Bootstrap

“Jangan Mengingini … Apa pun Milik Sesamu” (Keluaran 20:17; Ulangan 5:21)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
1956072

Hukum Kesepuluh melarang mengingini “apa pun milik sesamamu” (Ulangan 5:21). Kita tidak salah jika memerhatikan barang-barang milik sesama, atau bahkan ingin memperolehnya sendiri secara sah. Mengingini terjadi ketika orang melihat kemakmuran, prestasi, atau bakat orang lain, lalu merasa gusar, ingin merebut, atau ingin menghukum orang yang berhasil itu. Yang dilarang adalah keinginan yang bisa mengancam/membahayakan orang lain atau “sesamamu” itu - bukan keinginan untuk memiliki sesuatu.

Kita bisa mendapat inspirasi dari kesuksesan orang lain, atau bisa juga jadi mengingini. Sikap pertama memicu kerja keras dan kehati-hatian. Sikap kedua menimbulkan kemalasan, memunculkan alasan-alasan kegagalan, dan memicu tindakan perampasan. Kita tidak akan pernah berhasil jika kita meyakinkan diri sendiri bahwa hidup adalah permainan “zero-sum” (jumlah keuntungan dan kerugian semua peserta dalam permainan adalah nol) dan bahwa kita akan dirugikan jika orang lain berhasil. Kita tidak akan pernah melakukan hal-hal besar jika, alih-alih bekerja keras, kita hanya berkhayal bahwa prestasi orang lain adalah prestasi kita. Di sini lagi-lagi, landasan utama Hukum ini adalah perintah untuk menyembah Allah saja. Jika Allah menjadi fokus penyembahan kita, kerinduan pada Dia akan menggantikan segala keinginan yang serakah dan tidak kudus pada hal lain, termasuk pada milik sesama kita. Seperti dikatakan Rasul Paulus, “Aku telah belajar untuk mencukupkan diri dalam segala hal” (Filipi 4:11).

Kitab Ulangan menambahkan kata “ladang” pada daftar milik sesama yang tak boleh diingini di kitab Keluaran. Seperti halnya tambahan-tambahan lain pada Sepuluh Hukum di kitab Ulangan, tambahan ini menarik perhatian ke tempat kerja. Ladang adalah tempat kerja, dan mengingini ladang berarti mengingini sumber daya produktif yang dimiliki orang lain.

Kecemburuan dan keserakahan tentu saja sangat berbahaya di tempat kerja, tempat di mana status, gaji, dan kekuasaan merupakan hal sehari-hari dalam relasi kita dengan orang-orang yang menghabiskan banyak waktu bersama kita. Kita mungkin punya banyak alasan yang baik untuk menginginkan prestasi, kemajuan, atau ganjaran dalam bekerja. Namun, iri hati bukanlah salah satunya. Begitu pula dengan bekerja obsesif karena merasa iri dengan kedudukan sosial yang memungkinkan hal itu.

Secara khusus, kita menghadapi godaan di tempat kerja untuk secara keliru membesar-besarkan pencapaian kita dengan mengorbankan orang lain. Cara mengatasinya sederhana, meskipun kadang sulit untuk dilakukan. Bangunlah kebiasaan yang konsisten untuk mengakui pencapaian orang lain dan memberikan kepada mereka semua penghargaan yang pantas mereka terima. Jika kita bisa belajar bersukacita atas—atau setidaknya mengakui—keberhasilan orang lain, kita sudah menutup sumber perasaan iri dan tamak di tempat kerja. Bahkan lebih baik lagi jika kita bisa belajar bagaimana caranya bekerja agar kesuksesan kita berjalan seiring dengan kesuksesan orang lain, ketamakan diganti dengan kerja sama, dan iri hati diganti dengan persatuan.

Leith Anderson, mantan pendeta Gereja Wooddale di Eden Prairie, Minnesota, berkata, “Sebagai pendeta senior, saya seperti memiliki persediaan koin yang tak terbatas di saku saya. Setiap kali saya memberikan penghargaan kepada anggota staf atas idenya yang baik, memuji pekerjaan sukarelawan, atau berterima kasih pada seseorang, saya seperti menyelipkan koin dari saku saya ke saku mereka. Itulah tugas saya sebagai pemimpin, menyelipkan koin-koin dari saku saya ke saku orang lain, untuk membangun apresiasi orang lain terhadap mereka”. [1]