Bootstrap

Kekerasan Kerja Orang Israel Sebagai Budak di Mesir (Keluaran 1:8-14)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Fence 72864 620

Pekerjaan yang dibebankan orang Mesir kepada orang Israel itu bermotif jahat dan bersifat kejam. Adegan awal menampilkan negeri Mesir yang dipenuhi orang-orang Israel yang sudah beranak-pinak dan bertambah banyak. Ini menggemakan tujuan penciptaan Allah (Kejadian 1:28; 9:1) dan juga janji-Nya kepada Abraham dan keturunannya sebagai umat pilihan-Nya (Kejadian 17:6; 35:11; 47:27). Sebagai bangsa, mereka ditentukan untuk memberkati dunia. Di bawah pemerintahan sebelumnya, bangsa Israel mendapat izin kerajaan untuk tinggal dan bekerja di negeri itu. Namun, raja Mesir yang baru merasa, jumlah mereka yang besar akan mengancam keamanan nasional, sehingga mereka lalu memutuskan untuk bertindak “cerdik” terhadap mereka (Keluaran 1:10). Kita tidak tahu apakah orang Israel benar-benar menjadi ancaman atau tidak. Penekanannya ada pada ketakutan destruktif Firaun yang menyebabkannya mula-mula memperburuk kondisi kerja mereka dan kemudian melakukan pembunuhan bayi laki-laki untuk menahan lajunya pertumbuhan populasi mereka.

Bekerja bisa membebani secara fisik dan mental, tetapi ini tidak membuatnya menjadi salah. Yang membuat situasi di Mesir tak tertahankan bukan cuma perbudakannya saja tetapi juga penindasannya yang ekstrem. Orang Mesir memaksa orang Israel bekerja “dengan kejam” (befarekh, Keluaran 1:13,14), dan membuat hidup mereka “pahit” (marar, Keluaran 1:14) dengan perkerjaan yang “berat” (qasheh , dalam arti “kejam”- Keluaran 1:14; 6:8). Akibatnya, orang Israel merana dalam “kesengsaraan” dan “penderitaan” (Keluaran 3:7) dan merasa “putus asa” (Keluaran 6:8). Bekerja, yang merupakan salah satu tujuan utama dan sukacita hidup manusia (Kejadian 1:27-31; 2:15), berubah menjadi kesengsaraan akibat kerasnya penindasan.