Bootstrap

Pemberontakan dan Sikap Berpuas Diri (Ulangan 1:1–4:43)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
2645327

Kitab Ulangan dimulai dengan wejangan Musa yang menceritakan kembali peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Israel baru-baru itu. Musa mengambil pelajaran-pelajaran dari peristiwa-peristiwa ini dan menasihati bangsa Israel agar menanggapi kesetiaan Allah dengan menaati Dia dengan percaya (Ulangan 4:40). Dua bagian yang berurutan — tentang menciderai kepercayaan pada Allah dengan memberontak dan berpuas diri—sangat penting bagi teologi kerja.

Israel Menolak Masuk ke Tanah Perjanjian (Ulangan 1:19-45)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Di padang gurun, ketakutan bangsa Israel membuat mereka tidak percaya kepada Allah. Sebagai akibatnya, mereka memberontak terhadap rencana Allah yang menghendaki mereka masuk ke tanah yang dijanjikan Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub (Ulangan 1:7-8). Allah sudah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, memberikan Hukum-Nya di gunung Horeb (Sinai), dan dengan cepat membawa bangsa itu ke wilayah yang berbatasan dengan tanah perjanjian (Ulangan 1:19-20). Menurut kitab Bilangan, Allah menyuruh Musa mengirim para pengintai untuk menyelidiki negeri yang akan Dia berikan kepada bangsa itu, dan Musa taat (Bilangan 13:1-3). Namun, orang Israel lainnya justru memakai misi pengintaian ini sebagai kesempatan untuk tidak menaati Allah. Mereka meminta Musa mengirim pengintai agar mereka dapat membatalkan aksi militer yang diperintahkan Allah. Ketika para pengintai itu kembali dengan laporan yang baik, bangsa Israel tetap menolak untuk masuk ke negeri itu (Ulangan 1:26). “Orang-orang itu lebih besar dan lebih tinggi daripada kita, kota-kota mereka besar dan kubu-kubunya sampai ke langit,” kata mereka kepada Musa dengan menambahkan perkataan “hati kami menjadi kecut" (Ulangan 1:28). Sekalipun Musa meyakinkan mereka bahwa Allah akan berperang bagi mereka sama seperti yang Dia lakukan di Mesir, mereka tidak percaya Allah akan menepati janji-Nya (Ulangan 1:29-33). Ketakutan menimbulkan ketidaktaatan yang mendatangkan hukuman keras.

Akibat ketidaktaatan ini, bangsa Israel yang hidup pada waktu itu tidak diperbolehkan masuk ke tanah perjanjian. "Tidak seorang pun dari orang-orang ini, generasi yang jahat ini, akan melihat negeri yang baik, yang Kujanjikan dengan sumpah untuk diberikan kepada nenek moyangmu" (Ulangan 1:35). Kecuali hanya Kaleb dan Yosua, satu-satunya anggota ekspedisi pengintaian yang menganjurkan bangsa Israel untuk menaati perintah Allah (Bilangan 13:30). Musa sendiri tidak diperbolehkan masuk ke negeri itu karena tindakan ketidaktaatan yang lain. Di Bilangan 20:2-12 Musa meminta sumber air kepada Allah, dan Allah menyuruh Musa memerintahkan bukit batu menjadi mata air. Namun, Musa memukul bukit batu itu dua kali dengan tongkatnya. Andai saja Musa hanya berkata kepada bukit batu itu sebagaimana yang diperintahkan Allah, mukjizat yang terjadi itu tentu akan memuaskan baik kehausan jasmani bangsa Israel maupun kebutuhan mereka untuk percaya bahwa Allah selalu memelihara mereka. Namun, karena dan ketika Musa memukul bukit batu itu seakan hendak memaksa membuka sumber air itu, momen yang baik itu lewat. Seperti orang-orang Israel di Ulangan 1:19-45, Musa dihukum atas ketidak-percayaan yang menjadi dasar ketidaktaatannya. "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, sebab itu kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang Kuberikan kepada mereka" (Bilangan 20:12).

Ketika orang Israel itu menyadari bahwa mereka telah menghukum diri mereka sendiri dengan selamanya akan hidup mengembara di padang gurun, dan bukan menikmati “negeri yang baik” (Ulangan 1:25) yang telah disediakan Allah untuk mereka, mereka mencoba membuat rencana sendiri untuk menyerang orang Amori. Namun, Allah berkata, "Jangan maju dan jangan berperang, sebab Aku tidak ada di tengah-tengahmu, nanti kamu terpukul kalah oleh musuhmu" (Ulangan 1:42). Tidak memercayai janji-janji Allah membuat orang Israel kehilangan berkat-berkat yang sudah Dia sediakan untuk mereka.

Ketika kita tahu apa yang benar, tetapi tergoda untuk melanggarnya, percaya pada Allah adalah satu-satunya cara agar kita tetap berada dalam rencana Allah. Ini bukan soal kekuatan karakter. Jika Musa saja bisa gagal dalam memercayai Allah sepenuhnya, bisakah kita bayangkan kita benar-benar akan berhasil? Namun, ini adalah soal kasih karunia Allah. Kita dapat berdoa agar Roh Allah menguatkan kita saat kita berpegang teguh pada yang benar, dan kita dapat meminta pengampunan Allah ketika kita gagal. Seperti Musa dan bangsa Israel, tidak memercayai Allah dapat menimbulkan akibat fatal dalam kehidupan, tetapi kegagalan kita pada akhirnya ditebus oleh kasih karunia Allah. (Untuk lebih jelas tentang hal ini, lihat “Ketika Kepemimpinan Membuat Tidak Populer” dalam Bilangan 13 dan 14).

Ketika Kesuksesan Menimbulkan Sikap Berpuas Diri (Ulangan 4:25-40)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Di padang gurun, orang Israel meninggalkan kepercayaan kepada Allah bukan hanya karena ketakutan, tetapi juga karena kesuksesan. Dalam wejangannya yang pertama ini, Musa menjelaskan tentang kemakmuran yang menanti generasi baru yang akan memasuki Tanah Perjanjian. Musa menyatakan bahwa kesuksesan kemungkinan bisa menimbulkan sikap berpuas diri secara rohani yang jauh lebih berbahaya dari kegagalan. “Apabila kamu beranak cucu dan menjadi tua di negeri itu, lalu berlaku busuk dengan membuat patung yang menyerupai apa pun… pastilah kamu segera lenyap dari negeri yang akan kamu duduki” (Ulangan 4:25-26). Kita akan sampai pada pembahasan tentang penyembahan berhala itu sendiri di Ulangan 5:8, tetapi bahaya rohani yang dimaksud di sini adalah bahaya yang disebabkan oleh sikap berpuas diri. Setelah mengalami kesuksesan, orang sering berhenti takut akan Allah dan mulai percaya bahwa kesuksesan itu hak manusia. Alih-alih bersyukur, kita mengembangkan sikap merasa berhak. Kesuksesan yang kita perjuangkan tidak salah, tetapi berbahaya secara moral. Sesungguhnya, kesuksesan yang kita peroleh adalah gabungan dari sejumput keterampilan dan kerja keras, yang berpadu dengan setumpuk situasi-situasi menguntungkan dan anugerah umum Allah. Kita tidak benar-benar dapat memenuhi keinginan, kerinduan dan keamanan kita sendiri. Kesuksesan tidak permanen, dan tidak sungguh-sungguh memuaskan. Contoh yang dramatis dari kebenaran ini tampak dalam kehidupan raja Uzia di 2 Tawarikh. “Ia ditolong [oleh Allah] secara ajaib sehingga semakin kuat. Ketika sudah kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia terjerumus binasa” (2 Tawarikh 26:15-16). Hanya di dalam Allah kita dapat menemukan keamanan dan kepuasan yang sesungguhnya (Mazmur 17:15).

Mungkin mengherankan bahwa akibat dari sikap berpuas diri bukanlah ateisme, tetapi penyembahan berhala. Musa sudah memprediksi bahwa jika bangsa itu meninggalkan Allah, mereka tidak akan menjadi orang-orang yang merdeka secara rohani. Mereka akan mengikatkan diri dengan “ilah-ilah buatan tangan manusia dari kayu dan batu yang tidak dapat melihat dan mendengar, tidak dapat makan atau mencium” (Ulangan 4:28). Pada zaman Musa, pemikiran tentang hidup tidak beragama mungkin tidak ada di benak siapa pun, tetapi pada zaman kita sekarang, banyak. Gelombang sekulerisme yang kian meningkat berusaha melepaskan diri dari yang dianggap —yang kadang cukup tepat—sebagai belenggu dominasi dari institusi-institusi, kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik keagamaan yang korup. Namun, apakah semua ini menghasilkan kemerdekaan yang sesungguhnya, atau apakah menyembah Allah perlu digantikan dengan menyembah ilah-ilah buatan tangan manusia?

Meskipun pertanyaan ini terdengar abstrak, dampaknya sangat nyata pada masalah kerja dan tempat kerja. Sebagai contoh, sebelum paruhan terakhir abad kedua puluh, pertanyaan-pertanyaan tentang etika bisnis biasanya dijawab dengan referensi ayat-ayat Kitab Suci. Tindakan ini jauh dari sempurna, tetapi memberi landasan kuat pada orang-orang yang berada di pihak yang kalah dalam perebutan kekuasaan yang terkait dengan pekerjaan. Kasus paling dramatis mungkin adalah perlawanan berdasarkan-agama terhadap perbudakan di Inggris dan Amerika yang pada akhirnya berhasil menghapuskan perdagangan budak maupun perbudakan itu sendiri. Di lembaga-lembaga sekuler, tidak ada otoritas moral yang dapat dijadikan acuan. Sebagai gantinya, keputusan-keputusan etis didasarkan pada hukum dan “ethical custom” (kebiasaan etis) sebagaimana dikatakan Milton Friedman.[1] Dengan hukum dan kebiasaan etis sebagai konsepsi pemikiran manusia, etika bisnis direduksi menjadi peraturan oleh pihak yang berkuasa dan populer. Tidak ada orang yang mau tempat kerjanya didominasi oleh elit agama, tetapi bukankah tempat kerja yang betul-betul sekuler hanya membuka peluang bagi bentuk-bentuk eksploitasi yang lain? Tentu saja orang percaya dapat membawa berkat-berkat kesetiaan Allah ke tempat kerja mereka tanpa mencoba menegaskan lagi hak-hak istimewa mereka sendiri.

Semua ini tidak berarti bahwa kesuksesan selalu akan menimbulkan sikap berpuas diri. Jika kita bisa mengingat bahwa kasih karunia Allah, firman Allah dan pimpinan Allah adalah dasar dari kesuksesan apa pun yang kita miliki, kita akan bersyukur, bukan berpuas diri. Lalu, kesuksesan yang kita alami dapat memuliakan Allah dan membuat kita bersukacita. Yang diperingatkan hanyalah, bahwa dalam perjalanan sejarah, kesuksesan ternyata bisa lebih berbahaya secara rohani daripada kesukaran. Musa selanjutnya juga memperingatkan bangsa Israel tentang bahaya kemakmuran di Ulangan 8:11-20.