Bangsa Israel di Mesir (Keluaran 1:1-13:16)
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Perlakuan kejam orang Mesir terhadap bangsa Israel menjadi latar belakang dan momentum penebusan mereka. Firaun tidak mengizinkan mereka mengikuti Musa ke padang gurun untuk menyembah TUHAN dan menolak tuntutan kebebasan beragama mereka. Namun, penindasan mereka sebagai pekerja dalam sistem perekonomian di Mesir inilah yang benar-benar menjadi perhatian kita. Allah mendengar rintihan umat-Nya dan melakukan sesuatu tentang hal itu. Namun kita perlu ingat bahwa orang Israel mengeluh bukan karena pekerjaan pada umumnya, tetapi karena kekerasan kerja mereka. Sebagai jawabannya, Allah tidak membawa mereka ke dalam kehidupan yang beristirahat total, tetapi melepaskan mereka dari pekerjaan yang menyesakkan.
Kekerasan Kerja Orang Israel Sebagai Budak di Mesir (Keluaran 1:8-14)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiPekerjaan yang dibebankan orang Mesir kepada orang Israel itu bermotif jahat dan bersifat kejam. Adegan awal menampilkan negeri Mesir yang dipenuhi orang-orang Israel yang sudah beranak-pinak dan bertambah banyak. Ini menggemakan tujuan penciptaan Allah (Kejadian 1:28; 9:1) dan juga janji-Nya kepada Abraham dan keturunannya sebagai umat pilihan-Nya (Kejadian 17:6; 35:11; 47:27). Sebagai bangsa, mereka ditentukan untuk memberkati dunia. Di bawah pemerintahan sebelumnya, bangsa Israel mendapat izin kerajaan untuk tinggal dan bekerja di negeri itu. Namun, raja Mesir yang baru merasa, jumlah mereka yang besar akan mengancam keamanan nasional, sehingga mereka lalu memutuskan untuk bertindak “cerdik” terhadap mereka (Keluaran 1:10). Kita tidak tahu apakah orang Israel benar-benar menjadi ancaman atau tidak. Penekanannya ada pada ketakutan destruktif Firaun yang menyebabkannya mula-mula memperburuk kondisi kerja mereka dan kemudian melakukan pembunuhan bayi laki-laki untuk menahan lajunya pertumbuhan populasi mereka.
Bekerja bisa membebani secara fisik dan mental, tetapi ini tidak membuatnya menjadi salah. Yang membuat situasi di Mesir tak tertahankan bukan cuma perbudakannya saja tetapi juga penindasannya yang ekstrem. Orang Mesir memaksa orang Israel bekerja “dengan kejam” (befarekh, Keluaran 1:13,14), dan membuat hidup mereka “pahit” (marar, Keluaran 1:14) dengan perkerjaan yang “berat” (qasheh , dalam arti “kejam”- Keluaran 1:14; 6:8). Akibatnya, orang Israel merana dalam “kesengsaraan” dan “penderitaan” (Keluaran 3:7) dan merasa “putus asa” (Keluaran 6:8). Bekerja, yang merupakan salah satu tujuan utama dan sukacita hidup manusia (Kejadian 1:27-31; 2:15), berubah menjadi kesengsaraan akibat kerasnya penindasan.
Pekerjaan Para Bidan dan Ibu (Keluaran 1:15-2:10)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDi tengah perlakuan kejam itu, bangsa Israel tetap menaati perintah Allah untuk beranak-pinak dan bertambah banyak (Kejadian 1:28). Ini berarti melahirkan anak-anak, yang pada gilirannya bergantung pada pekerjaan para bidan. Selain kehadirannya di dalam Alkitab, pekerjaan para bidan diterima baik di Mesopotamia dan Mesir kuno. Para bidan membantu wanita-wanita dalam persalinan, memotong tali pusat bayi, memandikan dan menyerahkan anak itu kepada ibu dan ayahnya.
Para bidan dalam cerita ini memiliki rasa takut akan Allah yang menyebabkan mereka tidak mematuhi perintah kerajaan untuk membunuh semua anak laki-laki yang lahir dari perempuan Ibrani (Keluaran 1:15-17). Pada umumnya, “takut akan Allah” (dan ungkapan-ungkapan terkait) di Alkitab merujuk pada relasi yang sehat dan taat dengan Allah yang membuat perjanjian dengan Israel (Ibrani: YHWH). Rasa “takut akan Allah” mereka lebih kuat dari segala ketakutan yang mungkin ditimbulkan Firaun Mesir pada mereka. Selain itu, keberanian mereka kemungkinan muncul dari pekerjaan mereka. Apakah orang-orang yang sehari-hari mengantar kehidupan baru dalam kelahiran itu menghargai kehidupan sedemikian tingginya sampai membunuh menjadi hal yang mustahil, sekalipun diperintahkan oleh seorang raja?
Ibu Musa, Yokhebed (Keluaran 6:19), adalah seorang wanita lain yang menghadapi pilihan yang tampaknya mustahil dan menemukan solusi kreatif. Hampir tak bisa dibayangkan bagaimana ia bisa ditolong dengan diam-diam dan berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki, disusul dengan kesusahannya karena harus menaruh bayinya di sungai, dan melakukannya dengan cara yang benar-benar akan menyelamatkan hidupnya. Sejajar dengan bahtera Nuh—kata Ibrani untuk “keranjang/peti pandan” (Keluaran 2:3) hanya digunakan satu kali di bagian lain Alkitab, yaitu untuk “bahtera” Nuh – yang memberitahu kita bahwa Allah sedang bertindak bukan saja untuk menyelamatkan seorang bayi laki-laki, atau bahkan satu bangsa, tetapi juga untuk menebus seluruh ciptaan melalui Musa dan bangsa Israel. Sebagaimana Allah memberikan ganjaran kepada para bidan itu, Allah juga menunjukkan kemurahan kepada ibu Musa. Ia mendapatkan kembali putranya dan bisa merawatnya sendiri sampai anak itu menjadi cukup besar untuk diadopsi sebagai anak putri Firaun. Pekerjaan baik melahirkan dan merawat anak dikenal sangat rumit, menuntut dan patut dipuji (Amsal 31:10-31). Di dalam kitab Keluran, kita tidak membaca pergumulan batin apa pun yang dialami Yokhebed, sang pahlawan wanita tanpa tanda jasa. Dari perspektif cerita, kehidupan Musa adalah pokok utama. Namun, Alkitab juga kemudian memuji baik Yokhebed maupun Amran, ayah Musa, atas cara mereka mempraktikkan iman mereka (Ibrani 11:23).
Pekerjaan melahirkan dan merawat anak seringkali kurang dianggap. Para ibu, khususnya, sering mendapat pesan bahwa melahirkan anak tidaklah sepenting dan patut dipuji seperti pekerjaan yang lain. Namun, ketika kitab Keluaran menyampaikan cerita tentang cara menaati Allah, hal pertama yang disampaikan pada kita adalah betapa pentingnya melahirkan, merawat, melindungi dan menolong anak-anak. Tindakan keberanian yang pertama, yang dalam kitab ini dipenuhi dengan perbuatan-perbuatan yang berani, adalah keberanian seorang ibu, keluarganya dan para bidan yang menyelamatkan anaknya.
Panggilan Allah kepada Musa (Keluaran 2:11-3:22)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiMeskipun Musa orang Ibrani, ia dibesarkan dalam keluarga kerajaan Mesir sebagai cucu Firaun. Rasa muaknya terhadap ketidakadilan meledak menjadi serangan maut terhadap seorang Mesir yang ia dapati memukul pekerja Ibrani. Tindakan ini menjadi perhatian raja Firaun, sehingga Musa lalu melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya dan menjadi gembala di Midian, sebuah wilayah yang jauhnya beberapa ratus mil di timur Mesir, sisi lain Semenanjung Sinai. Kita tidak tahu pasti berapa lama Musa tinggal di sana, tetapi selama waktu itu ia menikah dan punya anak. Selain itu, dua hal penting terjadi. Raja Mesir wafat, dan Allah mendengar seruan umat-Nya yang tertindas dan mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub (Keluaran 2:23-25). Tindakan mengingat ini tidak berarti Allah sudah melupakan umat-Nya. Ini hanya menandakan bahwa Dia akan bertindak untuk kepentingan mereka.[1] Untuk itu, Dia akan memanggil Musa.
Panggilan Allah kepada Musa datang ketika Musa sedang bekerja. Cerita tentang proses pemanggilan ini meliputi enam unsur yang membentuk pola yang jelas dalam kehidupan para pemimpin dan nabi-nabi lain dalam Alkitab. Karena itu, penting bagi kita untuk mempelajari cerita panggilan ini dan memikirkan implikasinya bagi kita saat ini, khususnya dalam konteks kerja.
Pertama, Allah menjumpai Musa dan menarik perhatiannya melalui peristiwa semak duri yang menyala (Keluaran 3:2-5). Semak yang terbakar di semi padang gurun bukan hal yang luar biasa, tetapi Musa tertarik oleh kejadian yang satu ini. Musa mendengar namanya dipanggil dan ia menjawab, “Ya, ini aku” (Keluaran 3:4). Ini adalah pernyataan tentang kesediaan, bukan tempat keberadaan. Kedua, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah bapa-bapa leluhurnya dan menyampaikan maksud-Nya untuk membebaskan umat-Nya dari Mesir dan membawanya ke negeri yang telah Dia janjikan kepada Abraham (Keluaran 3:6-9). Ketiga, Allah mengutus
Musa kepada Firaun untuk membawa umat Allah keluar dari Mesir (Keluaran 3:10). Keempat, Musa keberatan (Keluaran 3:11). Meskipun ia baru saja mendengar pewahyuan luar biasa tentang siapa yang berbicara padanya saat itu, kekhawatirannya seketika itu adalah, “Siapakah aku ini?” Untuk mengatasi hal ini, Allah menenteramkan hati Musa dengan janji penyertaan-Nya sendiri (Keluaran 3:12a). Akhirnya, Allah berbicara tentang tanda peneguhan (Keluaran 3:12b).
Unsur-unsur yang sama ini tampak di sejumlah cerita panggilan lain di Alkitab – seperti dalam panggilan Gideon, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan beberapa murid Yesus. Ini bukan pola yang pasti, karena banyak cerita panggilan lain di Alkitab memiliki pola yang berbeda. Namun, pola ini menunjukkan bahwa panggilan Allah seringkali datang melalui serangkaian perjumpaan yang menuntun seseorang di jalan Allah dari waktu ke waktu.
Hakim | Nabi | Nabi | Nabt | Murid-murid Yesus di kitab Matius | |
Perjumpaan | 6:11b-12a | 6:1-2 | 1:4 | 1:1-28a | 28:16-17 |
Perkenalan | 6:12b-13 | 6:3-7 | 1:5a | 1:28b-2:2 | 28:18 |
Penugasan | 6:14 | 6:8-10 | 1:5b | 2:3-5 | 28:19-20a |
Keberatan | 6:15 | 6:11a | 1:6 | 2:6, 8 | |
Penenteraman | 6:16 | 6:11b-13 | 1:7–8 | 2:6-7 | 28:20b |
Tanda Peneguhan | 6:17-21 | 1:9-10 | 2:9-3:2 | Kemungkinan kitab Kisah Para Rasul |
Perhatikan bahwa panggilan-panggilan ini bukan melulu untuk pekerjaan keimaman atau kerohanian di suatu jemaat. Gideon adalah seorang pemimpin militer; Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel adalah para kritikus sosial; dan Yesus seorang raja (meskipun tidak dalam arti yang biasa). Di banyak gereja saat ini, istilah “panggilan” dibatasi pada pekerjaan-pekerjaan kerohanian, padahal tidak demikian halnya di dalam Alkitab, dan pastinya di kitab Keluaran. Musa sendiri bukan seorang imam atau pemimpin agama (itu peran Harun dan Miryam), tetapi seorang gembala, negarawan dan gubernur. Pertanyaan Allah kepada Musa, "Apa yang ada di tanganmu itu?" (Keluaran 4:2) memfungsikan-kembali alat yang biasa dipakai Musa untuk menggembalakan domba untuk penggunaan yang tak pernah ia bayangkan mungkin terjadi (Keluaran 4:3-5).
Pekerjaan Penebusan Allah bagi Israel (Keluaran 5:1-6:28)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDi dalam kitab Keluaran, Allah adalah Pekerja esensial (yang utama dan terpenting). Sifat dan tujuan pekerjaan ilahi itu membentuk agenda untuk pekerjaan Musa dan melaluinya, untuk pekerjaan umat Allah. Panggilan Allah pada Musa pada awalnya berisi penjelasan tentang pekerjaan Allah. Panggilan ini menggerakkan Musa untuk berbicara atas nama TUHAN kepada Firaun dan berkata, “Biarkanlah umat-Ku pergi” (Keluaran 5:1). Penolakan Firaun bukan cuma secara verbal; ia bahkan menindas orang Israel lebih kejam lagi dari sebelumnya. Di akhir episode ini, bangsa Israel sendiri jadi berbalik menyerang Musa (Keluaran 5:20-21). Pada saat krusial inilah, dalam rangka menjawab pertanyaan Musa kepada Allah tentang semua upaya ini, Allah menjelaskan rencana pekerjaan-Nya. Yang kita baca di Keluaran 6:2-8 bukan hanya menyangkut konteks penindasan bangsa Israel di Mesir saat itu, tetapi juga merupakan agenda yang mencakup seluruh pekerjaan Allah dalam Alkitab.[1] Semua orang Kristen perlu mengetahui dengan jelas cakupan pekerjaan Allah, karena hal ini akan menolong kita mengerti apa artinya berdoa “Datanglah kerajaan-Mu dan jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Matius 6:10). Penggenapan rancangan ini adalah urusan Allah. Untuk menyelesaikannya, Dia akan melibatkan banyak sekali umat-Nya, bukan hanya orang-orang yang melakukan pekerjaan “religius.” Memiliki pemahaman yang lebih jelas tentang pekerjaan Allah akan memperlengkapi kita untuk memikirkan dengan lebih baik bukan saja sifat pekerjaan kita, tetapi juga cara yang dirancang Allah untuk kita melakukannya.
Agar dapat lebih mengapresiasi ayat kunci ini, kita akan membuat beberapa observasi singkat tentang hal ini dan kemudian menunjukkan bagaimana relevansinya pada teologi kerja. Setelah memberikan jawaban awal yang meyakinkan atas pertanyaan Musa yang menuduh tentang misi Allah (Keluaran 5:22-6:1), Allah membingkai jawaban-Nya yang selanjutnya dengan perkataan “Akulah TUHAN” di awal dan di akhir (Keluaran 6:1,7). Frasa kunci ini menandai batas paragraf itu dan membuat isinya menjadi prioritas yang sangat tinggi. Para pembaca harus benar-benar memerhatikan bahwa perkataan ini tidak menyatakan tentang apa Allah itu dalam arti sebutan. Perkataan ini menyatakan tentang nama Allah sendiri dan karena itu berbicara tentang siapa Dia.[2] Dia adalah Allah pembuat-perjanjian yang menepati-janji yang telah menampakkan diri kepada bapa-bapa leluhur (Abraham, Ishak dan Yakub). Oleh karena itu, pekerjaan yang akan Dia lakukan bagi umat-Nya didasarkan pada maksud-maksud yang telah Dia sampaikan kepada mereka. Yaitu, untuk membuat keturunan Abraham menjadi sangat banyak, membuat namanya masyhur, memberkatinya agar melalui Abraham, Allah akan memberkati seluruh keluarga di bumi (Kejadian 12:2-3).
Pekerjaan Allah lalu muncul dalam empat bagian. Keempat tujuan penebusan Allah ini muncul lagi dalam berbagai hal di sepanjang Perjanjian Lama dan bahkan memberi bentuk pada puncak pekerjaan penebusan Allah dalam Yesus Kristus. Yang pertama adalah pekerjaan pembebasan. “Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir dan melepaskan kamu dari perbudakan mereka. Aku akan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang besar” (Keluaran 6:5). Yang melekat pada pekerjaan pembebasan ini adalah kebenaran yang nyata bahwa dunia adalah tempat berbagai macam penindasan. Kita kadang memakai kata keselamatan untuk menjelaskan tindakan Allah ini, tetapi kita harus hati-hati agar tidak memahaminya dalam arti penyelamatan dari bumi ke surga (dan tentu saja bukan dari dunia materi ke alam roh), atau hanya sebagai pengampunan dosa. Allah Israel bisa dikatakan menyelamatkan umat-Nya dengan masuk ke dunia mereka dan membuat perubahan “di lapangan.” Kitab Keluaran tidak hanya menunjukkan pembebasan Allah atas bangsa Israel dari tangan Firaun Mesir, tetapi juga menyiapkan panggung untuk Raja Mesianis, Yesus, membebaskan umat-Nya dari dosa dan mengalahkan Iblis, tirani kejahatan tertinggi (Matius 1:21; 12:28).
Kedua, Allah akan membentuk komunitas ilahi. “Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Keluaran 6:6a). Allah menyelamatkan umat-Nya bukan supaya mereka dapat hidup sesuka-suka mereka, atau sebagai individu-individu tersendiri. Dia bermaksud menciptakan suatu komunitas yang berbeda secara kualitatif, yang di dalamnya umat-Nya akan hidup bersama Dia dan satu sama lain dalam kesetiaan perjanjian. Setiap bangsa di zaman kuno memiliki “allah” masing-masing, tetapi identitas Israel sebagai umat Allah mencakup gaya hidup yang taat pada semua ketetapan, perintah dan hukum Allah (Ulangan 26:17-18). Ketika nilai-nilai dan tindakan-tindakan ini mewarnai hubungan mereka dengan Allah dan satu sama lain (bahkan dengan orang-orang di luar perjanjian itu), bangsa Israel akan semakin menunjukkan apa sesungguhnya arti menjadi umat Allah. Lagi-lagi, hal ini membentuk latar belakang bagi Yesus yang akan membangun “gereja”-Nya, bukan sebagai bangunan fisik yang terdiri dari batu atau bata, tetapi sebagai komunitas baru dengan murid-murid dari segala suku bangsa (Matius 16:18; 28:19).
Ketiga, TUHAN akan membangun relasi yang tak berkesudahan antara Dia dan umat-Nya. “Kamu akan mengetahui bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir” (Keluaran 6:6b). Semua pernyataan tujuan Allah yang lain dimulai dengan kata “Aku”, kecuali yang satu ini. Di sini fokusnya ada pada “kamu”. Allah mau umat-Nya memiliki pengalaman berelasi dengan Allah yang sudah bermurah hati menyelamatkan mereka. Bagi kita, pengetahuan tampaknya praktis sama dengan informasi. Konsep pengetahuan yang alkitabiah mencakup pemahaman ini, dan juga pengalaman antarpribadi dalam mengenal orang lain. Berkata bahwa Allah tidak membuat diri-Nya “dikenal” Abraham sebagai “TUHAN” tidak berarti Abraham tidak mengenal nama ilahi “YHWH” (Kejadian 13:4; 21:33). Ini cuma berarti bahwa Abraham dan keluarganya belum mengalami secara pribadi pentingnya nama ini sebagai gambaran Allah Pemegang-janji yang akan berperang bagi umat-Nya dan membebaskan mereka dari perbudakan berskala nasional. [3] Pada akhirnya, nama ini disandang oleh Yesus, yang disebut “Imanuel” yang artinya “Allah menyertai kita” dalam relasi (Matius 1:23).
Keempat, Allah mau umat-Nya mengalami kehidupan yang baik. “Aku akan membawa kamu ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah untuk diberikan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub; Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu” (Keluaran 6:7). Allah berjanji memberikan tanah Kanaan kepada Abraham, tetapi tidaklah tepat jika kita menganggap “tanah/ negeri” ini sama dengan sebatas konsep kita tentang “wilayah.” Tanah/negeri ini adalah negeri perjanjian dan ketetapan. Gambaran yang tetap dan positif tentang negeri itu sebagai “negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Keluaran 3:8) menyoroti sifat simbolisnya sebagai tempat hidup bersama Allah dan umat Allah dalam kondisi-kondisi ideal, yang kita pahami sebagai “hidup yang berkelimpahan.”[4] Di sini lagi-lagi kita melihat bahwa pekerjaan keselamatan Allah adalah melakukan pembaruan seluruh ciptaan-Nya - lingkungan fisik, manusia, budaya, ekonomi, semuanya. Inilah juga yang menjadi misi Yesus ketika Dia memprakarsai datangnya kerajaan Allah di bumi, tempat orang yang lemah lembut mewarisi bumi (negeri itu) dan mengalami hidup yang kekal (Matius 5:5; Yohanes 17:3).[5] Misi ini akan mendapat penyelesaiannya di Yerusalem Baru (Wahyu 21 dan 22). Dengan demikian, kitab Keluaran menyiapkan jalan untuk keseluruhan isi Alkitab selanjutnya.
Pikirkanlah bagaimana pekerjaan kita saat ini bisa mengungkapkan keempat tujuan penebusan ini. Pertama, kehendak Allah adalah membebaskan manusia dari penindasan dan kondisi-kondisi hidup yang berbahaya. Sebagian pekerjaan ini menyelamatkan orang dari bahaya-bahaya secara fisik; sebagian lainnya berfokus pada mengatasi trauma emosional dan psikologis. Pekerjaan pemulihan menangani orang satu per satu; orang yang menemukan solusi-solusi politik untuk kebutuhan-kebutuhan kita dapat memberkati seluruh masyarakat dan golongan. Para pekerja di bidang penegakan hukum dan sistem peradilan harus bertujuan mengendalikan dan menghukum orang yang melakukan kejahatan, melindungi masyarakat, dan memerhatikan para korban. Mengingat begitu banyak dan beragamnya penindasan di dunia, selalu akan ada banyak peluang dan cara untuk melakukan pekerjaan pembebasan.
Tujuan kedua dan ketiga (komunitas dan relasi) saling berkaitan erat. Pekerjaan baik yang memajukan perdamaian dan keharmonisan sejati di surga akan meningkatkan belas kasihan dan keadilan di bumi. Inilah inti pengajaran yang disampaikan Paulus kepada jemaat di Korintus: bahwa, melalui Kristus, Allah telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan memercayakan pesan dan pelayanan pendamaian itu kepada kita (2 Korintus 5:16-20). Orang Kristen sudah mengalami pendamaian ini dan karenanya memiliki motif dan sarana untuk melakukan pekerjaan baik ini. Pekerjaan penginjilan dan pertumbuhan rohani menghargai satu aspek bidang ini; pekerjaan pendamaian dan keadilan menghargai aspek antarpribadi. Intinya, keduanya tak dapat dipisahkan dan orang-orang yang bekerja di bidang-bidang ini sebaiknya mengingat sifat holistik pekerjaan Allah. Yesus mengajarkan bahwa karena kita adalah terang dunia, kita harus membiarkan terang kita bercahaya di depan orang lain (Matius 5:14-16).
Membangun komunitas dan relasi bisa menjadi obyek pekerjaan kita, seperti dalam kasus sebagai organisator masyarakat, pekerja kaum muda, pemimpin masyarakat, perancang acara, pekerja media sosial, orangtua dan anggota keluarga, dan banyak lagi yang lainnya. Namun, komunitas dan relasi juga bisa menjadi unsur pekerjaan kita, apa pun pekerjaan kita itu. Ketika kita menyambut dan membantu pekerja baru, bertanya dan mendengarkan ketika orang lain berbicara tentang hal-hal penting, mau bersusah-susah menemui seseorang secara pribadi, mengirim kartu ucapan yang memberi semangat, membagikan foto kenangan, membawa makanan sehat untuk dibagikan, melibatkan seseorang dalam percakapan, atau sejumlah tindakan bersahabat lainnya, kita sedang memenuhi dua tujuan pekerjaan ini, hari demi hari.
Akhirnya, pekerjaan baik memajukan kehidupan yang baik. Allah memimpin umat-Nya keluar dari Mesir agar dapat membawa mereka masuk ke Tanah Perjanjian, tempat mereka bisa tinggal, hidup dan berkembang. Namun,, yang dialami bangsa Israel di sana masih jauh dari yang ideal menurut Allah. Begitu pula, yang dialami orang Kristen di dunia juga tidak ideal. Janji untuk masuk ke peristirahatan Allah masih terbuka (Ibrani 4:1). Kita masih menantikan langit yang baru dan bumi yang baru. Namun, banyak hukum perjanjian yang Allah berikan melalui Musa berkaitan dengan perilaku etika terhadap satu sama lain. Karena itu, penting sekali untuk mengungkapkan berkat Allah melalui cara kita hidup dan bekerja dengan satu sama lain. Jika dipandang dari sisi negatif, bagaimana mungkin kita dapat mengharapkan seluruh kaum di muka bumi mengalami berkat Allah melalui kita (keturunan Abraham dalam iman kepada Kristus), jika kita sendiri mengabaikan perintah-perintah Allah tentang cara hidup dan melakukan pekerjaan kita? Sebagaimana ditulis Christopher Wright, “Umat Allah dalam kedua perjanjian dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Dan tidak akan ada terang bagi bangsa-bangsa yang tidak bercahaya dalam hidup orang-orang kudus yang sudah diubahkan.”[6] Dengan demikian jelaslah bahwa “kehidupan yang baik” yang dimaksud di sini tidak ada hubungannya dengan kemakmuran yang mementingkan diri sendiri secara tak terkendali atau konsumerisme yang mencolok mata, karena kehidupan yang baik ini mencakup spektrum kehidupan yang luas sebagaimana yang dimaksudkan Allah: penuh kasih, keadilan dan kemurahan.
Musa dan Harun Menyatakan Hukuman Allah kepada Firaun (Keluaran 7:1-12:51)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiAllah memulai tahap pertama—pembebasan—dengan mengutus Musa dan Harun kepada Firaun untuk “membiarkan orang Israel pergi dari negerinya” (Keluaran 7:2). Untuk melakukan tugas ini, Allah memakai keterampilan alami Harun yang pandai bicara (Keluaran 4:14; 7:1). Dia juga memperlengkapi Harun dengan keterampilan yang melebihi keterampilan para pejabat tinggi Mesir (Keluaran 7:10-12). Ini mengingatkan kita bahwa misi Allah meliputi perkataan dan perbuatan.
Firaun menolak memenuhi perintah Allah, melalui Musa, untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan. Pada waktunya, Musa menyatakan hukuman Allah kepada Firaun melalui serangkaian malapetaka (tulah) yang makin lama makin ganas (Keluaran 7:17-10:29). Tulah-tulah ini menimbulkan kesengsaraan pribadi. Yang lebih penting, tulah-tulah ini menurunkan secara drastis kapasitas produksi bangsa dan negeri Mesir. Penyakit-penyakit membuat hewan ternak pada mati (Keluaran 9:6). Panen-panen gagal dan padang-padang rusak (Keluaran 9:25). Hama-hama menyerang berbagai ekosistem (Keluaran 8:6, 24; 10:13-15). Di dalam kitab Keluaran, malapetaka ekologis merupakan pembalasan Allah atas kekejaman dan penindasan Firaun. Di dunia masa kini, penindasan politik dan ekonomi juga merupakan faktor utama dalam kerusakan lingkungan dan malapetaka ekologis. Sungguh bodoh jika kita berpikir kita bisa mengambil alih otoritas Musa dan menyatakan hukuman Allah dalam hal-hal ini. Namun, dari sini kita dapat melihat bahwa sebagaimana ekonomi, politik, budaya dan masyarakat memerlukan penebusan, demikian juga lingkungan hidup.
Setiap peringatan-yang-diwujudkan ini meyakinkan Firaun untuk melepaskan bangsa Israel, tetapi begitu setiap tulah berlalu, ia berubah pikiran lagi. Pada akhirnya, Allah mendatangkan tulah yang membunuh setiap anak sulung manusia dan hewan di Mesir (Keluaran 12:29-30). Efek mengerikan dari perbudakan adalah "mengeraskan" hati terhadap belas kasihan, keadilan dan bahkan pertahanan-diri, seperti yang segera didapati Firaun (Keluaran 11:10). Firaun akhirnya menerima tuntutan Allah untuk membiarkan bangsa Israel pergi. Orang-orang Israel yang pergi meninggalkan Mesir ini “merampasi” permata, emas, perak dan kain orang Mesir (Keluaran 12:35-36). Ini membalikkan akibat-akibat perbudakan, yang merupakan perampasan yang dilegalkan untuk mengeksploitasi pekerja. Ketika Allah membebaskan manusia, Dia memulihkan hak mereka untuk bekerja dan mendapatkan hasil yang dapat mereka nikmati (Yesaya 65:21-22). Bekerja dan kondisi-kondisi dalam bekerja adalah hal yang menjadi perhatian tertinggi Allah.