Bootstrap

Hukum Allah dan Penerapannya (Ulangan 4:44–30:20)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Drip 8763 620

Kitab Ulangan dilanjutkan dengan wejangan kedua yang merupakan bagian utama kitab ini. Bagian ini berpusat pada perjanjian Allah dengan Israel, terutama pada Hukum, atau prinsip-prinsip dan perintah-perintah yang harus ditaati orang Israel. Setelah narasi pendahuluan (Ulangan 4:44-49), wejangan itu sendiri terdiri dari tiga bagian. Pada bagian pertama, Musa menguraikan tentang Sepuluh Hukum (Ulangan 5:1-11:33). Pada bagian kedua, ia menjelaskan secara rinci “ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan” yang harus dipatuhi bangsa Israel (Ulangan 12:1-26:19). Pada bagian ketiga, Musa menjelaskan berkat-berkat yang akan dialami bangsa Israel jika mereka setia memegang perjanjian, dan kutuk-kutuk yang akan menimpa mereka jika mereka tidak setia (Ulangan 27:1-28:68). Jadi, pola wejangan kedua ini pertama-tama memberikan prinsip-prinsip mengatur yang lebih luas (Ulangan 5:1-11:32), dilanjutkan dengan peraturan-peraturan khusus (Ulangan 12:1-26:19), dan disusul dengan konsekuensi-konsekuensi ketaatan atau ketidaktaatan (Ulangan 27:1-28:68).

Sepuluh Hukum (Ulangan 5:6-21)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sepuluh Hukum memberikan kontribusi yang sangat penting pada teologi kerja. Dasa Titah ini menjelaskan persyaratan dasar perjanjian Allah dengan Israel dan merupakan prinsip-prinsip pokok yang mengatur bangsa dan pekerjaan warganya. Penjelasan Musa dimulai dengan pernyataan yang paling mengesankan dari kitab itu, “Dengarlah hai orang Israel: TUHANLAH Allah kita, TUHAN itu esa. Kasihilah TUHAN Allahmu dengen segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:4-5). Ketika berabad-abad kemudian diucapkan oleh Yesus, perkataan ini menjadi Hukum yang Terutama dari seluruh Alkitab. Yesus lalu menambahkan kutipan dari Imamat 19:18, “Perintah yang kedua yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-40). Meskipun perintah terbesar “kedua” ini tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam kitab Ulangan, kita akan melihat bahwa Sepuluh Hukum Allah benar-benar mengarahkan kita untuk mengasihi Allah dan juga sesama.

Bagian ini hampir sama dengan Keluaran 20:1-17— selain variasi tatabahasanya—kecuali perbedaan tertentu pada Hukum Keempat (tentang memelihara dan menguduskan hari Sabat), Hukum Kelima (tentang menghormati orangtua), dan Hukum Keenam (tentang mencuri). Menariknya, perbedaan dalam perintah-perintah ini justru berbicara tentang kerja. Kita akan mengulangi tafsiran dari kitab Keluaran dan Kerja di sini, dengan tambahan yang menjelaskan perbedaan-perbedaan antara yang tertulis dalam kitab Keluaran dan kitab Ulangan.

“Jangan Ada padamu Ilah Lain di hadapan-Ku” (Keluaran 20:3; Ulangan 5:7)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Hukum/Perintah pertama mengingatkan kita bahwa semua yang ada dalam kitab Taurat muncul dari kasih kita kepada Allah, yang merupakan tanggapan terhadap kasih-Nya pada kita. Kasih ini ditunjukkan Allah dengan membebaskan Israel “dari tempat perbudakan” di Mesir (Ulangan 5:6). Tidak ada hal lain dalam hidup ini yang boleh kita perhatikan lebih daripada kerinduan kita untuk mengasihi dan dikasihi Allah. Jika kita memiliki ketertarikan lain yang lebih kuat dari kasih kita kepada Allah, hal itu memang tidak separah jika kita melanggar perintah Allah, tetapi kita tidak akan bisa benar-benar berelasi baik dengan Dia. Perhatian/ketertarikan yang lain itu – entah itu pada uang, kekuasaan, keamanan, pengakuan, seks atau apa pun yang lain—telah menjadi berhala kita. Ilah palsu ini memiliki perintah-perintah sendiri yang bertentangan dengan perintah Allah, dan kita tak ayal akan melanggar Hukum Taurat jika kita mengikuti syarat-syarat dari ilah ini. Menghormati Sepuluh Hukum Allah hanya dapat dipahami oleh orang yang tidak menyembah ilah lain selain TUHAN.

Di dunia kerja, ini berarti kita tidak boleh membiarkan pekerjaan atau kewajiban dan hasil kerja menggantikan Allah sebagai pusat perhatian utama hidup kita. “Jangan sekali-kali membiarkan siapa pun atau apa pun mengancam posisi sentral Allah dalam hidup Anda,” demikian dikatakan David Gill. [1]

Because many people work primarily to make money, an inordinate desire for money is probably the most common work-related danger to the first commandment. Jesus warned of exactly this danger: “No one can serve two masters….You cannot serve God and wealth” (Matt. 6:24). But almost anything related to work can become twisted in our desires to the point that it interferes with our love for God. How many careers come to a tragic end because the means to accomplish things for the love of Godsuch as political power, financial sustainability, commitment to the job, status among peers, or superior performance—become ends in themselves? When, for example, recognition on the job becomes more important than character on the job, is this not a sign that reputation is displacing the love of God as the ultimate concern?

“Jangan Membuat Bagimu Berhala” (Keluaran 20:4; Ulangan 5:8)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Hukum Kedua mengangkat isu tentang penyembahan berhala. Berhala adalah ilah-ilah sesembahan ciptaan kita sendiri, ilah-ilah yang kita pikir akan memberikan yang kita inginkan. Pada zaman dahulu, penyembahan berhala sering berupa menyembah benda-benda fisik, sesuatu yang berujud. Padahal inti permasalahan sebenarnya adalah kepercayaan dan ketaatan. Pada apa/siapa kita akhirnya menggantungkan harapan kita untuk kesejahteraan dan kesuksesan? Apa pun yang tidak dapat memenuhi harapan kita—artinya, apa pun selain Allah – adalah berhala, entah itu berupa benda fisik atau tidak. Kisah tentang keluarga yang membuat berhala dengan tujuan memanipulasi Allah, serta dampak-dampak mengerikan yang diakibatkannya pada kehidupan pribadi, sosial dan ekonomi, diceritakan dengan mengesankan di kitab Hakim-hakim 17-21.

Di dunia kerja, berbicara bahwa uang, ketenaran dan kekuasaan bisa menjadi berhala adalah hal yang umum dan memang benar. Hal-hal itu sendiri pada dasarnya bukan berhala, dan bahkan bisa diperlukan dalam kita menjalankan peran-peran kita dalam karya kreatif dan penebusan Allah di dunia ini. Namun, jika kita berpikir bahwa dengan mencapai hal-hal itu, keamanan dan kemakmuran kita akan terjamin, kita sudah mulai jatuh ke dalam penyembahan berhala. Penyembahan berhala dimulai ketika kita lebih menaruh kepercayaan dan harapan kita pada hal-hal ini daripada Allah. Hal yang sama bisa terjadi pada hampir semua unsur kesuksesan lainnya, seperti persiapan, kerja keras, kreativitas, risiko, kekayaan dan sumber-sumber lainnya, dan bahkan juga kesempatan. Apakah kita dapat menyadari jika kita mulai memberhalakan hal-hal ini? Dengan kasih karunia Allah, kita dapat mengatasi godaan untuk menyembah hal-hal lain yang menggantikan Allah.

“Jangan Menyebut Nama TUHAN Allahmu untuk Disalahgunakan” (Keluaran 20:7; Ulangan 5:11)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Hukum Ketiga secara harfiah melarang umat Allah “menyalahgunakan” nama Allah. Larangan ini bukan hanya dalam menyebut nama “YHWH” (Ulangan 5:11), tetapi juga nama “Allah,” “Yesus,” “Kristus,” dan sebagainya. Namun, apa maksudnya menyalahgunakan? Ini tentu saja mencakup penyalahgunaan yang tidak sopan untuk mengumpat, memfitnah dan menghujat. Namun, yang lebih penting, penyalahgunaan itu mencakup sikap/tindakan mengaitkan rancangan manusia secara salah dengan rancangan Allah. Ini berarti kita dilarang mengeklaim otoritas Allah atas tindakan dan keputusan kita sendiri. Sayangnya, sebagian orang Kristen tampaknya percaya bahwa menaati Allah di tempat kerja terutama berarti berbicara atas nama Allah menurut pengertian mereka sendiri, bukan bekerja dengan hormat bersama orang lain atau bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka. “Itu kehendak Allah bahwa…,” atau “Allah menghukum engkau atas…,” adalah perkataan-perkataan yang berbahaya dan hampir tak bisa dibenarkan jika diucapkan oleh orang yang tidak disertai kepekaan komunitas iman (1 Tesalonika 5:20-21). Mengingat hal ini, mungkin sikap orang Yahudi kuno yang tidak berani mengucapkan bahkan terjemahan kata “ALLAH”—apalagi nama YHWH itu sendiri—menunjukkan hikmat yang seringkali tidak dimiliki orang Kristen. Andai saja kita sedikit lebih berhati-hati dalam menggunakan kata Allah, kita mungkin akan lebih bijaksana untuk mengeklaim mengetahui kehendak Allah, apalagi jika diterapkan pada orang lain.

Hukum Ketiga juga mengingatkan kita bahwa menghormati nama manusia itu penting bagi Allah. Gembala yang Baik “memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya” (Yohanes 10:3), seraya mengingatkan bahwa “siapa yang menyebut orang lain ‘jahil’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Matius 5:22). Mengingat hal ini, kita tidak boleh menyebut nama orang lain dengan sembarangan atau memanggil mereka dengan julukan yang tidak sopan. Kita menyalahgunakan nama orang lain ketika kita memakainya untuk mengumpat, merendahkan, menindas, mengucilkan, atau menipu. Kita menggunakan nama orang lain dengan baik ketika kita memakainya untuk memberi semangat, berterima kasih, membangun solidaritas, dan menyambut. Mengenal dan menyebut nama orang lain saja sudah menyatakan berkat, apalagi jika orang itu sering diperlakukan seperti orang tanpa nama, tak terlihat, atau tidak penting. Tahukah Anda nama orang yang mengosongkan tempat sampah Anda, menjawab panggilan telepon Anda di nomor layanan pelanggan, atau mengemudikan bus yang Anda tumpangi? Nama manusia memang bukan nama Allah, tetapi nama itu adalah nama orang yang diciptakan menurut gambar-Nya.

“Pelihara dan Kuduskanlah Hari Sabat” (Keluaran 20:8-11; Ulangan 5:12)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Topik tentang hari Sabat ini rumit, bukan saja di dalam kitab-kitab Ulangan, Keluaran dan Perjanjian Lama, tetapi juga di dalam teologi dan penerapan Kristen. Bagaimana tepatnya penerapan Hukum Keempat - memelihara dan menguduskan hari Sabat - pada orang-orang percaya non-Yahudi sudah menjadi bahan perdebatan sejak zaman Perjanjian Baru (Roma 14:5-6). Namun, prinsip umum tentang hari Sabat berlaku secara langsung pada masalah kerja.

Hari Sabat dan Pekerjaan Yang Kita Lakukan (Ulangan 5:13)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Bagian pertama dari Hukum Keempat memanggil kita untuk berhenti bekerja satu hari dalam seminggu/tujuh hari. Di satu sisi, ini adalah anugerah yang tiada taranya bagi bangsa Israel. Tidak ada bangsa kuno lainnya yang mendapat hak istimewa untuk beristirahat satu hari dalam seminggu. Di sisi lain, hal ini membutuhkan kepercayaan luar biasa akan pemeliharaan Allah. Enam hari kerja harus cukup untuk merawat tanaman, mengumpulkan tuaian, mengangkut air, memintal kain, dan mencari makanan dari sumber alam. Sementara bangsa Israel beristirahat satu hari setiap minggunya, bangsa-bangsa di sekelilingnya terus membuat pedang, panah, dan melatih para tentara. Bangsa Israel harus percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan satu hari beristirahat ini menjadi bencana ekonomi dan militer.

Kita menghadapi masalah yang sama dalam hal kepercayaan akan pemeliharaan Allah saat ini. Jika kita mengindahkan perintah Allah untuk mematuhi siklus bekerja dan beristirahat Allah sendiri, apakah kita akan mampu bersaing dalam perekonomian modern? Apakah diperlukan tujuh hari kerja untuk menangani satu pekerjaan (atau dua atau tiga pekerjaan), membersihkan rumah, menyiapkan makanan, memotong rumput, mencuci mobil, membayar tagihan, menyelesaikan tugas sekolah, dan berbelanja pakaian, atau dapatkah kita percaya bahwa Allah akan memelihara kita meskipun kita mengambil satu hari istirahat setiap minggunya? Dapatkah kita meluangkan waktu untuk menyembah Allah, berdoa, dan bersekutu dengan orang lain untuk belajar dan saling menguatkan, dan jika kita dapat melakukannya, apakah hal itu akan membuat kita lebih atau kurang produktif secara keseluruhan? Hukum Keempat tidak menjelaskan bagaimana Allah akan membuat semuanya berhasil bagi kita. Perintah ini hanya memanggil kita untuk beristirahat satu hari setiap tujuh hari.

Orang Kristen, dengan beberapa pengecualian yang signifikan, biasanya memindahkan hari istirahat ini ke Hari Tuhan (hari Minggu, hari kebangkitan Kristus), tetapi inti dari perintah hari Sabat bukanlah memilih satu hari tertentu dalam seminggu (Roma 14:5-6). Polaritas yang benar-benar mendasari perintah hari Sabat adalah bekerja dan beristirahat. Baik bekerja maupun beristirahat tercakup dalam Hukum Keempat. “Enam hari lamanya kamu akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu” (Ulangan 5:13). Enam hari bekerja sama pentingnya dengan satu hari beristirahat dalam perintah itu. Sementara banyak orang Kristen berada dalam bahaya membiarkan pekerjaan mengambil waktu yang ditetapkan untuk beristirahat, sebagian lainnya berada dalam bahaya yang sebaliknya—melalaikan pekerjaan dan mencoba menjalani kehidupan dengan santai dan bermalas-malasan. Yang ini bahkan lebih buruk dari mengabaikan hari Sabat, karena “jika ada orang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk daripada orang yang tidak beriman” (1 Timotius 5:8). Yang kita butuhkan adalah waktu dan kesempatan untuk bekerja dan beristirahat, yang sama-sama baik untuk kita, keluarga kita, para pekerja, dan tamu-tamu kita. Beristirahat ini bisa berarti selama dua puluh empat jam terus-menerus pada hari Minggu (atau Sabtu), bisa juga tidak. Proporsinya bisa berubah-ubah tergantung kebutuhan saat itu atau perubahan kebutuhan musim kehidupan.

Jika bekerja berlebihan merupakan bahaya utama kita, kita perlu mencari cara untuk menghormati Hukum Keempat tanpa perlu membentuk legalisme baru yang palsu yang mempertentangkan antara yang rohani (beribadah pada hari Minggu) dengan yang sekuler (bekerja pada hari Senin sampai Sabtu). Jika menghindari kerja adalah bahaya kita, kita perlu belajar menemukan sukacita dan makna dalam bekerja sebagai pelayanan kepada Allah dan sesama (Efesus 4:28).

Hari Sabat dan Pekerjaan Yang Dilakukan Orang Lain untuk Kita
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dari beberapa perbedaan di antara kedua versi Sepuluh Hukum, sebagian besar berupa tambahan pada Hukum Keempat di kitab Ulangan. Pertama, daftar yang tidak boleh dipaksa bekerja pada hari Sabat diperluas sampai kepada “lembumu atau keledaimu dan segala hewanmu” (Ulangan 5:14a). Kemudian, alasan tidak boleh memaksa hamba-hamba bekerja pada hari Sabat diberikan: “Supaya hambamu laki-laki atau perempuan beristirahat seperti engkau juga. Haruslah kauingat bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir” (Ulangan 5:14b-15a). Akhirnya, ada tambahan pengingat bahwa kemampuan untuk beristirahat dengan tenang di tengah persaingan militer dan ekonomi bangsa-bangsa lain adalah anugerah Allah, yang melindungi Israel “dengan tangan yang kuat dan lengan teracung” (Ulangan 5:15b).

Perbedaan penting dari kedua teks perintah ini adalah dasar landasannya: yang satu didasarkan pada penciptaan (teks dalam kitab Keluaran) dan yang lain pada penebusan (teks dalam kitab Ulangan). Di kitab Keluaran, hari Sabat didasarkan pada enam hari penciptaan yang diikuti dengan satu hari istirahat (Kejadian 1:3-2:3). Kitab Ulangan menambahkan unsur penebusan Allah. “TUHAN, Allahmu, [telah membawa engkau keluar dari sana] dengan tangan yang kuat dan lengan teracung. Itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat” (Ulangan 5:15). Dengan menggabungkan keduanya, kita menemukan bahwa dasar landasan untuk memelihara hari Sabat adalah cara Allah menciptakan kita dan juga cara Dia menebus kita.

Tambahan-tambahan ini menegaskan kepedulian Allah terhadap orang-orang yang bekerja di bawah otoritas orang lain. Bukan hanya Anda yang perlu beristirahat, orang-orang yang bekerja untuk Anda—hamba-hamba, orang-orang lainnya, bahkan hewan pekerja —juga perlu diberi istirahat. Jika Anda “ingat bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir,” Anda akan diingatkan untuk tidak hanya menikmati hak untuk beristirahat Anda sendiri, tetapi juga untuk memberikan istirahat kepada orang lain sebagaimana Allah memberikannya pada Anda. Tak peduli apa pun agama yang mereka anut atau apa pun yang akan mereka lakukan dengan waktu istirahat itu. Mereka adalah para pekerja, dan Allah memerintahkan untuk memberikan waktu istirahat kepada orang-orang yang bekerja. Kita mungkin biasa berpikir bahwa memelihara hari Sabat berarti memberi istirahat pada diri kita, tetapi seberapa banyak kita berpikir untuk memberi istirahat kepada orang-orang yang bekerja untuk melayani kita? Banyak orang yang bekerja pada jam-jam yang mengganggu relasi-relasi mereka, irama tidur mereka, dan kesempatan-kesempatan sosial mereka, agar dapat membuat hidup lebih menyenangkan bagi orang lain.

Hukum Sabat yang disebut “blue laws” ini, yang pernah melindungi masyarakat—atau menghalangi masyarakat, tergantung sudut pandang Anda—dari bekerja sepanjang waktu sudah hilang di banyak negara maju. Hal ini memang membuka banyak kesempatan baru bagi para pekerja maupun orang-orang yang dilayani. Namun, apakah ini merupakan hal yang selalu harus kita ikuti? Ketika kita berbelanja pada larut malam, bermain golf pada hari Minggu pagi, atau menonton pertandingan olahraga yang berlangsung sampai dinihari, apakah kita memikirkan efeknya pada orang-orang yang bekerja pada waktu-waktu itu? Mungkin tindakan kita membantu menciptakan kesempatan kerja yang tidak/belum ada, tetapi mungkin juga kita sebenarnya hanya membuat orang harus bekerja pada waktu-waktu yang tidak semestinya.

Jaringan restoran cepat saji Chick-fil-A terkenal karena tutup pada hari Minggu. Hal ini sering diasumsikan sebagai akibat penafsiran pendirinya, Truett Cathy, tentang Hukum Keempat. Namun, menurut situs web perusahaan itu, “Keputusannya bersifat praktis dan rohani. Ia percaya bahwa semua operator dan karyawan restoran waralaba Chick-fil-A harus mendapat kesempatan untuk beristirahat, menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman, dan beribadah jika mereka mau.” Membaca Hukum Keempat sebagai cara memerhatikan orang-orang yang bekerja untuk Anda tentu saja merupakan interpretasi tertentu, tetapi jelas bukan interpretasi yang legalistik atau sektarian. Hal ini memang rumit, dan tidak ada satu jawaban yang tepat untuk semua. Namun, sebagai konsumen dan (dalam kasus tertentu) sebagai pemberi kerja, kita punya pilihan untuk dapat memengaruhi jam kerja dan kondisi kerja dan istirahat orang lain.

“Hormatilah Ayahmu dan Ibumu” (Keluaran 20:12; Ulangan 5:16)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Hukum Kelima memerintahkan kita untuk menghormati otoritas paling dasar di antara semua manusia, yaitu otoritas orangtua terhadap anak. Dengan kata lain, menjadi orangtua adalah salah satu pekerjaan paling penting yang ada di dunia, yang patut dan harus mendapat penghormatan terbesar. Ada banyak cara untuk menghormati—atau tidak menghormati—ayah dan ibu. Pada zaman Yesus, orang-orang Farisi ingin membatasinya dengan hanya berbicara baik tentang mereka. Namun, Yesus menunjukkan bahwa menaati perintah ini memerlukan usaha untuk memelihara atau merawat orangtua (Markus 7:9-13). Kita menghormati mereka dengan bekerja untuk kebaikan mereka.

Bagi banyak orang, relasi yang baik dengan orangtua merupakan salah satu kebahagiaan hidup. Melayani orangtua dengan penuh kasih merupakan kesenangan dan menaati perintah ini menjadi mudah. Namun, kita akan diuji oleh perintah ini ketika kita merasa terbebani untuk bekerja bagi orangtua. Mungkin kita pernah diperlakukan buruk atau diabaikan oleh mereka. Mereka mungkin suka mendominasi atau ikut campur. Berada di dekat mereka mungkin rasanya seperti melemahkan diri kita, komitmen kita terhadap pasangan (termasuk berbagai tanggung jawab kita dalam Hukum Kelima), bahkan relasi kita dengan Tuhan. Dan, meskipun kita memiliki relasi yang baik dengan orangtua, mungkin ada juga saatnya ketika merawat mereka menjadi beban yang sangat berat karena waktu dan tenaga yang diperlukan. Jika penuaan atau demensia mulai merampas ingatan, kemampuan, dan sifat baik mereka, merawat orangtua bisa menjadi kesedihan yang mendalam.

Namun perintah kelima diberikan dengan sebuah janji: “supaya kamu hidup lama dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu” (Ulangan 5:16). Melalui penghormatan yang tepat kepada orangtua, anak-anak belajar menghormati dengan tepat semua relasi-relasi lainnya, termasuk relasi-relasi di tempat kerja mereka kemudian. Mematuhi perintah ini memungkinkan kita panjang umur dan hidup dalam keadaan baik, karena memiliki relasi dengan penghormatan dan otoritas yang tepat sangat penting untuk keberhasilan individu dan ketertiban masyarakat.

Karena Hukum ini adalah perintah untuk bekerja bagi kepentingan orangtua, Hukum ini tak terpisahkan dengan perintah tentang kerja. Tempat kerja bisa menjadi tempat kita mencari uang untuk menopang kehidupan mereka, atau bisa juga menjadi tempat kita membantu mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Keduanya sama-sama tentang kerja. Ketika kita menerima suatu pekerjaan karena hal itu memungkinkan kita untuk tinggal dekat dengan orangtua, atau bisa mengirim uang untuk mereka, atau dapat memakai nilai-nilai dan talenta yang mereka kembangkan dalam diri kita, atau melakukan hal-hal penting yang mereka ajarkan pada kita, kita sedang menghormati mereka. Ketika kita membatasi karier kita agar kita dapat bersama dengan mereka, mencuci dan memasak untuk mereka, memandikan dan memeluk mereka, mengajak mereka ke tempat-tempat yang mereka sukai, atau meredakan ketakutan-ketakutan mereka, kita sedang menghormati mereka.

Jadi, orangtua itu berhak dan pantas dipercayai, dihormati, dan ditaati. Membesarkan anak adalah salah satu bentuk pekerjaan, dan tidak ada tempat kerja lain yang menuntut standar kepercayaan, belas kasih, keadilan, dan kejujuran yang lebih tinggi daripada pekerjaan ini. Seperti dikatakan Rasul Paulus, “Hai bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Efesus 6:4). Hanya oleh kasih karunia Allah kita bisa berharap dapat melayani dengan baik sebagai orang tua, satu indikasi lagi bahwa menyembah Allah dan taat pada kehendak-Nya mendasari seluruh kitab Ulangan.

Di tempat kerja, kita bisa menolong orang lain mematuhi Hukum Kelima, sebagaimana kita sendiri mematuhinya. Kita bisa ingat bahwa karyawan, pelanggan, rekan kerja, atasan, pemasok, dan orang-orang lainnya juga memiliki keluarga, dan kemudian menyesuaikan ekspektasi-ekspektasi kita untuk mendukung mereka dalam menghormati keluarga mereka. Ketika orang lain menceritakan atau mengeluhkan tentang pergumulannya dengan orangtua, kita dapat mendengarkannya dengan berbelas kasih, memberi dukungan secara praktis (misalnya, dengan menawarkan untuk menggantikan giliran kerjanya agar ia dapat bersama orangtuanya), atau mungkin mengemukakan perspektif yang baik untuk dipertimbangkan. Sebagai contoh, jika rekan kerja yang berfokus pada karier menceritakan krisis keluarganya, kita punya kesempatan untuk mendoakan keluarga itu dan juga menyarankan agar rekan kita itu memikirkan lagi untuk menyeimbangkan waktu antara karier dan keluarga.

“Jangan Membunuh” (Keluaran 20:13; Ulangan 5:17)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sayangnya, Hukum Keenam memiliki penerapan yang terlalu praktis di tempat kerja masa kini, di mana 10 persen dari seluruh kematian yang terkait-pekerjaan (di Amerika Serikat) adalah pembunuhan.[1]

Dan memperingatkan pembaca tulisan ini agar “Jangan membunuh siapa pun di tempat kerja,” tampaknya tidak akan banyak mengubah statistik itu.

Namun, pembunuhan bukanlah satu-satunya bentuk kekerasan di tempat kerja, hanya yang paling ekstrem saja. Pelajaran yang lebih praktis muncul ketika kita mengingat bahwa Yesus berkata, kemarahan pun merupakan pelanggaran terhadap Hukum Keenam (Matius 5:21-22). Seperti dikatakan rasul Paulus, kita mungkin tidak dapat mencegah rasa marah, tetapi kita dapat belajar mengatasi amarah kita. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam kemarahanmu” (Efesus 4:26). Jadi, implikasi paling signifikan dari Hukum Keenam di tempat kerja barangkali adalah, “Jika Anda menjadi marah di tempat kerja, carilah bantuan untuk mengelola amarah.” Banyak perusahaan, gereja, negara dan pemerintah setempat, serta lembaga-lembaga nirlaba menawarkan kelas-kelas dan konseling untuk mengelola amarah. Memanfaatkan kesempatan-kesempatan ini bisa menjadi cara yang sangat efektif untuk mematuhi Hukum Keenam.

Membunuh adalah menyebabkan kematian seseorang dengan sengaja, tetapi kasus hukum yang muncul dari Hukum Keenam menunjukkan bahwa kita juga berkewajiban untuk mencegah kematian yang tidak disengaja. Kasus yang paling jelas adalah ketika seekor lembu jantan (hewan pekerja) menyeruduk seorang laki-laki atau perempuan sampai mati (Keluaran 21:28-29). Jika terjadinya peristiwa itu sudah bisa diperkirakan, pemilik lembu akan diperlakukan sebagai pembunuh. Dengan kata lain, pemilik/manajer bertanggung jawab untuk menjamin keselamatan kerja yang wajar di tempat kerja. Prinsip ini sudah ditetapkan dalam undang-undang banyak negara, dan keselamatan kerja menjadi pokok permasalahan yang penting dalam berbagai peraturan pemerintah, regulasi kendali-diri industri, serta kebijakan dan praktik organisasi. Namun masih banyak tempat kerja yang mewajibkan atau membiarkan para pekerjanya bekerja dalam kondisi tidak aman yang tidak perlu. Orang ​​Kristen yang memiliki peran dalam pengaturan kondisi kerja, pengawasan pekerja, atau percontohan tindakan di tempat kerja diingatkan oleh Hukum Keenam bahwa kondisi kerja yang aman merupakan salah satu tanggung jawab mereka yang tertinggi di dunia kerja.

“Jangan Berzinah” (Keluaran 20:14; Ulangan 5:18)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Tempat kerja adalah salah satu tempat perzinahan yang paling umum, tidak selalu karena perzinahan itu sendiri terjadi di tempat kerja itu, tetapi bisa jadi akibat dari kondisi-kondisi kerja dan relasi-relasi dengan rekan kerja. Jadi, penerapan pertama Hukum ini di tempat kerja benar-benar secara harfiah. Orang yang menikah tidak boleh berhubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya di tempat kerja, dalam bekerja, atau karena pekerjaannya. Beberapa profesi seperti prostitusi dan pornografi hampir selalu melanggar perintah ini, karena mereka hampir selalu menuntut seks di antara orang yang menikah dengan orang lain. Namun, segala pekerjaan apa pun yang menggerogoti ikatan perkawinan melanggar Hukun Ketujuh. Ada banyak cara hal ini bisa terjadi. Pekerjaan bisa menimbulkan ikatan emosional yang kuat di antara rekan-rekan kerja tanpa mampu mendukung komitmen mereka terhadap pasangan masing-masing, seperti yang bisa terjadi di rumah sakit, bidang wirausaha, lembaga akademik, gereja, dan tempat-tempat lainnya. Kondisi kerja bisa membuat orang berdekatan secara fisik dalam waktu lama atau tidak dapat membuat batasan yang wajar pada saat pertemuan-pertemuan di luar, seperti yang bisa terjadi pada tugas-tugas lapangan jangka panjang. Pekerjaan bisa membuat orang mengalami pelecehan seksual dan tekanan untuk berhubungan seks dengan orang yang memegang kekuasaan di atas mereka. Pekerjaan bisa meningkatkan ego atau membuat orang disanjung secara berlebihan, seperti yang bisa terjadi pada selebriti, atlet terkenal, pengusaha sukses, pejabat tinggi pemerintah, dan orang super kaya. Pekerjaan bisa menuntut begitu banyak waktu berjauhan—secara fisik, mental, atau emosional—sehingga melemahkan ikatan di antara pasangan pernikahan. Semua ini bisa menjadi bahaya-bahaya yang sebaiknya dikenali dan dihindari, diperbaiki, atau diwaspadai oleh orang Kristen.

“Jangan Mencuri” (Keluaran 20:15; Ulangan 5:19)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Hukum Kedelapan adalah perintah lainnya yang menjadikan kerja sebagai subyek utamanya. Mencuri adalah pelanggaran terhadap kerja yang benar karena mencuri berarti merampas hasil kerja korbannya. Mencuri juga merupakan pelanggaran terhadap perintah untuk bekerja enam hari seminggu, karena dalam banyak kasus mencuri dimaksudkan sebagai jalan pintas dari bekerja yang jujur, yang menunjukkan lagi tentang adanya saling-keterkaitan di antara Sepuluh Hukum. Jadi, kita bisa menerimanya sebagai perkataan/perintah Allah bahwa kita tidak boleh mencuri dari orang yang bekerja untuk, bersama, atau di antara kita.

Kata “mencuri” menyiratkan adanya suatu kepemilikan dan hak kepemilikan. Hanya ada tiga cara untuk kita memiliki sesuatu—dengan membuatnya sendiri, dengan bertukar barang dan jasa secara sukarela dengan orang lain (perdagangan atau pemberian), atau dengan perampasan. Mencuri adalah bentuk perampasan yang paling mencolok, ketika seseorang mengambil milik orang lain dan melarikan diri. Namun, perampasan juga terjadi dalam skala yang lebih besar dan lebih canggih, seperti ketika sebuah perusahaan menipu pelanggannya, atau pemerintah membebankan pajak yang “mencekik” rakyatnya. Institusi-institusi seperti ini tidak menghormati hak-hak kepemilikan. Di sini memang bukan tempatnya untuk membahas perdagangan yang adil versus yang monopolistik, atau penarikan pajak yang benar versus yang berlebihan. Namun, Hukum Kedelapan menyatakan bahwa, tidak ada masyarakat yang bisa berkembang pesat jika hak-hak kepemilikan dilanggar dengan kekebalan hukum individu-individu, geng-geng kriminal, perusahaan-perusahaan, atau pemerintahnya.

Secara praktisnya ini berarti bahwa mencuri bisa dilakukan dengan berbagai cara, tidak hanya dengan merampas milik orang lain. Setiap kali kita memperoleh sesuatu yang berharga dari pemiliknya yang sah tanpa persetujuan, kita sedang terlibat pencurian. Menyelewengkan sumber daya atau dana tertentu untuk kepentingan pribadi adalah pencurian. Memakai tipu daya dalam melakukan penjualan, mendapatkan pangsa pasar, atau menaikkan harga adalah pencurian, karena melalui tipu daya itu berarti apa pun yang disetujui pembeli bukanlah hal yang sebenarnya. (Untuk informasi lebih lanjut tentang bagian ini lihat “Puffery/Exaggeration” dalam Truth and Deception di https://www.teologikerja.org/). Demikian pula, mengambil keuntungan dengan memanfaatkan ketakutan, kelemahan, ketidakberdayaan, atau keputusasaan orang lain adalah bentuk pencurian, karena persetujuan mereka tidak benar-benar sukarela. Melanggar hak paten, hak cipta, dan undang-undang kekayaan intelektual lainnya adalah pencurian karena hal itu membuat pemilik tidak mendapatkan keuntungan yang semestinya atas karya ciptaannya sesuai ketentuan hukum.

Menghormati kepemilikan dan hak-hak orang lain berarti kita tidak mengambil yang menjadi milik mereka atau mencampuri urusan mereka. Namun, ini tidak berarti kita hanya peduli pada diri sendiri saja. Ulangan 22:1 berkata, “Apabila engkau melihat lembu atau domba saudaramu tersesat, janganlah engkau pura-pura tidak tahu. Haruslah engkau mengembalikannya kepada saudaramu itu.” Pepatah “Itu bukan urusanku” bukanlah alasan untuk bersikap tidak peka.

​Sayangnya, banyak pekerjaan tampaknya mengandung unsur memanfaatkan ketidaktahuan atau kekurangan pilihan orang lain untuk memaksa mereka melakukan transaksi yang sebenarnya tidak mereka setujui. Perusahaan, pemerintah, perorangan, serikat pekerja, dan pelaku lainnya dapat memanfaatkan kekuasaan mereka untuk memaksa orang lain menerima upah, harga, persyaratan kontrak, kondisi kerja, jam kerja, atau faktor-faktor lain yang tidak adil. Meskipun kita tidak merampok bank, mencuri di tempat kerja, atau mengutil di pusat perbelanjaan, kita bisa saja berpartisipasi dalam tindakan-tindakan tidak adil atau tidak etis yang merampas hak orang lain. Menolak terlibat dalam praktik-praktik semacam ini mungkin sulit, bahkan bisa menghambat karier, tetapi bagaimanapun kita dipanggil untuk jangan mencuri.

“Jangan Memberikan Kesaksian Palsu terhadap Sesamamu” (Keluaran 20:16; Ulangan 5:20)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Hukum Kesembilan menghormati hak reputasi seseorang.[1] Penerapannya yang jelas dapat ditemukan dalam proses-proses hukum di mana apa yang dikatakan orang menunjukkan realitas dan menentukan jalan hidup. Keputusan pengadilan dan proses hukum lainnya memiliki kekuatan besar. Memanipulasinya berarti melemahkan struktur etika masyarakat dan dengan demikian merupakan pelanggaran serius. Walter Brueggemann berkata, perintah ini mengakui “bahwa kehidupan masyarakat tidak mungkin terjadi jika tidak ada yang membuat publik percaya bahwa realitas sosial akan dijelaskan dan dilaporkan secara dapat dipercaya.”[2] Meskipun dinyatakan dalam bahasa persidangan, Hukum Kesembilan juga berlaku dalam berbagai situasi yang berkaitan dengan hampir semua aspek kehidupan. Kita tidak boleh mengatakan atau melakukan sesuatu yang salah-menggambarkan tentang orang lain. Brueggemann lagi-lagi memberikan pandangan:

“Para politisi berusaha saling menjatuhkan melalui kampanye negatif; para kolumnis gosip menyajikan fitnah; dan di ruang-ruang keluarga Kristen, reputasi-reputasi dicemarkan atau dihancurkan di sela-sela kopi disajikan dalam cangkir porselen mewah dan makanan pencuci mulut. Persidangan-persidangan de facto ini diadakan tanpa proses hukum yang semestinya. Tuduhan-tuduhan dibuat; desas-desus dibiarkan; fitnah, sumpah palsu, dan komentar-komentar yang mencemarkan nama baik diucapkan tanpa keberatan. Tidak ada bukti, tidak ada pembelaan. Sebagai orang Kristen, kita harus menolak untuk berpartisipasi atau menoleransi segala percakapan yang membuat orang tercemar atau tertuduh tanpa orang itu berada di sana untuk membela diri. Meneruskan desas-desus dalam bentuk apa pun tidaklah benar, sekalipun itu dalam bentuk permohonan doa atau perhatian pastoral. Lebih dari sekadar menolak untuk berpartisipasi, orang Kristen harus menghentikan gosip dan orang-orang yang menyebarkannya di jalur mereka.” [3]

Hal ini semakin menunjukkan bahwa gosip di tempat kerja adalah pelanggaran serius. Beberapa di antaranya berkaitan dengan masalah di luar kantor yang bersifat pribadi, yang cukup jahat. Namun, bagaimana dengan kasus karyawan yang merusak reputasi rekan kerja? Mungkinkah yang diungkapkan itu benar-benar kebenaran jika orang yang dibicarakan saja tidak ada di sana untuk berbicara bagi dirinya sendiri? Lalu bagaimana dengan penilaian kinerja? Pengaman apa saja yang diperlukan untuk memastikan bahwa laporan-laporan itu adil dan akurat? Pada skala besar, bisnis pemasaran dan periklanan beroperasi di ruang publik di antara berbagai organisasi dan individu. Dalam rangka menunjukkan produk dan jasanya sebaik dan semenarik mungkin, sejauh mana orang boleh menunjuk kekurangan dan kelemahan pesaing tanpa menyertakan perspektif mereka? Mungkinkah hak “sesamamu” termasuk hak perusahaan lain? Jangkauan ekonomi global kita menunjukkan bahwa perintah ini memang bisa memiliki penerapan yang luas.

Perintah ini secara spesifik melarang untuk berbicara tidak benar tentang orang lain, yang lalu menimbulkan pertanyaan: apakah kita harus mengatakan kebenaran dalam segala situasi. Apakah membuat laporan keuangan palsu atau fiktif itu merupakan pelanggaran terhadap Hukum Kesembilan? Bagaimana dengan pernyataan-pernyataan iklan yang dibesar-besarkan, meskipun tidak secara terang-terangan merendahkan para pesaing? Bagaimana dengan jaminan-jaminan dari manajemen yang menyesatkan karyawan tentang kemungkinan PHK? Di dunia di mana persepsi sering diperhitungkan sebagai realitas, retorika persuasi mungkin tidak terlalu memerhatikan kebenaran. Namun, sumber ilahi Hukum Kesembilan mengingatkan kita bahwa Allah tidak dapat dipermainkan. Pada saat yang sama, kita sadar bahwa kebohongan kadang juga dilakukan, diterima, dan bahkan disetujui dalam Alkitab. Teologi yang lengkap tentang kebenaran dan kebohongan didasarkan pada ayat-ayat yang meliputi, meski tidak terbatas pada, Hukum Kesembilan. (Untuk pembahasan yang jauh lebih lengkap tentang topik ini, termasuk apakah larangan “memberi kesaksian palsu terhadap sesamamu” mencakup segala bentuk kebohongan dan penipuan, lihat Kebenaran & Kebohongan di https://www.teologikerja.org/).

“Jangan Mengingini … Apa pun Milik Sesamu” (Keluaran 20:17; Ulangan 5:21)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Hukum Kesepuluh melarang mengingini “apa pun milik sesamamu” (Ulangan 5:21). Kita tidak salah jika memerhatikan barang-barang milik sesama, atau bahkan ingin memperolehnya sendiri secara sah. Mengingini terjadi ketika orang melihat kemakmuran, prestasi, atau bakat orang lain, lalu merasa gusar, ingin merebut, atau ingin menghukum orang yang berhasil itu. Yang dilarang adalah keinginan yang bisa mengancam/membahayakan orang lain atau “sesamamu” itu - bukan keinginan untuk memiliki sesuatu.

Kita bisa mendapat inspirasi dari kesuksesan orang lain, atau bisa juga jadi mengingini. Sikap pertama memicu kerja keras dan kehati-hatian. Sikap kedua menimbulkan kemalasan, memunculkan alasan-alasan kegagalan, dan memicu tindakan perampasan. Kita tidak akan pernah berhasil jika kita meyakinkan diri sendiri bahwa hidup adalah permainan “zero-sum” (jumlah keuntungan dan kerugian semua peserta dalam permainan adalah nol) dan bahwa kita akan dirugikan jika orang lain berhasil. Kita tidak akan pernah melakukan hal-hal besar jika, alih-alih bekerja keras, kita hanya berkhayal bahwa prestasi orang lain adalah prestasi kita. Di sini lagi-lagi, landasan utama Hukum ini adalah perintah untuk menyembah Allah saja. Jika Allah menjadi fokus penyembahan kita, kerinduan pada Dia akan menggantikan segala keinginan yang serakah dan tidak kudus pada hal lain, termasuk pada milik sesama kita. Seperti dikatakan Rasul Paulus, “Aku telah belajar untuk mencukupkan diri dalam segala hal” (Filipi 4:11).

Kitab Ulangan menambahkan kata “ladang” pada daftar milik sesama yang tak boleh diingini di kitab Keluaran. Seperti halnya tambahan-tambahan lain pada Sepuluh Hukum di kitab Ulangan, tambahan ini menarik perhatian ke tempat kerja. Ladang adalah tempat kerja, dan mengingini ladang berarti mengingini sumber daya produktif yang dimiliki orang lain.

Kecemburuan dan keserakahan tentu saja sangat berbahaya di tempat kerja, tempat di mana status, gaji, dan kekuasaan merupakan hal sehari-hari dalam relasi kita dengan orang-orang yang menghabiskan banyak waktu bersama kita. Kita mungkin punya banyak alasan yang baik untuk menginginkan prestasi, kemajuan, atau ganjaran dalam bekerja. Namun, iri hati bukanlah salah satunya. Begitu pula dengan bekerja obsesif karena merasa iri dengan kedudukan sosial yang memungkinkan hal itu.

Secara khusus, kita menghadapi godaan di tempat kerja untuk secara keliru membesar-besarkan pencapaian kita dengan mengorbankan orang lain. Cara mengatasinya sederhana, meskipun kadang sulit untuk dilakukan. Bangunlah kebiasaan yang konsisten untuk mengakui pencapaian orang lain dan memberikan kepada mereka semua penghargaan yang pantas mereka terima. Jika kita bisa belajar bersukacita atas—atau setidaknya mengakui—keberhasilan orang lain, kita sudah menutup sumber perasaan iri dan tamak di tempat kerja. Bahkan lebih baik lagi jika kita bisa belajar bagaimana caranya bekerja agar kesuksesan kita berjalan seiring dengan kesuksesan orang lain, ketamakan diganti dengan kerja sama, dan iri hati diganti dengan persatuan.

Leith Anderson, mantan pendeta Gereja Wooddale di Eden Prairie, Minnesota, berkata, “Sebagai pendeta senior, saya seperti memiliki persediaan koin yang tak terbatas di saku saya. Setiap kali saya memberikan penghargaan kepada anggota staf atas idenya yang baik, memuji pekerjaan sukarelawan, atau berterima kasih pada seseorang, saya seperti menyelipkan koin dari saku saya ke saku mereka. Itulah tugas saya sebagai pemimpin, menyelipkan koin-koin dari saku saya ke saku orang lain, untuk membangun apresiasi orang lain terhadap mereka”. [1]

Ketetapan-ketetapan dan Peraturan-peraturan (Ulangan 4:44-28:68)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pada bagian kedua dari wejangannya yang kedua, Musa menjelaskan secara rinci “berbagai ketetapan dan peraturan” yang diperintahkan Allah untuk ditaati orang Israel (Ulangan 6:1). Ketetapan dan peraturan ini mengatur berbagai hal, seperti perang, perbudakan, persepuluhan, hari-hari raya keagamaan, kurban persembahan, makanan yang halal, nubuat, kerajaan, dan tempat ibadah. Materi ini berisi beberapa bagian yang berbicara langsung tentang teologi kerja. Kita akan membahasnya sesuai urutannya dalam Alkitab.

Berkat Berpegang pada Perjanjian Allah (Ulangan 7:12-15; 28:2-12)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kalau-kalau segala perintah, ketetapan dan peraturan dalam perjanjian Allah tampaknya hanya menjadi beban bagi Israel, Musa mengingatkan bahwa tujuan utama dari semua itu adalah untuk memberkati kita.

"Apabila kamu mendengarkan peraturan-peraturan, berpegang padanya dan melakukannya, maka bagi engkau, TUHAN, Allahmu, akan berpegang pada perjanjian dan kasih setia yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur serta minyakmu, anak lembumu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk diberikan kepadamu. (Ulangan 7:12-13)
"Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, apabila kamu mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: Diberkatilah kamu di kota dan diberkatilah kamu di ladang. Diberkatilah buah kandunganmu, hasil tanahmu dan hasil ternakmu, baik anak lembumu maupun anak kambing dombamu. Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. Diberkatilah kamu pada waktu masuk dan diberkatilah kamu pada waktu keluar… TUHAN juga akan melimpahi kamu dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, hasil ternakmu dan hasil tanahmu, di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk diberikan kepadamu. TUHAN akan membuka bagimu langit, perbendaharaan-Nya yang melimpah, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala upaya tanganmu. (Ulangan 28:2-6; 11-12)

Menaati perjanjian dimaksudkan untuk menjadi sumber berkat, kemakmuran, sukacita, dan kesehatan bagi umat Allah. Seperti dikatakan Paulus, “Hukum Taurat itu kudus, dan perintah itu juga kudus, benar dan baik” (Roma 7:12), dan “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10).

Hal ini jangan dikacaukan dengan yang disebut “Injil Kemakmuran,” yang secara keliru mengeklaim bahwa Allah pasti memberikan kekayaan dan kesehatan kepada orang-orang yang mendapat perkenan-Nya. Namun, ini berarti bahwa, jika umat Allah hidup menurut perjanjian-Nya, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik bagi semua orang. Tentu saja orang Kristen mengakui bahwa kita tidak mampu mematuhi Hukum itu dengan kekuatan kita sendiri. Itu sebabnya ada perjanjian baru di dalam Kristus, yang memberikan kasih karunia Allah bagi kita melalui kematian dan kebangkitan Kristus, bukan melalui ketaatan kita sendiri. Dengan hidup dalam Kristus, kita akan mampu mengasihi dan melayani Allah, dan kita benar-benar akan menerima berkat-berkat yang dijelaskan Musa, sebagian pada saat ini, dan sepenuhnya ketika Kristus datang kembali membawa penggenapan kerajaan Allah.

Bagaimanapun, ketaatan pada perjanjian Allah adalah tema yang mencakup keseluruhan kitab Ulangan. Selain dalam tiga bagian yang panjang ini, tema ini juga tampak dalam berbagai peristiwa singkat di sepanjang kitab, dan Musa kembali ke tema ini dalam wejangan terakhirnya di akhir kehidupannya di pasal 29 dan 30.

Bahaya Kemakmuran (Ulangan 8:11-20)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kebalikan dari ketaatan pada Allah yang penuh sukacita adalah kesombongan yang seringkali menyertai kemakmuran. Ini serupa dengan bahaya berpuas diri yang diperingatkan Musa di Ulangan 4:25-40, tetapi dengan fokus pada kesombongan yang aktif, bukan sikap merasa berhak yang pasif.

“Jangan sampai, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik sera mendiaminya, dan apabila lembumu dan kambing dombamu bertambah banyak, dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, engkau menjadi tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.” (Ulangan 8:12-14)

Ketika, setelah bertahun-tahun bekerja keras, orang melihat bisnis, karier, proyek penelitian, membesarkan anak, atau pekerjaan lainnya berhasil, ia akan memiliki perasaan bangga yang wajar. Namun, kita bisa membiarkan perasaan bangga yang menggembirakan ini tergelincir menjadi kesombongan. Ulangan 8:17-18 mengingatkan kita, “Jangan sampai kaukatakan dalam hatimu: ‘Kuasaku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.' Namun, haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrakan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.” Sebagai bagian dari perjanjian-Nya dengan umat-Nya, Allah memberi kita kemampuan untuk terlibat dalam produksi ekonomi. Namun, kita harus ingat bahwa ini adalah anugerah Allah. Jika kita mengaitkan kesuksesan kita sepenuhnya dengan kemampuan dan usaha kita sendiri, kita lupa bahwa Allah-lah yang memberi kemampuan itu pada kita sebagaiman halnya kehidupan itu sendiri. Kita tidak tercipta-sendiri. Ilusi tentang kemampuan mencukupi diri sendiri membuat kita keras hati. Seperti biasa, obat penawarnya adalah penyembahan yang benar dan kesadaran akan ketergantungan pada Allah (Ulangan 8:18).

Kemurahan Hati dan Berkat Allah (Ulangan 15:7-11)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Topik kemurahan hati muncul di Ulangan 15:7-8. “Jika ada di antaramu orang miskin,… janganlah engkau menegarkan hati atau pun menutup tangan terhadap saudaramu yang miskin itu. Sebaliknya, engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya.” Kemurahan hati dan belas kasih adalah esensi dari perjanjian itu. “Engkau harus memberi dengan limpahnya dan janganlah dengan berat hati… Sebab, oleh karena itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu” (Ulangan 15:10). Pekerjaan kita hanya akan diberkati sepenuhnya jika memberkati orang lain. Seperti dikatakan Paulus, “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10).

Bagi banyak dari kita, uang yang dihasilkan dari kerja memberi kita sarana untuk bermurah hati. Apakah kita benar-benar menggunakannya dengan murah hati? Selain itu, adakah cara-cara agar kita dapat bermurah hati dalam pekerjaan itu sendiri? Bagian ini berbicara tentang kemurahan hati secara spesifik sebagai salah satu aspek kerja (“segala pekerjaanmu”). Jika ada rekan kerja yang memerlukan bantuan untuk mengembangkan keterampilan atau kemampuan, atau kata pujian yang tulus dari kita, atau kesabaran untuk menghadapi kekurangannya, apakah ini merupakan kesempatan untuk bermurah hati? Kemurahan hati semacam ini mungkin membutuhkan pengorbanan waktu dan uang kita, atau membuat kita perlu memikirkan ulang citra diri kita, mengukur keterlibatan kita, dan mempertanyakan motif kita. Jika kita bisa dengan rela melakukan pengorbanan ini, apakah kita akan membuka pintu kesempatan baru untuk berkat Allah mengalir melalui pekerjaan kita?

Perbudakan (Ulangan 15:12-18)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Topik yang meresahkan di kitab Ulangan adalah tentang perbudakan. Diizinkannya perbudakan di Perjanjian Lama menimbulkan banyak perdebatan, dan kita tidak dapat menyelesaikan semua permasalahan itu di sini. Namun kita tak boleh menyamakan perbudakan orang Israel dengan perbudakan di zaman modern, termasuk perbudakan di Amerika Serikat. Yang terakhir ini melibatkan penculikan orang-orang dari Afrika Barat untuk dijual sebagai budak, yang diikuti dengan perbudakan berkelanjutan terhadap keturunan mereka. Perjanjian Lama mengutuk perbuatan semacam ini (Amos 1:6), dan bisa mendapat hukuman mati (Ulangan 24:7; Keluaran 21:16). Bangsa Israel memperbudak sesamanya bukan karena penculikan atau kelahiran/nasib buruk, tetapi karena utang atau kemiskinan (Ulangan 15:12). Perbudakan lebih baik daripada kelaparan, dan orang bisa menjual dirinya sebagai budak untuk membayar utang dan setidaknya agar bisa memiliki tempat tinggal. Namun, perbudakan ini tidak berlangsung selamanya. “Apabila kepadamu dijual seorang saudaramu, baik laki-laki Ibrani atau perempuan Ibrani, ia akan bekerja padamu selama enam tahun, dan pada tahun ketujuh engkau harus melepaskan dia sebagai orang merdeka” (Ulangan 15:12). Setelah merdeka, mantan budak itu harus menerima bagian dari kekayaan yang dihasilkan dari pekerjaannya. “Apabila engkau melepaskan dia sebagai orang merdeka, janganlah melepaskan dia dengan tangan hampa. Engkau harus memberi bekal kepadanya dengan limpahnya dari kambing dombamu, dari tempat pengirikanmu, dan tempat pemerasanmu. Sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kauberikan kepadanya” (Ulangan 15:13-14).

Di beberapa bagian dunia, orang masih dijual (biasanya oleh orangtua) karena terlilit utang—satu bentuk pekerjaan yang tak lain adalah perbudakan. Orang lainnya mungkin terjebak dalam perdagangan seks yang sulit atau bahkan tak mungkin untuk ia melepaskan diri. Orang ​​Kristen di berbagai tempat sudah memimpin upaya-upaya pemberantasan terhadap praktik-praktik semacam itu, tetapi masih banyak yang bisa dan perlu dilakukan. Bayangkan perbedaannya jika ada lebih banyak lagi gereja dan orang Kristen yang menjadikan upaya ini sebagai prioritas utama misi dan aksi sosial mereka.

Di negara-negara maju, pekerja yang malang tidak dijual sebagai pekerja paksa, tetapi bisa menerima pekerjaan apa saja yang masih bisa didapatkan. Jika kitab Ulangan berisi perlindungan bahkan terhadap budak, bukankah perlindungan ini juga berlaku bagi pekerja? Kitab Ulangan mewajibkan para majikan mematuhi ketentuan kontrak dan peraturan ketenagakerjaan termasuk tanggal pembebasan yang pasti, menyediakan makanan dan tempat tinggal, dan tanggung jawab atas kondisi kerja. Jam kerja harus dibatasi secara wajar, termasuk hari libur mingguan (Ulangan 5:14). Yang terpenting, para majikan harus menganggap budak itu sama di mata Allah, mengingat bahwa semua umat Allah adalah budak yang diselamatkan. “Haruslah kauingat bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir, dan engkau ditebus TUHAN, Allahmu. Itulah sebabnya aku memberi perintah itu kepadamu pada hari ini” (Ulangan 15:15).

Para majikan masa kini bisa melecehkan para pekerja yang malang sama seperti para majikan zaman dahulu melecehkan para budak. Apakah para pekerja kehilangan perlindungan ini hanya karena mereka bukan budak? Jika tidak, maka para majikan punya kewajiban untuk minimal tidak memperlakukan para pekerja lebih buruk daripada para budak. Para pekerja masa kini yang rentan bisa menghadapi tuntutan untuk bekerja lembur tanpa dibayar, menyerahkan tip kepada manajer, bekerja dalam kondisi-kondisi berbahaya atau beracun, memberi suap kecil agar bisa mendapat giliran kerja, mengalami pelecehan seksual atau perlakuan yang merendahkan martabat, menerima manfaat-manfaat yang lebih rendah, atau mengalami diskriminasi ilegal dan bentuk-bentuk perlakuan buruk lainnya. Para pekerja yang mampu pun bisa diperlakukan tidak adil dengan tidak menerima bagian yang semestinya dari hasil kerja mereka.

Bagi pembaca masa kini, fakta bahwa Alkitab menerima perbudakan tampaknya sulit diterima—meskipun kita tahu bahwa perbudakan pada zaman itu tidak sama dengan perbudakan di abad 16-19 —dan kita patut bersyukur bahwa secara teknis perbudakan setidaknya sudah dilarang di semua negara saat ini. Namun, daripada menganggap ajaran Alkitab tentang perbudakan sudah tidak terpakai, lebih baik kita berusaha sebaik-baiknya untuk menghapuskan segala bentuk perbudakan modern yang tak diinginkan, serta mematuhi dan memperkenalkan perlindungan Alkitab terhadap anggota masyarakat yang kurang beruntung secara ekonomi.

Suap dan Korupsi (Ulangan 16:18-20)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Efektivitas hak kepemilikan dan perlindungan kerja seringkali bergantung pada penegakan hukum dan sistem peradilan. Tuntutan Musa kepada para hakim dan pejabat dalam hal kerja sangat penting. “Janganlah memutarbalikkan keadilan dan janganlah memandang bulu; jangan pula menerima suap, sebab suap membutakan mata orang bijaksana dan memutarbalikkan perkara orang yang benar” (Ulangan 16:19). Tanpa keadilan yang tidak memihak tidak mungkin untuk “hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 16:20).

Tempat kerja dan masyarakat modern juga tidak kurang rentan terhadap suap, korupsi, dan penyimpangan dibandingkan bangsa Israel kuno. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, hambatan terbesar dalam pertumbuhan ekonomi di negara-negara belum berkembang adalah hilangnya supremasi hukum yang tidak memihak.[1]

Di tempat-tempat di mana korupsi merajalela, tidak mungkin bisa mencari nafkah, bepergian keliling kota, atau hidup damai tanpa membayar suap. Ketetapan ini tampaknya mengakui bahwa orang berkuasa yang meminta suap lebih bersalah daripada orang yang bersedia membayar suap, karena larangannya adalah larangan menerima suap, bukan membayar suap. Meskipun demikian, apa pun yang dapat dilakukan orang Kristen untuk mengurangi korupsi— entah sebagai pemberi atau penerima—merupakan kontribusi terhadap “keputusan yang benar” (Ulangan 16:18) yang kudus bagi Allah. (Untuk pembahasan lebih mendalam tentang penerapan-penerapan hukum di bidang ekonomi, lihat “Kepemilikan Tanah dan Hak Waris” di Bilangan 26-27; 36:1-12.

Mematuhi Keputusan Pengadilan (Ulangan 17:8-13)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Musa menetapkan sistem peradilan umum dan peradilan tinggi/banding yang sangat mirip dengan struktur peradilan modern. Ia memerintahkan bangsanya untuk mematuhi keputusan-keputusan pengadilan itu. “Menurut petunjuk yang mereka berikan kepadamu dan menurut keputusan yang mereka katakan kepadamu, haruslah engkau lakukan. Janganlah engkau menyimpang ke kanan atau ke kiri dari keputusan yang diberitahukan mereka kepadamu” (Ulangan 17:11).

Tempat kerja masa kini diatur oleh undang-undang, peraturan-peraturan, dan adat kebiasaan dengan prosedur-prosedur, sistem peradilan, dan proses-proses banding untuk menafsirkan dan menerapkannya dengan tepat. Kita harus menaati struktur-struktur resmi ini, sebagaimana juga ditegaskan oleh rasul Paulus (Roma 13:1). Di beberapa negara, hukum dan peraturan biasa diabaikan oleh para penguasa atau diselewengkan melalui suap, korupsi, atau kekerasan. Di negara-negara lainnya, perusahaan dan institusi lain jarang melanggar hukum dengan sengaja, tetapi mungkin berusaha menentangnya melalui perbuatan melawan hukum, keberpihakan politik, atau memberi pengaruh yang bertentangan dengan kepentingan umum. Namun, orang Kristen dipanggil untuk menghormati peraturan hukum, menaati, menjunjung tinggi, dan berusaha menegakkannya. Ini bukan berarti tidak pernah ada tempat untuk pelanggaran sipil. Peraturan tertentu bisa juga tidak adil dan harus dilanggar jika perubahan tidak memungkinkan. Namun, hal-hal seperti ini langka dan selalu membutuhkan pengorbanan pribadi untuk mencapai kepentingan bersama. Sebaliknya, melanggar hukum untuk memenuhi kepentingan pribadi tidak dapat dibenarkan.

Menurut Ulangan 17:9, baik para imam maupun hakim-hakim—atau seperti yang saat ini kita katakan: baik roh (maksud/makna) maupun tulisannya (perkataan/penerapannya)—sangat penting bagi Hukum. Jika kita menjadi bingung, atau memanfaatkan istilah-istilah teknis hukum untuk membenarkan tindakan yang meragukan, kita mungkin memerlukan teolog yang baik sebanyak kita memerlukan pengacara yang baik. Kita perlu mengakui bahwa keputusan yang diambil orang dalam pekerjaan “sekuler” adalah masalah teologis, bukan hanya masalah hukum dan teknis. Bayangkan seorang Kristen zaman-modern meminta pendetanya membantu memikirkan keputusan besar di tempat kerja ketika masalah etika atau hukum tampak rumit. Agar dapat menolong, pendeta itu harus memahami bahwa bekerja adalah upaya yang sangat rohani dan mereka perlu belajar tentang cara memberikan bantuan yang berguna kepada para pekerja. Mungkin langkah pertamanya hanyalah bertanya tentang pekerjaan mereka. “Tindakan dan keputusan apa yang Anda lakukan setiap hari?” “Tantangan-tantangan apa yang Anda hadapi?” “Hal-hal apa yang Anda harap bisa Anda bicarakan dengan seseorang?” “Apakah ada yang bisa saya doakan untuk Anda?”

Menjalankan Kekuasaan dengan Adil (Ulangan 17:14-20)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sebagaimana masyarakat dan institusi tidak boleh menentang otoritas yang sah, orang-orang yang memegang kekuasaan pun tidak boleh menggunakan otoritas mereka dengan tidak sah. Musa menangani secara spesifik kasus seorang raja.

“Janganlah raja itu memperbanyak jumlah kudanya… jangan ia memperbanyak jumlah istrinya … juga pula ia terlalu memperbanyak jumlah emas dan peraknya. Apabila ia duduk di atas tahta kerajaan, haruslah ia menulis baginya salinan hukum itu …. Kitab itu harus ada di sampingnya dan haruslah ia membacanya …berpegang pada segala perkataan hukum dan ketetapan ini serta melakukannya, [supaya] ia tidak akan bersikap tinggi hati terhadap saudara-saudaranya atau menyimpang dari perintah itu ke kanan atau ke kiri." (Ulangan 17:16-20)

Di dalam ayat-ayat ini kita melihat dua batasan tentang penggunaan otoritas—orang yang berotoritas tidak berada di atas hukum, tetapi harus mematuhi dan menjunjung tinggi hukum, dan orang yang berotoritas tidak boleh menyalahgunakan kekuasaannya dengan memperkaya diri.

Saat ini, orang yang berotoritas mungkin mencoba menempatkan dirinya di atas hukum, seperti ketika polisi dan petugas pengadilan “menyelesaikan” surat tilang mereka sendiri atau teman-teman mereka, atau ketika pegawai pemerintah atau karyawan perusahaan berpangkat-tinggi tidak mematuhi kebijakan pengeluaran yang harus dipatuhi karyawan lain. Demikian pula, para pejabat mungkin menggunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri dengan menerima suap, pemetaan/pembagian kawasan, pengecualian perizinan, akses mendapatkan informasi khusus, atau penggunaan properti publik atau swasta untuk kepentingan pribadi. Terkadang tunjangan khusus diberikan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan sebagai kebijakan atau peraturan, tetapi hal ini tidak benar-benar melenyapkan pelanggaran. Perintah Musa kepada raja-raja bukan untuk memastikan tindakan yang keterlaluan akan terkena otorisasi hukum, tetapi untuk mencegah tindakan keterlaluan itu sama sekali. Ketika orang yang berkuasa menggunakan otoritasnya tidak hanya untuk mendapatkan hak-hak istimewa tetapi juga untuk menciptakan hak monopoli bagi kroni-kroninya, menguasai aset-aset dan tanah yang luas, serta memenjarakan, menyiksa, atau membunuh lawannya, taruhannya menjadi sangat mengerikan. Tak ada bedanya penyalahgunaan kekuasaan kecil-kecilan dengan penindasan totaliter, selain hanya kadarnya.

Semakin tinggi otoritas yang Anda miliki, semakin besar godaan untuk bertindak seakan-akan Anda berada di atas hukum. Musa memberikan obat penawarnya. Raja harus membaca hukum (atau perkataan) Allah setiap hari seumur hidupnya. Ia tidak hanya harus membacanya, ia juga harus mengembangkan keterampilan untuk menafsirkan dan menerapkannya dengan benar dan adil. Ia sendiri harus membangun kebiasaan menaati firman Allah, dan melakukan pekerjaannya “dengan berpegang pada segala perkataan hukum dan ketetapan ini” (Ulangan 17:19). Dengan cara ini raja belajar menghormati Allah dan memenuhi tanggung jawab yang diberikan Allah kepadanya. Ia diingatkan bahwa ia juga berada di bawah otoritas. Allah tidak memberinya hak istimewa untuk menetapkan hukum sendiri, melainkan kewajiban untuk mematuhi hukum Allah untuk kebaikan semua orang.

Hal yang sama berlaku saat ini bagi orang yang memegang segala otoritas, sekalipun hanya otoritas untuk mengerjakan tugasnya sendiri. Untuk menjalankan otoritas dengan baik, Anda harus membaca-kembali Kitab Suci sepanjang hidup Anda dan berlatih menerapkannya setiap hari dalam situasi kerja sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa orang Kristen yang bekerja perlu cukup memahami Kitab Suci untuk menerapkannya dalam pekerjaan mereka, dan gereja-gereja perlu melatih jemaat untuk terampil menerapkannya di tempat kerja. Hanya dengan seni menerapkan terus-menerus, tidak menyimpangkan perkataan Allah ke kiri atau ke kanan, kita dapat menjinakkan dorongan untuk menyalahgunakan kekuasaan. Sebagai hasilnya, pemimpin itu akan melayani masyarakat (Ulangan 17:20), bukan sebaliknya.

Gabungkan wawasan ini dengan pembahasan kita sebelumnya bahwa para pendeta dan teolog perlu belajar dengan cukup tentang hal kerja agar dapat memberi bantuan yang berguna kepada para pekerja. Hal ini menunjukkan bahwa gereja-gereja dan lembaga-lembaga yang melatih dan mendukung pemimpin gereja perlu mengadakan dialog yang bermakna antara pendeta dan pekerja, agar mereka dapat lebih memahami tentang pekerjaan satu sama lain.

Menggunakan Aset untuk Kepentingan Umum (Ulangan 23:1-24:13)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kitab Ulangan mewajibkan para pemilik aset produktif untuk menggunakannya bagi kepentingan masyarakat, dan melakukannya dengan cerdas. Sebagai contoh, pemilik tanah harus mengizinkan tetangganya memakai tanah itu untuk membantu memenuhi kebutuhan mendesak. “Apabila engkau masuk ke kebun anggur sesamamu, engkau boleh makan buah anggur sepuas hatimu, tetapi tidak boleh kaumasukkan ke dalam kantongmu. Apabila engkau masuk ke ladang gandum sesamamu yang belum dituai, engkau boleh memetik bulir-bulirnya dengan tanganmu, tetapi sabit tidak boleh kauayunkan kepada gandum sesamamu itu” (Ulangan 23:24-25). Ketetapan inilah yang membuat murid-murid Yesus memetik bulir gandum di ladang setempat saat mereka dalam perjalanan (Matius 12:1). Para pemungut sisa panen harus mencari makan sendiri, dan para pemilik ladang harus memberi akses untuk mereka melakukan hal itu. (Untuk penjelasan lebih lanjut tentang hal ini, lihat “Gleaning” di Imamat 19:9-10)

Demikian pula, orang yang meminjamkan modal tidak boleh menuntut persyaratan yang membahayakan kesehatan atau penghidupan peminjam (Ulangan 23:19-20; 24:6, 10-13). Dalam kasus-kasus tertentu, mereka bahkan harus bersedia meminjamkan dengan kemungkinan tidak dikembalikan, karena kebutuhan sesamanya benar-benar sangat besar (Ulangan 15:7-9). Untuk penjelasan lebih lanjut, lihat “Lending and Collateral” di Keluaran 22:25-27.

Allah mau kita membagikan sumber daya kita pada orang yang membutuhkan, sementara kita melakukan penatalayanan yang baik atas sumber daya yang Dia percayakan pada kita. Di satu sisi semua yang kita miliki adalah milik Allah, dan perintah-Nya adalah agar kita menggunakan milik-Nya untuk kepentingan masyarakat (Ulangan 15:7). Di sisi lain, kitab Ulangan tidak menganggap ladang seseorang sebagai milik bersama. Orang luar tidak dapat mengambil sebanyak yang mereka mau. Ketentuan untuk berkontribusi bagi kepentingan umum diatur dalam sistem kepemilikan pribadi sebagai sarana produksi utama. Keseimbangan antara kepemilikan pribadi dan publik, dan kesesuaian dalam berbagai sistem ekonomi untuk masyarakat saat ini, masih menjadi bahan perdebatan, yang dalam hal itu Alkitab dapat memberikan prinsip-prinsip dan nilai-nilai, tetapi tidak dapat memberikan regulasi.

​Keadilan Ekonomi (Ulangan 24:14-15; 25:19; 27:17-25)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Perbedaan golongan dan kekayaan dapat menimbulkan peluang ketidakadilan. Keadilan menuntut para pekerja diperlakukan dengan adil. Kita membaca di Ulangan 24:14, “Janganlah engkau memeras buruh upahan yang sengsara dan miskin, baik ia saudaramu maupun pendatang di negerimu, di kotamu.” Baik orang miskin maupun orang asing tidak punya kedudukan dalam masyarakat untuk menantang pemilik ladang yang kaya di pengadilan, sehingga mereka rentan terhadap perlakuan sewenang-wenang. Yakobus 5:4 memberi pesan serupa. Para majikan harus menganggap kewajiban mereka terhadap para pekerja yang paling rendah sebagai hal yang kudus dan mengikat.

Keadilan juga menuntut para pelanggan diperlakukan dengan adil. “Janganlah ada di dalam pundi-pundimu dua macam timbangan, yang besar dan kecil” (Ulangan 25:13). Timbangan yang dipermasalahkan itu digunakan untuk menimbang bulir gandum atau komoditas lain yang dijual. Bagi penjual, menimbang bulir gandum dengan timbangan yang lebih ringan akan lebih menguntungkan. Sementara pembeli akan mendapat untung jika memakai timbangan berat yang palsu. Namun, kitab Ulangan menuntut agar orang selalu menggunakan timbangan yang sama, baik saat membeli maupun menjual. Perlindungan terhadap kecurangan tidak hanya terbatas pada penjualan terhadap pelanggan, tetapi juga pada semua jenis transaksi dengan semua orang di sekitar kita.

Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya. (Ulangan 27:17)
Terkutuklah orang yang menuntun orang buta ke jalan yang sesat. (Ulangan 27:18)
Terkutuklah orang yang memperkosa hak pendatang, anak yatim dan janda. (Ulangan 27:19)
Terkutuklah orang yang menerima suap untuk membunuh orang yang tidak bersalah. (Ulangan 27:25)

Pada prinsipnya, peraturan-peraturan ini melarang segala bentuk kecurangan. Sebagai analogi pada masa kini, sebuah perusahaan bisa dengan sengaja menjual produk cacat dengan melupakan implikasi moralnya. Pelanggan bisa menyalahgunakan kebijakan toko dengan mengembalikan barang bekas. Perusahaan membuat laporan keuangan yang melanggar prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Pekerja melakukan urusan pribadi atau mengabaikan pekerjaan mereka selama jam kerja. Tindakan-tindakan ini bukan saja tidak adil, tetapi juga melanggar komitmen untuk menyembah Allah saja, yang berkata, “Kamu akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN Allahmu” (Ulangan 26:19).

Permintaan Terakhir Musa agar Menaati Allah (Ulangan 29:1-30:20)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Musa mengakhiri dengan wejangan ketiga, sebuah permintaan terakhir untuk menaati perjanjian Allah, yang akan mengakibatkan keberhasilan manusia. Permintaan ini meneguhkan nasihat-nasihatnya yang sebelumnya di Ulangan 7:12-15 dan 28:2-12. Ulangan 30:15 merangkumnya dengan baik: “Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan kesejahteraan, kematian dan kecelakaan.” Ketaatan pada Allah mendatangkan berkat dan kehidupan, sedangkan ketidaktaatan mendatangkan kutuk dan kematian. Dalam konteks ini, “ketaatan pada Allah” berarti menaati perjanjian di Sinai, dan dengan demikian kewajiban ini hanya berlaku bagi bangsa Israel. Namun, ketaatan pada Allah, yang mendatangkan berkat, adalah prinsip abadi yang tidak hanya berlaku pada Israel zaman dahulu, tetapi juga dalam pekerjaan dan kehidupan saat ini. Jika kita mengasihi Allah dan melakukan sebagaimana yang diperintahkan-Nya, kita menemukan rancangan terbaik untuk hidup dan pekerjaan kita. Ini tidak berarti mengikut Kristus tidak pernah mengalami kesukaran dan kekurangan (orang Kristen juga bisa dianiaya, dikucilkan, atau dipenjarakan). Ini berarti, orang yang hidup dengan kesalehan dan integritas yang tulus akan berhasil bukan saja karena mereka memiliki karakter yang baik, tetapi juga karena mereka berada dalam berkat Allah. Bahkan di masa-masa yang jahat, ketika ketaatan pada Allah bisa berujung pada penganiayaan, buah manis dari berkat Allah lebih baik daripada ampas pahit dari terlibat dalam kejahatan. Secara keseluruhan, kita selalu lebih baik di jalan Allah daripada di jalan apa pun yang lainnya.