Bootstrap

Jilid 4 (Mazmur 90-106)

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Cloth 20573 620

Jilid 4 kitab Mazmur menempatkan kehancuran dunia—termasuk kematian manusia—dalam konteks kedaulatan Allah. Tak seorang pun dari kita dapat menciptakan hidup kita sendiri—apalagi seluruh dunia—sebagaimana yang seharusnya. Kita menderita, dan kita tidak dapat melindungi orang-orang yang kita kasihi dari penderitaan. Namun, Allah tetap berdaulat, dan pengharapan kita akan pemulihan segala sesuatu ada di tangan-Nya.

Bekerja di Dunia Yang Sudah Jatuh dalam Dosa (Mazmur 90, 101)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jilid 4 dimulai dengan Mazmur 90 yang suram. “Engkau mengembalikan manusia kepada debu …tahun-tahun kami seperti keluh” (Mazmur 90:3, 9). Mazmur ini memusatkan perhatian kita pada kesukaran dan singkatnya hidup. “Masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kuat delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru dan kita melayang lenyap” (Mazmur 90:10). Singkatnya hidup ini membayangi setiap aspek kehidupan dan pekerjaan kita. Kita hanya memiliki waktu sekian tahun untuk mencari nafkah yang cukup bagi keluarga kita, menabung untuk masa-masa sulit atau hari tua, berkontribusi untuk kebaikan bersama, atau berpartisipasi dalam pekerjaan Allah di dunia. Ketika masih muda, kita mungkin belum terlalu berpengalaman untuk mendapatkan pekerjaan yang kita harapkan. Ketika sudah tua, kita mengalami penurunan keterampilan dan kemampuan, dan terkadang diskriminasi usia. Di antara waktu itu, kita gelisah apakah kita berada di jalur yang cukup cepat untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Pekerjaan dimaksudkan untuk menjadi semacam kerja sama yang kreatif bersama Allah (Kejadian 2:19). Namun, desakan waktu membuat pekerjaan terasa seperti “beban dan masalah.”

Lalu apa yang harus kita lakukan? Libatkan Allah dalam pekerjaan kita, betapa pun beratnya pekerjaan itu. “Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, … Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu” (Mazmur 90:16-17). Ini bukan berarti sekadar memasang pengingat tentang Allah di tempat kerja kita. Ini berarti membuat Allah terlibat dalam “pekerjaan tangan kita.” Pelibatan ini meliputi kesadaran kita akan kehadiran Allah di tempat kerja, pengenalan kita akan tujuan Allah dalam pekerjaan kita, komitmen kita untuk bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip Allah, dan pelayanan kita kepada orang-orang di sekitar kita, yang bagaimanapun diciptakan segambar dengan Allah (Kejadian 1:27; 9:6; Yakobus 3:9).

Mazmur 101:2 menjelaskan bagaimana kita bisa diperlengkapi dalam melakukan pekerjaan Allah. “Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku.” Membangun karakter yang baik di hadapan Allah dan manusia adalah tugas utama kita. Jika kita memiliki anak-anak, salah satu tugas kita adalah menolong mereka belajar memahami jalan-jalan Allah dan bertumbuh dalam karakter ilahi. Kita sedang melakukan pekerjaan Allah ketika kita mengelola rumahtangga kita dengan baik dan memberi kesempatan kepada anak-anak kita untuk bertumbuh kuat dan siap menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Bagi orang pesimis/skeptis atau sinis, kekejaman hidup membenarkan perilaku amoral dan egois. Bagi orang percaya, hal itu justru menjadi alasan yang lebih kuat untuk mengembangkan karakter.

Kreativitas Manusia bersama Tuhan (Mazmur 104)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sejak awal, Allah merancang pekerjaan manusia sebagai bentuk kreativitas di bawah atau bersama kreativitas Tuhan sendiri (Kejadian 1:26-31; 2:5, 15-18). Pekerjaan manusia dimaksudkan untuk mengerjakan tujuan kreatif Allah: membawa setiap orang ke dalam relasi dengan orang lain dan Allah, dan memuliakan Allah. Mazmur 104 memberi gambaran menarik tentang kemitraan kreatif ini. Dimulai dengan kanvas besar berisi lukisan kemuliaan ciptaan Allah (Mazmur 104:1-9). Lalu berlanjut dengan sendirinya kepada perbuatan-perbuatan Allah yang memelihara kehidupan binatang-binatang di darat, burung-burung di udara, dan ikan-ikan di laut (Mazmur104:10-12, 14, 16-18, 20-22, 25). Allah juga memelihara kehidupan manusia dengan berlimpah-ruah (Mazmur 104:13-15, 23). Pekerjaan Allah memungkinkan keberhasilan pekerjaan alam dan manusia. “Engkau yang memberi minum gunung-gunung dari kamar-kamar loteng-Mu, bumi kenyang dari buah pekerjaan-Mu” (Mazmur 104:13).

Pekerjaan manusia adalah membangun lebih lanjut, dengan memakai yang diberikan Allah. Kita mengumpulkan dan menggunakan tumbuh-tumbuhan. “Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia” (Mazmur 104:14). Kita membuat anggur (minuman) dan roti (makanan) dan mengambil sari-sari dari tanaman-tanaman yang ditumbuhkan Allah (Mazmur 104:15). Allah melakukan pemeliharaan yang begitu berlimpah, sebagian, dengan memenuhi dunia ciptaan-Nya dengan orang-orang yang bekerja enam hari seminggu. Jadi, meskipun mazmur ini berbicara tentang segala makhluk yang mengharapkan makanan dari Allah, dan Allah membuka tangan-Nya untuk memenuhi kebutuhan itu (Mazmur 104:27-28), manusia tetap harus bekerja keras untuk mengolah dan memanfaatkan pemberian-pemberian Allah yang baik. Mazmur 104 bahkan menyebutkan lebih jauh tentang beberapa alat yang digunakan untuk bekerja di dunia ciptaan Allah —tenda, pakaian, balok/tiang, api, kapal (disebut berurutan di Mazmur 104:1, 2, 3, 4, 26). Menariknya, mazmur ini dengan riang menganggap penggunaan alat-alat itu sebagai berasal dari Allah sendiri, dan juga manusia. Kita bekerja bersama Allah, dan pemeliharaan Allah yang melimpah sebagian terjadi melalui usaha manusia.

Meskipun demikian, kita harus ingat bahwa kita adalah mitra yunior (yang lebih rendah) dalam bekerja bersama Allah. Selaras dengan kitab Kejadian, manusia adalah makhluk terakhir yang disebutkan di Mazmur 104. Namun berbeda dengan di kitab Kejadian, di Mazmur 104 kita manusia ditampilkan dengan sedikit kemeriahan. Kita hanyalah salah satu dari segala makhluk ciptaan Allah yang melakukan “bisnis” (urusan/kegiatan) bersama hewan ternak, burung-burung, kambing hutan, pelanduk, dan singa (Mazmur 104:14-23). Masing-masing memiliki kesibukannya sendiri-sendiri—bagi manusia itu berarti bekerja dan bersusah payah sampai matahari terbenam—tetapi di balik semua kegiatan itu, Allahlah yang menyediakan semua yang dibutuhkan (Mazmur 104:21). Mazmur 104 mengingatkan kita bahwa Allah sudah melakukan pekerjaan-Nya dengan sangat baik. Di dalam Dia, pekerjaan kita juga bisa dilakukan dengan sangat baik, jika kita bekerja dengan rendah hati dengan kekuatan yang diberikan Roh-Nya, untuk membangun dunia yang indah, tempat Dia menempatkan kita oleh kasih karunia-Nya.