Bootstrap

“Ingat dan Kuduskanlah hari Sabat. Enam Hari Lamanya Engkau Akan Bekerja” (Keluaran 20:8-11)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Kayakers 3941 620

Topik tentang hari Sabat ini rumit, bukan saja di dalam kitab Keluaran dan Perjanjian Lama, tetapi juga di dalam teologi dan penerapan Kristen. Bagian pertama hukum ini memerintahkan untuk berhenti bekerja satu hari dalam tujuh hari. Referensi lain tentang hari Sabat dalam kitab Keluaran terdapat di pasal 16 (tentang pemungutan manna), Keluaran 23:10-12 (tentang tahun ketujuh dan tujuan beristirahat mingguan), Keluaran 31:12-17 (tentang hukuman bagi yang melanggar), Keluaran 34:21, dan Keluaran 35:1-3. Dalam konteks dunia kuno, hari Sabat ini unik bagi bangsa Israel. Di satu sisi, ini adalah anugerah yang tiada bandingnya bagi bangsa Israel. Tidak ada bangsa kuno lainnya yang mendapat hak istimewa untuk beristirahat satu hari dalam seminggu. Di sisi lain, hal ini membutuhkan kepercayaan luar biasa tentang pemeliharaan Allah. Enam hari kerja harus cukup untuk merawat tanaman, mengumpulkan tuaian, mengangkut air, memintal kain, dan mencari makanan dari sumber alam. Sementara bangsa Israel beristirahat satu hari setiap minggunya, bangsa-bangsa di sekelilingnya terus membuat pedang, panah, dan melatih para tentara. Bangsa Israel harus percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan satu hari beristirahat ini menjadi bencana ekonomi dan militer.

Kita menghadapi masalah yang sama dalam memercayai pemeliharaan Allah saat ini. Jika kita mengindahkan perintah Allah untuk mematuhi siklus bekerja dan beristirahat Allah sendiri, apakah kita akan mampu bersaing dalam perekonomian modern? Apakah diperlukan tujuh hari kerja untuk menangani satu pekerjaan (atau dua atau tiga pekerjaan), membersihkan rumah, menyiapkan makanan, memotong rumput, mencuci mobil, membayar tagihan, menyelesaikan tugas sekolah, dan berbelanja pakaian, atau dapatkah kita percaya bahwa Allah akan memelihara kita meskipun kita mengambil satu hari istirahat setiap minggunya? Dapatkah kita meluangkan waktu untuk menyembah Allah, berdoa, dan bersekutu dengan orang lain untuk belajar dan saling menguatkan, dan jika kita dapat melakukannya, apakah hal itu akan membuat kita lebih atau kurang produktif secara keseluruhan? Hukum Keempat tidak menjelaskan bagaimana Allah akan membuat semuanya berhasil bagi kita. Perintah ini hanya memanggil kita untuk beristirahat satu hari setiap tujuh hari.

Orang Kristen telah menerjemahkan hari istirahat sebagai Hari Tuhan (hari Minggu, hari kebangkitan Kristus), tetapi inti dari hari Sabat bukanlah memilih satu hari tertentu dari hari-hari lainnya dalam minggu itu (Roma 14:5-6). Polaritas yang benar-benar mendasari perintah hari Sabat adalah bekerja dan beristirahat. Baik bekerja maupun beristirahat tercakup dalam Hukum Keempat. Enam hari bekerja sama pentingnya dengan satu hari beristirahat dalam perintah itu. Meskipun banyak orang Kristen berada dalam bahaya membiarkan pekerjaan mengambil waktu yang ditetapkan untuk beristirahat, sebagian yang lainnya berada dalam bahaya sebaliknya—melalaikan pekerjaan dan mencoba menjalani kehidupan dengan santai dan bermalas-malasan. Yang ini bahkan lebih buruk dari mengabaikan hari Sabat, karena “jika ada orang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk daripada orang yang tidak beriman” (1 Timotius 5:8). Yang kita butuhkan adalah ritme yang tepat dalam bekerja dan beristirahat, yang sama-sama baik untuk kita, keluarga kita, para pekerja, dan tamu-tamu kita. Ritme ini bisa meliputi dua puluh empat jam terus-menerus pada hari Minggu (atau Sabtu), bisa juga tidak. Proporsinya bisa berubah-ubah tergantung kebutuhan saat itu (seperti padanan masa kini dari menarik keluar seekor lembu dari sumur pada hari Sabat, lihat Lukas 14:5), atau perubahan kebutuhan musim kehidupan.

Jika kerja berlebihan merupakan bahaya utama kita, kita perlu mencari cara untuk menghormati Hukum Keempat tanpa perlu membentuk legalisme baru yang palsu yang membenturkan yang rohani (beribadah pada hari Minggu) dengan yang sekuler (bekerja pada hari Senin sampai Sabtu). Jika menghindari kerja adalah bahaya kita, kita perlu belajar menemukan sukacita dan makna dalam bekerja sebagai pelayanan kepada Allah dan sesama (Efesus 4:28).