Pekerjaan Peradilan di antara Orang Israel (Keluaran 18:1-27)
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Saat dalam perjalanan dari Mesir ke Sinai, Musa berhubungan lagi dengan ayah mertuanya, Yitro. Mantan orang luar bagi bangsa Israel ini memberi nasihat yang sangat dibutuhkan Musa dalam pelaksanaan tugas peradilan di komunitas itu. Pekerjaan penebusan Allah bagi umat-Nya berkembang menjadi pekerjaan peradilan di antara umat-Nya. Bangsa Israel sudah mengalami perlakuan tidak adil di tangan para mandor orang Mesir. Setelah mereka berdiri sendiri, sudah sepatutnya jika mereka mencari jawaban Allah atas pertengkaran-pertengkaran mereka sendiri. Walter Brueggemann mendapati bahwa iman yang alkitabiah bukan hanya tentang menceritakan kisah perbuatan Allah, tetapi juga “tentang kerja keras dan berkelanjutan dalam merawat dan mempraktikkan semangat pemulihan dan pembaruan setiap hari, dan menolak perolehan yang tidak benar setiap hari.”[1]
Salah satu hal pertama tentang Musa yang telah kita pelajari sebelumnya adalah ia ingin menjadi penengah di antara orang-orang yang terlibat pertengkaran. Pada saat itu, ketika Musa mencoba melakukan intervensi, ia malah ditegur dengan kata-kata, “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami?” (Keluaran 2:14). Dalam cerita saat ini, kita justru melihat yang sebaliknya. Musa sedemikian dibutuhkan sebagai pemimpin-hakim sampai banyak orang yang memerlukan keputusannya berkumpul di sekitarnya “dari pagi sampai petang” (Keluaran 18:14; lihat juga Ulangan 1:9-18). Pekerjaan Musa tampaknya memiliki dua aspek. Pertama, ia memberikan keputusan hukum bagi orang-orang yang berselisih. Kedua, ia mengajarkan ketetapan-ketetapan dan perintah-perintah Allah kepada orang-orang yang mencari panduan moral and agama. [2] Yitro melihat bahwa Musa seorang diri saja dalam pekerjaan yang mulia ini, dan ia menganggap seluruh proses itu tak mungkin dapat terus-menerus dilakukan. “Yang kaulakukan itu tidak baik” (Keluaran 18:17). Lagipula, hal itu sangat melelahkan Musa dan juga tidak memuaskan orang-orang yang berusaha ia tolong. Solusi Yitro adalah agar Musa tetap melakukan saja perannya yang unik yang dapat ia lakukan sebagai wakil Allah: menjadi perantara di hadapan Allah bagi bangsa itu, mengajar mereka dan memutuskan perkara-perkara yang sulit. Dan semua perkara lainnya didelegasikan kepada hakim-hakim di bawahnya yang akan melayani di empat jenjang sistem administrasi peradilan.
Kualifikasi para hakim ini menjadi kunci kebijaksanaan rancangan itu, karena mereka tidak dipilih berdasarkan divisi suku mereka atau kedewasaan rohani mereka. Mereka harus memenuhi empat persyaratan (Keluaran 18:21). Pertama, mereka harus terampil. Ungkapan Ibrani untuk “orang yang terampil” (hayil) memiliki konotasi tentang kemampuan, kepemimpinan, manajemen, kebijaksanaan, dan kehormatan. [3]
Kedua, mereka harus “takut akan Allah.” Seperti para bidan di pasal 2, kualifikasi ini kemungkinan bukan kualitas kerohanian secara khusus, tetapi menggambarkan orang yang memiliki pemahaman yang jelas tentang moralitas yang diterima umum yang melampaui batas-batas budaya dan agama. Ketiga, mereka harus “dapat dipercaya." Karena kebenaran adalah konsep yang abstrak dan juga cara berperilaku, orang-orang ini harus memiliki rekam jejak publik tentang karakter dan juga tindakan yang benar. Akhirnya, mereka harus membenci suap (perolehan yang tidak benar). Mereka harus tahu bagaimana dan mengapa korupsi terjadi, memandang rendah tindakan penyogokan dan segala macam subversi, dan secara aktif menjaga proses peradilan dari pencemaran-pencemaran ini.
Pendelegasian sangat penting dalam tugas kepemimpinan. Meskipun Musa secara khusus diberi karunia seorang nabi, negarawan, dan hakim, tetapi ia tidak memiliki karunia yang tidak terbatas. Siapa pun yang berpikir bahwa hanya dirinya yang mampu melakukan pekerjaan Allah dengan baik, telah melupakan arti menjadi manusia. Oleh karena itu, karunia kepemimpinan pada akhirnya adalah karunia membagikan kekuasaan dengan tepat. Seorang pemimpin, seperti Musa, harus memahami kualitas-kualitas yang dibutuhkan, melatih orang-orang yang akan menerima otoritas, dan mengembangkan cara-cara untuk membuat mereka bertanggung jawab. Pemimpin juga perlu dimintai pertanggungjawaban. Yitro melakukan tugas akuntabilitas ini dalam kasus Musa, dan bagian itu sangat blak-blakan dalam menunjukkan bahwa semua nabi Perjanjian Lama yang terbesar pun harus memiliki orang yang berotoritas yang akan menerima pertanggungjawabannya. Kepemimpinan yang bijaksana, tegas, berbelas kasih adalah anugerah Allah yang diperlukan semua komunitas manusia. Namun, kitab Keluaran menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah pemimpin berbakat yang memiliki otoritas atas orang lain, melainkan proses Allah dalam komunitas yang mengembangkan struktur-struktur kepemimpinan yang memungkinkan orang-orang berbakat bisa berhasil. Pendelegasian adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan kapasitas institusi atau komunitas, sekaligus cara untuk mengembangkan para pemimpin masa depan.
Fakta bahwa Musa menerima nasihat ini dengan begitu cepat dan menyeluruh bisa menjadi bukti betapa ia sendiri sudah putus asa. Namun, dalam skala yang lebih luas kita juga dapat melihat bahwa Musa sangat terbuka pada hikmat Allah yang disampaikan padanya melalui orang dari luar bangsa Israel. Observasi ini bisa mendorong orang Kristen untuk menerima dan menghargai masukan dari sejumlah tradisi dan agama, terutama dalam hal kerja. Melakukan hal ini tidak selalu menjadi tanda ketidaksetiaan pada Kristus atau menunjukkan kurangnya keyakinan pada iman kita sendiri. Ini bukan pengakuan yang tidak tepat terhadap pluralisme agama. Sebaliknya, terlalu sering mengutip ayat Alkitab tentang hikmat juga bisa menjadi kesaksian yang buruk, karena orang luar bisa menganggap kita berpikiran sempit atau merasa tidak aman. Orang Kristen sebaiknya memahami seluk-beluk nasihat yang diadopsi, baik yang dari dalam maupun dari luar. Namun, pada analisis terakhirnya kita percaya bahwa “semua kebenaran adalah kebenaran Allah.”[4]