Bootstrap

“Jangan Membuat Bagimu Berhala” (Keluaran 20:4)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Black 21166 620

Hukum Kedua mengangkat isu tentang penyembahan berhala. Berhala adalah ilah-ilah sesembahan ciptaan kita sendiri, ilah-ilah yang kita pikir akan memberikan yang kita inginkan. Pada zaman dahulu, penyembahan berhala sering berupa menyembah benda-benda fisik, sesuatu yang berujud. Padahal inti permasalahan sebenarnya adalah kepercayaan dan ketaatan. Pada apa/siapa kita akhirnya menggantungkan harapan kita untuk kesejahteraan dan kesuksesan? Apa pun yang tidak dapat memenuhi harapan kita—artinya, apa pun selain Allah – adalah berhala, entah itu berupa benda fisik atau bukan. Kisah tentang keluarga yang membuat berhala dengan tujuan memanipulasi Allah, serta akibat-akibat mengerikan yang ditimbulkannya pada kehidupan pribadi, sosial dan ekonomi, diceritakan dengan mengesankan di kitab Hakim-hakim 17-21.

Di dunia kerja, berbicara bahwa uang, ketenaran dan kekuasaan bisa menjadi berhala adalah hal yang lazim, dan memang benar. Hal-hal itu sendiri pada dasarnya bukan berhala, dan bahkan bisa diperlukan dalam kita menjalankan peran-peran kita dalam pekerjaan kreatif dan penebusan Allah di dunia ini. Namun, jika kita berpikir bahwa dengan mencapai hal-hal itu, keamanan dan kemakmuran kita akan terjamin, kita sudah mulai jatuh ke dalam penyembahan berhala. Penyembahan berhala dimulai ketika kita lebih menaruh kepercayaan dan harapan kita pada hal-hal ini daripada Allah. Hal yang sama bisa terjadi pada hampir semua unsur kesuksesan lainnya, seperti persiapan, kerja keras, kreativitas, risiko, kekayaan dan sumber-sumber lainnya, serta situasi-situasi yang baik. Sebagai pekerja, kita harus menyadari betapa pentingnya hal-hal ini. Sebagai umat Allah, kita harus menyadari kapan kita mulai menjadikan hal-hal ini sebagai berhala kita. Dengan kasih karunia Allah, kita dapat mengatasi godaan untuk menyembah hal-hal baik yang mau menggantikan Allah ini. Mengembangkan hikmat dan keterampilan ilahi dengan sungguh-sungguh dalam segala pekerjaan itu adalah “menaruh kepercayaan kepada TUHAN” (Amsal 22:19).

Hal yang khas dari penyembahan berhala adalah sesembahan itu buatan manusia. Di tempat kerja, bahaya penyembahan berhala muncul ketika kita salah menganggap kekuasaan, pengetahuan, dan pendapat kita sebagai realitas. Ketika kita berhenti menganggap diri kita bertanggung jawab terhadap standar-standar yang kita tetapkan untuk orang lain, berhenti mendengarkan pemikiran orang lain, atau berusaha menghancurkan orang-orang yang tidak sependapat dengan kita, bukankah kita mulai menjadikan diri kita sendiri sebagai berhala?