Kejadian 1-11 dan Pekerjaan
Tafsiran Alkitab / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Pengantar untuk Kejadian 1-11
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKitab Kejadian adalah fondasi dari teologi kerja. Semua pembahasan tentang kerja dalam perspektif alkitabiah akan menemukan dasarnya dalam kitab ini. Kitab Kejadian sangat penting untuk teologi kerja karena menceritakan pekerjaan Allah menciptakan dunia ini, pekerjaan pertama dan prototipe untuk semua pekerjaan yang ada kemudian. Allah tidak memimpikan sebuah ilusi, tetapi menciptakan sebuah realitas. Alam semesta yang diciptakan Allah menyediakan apa yang dibutuhkan untuk pekerjaan manusia: ruang, waktu, materi, dan energi. Melalui alam semesta itu, Allah hadir dalam relasi dengan ciptaan-Nya, terutama dengan manusia. Sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, kita bekerja di dalam dunia ciptaan Allah, pada dunia ciptaan Allah, dengan dunia ciptaan Allah, dan—jika kita bekerja sesuai rencana-Nya—untuk kebaikan dunia ciptaan Allah.
Dalam kitab Kejadian, kita melihat Allah bekerja, dan kita belajar bagaimana Allah menghendaki kita bekerja. Adakalanya kita menaati Allah dalam pekerjaan kita, adakalanya tidak, tetapi kita mendapati bahwa Allah tetap bekerja baik di dalam ketaatan maupun ketidaktaatan kita. Enam puluh lima kitab lainnya dalam Alkitab, masing-masing memiliki kontribusi unik untuk membentuk teologi kerja. Namun, semuanya diawali dari kitab Kejadian, kitab pertama dalam Alkitab.
Allah Menciptakan Dunia (Kejadian 1:1-2:3)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiHal pertama yang diberitahukan Alkitab kepada kita adalah fakta bahwa Allah itu Pencipta. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Allah berfirman dan berbagai hal yang tadinya tidak ada menjadi ada, mulai dengan alam semesta itu sendiri. Penciptaan dunia murni merupakan inisiatif Allah, bukan sebuah kecelakaan, kesalahan, atau hasil karya seorang dewa yang lebih rendah, melainkan ekspresi atau pernyataan pribadi Allah.
Allah membuat material yang tidak ada menjadi ada (Kejadian 1:2)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKejadian melanjutkan dengan menekankan dimensi fisik atau material dari dunia. “Bumi belum berbentuk dan kosong. Gelap gulita meliputi samudra semesta, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:2). Semesta yang baru ini meski masih “belum berbentuk”, memiliki dimensi fisik, yaitu ruang (“samudera semesta”) dan zat (“air”). Allah berinteraksi penuh dengan dimensi fisik ini (“Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”). Nantinya, di pasal 2, kita bahkan melihat Allah bekerja menggunakan tanah yang diciptakan-Nya. “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah” (Kej. 2:7). Di sepanjang pasal 1 dan 2, kita melihat Allah begitu memperhatikan dimensi fisik dari ciptaan-Nya.
Semua teologi kerja harus diawali dengan teologi penciptaan. Apakah kita menganggap dunia fisik, berbagai material yang kita gunakan untuk bekerja, sebagai ciptaan Allah yang mulia dan memiliki nilai kekal? Ataukah kita menganggap semua hal yang bersifat fisik itu kurang penting, sekadar sarana bekerja yang fana, atau tempat kita diberikan ujian hidup? Apakah kita ingin segera lepas dari dunia fisik ini menuju surga yang tidak memiliki wujud fisik, karena menurut kita dunia fisik ini akan terus memburuk keadaannya, seperti sebuah kapal yang akan tenggelam?
Kitab Kejadian menentang semua pemikiran bahwa dunia fisik itu kurang penting bagi Tuhan dibanding dunia rohani. Atau lebih tepatnya, dalam kitab Kejadian, tidak ada pembedaan yang tajam antara yang fisik dan yang spiritual. Roh Allah (Ibrani: ruah) dalam Kejadian 1:2 juga digambarkan sebagai “napas”, “angin”, “roh”. Frase “langit dan bumi” (Kej. 1:1; 2:1) yang bisa diterjemahkan juga sebagai “surga dan bumi”, tidak merujuk pada dua dunia yang berbeda, tetapi merupakan sebuah ungkapan bahasa Ibrani yang lebih tepat diterjemahkan sebagai “alam semesta [1] sama seperti dalam Bahasa Indonesia, ungkapan “handai dan tolan” tidak diartikan terpisah, tetapi satu ungkapan yang berarti “teman-teman”.
Penting untuk diperhatikan, Alkitab berakhir pada tempat semuanya dimulai—yaitu di bumi. Manusia tidak meninggalkan bumi untuk bergabung dengan Allah di surga. Sebaliknya, Allah menyempurnakan kerajaan-Nya di bumi dan mendatangkan “kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah” (Why. 21:2). Di sinilah tempat Allah berdiam bersama umat-Nya, dalam ciptaan yang telah diperbarui. “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia” (Why. 21:3). Sebab itulah Yesus meminta para murid-Nya untuk berdoa demikian, “Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Mat. 6:10). Dalam selang waktu antara Kejadian 2 dan Wahyu 21, bumi ini rusak, berdosa, kacau, dipenuhi orang-orang dan kuasa-kuasa yang menentang tujuan Allah (kita dapat membacanya dalam pasal 3 dan seterusnya). Tidak semua yang ada di dunia ini berjalan seturut dengan rancangan Allah. Namun, dunia ini tetaplah ciptaan Allah, yang disebutnya “baik” (penjelasan lebih banyak tentang langit dan bumi yang baru, bisa dibaca pada uraian Wahyu 17-22 dalam bab Wahyu dan Pekerjaan).
Banyak orang Kristen, yang pekerjaannya berkaitan dengan objek fisik, mengatakan bahwa pekerjaan mereka tampaknya kurang bermakna bagi gereja—apalagi bagi Tuhan—dibanding dengan pekerjaan yang berpusat pada manusia, gagasan, atau agama. Yang disebut sebagai contoh “pekerjaan baik” dalam khotbah biasanya adalah menjadi misionaris, pekerja sosial, atau guru, bukan menjadi penambang, mekanik, atau ahli kimia. Orang Kristen biasanya lebih mengartikan “panggilan” itu berkaitan dengan menjadi pendeta atau dokter dibanding menjadi manajer inventori, atau pemahat. Namun, apakah pemikiran ini memiliki dasar yang alkitabiah? Bekerja dengan sesama manusia sebenarnya adalah bekerja dengan objek fisik juga. Selain itu, kita perlu mengingat bahwa tugas yang diberikan Allah kepada manusia meliputi dua aspek: bekerja dengan sesama manusia (Kej. 2:18) dan bekerja dengan berbagai objek fisik (Kej. 2:15). Semua aspek dari ciptaan Allah diperhatikan-Nya dengan sangat serius.
Allah Menciptakan Dunia dengan Bekerja (Kejadian 1:3-25; 2:7)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiMenciptakan dunia adalah sebuah pekerjaan. Dalam Kejadian 1 jelas terlihat kuasa pekerjaan Allah. Allah berfirman dan dunia dijadikan, lalu setahap demi setahap kita melihat contoh paling mendasar tentang penggunaan kuasa yang benar. Perhatikan urutannya. Tiga tindakan penciptaan Allah yang pertama memisahkan dunia yang tidak beraturan dan tidak berbentuk menjadi langit, bumi, dan daratan. Pada hari pertama, Allah menciptakan terang dan memisahkannya dari kegelapan, menjadikan pagi dan petang (Kej. 1:3-5). Pada hari kedua, Dia memisahkan air dan menciptakan langit (Kej. 1:6-8). Di awal hari ketiga, ia memisahkan daratan kering dari lautan (Kej. 1:9-10). Semua yang esensial untuk kehidupan ciptaan-Nya kemudian mengikuti. Selanjutnya, Allah mulai mengisi dunia yang telah Dia ciptakan. Pada sisa hari ketiga itu Allah menciptakan dunia tumbuhan (Kej. 1:11-13). Pada hari keempat, Dia menciptakan matahari, bulan, dan bintang-bintang di angkasa (Kej. 1:14-19). Alkitab memakai istilah “penerang yang lebih besar” dan “penerang yang lebih kecil”, tidak langsung menyebutnya sebagai “matahari” dan “bulan”, mencegah orang menyembah benda-benda ciptaan ini, sekaligus mengingatkan bahwa kita masih dalam bahaya untuk menyembah ciptaan dan bukan Sang Pencipta. Benda-benda penerang ini indah dan esensial untuk kehidupan tanaman yang membutuhkan sinar matahari, malam hari, juga pergantian musim. Pada hari kelima, Allah mengisi lautan dan langit dengan ikan-ikan dan burung-burung yang tidak dapat bertahan hidup jika dunia tumbuhan belum diciptakan (Kej. 1:20-23). Pada hari keenam, Allah menciptakan hewan-hewan (Kej. 1:24-25) dan puncaknya, Dia menciptakan manusia untuk memenuhi bumi (Kej. 1:26-31).[1]
Pada pasal pertama, Allah menyelesaikan semua pekerjaan-Nya dengan berfirman. “Allah berfirman…” dan semuanya tercipta. Alkitab memberitahu kita bahwa kuasa Allah itu lebih dari cukup untuk menciptakan dan memelihara ciptaan-Nya. Kita tidak perlu takut Allah kehabisan bahan bakar atau dunia ciptaan-Nya mendadak lenyap. Allah merancang ciptaan-Nya dengan kemampuan untuk bertahan yang hebat. Allah tidak butuh bantuan dari siapa pun atau apa pun untuk menciptakan atau memelihara dunia ini. Tidak ada kuasa pengacau yang dapat membatalkan rencana Allah mercaptan semesta. Ketika kemudian Allah memilih untuk membagikan tanggung jawab untuk mengelola dunia ciptaan-Nya kepada manusia, kita tahu bahwa hal tersebut adalah pilihan Allah, bukan karena Dia butuh bantuan manusia. Meski manusia dapat melakukan berbagai hal yang mencederai alam atau merusak bumi, Allah berkuasa penuh untuk menyelamatkan dan memulihkannya.
Memiliki kuasa yang tak terbatas tidak berarti Allah menciptakan dunia tanpa bekerja. Sama seperti menulis program komputer atau bermain drama, menciptakan semesta adalah sebuah pekerjaan. Jika keagungan pekerjaan Allah yang melampaui keterbatasan kita manusia dalam Kejadian 1 membuat kita berpikir bahwa penciptaan semesta bukanlah sebuah pekerjaan, Kejadian 2 meyakinkan kita sebaliknya. Allah sendiri turun tangan membentuk tubuh manusia dari tanah (Kej. 2:7, 21), membuat sebuah taman (Kej. 2:8), menumbuhkan pepohonan, (Kej. 2:9), dan–setelah beberapa peristiwa–membuatkan pakaian dari kulit binatang untuk dipakai manusia (Kej. 3:21). Semua ini barulah permulaan pekerjaan Allah yang bersifat fisik di dalam Alkitab yang dipenuhi catatan pekerjaan-Nya.[2]
Ciptaan berasal dari Allah, tetapi tidak sama dengan Allah (Kejadian 1:11)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiAllah adalah sumber dari segala sesuatu yang diciptakan. Namun, ciptaan tidaklah sama dengan Allah. Allah memberikan ciptaan-Nya apa yang disebut Pendeta Colin Gunton sebagai Selbständig-keit atau sebuah “kemerdekaan yang sepatutnya.” Yang dimaksud di sini bukanlah kemerdekaan absolut seperti yang dibayangkan oleh kaum ateis atau deis, melainkan keberadaan ciptaan sebagai sesuatu yang berbeda dari pribadi Allah. Hal ini paling baik tergambar dalam catatan penciptaan tumbuhan. “Allah berfirman, ‘Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda: tumbuhan yang menghasilkan biji, dan berbagai jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah berbiji di bumi.’ Maka jadilah demikian.” (Kej. 1:11). Allah menciptakan segala sesuatu, tetapi Dia juga secara literal menanamkan biji atau benih sehingga ciptaan-Nya bisa memperbanyak diri dari waktu ke waktu. Ciptaan selamanya bergantung kepada Allah—“Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kis 7:28)—tetapi kita berbeda dengan Allah. Hal ini membuat pekerjaan kita indah dan bernilai jauh lebih tinggi daripada sebuah jam yang berdetik atau sebuah boneka tangan. Pekerjaan kita bersumber dari Allah, tetapi juga memiliki bobot dan martabat tersendiri.
Allah melihat bahwa Pekerjaan-Nya Baik (Kejadian 1:4, 10, 12, 18, 21, 25, 31)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBerlawanan dengan paham dualistik yang menganggap surga itu baik dan bumi itu jahat, kitab Kejadian menyatakan bahwa saat semesta diciptakan, setiap hari “Allah melihat bahwa semuanya itu baik.” (Kej. 1:4, 10, 12, 18, 21, 25). Pada hari keenam, dengan diciptakannya manusia, Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu “sungguh sangat baik” (Kej. 1:31). Manusia—yang sayangnya kemudian menjadi agen pembawa dosa ke dalam dunia ciptaan Allah—semula diciptakan “sungguh sangat baik.” Sama sekali tidak ada catatan dalam kitab Kejadian yang mendukung pemikiran, yang entah bagaimana bisa memasuki imajinasi orang Kristen, bahwa dunia fisik ini begitu jahat dan satu-satunya jalan untuk selamat adalah meninggalkan dunia fisik ini menuju suatu dunia rohani yang tidak berwujud. Tidak ada juga dasar yang mendukung pemikiran bahwa selagi kita di dunia, kita harus melewatkan waktu kita dalam “hal-hal rohani” lebih daripada “hal-hal jasmani”. Tidak ada pemisahan antara yang rohani dan jasmani di dalam dunia Allah yang baik.
Allah Bekerja dalam Relasi (Kejadian 1:26a)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBahkan sebelum Allah menciptakan manusia, Dia berfirman memakai kata ganti subjek jamak, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej. 1:26). Ada perbedaan pendapat di antara para ahli tentang apakah kata “Kita” merujuk pada sekumpulan malaikat atau pada pribadi Allah Tritunggal, tetapi pendapat mana pun yang benar, keduanya sama-sama menyiratkan bahwa pada dasarnya Allah itu pribadi yang relasional.[1]
Sulit untuk memastikan apa yang dipahami bangsa Israel kuno tentang arti kata “Kita” dalam ayat ini. Untuk tujuan pembahasan di sini, kita akan mengikuti pemahaman tradisional Kristen bahwa kata tersebut merujuk pada pribadi Allah Tritunggal. Kita tahu dari Perjanjian Baru bahwa Allah berelasi dengan diri-Nya sendiri—dan dengan ciptaan-Nya—dalam sebuah cinta Trinitas. Dalam Injil Yohanes, kita belajar bahwa Sang Anak—Firman yang telah menjadi manusia (Yohanes 1:14)— hadir dan turut serta secara aktif dalam penciptaan dunia sejak semula.
Pada mulanya sudah ada Firman; Firman itu bersama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Dia pada mulanya bersama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan melalui Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. (Yoh. 1:1-4)
Jadi, orang Kristen mengakui Allah Tritunggal, tiga pribadi yang adalah satu Allah: Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus, masing-masing berperan aktif dalam penciptaan.
Allah Membatasi Pekerjaan-Nya, Beristirahat pada Hari Ketujuh (Kejadian 2:1-3)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiPada akhir dari hari keenam, selesailah pekerjaan Allah menciptakan semesta. Ini tidak berarti bahwa Allah berhenti bekerja, karena Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, dan Aku pun bekerja.” (Yoh.5:17). Tidak juga berarti bahwa semesta ini sudah lengkap, karena sebagaimana yang kemudian kita lihat, Allah meninggalkan banyak pekerjaan untuk manusia memelihara dan mengembangkan semesta ciptaan-Nya. Namun, bumi yang tadinya tidak berbentuk telah diubah menjadi lingkungan yang bisa ditinggali, yang mendukung keberadaan tanaman, ikan, burung, binatang, dan manusia.
Allah melihat segala sesuatu yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik. Lalu jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. Demikianlah diselesaikan langit dan bumi serta segala isinya. Pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya. Pada hari ketujuh itu Dia berhenti dari segala pekerjaan yang dibuat-Nya (Kej. 1:31-2:2; penekanan ditandai huruf miring)
Allah memahkotai enam hari pekerjaannya dengan satu hari istirahat. Penciptaan manusia adalah puncak dari pekerjaan kreatif Allah, istirahat pada hari ketujuh adalah puncak dari minggu kreatif Allah. Mengapa Allah beristirahat? Pasal satu menunjukkan keagungan Allah yang menciptakan semesta hanya dengan berfirman. Jelas bahwa Allah tidak sedang kelelahan. Dia tidak membutuhkan istirahat. Namun, Dia memilih untuk membatasi ciptaan-Nya dalam waktu dan juga ruang. Semesta ini ada batasnya. Semesta ini ada awalnya, sebagaimana dicatat kitab Kejadian, yang diteliti oleh ilmu pengetahuan dan dipahami sebagai teori ledakan besar (Big Bang Theory). Semesta ini juga akan berakhir, menurut Alkitab maupun ilmu pengetahuan, tetapi kita tahu bersama bahwa Allah memberikan batasan waktu di dalam dunia ini. Selama waktu itu masih ada, Allah memberkati enam hari untuk bekerja dan satu hari untuk beristirahat. Inilah batasan yang juga diterapkan oleh Allah sendiri, dan kemudian diperintahkan kepada umat-Nya (Kel. 20:8-11).
Allah Menciptakan dan Memperlengkapi Manusia untuk Bekerja (Kejadian 1:26-2:25)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKekuasaan (Kejadian 1:26; 2:5)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBekerja dalam gambar Allah adalah menguasai sesuatu (Kejadian 1:26)
Salah satu konsekuensi manusia diciptakan menurut gambar Allah yang kita lihat dalam kitab Kejadian adalah manusia itu “berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, atas ternak dan seluruh bumi, serta atas segala binatang yang melata di bumi.”(Kej. 1:26). Ian Hart, seorang penulis, menjelaskan ini. “Menyatakan kuasa Kerajaan atas bumi sebagai perwakilan Allah adalah tujuan dasar Allah menciptakan manusia … Manusia adalah raja yang ditunjuk untuk memerintah ciptaan dan bertanggung jawab kepada Allah, Raja atas segala raja. Sebab itu, manusia diharapkan dapat mengelola, mengembangkan, dan memelihara semesta ciptaan Allah, tugas ini meliputi pekerjaan yang dilakukan secara fisik.[1] Pekerjaan kita dalam gambar Allah dimulai dengan setia menjadi perwakilan Allah di dunia.
Kita menguasai dunia ciptaan Allah dengan menyadari bahwa kita mencerminkan Allah. Kita bukan Allah, melainkan gambar-Nya; kita wajib memakai standarnya Allah, bukan standar kita sendiri. Pekerjaan kita dimaksudkan untuk memenuhi tujuan-tujuan Allah, bukan tujuan kita sendiri, Ini mencegah kita bertindak semena-mena terhadap semua yang telah diletakkan Allah di bawah kendali kita.
Pikirkan tentang implikasi hal ini di tempat kerja kita. Bagaimana Allah akan melakukan pekerjaan kita? Nilai-nilai apa yang akan dibawa Allah dalam pekerjaan ini? Produk apa yang akan dibuat Allah? Orang-orang seperti apa yang akan dilayani-Nya? Organisasi apa yang akan dibangun Allah? Standar-standar apa yang akan dipakai Allah? Sebagai pembawa gambar Allah, bagaimana pekerjaan kita seharusnya menyatakan Allah yang kita wakili? Saat kita menyelesaikan sebuah pekerjaan, apakah hasilnya membuat kita bisa mengatakan,”Terima kasih Tuhan sudah memakai saya untuk mewujudkan semua ini.”?
Allah memperlengkapi manusia untuk menguasai sesuatu (Kejadian 2:5)
Siklus kedua kembali dimulai dengan sesuatu yang butuh dikuasai, meski tidak secara langsung. “…belum ada semak apa pun dibumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebah TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada manusia untuk mengerjakan tanah.” (Kej. 2:5; penekanan ditandai cetak miring). Frasa kunci di sini adalah “Belum ada manusia untuk mengerjakan tanah.” Allah memilih untuk tidak mengakhiri penciptaan semesta sampai Dia menciptakan manusia untuk bekerja bersama (atau di bawah) Dia. Penulis Meredith Kline menggambarkannya demikian: “Pekerjaan Allah menciptakan dunia ini sama seperti seorang raja membuat sebuah peternakan, taman, atau kebun; manusia ditempatkan Allah di dalamnya untuk mengerjakan tanah itu, untuk melayani dan memelihara propertinya tersebut.[1]
Pekerjaan menguasai sesuatu dimulai dengan mengerjakan tanah. Di sini kita melihat bahwa kata “menguasai”[2] dan “berkuasa atas” di pasal pertama, tidak memberi kita izin untuk meyalahgunakan semesta ciptaan-Nya. Sebaliknya. Kita harus bertindak penuh kasih, sama seperti Allah mengasihi ciptaan-Nya. Berkuasa atas bumi termasuk mengembangkan dan melindunginya. Menguasai semua makhluk hidup bukan sebuah lisensi untuk menyalahgunakan, tetapi sebuah kontrak dari Allah untuk memeliharanya. Kita harus memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang bersentuhan hidup dengan kita, para atasan kita, para pelanggan kita, sesama rekan kerja, juga mereka yang bekerja untuk kita, atau mereka yang sesekali kita temui. Ini tidak berarti kita mengizinkan orang memanfaatkan kita, tetapi berarti kita tidak membiarkan kepentingan pribadi, harga diri kita, atau kesombongan pribadi membuat kita memanfaatkan/menginjak-injak sesama manusia. Kisah yang selanjutnya dibukakan kitab Kejadian berbicara secara khusus terkait godaan ini dan konsekuensinya.
Hari ini kita secara khusus menyadari bagaimana pengejaran kepentingan pribadi manusia mengancam alam sekitarnya. Kita diharapkan untuk mengurus dan memelihara taman (Kej.2:15). Semesta diciptakan untuk kita gunakan, tetapi tidak hanya untuk kita. Ingat bahwa udara, air, tanah, flora dan fauna, semuanya diciptakan dengan baik (Kej. 1:4-31). Kita diingatkan untuk mempertahankan dan memelihara lingkungan tersebut. Pekerjaan kita dapat memelihara atau merusak kualitas udara, air, tanah, keragaman hayati, ekosistem, bioma, dan bahkan iklim yang diatur Allah untuk kebaikan semesta ciptaan-Nya. Kekuasaan bukanlah otoritas untuk merusak semesta ciptaan Allah, melainkan kemampuan bekerja untuk kebaikan semesta ciptaan Allah.
Relasi dan Pekerjaan (Kejadian 1:27; 2:18, 21-25)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBekerja menurut gambar Allah berarti bekerja dalam relasi dengan sesama (Kejadian 1:27)
Kitab Kejadian menunjukkan bahwa sebagai konsekuensi diciptakan menurut gambar Allah, pekerjaan kita tidak bisa dipisahkan dari relasi kita dengan Allah dan dengan sesama manusia. Allah adalah pribadi yang relasional (Kej. 1:26). Karenanya, sebagai gambar Allah, sifat tersebut juga melekat dalam diri kita. Bagian kedua dari Kejadian 1:27 menegaskan kembali hal yang sama: manusia diciptakan tidak sendirian, “Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kita ada dalam relasi dengan Sang Pencipta dan dengan sesama ciptaan. Kitab Kejadian menggambarkan hubungan-hubungan ini bukan sebagai konsep yang abstrak semata. Allah dicatat berbicara dan bekerja bersama Adam dalam memberi nama satwa (Kej. 2:19). Allah juga mengunjungi Adam dan Hawa “dalam taman itu pada waktu hari sejuk.” (Kej. 3:8).
Bagaimana realitas ini mempengaruhi kita di tempat kerja? Di atas semuanya, kita dipanggil untuk mengasihi rekan kerja kita, orang-orang di lingkungan kerja kita, serta atasan kita. Allah yang berelasi adalah Allah yang penuh kasih (1 Yoh. 4:7). Mudah saja orang berkata,“Allah mengasihi (-mu)”, tetapi Alkitab lebih dalam menyatakan bahwa “Allah adalah Kasih”. Ada kasih yang mengalir di antara Bapa, Anak (Yoh 17:24), dan Roh Kudus. Kasih yang sama mengalir keluar dari pribadi Allah kepada kita, melakukan hanya yang terbaik untuk kita (inilah kasih agape, kontras dengan kasih manusia yang bisa berubah mengikuti emosi).
Francis Schaeffer mengembangkan pemikiran ini lebih jauh: karena kita diciptakan menurut gambar Allah, dan Allah itu pribadi, kita dapat memiliki hubungan pribadi dengan Allah. Manusia juga bisa mengasihi ciptaan lainnya secara pribadi, berbeda dengan mesin yang tidak bisa demikian. Sebab itulah, kita bertanggung jawab untuk memperhatikan dan memelihara ciptaan lainnya yang Tuhan tempatkan di sekitar kita. Sebagai makhluk yang relasional, manusia memiliki tanggung jawab moral. [1]
Allah Memperlengkapi Manusia untuk Bekerja dalam Relasi dengan Sesama (Kejadian 2:18, 21-25)
Karena kita diciptakan seturut gambar Allah yang relasional, kita pada dasarnya merupakan makhluk yang relasional juga. Kita diciptakan untuk memiliki relasi dengan Allah sendiri dan dengan orang lain. Allah berfirman, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan baginya penolong yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18). Sebelumnya, Allah menyebut semua yang Dia kerjakan itu “baik” atau “sangat baik”. Inilah kali pertama Allah menyatakan sesuatu itu “tidak baik”. Allah lalu menciptakan seorang perempuan dari daging dan tulang Adam sendiri. Saat bertemu dengan Hawa, Adam dipenuhi dengan sukacita. “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku” (Kej. 2:23). (Setelah peristiwa ini, semua manusia yang baru akan keluar dari “daging” atau tubuh manusia lainnya. Bedanya, sekarang manusia keluar dari tubuh perempuan, bukan laki-laki.) Adam dan Hawa memulai sebuah hubungan yang begitu dekat sehingga “keduanya menjadi satu daging” (Kej. 2:24). Meski terdengar seperti sebuah adegan seksual atau urusan rumah tangga, relasi suami-istri pun adalah sebuah relasi pekerjaan. Hawa diciptakan sebagai “penolong” dan “partner” yang akan bekerja sama dengan Adam di Taman Eden. Kata penolong mengindikasikan bahwa, seperti Adam, Hawa juga akan ikut memelihara taman itu. Menjadi seorang penolong berarti bekerja. Seseorang yang tidak bekerja tidak sedang menolong. Menjadi seorang partner berarti memiliki hubungan kerja dengan orang lain.
Saat Allah menyebut Hawa sebagai seorang “penolong,” Dia tidak mengatakan bahwa Hawa akan menjadi bawahan Adam atau bahwa pekerjaannya akan lebih kurang penting, kurang kreatif, kurang sesuatu dibanding Adam. Kata yang diterjemahkan sebagai “penolong” di sini (ezer dalam Bahasa Ibrani) adalah sebuah kata yang dipakai untuk menyebut pribadi Allah dalam bagian lain Perjanjian Lama. “Allah adalah penolongku [ezer]” (Mzm. 54:6). “TUHAN, jadilah penolongku [ezer]!” (Mzm. 30:11). Jelas bahwa seorang ezer bukan seorang yang lebih rendah. Apalagi, Kejadian 2:18 menggambarkan Hawa tidak hanya sebagai seorang “penolong” tetapi seorang “penolong yang sepadan” alias “partner”. Kata bahasa Inggris yang paling sering dipakai sekarang untuk orang dengan peran “penolong” sekaligus “partner” adalah co-worker, yang berarti rekan sekerja. Makna yang sama sudah ada dalam Kejadian 1:27, “laki-laki dan perempuan, diciptakan-Nya mereka,” keduanya setara, tidak ada yang lebih penting atau dominan. Dominasi perempuan oleh kaum lelaki—atau sebaliknya—tidak selaras dengan rancangan Allah untuk ciptaan-Nya, tetapi merupakan konsekuensi tragis dari kejatuhan manusia dalam dosa (Kej. 3:16).
Relasi adalah sesuatu yang esensial, bukan insidental dalam pekerjaan. Relasi yang dalam dan bermakna dapat terjadi dalam pekerjaan, ketika situasi pekerjaan itu cukup ideal. Yesus menggambarkan relasi kita dengan-Nya sebagai sebuah “pekerjaan”, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kelegaan” (Mat. 11:29). Kuk atau beban adalah sesuatu yang membuat dua ekor kerbau bekerja bersama-sama. Di dalam Kristus, manusia dapat benar-benar bekerja sama sebagaimana yang Tuhan kehendaki saat Dia menciptakan Hawa dan Adam sebagai rekan sekerja. Ketika pikiran dan tubuh kita bekerja selaras dengan sesama dan dengan Allah, jiwa kita pun “mendapat kelegaan”. Saat kita tidak bekerja dengan sesama untuk mencapai tujuan yang sama, jiwa kita menjadi gelisah. Untuk mempelajari tema kuk ini lebih lanjut, lihat pembahasan 2 Korintus 6:14-18 dalam Tafsiran Teologi Kerja.
Salah satu aspek krusial dalam relasi yang dicontohkan oleh Allah sendiri adalah delegasi otoritas. Allah mendelegasikan tugas menamai hewan kepada Adam, dan Adam benar-benar diberi otoritas untuk melakukan tugas itu, “Sama seperti nama yang diberikan manusia itu kepada setiap makhluk hidup, begitulah namanya.” (Kej. 2:19). Delegasi, dalam konteks apa pun, berarti memberikan sebagian dari kuasa dan kewenangan kita, serta mengambil risiko untuk dipengaruhi oleh pekerjaan orang lain. Selama lima puluh tahun terakhir, bidang kepemimpinan dan manajemen paling banyak berkembang dalam hal mendelegasikan otoritas, memperlengkapi pekerja, dan mendorong kerjasama tim. Fondasi dari semua hal ini sebenarnya sudah ada dalam kitab Kejadian, meski orang Kristen jarang memperhatikannya.
Banyak relasi yang erat dan dalam terbangun saat orang bekerja bersama untuk mencapai satu tujuan, entah pekerjaan itu dibayar atau tidak. Hubungan-hubungan yang terjalin dalam pekerjaan memungkinkan terciptanya banyak sekali produk dan layanan yang tidak akan bisa dihasilkan oleh satu individu saja. Tanpa relasi yang intim antara seorang laki-laki dan perempuan, tidak akan ada generasi penerus yang dilahirkan untuk melakukan pekerjaan yang Allah berikan. Pekerjaan kita dan komunitas kita adalah dua karunia Allah yang saling berkaitan erat. Melalui keduanya, kita dapat mewujudkan amanat Allah untuk “beranakcucu dan bertambah banyak” dalam arti yang sesungguhnya.
Produktivitas/Pertumbuhan (Kejadian 1:28; 2:15, 19-20)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBekerja menurut gambar Allah dalam Kejadian 1:28 berarti membuahkan hasil dan membuat hasil itu bertambah banyak (Kejadian 1:28)
Karena kita diciptakan menurut gambar Allah, kita diminta untuk berkreasi, ikut menciptakan atau menghasilkan sesuatu. Ini sering disebut sebagai “mandat penciptaan” atau “mandat budaya”. Allah menciptakan dunia yang sempurna, sebuah platform yang ideal, dan kemudian menciptakan manusia untuk meneruskan proyek penciptaan itu. “Allah memberkati mereka dan berkata kepada mereka, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah. Penuhilah … bumi.” (Kej.1:28a). Allah bisa saja menciptakan segala sesuatu untuk memenuhi bumi tanpa melibatkan siapa pun. Namun, Dia memilih menciptakan manusia untuk bekerja bersama-Nya dalam mengeluarkankan potensi alam semesta. Manusia diajak untuk berpartisipasi dalam pekerjaan Allah sendiri. Sungguh menakjubkan bahwa Allah mempercayai kita untuk mengerjakan tugas luar biasa dalam membangun bumi baik yang telah Dia berikan. Melalui pekerjaan kita, Allah memproduksi makanan dan minuman, produk dan layanan, pengetahuan dan keindahan, organisasi dan komunitas, pertumbuhan dan kesehatan, pujian dan kemuliaan bagi-Nya.
Satu kata tentang keindahan adalah dalam keteraturan. Pekerjaan Allah tidak hanya produktif, tetapi juga “menarik untuk dipandang” (Kej. 3:6). Ini tidak mengherankan, karena manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, pada dasarnya indah dan menyukai keindahan. Sama seperti semua hal baik lainnya, keindahan dapat menjadi berhala, tetapi banyak orang Kristen seringkali terlalu khawatir tentang bahaya keindahan sehingga lupa bahwa keindahan itu penting di mata Allah. Membuat sesuatu yang indah bukanlah sebuah pemborosan atau pekerjaan yang kurang penting, apalagi sia-sia. Keindahan dihasilkan oleh pekerjaan menurut gambar Allah, dan Kerajaan Allah dipenuhi dengan keindahan “sama seperti permata yang paling indah” (Why. 21:11). Banyak komunitas Kristen telah menggubah musik yang indah untuk menceritakan tentang Yesus. Mungkin kita bisa menghargai keindahan sejati dalam berbagai bidang kehidupan dengan cara-cara yang lebih baik lagi.
Satu pertanyaan yang baik untuk kita tanyakan kepada diri sendiri adalah: Apakah kita sedang bekerja dengan lebih produktif dan lebih indah? Sejarah dipenuhi dengan contoh orang-orang yang iman Kristennya membuahkan pencapaian-pencapaian yang mengagumkan. Jika pekerjaan kita saat ini terasa kurang berbuah dibandingkan pekerjaan mereka, kita tidak perlu menghakimi diri sendiri, tetapi terus berharap, berdoa, dan bertumbuh bersama dengan sesama umat Allah. Apa pun penghalang yang tengah kita hadapi—dari dalam atau luar diri kita—dengan pertolongan kuasa Allah, kita dapat melakukan pekerjaan baik jauh lebih banyak daripada yang bisa kita bayangkan.
Allah memperlengkapi manusia untuk membuahkan dan memperbanyak hasil (Kejadian 2:15, 19-20)
"TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di Taman Eden untuk mengerjakan dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15). Kata “mengerjakan” (avad dalam bahasa Ibrani) dan “memelihara” (shamar dalam bahasa Ibrani) juga dipakai untuk menggambarkan ibadah kepada Allah dan kehidupan yang menaati perintah-Nya.[1] Pekerjaan yang dilakukan selaras dengan tujuan Allah sudah pasti ditujukan untuk maksud yang indah dan mulia.
Adam dan Hawa diberikan dua pekerjaan khusus dalam Kejadian 2:15-20, yaitu mengelola taman (pekerjaan fisik) dan memberi nama satwa (pekerjaan intelektual). Dua proyek kreatif yang harus dikerjakan melalui aktivitas yang spesifik, oleh manusia yang diciptakan menurut gambar Allah. Menumbuhkan berbagai hal dan mengembangkan peradaban adalah pekerjaan yang produktif. Kita menciptakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan masyarakat dan meningkatkan hasil bumi. Kita membangun sarana-prasarana untuk memenuhi bumi, dengan tidak melampaui kapasitasnya. Tentunya pekerjaan yang sesuai untuk manusia tidak terbatas hanya mengelola taman dan menamai satwa. Tugas kita sebagai manusia adalah meneruskan pekerjaan kreatif Allah dalam berbagai cara yang hanya dibatasi oleh imajinasi dan ketrampilan yang dikaruniakan-Nya, serta batas-batas yang digariskan Allah. Sampai kapan pun, pekerjaan selalu berakar dalam rancangan Allah untuk kehidupan manusia. Pekerjaan merupakan jalan untuk kita bisa berkontribusi bagi kepentingan banyak orang dan sarana untuk menyediakan kebutuhan kita, keluarga kita, serta orang-orang yang dapat kita berkati dengan kemurahan hati kita.
Salah satu aspek penting (tetapi kadang terabaikan) dari pekerjaan Allah dalam ciptaan-Nya adalah imajinasi yang dapat menciptakan begitu banyak hal, mulai dari kehidupan bawah laut yang eksotis, hingga aneka satwa unik seperti gajah dan badak. Sementara para ahli teologi telah mendaftarkan berbagai sifat Allah yang dikaruniakan kepada kita sebagai ciptaan yang segambar dengan-Nya, salah satu karunia Allah yang bisa kita lihat dengan jelas di sekitar kita, baik di tempat kerja maupun di rumah, adalah imajinasi.
Banyak pekerjaan yang kita lakukan membutuhkan imajinasi. Produksi baut-baut sebuah truk dimulai dengan imajinasi bagaimana truk itu nanti meluncur di jalan raya. Kita membuka dokumen di laptop dan membayangkan cerita yang hendak kita tulis. Mozart membayangkan sebuah sonata dan Beethoven membayangkan sebuah simfoni. Picasso membayangkan situasi kota Guernica sebelum mengambil kuas dan membuat lukisan yang mengagumkan banyak orang. Tesla dan Edison membayangkan bagaimana memanfaatkan listrik, dan kini kita memiliki penerangan di saat gelap serta berbagai jenis peralatan rumah tangga, gadget, dan mesin. Segala sesuatu yang ada di sekitar kita awalnya merupakan imajinasi seseorang di suatu tempat. Kebanyakan pekerjaan yang tersedia saat ini ada karena seseorang membayangkan sebuah produk atau proses yang kemudian menciptakan lapangan kerja,
Namun, imajinasi tidak terwujud begitu saja. Setelah berimajinasi, kita perlu bekerja untuk mewujudnyatakan imajinasi tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, proses berimajinasi dan mewujudnyatakan imajinasi itu saling berkaitan erat. Picasso mengomentari lukisannya Guernica, “Sebuah lukisan tidak selesai saat ide dituangkan di atas kanvas, Dalam proses pembuatannya, lukisan itu bisa berubah saat pemikiran pelukisnya berubah. Saat lukisan itu selesai dibuat, lukisan itu masih bisa terus berubah sesuai pemikiran orang-orang yang melihatnya.”[2] Mewujudnyatakan imajinasi adalah pekerjaan yang jelas membutuhkan kreativitas.
Pemeliharaan (Kejadian 1:29-30; 2:8-14)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBekerja sebagai gambar Allah berarti menerima pemeliharaan Allah (Kejadian 1:29-30)
Karena kita diciptakan menurut gambar Allah, Dia menyediakan kebutuhan-kebutuhan kita. Ini salah satu hal yang menunjukkan bahwa manusia yang diciptakan menurut gambar Allah itu bukanlah Allah. Allah tidak memiliki kebutuhan. Seandainya pun Dia membutuhkan sesuatu, Dia berkuasa memenuhi semua kebutuhan itu. Kita tidak memiliki kuasa yang sama. Sebab itu,
Berfirmanlah Allah, “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuhan yang menghasilkan biji di seluruh muka bumi dan segala pohon yang buahnya berbiji. Semua itu menjadi makananmu. Namun, kepada segala binatang liar, segala burung di udara, dan segala binatang yang melata di bumi, segala binatang yang bernyawa itu, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” (Kej. 1:29-30)
Di satu sisi, mengakui pemeliharaan Allah mengingatkan kita untuk tidak jatuh dalam kesombongan. Tanpa Allah, pekerjaan kita sia-sia. Kita tidak bisa menciptakan kehidupan. Kita bahkan tidak bisa menjamin kelangsungan hidup kita sendiri. Kita membutuhkan Allah untuk selalu menyediakan udara, air, tanah, sinar matahari, dan segala tumbuhan untuk makanan kita. Di sisi lain, mengakui pemeliharaan Allah membuat kita bisa bekerja dengan tenang dan percaya diri. Kita tidak perlu bergantung pada kemampuan kita sendiri atau situasi yang serba tidak pasti untuk memenuhi kebutuhan kita. Allah berkuasa untuk membuat pekerjaan kita membuahkan hasil.
Allah memperlengkapi manusia dengan pemeliharaan kebutuhan mereka (Kejadian 2:8-14)
Siklus kedua dari catatan penciptaan menunjukkan cara Allah menyediakan kebutuhan kita. Dia menyiapkan tanah untuk bisa membuahkan hasil saat manusia menggarapnya. “TUHAN Allah membuat taman di Eden, di timur. Di sanalah Ia menempatkan manusia yang dibentuk-Nya.” (Kej. 2:8).
Meski manusia yang menggarap tanah, yang pertama kali menanam adalah Allah sendiri. Selain memberikan tumbuhan untuk dimakan, Allah juga menciptakan dunia dengan berbagai sumber daya yang dibutuhkan manusia untuk bisa membuahkan dan memperbanyak hasil. Allah memberikan sungai-sungai yang menyediakan air, bijih (pasir, tanah, atau batuan dengan kandungan mineral) yang bisa diolah menjadi barang bernilai ekonomi (Kej. 2:10-14). “Sungai ini mengelilingi seluruh tanah Hawila di mana ada emas. Emas dari negeri itu bagus.” (Kej. 2:11-12). Bahkan ketika kita mensintesa elemen dan molekul baru, saat kita merekayasa DNA organisme atau menciptakan sel buatan, kita bekerja dengan materi dan energi yang Tuhan ciptakan untuk kita.
Allah Menetapkan Batasan-Batasan (Kejadian 2:3; 2:17)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBekerja menurut gambar Allah berarti diberkati dengan batasan-batasan yang Allah tetapkan (Kejadian 2:3)
Karena kita diciptakan menurut gambar Allah, kita harus menaati batasan dalam pekerjaan kita. "Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang dibuat-Nya. (Kej. 2:3). Apakah Allah beristirahat karena Dia kelelahan, atau Dia sedang memberikan kita model siklus kerja dan istirahat sebagai gambar-Nya? Hukum keempat dari Sepuluh Hukum memberitahu kita bahwa Allah mengambil waktu istirahat sebagai contoh untuk kita ikuti.
Ingat dan kuduskanlah hari Sabat. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu. Namun, hari ketujuh adalah hari Sabat bagi TUHAN, Allahmu. Jangan melakukan pekerjaan apa pun, engkau, anakmu laki-laki atau perempuan, hambamu laki-laki atau perempuan, hewanmu, ataupun pendatang di dalam kotamu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut, dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh. Itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. (Kel. 20:8-11)
Sementara umat beragama dari abad ke abad cenderung menumpuk peraturan demi peraturan untuk mendefinisikan apa artinya menguduskan hari Sabat, Yesus dengan jelas menegaskan bahwa Allah mengadakan hari Sabat untuk kebaikan kita manusia (Mrk 2:27). Apa yang dapat kita pelajari dari ini?
Saat kita mengikuti contoh yang Allah berikan, berhenti dari pekerjaan kita pada hari ketujuh, hari apa pun itu, kita mengakui bahwa kehidupan kita tidak didefinisikan hanya oleh pekerjaan atau produktivitas kita. Walter Brueggemann, seorang teolog, mengalimatkannya demikian, “Hari Sabat memperlihatkan kesaksian yang jelas bahwa Allah adalah pusat kehidupan—bahwa apa yang dihasilkan dan dikonsumsi manusia itu ada di dalam sebuah dunia yang teratur, diberkati, dan diberi batasan oleh Allah, Pencipta segalanya."[1] Kita tidak berupaya mengatur segala sesuatu dalam hidup kita, tetapi mernyatakan kebergantungan kita kepada Allah, Pencipta kita. Jika tidak, kita hidup dengan ilusi bahwa kehidupan itu sepenuhnya berada di bawah kendali manusia. Mempraktikkan Sabat atau hari perhentian sebagai bagian yang teratur dalam kehidupan pekerjaan kita menyatakan bahwa Allah utamanya adalah pusat kehidupan kita. (Pembahasan lebih jauh tentang Sabat, istirahat dan kerja dapat ditemukan dalam buku ini di bagian "Mrk 1:21-45," "Mrk 2:23-3:6," "Luk 6:1-11," dan "Luk 13:10-17".)
Allah Memperlengkapi Umat-Nya untuk Bekerja di dalam Batasan-Batasan (Genesis 2:17)
Setelah memberkati manusia dengan memberikan teladan-Nya sendiri untuk memperhatikan ritme bekerja dan beristirahat, Allah memperlengkapi Adam dan Hawa dengan instruksi spesifik tentang batasan pekerjaan mereka. Di tengah taman Eden, Allah menanam dua pohon, pohon kehidupan dan pohon pengetahuan yang baik dan jahat (Kej. 2:9). Ada larangan terkait pohon yang kedua. Allah berfirman kepada Adam, "Buah dari semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas, tetapi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan kaumakan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati.” (Kej. 2:16-17).
Para ahli teologi telah berspekulasi panjang lebar tentang mengapa Allah meletakkan sebuah pohon di Taman Eden yang tidak boleh dimanfaatkan oleh penghuni taman itu. Ada berbagai hipotesis yang bisa ditemukan dalam buku-buku tafsiran, dan kita tidak perlu menentukan jawabannya di sini. Untuk tujuan kita, cukuplah kita mengamati bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Imajinasi dan keterampilan manusia dapat mengelola sumber daya ciptaan Allah dengan cara yang berlawanan dengan kehendak, tujuan, dan perintah Allah. Jika kita ingin bekerja bersama Allah, bukan melawan Allah, kita harus memilih untuk memperhatikan batasan-batasan yang ditetapkan Allah, bukan melakukan semua yang bisa kita lakukan.
Francis Schaeffer menunjukkan bahwa Allah tidak memberikan Adam dan Hawa sebuah pilihan antara pohon yang baik dan pohon yang jahat, tetapi sebuah pilihan untuk mengetahui yang jahat (pengetahuan tentang yang baik sudah jelas mereka miliki). Dalam membuat pohon itu, Allah membuka peluang untuk kejahatan, tetapi itu juga berarti Allah benar-benar memberikan pilihan. Semua hubungan kasih diikat dalam sebuah pilihan, tanpa ruang untuk bisa memilih, kasih menjadi tidak ada artinya.[2] Apakah Adam dan Hawa cukup mengasihi dan mempercayai Allah untuk dapat mengasihi perintah-Nya tentang pohon itu? Allah mengharapkan bahwa orang-orang yang memiliki relasi dengan-Nya memiliki kemampuan untuk menghormati batasan-batasan yang membawa kebaikan dalam dunia ciptaan-Nya.
Dalam dunia kerja sekarang, sebagian batasan terus memberkati kita jika kita memperhatikannya. Kreativitas manusia, misalnya, kebanyakan muncul dari keterbatasan, bukan kesempatan. Para arsitek menemukan inspirasi dari keterbatasan waktu, uang, ruang, materi, dan tujuan yang dikehendaki kliennya. Para pelukis menemukan ekspresi kreatif mereka dengan menerima keterbatasan media yang mereka pilih untuk bekerja, dimulai dari keterbatasan menggambarkan ruang tiga dimensi di atas kanvas dua dimensi. Para penulis mengeluarkan karya-karya hebat ketika mereka harus berhadapan dengan batasan halaman dan jumlah kata yang diperbolehkan.
Semua pekerjaan baik menghormati batasan-batasan Allah. Kapasitas bumi memiliki batas untuk bisa digali sumber dayanya, untuk bisa mengatasi polusi, untuk bisa dirombak demi membangun perumahan. Penggunaan tanaman dan satwa di bumi untuk pangan, sandang, dan tujuan lainnya juga ada batasnya. Tubuh manusia memiliki kekuatan, ketahanan, dan kapasitas bekerja yang besar, tetapi ada batasnya. Mengonsumsi makanan sehat dan berolahraga pun ada batasnya. Ada batasan yang membuat kita bisa membedakan mana yang indah dan mana yang vulgar, mana sikap yang kritis dan mana yang menyalahgunakan, mana keuntungan yang wajar dan mana ketamakan, mana persahabatan dan mana hubungan yang mengeksploitasi, mana pelayanan dan mana perbudakan, mana kebebasan dan mana sikap tidak bertanggung jawab, mana otoritas dan mana otoriter. Dalam praktiknya, batas-batas ini tidak selalu mudah dikenali, dan harus diakui umat Kristen kerap bersikap tidak tepat dengan berkompromi, mendewakan aturan manusia, berprasangka, atau bersikap dingin dan kaku, untuk menyatakan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain. Meski begitu, seni hidup menurut gambar Allah mengharuskan kita untuk belajar mengenali di mana berkat bisa ditemukan, dengan memperhatikan batasan-batasan yang ditetapkan Allah dan nyata terlihat dalam dunia ciptaan-Nya.
Pekerjaan dari “Mandat Budaya” (Kejadian 1:28, 2:15)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKita telah membahas bagaimana Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kej. 1:1-2:3) dan memperlengkapi manusia untuk hidup sesuai dengan gambar-Nya itu (Kej. 2:4-25). Kita telah melihat bagaimana manusia diciptakan Allah untuk menguasai ciptaan lainnya, untuk membuahkan dan memperbanyak hasil, untuk menerima pemeliharaan Allah, untuk bekerja dalam relasi dengan ciptaan lainnya, dan untuk menghormati batasan-batasan yang ditentukan Allah. Kita sering mendengar istilah “mandat ciptaan” atau “mandat budaya”, dikaitkan terutama dengan dua ayat berikut, Kejadian 1:28 dan 2:15,
Allah memberkati mereka dan berfirman kepada mereka, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah. Penuhilah dan taklukkanlah bumi. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan atas segala binatang melata di bumi!” (Kej. 1:28)
TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di Taman Eden untuk mengerjakan dan memelihara taman itu. (Kej. 2:15)
Istilah mana yang hendak dipakai tidak jadi masalah, tetapi gagasan tentang mandat ini jelas ada dalam Kejadian pasal 1 dan 2. Sejak awal, Allah menghendaki manusia menjadi partner junior-Nya untuk menggenapi apa yang sedang Dia kerjakan di dunia ini. Manusia tidak diciptakan untuk berpuas diri dengan apa yang ada, untuk menerima pemenuhan kebutuhan tanpa bekerja, untuk menganggur lama, untuk bekerja keras dalam sistem yang kaku dan tidak kreatif, atau bekerja sendirian terisolasi dari orang lain. Kita diciptakan untuk menjadi rekan kerja Sang Pencipta, bekerja sama dengan orang lain dan dengan Allah, bergantung pada pemeliharaan Allah untuk membuat pekerjaan kita berhasil, serta menghormati batasan-batasan yang Allah berikan dalam firman-Nya dan tunjukkan dalam ciptaan-Nya.
Manusia Jatuh dalam Dosa saat Bekerja (Kejadian 3:1-24)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSampai titik ini, kita telah membahas pekerjaan dalam bentuk idealnya, di bawah kondisi yang sempurna di Taman Eden. Namun kemudian kita sampai pada Kejadian 3:1-6.
Ular adalah yang paling cerdik di antara segala binatang liar yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada Perempuan itu, “Tentulah Allah berfirman: Jangan kamu makan buah dari semua pohon di taman ini, bukan?” Sahut Perempuan itu kepada ular, “Buah dari pohon-pohon di taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah dari pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun sentuh, nanti kamu mati!” Namun, ular berkata kepada Perempuan itu, “Sekali-kali kamu tidak akan mati. Sebaliknya, Allah mengetahui bahwa pada saat kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan menarik untuk dipandang. Lagi pula, pohon itu diminati karena memberi pengertian. Lalu ia memetik buahnya dan memakannya. Ia memberikannya juga kepada suaminya yang bersamanya, dan suaminya pun memakannya.
Ular melambangkan anti-Allah, musuhnya Allah. Ahli teologi, Bruce Waltke mencatat bahwa musuh Allah itu licik dan lebih bijak daripada manusia. Dengan cerdik ia membelokkan perintah Allah dan mengarahkan Adam dan Hawa kepada kelemahan mereka. Ia mengecoh Hawa dengan diskusi teologis yang tampaknya tulus, tetapi sebenarnya menggiring Hawa untuk berfokus pada larangan Allah semata dan abai dengan begitu banyak pohon buah-buahan lainnya yang disediakan Allah untuk mereka di taman itu. Pada intinya, ia mau firman Allah terdengar kejam dan penuh larangan.
Rencana si ular berhasil. Pertama-tama Hawa, lalu Adam, makan buah dari pohon terlarang itu. Mereka melanggar batasan yang telah Allah tetapkan untuk mereka. Mereka sudah diciptakan sesuai dengan gambar Allah (Kej. 3:5), tetapi masih melakukan upaya sia-sia untuk menjadi “seperti Allah” dengan cara-cara yang melampaui kodrat mereka. Pengetahuan tentang yang baik sudah mereka miliki dengan mengalami kebaikan dunia ciptaan Allah, tetapi mereka memilih untuk mendapatkan “pengertian” dalam jalan-jalan kejahatan (Kej. 3:4-6). Keputusan Hawa dan Adam untuk makan buah itu adalah pilihan yang mewakili apa yang menurut mereka menyelesaikan masalah, indah, dan menarik hati dibanding firman Allah. “Baik” tidak lagi berakar dalam perkataan Allah yang membawa kehidupan, tetapi dalam pemikiran yang menurut manusia dapat meningkatkan kehidupan. Singkatnya, mereka mengubah apa yang baik menjadi jahat.[1]
Dengan memilih untuk tidak menaati Allah, mereka merusak hubungan yang mendasar dalam keberadaan diri mereka. Pertama, hubungan di antara laki-laki dan perempuan,—"tulang dari tulangku dan daging dari dagingku,” yang sebelumnya begitu erat (Kej. 2:23)—kini terpisah ketika mereka saling menutup diri dengan cawat daun pohon ara (Kej. 3:7). Selanjutnya adalah hubungan mereka dengan Allah, karena bukannya bercakap-cakap dengan-Nya di taman pada waktu hari sejuk, mereka malah menyembunyikan diri dari hadapan Allah di antara pepohonan (Kej. 3:8). Adam memperparah kerusakan hubungan itu dengan menyalahkan Hawa atas keputusannya memakan buah itu dan pada saat yang sama ia menyalahkan Allah, “Perempuan yang Kauberikan di sisiku, dialah yang memberi buah dari pohon itu kepadaku, dan aku makan.” (Kej. 3:12). Hawa juga merusak hubungan manusia dengan ciptaan lainnya ketika ia menyalahkan ular atas keputusan yang ia ambil sendiri (Kej. 3:13).
Keputusan Adam dan Hawa hari itu mendatangkan akibat mengerikan yang dampaknya ada hingga ke dunia kerja modern. Allah menghukum mereka atas dosa mereka dan menyatakan kesulitan yang harus mereka tanggung sebagai konsekuensi dosa. Ular dikutuk untuk berjalan dengan perutnya seumur hidup (Kej. 3:14). Perempuan akan mengalami susah payah saat melahirkan anak serta konflik batin dalam hasratnya kepada laki-laki (Kej. 3:16). Sang laki-laki harus bersusah payah mencari makan dari tanah seumur hidup, dan tanah akan menghasilkan “semak duri dan rumput duri” baginya, bukan tanaman yang bisa ia makan. (Kej. 3:17-18). Kita melihat bahwa di atas semuanya, manusia akan tetap melakukan pekerjaan yang dipersiapkan bagi mereka, dan Allah masih memelihara kebutuhan mereka (Kej. 3:17-19). Namun, pekerjaan akan menjadi makin sulit, tidak menyenangkan, mudah gagal dan mendapatkan hasil yang tidak diharapkan.
Penting untuk mencatat bahwa pekerjaan tidak diciptakan sebagai suatu kesusahan pada awalnya. Sebagian orang berpikir bahwa pekerjaan baru dimulai saat manusia dikutuk Allah, tetapi Adam dan Hawa telah bekerja di taman sebelum mereka jatuh dalam dosa. Pekerjaan bukan akibat sebuah kutukan, tetapi kutukan itu mempengaruhi pekerjaan. Bahkan, pekerjaan menjadi makin penting sebagai akibat kejatuhan manusia dalam dosa, bukan sebaliknya, karena kini dibutuhkan kerja yang lebih banyak untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Lebih jauh lagi, materi yang dipakai Allah membentuk Adam dan Hawa dalam kebebasan dan kesenangan-Nya, kini menjadi sumber yang mengendalikan mereka. Adam, dibentuk dari debu tanah, kini akan bersusah payah mencari makan dari tanah sampai tubuhnya kembali menjadi debu tanah di hari kematiannya (Kej. 3:19); Hawa, diciptakan dari tulang rusuk Adam, kini berada di bawah dominasinya, bukan direngkuh di sisinya (Kej. 3:16). Dominasi dari satu orang atas orang lainnya dalam pernikahan dan pekerjaan bukanlah bagian dari rencana Allah yang semula, tetapi orang berdosa menjadikan dominasi itu sebagai satu cara yang baru dalam berhubungan satu dengan yang lain ketika mereka merusak hubungan yang sudah diberikan Allah (Kej. 3:12-13).
Dua wujud kejahatan menghadang kita setiap hari. Yang pertama adalah kejahatan yang natural, kondisi fisik di bumi yang tidak bersahabat dengan kehidupan yang Allah kehendaki bagi kita. Banjir dan kekeringan, gempa bumi, tsunami, suhu yang ekstrem panas atau ekstrem dingin, sakit-penyakit, serangan hama tanaman, dan banyak lagi penyebab kerusakan yang tadinya tidak ada di taman.Yang kedua adalah kejahatan moral, ketika orang bertindak dengan kehendak hati yang memusuhi rencana Allah. Dengan bertindak dalam jalan kejahatan, kita merusak dunia ciptaan dan membuat jarak dengan Allah. Kita juga menodai hubungan kita dengan orang lain.
Kita tinggal di dalam sebuah dunia yang sudah jatuh dalam dosa, sudah rusak, dan kita tidak bisa mengharapkan hidup yang tanpa susah payah. Kita diciptakan untuk bekerja, tetapi dalam dunia yang berdosa, pekerjaan kita telah dinodai oleh semua yang dirusak hari itu di Taman Eden. Kesusahan juga kerap datang akibat tidak dihormatinya batasan-batasan yang sudah Allah tetapkan untuk hubungan kita, baik itu hubungan pribadi, di tempat kerja, atau di tengah masyarakat. Dosa menciptakan keterasingan antara manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, serta manusia dengan bumi yang menopang kehidupan mereka. Kecurigaan antar manusia menggantikan rasa percaya dan kasih. Dalam generasi berikutnya, keterasingan menyuburkan rasa cemburu, amarah, dan bahkan menyebabkan pembunuhan. Keterasingan antar manusia bisa ditemukan di semua tempat kerja dengan level yang berbeda-beda, dan ini membuat pekerjaan terasa makin sulit dan kurang produktif.
Manusia Bekerja di dalam Dunia yang sudah Jatuh dalam Dosa (Kej. 4-8)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSaat Allah mengusir Adam dan Hawa keluar dari Taman Eden, (Kej. 3:23-24), mereka membawa hubungan yang telah retak dan pekerjaan yang penuh susah payah, berjuang hidup dari tanah yang tak lagi subur. Meski demikian, Allah terus menyediakan bagi mereka, dan bahkan membuatkan mereka pakaian karena mereka belum tahu cara membuatnya (Kej. 3:21). Kutuk tidak sepenuhnya menghancurkan kemampuan mereka untuk memperbanyak hasil (Kej. 4:1-2), atau untuk mendapatkan kemakmuran (Kej. 4:3-4).
Pekerjaan dalam Kejadian 1 dan 2 berlanjut. Masih ada tanah untuk dikerjakan dan fenomena alam yang perlu dipelajari, digambarkan, dan dinamai. Laki-laki dan perempuan masih harus membuahkan hasil dan memperbanyaknya, masih harus mengelola banyak hal. Namun, kini, ada lapisan pekerjaan kedua yang harus dilakukan—pekerjaan pemulihan, perbaikan, restorasi atas kerusakan dan kejahatan yang telah terjadi. Dalam konteks kontemporer, pekerjaan para petani, ilmuwan, bidan, orangtua, pemimpin, dan semua pekerja kreatif masih dibutuhkan, Namun, dibutuhkan pula pekerjaan para pembasmi hama, dokter, pimpinan rumah duka, petugas lapas, pemeriksa kasus forensik, dan semua profesi yang menahan kejahatan, mencegah bencana, memperbaiki kerusakan, serta memulihkan kesehatan. Faktanya, pekerjaan semua orang memiliki dua sisi: kreasi dan restorasi, semangat dan rasa frustasi, keberhasilan dan kegagalan, sukacita dan dukacita. Secara garis besar, pekerjaan di dunia kita sekarang itu dua kali lipat lebih banyak dibandingkan pekerjaan di Taman Eden dulu. Pekerjaan bukannya kurang penting dalam rencana Allah, malah sekarang makin penting.
Pembunuhan Pertama (Kejadian 4:1-25)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKejadian 4 mendetailkan pembunuhan pertama saat Kain membunuh saudaranya, Habel, karena marah dan cemburu. Kedua kakak beradik itu membawa hasil pekerjaan mereka sebagai persembahan kepada Allah. Kain adalah seorang petani, jadi ia membawa sebagian hasil bumi, tanpa keterangan apakah hasil itu adalah hasil pertama atau hasil terbaiknya (Kej. 4:3). Habel adalah seorang gembala dan ia membawa “anak sulung kambing dombanya”, hewan yang terbaik, “dengan lemaknya” (Kej. 4:4). Meskipun keduanya menghasilkan bahan makanan, keduanya tidak bekerja bersama atau beribadah bersama. Pekerjaan tidak lagi menjadi tempat terjadinya relasi yang baik.
Allah mengindahkan persembahan Habel, tetapi tidak mengindahkan persembahan Kain. Alkitab pertama kali menyebutkan tentang kemarahan pada bagian ini. Allah mengingatkan Kain untuk tidak menyerahkan diri pada dosa, tetapi menguasai kemarahannya dan bekerja untuk hasil yang lebih baik ke depan. “Bukankah wajahmu akan berseri-seri jika engkau berbuat baik?” (Kej. 4:7). Atau dalam terjemahan lain, “Bukankah persembahanmu akan diterima kalau engkau memberikan yang terbaik?” Namun, Kain tidak bisa menguasai kemarahannya dan akhirnya membunuh saudara laki-lakinya (Kej. 4:8; bandingkan dengan 1 Yoh. 3:12; Yud 11). Allah meresponi perbuatannya dengan perkataan berikut:
“Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu berteriak kepada-Ku dari tanah. Sekarang, terkutuklah engkau, terasing dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengerjakan tanah itu, tanah itu tidak akan lagi memberikan hasilnya kepadamu. Engkau akan menjadipelarian dan pengembara di bumi.” (Kej. 4:10-12)
Dosa Adam tidak membuat Allah mengutuk manusia; yang dikutuk adalah tanah tempat mereka bekerja (Kej. 3:17). Dosa Kain mendatangkan kutuk bagi dirinya sendiri (Kej. 4:11). Ia tidak bisa lagi mengerjakan tanah, dan Kain yang tadinya adalah petani, kini menjadi pengembara, sampai akhirnya ia menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden, tempat ia membangun kota pertama yang disebutkan dalam Alkitab (Kej. 4:16-17). (Lihat Kej. 10-11 untuk pembahasan lebih lanjut tentang kota-kota).
Sisa pasal empat menyebutkan tentang keturunan Kain hingga generasi ketujuh, Lamekh, yang kejahatannya jauh lebih mengerikan daripada kejahatan Kain. Kehidupan Lamekh menunjukkan kepada kita bagaimana dari waktu ke waktu, hati manusia bisa makin keras karena dosa. Awalnya ia melakukan poligami (Kej. 4:19), merusak tujuan Allah dalam pernikahan sebagaimana disebutkan dalam Kejadian 2:24 (bandingkan Mat. 19:5-6). Lalu, dendam membuatnya membunuh orang yang melukainya (Kej. 4:23-24). Namun, pada masa hidup Lamekh juga kita melihat dimulainya pertumbuhan kota. Muncul pekerjaan-pekerjaan yang berfokus pada keahlian tertentu, spesialisasi yang memungkinkan terjadinya sejumlah kemajuan dalam masyarakat. Sebagian anak Lamekh menciptakan alat-alat musik dan membuat perkakas dari tembaga dan besi (Kej. 4:21-22). Kemampuan untuk menciptakan musik, membuat instrumen untuk memainkan musik, dan untuk mengembangkan teknologi pengolahan logam, semua merupakan pekerjaan penciptaan yang memang diberikan Allah saat menciptakan manusia menurut gambar-Nya. Seni dan pengetahuan adalah penerapan yang seharusnya dari mandat budaya, tetapi apa yang diumbar Lamekh tentang perbuatannya yang jahat menunjukkan bahaya yang menyertai kemajuan teknologi dalam masyarakat yang telah rusak oleh dosa dan penuh kekerasan. Sajak manusia pertama yang dicatat setelah kejatuhan manusia dalam dosa, mengagungkan kesombongan manusia dan penyalahgunaan kekuasaan. Namun, kecapi dan suling dapat ditebus dan dipakai untuk memuji Allah (1 Sam. 16:23), demikian pula perkakas logam dapat dipakai untuk membangun Kemah Suci umat Ibrani (Kel. 35:4-19, 30-35).
Seiring bertambahnya jumlah manusia, mereka pun membentuk kelompok masing-masing. Melalui Set, Adam memiliki harapan untuk benih keturunan yang takut akan Allah, antara lain Henokh dan Nuh. Namun, pada waktu-waktu itu muncul pula sekelompok orang yang menyimpang dari jalan Allah.
Ketika manusia mulai bertambah banyak di muka bumi, dan anak-anak perempuan dilahirkan bagi mereka, anak-anak Allah melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik. Lalu dari antara perempuan-perempuan itu mereka ambil sebagai istri, siapa saja yang mereka sukai … Pada waktu itu dan juga kemudian, ada orang-orang raksasa di bumi ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka. Mereka itulah orang-orang yang gagah perkasa di aman purbakala, orang-orang ternama. TUHAN melihat betapa besarnya kejahatan manusia di bumi, dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata. (Kej. 6:1-5)
Bagaimana keturunan Set yang takut akan Allah—secara khusus Nuh dan keluarganya—bisa hidup di tengah masyarakat yang begitu rusak, hingga Allah sendiri memutuskan untuk memusnahkannya?
Satu isu besar dalam dunia kerja bagi banyak orang Kristen hari ini adalah bagaimana menerapkan prinsip-prinsip yang kita yakini mencerminkan kehendak dan tujuan Allah bagi manusia sebagai pembawa gambar-Nya atau sebagai wakil-Nya. Bagaimana kita dapat berlaku benar ketika berada dalam tekanan situasi yang membuat kita bersikap tidak jujur, tidak setia, dan memberikan pekerjaan berkualitas rendah? Bagaimana kita bisa tetap memberikan yang terbaik ketika mendapatkan gaji yang rendah, mengalami suasana kerja yang tidak menyenangkan, menghadapi eksploitasi terhadap pihak yang rentan, baik itu rekan kerja, pelanggan, pemasok barang, atau komunitas? Kita tahu dari contoh yang diberikan Set—dan banyak tokoh Alkitab lainnya—bahwa ada ruang di dunia ini untuk orang-orang yang mau bekerja menurut rancangan dan mandat Allah.
Saat orang lain mungkin jatuh dalam ketakutan, ketidakpastian, dan keraguan; tidak mampu mengendalikan hasratnya untuk meraih kekuasaan, kekayaan, dan pengakuan manusia, umat Allah dapat tetap setia bekerja secara etis, bertujuan, dan penuh belas kasih, karena kita percaya Allah akan memelihara kita melewati kesulitan besar yang tidak bisa kita lewati tanpa anugerah Allah. Saat orang diperlakukan salah atau dirugikan karena ketamakan, ketidakadilan, kebencian, atau kealpaan, kita dapat berdiri membela mereka, menegakkan keadilan, memulihkan luka-luka dan perpecahan, karena kita memiliki akses kepada kuasa Kristus yang membebaskan. Orang Kristen, dapat melawan dosa yang kita temui di tempat kita bekerja, baik yang muncul dari tindakan orang lain atau di dalam hati kita sendiri. Allah menghentikan proyek Menara Babel karena “Mulai sekarang apa pun yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka” (Kej. 11:6). Ini bukan menggambarkan kemampuan aktual, melainkan kesombongan manusia. Namun, oleh anugerah Allah, kita sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mencapai semua yang telah disediakan Allah bagi kita di dalam Kristus, yang menegaskan bahwa “tidak akan ada yang mustahil bagimu” (Mat. 17:20) dan “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37).
Apakah kita bekerja dengan keyakinan akan kuasa Allah? Ataukah kita mengecilkan janji-janji Allah dengan selalu mengambil jalan pintas untuk mencapai tujuan kita?
Allah Memanggil Nuh dan Menciptakan Dunia yang Baru (Kejadian 6:9-8:19)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSebagian situasi dapat diperbaiki. Sebagian lagi tidak. Dalam Kejadian 6:6-8 , kita mendengar ratapan Allah tentang kondisi dunia dan budayanya sebelum air bah serta keputusan-Nya untuk memulai segala sesuatu dari awal:
Lalu TUHAN menyesal bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN, “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan, binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka. Namun, Nuh mendapat kemurahan hati TUHAN.
Dari Adam sampai kepada kita, Allah mencari orang-orang yang dapat berdiri teguh menentang budaya dosa kapan saja diperlukan. Adam gagal dalam ujian itu, tetapi dari keturunannya, Nuh lahir, “seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya, dan hidup bergaul dengan Allah” (Kej. 6:9). Nuh adalah orang pertama yang pekerjaannya membawa perbaikan. Berbeda dengan kebanyakan orang yang sibuk mengupayakan penghidupan dari tanah, Nuh dipanggil untuk menyelamatkan umat manusia dan alam semesta dari kehancuran. Dalam dirinya kita melihat leluhur dari para imam, nabi, dan rasul, yang dipanggil untuk ambil bagian dalam pekerjaan rekonsiliasi dengan Allah, juga dari mereka yang peduli dengan lingkungan, yang dipanggil untuk ambil bagian memperbaiki alam semesta. Semua pekerja sejak zaman Nuh dipanggil untuk pekerjaan memperbaiki dan merekonsiliasi.
Membangun bahtera adalah proyek membangun yang luar biasa! Menghadapi cemoohan para tetangga, Nuh dan anak-anaknya harus menebang ribuan pohon sanobar, lalu mengolah batang-batang pohon itu menjadi lembaran-lembaran kayu yang cukup untuk membangun sebuah kebun binatang terapung. Kendaraan tiga lantai ini butuh kapasitas besar untuk membawa beragam spesies hewan serta menyimpan makanan dan air yang dibutuhkan untuk waktu yang panjang. Terlepas dari segala kesulitan yang ada, Alkitab menegaskan bahwa “Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.” (Kej. 6:13-22).
Dalam dunia bisnis, para pengusaha terbiasa untuk mengambil risiko, bekerja melawan hikmat konvensional dengan tujuan menghasilkan produk dan proses-proses baru. Dibutuhkan sudut pandang jangka panjang, bukan perhatian pada hasil jangka pendek. Nuh menghadapi apa yang kadang terlihat sebagai tugas yang mustahil dikerjakan, dan beberapa penafsir memperkirakan proyek membangun bahtera ini memakan waktu sekitar seratus tahun. Dibutuhkan iman, kemantapan hati, dan perencanaan yang cermat untuk menghadapi orang-orang skeptis dan para pengkritik. Mungkin kita harus menambahkan manajemen proyek dalam daftar pekerjaan Nuh. Hari ini pun, para inovator, para wirausahawan, mereka yang gagasannya berlawanan dengan opini mayoritas dan sistem yang selama ini berjalan, masih membutuhkan sumber kekuatan dan keyakinan batin untuk melangkah. Jawabannya tentu bukan dengan berbicara kepada diri sendiri dan mengambil risiko-risiko bodoh, melainkan dengan datang berdoa dan minta nasihat dari orang-orang yang bijaksana dalam Tuhan saat kita diperhadapkan dengan oposisi dan hal-hal yang mematahkan semangat. Sepertinya kita butuh orang-orang Kristen yang berbakat dan terlatih untuk menyemangati dan membantu mempertajam kreativitas para inovator dalam bidang bisnis, sains, akademik, kesenian, pemerintahan, dan berbagai bidang pekerjaan lainnya.
Kisah tentang air bah dalam Kejadian 7:1- 8:19, sangat terkenal. Lebih dari setengah tahun, Nuh, keluarganya, dan semua hewan hanya bisa beraktivitas di dalam bahtera saat air bah melanda, mengangkat bahtera itu tinggi mengatasi puncak-puncak gunung. Saat akhirnya air bah reda, tanah mengering, dan tumbuhan baru muncul. Para penumpang bahtera sekali lagi melangkah di atas tanah yang kering. Allah membuat angin bertiup di atas bumi, sehingga air itu surut (Kej. 8:1-3). Beberapa kata dalam Kejadian 1 diulang di sini; “the wind” (angin, yang juga bisa diterjemahkan Roh), “the deep” (diterjemahkan sebagai “samudra semesta” dalam Kejadian 1), dan “the waters” (air). Teks ini menggaungkan kembali Kejadian 1, menekankan keberlanjutan ciptaan. Dunia kembali dibentuk melalui air bah. Allah memberikan umat manusia sebuah kesempatan baru untuk memulai lagi dari awal dengan benar. Bagi orang-orang Kristen, ini menjadi bayangan langit yang baru dan bumi yang baru dalam Wahyu 21-22, saat kehidupan dan kerja manusia disempurnakan dalam alam semesta yang dipulihkan dari dampak kejatuhan dosa, sebagaimana yang telah kita bahas dalam bagian "Allah menciptakan dunia material" (Kej. 1:1-2).
Ada fakta menarik yang mungkin jarang diperhatikan orang dalam teks ini: pekerjaan membangun sesuatu dalam skala besar yang pertama kali dilakukan manusia merupakan pekerjaan yang berhubungan dengan lingkungan. Terlepas—atau mungkin sebagai akibat dari—rusaknya hubungan manusia dengan si ular dan semua makhluk lainnya (Kej. 3:15), Allah menugaskan seorang manusia untuk menyelamatkan hewan-hewan dan percaya bahwa ia akan melakukannya dengan setia. Manusia tidak dibebaskan dari panggilan Allah untuk "berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan atas segala binatang melata di bumi" (Kej. 1:28). Allah senantiasa bekerja untuk memulihkan apa yang telah hilang dalam kejatuhan manusia dalam dosa, dan Dia memakai manusia berdosa yang sudah dipulihkan sebagai alat-Nya yang utama.
Perjanjian Allah dengan Nuh (Kejadian 9:1-19)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSaat akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki di tanah yang kering dengan awal yang baru, tindakan pertama Nuh adalah membangun altar bagi TUHAN (Kej. 8:20). Di sini ia mempersembahkan korban yang menyenangkan Allah, yang berjanji untuk tidak akan pernah lagi memusnahkan manusia “selama bumi masih ada, tidak akan berhenti musim menabur dan menuai, musim dingin dan panas, musim kemarau dan hujan, siang dan malam” (Kej. 8:22). Allah mengikatkan dirinya dalam sebuah kovenan atau perjanjian dengan Nuh dan keturunannya, berjanji tidak akan pernah lagi menghancurkan bumi dengan banjir (Kej. 9:8-17). Allah memberikan pelangi sebagai tanda perjanjiannya. Meskipun bumi mengalami perubahan yang sangat besar, tujuan Allah untuk pekerjaan manusia tetaplah sama. Dia mengulangi berkat-Nya dan berjanji bahwa Nuh dan anak-anak-Nya akan “beranak cucu, bertambah banyak, dan memenuhi bumi” (Kej. 9:1). Dia mengafirmasi janji-Nya untuk menyediakan makanan melalui pekerjaan mereka (Kej. 9:3). Allah juga menetapkan apa saja yang wajib dipenuhi untuk menghadirkan keadilan di antara manusia dan untuk melindungi segenap makhluk yang ada. (Kej. 9:4-6).
Kata dalam Bahasa Ibrani yang diterjemahkan “pelangi” sebenarnya tidak memiliki makna sesuatu yang muncul sehabis “hujan”. Kata tersebut mengacu hanya kepada sebuah busur—alat untuk berperang dan berburu. Waltke mencatat bahwa di dalam mitologi Timur Dekat, rasi bintang yang berbentuk busur diasosiasikan dengan kemarahan atau murka para dewa, tetapi di sini “busur pahlawan itu digantung dengan arah menjauhi bumi.”[1] Meredith Kline mencermati bahwa “lambang peperangan dan permusuhan telah diubah menjadi sebuah tanda rekonsiliasi antara Allah dan manusia”. [2] Busur itu direntangkan dari bumi ke langit, dari satu ujung ke ujung lainnya. Sebuah alat perang telah menjadi simbol perdamaian melalui kovenan Allah dengan Nuh.
Kejatuhan Nuh (Kejadian 9:20-29)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSetelah pekerjaan heroiknya bagi umat manusia, Nuh jatuh dalam sebuah insiden rumah tangga. Dimulai dari—sebagaimana halnya banyak tragedi di rumah tangga dan pekerjaan—dengan penyalahgunaan alkohol. (Tambahkan produksi minuman beralkohol dalam daftar inovasi yang dilakukan Nuh; Kej. 9:20.) Setelah mabuk, Nuh pingsan dalam kondisi telanjang di tendanya. Putranya Ham masuk dan melihatnya telanjang, tetapi saudara-saudaranya—setelah diberitahu Ham—secara berhati-hati masuk tenda dengan berjalan mundur dan menutupi ayah mereka tanpa melihatnya telanjang. Apa tepatnya yang memalukan atau tidak bermoral tentang situasi ini sulit dipahami oleh pembaca modern, tetapi Nuh dan para putranya jelas memahami sehingga kemudian hal itu menjadi sebuah masalah dalam keluarga. Saat Nuh sadar kembali dan menyadari apa yang terjadi, responsnya secara permanen menghancurkan kehidupan keluarga yang tadinya tenang dan damai. Nuh mengutuk keturunan Ham melalui Kanaan dan menjadikan mereka budak dari keturunan kedua putranya yang lain. Hal ini mengawali kisah permusuhan, perang, dan kekerasan selama ribuan tahun di antara keturunan Nuh.
Nuh mungkin adalah tokoh besar pertama yang jatuh ke dalam sesuatu yang memalukan, tetapi jelas ia bukan yang terakhir. Kebesaran tampaknya membuat manusia rentan mengalami kejatuhan moral—khususnya dalam kehidupan pribadi dan keluarga kita. Kita bisa dengan cepat menyebutkan banyak contoh di pentas dunia. Fenomena ini begitu banyak terjadi sehingga memunculkan nasihat bijak, baik di Alkitab—“Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Ams. 16:18)—maupun di dunia—“Makin besar status seseorang, makin sakit kejatuhannya.”
Nuh jelas adalah seorang tokoh besar di Alkitab (Ibr. 11:7), jadi respons terbaik kita seharusnya bukan menghakimi Nuh, tetapi meminta anugerah Allah untuk diri kita. Jika kita menemukan diri kita sedang berjuang menggapai kebesaran, carilah lebih dulu kerendahan hati. Jika kita sudah menjadi hebat, sangat penting untuk kita memohon anugerah agar tidak mengulangi kesalahan Nuh. Jika kita terlanjur jatuh dalam dosa, sama seperti Nuh, mari kita segera mengakuinya dan minta orang-orang di sekitar kita untuk menjagai kita agar kejatuhan kita dalam dosa tidak berlanjut menjadi bencana melalui respons pembenaran diri kita.
Keturunan Nuh dan Menara Babel (Kejadian 10:1-11:32)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDaftar Bangsa-Bangsa dalam Kejadian 10 menelusuri jejak keturunan Yafet (Kej. 10:2-5), lalu keturunan Ham (Kej. 10:6-20), dan akhirnya keturunan Sem (Kej. 10:21-31). Di antara mereka, cucu Ham yang bernama Nimrod tampak menonjol dengan peran pentingnya untuk teologi kerja. Nimrod membangun sebuah kerajaan penjajah yang berpusat di Babel. Ia adalah seorang tiran, seorang pemburu yang hebat dan ditakuti, dan yang paling signifikan adalah seorang pembangun kota-kota (Kej. 10:8-12).
Tepat setelah membaca kisah Nimrod, seorang tiran pembangun kota, kita membaca kisah tentang pembangunan Menara Babel (Kej. 11:1-9). Babel, sama seperti banyak kota di Timur Dekat kuno adalah sebuah kota berpagar tembok yang memiliki ziggurat, sebuah tempat peribadatan besar yang terletak di atas menara dengan banyak anak tangga. Menara itu dibangun setinggi mungkin dengan harapan dapat menggapai dunianya para dewa/allah yang disembah. Dengan menara yang demikian, manusia dapat naik kepada para allah, dan para allah dapat turun ke bumi. Meski Allah tidak mengutuk keinginan untuk mencapai surga ini, kita melihat bahwa dalam ambisi membesarkan diri dan dosa kesombongan yang meningkat, orang-orang ini membangun sebuah menara yang megah. “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Marilah kita mencari nama supaya kita tidak terserak ke seluruh bumi.” (Kej. 11:4). Apa yang mereka inginkan? Ketenaran. Apa yang mereka takuti? Terserak-serak tanpa jaminan mereka akan bertahan. Menara yang mereka ingin bangun tampaknya sangat penting bagi mereka, tetapi narator kitab Kejadian tersenyum sembari menceritakan kepada kita betapa kecil dan rapuhnya rencana mereka hingga Allah “turun untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu.” (Kej. 11:5). Betapa berbedanya dari kota yang damai, teratur, dan penuh kebajikan yang sesuai dengan tujuan Allah bagi dunia. [1]
Keberatan Allah dalam kisah ini adalah bahwa menara itu akan membuat orang salah berharap, menganggap “apa pun yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka” (Kej. 11:6). Sama seperti Adam dan Hawa, leluhur mereka, mereka berniat memakai kuasa kreatif yang mereka miliki sebagai pembawa gambar Allah, untuk bertindak melawan tujuan Allah. Dalam hal ini, mereka berencana melakukan yang sebaliknya dari perintah Allah dalam mandat budaya. Bukannya memenuhi bumi, mereka berniat berkumpul memenuhi satu lokasi saja. Bukannya mengekplorasi kepenuhan arti nama yang diberikan Allah kepada manusia,—adam, “humankind” (Kej. 5:2)—mereka memutuskan mencari nama untuk diri mereka sendiri. Allah melihat keangkuhan dan ambisi mereka sudah melewati batas dan berfirman, “Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan bahasa mereka di sana, sehingga mereka tidak dapat lagi saling mengerti bahasa mereka” (Kej. 11:7). “Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari sana ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu. Itulah sebabnya kota itu disebut dengan nama Babel karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi” (Kej. 11:8-9).
Kita mungkin tergoda untuk menyimpulkan sampai pada poin ini bahwa kota-kota pada dasarnya buruk, tetapi tidak selalu demikian. Allah memberikan Israel ibukota Yerusalem dan tempat umat Allah akan kelak berdiam adalah kota kudus dari Allah, yang turun dari surga (Why. 21:2). Konsep tentang “kota” tidak jahat, tetapi kesombongan yang dilekatkan dengan kota-kota ini tidaklah menyenangkan Allah (Kej. 19:12-14). Kita berdosa ketika kita meletakkan pengharapan kepada kehidupan dan kemegahan kota menggantikan Allah, sebagai sumber makna dan arah hidup kita. Bruce Waltke menyimpulkan analisanya atas Kejadian 11 dengan perkataan ini:
Masyarakat yang terpisah dari Allah tidaklah stabil. Pada satu sisi, orang dengan tulus mencari makna keberadaan mereka dan rasa aman dalam kesatuan mereka sebagai satu kelompok. Di sisi lain, mereka memiliki hasrat yang tidak ada habisnya untuk mengonsumsi apa yang dimiliki orang lain … Di jantung kota manusia ada cinta akan diri sendiri dan kebencian akan Allah. Kota menyingkapkan bahwa roh manusia tidak akan berhenti pada sesuatu yang kurang dari menyingkirkan takhta Allah di surga. [2]
Sementara mungkin tindakan Allah menyerakkan umat manusia kelihatan seperti sebuah penghukuman, faktanya, tindakan itu juga merupakan sarana penebusan, mengembalikan mereka pada rancangan Allah. Sejak awal, Allah menghendaki manusia untuk tersebar ke seluruh penjuru bumi. “Beranak cuculah dan bertambah banyaklah. Penuhilah dan taklukkanlah bumi” (Kej. 1:28). Dengan menyerakkan manusia setelah berhentinya proyek menara Babel, Allah mengembalikan manusia kepada tujuan awal penciptaan mereka untuk memenuhi bumi, hingga kini kita bisa melihat keindahan dari ragam suku bangsa dan budaya di dunia. Jika umat manusia berhasil menyelesaikan menara itu di bawah satu kekuasaan mutlak hingga “apa pun yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka.” (Kej. 11:6), kita hanya dapat membayangkan hal-hal mengerikan yang bisa mereka kerjakan dalam kesombongan dan dosa mereka. Skala kejahatan yang ada di tengah umat manusia di abad ke-20 dan 21 memberi kita sedikit gambaran akan apa yang bisa dilakukan manusia jika segala sesuatu mungkin dikerjakan tanpa ketergantungan akan Allah. Seorang penulis bernama Dostoevsky mengatakan, “Tanpa Allah dan hidup setelah kematian, segala sesuatu diperbolehkan.”[3] Terkadang Allah tidak mengizinkan sesuatu karena rahmat-Nya atas kita itu terlalu besar.
Apa yang dapat kita pelajari dari insiden Menara Babel bagi pekerjaan kita hari ini? Pelanggaran spesifik yang dilakukan para pembangun menara adalah tidak menaati perintah Allah untuk menyebar dan memenuhi bumi. Mereka berupaya menyatukan, tidak hanya lokasi tempat tinggal mereka, tetapi juga budaya, bahasa, dan institusi mereka. Dalam ambisi mereka untuk melakukan satu perbuatan besar (marilah kita “mencari nama” [Kej. 11:4]), mereka mematikan potensi perkembangan yang ada dalam beragam talenta, kegiatan, dan fungsi yang Allah berikan kepada manusia (1 Kor. 12:4-11). Meski Allah mau manusia bekerja sama untuk kebaikan semua orang (Kej. 2:18; 1 Kor. 12:7), Allah tidak menciptakan kita untuk mencapai itu melalui sentralisasi dan akumulasi kekuasaan. Dia memperingatkan umat Israel tentang bahayanya kekuasaan yang terpusat pada seorang raja (1 Sam. 8:10-18). Allah telah mempersiapkan bagi kita seorang raja, Kristus, Tuhan kita, dan di dalam Dia tidak ada tempat untuk penumpukan kekuasaan dalam manusia, baik itu individu, institusi, maupun pemerintahan.
Sebab itu, kita patut mengharapkan para pemimpin dan institusi Kristen untuk berhati-hati mendistribusikan otoritas dan selalu mengutamakan koordinasi, tujuan dan nilai-nilai bersama, serta pengambilan keputusan yang demokratis daripada penumpukan kekuasaan. Sayangnya, banyak orang Kristen justru berusaha menumpuk kekuasaan sama seperti para tiran dan pemegang kekuasaan otoriter, meski dengan tujuan-tujuan yang lebih baik. Dalam pola serupa, para legislator Kristen mencari kendali sebanyak mungkin atas masyarakat, meski dengan sasaran untuk menegakkan nilai-nilai rohani dan moralitas. Dalam pola serupa, para pengusaha Kristen mencari peluang untuk menguasai pasar seperti yang lain, meski untuk tujuan meningkatkan kualitas produk, layanan pelanggan, atau hal positif lainnya. Dalam pola serupa, para pendidik Kristen berupaya membungkam perbedaan pendapat seperti para pendidik otoriter lainnya, meski dengan niat menekankan perilaku bermoral, kebaikan, dan doktrin yang sehat.
Meski semua tujuan ini tampak terpuji, peristiwa Menara Babel mengingatkan kita bahwa cara bekerja yang demikian kerap salah kaprah (Peringatan Allah kepada bangsa Israel tentang bahaya memiliki seorang raja menggemakan hal senada; baca 1 Sam. 8:10-18). Dalam dunia tempat orang Kristen pun masih bergumul dengan dosa, gagasan Allah tentang kekuasaan yang baik (oleh manusia), tampaknya adalah untuk mendistribusikan manusia, kekuasaan, otoritas, dan kapabilitas, bukan memusatkannya pada satu orang atau satu institusi, atau satu pihak atau satu gerakan saja. Tentu ada situasi-situasi tertentu yang membutuhkan keputusan tegas oleh satu atau sekelompok orang. Seorang pilot akan sangat bodoh jika meminta voting penumpang untuk menentukan di landasan mana ia harus mendaratkan pesawat. Namun, bukankah lebih sering daripada yang kita sadari, saat kita ada pada posisi berkuasa, Allah memanggil kita untuk membagikan, mendelegasikan, memberikan wewenang, dan melatih orang lain, bukan melakukan semuanya seorang diri? Berbagi pekerjaan dengan orang lain itu bisa saja menimbulkan kekacauan, tidak efisien, sulit diukur, berisiko, dan membuat cemas. Namun, tampaknya Allah menghendaki para pemimpin Kristen melakukan hal itu dalam banyak situasi.
Kesimpulan dari Kejadian 1-11
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDalam pasal-pasal awal di Alkitab, Allah menciptakan dunia dan membawa kita maju bergabung dengan-Nya untuk kreativitas yang lebih jauh. Dia menciptakan kita seturut gambar-Nya untuk menguasai bumi, untuk membuahkan dan memperbanyak hasil, untuk menerima pemeliharaan-Nya, untuk bekerja bersama-Nya dan bersama sesama manusia, serta untuk memperhatikan batasan ciptaan-Nya. Dia memperlengkapi kita dengan sumber daya, kemampuan, dan komunitas untuk memenuhi tugas-tugas ini, serta memberi kita pola untuk bekerja dalam enam dari tujuh hari seminggu. Dia memberi kita kebebasan untuk melakukan semua ini sebagai ekspresi kasih kita kepada-Nya dan kepada ciptaan-Nya. Konsekuensinya, kita juga diberi kebebasan untuk tidak melakukan apa yang menjadi tujuan Dia menciptakan kita. Manusia pertama memilih untuk melanggar mandat Allah dan pilihan untuk tidak taat itu—baik skalanya kecil maupun besar—berlanjut hingga hari ini. Akibatnya, pekerjaan manusia menjadi lebih tidak produktif, lebih sulit, dan lebih kurang memuaskan. Kualitas relasi dan pekerjaan manusia menurun dan bahkan adakalanya bersifat merusak.
Meski demikian, Allah terus memanggil kita untuk bekerja. Dia memperlengkapi dan menyediakan kebutuhan kita. Banyak orang memiliki kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang baik, kreatif, dan memuaskan, yang dapat menghidupi mereka dan mendorong komunitas sekitarnya untuk berkembang. Kejatuhan manusia dalam dosa telah membuat pekerjaan yang dimulai di Taman Eden menjadi makin penting, bukan menjadi kurang penting. Meskipun orang-orang Kristen adakalanya salah memahami ini, Allah tidak merespons kejatuhan manusia dengan menarik diri dari dunia fisik dan membatasi minat-Nya pada hal-hal rohani saja. Tidak mungkin memisahkan yang fisik dari yang rohani. Pekerjaan, termasuk relasi yang ada di dalamnya dan batasan yang memberkatinya, tetap merupakan karunia Allah bagi kita, bahkan meski kondisi dunia ini telah rusak akibat kejatuhan manusia dalam dosa.
Pada saat yang sama, Allah selalu bekerja untuk menebus ciptaan-Nya dari dampak kejatuhan manusia dalam dosa. Kejadian 4-11 memulai cerita bagaimana kuasa Allah bekerja untuk mengatur dan menata ulang dunia beserta segala penghuninya. Allah berdaulat atas dunia ciptaan-Nya dan atas semua makhluk yang hidup, atas manusia dan semua makhluk lainnya. Dia tetap menjaga citra atau gambar-Nya dalam umat manusia. Namun, Dia tidak menoleransi usaha manusia untuk “menjadi seperti Allah” (Kej. 3:5), baik untuk mendapatkan kuasa yang berlebihan atau menjadikan kemandirian manusia sebagai pengganti relasi dengan Allah. Orang-orang seperti Nuh, yang menerima pekerjaan sebagai karunia dari Allah dan melakukan upaya terbaik mereka menurut arahan Allah, menemukan berkat dan keberhasilan dalam pekerjaan mereka. Orang-orang seperti para pembangun Menara Babel yang berusaha meraih kekuasaan dan keberhasilan menurut definisi mereka sendiri, menjumpai kehancuran dan frustrasi, terutama saat pekerjaan mereka mulai mencelakai orang lain. Seperti semua karakter dalam kitab Kejadian ini, kita menghadapi pilihan apakah akan bekerja bersama Allah atau bertentangan dengan-Nya. Bagaimana akhir kisah pekerjaan Allah menebus ciptaan-Nya tidak diberitahukan dalam kitab Kejadian, tetapi kita tahu bahwa kelak, semua ciptaan akan dipulihkan, demikian pula semua pekerjaan yang ada di dunia ini—sebagaimana yang.
Bacaan Lebih Lanjut
Mark Biddle, Missing the Mark: Sin and Its Consequences in Biblical Theology (Nashville, TN: Abingdon Press, 2005).
Walter Brueggemann, Genesis (Atlanta: John Knox, 1982).
Victor Hamilton, The Book of Genesis: Chapters 1-17 (Grand Rapids: Eerdmans, 1990).
Walter Kaiser Jr., Toward Old Testament Ethics (Grand Rapids: Zondervan, 1983).
Thomas Keiser, Genesis 1-11: Its Literary Coherence and Theological Message (Eugene, OR: Wipf & Stock, 2013).
John Mason, “Biblical Teaching and Assisting the Poor,” Interpretation 4, no. 2 (1987).
John Mason and Kurt Schaefer, “The Bible, the State, and the Economy: A Framework for Analysis,” Christian Scholar’s Review 20, no. 1 (1990).
Kenneth Mathews, The New American Commentary: Vol. 1A Genesis 1-11.26 (Nashville: Broadman and Holman, 1996).
Gerhard von Rad, Genesis rev. edn. (London: SCM, 1972).
Bruce Vawter, On Genesis: A New Reading (New York: Doubleday, 1977).
John Walton, The NIV Application Commentary: Genesis (Grand Rapids: Zondervan, 2001).
Claus Westermann, Genesis 1-11 (Minneapolis: Augsburg, 1984).
Albert Wolters, Creation Regained (Grand Rapids: Eerdmans, 2005).
Christopher Wright, Old Testament Ethics for the People of God (Leicester: Inter-Varsity Press, 2004).