Bootstrap

Introduksi Kitab Keluaran

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Plane 78115 620

Kitab Keluaran diawali dan diakhiri dengan orang Israel yang bekerja. Di awal kitab, orang Israel bekerja untuk orang Mesir. Di akhir kitab, mereka menyelesaikan pekerjaan membangun tabernakel/kemah suci menurut perintah TUHAN (Keluaran 40:33). Allah tidak membebaskan bangsa Israel dari bekerja. Dia membebaskan bangsa Israel untuk bekerja. Allah melepaskan mereka dari pekerjaan yang menindas (penindasan) raja Mesir yang tidak percaya Tuhan, dan memimpin mereka kepada pekerjaan baru dalam kerajaan-Nya yang penuh kasih karunia dan kudus. Meskipun nama kitab ini dalam Alkitab orang Kristen disebut “Keluaran,” yang berarti “jalan keluar”[1] orientasi-ke-depan kitab Keluaran bisa secara sah membuat kita menyimpulkan bahwa kitab ini sebenarnya tentang jalan masuk, karena menceritakan masuknya bangsa Israel ke dalam perjanjian Musa yang akan membentuk eksistensi mereka, bukan saja saat mengembara di padang gurun sekitar Semenanjung Sinai, tetapi juga saat mereka hidup dan menetap di Tanah Perjanjian. Kitab ini menyatakan bagaimana bangsa Israel harus mengenal Allah mereka, dan bagaimana bangsa ini harus bekerja dan beribadah di negeri mereka yang baru. Dalam segala hal, bangsa Israel harus ingat bahwa kehidupan mereka di bawah Allah akan berbeda dan lebih baik daripada kehidupan bangsa-bangsa lain yang menyembah dewa-dewa Kanaan. Saat ini pun, apa yang kita lakukan dalam bekerja muncul dari mengapa kita melakukannya dan untuk siapa sebenarnya kita melakukannya. Kita biasanya tidak perlu mencari jauh-jauh ke dalam masyarakat untuk menemukan contoh-contoh pekerjaan kasar dan menekan. Tentu saja Allah mau kita menemukan cara-cara yang lebih baik dalam melakukan pekerjaan dan memperlakukan orang lain. Namun, jalan masuk ke dalam cara bertindak yang baru itu didapat dari melihat diri kita sebagai penerima keselamatan Allah, mengetahui apa yang dikerjakan Allah, dan melatih diri kita sendiri untuk menaati perkataan-Nya.

Kitab Keluaran dimulai sekira empat ratus tahun setelah akhir kitab Kejadian. Di dalam kitab Kejadian, Mesir merupakan tempat yang ramah, tempat Allah pada akhirnya meninggikan Yusuf agar ia dapat menyelamatkan hidup keturuan Abraham (Kejadian 50:20). Hal ini sesuai dengan janji-janji Allah yang akan membuat Abraham menjadi bangsa yang besar, memberkatinya dan menjadikannya berkat bagi orang lain, membuat namanya masyhur, dan memberkati seluruh keluarga di bumi melaluinya (Kejadian 12:2-3). Namun, di dalam kitab Keluaran, Mesir adalah tempat penindasan, di mana perkembangan orang Israel menimbulkan bahaya kematian. Orang Mesir hampir tidak melihat orang Israel sebagai berkat ilahi, meskipun mereka tidak mau melepaskan tenaga budak mereka. Pada akhirnya, penyelamatan bangsa Israel di Laut Merah menimbulkan banyak korban jiwa di pihak Firaun dan rakyatnya.Mengingat janji-janji Allah kepada keluarga Abraham serta rencana Allah untuk memberkati bangsa-bangsa, umat Allah dalam kitab Keluaran sangat banyak mengalami masa transisi. Jumlah orang Israel yang sangat besar menunjukkan kemurahan Allah, tetapi generasi anak laki-laki berikutnya menghadapi ancaman kepunahan (Keluaran 1:15-16). Bangsa itu secara keseluruhan belum berada di negeri yang Allah janjikan kepada mereka.

Seluruh kitab Taurat menggemakan tema penggenapan yang belum lengkap ini. Janji-janji Allah kepada keturunan Abraham, relasi yang berkenan pada Allah, dan negeri yang akan didiami semuanya mengungkapkan rencana-rencana Allah, tetapi semuanya masih dalam keadaan bahaya tertentu di dalam cerita itu.[2] Di antara kelima kitab Taurat, kitab Keluaran secara khusus mengangkat unsur relasi dengan Allah, baik saat Allah membebaskan umat-Nya dari Mesir maupun saat Dia mengadakan perjanjian dengan mereka di Sinai.[3] Hal ini sangat penting dalam kita membaca kitab ini untuk mendapatkan wawasan-wawasan tentang kerja pada saat ini. Kita akan menghargai bentuk dan isi kitab ini jika kita mengingat bahwa relasi kita dengan Allah melalui Yesus Kristus berawal dari yang kita baca di sini, dan itu akan mengorientasikan seluruh hidup dan pekerjaan kita di sekitar maksud dan rencana Allah.

Untuk memahami karakter Israel sebagai bangsa dalam masa transisi, kita akan mengupas kitab ini dan memeriksa kontribusinya pada teologi kerja berdasarkan tahap-tahap perjalanannya secara geografis mulai dari Mesir, Laut Merah, dalam perjalanan menuju Sinai, dan sampai akhirnya tiba di Sinai.