Bootstrap

Mazmur dan Pekerjaan

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Psalms bible commentary

Introduksi Kitab Mazmur

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kitab Mazmur sebagian berupa buku nyanyian, sebagian buku doa, sebagian bacaan hikmat, dan sebagian kumpulan puisi tentang Israel dan Allah. Topik-topiknya sangat luas. Di satu sisi, kitab Mazmur merupakan puji-pujian dan doa kepada Allah Yang Maha Tinggi (Mazmur 50:14), dan di sisi lain mencakup pengalaman-pengalaman manusia yang mendalam seperti orang yang berkeluh kesah karena kematian ibu (Mazmur 35:14). Kitab Mazmur berbeda dengan kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya karena isinya sebagian besar tentang manusia yang berbicara kepada Allah. Sementara kitab-kitab Perjanjian Lama lainnya sebagian besar berisi tentang Allah yang berbicara kepada manusia (seperti dalam kitab Taurat dan kitab Nabi-nabi), atau berisi cerita.

Meskipun sudah berusia ribuan tahun, hampir semua Mazmur, dalam satu atau lain hal, mencerminkan pergumulan dan sukacita kita sendiri pada masa kini. Apa pun topik mazmur tertentu, masing-masing menyuarakan emosi-emosi yang kita rasakan ketika kita bergulat dengan masalah-masalah kehidupan. Beberapa Mazmur menggambarkan sukacita kita dalam Allah ketika kita mengalami penyertaan ilahi dalam situasi sulit yang sudah berakhir baik. Yang lain mengungkapkan perasaan-perasaan marah atau pedih kita saat bergumul untuk mengerti mengapa Allah tidak bertindak seperti yang kita pikirkan ketika “orang jahat menang.” Di dalam mazmur-mazmur tertentu, Allah berbicara. Di dalam mazmur-mazmur lainnya, Allah diam. Beberapa menunjukkan resolusi, sementara yang lainnya meninggalkan kita dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Kitab Mazmur seluruhnya tidak ditulis oleh satu orang pada satu waktu, seperti ditunjukkan dari banyaknya ragam atribusi/fitur dalam naskah-naskahnya. Sesungguhnya, penelitian tentang penulisan Kitab Mazmur— seperti tanggal atau waktu penyusunan, latar belakang, tujuan, penggunaan, dan transmisinya—merupakan bidang yang utama dalam studi Alkitab. Alat-alat kritisisme bentuk dan analisis sastra komparatif (khususnya komparasi dengan sastra Ugarit) sangat berperan dalam penelitian kitab Mazmur.[1] Kita tidak akan mencoba melakukan penelitian secara umum ini, tetapi kita akan mengacu pada riset semacam itu jika diperlukan untuk membantu kita memahami dan menerapkan kitab Mazmur pada pekerjaan.

Pekerjaan dalam Kitab Mazmur

Di sepanjang 150 mazmur, pekerjaan muncul secara teratur. Terkadang perhatian kitab Mazmur dalam hal pekerjaan berkisar pada etika-etika individu, seperti integritas dan ketaatan pada Allah dalam bekerja, menghadapi seteru, dan keresahan melihat orang tidak etis yang kelihatan sukses. Mazmur-mazmur lainnya menaruh perhatian pada etika organisasi—baik organisasi yang sekecil rumahtangga, maupun organisasi yang sebesar negara. Tema-tema masa kini yang diterapkan dalam kitab Mazmur meliputi etika bisnis, menghadapi tekanan institusi, globalisasi, dan akibat-akibat kegagalan di tempat kerja dan kesalahan bangsa. Tema utama kitab Mazmur lainnya yang terkait pekerjaan adalah penyertaan Allah dalam pekerjaan kita. Di sini kita menemukan topik-topik seperti pimpinan Tuhan, kreativitas manusia yang didasarkan pada Allah (yang mendasari semua produktivitas), pentingnya melakukan pekerjaan yang benar-benar berharga, dan kasih karunia Allah dalam pekerjaan kita. Kitab Mazmur menaruh perhatian khusus pada pekerjaan menikah, membesarkan anak, dan merawat orangtua. Yang mendasari semua topik-topik khusus ini adalah pernyataan kitab Mazmur tentang kemuliaan Allah di dalam seluruh ciptaan. Beragamnya tema-tema yang berkaitan dengan pekerjaan di dalam kitab Mazmur tidak mengherankan.

Lima Jilid Kitab Mazmur

Fitur struktural kitab Mazmur yang paling jelas adalah pembagiannya yang menjadi lima jilid: Jilid 1 (Mazmur 1-41), Jilid 2 (Mazmur 42-72), Jilid 3 (Mazmur 73-89), Jilid 4 (Mazmur 90-106), dan Jilid 5 (Mazmur 107-150). Alasan dan sejarah pembagian ini tidak sepenuhnya diketahui. Jilid 1 sangat berfokus pada pengalaman-pengalaman Daud, dan Jilid 2 berbicara tentang Daud dan kerajaan Daud. Jilid 3 lebih suram, berisi banyak ratapan dan keluhan. Bagian ini berakhir di Mazmur 89 tentang Perjanjian Daud dalam kehancuran dan bangsa yang hancur. Jilid 4 berbicara dengan serius tentang kematian manusia (Mazmur 90), tetapi juga berbicara dengan megah tentang Tuhan sebagai Raja Agung yang memerintah segala sesuatu (Mazmur 93 dan Mazmur 95-99). Jilid 5 berupa campuran, tetapi berakhir dengan perayaan ketika bangsa-bangsa dan seluruh ciptaan menyembah Allah Israel (lihat Mazmur 148).

Jadi, kita melihat sebuah gerakan yang umum dari seorang manusia bernama Daud sampai kerajaan Daud, lalu sampai berakhirnya dinasti Daud, dan selanjutnya pujian tentang Allah sendiri sebagai Raja di bumi, dan akhirnya tentang kemenangan kerajaan Allah. Ini menjadi alur cerita kitab Mazmur secara keseluruhan. Namun, banyak mazmur dalam pengelompokan itu tidak sesuai dengan urutan ini. Dalam satu dan lain hal, alasan pengurutan kitab Mazmur yang sekarang ini tetap menjadi misteri. Namun jika ada satu struktur besar saja, kita mungkin tidak dapat memahaminya secara utuh atau mengikutinya secara sistematis.

Strategi Interpretasi Kitab Mazmur

Keunikan kitab Mazmur bisa menyulitkan dalam memahami konteks aslinya, apalagi menerapkannya dalam kehidupan dan pekerjaan masa kini. Kitab Mazmur adalah kumpulan tulisan yang sangat beragam, dan ini menjadikannya sulit untuk digeneralisasi. Apakah kita seharusnya mempelajari kitab Mazmur untuk mencari pengajaran? Membacanya untuk memahami sejarah? Mendoakan atau menyanyikannya sendiri atau bersama orang lain? Alkitab sendiri tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Sebelum kita mempelajari penerapan mazmur-mazmur dalam bekerja, kita perlu mengembangkan strategi-strategi interpretasi yang dapat menolong kita mendapatkan manfaat maksimal dari kitab Mazmur.

Pendekatan kita di sini adalah menyelidiki kumpulan mazmur yang dipilih karena mazmur-mazmur itu berbicara tentang sesuatu yang signifikan tentang pekerjaan, atau sesuatu yang signifikan tentang kehidupan yang diterapkan secara signifikan pada pekerjaan. Secara praktisnya, hal ini biasanya berarti mazmur-mazmur itu dipilih karena para kontributor, dewan pengarah, atau pengulas Proyek Teologi Kerja menganggapnya sangat signifikan dalam studi atau pengalaman mereka sendiri. Metode seleksi ini diakui tidak sistematis. Tafsiran yang dihasilkan juga tidak dimaksudkan untuk secara mendalam, atau bahkan selalu benar. Namun,, pengumpulan ini diharapkan dapat menjadi serangkaian contoh tentang bagaimana orang-orang Kristen secara individu maupun kelompok dapat dengan setia menggunakan mazmur-mazmur ketika hendak mengintegrasikan iman dan pekerjaan mereka.

Jilid 1 (Mazmur 1-41)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jilid 1 kebanyakan terdiri dari mazmur-mazmur yang diungkapkan Daud sebagai pribadi, bukan Israel sebagai bangsa. Mazmur-mazmur ini mengungkapkan hal-hal yang memprihatinkan Daud, secara pribadi, dan ini membuat mazmur-mazmur ini dapat diterapkan pada situasi-situasi yang kita hadapi dalam pekerjaan kita sendiri. Jilid-jilid selanjutnya mengungkapkan aspek-aspek sosial dan komunal dalam kehidupan dan pekerjaan.

Integritas Pribadi dalam Bekerja (Mazmur 1)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dua mazmur pembuka mendasari tema-tema yang ada di seluruh kitab Mazmur. Mazmur 1 menggambarkan integritas pribadi, yang menunjukkan bagaimana cara hidup setiap pembaca seharusnya. Mazmur ini diterapkan terutama pada pekerjaan dan kerinduan untuk berhasil. Dikatakan bahwa orang benar itu, “seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya. Apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:3). Pekerjaan yang dilakukan secara etis cenderung berhasil. Namun, ini kebenaran secara umum, bukan pedoman yang mutlak benar. Terkadang orang juga bisa menderita karena bertindak etis, baik di tempat kerja maupun di tempat lain. Namun,, kemungkinan orang yang takut akan Allah dan berintegritas akan berhasil juga benar. Hal ini karena mereka hidup dengan bijak dan juga karena Allah memberkati mereka.

Ketaatan pada Tuhan (Mazmur 2)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mazmur 2 berfokus pada “rumah” Daud. Allah telah memilih kerajaan ini dan bait sucinya, Sion, sebagai pusat kerajaan Allah. Kelak orang-orang non-Yahudi akan tunduk padanya atau menghadapi murka Allah. Karena itu, Mazmur 2:11-12 berkata, “Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya.” Yesus sudah menggenapi janji-janji kepada Daud ini. Bagi kita, pelajarannya adalah kita harus menghargai kerajaan Kristus di atas segala sesuatu. Etos kerja yang baik itu penting, tetapi kita tidak boleh menjadikan kemakmuran sebagai prioritas utama kita. Kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada uang/Mamon (Matius 6:24).

Membawa Musuh dan Seteru kepada Tuhan (Mazmur 4, 6, 7, 17)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Setelah Mazmur 1 dan 2, Jilid 1 memiliki banyak mazmur yang di dalamnya Daud mengeluh kepada Allah tentang musuh-musuhnya. Mazmur-mazmur ini bisa jadi sulit bagi pembaca masa kini karena Daud kadang seperti mendendam. Namun, kita tak boleh melupakan fakta bahwa ketika musuh-musuh itu ada di dekatnya, ia menyerahkan masalah itu kepada Allah. Ia tidak mengambil tindakan sendiri.

Mazmur-mazmur ini memiliki penerapan di tempat kerja. Seringkali konflik dan persaingan timbul di antara orang-orang yang bekerja, dan kadang perselisihan ini bisa menjadi sengit. Pertengkaran-pertengkaran dalam pekerjaan dapat menyebabkan depresi dan insomnia. Mazmur 4:9 adalah sebuah doa tentang musuh pribadi, yang berbunyi, “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” Ketika kita menyerahkan masalah kita kepada Allah, kita bisa mendapat ketenangan. Namun, jika kita sedang di tengah pergumulan itu, doa permohonan kita minta tolong bisa terasa sia-sia. Padahal Allah mendengar dan menjawab: “Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku” (Mazmur 6:9). Di sisi lain, kita harus berhati-hati menjaga integritas kita ketika di tengah konflik semacam itu. Tak ada gunanya kita berseru kepada Allah jika kita bersikap kejam, tidak jujur, atau tidak etis dalam pekerjaan. “Ya TUHAN, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku, jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya, maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu” (Mazmur 7:4-6). Mazmur 17:3 mengungkapkan hal yang sama.

Otoritas (Mazmur 8)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mazmur 8 merupakan sebuah pengecualian di dalam Jilid 1, karena mazmur ini tidak secara spesifik berkaitan dengan Daud. Perhatiannya adalah pada otoritas semua manusia, bukan otoritas Daud saja. Meskipun Allah Pencipta seluruh alam semesta (Mazmur 8:1-4), Dia memilih mengangkat manusia untuk memerintah atas ciptaan (Mazmur 8:6-9). Ini adalah panggilan yang mulia. “Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya” (Mazmur 8:6-7). Ketika kita menjalankan otoritas dan kepemimpinan, kita melakukannya sebagai wakil Allah. Tindakan-tindakan kita tak boleh sewenang-wenang atau melayani diri sendiri, tetapi harus melayani tujuan-tujuan Allah. Yang terutama dari semuanya adalah memelihara segala makhluk di bumi (Mazmur 8:8-9) dan melindungi yang lemah dan tak berdaya, terutama anak-anak (Mazmur 8:3).

Jika kita memiliki otoritas dalam pekerjaan, kita bisa tergoda untuk menganggap kedudukan kita sebagai ganjaran atas kerja keras atau kecerdasan kita, dan mengeksploitasi otoritas kita untuk keuntungan pribadi. Namun, Mazmur 8 mengingatkan kita bahwa otoritas bukanlah ganjaran, tetapi kewajiban. Memang benar kita harus bertanggung jawab pada atasan, dewan direksi, pengawas, pemilih/pendukung kita, atau bentuk-bentuk kekuasaan lainnya yang kita layani di bumi, tetapi itu saja tidak cukup. Kita juga harus bertanggung jawab pada Allah. Para pemimpin politik, misalnya, punya kewajiban untuk memperhatikan ilmu ekonomi dan lingkungan terbaik yang tersedia ketika memikirkan kebijakan energi, entah kebijakan itu sesuai dengan arah politik saat itu atau tidak. Demikian pula, para pemimpin bisnis dipanggil untuk mengantisipasi dan mencegah kemungkinan produk-produk dan layanan mereka membahayakan anak-anak—baik secara fisik, mental, budaya, atau spiritual. Ini berlaku tidak hanya pada mainan, film, televisi, dan makanan, tetapi juga pada bisnis eceran, transportasi, telekomunikasi, jasa keuangan, dan lain-lain.

Etika Bisnis (Mazmur 15, 24, 34)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kitab Mazmur berbicara banyak tentang etika di tempat kerja. Mazmur 15:1 dan 5 berkata, “TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?…[Orang] yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.” Jika kita menerima pembebanan bunga yang tidak selalu dilarang dalam konteks masa kini (lihat artikel “Does the Bible Prohibit Charging Interest?” di https://www.teologikerja.org/), penerapan Mazmur ini adalah agar kita tidak mengambil keuntungan dari orang lain di tempat kerja. Pinjaman yang membuat peminjamnya terlilit utang yang semakin besar adalah salah satu contohnya, seperti juga kartu-kartu kredit yang dengan sengaja menjebak para pemegang kartu yang tidak paham dengan biaya-biaya dan eskalasi suku bunga yang tidak diharapkan. Dalam arti luas, segala produk atau jasa yang mencari target orang-orang lemah (atau “tidak paham”) dan membuat mereka makin terpuruk adalah pelanggaran etika menurut kitab Mazmur. Etika bisnis —dan etika di bidang-bidang pekerjaan lainnya— yang baik harus membuat pelanggan mendapat keuntungan yang sesungguhnya dari barang dan jasa yang ditawarkan kepada mereka.

Mazmur 24:4–5 menambahkan bahwa Allah menerima "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan.” Penipuan yang dijelaskan di sini adalah tentang bersumpah palsu. Di dunia modern maupun dunia kuno, tampaknya sulit terlibat bisnis tanpa kadang harus terperosok dalam pelanggaran hukum. Ayat ini mendorong kita untuk bersaksi dengan jujur dan tidak memutar-balikkan keadilan dengan kecurangan. Ketika orang lain tidak bermoral, kejujuran kita bisa membuat kita kehilangan promosi, transaksi bisnis, kesempatan ikut pemilihan, naik pangkat, dan publikasi. Namun, dalam jangka panjang, kerugian-kerugian ini tak sebanding dengan berkat dan pemulihan dari Tuhan (Mazmur 24:5).

Etika juga muncul di Mazmur 34:13-14: “Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” Ini bisa merujuk pada segala macam penipuan, fitnah atau kecurangan. Referensi “umur panjang untuk menikmati yang baik” sebenarnya menunjukkan bahwa jika Anda menipu atau memfitnah orang lain, Anda kemungkinan akan mendapat musuh. Dalam kasus yang ekstrem, Anda bisa mati di tangan mereka, tetapi meskipun tidak, hidup dikelilingi musuh bukanlah hal yang menyenangkan. Jika hidup adalah kerinduan utama Anda, maka teman-teman yang dapat dipercaya jauh lebih menguntungkan daripada keuntungan yang haram. Hidup yang berintegritas mungkin sangat mahal dalam istilah duniawi. Di negara yang korup, pengusaha yang tidak memberi suap atau pegawai negeri yang tidak menerima suap bisa tidak memperoleh penghasilan yang baik. “Kemalangan orang benar banyak,” pemazmur mengakui, “Namun, TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.” (Mazmur 34:20). Bekerja dengan integritas bisa menghasilkan kemakmuran, bisa juga tidak, tetapi di mata Allah integritas sudah merupakan ganjaran itu sendiri.

Percaya Tuhan dalam Menghadapi Tekanan Institusi (Mazmur 20)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mazmur 20 mengajarkan kita untuk mempercayai Allah daripada mengandalkan kekuasaan manusia, seperti kekuatan militer. “Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita” (Mazmur 20:8). Aset keuangan, tak terkecuali aset militer, dapat menjadi dasar kepercayaan yang salah terhadap kekuatan manusia. Sehubungan dengan itu, kita harus ingat bahwa di dunia kuno hanya tentara berpangkat tinggi yang memiliki kuda dan kereta. Prajurit biasa didatangkan dari para petani dan berjalan kaki. Kenyataan yang meresahkan adalah bahwa kekayaan dan kekuasaan yang relatif kecil pun seringkali bisa menjauhkan kita dari Allah.

Penyertaan Tuhan dalam Pergumulan di Tempat Kerja (Mazmur 23)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

“Tuhan adalah gembalaku” (Mazmur 23:1). Jika kita memercayai Allah, kita memiliki ketenangan karena kita tahu Allah menjaga kita, seperti gembala menjaga dombanya. Ini mengingatkan kita untuk melihat pekerjaan kita dari sudut pandang Allah —bukan terutama sebagai sarana kita untuk mencapai kepuasan, tetapi sebagai partisipasi kita dalam misi Allah di dunia. “Dia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya” (Mazmur 23:3). Kita bekerja untuk memuliakan Allah, bukan untuk kemuliaan kita sendiri—menjadi pengingat yang kuat bahwa kita perlu mendengar secara teratur.

Perspektif ilahi tentang bekerja semacam ini biasanya mendorong kita untuk makin menekuni pekerjaan kita, bukan sebaliknya. Di Mazmur 23, kita melihat hal ini dalam narasi yang menjelaskan seluk-beluk pekerjaan menggembala. Para gembala mencari air yang tenang, padang rumput yang segar, dan jalan-jalan di padang. Mereka menghalau binatang-binatang buas dengan gada dan tongkat, dan menghibur domba-domba dengan perkataan dan kehadirannya. Mazmur 23 pada dasarnya merupakan gambaran akurat tentang pekerjaan gembala. Hal ini memberinya dasar realitas yang dibutuhkan untuk menjadi perenungan rohani yang berarti.

Meskipun kita rindu memuliakan Allah dalam pekerjaan kita, ini tidak berarti jalan kita akan mudah. Kita kadang bisa mendapati diri kita berada dalam “lembah kelam” (Mazmur 23:4). Situasi-situasi yang bisa berupa kehilangan kontrak, tugas mengajar yang berjalan buruk, atau perasaan terasing dan tidak berarti dalam bekerja. Atau bisa juga yang berupa pergumulan yang lebih panjang, seperti suasana kantor yang toksik, atau ketidakmampuan untuk mendapat pekerjaan. Kita jelas lebih suka tidak menghadapi hal-hal seperti ini. Namun, Mazmur 23 mengingatkan kita bahwa Allah itu dekat dalam segala situasi. “Aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku” (Mazmur 23:4a). Pekerjaan-Nya untuk kita tidak bersifat hipotetis, tetapi nyata dan jelas. Gembala memiliki gada dan tongkat, dan Allah memiliki semua alat yang diperlukan untuk mengantar kita dengan selamat melewati yang terburuk dalam kehidupan (Mazmur 23:4b). Allah juga akan menjaga kita di dunia yang kadang-memusuhi, “di hadapan lawanku” (Mazmur 23:5). Semua ini memang lebih mudah diingat ketika keadaan tenang, tetapi di sini kita dipanggil untuk mengingatnya di tengah tantangan dan kesukaran. Meskipun kita seringkali lebih suka tidak memikirkan hal ini, faktanya justru melalui tantangan hidup kitalah Allah menyelesaikan tujuan-tujuan-Nya di dalam kita.

Mazmur 23 diakhiri dengan mengingatkan kita pada tujuan perjalanan kita bersama Allah. “Aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa” (Mazmur 23:6b). Seperti di Mazmur 127 dan ayat-ayat lainnya, rumah atau rumahtangga bukan sekadar tempat naungan untuk orang makan dan tidur, tetapi merupakan unit dasar pekerjaan dan produksi ekonomi. Jadi, diam di rumah Tuhan bukan berarti menanti sampai kita mati agar kita bisa berhenti bekerja dan menerima upah kita. Melainkan, merupakan janji bahwa waktunya akan tiba ketika kita akan berada di tempat di mana pekerjaan dan hidup kita dapat berhasil. Paruhan pertama ayat ini langsung menyatakan bahwa janji ini adalah untuk kehidupan kita saat ini maupun dalam kekekalan. “Kebaikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku” (Mazmur 23:6). Janji bahwa Allah akan menyertai kita, mendatangkan kebaikan dan kasih dalam segala situasi kehidupan dan pekerjaan kita merupakan penghiburan yang lebih dalam daripada yang bisa kita dapatkan dari berharap luput dari setiap kesulitan yang bisa menimpa kita.

Pimpinan Tuhan dalam Bekerja (Mazmur 25)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Hidup manusia adalah serangkaian pilihan, dan banyak di antaranya berkaitan dengan pekerjaan. Kita harus membangun kebiasaan untuk membawa semua pilihan itu kepada Allah. Mazmur 25:12 mengajarkan, “Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.” Bagaimana Tuhan menunjukkan jalan yang harus kita pilih? Mazmur 25 menyebutkan beberapa cara, dimulai dengan “Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku” (Mazmur 25:4-5). Cara ini mewajibkan kita untuk membaca Alkitab secara teratur, cara utama kita untuk memahami jalan-jalan Allah dan belajar kebenaran-Nya. Setelah memahami jalan-jalan Allah, kita perlu menerapkannya, yang dalam banyak kasus tidak memerlukan bimbingan khusus dari Allah. “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mazmur 25:10). Perjanjian dan peringatan-peringatan-Nya tentu saja terdapat dalam Alkitab.

“Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, “ imbuh Mazmur 25:7. Mengakui dosa-dosa kita dan memohon belas kasihan Allah adalah cara kita yang lain untuk menerima pimpinan Allah. Ketika kita jujur pada Allah —dan pada diri kita sendiri—tentang dosa-dosa kita, pintu pimpinan Allah terbuka di hati kita. “Ampunilah kesalahanku,” dan “ampunilah segala dosaku” pinta Pemazmur (Mazmur 25:11, 18). Ketika kita diampuni Allah, kita dibebaskan untuk tidak lagi berusaha membenarkan diri sendiri, yang jika kita masih melakukannya, akan sangat menghalangi pimpinan Allah. Demikian pula, kerendahan hati dalam berurusan dengan Allah dan orang lain akan membuat kita tidak defensif, yang menghalangi pimpinan Allah. “Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati,” tulis Mazmur 25:9.

“Mataku tetap terarah kepada TUHAN,” lanjut Mazmur 25:15. Kita menerima pimpinan Allah ketika kita mencari petunjuk tentang hal-hal yang dipedulikan Allah, seperti keadilan, kesetiaan, rekonsiliasi, kedamaian, iman, pengharapan dan kasih. (Mazmur ini tidak menyebutkan hal-hal ini secara spesifik—ini adalah contoh dari bagian Alkitab yang lain). ”Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku,” kata Mazmur 25:21. Integritas (ketulusan) berarti menjalani seluruh kehidupan dengan seperangkat nilai-nilai yang bersesuaian, bukan, misalnya, bersikap jujur dan berbelas kasihan pada keluarga kita, tetapi berlaku curang dan kejam terhadap pelanggan atau rekan kerja kita. Memikirkan dengan jelas bagaimana menerapkan nilai-nilai tertinggi kita di tempat kerja ternyata juga merupakan cara untuk mendapatkan pimpinan Allah, setidaknya sampai nilai-nilai tertinggi kita dibentuk oleh Kitab Suci dan kesetiaan pada Kristus.

Meskipun cara-cara mendapatkan pimpinan ini tampaknya mungkin abstrak, cara-cara ini bisa sangat praktis ketika kita menerapkannya dalam situasi-situasi di tempat kerja. Kuncinya adalah bersungguh-sungguh dalam studi Alkitab, pengakuan dosa, doa, dan penalaran moral kita. Ketika kita membawa situasi-situasi kerja kita yang aktual dan spesifik kepada Allah dan firman-Nya, kita bisa mendapati Allah menjawab dengan pimpinan spesifik yang kita butuhkan. Untuk informasi lebih lanjut tentang pimpinan Allah yang berkaitan dengan vokasi atau panggilan pekerjaan kita, lihat “Discerning God’s guidance to a particular kind of work” dalam Vocation Overview di https://www.teologikerja.org/.

Jilid 2 (Mazmur 42-72)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kita semua mengalami rasa tidak aman, dan kehancuran finansial berada di urutan yang tinggi dalam daftar keresahan kita. Di dalam Jilid 2 ini, kita menemukan sejumlah ayat yang berkaitan dengan kecemasan-kecemasan yang melanda manusia serta jalan-jalan yang mereka tempuh untuk mencari pertolongan. Kita jadi belajar tentang dasar pengharapan yang benar dan yang salah di dunia yang penuh ketidakpastian ini.

Penyertaan Tuhan di tengah Bencana (Mazmur 46)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Terkadang, bencana mengancam tempat kerja kita, pekerjaan itu sendiri, atau rasa aman kita. Bencana ini bisa berupa bencana alam (angin ribut, puting beliung, banjir, badai topan, kebakaran), bencana ekonomi (resesi, kebangkrutan, runtuhnya lembaga-lembaga keuangan besar), dan bencana politik (perubahan kebijakan mendadak, prioritas-prioritas, perang). Mazmur 46 menyoroti bencana besar yang bisa terjadi di seluruh dunia, dan saat ini kita bisa melihat hal ini pada ekonomi global. Keputusan-keputusan tentang mata uang yang dibuat di London dan Beijing berimbas pada harga-harga yang diterima para petani di Indiana atau Indonesia untuk hasil panen mereka. Gejolak politik di Timur Tengah bisa memengaruhi harga bahan bakar di kota kecil manapun di dunia, yang pada gilirannya, melalui serangkaian peristiwa, bisa menentukan apakah sebuah restoran lokal bisa terus bertahan dalam bisnis atau tidak. Sekalipun perekonomian zaman dahulu tidak begitu “global”, orang-orang pada saat itu tahu betul bahwa apa yang terjadi di antara bangsa-bangsa, cepat atau lambat, akan memengaruhi kehidupan mereka. Melelehnya bumi menyiratkan bahwa suatu hari kelak seluruh kekuatan bangsa-bangsa akan tampak seperti istana lilin yang berlangsung sebentar saja. Pergolakan di dunia berarti ketidakpastian dalam perdagangan, pemerintahan, keuangan dan segala macam pekerjaan.

Namun, betapapun dahsyatnya bencana itu, Allah jauh lebih dahsyat. Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. (Mazmur 46:2-4)

Di tengah situasi-situasi sulit dan mengancam, kita dapat menghadapi pekerjaan dan rekan-rekan kerja kita dengan tenang, percaya diri, bahkan sukacita. Kepercayaan utama kita adalah pada Tuhan, yang menjadi tempat perlindungan, kekuatan dan kesejahteraan ketika kita tak berdaya lagi. Bukan hanya kita secara individu, tetapi komunitas-komunitas kita dan seluruh dunia juga berada dalam naungan anugerah Allah. Bencana dunia tidak sebanding dengan pemeliharaan Allah. Mengingat kembali bagaimana Tuhan sudah memelihara kita dalam situasi-situasi sebelumnya— baik diri kita sendiri maupun umat Allah—meyakinkan kita bahwa Allah menyertai kita “di dalam kota ini” (Mazmur 46:6) dan di segala tempat di bumi ini (Mazmur 46:11). Terkadang kita bahkan mendapat hak istimewa di tengah bencana itu untuk melayani sebagai alat Allah yang menolong orang lain.

Keresahan Saat Orang Jahat Berhasil (Mazmur 49, 50, 52, 62)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Orang benar kadang memiliki pandangan yang keliru tentang cara kerja Allah, dan ini membuat mereka mengalami keresahan yang tidak perlu. Mereka menganggap orang benar itu harus betul-betul berhasil dalam kehidupan, sementara orang jahat juga harus betul-betul mengalami kehancuran. Namun, banyak hal tidak selalu sesuai dengan skenario ini. Ketika orang jahat berhasil, orang Kristen merasa dunia sudah terbalik dan iman mereka pun serasa sia-sia. Mazmur 49:17-18 menanggapi hal ini: “Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, apabila kemuliaan keluarganya bertambah, sebab pada waktu matinya semuanya itu tidak akan dibawanya serta, kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia” Kesalehan tidak menjamin kesuksesan komersial, dan ketidaksalehan tidak menjamin kegagalan. Orang yang mengabdikan hidupnya untuk mencari uang pada akhirnya akan gagal, karena mereka mengumpulkan harta dari kekayaan fana yang akan lenyap (Lukas 12:16-21). Lihat "Concern for the Wealthy (Lukas 6:25; 12:13-21; 18:18-30)" dalam Lukas dan Pekerjaan di https://www.teologikerja.org/.

Ini bukan sekadar soal orang jahat harus menghadapi hukuman Allah setelah kematian. Ketika orang yang jahat tetapi sukses itu akhirnya mengalami kehancuran, orang-orang akan melihat. Mereka melihat hubungan antara cara hidup orang itu dengan bencana yang akhirnya menimpanya. Mazmur 52:9 menggambarkan situasi itu: "Lihatlah orang itu yang tidak menjadikan Allah tempat pengungsiannya, yang percaya akan kekayaannya yang melimpah, dan berlindung pada tindakan penghancurannya!" Oleh karena itu, Mazmur 62:11 menasihati kita agar tidak mencari rasa aman dengan mengikuti jalan orang fasik atau menumpuk harta dunia: “Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya.” Pada masa sulit, kita cenderung melihat orang yang makmur dengan melakukan korupsi atau kronisme, dan merasa kita juga harus melakukan hal yang sama jika ingin keluar dari kemiskinan. Padahal itu hanya memastikan kita ikut mendapat aib di hadapan manusia dan hukuman di hadapan Allah.

Di sisi lain, jika kita memutuskan untuk memercayai Allah, kita harus melakukannya dengan sungguh-sungguh dan tidak dangkal. Mazmur 50:16 berkata, “Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: ‘Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu’?” Memakai kecurangan untuk mendapatkan kekayaan adalah hal yang buruk. Namun, melakukannya sambil berpura-pura setia pada Allah adalah hal yang mengerikan.

Ada baiknya kita juga menanyakan apa yang dilihat orang lain ketika mereka mengamati pekerjaan kita dan cara kita melakukannya. Apakah kita membenarkan cara-cara mengambil jalan pintas yang tidak etis, atau diskriminasi, atau memperlakukan orang dengan buruk sambil mengoceh tentang “berkat” atau “kehendak Allah” atau “kemurahan hati”? Barangkali, kita mestinya lebih segan untuk mengaitkan keberhasilan kita dengan kehendak Allah, dan lebih siap untuk berkata singkat, “Aku tak pantas mendapatkannya.”

Jilid 3 (Mazmur 73-89)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jilid 3 kitab Mazmur berisi banyak ratapan dan keluhan. Hukuman ilahi— yang positif maupun negatif—tampak di banyak mazmur ini. Merenungkan mazmur-mazmur ini menjadi cermin bagi kita untuk menelisik kesetiaan —atau ketidaksetiaan — kita sendiri serta mengungkapkan perasaan-perasaan kita yang sebenarnya kepada Allah yang mampu mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.

Konsekuensi Kegagalan Pribadi pada Pekerjaan (Mazmur 73)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mazmur 73 menggambarkan empat tahap perjalanan godaan dan kesetiaan, yang berlangsung dalam pekerjaan Pemazmur.[1] Pada tahap pertama ia mengakui bahwa penilaian Allah yang baik adalah sumber kekuatan. “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya” (Mazmur 73:1). Namun dengan cepat (di tahap kedua) ia tergoda untuk meninggalkan jalan Allah. “Tetapi aku,” katanya, “Sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual” (Mazmur 73:2-3a). Ia mendapati dirinya dipenuhi dengan penampakan orang-orang fasik yang berhasil, yang ia gambarkan dengan sangat rinci dalam sepuluh ayat berikutnya. Secara khusus ia memerhatikan orang yang “mengata-ngatai dengan jahatnya” dan “mengancam pemerasaan” (Mazmur 73:8). Dalam kecemburuannya, ia mulai menganggap integritasnya sendiri tak ada gunanya, “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih” (Mazmur 73:13), katanya, seraya menyadari bahwa ia sendiri sudah hampir bergabung dengan orang jahat (Mazmur 73:14-15).

Namun pada menit terakhir, ia masuk “ke tempat kudus Allah,” yang artinya ia mulai “melihat” berbagai hal dari sudut pandang Tuhan (Mazmur 73:17). Ia tahu bahwa Allah akan membuat orang jahat “jatuh hingga hancur” (Mazmur 73:18). Hal ini mengawali tahap ketiga, saat ia menyadari bahwa kesuksesan orang yang tidak berintegritas hanyalah sementara. Mereka semua pada akhirnya “binasa dalam sekejap” dan menjadi “seperti mimpi pada waktu terbangun” (Mazmur 73:19-20). Ia sadar bahwa ketika ia mulai berpikir untuk mengikuti jalan orang fasik, ia “dungu dan tidak mengerti” (Mazmur 73:22). Pada tahap keempat, ia kembali menyerahkan dirinya ke jalan Allah. “Aku tetap di dekat-Mu,” katanya, dan “Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku” (Mazmur 73:23, 24).

Apakah kita juga menyusuri perjalanan empat tahap ini sampai tingkat tertentu? Kita juga bisa mulai dengan integritas dan kesetiaan pada Allah. Lalu kita melihat bahwa orang lain tampaknya berhasil dengan melakukan penipuan dan penindasan. Kita kadang menjadi tidak sabar dengan lamanya waktu yang diperlukan Allah untuk melaksanakan hukuman-Nya. Sementara Allah berdiam diri, orang jahat tampak “selalu senang,” dan “bertambah kaya,” sedangkan orang jujur tampak “kena tulah dan kena hukum” dalam kehidupan yang tidak adil (Mazmur 73:12, 14). Namun, waktu penghukuman Allah adalah urusan Allah, bukan urusan kita. Sesungguhnya, karena kita sendiri tidak sempurna, janganlah kita terlalu bernafsu agar Allah menghukum orang jahat.

Karena terlalu memerhatikan kesuksesan orang lain yang tidak patut, kita jadi tergoda untuk mencari keuntungan diri sendiri yang tidak patut juga. Sungguh menggoda untuk menyerah pada dorongan hati ini di tempat kerja yang tampaknya memiliki seperangkat aturan yang berbeda. Kita melihat pembual-pembual (Mazmur 73:3) mendapat kemujuran dan memaksa orang lain untuk memberikan bagian yang tak semestinya kepada mereka (Mazmur 73:6). Kita melihat orang-orang melakukan kecurangan namun hidup makmur bertahun-tahun. Orang-orang yang berkuasa atas kita di tempat kerja tampaknya bodoh-bodoh (Mazmur 73:7), tetapi mereka mendapat promosi. Mungkin kita juga harus melakukan hal yang sama. Mungkin Tuhan benar-benar tidak tahu atau peduli pada yang kita lakukan (Mazmur 73:11), setidaknya di tempat kerja.

Seperti Pemazmur, solusinya adalah mengingat bahwa bekerja bersama Allah —atau mengikuti jalan-jalan-Nya—adalah kesenangan itu sendiri. “Aku suka dekat pada Allah” (Mazmur 73:28). Ketika kita melakukan hal ini, kita membuka diri lagi pada nasihat Allah, dan kembali ke jalan-Nya. Sebagai contoh, kita mungkin bisa menaiki tangga kesuksesan lebih cepat—minimal pada awalnya—dengan merebut penghargaan atas pekerjaan orang lain, menyalahkan orang lain atas kesalahan kita, atau membuat orang lain melakukan pekerjaan untuk kita. Namun, apakah promosi dan pendapatan ekstra itu sebanding dengan perasaan hampa dan takut ketahuan sebagai gadungan? Apakah kesuksesan dapat menggantikan hilangnya persahabatan dan perasaan tidak dapat memercayai orang di sekitar kita? Jika kita peduli pada orang-orang di sekitar kita, berbagi penghargaan atas kesuksesan, dan mau ikut menanggung kesalahan atas kegagalan, kita mungkin tampaknya memiliki awal yang lebih lambat. Namun, bukankah pekerjaan kita akan lebih menyenangkan? Dan ketika kita membutuhkan dukungan, ketika kita butuh kepercayaan dari rekan-rekan kerja atau sebaliknya, bukankah kita berada dalam posisi yang lebih baik daripada orang yang sombong dan kejam? Sesungguhnya Allah itu baik pada orang yang jujur.

Konsekuensi Kesalahan Bangsa pada Ekonomi (Mazmur 81, 85)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jika di Mazmur 73 kita melihat tentang penilaian pribadi, di banyak mazmur pada Jilid 3, justru bangsa Israel yang mengalami penilaian/penghakiman. Topik penilaian/asesmen nasional tampaknya relevan dengan bagian ini sejauh hal itu membangun konteks bagi orang-orang yang melakukan pekerjaan di negara itu. Hal ini juga menunjukkan jenis pekerjaan penting yang dapat dilakukan orang Kristen ketika mewakili Kerajaan Allah, yaitu penetapan kebijakan nasional. Namun, kita dapat melihat bahwa ketika pemerintah nasional menjadi jahat, perekonomian negara akan terdampak. Contohnya adalah Mazmur 81, yang dimulai dengan penghakiman Tuhan tentang bangsa Israel. “Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku. Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya” (Mazmur 81:12-13). Dan dilanjutkan dengan penjelasan tentang konsekuensi-konsekuensinya pada perekonomian. “Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku… umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya." (Mazmur 81:14, 17). Di sini, kita melihat bahwa pelanggaran-pelanggaran bangsa terhadap perjanjian Allah menimbulkan kekurangan dan kesulitan ekonomi. Jika bangsa itu setia pada jalan-jalan Allah, mereka akan mengalami kemakmuran. Namun, jika mereka meninggalkan jalan Tuhan, mereka akan menderita kelaparan (Mazmur 81:11-12).

Demikian pula, Mazmur 85 menunjukkan berkat ekonomi yang melimpah ketika Israel taat pada perintah-perintah Allah. Bangsa itu mengalami kedamaian dan keamanan, pekerjaan yang produktif, dan kemakmuran yang meningkat (Mazmur 85:11-14). Tanpa pemerintahan yang baik, tidak ada yang bisa mengharapkan kemakmuran jangka panjang. Di banyak tempat, orang Kristen sering tampak menentang kebijakan pemerintah yang kurang tepat, tetapi keterlibatan yang konstruktif juga diperlukan. Apa yang dapat Anda lakukan untuk membantu membangun atau mempertahankan pemerintahan yang baik di kota, wilayah, atau negara Anda?

Kasih karunia Tuhan di tengah Penghakiman (Mazmur 86)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Meskipun penghakiman Allah tampak menonjol di Jilid 3 kitab Mazmur, kita juga melihat kasih karunia Allah. “Kasihanilah aku, ya Tuhan,” Mazmur 86 memohon, “Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni, berlimpah kasih setia kepada semua orang yang berseru kepada-Mu” (Mazmur 86:3, 5). Mazmur itu tercetus dari orang yang merasa lelah bertentangan dengan orang-orang yang lebih berkuasa. “Aku sengsara dan miskin” (Mazmur 86:1). “Orang-orang yang angkuh telah bangkit menyerang aku; dan gerombolan orang-orang sombong ingin mencabut nyawaku” (Mazmur 86:14). “Orang-orang yang membenci aku” selalu menjadi ancaman (Mazmur 86:17). “Selamatkanlah anak laki-laki hamba-Mu perempuan” (Mazmur 86:16b).

Mazmur ini tidak menegaskan kebenaran, tetapi sukacita karena Allah “panjang sabar” (Mazmur 86:15). Yang dimintanya hanyalah kasih karunia Allah. “Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku” (Mazmur 86:16a). “Pada hari kesesakanku, aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku” (Mazmur 86:7).

Kita semua juga kadang menghadapi pertentangan di tempat kerja. Pertentangan itu kadang sangat personal dan berbahaya. Kita mungkin ditindas orang lain, disalah-salahkan, atau kedua-duanya. Kita mungkin merasa tidak berarti dalam pekerjaan kita, tidak dikasihi dalam relasi-relasi kita, tidak mampu mengubah situasi atau diri kita sendiri. Apapun sumber pergulatan kita—bahkan jika kita sudah mengetahui musuh itu dan itu adalah kita—kita dapat memohon kasih karunia Allah untuk menyelamatkan kita. Kasih karunia Allah mematahkan ambiguitas yang melingkupi hidup dan pekerjaan kita dan menunjukkan tanda kebaikan Allah pada kita (Mazmur 86:17) melampaui yang patut kita terima.

Tentu saja Allah menyelamatkan orang—diri kita atau pun musuh kita— bukan untuk mendatangkan penderitaan lebih lanjut. Bersama kasih karunia datang pembaruan. “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu” (Mazmur 86:11a). Permohonan Pemazmur ini untuk dirinya sendiri, tetapi menerima kasih karunia Allah berarti mengarahkan diri kita kepada-Nya melebihi pada diri kita sendiri. “Bulatkan hatiku untuk takut akan nama-Mu. Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku” (Mazmur 86:11-12).

Dengan hati Allah, kita pun bisa menjadi murah hati, bahkan kepada orang yang menentang kita. Mazmur ini berharap para penentang itu “merasa malu” (Mazmur 86:17) atas kebencian mereka, dan dengan demikian mereka akan “datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan” (Mazmur 86:9) dan juga mendapat kasih karunia Allah. Kasih karunia berarti belas kasihan itu bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk musuh-musuh kita, untuk menunjukkan kuasa Allah atas musuh-musuh-Nya, supaya nama-Nya dipermuliakan (Mazmur 86:9).

Jilid 4 (Mazmur 90-106)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jilid 4 kitab Mazmur menempatkan kehancuran dunia—termasuk kematian manusia—dalam konteks kedaulatan Allah. Tak seorang pun dari kita dapat menciptakan hidup kita sendiri—apalagi seluruh dunia—sebagaimana yang seharusnya. Kita menderita, dan kita tidak dapat melindungi orang-orang yang kita kasihi dari penderitaan. Namun, Allah tetap berdaulat, dan pengharapan kita akan pemulihan segala sesuatu ada di tangan-Nya.

Bekerja di Dunia Yang Sudah Jatuh dalam Dosa (Mazmur 90, 101)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jilid 4 dimulai dengan Mazmur 90 yang suram. “Engkau mengembalikan manusia kepada debu …tahun-tahun kami seperti keluh” (Mazmur 90:3, 9). Mazmur ini memusatkan perhatian kita pada kesukaran dan singkatnya hidup. “Masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kuat delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru dan kita melayang lenyap” (Mazmur 90:10). Singkatnya hidup ini membayangi setiap aspek kehidupan dan pekerjaan kita. Kita hanya memiliki waktu sekian tahun untuk mencari nafkah yang cukup bagi keluarga kita, menabung untuk masa-masa sulit atau hari tua, berkontribusi untuk kebaikan bersama, atau berpartisipasi dalam pekerjaan Allah di dunia. Ketika masih muda, kita mungkin belum terlalu berpengalaman untuk mendapatkan pekerjaan yang kita harapkan. Ketika sudah tua, kita mengalami penurunan keterampilan dan kemampuan, dan terkadang diskriminasi usia. Di antara waktu itu, kita gelisah apakah kita berada di jalur yang cukup cepat untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Pekerjaan dimaksudkan untuk menjadi semacam kerja sama yang kreatif bersama Allah (Kejadian 2:19). Namun, desakan waktu membuat pekerjaan terasa seperti “beban dan masalah.”

Lalu apa yang harus kita lakukan? Libatkan Allah dalam pekerjaan kita, betapa pun beratnya pekerjaan itu. “Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, … Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu” (Mazmur 90:16-17). Ini bukan berarti sekadar memasang pengingat tentang Allah di tempat kerja kita. Ini berarti membuat Allah terlibat dalam “pekerjaan tangan kita.” Pelibatan ini meliputi kesadaran kita akan kehadiran Allah di tempat kerja, pengenalan kita akan tujuan Allah dalam pekerjaan kita, komitmen kita untuk bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip Allah, dan pelayanan kita kepada orang-orang di sekitar kita, yang bagaimanapun diciptakan segambar dengan Allah (Kejadian 1:27; 9:6; Yakobus 3:9).

Mazmur 101:2 menjelaskan bagaimana kita bisa diperlengkapi dalam melakukan pekerjaan Allah. “Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku.” Membangun karakter yang baik di hadapan Allah dan manusia adalah tugas utama kita. Jika kita memiliki anak-anak, salah satu tugas kita adalah menolong mereka belajar memahami jalan-jalan Allah dan bertumbuh dalam karakter ilahi. Kita sedang melakukan pekerjaan Allah ketika kita mengelola rumahtangga kita dengan baik dan memberi kesempatan kepada anak-anak kita untuk bertumbuh kuat dan siap menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Bagi orang pesimis/skeptis atau sinis, kekejaman hidup membenarkan perilaku amoral dan egois. Bagi orang percaya, hal itu justru menjadi alasan yang lebih kuat untuk mengembangkan karakter.

Kreativitas Manusia bersama Tuhan (Mazmur 104)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sejak awal, Allah merancang pekerjaan manusia sebagai bentuk kreativitas di bawah atau bersama kreativitas Tuhan sendiri (Kejadian 1:26-31; 2:5, 15-18). Pekerjaan manusia dimaksudkan untuk mengerjakan tujuan kreatif Allah: membawa setiap orang ke dalam relasi dengan orang lain dan Allah, dan memuliakan Allah. Mazmur 104 memberi gambaran menarik tentang kemitraan kreatif ini. Dimulai dengan kanvas besar berisi lukisan kemuliaan ciptaan Allah (Mazmur 104:1-9). Lalu berlanjut dengan sendirinya kepada perbuatan-perbuatan Allah yang memelihara kehidupan binatang-binatang di darat, burung-burung di udara, dan ikan-ikan di laut (Mazmur104:10-12, 14, 16-18, 20-22, 25). Allah juga memelihara kehidupan manusia dengan berlimpah-ruah (Mazmur 104:13-15, 23). Pekerjaan Allah memungkinkan keberhasilan pekerjaan alam dan manusia. “Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu” (Mazmur 104:13).

Pekerjaan manusia adalah membangun lebih lanjut, dengan memakai yang diberikan Allah. Kita mengumpulkan dan menggunakan tumbuh-tumbuhan. “Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia” (Mazmur 104:14). Kita membuat anggur (minuman) dan roti (makanan) dan mengambil sari-sari dari tanaman-tanaman yang ditumbuhkan Allah (Mazmur 104:15). Allah melakukan pemeliharaan yang begitu berlimpah, sebagian, dengan memenuhi dunia ciptaan-Nya dengan orang-orang yang bekerja enam hari seminggu. Jadi, meskipun mazmur ini berbicara tentang segala makhluk yang mengharapkan makanan dari Allah, dan Allah membuka tangan-Nya untuk memenuhi kebutuhan itu (Mazmur 104:27-28), manusia tetap harus bekerja keras untuk mengolah dan memanfaatkan pemberian-pemberian Allah yang baik. Mazmur 104 bahkan menyebutkan lebih jauh tentang beberapa alat yang digunakan untuk bekerja di dunia ciptaan Allah —tenda, pakaian, balok/tiang, api, kapal (disebut berurutan di Mazmur 104:1, 2, 3, 4, 26). Menariknya, mazmur ini dengan riang menganggap penggunaan alat-alat itu sebagai berasal dari Allah sendiri, dan juga manusia. Kita bekerja bersama Allah, dan pemeliharaan Allah yang melimpah sebagian terjadi melalui usaha manusia.

Meskipun demikian, kita harus ingat bahwa kita adalah mitra yunior (yang lebih rendah) dalam bekerja bersama Allah. Selaras dengan kitab Kejadian, manusia adalah makhluk terakhir yang disebutkan di Mazmur 104. Namun berbeda dengan di kitab Kejadian, di Mazmur 104 kita manusia ditampilkan dengan sedikit kemeriahan. Kita hanyalah salah satu dari segala makhluk ciptaan Allah yang melakukan “bisnis” (urusan/kegiatan) bersama hewan ternak, burung-burung, kambing hutan, pelanduk, dan singa (Mazmur 104:14-23). Masing-masing memiliki kesibukannya sendiri-sendiri—bagi manusia itu berarti bekerja dan bersusah payah sampai matahari terbenam—tetapi di balik semua kegiatan itu, Allahlah yang menyediakan semua yang dibutuhkan (Mazmur 104:21). Mazmur 104 mengingatkan kita bahwa Allah sudah melakukan pekerjaan-Nya dengan sangat baik. Di dalam Dia, pekerjaan kita juga bisa dilakukan dengan sangat baik, jika kita bekerja dengan rendah hati dengan kekuatan yang diberikan Roh-Nya, untuk membangun dunia yang indah, tempat Dia menempatkan kita oleh kasih karunia-Nya.

Jilid 5 (Mazmur 107-150)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mazmur-mazmur di Jilid 5 memiliki tema atau latar yang kurang umum dibandingkan mazmur-mazmur di bagian lainnya. Namun, di tengah perbedaan bentuk dan latar itu, pekerjaan muncul secara lebih langsung di dalam mazmur-mazmur ini daripada di bagian kitab Mazmur lainnya. Isu-isu tentang kreativitas ekonomi, etika bisnis, kewirausahaan, produktivitas, tugas membesarkan anak dan mengurus rumahtangga, penggunaan kekuasaan yang tepat, dan kemuliaan Allah di dalam dan melalui dunia materi semuanya muncul di mazmur-mazmur ini.

Tuhan Mendasari Semua Pekerjaan dan Produktivitas (Mazmur 107)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mazmur 107 menghubungkan upaya-upaya ekonomi manusia dengan dunia ciptaan Allah. Ada baiknya mazmur ini dikutip lebih panjang.

Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam. Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang meninggikan gelombang-gelombangnya. Mereka naik sampai ke langit dan turun ke samudera raya, jiwa mereka hancur karena celaka; mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk, dan kehilangan akal. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dikeluarkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka. Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia. (Mazmur 107:23-31)

Dahulu, seperti halnya sekarang, orang melaut untuk mencari ikan dan berdagang. Kapal-kapal orang zaman dahulu rapuh, dan mereka hanya bisa mendapat sedikit peringatan sebelum terjadi badai. Hidup dan penghidupan mereka bergantung pada cuaca. Terlepas dari kemajuan teknologi zaman ini, kita juga bergantung pada berbagai faktor yang di luar kendali kita dalam pekerjaan kita. Barangkali ungkapan paling jujur yang bisa diucapkan orang tentang kesuksesan di tempat kerja adalah, “Aku beruntung.” Seperti dikatakan Bill Gates tentang kesuksesan Microsoft yang luar biasa, “Aku dilahirkan di tempat dan pada waktu yang tepat.”[1]

Bagi orang percaya, “beruntung” adalah istilah yang menggambarkan pemeliharaan Allah yang tetap atas kebutuhan-kebutuhan kita. Meraih kesuksesan dari berbagai ketidakpastian yang melekat pada pekerjaan kita bergantung pada sedikit keterampilan (yang pada dasarnya adalah pemberian Allah juga), sedikit kerja keras, dan banyak pemeliharaan Allah. Apa pun “desired haven” (tempat dambaan) kita dalam hidup dan pekerjaan, “marilah kita bersyukur pada Allah atas kasih setia-Nya yang teguh, atas pekerjaan-Nya yang luar biasa bagi umat manusia.” Yakobus mungkin mengingat mazmur ini ketika ia berkata, “Sebenarnya kamu harus berkata, ‘Jika Tuhan menghendaki, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu’” (Yakobus 4:15).

Tak lama kemudian, Mazmur 107 menambahkan pemahaman lebih lanjut tentang hal ini.

Dibuat-Nya padang gurun menjadi kolam air, dan tanah kering menjadi pancaran-pancaran air. Ditempatkan-Nya di sana orang-orang lapar, dan mereka mendirikan kota tempat kediaman; mereka menabur di ladang-ladang dan membuat kebun-kebun anggur, yang mengeluarkan buah-buahan sebagai hasil. Diberkati-Nya mereka sehingga mereka bertambah banyak dengan sangat, dan hewan-hewan mereka tidak dibuat-Nya berkurang. (Mazmur 107:35-38).

Allah menciptakan kondisi-kondisi agar kehidupan di bumi dapat terus berlangsung. Dia bisa mengubah padang gurun menjadi padang rumput (atau padang rumput menjadi padang gurun). Pertanian, seperti bercocok tanam dan beternak, bergantung pada pertumbuhan yang diberikan Allah. Ketika pertanian berhasil, kota-kota bermunculan. Munculnya kota-kota memicu timbulnya berbagai jenis pekerjaan. Perekonomian kota menyediakan berbagai jenis barang dan jasa kepada penduduk yang berkembang dan beragam. Dalam perekonomian zaman dulu, selain petani dan gembala, masyarakat juga membutuhkan tukang tembikar, pandai besi, dan juru tulis (untuk menuliskan perjanjian-perjanjian dan transaksi-transaksi komersial, dan juga teks-teks kitab hukum dan agama). Seluruh perekonomian kota mana pun, pada zaman dulu maupun sekarang, bergantung pada kelimpahan hasil pertanian, baik yang diusahakan dari dalam negeri sendiri maupun dari perdagangan. Ketika petani dunia dapat menghasilkan lebih dari kebutuhan untuk kelangsungan hidupnya sendiri, masyarakat yang kompleks dapat berkembang. Dan semua ini berasal dari Allah, yang mengairi tanah kering (Mazmur 65:9, Kejadian 2:5).

Jadi Mazmur 107 mencakup kegiatan ekonomi di darat maupun di laut, dan menegaskan bahwa Allah ada di atas semuanya itu. Dan Allah tidak bertentangan dengan pekerjaan kita. Mazmur ini berbicara tentang bagaimana Dia menyelamatkan dan memelihara. Penghidupan kita tergantung pada penanganan Allah yang murah hati atas kekuatan-kekuatan alam.

Kebajikan Orang Yang Berbisnis (Mazmur 112)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mazmur 112 menyatakan berkat-berkat Allah atas orang-orang yang melakukan bisnis (istilah dalam kitab Mazmur: berdagang dan memberi pinjaman) dengan menuruti perintah Allah. “Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya,” kata mazmur ini, dan “ia tidak takut kepada kabar celaka” (Mazmur 112:3,7). Kebajikan yang mendatangkan berkat-berkat ini adalah sifat pengasih dan penyayang, belas kasihan, kebenaran, kemurahan hati dan keadilan (Mazmur 112:4-5). Kebenaran dan keadilan mungkin sudah tak mengherankan. Orang ingin membeli dan menjual dari bisnis-bisnis yang jujur dan benar, supaya kebajikan-kebajikan ini dapat diharapkan, secara umum, mendatangkan kemakmuran.

Namun, bagaimana dengan pengasih dan penyayang, belas kasihan, dan kemurahan hati? Pengasih dan penyayang bisa berarti menginformasikan kepada pelanggan tentang solusi yang biayanya lebih rendah yang memberikan keuntungan lebih sedikit pada kita atau perusahaan kita. Belas kasihan bisa berarti memberi kesempatan lagi kepada pemasok yang pernah lalai dalam melakukan pengiriman. Kemurahan hati bisa berarti berbagi spesifikasi industri dengan pihak lain agar mereka dapat menghasilkan produk-produk yang kira-kira sama dengan produk-produk kita— hal yang baik untuk pelanggan, tetapi berpotensi menciptakan persaingan bagi kita sendiri. Apakah Mazmur 112 hendak mengatakan bahwa hal-hal seperti itu akan mendatangkan kemakmuran yang lebih besar, bukan yang lebih kecil? Sepertinya begitu. “Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin,” kata Pemazmur, tetapi ia justru menjadi lebih teguh, lebih aman, lebih kuat, dan akhirnya lebih sukses daripada orang yang tidak mengamalkan kebajikan-kebajikan itu (Mazmur 112:7-10). Pemazmur menghubungkan hal ini dengan Tuhan (Mazmur 112:1,7) tetapi tidak disebutkan apakah ini karena Dia melakukan intervensi khusus untuk orang itu ataukah karena Dia telah menciptakan dan memelihara dunia sedemikian rupa sampai kebajikan-kebajikan ini cenderung mendatangkan kemakmuran. Kemungkinan kedua-duanya.

Dan sekali lagi, bisa jadi Tuhan memberkati orang jujur dengan memberi mereka gambaran yang berbeda tentang kemakmuran. Harta dan kekayaan termasuk (Mazmur 112:3, seperti yang disebutkan), tetapi gambaran yang menyeluruh meliputi lebih dari sekadar harta kekayaan saja. Keturunan yang diberkati (Mazmur 112:2) yang mengingat (Mazmur 112:6) dan menghormati mereka (Mazmur 112:9), relasi-relasi yang kokoh (Mazmur 112:6), hati yang damai (Mazmur 112:7), dan kemampuan menghadapi masa depan tanpa rasa takut (Mazmur 112:8) sama pentingnya dalam pandangan Allah tentang kemakmuran. Mungkinkah ini berarti bahwa jika kita berbisnis dengan menaati perintah Tuhan, yang berubah bukan hanya keuntungan kita saja, tetapi juga keinginan kita? Jika kita bisa menginginkan yang Allah inginkan untuk kita, bukankah kita dijamin akan menemukan kebahagiaan yang berlangsung selamanya?

Berpartisipasi dalam Pekerjaan Tuhan (Mazmur 113)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mazmur 113 berkata, “Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN” (Mazmur 113:3). Apakah ini berarti kita harus berada di bait suci (atau di gereja) sepanjang hari untuk memuji Tuhan? Atau apakah ini berarti dalam segala sesuatu yang kita lakukan, termasuk pekerjaan kita sehari-hari, kita melakukannya dalam pujian kepada Tuhan? Dari ayat 7 sampai 9, kita melihat dengan jelas bahwa jawabannya adalah yang terakhir. “Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur, untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, bersama-sama dengan para bangsawan bangsanya” (Mazmur 113:7-8). Meskipun mazmur ini tidak mengatakan bagaimana Allah melakukan hal ini, kita tahu—seperti juga Pemazmur—bahwa hal ini biasanya dilakukan melalui pekerjaan. Kesempatan kerja dengan upah yang baik menolong orang miskin keluar dari kemiskinan, dan Allah biasanya menciptakan kesempatan-kesempatan itu melalui pekerjaan umat-Nya—orang-orang dalam bisnis yang menciptakan peluang-peluang ekonomi, orang-orang dalam pemerintahan yang menjamin keadilan, orang-orang di dunia pendidikan yang mengembangkan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk pekerjaan-pekerjaan yang baik. Dengan penekanan pada mengangkat orang miskin dan kesusahan, Mazmur 113 memanggil kita untuk memuji Allah dalam seluruh kehidupan praktis.

Meskipun mazmur ini bisa saja menyebutkan berbagai macam pekerjaan untuk menjelaskan maksudnya, ternyata pekerjaan yang dipilihnya hanya satu—pekerjaan melahirkan dan membesarkan anak “Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita” (Mazmur 113:9). Mungkin ini karena tidak punya anak di Israel kuno hampir pasti akan membuat seorang perempuan (dan suaminya) hidup miskin di masa tua. Atau mungkin juga karena alasan lain. Apa pun alasan itu, hal ini mengingatkan kita pada dua hal penting saat ini. Yang paling jelas, ketika para ibu (dan ayah) mengandung, memberi makan, memandikan, melindungi, bermain bersama, mengajar, melatih, mengampuni, mendidik, dan mengasihi anak-anak, mereka itu sedang bekerja! Sayangnya, banyak ibu merasa tidak ada—bahkan gereja—yang mengakui bahwa yang mereka lakukan itu sama pentingnya dengan pekerjaan yang dilakukan orang lain yang dibayar. Kedua, pertolongan Allah bagi orang-orang yang tak punya anak dan anak-anak yang tak punya orangtua biasanya datang dari pekerjaan orang lain. Ahli-ahli medis mungkin dapat memulihkan kesuburan. Para pekerja di bidang adopsi dan kesejahteraan anak mungkin dapat mempertemukan calon orang tua dengan anak-anak yang membutuhkan orangtua, dan mendampingi keluarga-keluarga untuk memberikan pelatihan dan pengawasan yang dibutuhkan. Seluruh keluarga bergantung pada dukungan orang lain dalam masyarakat luas, termasuk umat Allah. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang pekerjaan keluarga, lihat "Pekerjaan menikah, membesarkan anak, dan merawat orangtua (Mazmur 127, 128, 139)".

Menghasilkan Nilai Yang Benar dalam Bekerja (Mazmur 127 and 128)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jika Mazmur 107 berbicara tentang kegiatan ekonomi berskala besar, Mazmur 127 dan 128 berbicara tentang rumahtangga, unit dasar produksi ekonomi sampai zaman Revolusi Industri. Mazmur 127 dimulai dengan mengingatkan bahwa semua pekerjaan yang baik didasarkan pada Allah.

Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah -- sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. (Mazmur 127:1-2)

Baik “rumah” maupun “kota” merujuk pada hal yang sama: tujuan penyediaan barang dan keamanan bagi penghuninya. Pada akhirnya, semua kegiatan ekonomi bertujuan membuat keluarga/rumahtangga berhasil. Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa bekerja dengan rajin saja tidak cukup (bandingkan Amsal 26:13-16, tentang kemalasan). Di balik tujuan yang jelas ini ada makna yang lebih dalam. Kerja keras bisa menghasilkan rumah yang besar dan indah, tetapi tidak bisa menciptakan keluarga yang bahagia. Wiraswastawan yang rajin bisa membangun bisnis yang sukses, tetapi tidak dapat menciptakan kehidupan yang baik dengan bekerja saja. Hanya Allah yang dapat membuat semuanya berarti.

Di banyak perekonomian saat ini, pekerjaan selain bertani biasanya tidak dilakukan di dalam rumah/keluarga, tetapi di dalam organisasi-organisasi yang lebih besar. Namun, pesan Mazmur 127 berlaku di semua tempat kerja masa kini yang bersifat institusional maupun di rumahtangga-rumahtangga zaman dulu yang konvensional. Untuk berhasil, setiap tempat kerja harus menghasilkan sesuatu yang bernilai. Memberikan waktu saja tidak cukup - pekerjaan itu harus menghasilkan barang atau jasa yang dibutuhkan orang lain.

Orang percaya mungkin dapat melakukan sesuatu yang sangat signifikan dalam hal ini. Di setiap tempat kerja, ada godaan untuk memproduksi barang-barang yang dapat menghasilkan banyak uang dengan cepat, tetapi tidak memberikan nilai yang tetap. Bisnis-bisnis dapat meningkatkan keuntungan—dalam waktu singkat—dengan menurunkan kualitas bahan. Para penjual mungkin dapat memanfaatkan ketidaktahuan pembeli dengan menjual produk-produk dan barang-barang yang meragukan. Lembaga-lembaga pendidikan dapat menawarkan kelas-kelas yang menarik para siswa tanpa mengembangkan kemampuan-kemampuan yang berguna untuk jangka panjang. Dan lain sebagainya. Semakin kita mengetahui kebutuhan sesungguhnya dari orang-orang yang menggunakan barang dan jasa kita, dan semakin kita dapat menambahkan nilai yang benar pada yang kita produksi, semakin kita dapat menolong institusi-institusi tempat kerja kita untuk melawan godaan-godaan ini. Karena nilai yang benar pada akhirnya didasarkan pada Tuhan, kita mungkin diberi kemampuan unik untuk melakukan peran ini. Namun, peran itu harus dijalankan dengan kerendahan hati dan selalu mau mendengar.Tak ada gunanya kita melontarkan pendapat-pendapat yang belum dipikirkan masak-masak sampai orang muak mendengarkan kita.

Pekerjaan Menikah, Membesarkan Anak dan Merawat Orangtua (Mazmur 127, 128, 139)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pekerjaan menikah, membesarkan anak dan merawat orangtua kembali muncul di Mazmur 127, 128 dan 139. (Pekerjaan membesarkan anak merupakan hal penting di Mazmur 113, "Berpartisipasi dalam Pekerjaan Allah (Mazmur 113)".) “Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu” (Mazmur 128:3). Suami dan istri sama-sama berperan dalam menghasilkan hal yang sangat mendasar ini —berkembangbiak! Tentu saja, istri mendapat peran yang lebih banyak/ berat dalam tugas ini daripada suami. Di dalam Alkitab, peran ini bukan peran yang dianggap remeh—tetapi dipandang sebagai peran yang esensial untuk kelangsungan hidup, dan dihormati di Israel kuno. Di samping melahirkan anak, istri-istri biasanya mengurus rumahtangga, yang meliputi urusan domestik maupun produksi komersial (Amsal 31:10-31).

Alkitab menghargai orang-orang yang melaut dan menggembalakan domba (pekerjaan tradisional laki-laki) maupun orang-orang yang mengurus rumahtangga (pekerjaan tradisional perempuan). Sekarang ini peran-peran pekerjaan tidak terlalu terbagi berdasarkan jenis kelamin—kecuali mengurus rumahtangga keluarga, yang kebanyakan masih dilakukan oleh perempuan[1]—tetapi penghargaan yang diberikan pada pernikahan dan pekerjaan-pekerjaan keluarga masih tetap berlaku.

Seperti halnya semua jenis pekerjaan—dan melahirkan anak juga pekerjaan! — melahirkan anak berasal dari Allah. “Engkaulah [Allah] yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku” (Mazmur 139:13). Demikian pula, seperti halnya pada semua jenis pekerjaan yang lain, ini berarti bahwa jika terjadi tragedi, hal itu tidak dapat dianggap sebagai hukuman Allah atau ditinggalkan Allah. Melahirkan anak adalah sebuah perwujudan anugerah umum Allah kepada manusia di seluruh dunia. Di dalam kandungan, Allah membentuk kita, dan Dia menciptakan kita untuk suatu tujuan. Hak kelahiran kita adalah melakukan pekerjaan yang berarti bagi Allah sendiri.

Kita kembali ke Mazmur 127 untuk melihat hal terakhir dari tema ini, yaitu bahwa pekerjaan keluarga mencakup merawat orang yang usianya telah membuat kemampuannya untuk bekerja menurun. “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah” (Mazmur 127:3). Di dunia kuno, orang tidak memiliki program pensiun atau asuransi kesehatan yang resmi. Ketika mereka berusia lanjut, anak laki-laki mereka memelihara mereka. (Teksnya berbicara tentang “anak laki-laki” karena biasanya anak perempuan akan menikah dan masuk ke rumahtangga keluarga suaminya). Jadi sebenarnya, anak laki-laki adalah sebuah rencana pensiun bagi pasangan suami istri, dan hal ini mengikat erat generasi-generasi itu bersama-sama.

Mungkin tampaknya terlalu kasar jika kita menilai atau menghargai tugas membesarkan anak dengan istilah ekonomi. Saat ini kita mungkin merasa lebih nyaman dengan membicarakan tentang ganjaran-ganjaran emosional dari membesarkan anak. Meskipun demikian, ayat ini menyatakan bahwa orang dewasa memerlukan anak-anak sebagaimana anak-anak membutuhkan orang dewasa, dan bahwa anak-anak adalah anugerah dari Allah, bukan beban. Hal ini juga mengingatkan kita pada semua investasi yang sudah dilakukan orangtua kita pada kita—secara emosional, fisik, intelektual, kreatif, ekonomi, dan masih banyak lagi. Ketika kita menjadi dewasa dan orangtua kita menjadi bergantung pada kita, sudah sewajarnya jika kita melakukan pekerjaan merawat orangtua. Ada banyak cara untuk melakukan hal ini. Namun, intinya hanyalah bahwa perintah Allah untuk menghormati orangtua (Keluaran 20:12) bukan hanya soal sikap, tetapi juga soal pekerjaan dan ekonomi.

Penggunaan Kekuasaan Yang Benar (Mazmur 136)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kekuasaan sangat penting dalam banyak pekerjaan, dan harus digunakan dengan benar. Mazmur 136 menjelaskan penggunaan kekuasaan yang benar dengan menunjukkan empat contoh cara Tuhan menggunakan kekuasaan.

Contoh pertama terdapat di ayat 4-9, yang menunjukkan Allah menggunakan kekuasaan untuk menciptakan dunia, “yang menjadikan langit dengan kebijaksaan…yang menghamparkan bumi di atas air” (Mazmur 136:5-6). Hal ini membawa kita kembali ke Kejadian 1— ketika Allah Pencipta memberikan dunia ini semua yang kita perlukan untuk berkembang. Namun perhatikan urutan kerja Allah di sini, yang pertama-tama membuat sistem-sistem (tanah/daratan, air/lautan, malam, siang, matahari dan bulan) yang diperlukan untuk kelangsungan hidup ciptaan-Nya yang berikutnya (tumbuh-tumbuhan, binatang darat, makhluk-makhluk yang berenang dan terbang). Allah tidak menciptakan binatang-binatang sebelum ada tanah kering (daratan) dan tumbuh-tumbuhan untuk menopang kehidupan mereka. Ketika kita memiliki kekuasaan untuk menciptakan pekerjaan atau sistem-sistem, kita menggunakan kekuasaan dengan benar ketika kita menciptakan lingkungan yang membuat kita dan orang-orang di sekitar kita tidak hanya dapat bertahan hidup, tetapi juga berkembang. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang pemeliharaan Allah atas ciptaan, lihat "Pemeliharaan (Kejadian 1:29-30; 2:8-14)" dalam Kejadian 1-11 dan Pekerjaan di https://www.teologikerja.org/.

Contoh kedua terdapat di Mazmur 136:10-15 ketika Allah membebaskan umat-Nya dari perbudakan di Mesir. Contoh ketiga langsung menyusul di ayat-ayat berikutnya, ketika Allah memukul kalah raja-raja Kanaan yang merintangi bangsa Israel dalam perjalanan mereka menuju Tanah Perjanjian (Mazmur 136:16-22). Kedua contoh ini menunjukkan pada kita bahwa Allah menggunakan kekuasaan untuk membebaskan manusia dari penindasan dan menentang orang-orang yang menghalangi orang lain menerima kebaikan yang Allah maksudkan untuk mereka. Ketika pekerjaan kita membebaskan orang lain membantu menggenapi rancangan Allah atas hidup mereka, kita sedang menggunakan kekuasaan dengan benar. Ketika pekerjaan kita kembali memperbudak para pekerja atau menentang pekerjaan Allah di dalam dan melalui mereka, kita sedang menyalahgunakan kekuasaan.

Contoh keempat terdapat di akhir Mazmur 136. “Dia [Allah] yang mengingat kita dalam kerendahan kita … dan membebaskan kita dari para lawan kita… yang memberikan roti kepada segala makhluk” (Mazmur 136:23-25). Allah dengan penuh kasih mengenali kelemahan-kelemahan kita dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Ketika kita menggunakan kekuasaan untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi orang lain, kita sedang menggunakan kekuasaan sebagaimana Allah menggunakannya.

Terakhir, dalam penggunaan kekuasaan yang benar, setiap ayat di Mazmur 136 mengingatkan kita untuk bersyukur pada Allah, “yang kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.

Kemuliaan Tuhan di dalam Seluruh Ciptaan (Mazmur 146-150)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kelima mazmur terakhir masing-masing dimulai dengan seruan “Haleluya” (Puji Tuhan). Sebagaimana sudah ditunjukkan penyelidikan kita tentang kitab Mazmur, bekerja dimaksudkan untuk menjadi semacam bentuk pujian kepada Allah. Kelima mazmur ini menunjukkan berbagai cara pekerjaan kita dapat memuji Allah. Di dalam kesemuanya itu kita melihat bahwa pekerjaan kita didasarkan pada pekerjaan Allah sendiri. Ketika kita bekerja sesuai maksud Allah, kita mencontoh, memperluas, dan menggenapi pekerjaan Allah.

Mazmur 146

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah menegakkan keadilan bagi orang-orang tertindas (Mazmur 146:7a). Demikian pula kita, ketika kita bekerja menurut perintah-perintah Allah, dan dengan kasih karunia Allah. Allah memberi roti kepada orang-orang yang lapar (Mazmur 146:7b). Demikian pula kita. Tuhan membebaskan orang-orang yang terkurung, demikian pula para pembuat undang-undang, pengacara, hakim, dan juri. Allah membuka mata orang-orang buta, demikian pula para dokter mata, ahli kacamata, dan pembuat kacamata. Allah menegakkan orang yang tertunduk (tak bisa bangkit/berdiri sendiri), demikian pula para ahli terapi fisik, perawat, pembuat lift, dan orangtua bayi-bayi (Mazmur 146:8). Allah menjaga orang-orang asing, demikian pula para polisi dan petugas keamanan, pramugari, penjaga pantai, petugas kesehatan, dan penjaga perdamaian. Allah memelihara anak-anak yatim dan janda-janda (Mazmur 146:9), demikian pula para orangtua asuh, pramurukti, pengacara keluarga dan petugas pelayanan masyarakat, perancang keuangan, dan pekerja di sekolah berasrama. Haleluya. Puji Tuhan! (Mazmur 146:10).

Mazmur 147

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah mengumpulkan orang yang tercerai-berai (Mazmur 147:2), begitu pula Sisters of Charity, para pengajar di lembaga pemasyarakatan, dan para penggerak masyarakat. Dia menyembuhkan orang-orang yang patah hati (Mazmur 147:3), begitu pula para konselor kedukaan, biro jodoh, pelawak, dan penyanyi lagu-lagu sendu. Dia menentukan jumlah bintang dan menyebutkan nama-nama semuanya (Mazmur 147:4), begitu pula para astronom, navigator, dan pendongeng. Dia berlimpah kekuatan (Mazmur 147:5a), begitu pula para presiden, ketua, laksamana, orangtua, dan tahanan politik yang menjadi negarawan. Dia memiliki kebijaksanaan tak terhingga (Mazmur 147:5b), begitu pula para profesor, penyair, pelukis, masinis, operator sonar, dan orang-orang dengan autisme yang memberi kemampuan luar biasa untuk berkonsentrasi pada hal-hal detail. Dia menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, begitu pula para aktivis HAM dan pendonor, dan Dia mematahkan kekuasaan orang jahat, begitu pula para jaksa wilayah, pelapor pelanggaran, dan semua orang yang menjauhi gosip dan membela rekan kerja yang diperlakukan tidak adil (Mazmur147:6).

Allah menyiapkan bumi menghadapi cuaca mendatang (Mazmur 147:8), begitu pula para ahli meteorologi dan geofisika, peneliti iklim, arsitek dan ahli bangunan, serta pengatur lalu lintas udara. Dia memberi makan binatang-binatang (Mazmur 147:9), begitu pula para peternak, gembala serta anak-anak di pedesaan. Dia memperkuat palang pintu gerbang, melindungi anak-anak, dan menjaga perdamaian di perbatasan (Mazmur 147:13-14a), begitu pula para insinyur, tentara, petugas bea cukai, dan diplomat. Dia menyajikan makanan terbaik (Mazmur 147:14b), begitu pula para juru masak, koki, pembuat roti, pembuat anggur, pembuat bir, petani, ibu rumahtangga dan pengurus rumahtangga ganda (kebanyakan wanita), pembuat resep masakan, pedagang bahan makanan, supir truk angkutan, dan juga pramusaji, penjaga kafetaria, dan koki masakan beku. Dia memberitakan firman-Nya—ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum-Nya (Mazmur 147:19). Haleluya. Puji Tuhan! (Mazmur 147:20).

Mazmur 148

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Berbeda dengan Mazmur 146, 147, dan 149, Mazmur 148 dan 150 tidak menggambarkan Allah yang bekerja, tetapi langsung melompat ke respons pujian kita atas pekerjaan yang telah Dia lakukan. Mazmur 148 berbicara tentang ciptaan Allah, seolah-olah keberadaan ciptaan itu merupakan puji-pujian bagi Allah.“Pujilah Tuhan di bumi, hai ular-ular naga dan segenap samudera raya; hai api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai yang melakukan firman-Nya; hai gunung-gunung dan segala bukit, pohon buah-buahan dan segala pohon aras: hai binatang-binatang liar dan segala hewan, binatang melata dan burung-burung yang bersayap” (Mazmur 148:7-10). Ciptaan-Nya membuat pekerjaan kita berhasil, maka sudah sepatutnya kita mempersembahkan seluruh pekerjaan yang kita lakukan sebagai puji-pujian bagi Dia. “Hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda! Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN” (Mazmur 148:12-13). Haleluya. Puji Tuhan! (Mazmur 148:14).

Mazmur 149

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Tuhan senang dengan nyanyian, tarian, dan alat-alat musik (Mazmur 149:2-3), seperti juga para musisi, penari, penggubah nyanyian, penulis lagu, koreografer, komposer musik film, pustakawan musik, guru musik, pekerja badan seni dan donatur, anggota paduan suara, terapis musik, peserta band, paduan suara dan orkestra, pembuat aplikasi studio musik, penyanyi yodel, pekerja yang menyanyi sambil bekerja, produser dan pengorbit musik, YouTuber, disjoki, pembuat lirik lagu, pembuat audio, penyetem piano, pembuat kalimba/perkusi, ahli akustik, pembuat aplikasi musik, dan semua orang yang menyanyi di kamar mandi. Mungkin tidak ada bentuk pekerjaan manusia yang lebih universal, namun lebih beragam, selain penghasil musik, dan semua itu berasal dari kecintaan Allah sendiri terhadap musik.

Tuhan berkenan pada umat-Nya (Mazmur 149:4a), sebagaimana juga semua pemimpin yang baik, anggota keluarga, petugas kesehatan mental, pendeta, tenaga penjualan, pemandu wisata, pelatih, perancang pesta, dan semua orang yang melayani orang lain. Jika situasi-situasi atau sistem-sistem yang menekan membuat orang tidak dapat merasakan kesenangan yang sehat terhadap orang lain, Tuhan menakhlukkan para penindas dan memperbarui sistem-sistem (Mazmur 149:4b-9a), sebagaimana juga para tokoh pembaruan masyarakat dan perusahaan, jurnalis, orang-orang biasa yang menolak menerima status quo, psikolog organisasi dan pakar sumber daya manusia, dan—jika kondisinya ekstrem dan tidak ada jalan lain—para tentara, angkatan laut, angkatan udara, dan para komandannya. Ketika keadilan dan pemerintahan yang baik dipulihkan, musik dapat dikumandangkan kembali (Mazmur 149:6). Haleluya. Puji Tuhan! (Mazmur 149:9b).

Mazmur 150

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mazmur terakhir kembali ke musik sebagai respons kita terhadap “perbuatan-perbuatan dahsyat” Allah, yang menjadi dasar seluruh aktivitas dan pekerjaan kita. Pujilah Allah dengan terompet, seruling, kecapi, rebana, ceracap, sangkakala, canang—yang berdentang maupun yang bergemerincing—dan menarilah. Sebagai klimaks dari lima nyanyian yang penuh dengan pekerjaan, dan sebagai penutup akhir dari seluruh kumpulan mazmur, Mazmur 150 memberikan kesan bahwa musik sungguh merupakan pekerjaan yang sangat penting. Namun, bukan untuk kepentingan musik itu sendiri, melainkan karena musik dapat membuat kita memuji Tuhan dengan lebih baik. Kita dapat mengartikan hal ini secara harfiah maupun secara metaforis. Secara harfiah, kita bisa menghargai musik, tarian, dan kesenian lainnya agak lebih tinggi dari yang biasa dilakukan komunitas Kristen yang tidak selalu menerima musik (selain dalam batas-batas yang sempit) dan kesenian (apalagi). Atau setidaknya, kita bisa lebih menghargai musik dan kesenian kita sendiri. Jika kita tampaknya tak bisa mencari waktu untuk mengekspresikan kreativitas seni kita sendiri, mungkinkah kita sedang kehilangan nilai dan arti dari nyanyian-nyanyian yang Allah taruh di hati kita?

Secara metaforis, mungkinkah ini berarti Mazmur 150 sedang mengajak kita untuk melakukan pekerjaan kita seakan-akan pekerjaan itu sejenis musik? Kita semua bisa menjalani relasi-relasi kita dengan lebih harmonis, mengatur ritme bekerja dan beristirahat dengan lebih seimbang, dan mulai memerhatikan keindahan dari pekerjaan yang kita lakukan dan orang-orang yang bekerja bersama kita. Jika kita dapat melihat keindahan dalam pekerjaan kita, akankah hal itu membantu kita dalam mengatasi tantangan-tantangan pekerjaan, seperti godaan etika, kebosanan, relasi yang buruk, kekecewaan, dan produktivitas yang menurun pada saat tertentu? Sebagai contoh, bayangkan Anda sangat kecewa dengan atasan Anda sampai Anda tergoda untuk tidak lagi melakukan pekerjaan Anda dengan baik. Apakah akan menolong jika Anda dapat melihat keindahan pekerjaan Anda di luar relasi Anda dengan atasan Anda? Keindahan seperti apa yang dibawa pekerjaan Anda ke dunia? Keindahan apa yang Allah lihat dari yang Anda kerjakan? Apakah itu cukup untuk menopang Anda pada masa-masa sulit atau menuntun Anda untuk melakukan perubahan-perubahan yang perlu Anda lakukan dalam pekerjaan Anda atau cara Anda melakukannya?

Namun, bagaimana pun cara kita memandang pekerjaan kita, Allah mau pekerjaan kita itu untuk memuji Dia. 150 mazmur dalam Alkitab mencakup semua aspek kehidupan dan pekerjaan mulai dari teror yang paling mengerikan sampai harapan yang paling menggembirakan. Sebagian berbicara tentang kematian dan keputusasaan, sebagian lainnya berbicara tentang kemakmuran dan pengharapan. Namun, kesimpulan akhir dari kitab Mazmur adalah pujian. “Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan! Haleluya" (Mazmur 150:6).