Bootstrap

Israel Menolak Masuk ke Tanah Perjanjian (Ulangan 1:19-45)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
2338536

Di padang gurun, ketakutan bangsa Israel membuat mereka tidak percaya kepada Allah. Sebagai akibatnya, mereka memberontak terhadap rencana Allah yang menghendaki mereka masuk ke tanah yang dijanjikan Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub (Ulangan 1:7-8). Allah sudah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, memberikan Hukum-Nya di gunung Horeb (Sinai), dan dengan cepat membawa bangsa itu ke wilayah yang berbatasan dengan tanah perjanjian (Ulangan 1:19-20). Menurut kitab Bilangan, Allah menyuruh Musa mengirim para pengintai untuk menyelidiki negeri yang akan Dia berikan kepada bangsa itu, dan Musa taat (Bilangan 13:1-3). Namun, orang Israel lainnya justru memakai misi pengintaian ini sebagai kesempatan untuk tidak menaati Allah. Mereka meminta Musa mengirim pengintai agar mereka dapat membatalkan aksi militer yang diperintahkan Allah. Ketika para pengintai itu kembali dengan laporan yang baik, bangsa Israel tetap menolak untuk masuk ke negeri itu (Ulangan 1:26). “Orang-orang itu lebih besar dan lebih tinggi daripada kita, kota-kota mereka besar dan kubu-kubunya sampai ke langit,” kata mereka kepada Musa dengan menambahkan perkataan “hati kami menjadi kecut" (Ulangan 1:28). Sekalipun Musa meyakinkan mereka bahwa Allah akan berperang bagi mereka sama seperti yang Dia lakukan di Mesir, mereka tidak percaya Allah akan menepati janji-Nya (Ulangan 1:29-33). Ketakutan menimbulkan ketidaktaatan yang mendatangkan hukuman keras.

Akibat ketidaktaatan ini, bangsa Israel yang hidup pada waktu itu tidak diperbolehkan masuk ke tanah perjanjian. "Tidak seorang pun dari orang-orang ini, generasi yang jahat ini, akan melihat negeri yang baik, yang Kujanjikan dengan sumpah untuk diberikan kepada nenek moyangmu" (Ulangan 1:35). Kecuali hanya Kaleb dan Yosua, satu-satunya anggota ekspedisi pengintaian yang menganjurkan bangsa Israel untuk menaati perintah Allah (Bilangan 13:30). Musa sendiri tidak diperbolehkan masuk ke negeri itu karena tindakan ketidaktaatan yang lain. Di Bilangan 20:2-12 Musa meminta sumber air kepada Allah, dan Allah menyuruh Musa memerintahkan bukit batu menjadi mata air. Namun, Musa memukul bukit batu itu dua kali dengan tongkatnya. Andai saja Musa hanya berkata kepada bukit batu itu sebagaimana yang diperintahkan Allah, mukjizat yang terjadi itu tentu akan memuaskan baik kehausan jasmani bangsa Israel maupun kebutuhan mereka untuk percaya bahwa Allah selalu memelihara mereka. Namun, karena dan ketika Musa memukul bukit batu itu seakan hendak memaksa membuka sumber air itu, momen yang baik itu lewat. Seperti orang-orang Israel di Ulangan 1:19-45, Musa dihukum atas ketidak-percayaan yang menjadi dasar ketidaktaatannya. "Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, sebab itu kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang Kuberikan kepada mereka" (Bilangan 20:12).

Ketika orang Israel itu menyadari bahwa mereka telah menghukum diri mereka sendiri dengan selamanya akan hidup mengembara di padang gurun, dan bukan menikmati “negeri yang baik” (Ulangan 1:25) yang telah disediakan Allah untuk mereka, mereka mencoba membuat rencana sendiri untuk menyerang orang Amori. Namun, Allah berkata, "Jangan maju dan jangan berperang, sebab Aku tidak ada di tengah-tengahmu, nanti kamu terpukul kalah oleh musuhmu" (Ulangan 1:42). Tidak memercayai janji-janji Allah membuat orang Israel kehilangan berkat-berkat yang sudah Dia sediakan untuk mereka.

Ketika kita tahu apa yang benar, tetapi tergoda untuk melanggarnya, percaya pada Allah adalah satu-satunya cara agar kita tetap berada dalam rencana Allah. Ini bukan soal kekuatan karakter. Jika Musa saja bisa gagal dalam memercayai Allah sepenuhnya, bisakah kita bayangkan kita benar-benar akan berhasil? Namun, ini adalah soal kasih karunia Allah. Kita dapat berdoa agar Roh Allah menguatkan kita saat kita berpegang teguh pada yang benar, dan kita dapat meminta pengampunan Allah ketika kita gagal. Seperti Musa dan bangsa Israel, tidak memercayai Allah dapat menimbulkan akibat fatal dalam kehidupan, tetapi kegagalan kita pada akhirnya ditebus oleh kasih karunia Allah. (Untuk lebih jelas tentang hal ini, lihat “Ketika Kepemimpinan Membuat Tidak Populer” dalam Bilangan 13 dan 14).