“Jangan Menyebut Nama TUHAN Allahmu untuk Disalahgunakan” (Keluaran 20:7)
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Hukum Ketiga secara harfiah melarang umat Allah “menyalahgunakan” nama Allah. Larangan ini bukan hanya dalam menyebut nama “YHWH” (Keluaran 3:15), tetapi juga nama “Allah,” “Yesus,” “Kristus,” dan lain-lainnya. Namun, apa maksudnya menyalahgunakan? Ini tentu saja mencakup penyalahgunaan yang tidak sopan untuk mengumpat, memfitnah dan menghujat. Namun, yang lebih penting, penyalahgunaan itu mencakup sikap/tindakan menghubungkan rancangan manusia secara salah dengan rancangan Allah. Ini berarti kita dilarang mengeklaim otoritas Allah atas tindakan dan keputusan kita sendiri. Sayangnya, sebagian orang Kristen tampaknya percaya bahwa menaati Allah di tempat kerja berarti berbicara atas nama Allah menurut pengertian mereka sendiri, bukan bekerja dengan hormat bersama orang lain atau bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka. “Itu kehendak Allah bahwa…,” atau “Allah menghukum engkau atas…,” adalah perkataan-perkataan yang berbahaya dan hampir tak bisa dibenarkan jika diucapkan oleh orang yang tidak didukung kepekaan komunitas iman (1 Tesalonika 5:20-21). Mengingat hal ini, mungkin sikap orang Yahudi kuno yang tidak berani mengucapkan bahkan terjemahan kata “ALLAH”—apalagi nama YHWH itu sendiri—menunjukkan hikmat yang seringkali tidak dimiliki orang Kristen. Andai saja kita sedikit lebih berhati-hati dalam menggunakan kata Allah, kita mungkin akan lebih bijaksana untuk tidak mengeklaim mengetahui kehendak Allah, apalagi jika diterapkan pada orang lain.
Hukum Ketiga juga mengingatkan kita bahwa menghormati nama manusia itu penting bagi Allah. Gembala yang Baik “memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya” (Yohanes 10:3), seraya mengingatkan bahwa “siapa yang menyebut orang lain ‘jahil’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Matius 5:22). Mengingat hal ini, kita tidak boleh menyebut nama orang lain dengan sembarangan atau memanggil mereka dengan julukan yang tidak sopan. Kita menyalahgunakan nama orang lain ketika kita memakainya untuk mengumpat, merendahkan, menindas, mengucilkan, atau menipu. Kita menggunakan nama orang lain dengan baik ketika kita memakainya untuk memberi semangat, berterima kasih, membangun solidaritas, dan menyambut. Mengenal dan menyebut nama orang lain saja sudah menyatakan berkat, apalagi jika orang itu sering diperlakukan seperti orang tanpa nama, tak terlihat, atau tidak penting. Tahukah Anda nama orang yang mengosongkan tempat sampah Anda, menjawab panggilan telepon Anda di nomor layanan pelanggan, atau mengemudikan bus yang Anda tumpangi? Meskipun contoh-contoh ini tidak berkaitan dengan nama TUHAN tetapi menyangkut nama-nama orang yang diciptakan menurut gambar-Nya.