dalam kita menjalankan peran-peran kita dalam pekerjaan kreatif dan penebusan Allah di dunia ini. Namun, jika kita berpikir bahwa dengan mencapai hal-hal itu, keamanan dan kemakmuran kita akan terjamin, kita sudah mulai jatuh ke dalam penyembahan berhala. Penyembahan berhala dimulai ketika kita lebih menaruh kepercayaan dan harapan kita pada hal-hal ini daripada Allah. Hal yang sama bisa terjadi pada hampir semua unsur kesuksesan lainnya, seperti persiapan, kerja keras, kreativitas, risiko, kekayaan dan sumber-sumber lainnya, serta situasi-situasi yang baik. Sebagai pekerja, kita harus menyadari betapa pentingnya hal-hal ini. Sebagai umat Allah, kita harus menyadari kapan kita mulai menjadikan hal-hal ini sebagai berhala kita. Dengan kasih karunia Allah, kita dapat mengatasi godaan untuk menyembah hal-hal baik yang mau menggantikan Allah ini. Mengembangkan hikmat dan keterampilan ilahi dengan sungguh-sungguh dalam segala pekerjaan itu adalah “menaruh kepercayaan kepada TUHAN” (Amsal 22:19).
Hal yang khas dari penyembahan berhala adalah sesembahan itu buatan manusia. Di tempat kerja, bahaya penyembahan berhala muncul ketika kita salah menganggap kekuasaan, pengetahuan, dan pendapat kita sebagai realitas. Ketika kita berhenti menganggap diri kita bertanggung jawab terhadap standar-standar yang kita tetapkan untuk orang lain, berhenti mendengarkan pemikiran orang lain, atau berusaha menghancurkan orang-orang yang tidak sependapat dengan kita, bukankah kita mulai menjadikan diri kita sendiri sebagai berhala?
“Jangan Menyebut Nama TUHAN Allahmu untuk Disalahgunakan” (Keluaran 20:7)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiHukum Ketiga secara harfiah melarang umat Allah “menyalahgunakan” nama Allah. Larangan ini bukan hanya dalam menyebut nama “YHWH” (Keluaran 3:15), tetapi juga nama “Allah,” “Yesus,” “Kristus,” dan lain-lainnya. Namun, apa maksudnya menyalahgunakan? Ini tentu saja mencakup penyalahgunaan yang tidak sopan untuk mengumpat, memfitnah dan menghujat. Namun, yang lebih penting, penyalahgunaan itu mencakup sikap/tindakan menghubungkan rancangan manusia secara salah dengan rancangan Allah. Ini berarti kita dilarang mengeklaim otoritas Allah atas tindakan dan keputusan kita sendiri. Sayangnya, sebagian orang Kristen tampaknya percaya bahwa menaati Allah di tempat kerja berarti berbicara atas nama Allah menurut pengertian mereka sendiri, bukan bekerja dengan hormat bersama orang lain atau bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka. “Itu kehendak Allah bahwa…,” atau “Allah menghukum engkau atas…,” adalah perkataan-perkataan yang berbahaya dan hampir tak bisa dibenarkan jika diucapkan oleh orang yang tidak didukung kepekaan komunitas iman (1 Tesalonika 5:20-21). Mengingat hal ini, mungkin sikap orang Yahudi kuno yang tidak berani mengucapkan bahkan terjemahan kata “ALLAH”—apalagi nama YHWH itu sendiri—menunjukkan hikmat yang seringkali tidak dimiliki orang Kristen. Andai saja kita sedikit lebih berhati-hati dalam menggunakan kata Allah, kita mungkin akan lebih bijaksana untuk tidak mengeklaim mengetahui kehendak Allah, apalagi jika diterapkan pada orang lain.
Hukum Ketiga juga mengingatkan kita bahwa menghormati nama manusia itu penting bagi Allah. Gembala yang Baik “memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya” (Yohanes 10:3), seraya mengingatkan bahwa “siapa yang menyebut orang lain ‘jahil’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Matius 5:22). Mengingat hal ini, kita tidak boleh menyebut nama orang lain dengan sembarangan atau memanggil mereka dengan julukan yang tidak sopan. Kita menyalahgunakan nama orang lain ketika kita memakainya untuk mengumpat, merendahkan, menindas, mengucilkan, atau menipu. Kita menggunakan nama orang lain dengan baik ketika kita memakainya untuk memberi semangat, berterima kasih, membangun solidaritas, dan menyambut. Mengenal dan menyebut nama orang lain saja sudah menyatakan berkat, apalagi jika orang itu sering diperlakukan seperti orang tanpa nama, tak terlihat, atau tidak penting. Tahukah Anda nama orang yang mengosongkan tempat sampah Anda, menjawab panggilan telepon Anda di nomor layanan pelanggan, atau mengemudikan bus yang Anda tumpangi? Meskipun contoh-contoh ini tidak berkaitan dengan nama TUHAN tetapi menyangkut nama-nama orang yang diciptakan menurut gambar-Nya.
“Ingat dan Kuduskanlah hari Sabat. Enam Hari Lamanya Engkau Akan Bekerja” (Keluaran 20:8-11)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiTopik tentang hari Sabat ini rumit, bukan saja di dalam kitab Keluaran dan Perjanjian Lama, tetapi juga di dalam teologi dan penerapan Kristen. Bagian pertama hukum ini memerintahkan untuk berhenti bekerja satu hari dalam tujuh hari. Referensi lain tentang hari Sabat dalam kitab Keluaran terdapat di pasal 16 (tentang pemungutan manna), Keluaran 23:10-12 (tentang tahun ketujuh dan tujuan beristirahat mingguan), Keluaran 31:12-17 (tentang hukuman bagi yang melanggar), Keluaran 34:21, dan Keluaran 35:1-3. Dalam konteks dunia kuno, hari Sabat ini unik bagi bangsa Israel. Di satu sisi, ini adalah anugerah yang tiada bandingnya bagi bangsa Israel. Tidak ada bangsa kuno lainnya yang mendapat hak istimewa untuk beristirahat satu hari dalam seminggu. Di sisi lain, hal ini membutuhkan kepercayaan luar biasa tentang pemeliharaan Allah. Enam hari kerja harus cukup untuk merawat tanaman, mengumpulkan tuaian, mengangkut air, memintal kain, dan mencari makanan dari sumber alam. Sementara bangsa Israel beristirahat satu hari setiap minggunya, bangsa-bangsa di sekelilingnya terus membuat pedang, panah, dan melatih para tentara. Bangsa Israel harus percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan satu hari beristirahat ini menjadi bencana ekonomi dan militer.
Kita menghadapi masalah yang sama dalam memercayai pemeliharaan Allah saat ini. Jika kita mengindahkan perintah Allah untuk mematuhi siklus bekerja dan beristirahat Allah sendiri, apakah kita akan mampu bersaing dalam perekonomian modern? Apakah diperlukan tujuh hari kerja untuk menangani satu pekerjaan (atau dua atau tiga pekerjaan), membersihkan rumah, menyiapkan makanan, memotong rumput, mencuci mobil, membayar tagihan, menyelesaikan tugas sekolah, dan berbelanja pakaian, atau dapatkah kita percaya bahwa Allah akan memelihara kita meskipun kita mengambil satu hari istirahat setiap minggunya? Dapatkah kita meluangkan waktu untuk menyembah Allah, berdoa, dan bersekutu dengan orang lain untuk belajar dan saling menguatkan, dan jika kita dapat melakukannya, apakah hal itu akan membuat kita lebih atau kurang produktif secara keseluruhan? Hukum Keempat tidak menjelaskan bagaimana Allah akan membuat semuanya berhasil bagi kita. Perintah ini hanya memanggil kita untuk beristirahat satu hari setiap tujuh hari.
Orang Kristen telah menerjemahkan hari istirahat sebagai Hari Tuhan (hari Minggu, hari kebangkitan Kristus), tetapi inti dari hari Sabat bukanlah memilih satu hari tertentu dari hari-hari lainnya dalam minggu itu (Roma 14:5-6). Polaritas yang benar-benar mendasari perintah hari Sabat adalah bekerja dan beristirahat. Baik bekerja maupun beristirahat tercakup dalam Hukum Keempat. Enam hari bekerja sama pentingnya dengan satu hari beristirahat dalam perintah itu. Meskipun banyak orang Kristen berada dalam bahaya membiarkan pekerjaan mengambil waktu yang ditetapkan untuk beristirahat, sebagian yang lainnya berada dalam bahaya sebaliknya—melalaikan pekerjaan dan mencoba menjalani kehidupan dengan santai dan bermalas-malasan. Yang ini bahkan lebih buruk dari mengabaikan hari Sabat, karena “jika ada orang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk daripada orang yang tidak beriman” (1 Timotius 5:8). Yang kita butuhkan adalah ritme yang tepat dalam bekerja dan beristirahat, yang sama-sama baik untuk kita, keluarga kita, para pekerja, dan tamu-tamu kita. Ritme ini bisa meliputi dua puluh empat jam terus-menerus pada hari Minggu (atau Sabtu), bisa juga tidak. Proporsinya bisa berubah-ubah tergantung kebutuhan saat itu (seperti padanan masa kini dari menarik keluar seekor lembu dari sumur pada hari Sabat, lihat Lukas 14:5), atau perubahan kebutuhan musim kehidupan.
Jika kerja berlebihan merupakan bahaya utama kita, kita perlu mencari cara untuk menghormati Hukum Keempat tanpa perlu membentuk legalisme baru yang palsu yang membenturkan yang rohani (beribadah pada hari Minggu) dengan yang sekuler (bekerja pada hari Senin sampai Sabtu). Jika menghindari kerja adalah bahaya kita, kita perlu belajar menemukan sukacita dan makna dalam bekerja sebagai pelayanan kepada Allah dan sesama (Efesus 4:28).
“Hormatilah ayahmu dan ibumu” (Keluaran 20:12)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiAda banyak cara untuk menghormati—atau tidak menghormati—ayah dan ibu. Pada zaman Yesus, orang-orang Farisi ingin membatasi perintah ini dengan hanya berbicara baik tentang mereka saja. Namun, Yesus menunjukkan bahwa menaati perintah ini memerlukan usaha untuk menafkahi atau merawat orangtua (Markus 7:9-13). Kita menghormati mereka dengan bekerja untuk kebaikan mereka.
Bagi banyak orang, relasi yang baik dengan orangtua merupakan salah satu kebahagiaan hidup. Melayani orangtua dengan penuh kasih merupakan kesenangan dan menaati perintah ini menjadi mudah. Namun, kita akan diuji oleh perintah ini ketika kita merasa terbebani untuk bekerja bagi orangtua. Mungkin kita pernah diperlakukan buruk atau diabaikan oleh mereka. Mereka mungkin suka mendominasi atau ikut campur. Berada di dekat mereka mungkin rasanya seperti melemahkan diri kita, komitmen kita terhadap pasangan (termasuk berbagai tanggung jawab kita dalam Hukum Kelima), bahkan relasi kita dengan Tuhan. Dan, meskipun kita memiliki relasi yang baik dengan orangtua, mungkin ada juga saatnya ketika merawat mereka menjadi beban yang sangat berat karena waktu dan tenaga yang diperlukan. Jika penuaan atau demensia mulai merampas ingatan, kemampuan, dan sifat baik mereka, merawat orangtua bisa menjadi kesedihan yang mendalam.
Namun, perintah kelima disertai dengan janji: “supaya kamu hidup lama dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu” (Keluaran 20:12). Entah bagaimana, menghormati ayah dan ibu dengan cara-cara praktis seperti itu ada manfaat praktisnya yaitu memberi kita hidup lebih lama (mungkin dalam arti lebih memuaskan) dalam kerajaan Allah. Kita tidak diberitahu bagaimana hal ini akan terjadi, namun kita diminta mengharapkannya, dan untuk melakukan itu kita harus percaya pada Allah (lihat perintah pertama).
Karena Hukum ini adalah perintah untuk bekerja bagi kepentingan orangtua, Hukum ini tak terpisahkan dengan perintah tentang kerja. Tempat kerja bisa menjadi tempat kita mencari uang untuk menopang kehidupan mereka, atau bisa juga menjadi tempat kita membantu mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Keduanya sama-sama tentang kerja. Ketika kita menerima suatu pekerjaan karena hal itu memungkinkan kita untuk tinggal dekat dengan orangtua, atau bisa mengirim uang untuk mereka, atau dapat memakai nilai-nilai dan talenta yang mereka kembangkan dalam diri kita, atau melakukan hal-hal penting yang mereka ajarkan pada kita, kita sedang menghormati mereka. Ketika kita membatasi karier kita agar kita dapat bersama dengan mereka, mencuci dan memasak untuk mereka, memandikan dan memeluk mereka, mengajak mereka ke tempat-tempat yang mereka sukai, atau meredakan ketakutan-ketakutan mereka, kita sedang menghormati mereka.
Kita juga harus menyadari bahwa di banyak budaya, pekerjaan yang dilakukan seseorang ditentukan oleh pilihan orangtua dan kebutuhan keluarganya, bukan keputusan dan kemauannya sendiri. Hal ini kadang menimbulkan konflik serius bagi orang Kristen yang mendapati tuntutan hukum pertama (untuk mengikuti panggilan Tuhan) dan perintah kelima saling bersaing. Mereka mendapati diri mereka terpaksa membuat pilihan sulit yang tidak dipahami orangtua. Bahkan Yesus mengalami kesalahpahaman dengan orangtua ini ketika Maria dan Yusuf tidak mengerti mengapa Dia tetap tinggal di bait suci sementara keluarganya sudah meninggalkan Yerusalem (Lukas 2:49).
Di tempat kerja, kita bisa menolong orang lain mematuhi Hukum Kelima, sebagaimana kita sendiri mematuhinya. Kita bisa ingat bahwa karyawan, pelanggan, rekan kerja, atasan, pemasok, dan orang-orang lainnya juga memiliki keluarga, dan kemudian menyesuaikan ekspektasi-ekspektasi kita untuk mendukung mereka dalam menghormati keluarga mereka. Ketika orang lain menceritakan atau mengeluhkan tentang pergumulannya dengan orangtua, kita dapat mendengarkannya dengan berbelas kasih, memberi dukungan secara praktis (misalnya, dengan menawarkan untuk menggantikan giliran kerjanya agar ia dapat bersama orangtuanya), atau mungkin menawarkan perspektif yang baik untuk dipertimbangkan, atau sekadar merefleksikan kasih karunia Kristus kepada orang-orang yang merasa gagal dalam relasi orangtua-anak mereka.
“Jangan Membunuh” (Keluaran 20:13)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSayangnya, Hukum Keenam memiliki penerapan yang terlalu praktis di tempat kerja masa kini, di mana 10 persen dari seluruh kematian yang terkait-pekerjaan (di Amerika Serikat) adalah pembunuhan. [1] Dan memperingatkan pembaca tulisan ini agar “Jangan membunuh siapa pun di tempat kerja,” tampaknya tidak akan banyak mengubah statistik itu.
Namun, pembunuhan bukanlah satu-satunya bentuk kekerasan di tempat kerja, hanya yang paling ekstrem saja. Pelajaran yang lebih praktis muncul ketika kita mengingat bahwa Yesus berkata, kemarahan pun merupakan pelanggaran terhadap Hukum Keenam (Matius 5:21-22). Seperti dikatakan rasul Paulus, kita mungkin tidak dapat mencegah rasa marah, tetapi kita dapat belajar mengatasi amarah kita. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam kemarahanmu” (Efesus 4:26). Jadi, implikasi paling signifikan dari Hukum Keenam di tempat kerja barangkali adalah, “Jika Anda menjadi marah di tempat kerja, carilah bantuan untuk mengelola amarah.” Banyak perusahaan, gereja, negara dan pemerintah setempat, serta lembaga-lembaga nirlaba menawarkan kelas-kelas dan konseling untuk mengelola amarah. Memanfaatkan kesempatan-kesempatan ini bisa menjadi cara yang sangat efektif untuk mematuhi Hukum Keenam.
Membunuh adalah menyebabkan kematian seseorang dengan sengaja, tetapi kasus hukum yang muncul dari Hukum Keenam menunjukkan bahwa kita juga berkewajiban untuk mencegah kematian yang tidak disengaja. Kasus yang paling jelas adalah ketika seekor lembu jantan (hewan pekerja) menyeruduk seorang laki-laki atau perempuan sampai mati (Keluaran 21:28-29). Jika terjadinya peristiwa itu sudah bisa diperkirakan, pemilik lembu akan diperlakukan sebagai pembunuh. Dengan kata lain, pemilik/manajer bertanggung jawab untuk menjamin keselamatan kerja yang wajar di tempat kerja. Prinsip ini sudah ditetapkan dalam undang-undang banyak negara, dan keselamatan kerja menjadi pokok permasalahan yang penting dalam berbagai peraturan pemerintah, regulasi kendali-diri industri, serta kebijakan dan praktik organisasi. Namun masih banyak tempat kerja yang mewajibkan atau membiarkan para pekerjanya bekerja dalam kondisi tidak aman yang tidak perlu. Orang Kristen yang memiliki peran dalam pengaturan kondisi kerja, pengawasan pekerja, atau percontohan tindakan di tempat kerja diingatkan oleh Hukum Keenam bahwa kondisi kerja yang aman merupakan salah satu tanggung jawab mereka yang tertinggi di dunia kerja.
“Jangan Berzinah” (Keluaran 20:14)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiTempat kerja adalah salah satu tempat yang paling banyak terjadi perzinahan, tidak selalu karena perzinahan itu terjadi di tempat kerja itu sendiri, tetapi bisa jadi akibat dari kondisi-kondisi kerja dan relasi-relasi dengan rekan kerja. Jadi, penerapan pertama Hukum ini di tempat kerja benar-benar secara harfiah. Orang yang menikah tidak boleh berhubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya di tempat kerja, dalam bekerja, atau karena pekerjaannya. Tentu saja ini menyingkirkan profesi-profesi seks seperti prostitusi, pornografi, dan terapi dengan pasangan seks pengganti (sex surrogacy), setidaknya dalam banyak kasus, sejauh para pekerja punya pilihan. Namun, segala pekerjaan apa pun yang mengikis ikatan perkawinan melanggar Hukun Ketujuh. Ada banyak cara hal ini bisa terjadi. Pekerjaan bisa menimbulkan ikatan emosional yang kuat di antara rekan-rekan kerja tanpa mampu mendukung komitmen mereka terhadap pasangan masing-masing, seperti yang bisa terjadi di rumah sakit, bidang wirausaha, lembaga akademik, gereja, dan tempat-tempat lainnya. Kondisi kerja bisa membuat orang berdekatan secara fisik dalam waktu lama atau tidak dapat membuat batasan yang wajar pada saat pertemuan-pertemuan di luar, seperti yang bisa terjadi pada tugas-tugas lapangan jangka panjang. Pekerjaan bisa membuat orang mengalami pelecehan seksual dan tekanan untuk berhubungan seks dengan orang yang memegang kekuasaan di atas mereka. Pekerjaan bisa meningkatkan ego atau membuat orang disanjung secara berlebihan, seperti yang bisa terjadi pada selebriti, atlet terkenal, pengusaha sukses, pejabat tinggi pemerintah, dan orang super kaya. Pekerjaan bisa menuntut begitu banyak waktu berjauhan—secara fisik, mental, atau emosional—sehingga melemahkan ikatan di antara pasangan pernikahan. Semua ini bisa menjadi bahaya-bahaya yang sebaiknya dikenali dan dihindari, diperbaiki, atau diwaspadai oleh orang Kristen.
Namun, keseriusan Hukum Ketujuh timbul bukan karena perzinahan itu seks terlarang, melainkan karena hal itu melanggar perjanjian yang ditetapkan Allah. Allah menciptakan suami dan istri untuk menjadi “satu daging” (Kejadian 2:24), dan perkataan Yesus tentang Hukum Ketujuh menegaskan peran Allah dalam perjanjian pernikahan. “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6). Oleh karena itu, melakukan perzinahan bukan hanya berhubungan seks dengan orang yang tidak seharusnya, tetapi juga melanggar perjanjian dengan Tuhan Allah. Sesungguhnya, Perjanjian Lama sering memakai kata perzinahan, dan gambaran di sekitar hal itu, bukan untuk merujuk pada dosa seksual tetapi pada penyembahan berhala. Para nabi sering menyebut ketidaksetiaan Israel terhadap perjanjian untuk menyembah Allah saja sebagai “berzinah” atau “melacur,” seperti di Yesaya 57:3, Yeremia 3:8, Yehezkiel 16:38, Hosea 2:2, dan lain-lainnya. Oleh karena itu, setiap pelanggaran iman terhadap Allah Israel secara kiasan adalah perzinahan, baik itu melibatkan seks terlarang atau tidak. Penggunaan istilah “perzinahan” ini menggabungkan perintah pertama, kedua, dan ketujuh, dan mengingatkan kita bahwa Sepuluh Perintah Allah adalah ungkapan-ungkapan dari satu perjanjian dengan Allah, dan bukan semacam daftar sepuluh perintah teratas.
Oleh karena itu, pekerjaan yang mengharuskan atau membawa kita kepada penyembahan berhala atau menyembah ilah lain harus dihindari. Sulit membayangkan bagaimana seorang Kristen bisa bekerja sebagai pembaca kartu tarot, pembuat acara kesenian atau musik penyembahan berhala, atau penerbit buku-buku yang menghujat. Aktor-aktor Kristen mungkin merasa sulit untuk melakukan peran yang tidak senonoh, tidak religius, atau mengacaukan secara rohani. Segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup, termasuk pekerjaan, pada tingkat tertentu cenderung meningkatkan atau melemahkan relasi kita dengan Allah; sepanjang hidup kita, tekanan pekerjaan yang terus-menerus yang melemahkan kita secara rohani bisa terbukti menghancurkan. Ini adalah faktor yang sebaiknya kita sertakan dalam keputusan karier kita, sejauh kita punya pilihan.
Aspek perjanjian khusus yang dilanggar dalam perzinahan adalah bahwa perjanjian itu merupakan perjanjian dengan Allah. Namun,, bukankah setiap perjanjian atau kesepakatan yang dibuat orang Kristen secara implisit merupakan perjanjian dengan Allah? Paulus menasihati kita, “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus” (Kolose 3:17). Kontrak, perjanjian, dan kesepakatan tentunya adalah hal-hal yang kita lakukan dengan perkataan atau perbuatan, atau keduanya. Jika kita melakukan segala hal itu dalam nama Tuhan Yesus, tidak mungkin ada janji tertentu yang harus dihormati karena itu perjanjian dengan Allah, sementara ada janji lainnya yang bisa saja dilanggar karena janji itu hanya perjanjian dengan manusia. Kita harus menghormati semua perjanjian kita, dan menghindari untuk memicu orang lain melanggar perjanjian mereka. Entah perintah ini berasal dari Keluaran 20:14 sendiri, atau dijelaskan dalam ajaran-ajaran Perjanjian Lama dan Baru yang dikembangkan dari ayat itu, “Tepatilah janjimu, dan bantulah orang lain menepati janjinya” bisa menjadi derivasi yang baik dari perintah ketujuh di dunia kerja.
“Jangan Mencuri” (Keluaran 20:15)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiHukum Kedelapan adalah perintah lainnya yang menjadikan kerja sebagai subyek utamanya. Mencuri adalah pelanggaran terhadap kerja yang benar karena mencuri berarti merampas hasil kerja korbannya. Mencuri juga merupakan pelanggaran terhadap perintah untuk bekerja enam hari seminggu, karena dalam banyak kasus mencuri dimaksudkan sebagai jalan pintas dari bekerja yang jujur, yang menunjukkan lagi tentang adanya saling-keterkaitan di antara Sepuluh Hukum. Jadi, kita bisa menerimanya sebagai perkataan/perintah Allah bahwa kita tidak boleh mencuri dari orang yang bekerja untuk, bersama, atau di antara kita.
Pencurian terjadi dalam berbagai bentuk selain merampas seseorang. Setiap kali kita memperoleh sesuatu yang berharga dari pemiliknya yang sah tanpa persetujuan, kita sedang terlibat pencurian. Menyelewengkan sumber daya atau dana tertentu untuk kepentingan pribadi adalah pencurian. Memakai tipu daya dalam melakukan penjualan, mendapatkan pangsa pasar, atau menaikkan harga adalah pencurian, karena dengan adanya tipu daya itu berarti apa pun yang disetujui pembeli bukanlah hal yang sebenarnya. (Lihat “Puffery/Exaggeration” dalam Truth and Deception di https://www.teologikerja.org/ untuk informasi lebih lanjut tentang bagian ini). Demikian pula, mencari untung dengan memanfaatkan ketakutan, kelemahan, ketidakberdayaan, atau keputusasaan orang lain adalah bentuk pencurian, karena persetujuan mereka tidak benar-benar sukarela. Melanggar hak paten, hak cipta, dan undang-undang kekayaan intelektual lainnya adalah pencurian karena hal itu membuat pemilik tidak mendapatkan keuntungan yang semestinya atas karya ciptaannya berdasarkan ketentuan hukum perdata.
Sayangnya, banyak pekerjaan tampaknya mengandung unsur memanfaatkan ketidaktahuan atau kekurangan pilihan orang lain yang memaksa mereka melakukan transaksi yang sebenarnya tidak mereka setujui. Perusahaan, pemerintah, perorangan, serikat pekerja, dan pelaku lainnya dapat memanfaatkan kekuasaan mereka untuk memaksa orang lain menerima upah, harga, persyaratan kontrak, kondisi kerja, jam kerja, atau faktor-faktor lain yang tidak adil. Meskipun kita tidak merampok bank, mencuri di tempat kerja, atau mengutil di pusat perbelanjaan, kita bisa saja berpartisipasi dalam tindakan-tindakan tidak adil atau tidak etis yang merampas hak orang lain. Menolak terlibat dalam praktik-praktik semacam ini mungkin sulit, bahkan bisa menghambat karier, tetapi bagaimanapun kita dipanggil untuk jangan mencuri.
“Jangan Memberikan Kesaksian Dusta terhadap Sesamamu” (Keluaran 20:16)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiHukum Kesembilan menghormati hak reputasi seseorang.[1] Penerapannya yang jelas dapat ditemukan dalam proses-proses hukum di mana apa yang dikatakan orang menunjukkan realitas dan menentukan jalan hidup. Keputusan pengadilan dan proses hukum lainnya memiliki kekuatan besar. Memanipulasinya berarti melemahkan struktur etika masyarakat dan dengan demikian merupakan pelanggaran serius. Walter Brueggemann berkata, perintah ini mengakui “bahwa kehidupan masyarakat tidak mungkin terjadi jika tidak ada yang membuat publik percaya bahwa realitas sosial akan dijelaskan dan dilaporkan secara dapat dipercaya.”[2]
Meskipun diungkapkan dalam bahasa persidangan, Hukum Kesembilan juga berlaku dalam berbagai situasi yang berkaitan dengan hampir semua aspek kehidupan. Kita tidak boleh mengatakan atau melakukan sesuatu yang salah-menggambarkan tentang orang lain. Brueggemann lagi-lagi memberikan pandangannya:
“Para politisi berusaha saling menjatuhkan melalui kampanye negatif; para kolumnis gosip menyajikan fitnah; dan di ruang-ruang keluarga Kristen, reputasi-reputasi dicemarkan atau dihancurkan di sela-sela kopi disajikan dalam cangkir porselen mewah dan makanan pencuci mulut. Persidangan-persidangan de facto ini diadakan tanpa proses hukum yang semestinya. Tuduhan-tuduhan dibuat; desas-desus dibiarkan; fitnah, sumpah palsu, dan komentar-komentar yang mencemarkan nama baik diucapkan tanpa keberatan. Tidak ada bukti, tidak ada pembelaan. Sebagai orang Kristen, kita harus menolak untuk berpartisipasi atau menoleransi segala percakapan yang membuat orang tercemar atau tertuduh tanpa orang itu berada di sana untuk membela diri. Meneruskan desas-desus dalam bentuk apa pun tidaklah benar, sekalipun itu dalam bentuk permohonan doa atau perhatian pastoral. Lebih dari sekadar menolak untuk berpartisipasi, orang Kristen harus menghentikan gosip dan orang-orang yang menyebarkannya di jalur mereka.”[3]
Hal ini menunjukkan lebih jauh bahwa gosip di tempat kerja adalah pelanggaran serius. Beberapa di antaranya berkaitan dengan masalah di luar kantor yang bersifat pribadi, yang cukup jahat. Namun, bagaimana dengan kasus karyawan yang merusak reputasi rekan kerja? Mungkinkah yang diungkapkan itu benar-benar kebenaran jika orang yang dibicarakan saja tidak ada di sana untuk berbicara bagi dirinya sendiri? Lalu bagaimana dengan penilaian kinerja? Pengaman apa saja yang diperlukan untuk memastikan bahwa laporan-laporan itu adil dan akurat? Pada skala besar, bisnis pemasaran dan periklanan beroperasi di ruang publik di antara berbagai organisasi dan individu. Dalam rangka menunjukkan produk dan jasanya sebaik dan semenarik mungkin, sejauh mana orang boleh menunjuk kekurangan dan kelemahan pesaing tanpa menyertakan perspektif mereka? Mungkinkah hak “sesamamu” termasuk hak perusahaan lain? Jangkauan ekonomi global kita menunjukkan bahwa perintah ini memang bisa memiliki penerapan yang luas. Di dunia di mana persepsi sering diperhitungkan sebagai realitas, retorika persuasi yang efektif mungkin tidak banyak, jika ada, berkaitan dengan kebenaran sejati. Sumber ilahi perintah ini mengingatkan kita bahwa manusia mungkin tidak dapat mendeteksi ketika yang kita sampaikan kepada orang lain benar atau tidak, tetapi Allah tidak dapat dibodohi. Melakukan yang benar, sekalipun tidak ada yang melihat, adalah hal yang baik. Dari perintah ini kita tahu bahwa kita harus mengatakan hal yang benar ketika ada orang yang mendengarkan.
(Lihat Kebenaran & Kebohongan di https://www.teologikerja.org/ untuk pembahasan yang jauh lebih lengkap tentang topik ini, termasuk apakah larangan “memberi kesaksian palsu terhadap sesama” mencakup segala bentuk kebohongan dan penipuan).
“Jangan Mengingini … Apa pun Milik Sesamu” (Keluaran 20:17)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKecemburuan dan keserakahan bisa muncul di mana saja dalam kehidupan, termasuk dalam bekerja, di mana status, bayaran, dan kekuasaan merupakan faktor rutin dalam relasi kita dengan orang-orang yang menghabiskan banyak waktu bersama kita. Kita mungkin punya banyak alasan yang baik untuk menginginkan prestasi, kemajuan, atau ganjaran dalam bekerja. Namun, iri hati bukanlah salah satunya. Begitu pula dengan bekerja obsesif karena merasa iri dengan kedudukan sosial yang memungkinkan hal itu.
Kita khususnya menghadapi godaan di tempat kerja untuk secara keliru membesar-besarkan pencapaian kita dengan mengorbankan orang lain. Cara mengatasinya sederhana, meskipun kadang sulit untuk dilakukan. Bangunlah kebiasaan yang konsisten untuk mengakui pencapaian orang lain dan memberikan kepada mereka semua penghargaan yang pantas mereka terima. Jika kita bisa belajar bersukacita atas—atau setidaknya mengakui—keberhasilan orang lain, kita sudah menutup sumber rasa iri dan tamak di tempat kerja. Bahkan lebih baik lagi jika kita bisa belajar bagaimana caranya bekerja agar kesuksesan kita berjalan seiring dengan kesuksesan orang lain, ketamakan diganti dengan kerja sama, dan iri hati diganti dengan persatuan.
Leith Anderson, mantan pendeta Gereja Wooddale di Eden Prairie, Minnesota, berkata, “Sebagai pendeta senior, saya seperti memiliki persediaan koin yang tak terbatas di saku saya. Setiap kali saya memberikan penghargaan kepada anggota staf atas idenya yang baik, memuji pekerjaan sukarelawan, atau berterima kasih pada seseorang, saya seperti menyelipkan koin dari saku saya ke saku mereka. Itulah tugas saya sebagai pemimpin, menyelipkan koin-koin dari saku saya ke saku orang lain, untuk membangun apresiasi orang lain terhadap mereka” [1]
Hukum Kasus dalam Kitab Perjanjian (Keluaran 21:1-23:33)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSekumpulan hukum kasus berikut ini muncul dari Sepuluh Hukum. Alih-alih mengembangkan prinsip-prinsip yang terperinci, hukum kasus memberikan contoh-contoh tentang bagaimana menerapkan hukum Allah pada berbagai kasus yang biasa muncul dalam perilaku hidup sehari-hari. Sebagai kasus, semuanya melekat pada situasi yang dihadapi orang Israel. Di sepanjang kitab Taurat, tentu saja sulit untuk menyaring hukum-hukum spesifik dari cerita dan nasihat yang melingkupinya. Empat bagian hukum kasus ini dapat diterapkan pada hal kerja saat ini.
Perbudakan atau Perhambaan Kontrak (Keluaran 21:1-11)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiMeskipun Allah telah membebaskan orang Ibrani dari perbudakan di Mesir, perbudakan secara universal tidak dilarang di dalam Alkitab. Perbudakan diperbolehkan dalam situasi-situasi tertentu sepnjang para budak dianggap sebagai anggota penuh komunitas itu (Kejadian 17:12), mendapatkan waktu untuk beristirahat dan hari libur yang sama dengan yang non-budak (Keluaran 23:12; Ulangan 5:14-15, 12:12), dan diperlakukan secara manusiawi (Keluaran 21:7, 26-27). Yang terpenting, perbudakan di antara orang Ibrani tidak dimaksudkan sebagai kondisi permanen, tetapi sebagai tempat perlindungan sementara dan sukarela bagi orang yang kesusahan, yang jika tidak menjadi budak akan menderita kemiskinan yang parah. “Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, ia harus bekerja selama enam tahun, dan pada tahun ketujuh ia boleh keluar sebagai orang merdeka, tanpa membayar apa-apa” (Keluaran 21:2). Kekejaman yang dilakukan pemiliknya akan mengakibatkan budak itu langsung mendapat kebebasan (Keluaran 21:26-27). Hal ini membuat perbudakan laki-laki Ibrani lebih seperti kontrak kerja jangka panjang di antara individu-individu, bukan eksploitasi permanen yang menjadi ciri perbudakan di zaman modern.
Di satu sisi, perbudakan perempuan Ibrani jauh lebih protektif. Tujuan utama yang dipikirkan saat membeli budak perempuan adalah untuk dijadikan istri si pembeli atau putranya (Keluaran 21:8-9). Sebagai istri, ia lalu menjadi setara secara sosial dengan pemilik budak, dan pembelian itu berfungsi sebagai pemberian mas kawin. Bahkan ia juga disebut “gundik” menurut peraturan (Keluaran 21:10). Selain itu, jika si pembeli gagal memperlakukan budak perempuan itu dengan segala hak yang patut diterima seorang istri pada umumnya, ia harus membebaskan perempuan itu. “Perempuan itu boleh keluar tanpa membayar uang sedikit pun” (Keluaran 21:11). Namun, di sisi lain, budak perempuan mendapat perlindungan yang jauh lebih sedikit dibandingkan budak laki-laki. Secara potensial, setiap perempuan yang belum menikah bisa dijual untuk memasuki pernikahan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Meskipun hal ini membuatnya menjadi "istri/gundik" dan bukan "budak", bukankah pernikahan yang dipaksakan tak kalah buruknya dengan kerja paksa?
Selain itu, ada ambiguitas yang jelas ketika seorang perempuan dibeli untuk dijadikan istri budak laki-laki, bukan istri pemilik budak atau anaknya. Perempuan itu akan menjadi budak permanen bagi pemiliknya (Keluaran 21:4), sekalipun saat suaminya sudah dibebaskan sebagai budak. Si pemilik yang tidak menjadi suaminya itu tidak berutang perlindungan seorang istri kepadanya.
Perlindungan yang tidak didapat budak permanen juga berlaku pada orang asing (Imamat 25:44-46). Laki-laki yang diambil dari perang dianggap sebagai barang jarahan dan menjadi properti abadi pemiliknya. Perempuan dan anak-anak perempuan yang ditangkap dalam perang, yang tampaknya merupakan mayoritas tawanan (Bilangan 31:9-11, 32-35; Ulangan 20:11-14), menghadapi situasi yang sama seperti budak perempuan Ibrani (Ulangan 21:10-14), termasuk menjadi budak permanen. Budak juga bisa dibeli dari bangsa-bangsa sekitar (Pengkhotbah 2:7), dan tidak ada yang melindungi mereka dari perbudakan abadi. Perlindungan lain yang diberikan kepada budak-budak Ibrani juga berlaku bagi orang asing, tetapi perlindungan ini tentunya hanya kenyamanan kecil bagi orang yang harus menjalani kerja paksa seumur hidup.
Berbeda dengan perbudakan di Amerika Serikat yang biasanya melarang pernikahan di antara para budak, peraturan dalam kitab Keluaran bertujuan menjaga keutuhan keluarga. “Jika ia datang seorang diri, ia juga keluar seorang diri; jika ia mempunyai istri, istrinya boleh keluar bersama dia” (Keluaran 21:3). Namun, seringkali, seperti yang sudah kita lihat, dampak sesungguhnya dari peraturan ini adalah pernikahan yang dipaksakan.
Terlepas dari perlindungan apa pun yang diberikan dalam Hukum Taurat, perbudakan sama sekali bukanlah cara hidup yang dapat diterima. Para budak, berapa pun lamanya masa perbudakan mereka, hanya dianggap sebagai properti. Apapun regulasinya, dalam praktiknya hanya kemungkinan kecil ada perlindungan terhadap perlakuan tak senonoh dan pelecehan yang terjadi. Sebagaimana di banyak Alkitab, firman Allah di kitab Keluaran tidak menghapuskan tatanan sosial dan ekonomi yang ada, tetapi mengajarkan umat Allah bagaimana hidup dengan adil dan belas kasih dalam situasi mereka saat itu. Di mata kita, hasil melakukan [perintah]--dan yang seharusnya--tampak sangat meresahkan.
Bagaimanapun, sebelum kita menjadi terlalu sombong, kita perlu memerhatikan kondisi-kondisi kerja yang ada saat ini di antara orang-orang miskin di seluruh penjuru dunia, termasuk di negara-negara maju. Bekerja terus-menerus bagi orang-orang yang melakukan dua atau tiga pekerjaan untuk menghidupi keluarganya, penyelewengan dan penggunaan kekuasaan yang sewenang-wenang oleh orang-orang yang berkuasa, penggelapan hasil kerja yang dilakukan para pelaku bisnis ilegal, para pejabat yang korup, dan bos-bos yang memiliki hubungan politik. Jutaan orang bekerja saat ini tanpa regulasi-regulasi sebagaimana yang diberikan Hukum Musa. Jika kehendak Allah adalah melindungi orang Israel dari eksploitasi dan bahkan perbudakan, apa yang Allah harap dilakukan para pengikut Kristus pada orang-orang yang menderita penindasan yang sama, dan bahkan lebih buruk, pada saat ini?
Restitusi Komersial dan Lex Talionis (Keluaran 21:18-22:15)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiHukum kasuistik menetapkan hukuman bagi pelanggar, yang kebanyakan berkaitan langsung dengan perdagangan, terutama dalam kasus untuk bertanggung jawab atas kehilangan atau kerugian. Hal yang disebut lex talionis, yang juga muncul di Imamat 24:17-21 dan Ulangan 19:16-21, merupakan inti dari konsep retribusi/ganti rugi ini.[1] Secara harfiah, hukuman ini menuntut nyawa ganti nyawa, seperti juga mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lepuh ganti lepuh, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak. (Keluaran 21:23-25). Daftar ini sangat spesifik. Ketika para hakim Israel melakukan tugasnya, apakah kita percaya mereka benar-benar memberlakukan hukuman seperti ini? Apakah penggugat yang terluka bakar (lepuh) akibat kelalaian seseorang akan benar-benar puas jika melihat pelaku mengalami lepuh yang sama? Menariknya, di bagian kitab Keluaran ini, kita tidak melihat lex talionis diterapkan dengan cara seperti ini. Contoh kasus yang disampaikan adalah: seseorang yang membuat orang lain terluka parah dalam suatu perkelahian harus membayar ganti rugi selama korban kehilangan waktu untuk bekerja dan menanggung biaya pengobatannya (Keluaran 21:18-19). Ayat ini tidak dilanjutkan dengan berkata bahwa orang itu harus duduk diam untuk menerima pukulan publik yang sebanding dengan yang dialami mantan korbannya. Tampaknya lex talionis tidak menetapkan hukuman standar untuk pelanggaran-pelanggaran berat, tetapi menetapkan batas atas kerugian yang dapat dituntut. Gordon Wenham menulis, “Di zaman Perjanjian Lama tidak ada polisi atau layanan tuntutan publik, sehingga semua tuntutan dan hukuman harus dilakukan oleh pihak yang dirugikan dan keluarganya. Jadi, akan sangat mungkin bagi pihak yang dirugikan untuk tidak bersikeras menuntut hak-hak penuh mereka menurut lex talionis, tetapi menegosiasikan penyelesaian yang lebih ringan atau bahkan memaafkan si pelaku sama sekali.”[2] Hukum ini mungkin dianggap kejam oleh sebagian orang masa kini, tetapi Alec Motyer mengamati, “Ketika hukum di Inggris menggantung seseorang karena mencuri domba, itu bukan karena prinsip 'mata ganti mata' sedang diberlakukan, melainkan karena prinsip itu sudah dilupakan.”[3]
Hal penafsiran lex talionis ini menunjukkan kemungkinan adanya perbedaan antara melakukan perkataan Alkitab secara harfiah dengan menerapkan perintah Alkitab. Menemukan solusi alkitabiah untuk masalah-masalah kita tidak selalu mudah. Orang Kristen harus memakai kedewasaan dan kepekaan, terutama dengan mengingat ajaran Yesus untuk melepaskan lex talionis dengan tidak membalas pelaku kejahatan (Matius 5:38-42). Apakah Yesus sedang berbicara tentang etika pribadi, atau apakah Dia berharap para pengikut-Nya menerapkan prinsip ini dalam bisnis? Apakah cara ini lebih efektif untuk pelanggaran-pelanggaran kecil dibandingkan pelanggaran-pelanggaran berat? Orang yang berbuat jahat menimbulkan korban yang wajib kita bela dan lindungi (Amsal 31:9).
Perintah spesifik tentang ganti rugi dan hukuman terkait pencurian memiliki dua tujuan. Pertama, membuat si pencuri bertanggung jawab untuk mengembalikan korban kepada keadaannya semula atau memberikan kompensasi penuh atas kerugiannya. Kedua, menghukum dan mendidik si pencuri dengan membuatnya merasakan sepenuhnya penderitaan yang ia timbulkan pada korbannya. Tujuan-tujuan ini bisa menjadi dasar bagi pelaksanaan hukum perdata dan pidana orang Kristen saat ini. Tugas peradilan saat ini dijalankan berdasarkan undang-undang dan acuan tertentu yang ditetapkan oleh negara. Meskipun demikian, para hakim memiliki kebebasan tertentu dalam menjatuhkan vonis dan hukuman. Untuk pertikaian yang diselesaikan di luar pengadilan, para pengacara bisa bernegosiasi untuk membantu kliennya mencapai kesepakatan yang konklusif. Belakangan ini, perspektif yang disebut “peradilan restoratif” muncul dengan penekanan pada hukuman yang mengembalikan korban kepada kondisi semula dan sedapat mungkin mengembalikan pelaku sebagai anggota masyarakat yang produktif. Penjelasan dan evaluasi yang lengkap tentang pendekatan-pendekatan ini tidak termasuk dalam pembahasan kita di sini, tetapi kita perlu mencatat bahwa Alkitab banyak menawarkan sistem peradilan kontemporer dalam hal ini.
Dalam bisnis, para pemimpin kadang harus menjadi penengah di antara pekerja yang memiliki masalah-masalah serius terkait-pekerjaan dengan satu sama lain. Membuat keputusan yang benar dan adil tidak hanya berdampak pada orang-orang yang terlibat perselisihan, tetapi juga dapat memengaruhi seluruh atmosfir organisasi dan bahkan menjadi preseden tentang bagaimana para pekerja diharapkan bisa berhasil di masa depan. Pertaruhannya secara langsung mungkin sangat tinggi. Namun di atas semua itu, ketika orang Kristen membuat keputusan-keputusan seperti ini, orang-orang yang mengamati akan menarik kesimpulan tentang kita sebagai umat Allah dan juga legitimasi iman yang kita hidupi. Kita jelas tidak dapat mengantisipasi setiap situasi (sebagaimana halnya kitab Keluaran). Tetapi kita tahu bahwa Allah mau kita melakukan perintah-perintah-Nya, dan kita bisa yakin bahwa bertanya kepada Allah bagaimana caranya mengasihi sesama seperti diri kita sendiri adalah langkah awal yang terbaik.
Kesempatan untuk Produktif bagi Orang Miskin – Memungut sisa-sisa panen (Keluaran 22:21-27 & 23:10-11)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiMaksud Allah untuk memberi kesempatan kepada orang miskin tampak dalam peraturan-peraturan yang menguntungkan orang asing, para janda, dan anak yatim (Keluaran 22:21-22). Kesamaan ketiga kelompok ini adalah mereka tidak memiliki tanah untuk menopang kehidupan mereka sendiri. Keadaan ini seringkali membuat mereka menjadi miskin, sehingga orang asing, para janda, dan anak yatim selalu menjadi subyek utama setiap kali “orang miskin” disebutkan di Perjanjian Lama. Di dalam kitab Ulangan, kepedulian Allah terhadap ketiga kelompok rentan ini memanggil orang Israel untuk memberikan mereka keadilan (Ulangan 10:18; 27:19) dan akses untuk mendapat makanan (Ulangan 24:19-22). Hukum kasus tentang hal ini juga dikembangkan di Yesaya 1:17, 23 & 10:1-2; Yeremia 5:28, 7:5-7, 22:3; Yehezkiel 22:6-7; Zakharia 7:8-10; dan Maleakhi 3:5.
Salah satu yang terpenting dari regulasi ini adalah tindakan memperbolehkan orang miskin untuk menuai, atau “memungut” sisa-sisa panen yang tertinggal di ladang yang ditanami serta memanen seluruh tuaian yang tumbuh di ladang yang tidak ditanami. Tindakan memungut sisa panen ini (gleaning) bukan memberi sedekah, tetapi memberi kesempatan kepada orang miskin untuk dapat menghidupi diri mereka sendiri. Para pemilik ladang wajib membiarkan setiap ladang, kebun anggur, dan kebun buah-buahan tidak ditanami selama satu tahun setiap tujuh tahun sekali, dan orang miskin diperbolehkan mengambil apa saja yang mungkin tumbuh di sana (Keluaran 23:10-11). Bahkan di ladang yang ditanami, pemilik ladang wajib meninggalkan sebagian hasil panennya di ladang untuk dipungut orang miskin, dan tidak boleh menyabitnya sampai bersih (Imamat 19:9-10). Kebun zaitun atau kebun anggur hanya boleh dipanen satu kali setiap musim (Ulangan 24:20). Setelah itu, orang-orang miskin berhak mengumpulkan yang tersisa, entah itu buah yang kurang baik mutunya atau pun yang belum matang. Tindakan ini bukan saja merupakan ungkapan kebaikan, tetapi juga masalah keadilan. Kitab Rut berkisar pada kisah pemungutan sisa panen ini sampai dampaknya yang mengesankan (lihat "Rut 2:17-23" dalam Kitab Rut dan Kerja di https://www.teologikerja.org/).
Saat ini, ada banyak cara yang dapat dilakukan para petani, produsen dan distributor makanan untuk berbagi dengan orang miskin. Banyak dari mereka yang menyumbangkan makanan sisa layak-makan ke dapur-dapur umum dan tempat-tempat penampungan. Yang lain berusaha membuat makanan yang harganya lebih terjangkau dengan meningkatkan efisiensi mereka sendiri. Namun, sebagian besar masyarakat, setidaknya di negara-negara maju, tidak lagi bekerja di bidang pertanian untuk mencari nafkah, dan kesempatan-kesempatan untuk orang miskin perlu disediakan di sektor-sektor lain. Di dalam masyarakat industri dan teknologi saat ini, penggunaan sumber daya secara efisien adalah dasar keberhasilan produksi. Tak ada yang bisa dipungut di lantai bursa saham, pabrik perakitan, atau laboratorium pemrograman. Namun, prinsip untuk menyediakan pekerjaan produktif bagi para pekerja rentan tetap relevan. Korporasi-korporasi dapat secara produktif mempekerjakan para penyandang disabilitas mental maupun fisik, dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Melalui pelatihan dan dukungan, orang-orang dari latar belakang yang kurang beruntung, narapidana yang kembali ke masyarakat, dan orang-orang lainnya yang kesulitan mendapatkan pekerjaan konvensional, dapat menjadi pekerja produktif dan mencari nafkah.
Orang-orang dengan ekonomi-lemah lainnya mungkin harus bergantung pada sumbangan uang daripada menerima kesempatan kerja. Di sini lagi-lagi situasi masa kini terlalu rumit bagi kita untuk membuat penerapan sederhana dari hukum alkitabiah. Namun, nilai-nilai yang mendasari hukum itu bisa memberi kontribusi signifikan pada rancangan dan pelaksanaan sistem kesejahteraan masyarakat, donasi pribadi, dan tanggung jawab sosial perusahaan. Banyak orang Kristen memiliki peran-peran penting dalam mempekerjakan karyawan atau merancang kebijakan ketenagakerjaan. Kitab Keluaran mengingatkan kita bahwa mempekerjakan pekerja yang rentan adalah bagian yang mendasar dari arti sebuah bangsa hidup di bawah perjanjian Allah. Bersama orang Israel zaman dahulu, orang Kristen juga mengalami penebusan Allah, meskipun tidak selalu dalam arti yang sama. Namun, rasa syukur mendasar kita atas anugerah Allah tentu merupakan motif yang kuat dalam mencari cara-cara kreatif untuk melayani orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita.
Pinjaman dan Agunan (Keluaran 22:25-27)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSeperangkat hukum kasus lainnya mengatur masalah uang dan agunan (Keluaran 22:25-27). Ada dua situasi yang dimunculkan. Yang pertama berkaitan dengan anggota masyarakat Allah yang miskin dan membutuhkan pinjaman uang. Pinjaman ini tidak boleh dilakukan menurut standar peminjaman uang yang biasa. Pinjaman itu harus diberikan tanpa “bunga.” Kata Ibrani neshekh (yang dalam beberapa konteks berarti “gigitan/sengatan”) menarik banyak perhatian para akademisi. Apakah neshek merujuk pada bunga yang dikenakan berlebihan dan karena itu tidak adil, di atas besaran bunga yang wajar yang diperlukan untuk terjadinya transaksi pinjam-meminjam finansial? Atau apakah kata itu merujuk pada bunga apa pun? Ayat ini tidak memiliki cukup keterangan untuk menyelesaikan masalah ini secara meyakinkan, tetapi pendapat yang belakangan tampaknya lebih memungkinkan, karena di dalam Perjanjian Lama neshek selalu berkaitan dengan pemberian pinjaman kepada orang yang dalam situasi lemah dan sengsara, yang bagi mereka membayar bunga apa pun akan menjadi beban yang berlebihan.[1] Menempatkan orang miskin dalam siklus utang finansial yang tak pernah berakhir akan menggerakkan belas kasihan Allah Israel untuk bertindak. Apakah hukum ini baik untuk bisnis atau tidak, tidak diungkapkan di sini. Walter Brueggemann menulis, “Hukum itu tidak membahas kelangsungan ekonomi dari tindakan itu. Hukum itu hanya mensyaratkan perlunya menolong secara konkret, dan mengharapkan masyarakat mengembangkan detail-detail praktisnya.”[2] Situasi lainnya adalah tentang seorang yang menyerahkan satu-satunya jubah miliknya sebagai agunan pinjaman. Jubah itu harus dikembalikan padanya pada malam hari agar ia dapat tidur tanpa membahayakan kesehatannya (Keluaran 22:26-27). Apakah ini berarti si pemberi pinjaman harus mendatanginya keesokan paginya untuk mengambil jubah itu dan mengulangi lagi tindakan mengembalikan dan mengambil jubah itu setiap hari sampai pinjaman itu dilunasi? Dalam konteks kemiskinan yang sedemikian jelas, pemberi pinjaman yang baik dapat menghindari siklus yang menggelikan ini dengan tidak mengharapkan si peminjam memberikan agunan sama sekali. Regulasi-regulasi ini mungkin kurang dapat diterapkan pada sistem perbankan saat ini pada umumnya dibandingkan sistem perlindungan dan bantuan untuk orang miskin saat ini. Sebagai contoh, sistem ekonomi mikro di negara-negara yang kurang berkembang dikembangkan dengan kebijakan suku bunga dan agunan yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan orang miskin agar bisa memiliki akses untuk mendapat pinjaman. Tujuannya—setidaknya pada tahun-tahun awal yang dimulai tahun 1970-an—bukanlah untuk memaksimalkan keuntungan bagi para pemberi pinjaman, tetapi untuk menyediakan lembaga-lembaga pemberi pinjaman yang berkelanjutan untuk membantu orang miskin keluar dari kemiskinan. Meskipun demikian, sistem ekonomi mikro bergumul dalam mengimbangi kebutuhan pemberi pinjaman akan pengembalian dana yang berkesinambungan dan tingkat gagal bayar dengan kebutuhan peminjam akan suku bunga yang terjangkau dan persyaratan agunan yang tidak mengikat.[3]
Adanya regulasi-regulasi spesifik yang menyertai Sepuluh Hukum berarti Allah ingin umat-Nya menghormati Dia dengan melakukan perintah-perintah-Nya secara praktis untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan nyata. Kepedulian emosional tanpa tindakan yang disengaja tidak akan memberikan bantuan yang dibutuhkan orang miskin. Seperti dikatakan Rasul Yakobus, “Iman tanpa perbuatan mati” (Yakobus 2:26). Mempelajari penerapan-penerapan spesifik hukum Israel kuno ini menolong kita untuk memikirkan cara-cara tertentu yang dapat kita lakukan saat ini. Hanya kita perlu ingat, bahwa pada masa itu pun hukum-hukum ini merupakan penggambaran/ ilustrasi. Terence Fretheim menyimpulkan, “Ada konsep terbuka dalam penerapan hukum ini. Teks ini mengundang pendengar/pembaca untuk menerapkan ayat ini dalam setiap aspek kehidupan yang mungkin menghadapi ketidakadilan. Dengan kata lain, hukum itu mengundang orang untuk bertindak melampaui hukum.”[4]
Pembacaan yang cermat akan menyingkapkan tiga alasan mengapa umat Allah harus menaati hukum-hukum ini dan menerapkannya pada situasi-situasi nyata.[5] Pertama, bangsa Israel sendiri pernah mengalami penindasan sebagai orang asing di Mesir (Keluaran 22:21; 23:9). Mengulang-ulang sejarah ini tidak hanya membuat penebusan Allah semakin nyata, tetapi ingatan ini juga dapat menjadi motivasi untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan (Matius 7:12). Kedua, Allah mendengar seruan orang yang tertindas dan akan bertindak, apalagi jika kita tidak berdaya (Keluaran 22:22-24). Ketiga, kita harus menjadi umat-Nya yang kudus (Keluaran 22:31; Imamat 19:2).