Bootstrap

Hari Sabat dan Pekerjaan Yang Kita Lakukan (Ulangan 5:13)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Japan 218615 620

Bagian pertama dari Hukum Keempat memanggil kita untuk berhenti bekerja satu hari dalam seminggu/tujuh hari. Di satu sisi, ini adalah anugerah yang tiada taranya bagi bangsa Israel. Tidak ada bangsa kuno lainnya yang mendapat hak istimewa untuk beristirahat satu hari dalam seminggu. Di sisi lain, hal ini membutuhkan kepercayaan luar biasa akan pemeliharaan Allah. Enam hari kerja harus cukup untuk merawat tanaman, mengumpulkan tuaian, mengangkut air, memintal kain, dan mencari makanan dari sumber alam. Sementara bangsa Israel beristirahat satu hari setiap minggunya, bangsa-bangsa di sekelilingnya terus membuat pedang, panah, dan melatih para tentara. Bangsa Israel harus percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan satu hari beristirahat ini menjadi bencana ekonomi dan militer.

Kita menghadapi masalah yang sama dalam hal kepercayaan akan pemeliharaan Allah saat ini. Jika kita mengindahkan perintah Allah untuk mematuhi siklus bekerja dan beristirahat Allah sendiri, apakah kita akan mampu bersaing dalam perekonomian modern? Apakah diperlukan tujuh hari kerja untuk menangani satu pekerjaan (atau dua atau tiga pekerjaan), membersihkan rumah, menyiapkan makanan, memotong rumput, mencuci mobil, membayar tagihan, menyelesaikan tugas sekolah, dan berbelanja pakaian, atau dapatkah kita percaya bahwa Allah akan memelihara kita meskipun kita mengambil satu hari istirahat setiap minggunya? Dapatkah kita meluangkan waktu untuk menyembah Allah, berdoa, dan bersekutu dengan orang lain untuk belajar dan saling menguatkan, dan jika kita dapat melakukannya, apakah hal itu akan membuat kita lebih atau kurang produktif secara keseluruhan? Hukum Keempat tidak menjelaskan bagaimana Allah akan membuat semuanya berhasil bagi kita. Perintah ini hanya memanggil kita untuk beristirahat satu hari setiap tujuh hari.

Orang Kristen, dengan beberapa pengecualian yang signifikan, biasanya memindahkan hari istirahat ini ke Hari Tuhan (hari Minggu, hari kebangkitan Kristus), tetapi inti dari perintah hari Sabat bukanlah memilih satu hari tertentu dalam seminggu (Roma 14:5-6). Polaritas yang benar-benar mendasari perintah hari Sabat adalah bekerja dan beristirahat. Baik bekerja maupun beristirahat tercakup dalam Hukum Keempat. “Enam hari lamanya kamu akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu” (Ulangan 5:13). Enam hari bekerja sama pentingnya dengan satu hari beristirahat dalam perintah itu. Sementara banyak orang Kristen berada dalam bahaya membiarkan pekerjaan mengambil waktu yang ditetapkan untuk beristirahat, sebagian lainnya berada dalam bahaya yang sebaliknya—melalaikan pekerjaan dan mencoba menjalani kehidupan dengan santai dan bermalas-malasan. Yang ini bahkan lebih buruk dari mengabaikan hari Sabat, karena “jika ada orang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk daripada orang yang tidak beriman” (1 Timotius 5:8). Yang kita butuhkan adalah waktu dan kesempatan untuk bekerja dan beristirahat, yang sama-sama baik untuk kita, keluarga kita, para pekerja, dan tamu-tamu kita. Beristirahat ini bisa berarti selama dua puluh empat jam terus-menerus pada hari Minggu (atau Sabtu), bisa juga tidak. Proporsinya bisa berubah-ubah tergantung kebutuhan saat itu atau perubahan kebutuhan musim kehidupan.

Jika bekerja berlebihan merupakan bahaya utama kita, kita perlu mencari cara untuk menghormati Hukum Keempat tanpa perlu membentuk legalisme baru yang palsu yang mempertentangkan antara yang rohani (beribadah pada hari Minggu) dengan yang sekuler (bekerja pada hari Senin sampai Sabtu). Jika menghindari kerja adalah bahaya kita, kita perlu belajar menemukan sukacita dan makna dalam bekerja sebagai pelayanan kepada Allah dan sesama (Efesus 4:28).