Bootstrap

“Jangan Memberikan Kesaksian Palsu terhadap Sesamamu” (Keluaran 20:16; Ulangan 5:20)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Living room 162674 640

Hukum Kesembilan menghormati hak reputasi seseorang.[1] Penerapannya yang jelas dapat ditemukan dalam proses-proses hukum di mana apa yang dikatakan orang menunjukkan realitas dan menentukan jalan hidup. Keputusan pengadilan dan proses hukum lainnya memiliki kekuatan besar. Memanipulasinya berarti melemahkan struktur etika masyarakat dan dengan demikian merupakan pelanggaran serius. Walter Brueggemann berkata, perintah ini mengakui “bahwa kehidupan masyarakat tidak mungkin terjadi jika tidak ada yang membuat publik percaya bahwa realitas sosial akan dijelaskan dan dilaporkan secara dapat dipercaya.”[2] Meskipun dinyatakan dalam bahasa persidangan, Hukum Kesembilan juga berlaku dalam berbagai situasi yang berkaitan dengan hampir semua aspek kehidupan. Kita tidak boleh mengatakan atau melakukan sesuatu yang salah-menggambarkan tentang orang lain. Brueggemann lagi-lagi memberikan pandangan:

“Para politisi berusaha saling menjatuhkan melalui kampanye negatif; para kolumnis gosip menyajikan fitnah; dan di ruang-ruang keluarga Kristen, reputasi-reputasi dicemarkan atau dihancurkan di sela-sela kopi disajikan dalam cangkir porselen mewah dan makanan pencuci mulut. Persidangan-persidangan de facto ini diadakan tanpa proses hukum yang semestinya. Tuduhan-tuduhan dibuat; desas-desus dibiarkan; fitnah, sumpah palsu, dan komentar-komentar yang mencemarkan nama baik diucapkan tanpa keberatan. Tidak ada bukti, tidak ada pembelaan. Sebagai orang Kristen, kita harus menolak untuk berpartisipasi atau menoleransi segala percakapan yang membuat orang tercemar atau tertuduh tanpa orang itu berada di sana untuk membela diri. Meneruskan desas-desus dalam bentuk apa pun tidaklah benar, sekalipun itu dalam bentuk permohonan doa atau perhatian pastoral. Lebih dari sekadar menolak untuk berpartisipasi, orang Kristen harus menghentikan gosip dan orang-orang yang menyebarkannya di jalur mereka.” [3]

Hal ini semakin menunjukkan bahwa gosip di tempat kerja adalah pelanggaran serius. Beberapa di antaranya berkaitan dengan masalah di luar kantor yang bersifat pribadi, yang cukup jahat. Namun, bagaimana dengan kasus karyawan yang merusak reputasi rekan kerja? Mungkinkah yang diungkapkan itu benar-benar kebenaran jika orang yang dibicarakan saja tidak ada di sana untuk berbicara bagi dirinya sendiri? Lalu bagaimana dengan penilaian kinerja? Pengaman apa saja yang diperlukan untuk memastikan bahwa laporan-laporan itu adil dan akurat? Pada skala besar, bisnis pemasaran dan periklanan beroperasi di ruang publik di antara berbagai organisasi dan individu. Dalam rangka menunjukkan produk dan jasanya sebaik dan semenarik mungkin, sejauh mana orang boleh menunjuk kekurangan dan kelemahan pesaing tanpa menyertakan perspektif mereka? Mungkinkah hak “sesamamu” termasuk hak perusahaan lain? Jangkauan ekonomi global kita menunjukkan bahwa perintah ini memang bisa memiliki penerapan yang luas.

Perintah ini secara spesifik melarang untuk berbicara tidak benar tentang orang lain, yang lalu menimbulkan pertanyaan: apakah kita harus mengatakan kebenaran dalam segala situasi. Apakah membuat laporan keuangan palsu atau fiktif itu merupakan pelanggaran terhadap Hukum Kesembilan? Bagaimana dengan pernyataan-pernyataan iklan yang dibesar-besarkan, meskipun tidak secara terang-terangan merendahkan para pesaing? Bagaimana dengan jaminan-jaminan dari manajemen yang menyesatkan karyawan tentang kemungkinan PHK? Di dunia di mana persepsi sering diperhitungkan sebagai realitas, retorika persuasi mungkin tidak terlalu memerhatikan kebenaran. Namun, sumber ilahi Hukum Kesembilan mengingatkan kita bahwa Allah tidak dapat dipermainkan. Pada saat yang sama, kita sadar bahwa kebohongan kadang juga dilakukan, diterima, dan bahkan disetujui dalam Alkitab. Teologi yang lengkap tentang kebenaran dan kebohongan didasarkan pada ayat-ayat yang meliputi, meski tidak terbatas pada, Hukum Kesembilan. (Untuk pembahasan yang jauh lebih lengkap tentang topik ini, termasuk apakah larangan “memberi kesaksian palsu terhadap sesamamu” mencakup segala bentuk kebohongan dan penipuan, lihat Kebenaran & Kebohongan di https://www.teologikerja.org/).