Kitab Ayub mengupas hubungan antara kemakmuran, kemalangan dan iman pada Allah.
Kitab Ayub terdiri dari berbagai genre sastra (narasi, puisi, penglihatan, dialog dan lain-lainnya) yang dijalin menjadi satu dalam sebuah mahakarya sastra.
Ayub, yang paling dikenal pembaca Alkitab sebagai orang benar yang menderita secara tidak adil, merupakan contoh orang yang mempertanyakan mengapa orang baik menderita.
Di awal kitab, kita diperkenalkan dengan seorang petani/peternak yang sangat kaya bernama Ayub.
Apakah kita berelasi dengan Allah terutama agar Dia memberkati kita dengan hal-hal yang kita inginkan?
Masalah kesengsaraan muncul ketika masa-masa sulit.
Ayub dapat menanggung kehilangan yang sangat menyakitkan tanpa mengompromikan “integritas” atau kesalehan dirinya (Ayub 2:3). Namun, Iblis tidak menyerah.
Setelah Iblis melancarkan serangannya yang terdahsyat, Ayub benar-benar membutuhkan dukungan.
Tak ada lagi yang dapat dilakukan Ayub selain berkeluh kesah.
Sayangnya, sahabat-sahabat Ayub tidak tahan menghadapi misteri penderitaannya, sehingga mereka langsung membuat kesimpulan tentang sebab-musababnya.
Akhirnya, sahabat-sahabat Ayub berubah haluan dari mempertanyakan kesalahan apa yang telah dilakukan Ayub menjadi mempertanyakan apakah Ayub telah meninggalkan Allah.
Ayub memiliki hikmat yang tidak dimiliki banyak orang Kristen.
Kita semua tahu setan-setan yang mengganggu kita setelah kegagalan. Kita mempertanyakan diri sendiri sepanjang malam-malam penyiksaan diri tanpa bisa tidur.
Seperti Ayub, penderitaan kita sering diawali dengan masalah-masalah di tempat kerja.
Ayub memilih tetap setia pada Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam introduksi, Ayub 29-42 menandakan siklus kedua dari keluh kesah-percakapan-penyingkapan yang merekap siklus pertama.
Nostalgia Ayub memperdalam rasa kehilangannya ketika ia menyadari bahwa kebanyakan dari sikap hormat yang ia terima dalam pekerjaan dan kehidupan bermasyarakat itu...
Majikan yang saleh akan memperlakukan pekerjanya dengan penuh hormat dan martabat.
Di bagian ini, seorang pemuda bernama Elihu memasuki percakapan.
Pada siklus pertama kitab ini, perkataan sahabat-sahabat Ayub dihentikan oleh penyingkapan hikmat Allah. Hal yang baru dalam siklus kedua adalah perkataan Elihu diinterupsi oleh kemunculan dramatis Allah sendiri.
Ayub dapat berjumpa dengan Allah yang selama ini ia minta. Perjumpaan itu tidak menjawab pertanyaan apakah ia pantas menerima penderitaan yang dialaminya.
Allah mencela ketiga sahabat Ayub yang pernyataan arogannya tentang hikmat yang salah telah sangat menyiksa Ayub.
Bagian terakhir kitab Ayub berisi akhir cerita yang memulihkan banyak kekayaan Ayub. Banyak, tetapi tidak semuanya.
Jika kesetiaan pada Allah tergantung pada kemakmuran yang Dia berikan pada kita, iman kita pada dasarnya akan dangkal, dan pada tingkat terburuk...