Bootstrap

Konklusi Kitab Rut

Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
2765026 620

Kitab Rut menunjukkan kisah yang luar biasa tentang Allah yang bekerja mengarahkan berbagai peristiwa dari segala sisi untuk memelihara umat-Nya, dan yang lebih penting, untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya. Kesetiaan—baik kesetiaan Allah kepada manusia maupun kesetiaan manusia kepada Allah—ditunjukkan melalui kerja dan buah-buah yang dihasilkannya. Tokoh-tokoh dalam kitab ini bekerja dengan rajin, adil, murah hati, cerdik, dan sesuai dengan hukum dan pengilhaman Tuhan. Mereka mengakui gambar Allah pada diri manusia, dan bekerja bersama dalam keharmonisan dan belas kasih.

Dari peristiwa-peristiwa dalam kitab Rut kita dapat menyimpulkan bahwa orang Kristen masa kini bukan saja harus memahami martabat, tetapi juga nilai/pentingnya bekerja. Bekerja membawa kemuliaan bagi Tuhan. Bekerja memberi manfaat bagi orang lain. Bekerja melayani dunia tempat kita berada dan hidup. Sebagai orang Kristen masa kini, kita biasanya mungkin mengenali tangan Allah paling jelas dalam pekerjaan para pendeta, misionaris dan penginjil, padahal bukan itu saja pekerjaan yang sah dan dapat diterima dalam kerajaan Allah. Kitab Rut mengingatkan kita bahwa pekerjaan biasa seperti bertani pun merupakan panggilan iman, entah itu dilakukan oleh pemilik ladang yang kaya raya atau pun orang asing yang miskin. Memberi makan keluarga adalah pekerjaan yang mulia, dan semua orang yang memiliki kekayaan atau cara/sarana untuk menolong orang lain memberi makan keluarga mereka menjadi berkat Allah. Semua pekerjaan yang sah/benar adalah pekerjaan Allah. Melalui kita, Allah membuat, merancang, mengatur, memperindah, menolong, memimpin, mengembangkan, merawat, menyembuhkan, memampukan, memberitahukan, menghias, mengajar dan mengasihi. Kita adalah sayap-sayap Allah.

Pekerjaan kita memuliakan Allah ketika kita memperlakukan rekan-rekan kerja dengan penuh hormat dan martabat, entah kita memiliki kemampuan untuk memengaruhi situasi-kondisi kerja orang lain atau pun kita membawa risiko pada diri sendiri dengan membela orang lain. Kita menghidupi perjanjian kita dengan Allah ketika kita bekerja untuk kebaikan sesama manusia—terutama yang terpinggirkan secara sosial dan ekonomi. Kita memuliakan Allah ketika kita mengutamakan kepentingan orang lain dan berusaha sekuat tenaga kita untuk menghumanisasikan pekerjaan mereka dan meningkatkan kesejahteraan mereka.